PROLOGUE: PENINGGALAN BANGSA DWIKINGS

Dahulu kala sekitar abad pertengahan, hidup suatu bangsa yang tidak pernah tercatat oleh sejarah. Bangsa yang diapit oleh hutan dan ladang yang luas serta pegunungan yang memiliki sumber mata air yang melimpah, kehidupannya penuh dengan ketenangan dan kejayaan yang dipimpin oleh seorang raja muda yang bernama Thorosan Twiqnubugn bersama sahabatnya Renwimay Qourynar. Mereka bertubuh tegap, rambut Thorosan memanjang di antara telinga dan bahunya, sementara Renwimay berambut lebih pendek. Rakyatnya sangat menyayangi dan mengagumi akan keberadaan Thorosan sebagai pemimpin mereka, begitu pun dengan sahabatnya yang setia untuk memberi nasihat akan keputusannya demi kebaikan rakyatnya.
Suatu hari di sebuah tempat yang begitu jauh dari ketentraman bangsa Dwikings, hidup seorang pria yang bernama Franken Wirthan. Dia menginginkan kehidupan dan kejayaan abadi, pembalasan atas pengusirannya dari bangsa Dwikings, karena penggunaan sihir hitam. Dia tidak akan pernah menerima kekejaman yang pernah Raja Thorosan lakukan terhadapnya. Siksaan dan rasa sakit di sekujur tubuhnya seakan selalu ia rasakan saat bayangan peristiwa itu menghampiri pikirannya.
Atas rasa sakit itulah, dia membuat sebuah tongkat yang akan menguasai dunia dan mencapai kehidupan abadinya. Tongkat sederhana yang terbuat dari kayu dengan berlian merah di atasnya. Namun, saat tongkat itu diberi kekuatan jahat menjadi tongkat yang anggun, begitu kuat, menakjubkan, berkemampuan luar biasa, dan berbahaya. Tak ada satu pun yang mampu menghancurkan tongkat tersebut. Mulailah eksperimen pertamanya dengan menghancurkan hutan di area bangsa Dwikings yang menjadi salah satu sumber utama kehidupan. Dengan sekali arah, tongkat itu mengeluarkan sinar merahnya dan membumihanguskan sekitar 10.000 ha. Kekhawatiran bangsa Dwikings atas ancaman tersebut membuat Raja Thorosan harus mencari seseorang yang mampu membuat benda yang dapat menghancurkan tongkat tersebut. Selama berhari-hari melakukan pencarian dengan perbekalan apa adanya, melewati hutan gelap, sungai, dan perbukitan dengan kuda mereka, akhirnya mereka menemukan seorang wanita baik hati dan ramah berusia empat puluh tahunan yang tinggal di sebuah rumah kecil jauh dari pemukiman. Dia pun mau membuatkan senjata pamungkas dalam waktu dua minggu. Sementara Raja Thorosan yang pada saat itu memimpin ekspedisi tersebut bersama sahabat dan lima pengawalnya menginap di rumah kecilnya, menunggu hingga wanita tersebut pulang dengan membawa senjatanya. Namun, setelah wanita itu pulang dengan memperlihatkan dua busur emas dan perak yang telah dia buat, mereka justru menertawakannya.
“Kami menunggu selama ini untuk melihat kehebatan senjata yang kau buat dan kau hanya membuatkan busur tanpa anak panah. Apa istimewanya busur ini?” sindir Raja Thorosan sambil tertawa kecil.
“Ini bukanlah busur biasa, busur ini ringan dan apapun anak panahnya dengan gesekan busur ini mampu menembus benda yang sekuat jutaan baja dan menghancurkan apapun yang menjadi tujuan bidikanmu. Dua busur ini khusus kubuatkan untuk kau dan sahabatmu serta generasimu. Namun, busur ini hanya akan bekerja jika kalian berdua saling menyayangi dan memercayai,” jelas wanita tersebut dengan penuh senyum di wajahnya.
“Tidakkah cukup kau membuatnya kuat tanpa harus ada rasa ini itu?”
“Sesungguhnya aku lebih tahu tujuan aku membuatnya demikian. Bukankah cara kerjanya cukup mudah bagi kalian?”
“Ya, tapi bagaimana dengan pemegang generasi selanjutnya? Jika bukan kami yang memilikinya pastilah tidak akan bekerja kedua busur ini.”
Wanita itu tersenyum lebar.
“Aku memercayai setiap pemegang busur ini, tidak peduli apakah mereka dua orang sahabat, saudara, sepasang kekasih, mereka yang berasal dari yang kaya dan yang miskin. Bahkan, mereka yang memiliki sisi jahat dengan tujuan baik, kasih sayang, dan kepercayaan, mampu memunculkan kekuatan busur ini yang dapat digunakan untuk menghancurkan kegelapan.”
Lalu, wanita itu pun memberikan busur emas kepada Raja Thorosan dan busur perak kepada Renwimay. Mereka berdua melihat-lihat ketangguhan busurnya dari sisi luar. Tampak ukiran indah di permukaan kedua busur itu. Tapi, terdapat ukiran yang membedakan busur emas dan busur perak sebagai lambang dari masing-masing kekuatan busur. Wanita itu tidak dapat menjelaskan secara detail kekuatan apa yang akan keluar dari kedua busur itu.
Ketika Renwimay serius mengamati busurnya, si wanita memanggilnya. Maka, Renwimay pun menghampiri wanita itu dan berdiri di dekat perapian. Raja Thorosan yang jaraknya tiga kaki darinya hanya bisa melihat gerakan mulut wanita itu, membisikkan sesuatu di dekat telinga Renwimay.
“Baiklah,” jawab Renwimay singkat.
Wanita itu tersenyum lebar untuk Renwimay.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada wanita itu, mereka semua langsung kembali ke penduduk Dwikings untuk menyampaikan kabar gembiranya. Rakyatnya tidak perlu khawatir akan ancaman dari Franken.
Kekuatan kedua busur yang luar biasa dapat Franken rasakan dari tempat dia bersembunyi. Terkadang dia pun mengendap-endap memasuki wilayah kerajaan saat Raja Thorosan dan Renwimay memperlihatkan keindahan busur-busurnya. Franken kini merasakan ketakutan akan kegagalan rencana jahatnya. Namun, dia mengetahui satu hal tentang dua busur itu, maka dia pun segera merencakan sesuatu untuk menjadikan busur itu menjadi busur yang tanpa guna.
Berhari-hari tidak tampak akan ancaman dari Franken, sehingga kebanggaan bangsa Dwikings akan Raja Thorosan semakin meningkat. Mereka selalu mengagungkan Raja Thorosan yang menumbuhkan benih kecemburuan pada hati Renwimay. Hingga suatu hari saat Raja Thorosan sedang makan siang di meja makan besarnya, Renwimay mendatangi dan duduk di sampingnya.
“Sepertinya kau sangat bangga akan dirimu. Apakah kau sudah melupakanku?” tanya Renwimay tenang.
“Kau sahabat terbaikku, bagaimana mungkin aku melupakanmu. Sebenarnya, aku ingin mengetahui apa yang wanita itu katakan padamu.”
“Wanita yang mana?”
“Wanita yang membisikkan sesuatu padamu, kau ingat?”
Renwimay terdiam sejenak.
“Aku berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapa pun, bahkan dirimu.”
“Kenapa tidak? Aku sahabat baikmu.”
“Ya, kau memang sahabat baik yang pernah kumiliki. Tapi, itu dulu sebelum kau merasa bahwa dirimulah yang terhebat,” ucap Renwimay kesal seraya meninggalkan meja makan.
“Tentu saja, akulah yang terhebat,” jawab Raja Thorosan lirih dan melanjutkan makan siangnya dengan santai.
Kecemburuan Renwimay yang semakin besar merasa dia harus lepas dari genggaman Raja Thorosan. Dia merasakan pengkhianatan yang Raja Thorosan lakukan saat dengan senang hati mengizinkannya keluar sebagai penasihat dan mengusirnya dari bangsa Dwikings atas tuduhannya mengancam keselamatan orang-orang kerajaan. Kini dalam hati Renwimay berjanji bahwa suatu hari nanti Raja Thorosan akan membayar semua yang pernah ia lakukan terhadapnya.
Selama berhari-hari dia mengendap masuk ke pemukiman bangsa Dwikings untuk mengumpulkan orang-orang yang pernah merasakan penindasan yang dilakukan oleh Raja Thorosan. Kemudian, Renwimay memimpin mereka dan menjadikan busur perak sebagai lambang persaudaraannya. Sebagai langkah awal penghancuran kerajaan, mereka merencanakan untuk merusak sistem perekonomian di wilayah bangsa Dwikings. Setiap tengah malam, beberapa dari mereka menyelinap masuk di gudang penyimpanan bahan pangan dan mengambilnya. Rencana mereka pun berhasil dengan membuat Raja Thorosan sangat marah terhadap Renwimay. Maka, Renwimay menantangnya untuk berperang dan siapapun yang kalah nantinya, mereka harus pergi jauh dari bangsa Dwikings untuk selamanya. Raja Thorosan menerima tantangan tersebut dan segera mengumpulkan prajurit-prajurit terkuatnya untuk mematikan orang-orang kelompok Renwimay.
Hari itu pun tiba.
Di sebuah tanah lapang yang begitu luas yang dikelilingi oleh perbukitan, mereka bersiap untuk berperang. Terlihat mereka menggunakan pakaian yang seragam sebagai simbol dari kesatuan kelompok mereka masing-masing. Renwimay beserta prajuritnya memakai baju perang berwarna perak, sementara Thorosan beserta prajuritnya memakai baju perang berwarna keemasan. Tapi, ada sesuatu yang seakan mengganjal dalam hati Renwimay. Sesuatu yang diucapkan oleh wanita itu padanya dan sesaat dalam pikirannya tidak mau melakukan peperangan ini. Sesungguhnya yang dia inginkan hanyalah pengakuan tulus dari Raja Thorosan sebagai sahabat terbaiknya. Namun, semuanya sudah terlambat. Renwimay menoleh ke kanan dan melihat bahwa fajar sudah tampak dari atas bukit, diikuti oleh semua orang yang ada di tempat tersebut, menatap dan menunggu akan kesempurnaan kehadiran matahari sebagai wasit dengan jantung yang berdebar kencang. Sinarnya mulai merambat ke perlembahan. Ketika telah menerangi seluruh area peperangan, saat itu pun perang dimulai.
Terdengar suara terompet yang ditiup oleh salah satu pasukan emas, maka Renwimay dan Thorosan segera menarik anak panah dengan busur mereka, melepaskannya di angkasa dan ketika kedua mata anak panah saling bertemu, kata “serang” diucapkan oleh masing-masing pemimpin pasukan. Pasukan perak berteriak “serang” sambil berlari dengan mengangkat pedang-pedang mereka, sementara pasukan emas berlari dengan kuda mereka yang siap menggunakan pedangnya untuk membunuh pasukan perak. Darah mulai bercucuran di setiap pedang dan anak panah yang menembus tubuh mereka.
Betapa mereka tidak menyadari bahwa peperangan antara dua sahabat itu tidak lain adalah rencana Franken semata. Karena dengan saling membunuh, maka tidak akan ada yang mampu menghidupkan rasa cinta dan kepercayaan pada kedua busur itu. Perang pun diakhiri dengan bidikan anak panah yang menembus tubuh Renwimay dan Raja Thorosan. Tak seorang pun yang masih hidup dalam peperangan tersebut.
Suasana berkabung begitu dirasakan oleh bangsa Dwikings karena telah kehilangan rajanya. Saat hujan turun begitu deras, mereka mencari mayat-mayat pasukan emas dan menguburkannya di tanah Dwikings beserta Raja Thorosan. Mereka pun menyimpan busur emas sebagai satu-satunya peninggalan atas kebesaran Raja Thorosan, menunggu hingga ada seseorang yang layak memegang busur tersebut. Sementara mayat-mayat pasukan perak dibiarkan membusuk, tidak ada yang memedulikannya karena mereka dianggap sebagai pemberontak. Di saat itu pula, Franken mendekati tubuh Renwimay yang tergeletak dengan memegang busur perak di tangan kirinya. Dia mencoba mengambil busur perak dari genggamannya, tetapi busur itu justru membakar jari-jari yang tersentuh olehnya. Dengan menggunakan kekuatan tongkat Pridiatick, dia mencoba menghancurkan busur tersebut. Namun ternyata, busur itu tidak dapat dipengaruhi oleh sihir hitamnya. Betapa kuatnya busur itu, sehingga Franken hanya bisa memberikan sumpah kepada tongkatnya.
Dia melepaskan tongkat dari genggaman tangan kanannya. Tongkat itu melayang seakan diiringi oleh alunan gerakan tangan Franken. Saat tongkat itu melayang tegak di depan antara kedua tangannya, dia mulai mengucapkan sumpah itu dengan kedua tangan yang sedikit terangkat.
“Mungkin bukan saat ini aku bisa menguasai dunia. Tapi, akan kuberikan tongkat ini pada generasiku, orang yang paling kejam dan serakah di waktu itu. Maka, tongkat ini dengan sendiri akan menghampirinya dan menunjukkannya pada para pemegang busur sehingga mereka akan saling membunuh. Kuberikan ingatan peristiwa ini agar kalian bisa mengetahui kelemahan busur-busur tersebut. Saat kasih sayang dan kepercayaan mulai luntur pada diri umat manusia, saat itu pula tongkat ini akan mengubah dunia dan mereka yang terkuat akan menjadi pasukanmu!” kata Franken sambil mengangkat kedua tangannya lebih tinggi.
Sinar tongkat Pridiatick bersinar terang sebagai jawaban atas sumpah yang diberikan Franken padanya. Kini busur perak menjadi saksi atas kekuatan tongkat tersebut. Generasi para pemegang busur terancam akan kemurkaan pemegang tongkat. Mereka yang berasal dari kalangan raja dan menengah yang sama-sama berhati baik, justru saling memfitnah. Mereka sepasang kekasih justru saling meracuni. Mereka yang bersaudara justru saling menikam. Mereka yang bersahabat justru saling mengkhianati. Semua terus terjadi demikian. Jika tak saling mengenal, maka selalu dipertemukan dalam keadaan rasa saling membenci dan semua diakhiri dengan saling membunuh di antara keduanya. Itulah yang diinginkan oleh pemegang tongkat Pridiatick, menumbuhkan rasa kebencian para pemegang busur dan tidak akan pernah membiarkan mereka mengetahui kekuatan apa yang ada di dalamnya.
Mereka lupa untuk apa busur itu dibuat. Mereka lupa akan keberadaan ancaman dari pemegang tongkat. Mereka hanya terpengaruh oleh apa yang nyata bagi mereka, bukan apa yang ada di balik kenyataan tersebut yang seharusnya dapat menjadi pedoman menemukan tujuan hidup mereka yang sebenarnya. Pada masa-masa kesuramannya, ketangguhan busur perak dan emas mulai tak terlihat. Ukirannya yang indah mulai memudar dari generasi ke generasi yang tidak mampu menghidupkannya. Kedua busur itu kini hanya tampak seperti busur kayu tua biasa dan kabar terakhir, mereka dipegang oleh seorang ayah dan putra tunggalnya yang berusia delapan belas tahunan. Keduanya meninggal dengan luka tembak di dada mereka, tergeletak di kamar sang ayah dekat lemari bajunya. Sementara sang ibu mengalami trauma yang mendalam hingga akhirnya dia pun bunuh diri di kamar mandi dengan luka gores di pergelangan tangan kirinya. Namun, saat seseorang mengetahui ada dua busur di lemari baju tersebut, dia hanya melemparnya keluar dan terbuang di dekat tanaman halaman mereka.
Dalam waktu yang sangat lama, kini busur-busur itu terdiam tanpa ada seorang pun yang memegangnya. Mereka menenggelamkan dirinya bersama bumi. Melewati waktu, musim, dan peradaban yang panjang, kini sejarah akan keberadaan kedua busur itu telah lenyap.

No comments:

Post a Comment