EPILOGUE: JORDAN DAN EARON

 

Suatu hari, Earon dan Jordan duduk berdampingan di sofa ruang tamu, sambil mengusap-usap masing-masing busurnya dengan kain yang sudah tidak terpakai. Kala itu, Jordan memakai baju berlengan pendek dan tidak lagi memakai sarung tangannya dalam suasana santainya tersebut.

“Kak Volan,” ujar Jordan ketika usapannya menyentuh pita berlonceng di busurnya, yang sekaligus menghentikan usapannya.

CHAPTER 18: KE ARAH ESOK

 

Satu bulan telah berlalu. Selama itu pula, cukup banyak perubahan yang terjadi di Losapins. Trauma tentu masih melekat, tapi orang-orang berusaha bangkit dan mulai banyak meluangkan waktu untuk bisa berkumpul bersama keluarga, teman-teman, serta orang-orang yang dikasihinya. Mereka tidak terus-terusan mementingkan urusan pribadi mereka, walaupun masih ada beberapa yang seperti itu.

CHAPTER 17: BUSUR PERAK, BUSUR EMAS, DAN TONGKAT PRIDIATICK

 

Kota Losapins menjadi porak poranda akibat kegilaan dari beberapa penduduk yang satu per satu telah berubah menjadi monster. Semua orang kebingungan mencari tempat yang aman untuk menghindari kekacauan itu. Suasana kota yang dihiasi oleh kobaran api di beberapa titik tempat tertentu dengan suara jeritan ketakutan dan rasa sakit, seolah menjadikannya kota neraka yang penuh dengan penyiksaan.

CHAPTER 16: YANG TERSISA DARI MASA LALU

 

“Permisi, maaf! Beri kami jalan!”

Begitulah kata-kata yang selalu terucap setiap kali Wergon menabrak orang-orang yang dilewatinya.

“Cepatlah, Wergon! Kau terlalu lambat!” sentak Filhener yang sudah mendahului Wergon sekitar sepuluh meter.

“Tinggalkan saja dia! Terlalu banyak menunggu, justru semuanya akan semakin kacau!” gerutu Lytro.

Lytro, Filhener, Migo, dan Rekshein pun berlari tanpa menghiraukan keberadaan Wergon. Melihat teman-temannya yang semakin jauh meninggalkannya, Wergon semakin cepat pula melangkah dan semakin banyak pula orang-orang yang ditabraknya.

CHAPTER 15: AKHIR DARI PENDERITAAN

 

Waktu begitu cepat berlalu. Cahaya merah dari arah timur telah merambat naik, yang hanya terlihat sedikit dan sebentar saja, kemudian tertutup lagi oleh kabut hitam yang menjadikan hari itu terasa sangat suram.

Begitu sampai di van, Wergon dan Filhener langsung didorong masuk keras-keras oleh polisi yang mengawalnya, bahkan hingga terjatuh sampai-sampai kedua lutut mereka menyentuh alas. Perlakuan tersebut tentu memancing emosi Filhener yang langsung membalikkan pandangannya pada polisi-polisi itu seraya berkata, “Bisakah kalian sedikit lembut?!”