Selama liburan, Jordan dan Volan berlatih untuk memanah dengan tepat sasaran. Mereka dilatih oleh salah seorang pelayan di rumahnya yang juga seorang pemanah handal. Namanya adalah Trigar Hurtantos. Mereka begitu bahagia ketika dilatih oleh Trigar di halaman belakang rumahnya. Trigar melatih mereka dengan penuh kesabaran. Dia mengajarkan cara memegang busur dan membidik yang benar agar mata anak panah bisa tertancap tepat pada satu titik. Rasa senang mereka akan permainan memanahnya membuat mereka suka membawa busurnya ke mana pun mereka pergi. Bahkan, saat di sekolah pun mereka membawanya. Tentu saja mereka mendapat teguran dari guru untuk tidak membawa busur-busur tersebut.
Hari minggu merupakan hari
yang sangat cerah. Pagi itu, Volan terlihat begitu serius mengamati sesuatu.
Tangan kanannya mulai menarik anak panah dan matanya terpusat pada satu titik
yang menjadi incaran bidikannya dengan jarak lima puluh meter. Dia bersiap
untuk melepaskannya. Angin berembus mengenai tubuhnya. Jantung berdetak kencang
hingga terdengar di telinganya. Dia mencoba untuk menyeimbangkan napasnya dan
wuzzzz, yang terlihat hanyalah anak panah yang sudah tertancap di luar sebuah
papan merah putih berselang-selang dengan diameter tiga puluh sentimeter.
“Sial, padahal kurang
sedikit lagi!” kata Volan kesal.
“Teruslah berlatih untuk
mengontrol napasmu dan pastikan dirimu tenang sebelum kau melepaskannya. Tapi,
menurutku itu cukup bagus. Anak panahmu masih mengenai pohonnya,” jelas Trigar.
“Apa yang bagus jika aku
selalu melakukan kesalahan itu berulang kali.”
“Setidaknya, anak panahmu
lebih dekat satu sentimeter dari latihan-latihan sebelumnya,” hibur Trigar
sambil tersenyum lebar pada Volan.
Volan hanya menatap Trigar
dengan wajah kesal.
Kemudian, Trigar meminta
Jordan untuk bergantian posisi dengan Volan.
“Bolehkah aku menggunakan
anak panah sungguhan untuk kesempatan kali ini, Paman Trigar?”
“Kurasa jangan dulu, Jordan.
Aku khawatir anak panahmu akan mengarah ke tukang kebun yang ada di sana,” ucap
Trigar sedikit membungkuk dengan memegang bahu kiri Jordan seraya menunjuk
seorang wanita gemuk yang sedang memangkas tanaman sambil menggoyangkan
pinggulnya, yang berada cukup dekat di belakang mereka.
Jordan tertawa kecil.
Jordan kembali fokus pada
latihannya. Dia menarik napas dalam-dalam dan anak panahnya mulai ditarik.
Pegangannya berusaha untuk bisa mengarahkan anak panah pada papan lingkaran
tersebut. Saat dia merasa yakin, kemudian dilepaskan anak panahnya. Beruntung
sekali untuk latihan ini, dia cukup mampu untuk mengarahkannya dengan benar,
walaupun tidak tertancap pada papan maupun pohonnya.
“Bagus sekali, Jordan. Aku
yakin beberapa latihan lagi kau mampu mengenai papan itu,” kata Trigar sambil
menepuk bahu Jordan.
Berjam-jam sudah mereka
berlatih, akhirnya Trigar harus meninggalkan mereka berdua untuk melanjutkan
tugasnya sebagai pelayan. Jordan dan Volan bersandar di bawah pohon yang masih
terdapat beberapa tancapan anak panah bidikan Volan. Mereka duduk dengan posisi
kaki selonjor sambil menikmati sejuknya angin yang berembus. Jordan juga
sedikit bercerita tentang sesuatu hal yang ingin ia ceritakan bersama Volan.
“Kakak, baru-baru ini aku
merasa ada sesuatu yang terus mengikutiku. Dia selalu membisikan kata bersabarlah. Mungkin Kakak juga pernah
mendengarnya?” kata Jordan.
“Aku bukan anak aneh
sepertimu. Tentu aku tak pernah mendengarnya. Atau mungkin karena kau terlalu
dimanja oleh ayah dan ibu, membuat pikiranmu juga ingin dimanja dengan kata bersabarlah.”
Jordan terdiam, lalu menarik
napas sejenak.
“Aku tahu Kakak sebenarnya iri padaku. Kakak
mengira ibu tak lagi sayang pada Kakak. Tapi sebenarnya, ibu sangat menyayangi
Kakak. Saat belum bisa membaca, ibu selalu membacakan cerita padaku. Dan nama
karakter utama yang selalu disebut adalah Volan. Aku tahu kenapa ibu selalu
memakai nama itu. Karena ibu berharap Kakak akan menjadi seorang anak yang
selalu bisa dibanggakan.”
Volan kini yang terdiam dan
tatapannya seakan tertuju pada busur yang ia pangku.
“Mungkin Kakak terlalu
berlebihan menanggapi semua ini. Kalau Kakak menyadarinya, sebenarnya ibu
mencoba melakukan hal terbaik untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Kakak,”
lanjut Jordan.
“Satu-satunya yang kusadari
adalah ibu memang selalu memberikan perhatiannya padamu. Sebelum ibu menikah
dengan ayah, dia selalu berada di dekatku. Tak pernah sedikit pun
meninggalkanku sendirian. Lalu, kau hadir dalam keluarga ini yang hanya membuat
kekacauan dalam hidupku!” kata Volan memperlihatkan wajah kesalnya pada Jordan.
Jordan memalingkan
tatapannya. Wajahnya tampak sedikit suram.
Tiba-tiba Reina berjalan
menghampiri Jordan dan Volan. Terlihat dia membawa sebuah nampan sambil
tersenyum pada kedua putranya. Kemudian, dia duduk di depan mereka dan
meletakkan nampan tersebut di atas rerumputan. Wajah murung Jordan menghilang
ketika ibunya memperlihatkan sepiring kue dan dua gelas susu untuknya dan
kakaknya. Reina menawarkan kuenya kepada Jordan terlebih dahulu.
“Cobalah kue ini, Aamadav!
Kau akan ketagihan saat mendapat gigitan pertamanya.”
Jordan mengambil sepotong
kue dan langsung mengambil susu tanpa Reina tawarkan. Reina begitu bahagia melihat
Jordan menikmati hidangannya. Dia mengelus rambut Jordan yang masih memegang
separuh potongan kuenya di tangan kanan dan susu di tangan kirinya. Sementara
itu, Volan justu merasa kesal atas apa yang ia lihat. Dia segera bangun dan
mencoba menjauh dari mereka. Namun, tangan kanan Reina meraih tangan kiri Volan
yang saat itu berjalan melewatinya. Dia menarik Volan untuk duduk di samping
kanannya. Dia pun menawarkan kue dan susu kepada Volan, tetapi Volan
menolaknya. Dia mencoba memperlihatkan senyuman pada Volan, justru Volan
memalingkan pandangannya.
“Apa kau masih ingat, Volan?
Dulu ketika masih kecil, kau sangat menyukai kue ini. Bahkan, aku rela
membuatkannya di tengah malam agar kau berhenti merengek.”
Volan tetap saja diam tanpa
melihat tatapan wajah ibunya.
“Sudah lama aku tidak
membuatkan kue kesukaanmu ini. Wajar jika kau sudah melupakannya,” kata Reina
seraya meneteskan air mata.
Volan mencoba untuk terus
menunjukkan rasa kesalnya, tetapi dia pun tak kuasa melihat ibunya bersedih.
Maka, dia mengambil sepotong kue di atas piring yang masih dipegang oleh ibunya
tersebut. Saat mendapat gigitan pertamanya, Volan benar-benar seakan kembali ke
masa lalunya. Dia tersenyum merasakan betapa nikmat kue buatan ibunya tersebut
dan kembali memakannya hingga gigitan terakhir. Bertahun-tahun tak pernah dia
rasakan, kue tersebut seakan memberikan tanda kepada Volan bahwa ibunya masih
sayang padanya. Kemudian, Volan mengusap air mata ibunya dan langsung memeluk
erat tubuhnya, begitu juga dengan Reina. Saat itu pun Jordan tersenyum bahagia
melihat Volan dapat merasakan kembali hal terindah dalam hidupnya.
Malam hari setelah Volan
menutup buku bacaannya, dia merasa terkejut melihat ibunya masuk ke kamarnya
tiba-tiba. Dia menghampiri Volan dengan senyuman yang tak pernah lepas dari
wajahnya.
“Ada apa Ibu kemari?”
“Memastikan kalau putraku
sudah tidur dengan lelap. Kemarilah, Nak!” kata Reina sambil menggandeng tangan
Volan untuk berbaring di atas ranjang. Dia pun menyelimuti tubuh Volan, mencium
dahinya, dan mengucapkan selamat malam padanya.
Volan merasa tersentuh atas
apa yang dilakukan oleh ibunya tersebut. Setelah Reina mematikan lampu dan
sebelum dia menutup pintu kamar, Volan segera mengucapkan terimakasih kepada
ibunya. Reina hanya memberikan senyuman lebar kepada Volan, lalu menutup pintu.
Waktu telah menunjukkan
pukul 06.35. Saatnya bagi Volan dan Jordan untuk bergegas berangkat ke sekolah.
Mereka berdua segera berpamitan dengan kedua orang tuanya. Setelah Volan
mencium tangan ibunya, dia merasa semakin bahagia ketika ibunya memberikan
bekal untuk dirinya dan Jordan. Volan menatap wajah ibunya dengan senyuman. Ini
adalah hal terindah dalam hidup Volan dan Jordan. Selama ini, tak pernah ibunya
sendiri yang membuatkan bekal untuk mereka.
Suatu hari setelah jam pelajaran
selesai, Volan segera berlari menghampiri adiknya yang sedang berdiri di depan
kelas 4 SD. Namun, wajah Jordan kini tampak murung. Semurung saat uang sakunya
sudah habis. Mungkin karena dia sudah tahu akan ditinggal pulang Volan
sendirian, terlebih ketika itu hujan lebat.
“Ayo, kita pulang , Jordan!”
ajak Volan dengan senyuman.
“Mmmm, Kakak pulanglah dulu!
Aku tidak membawa payung. Kurasa, aku akan menunggu hingga hujan sudah reda.”
“Kalau begitu, satu payung
untuk kita berdua,” kata Volan seraya membuka payungnya.
“Tapi, payung ini tidak
cukup untuk kita berdua. Nanti Kakak akan kebasahan. Pulanglah dulu! Tak
masalah jika aku di sini sendirian.”
“Apa yang kau katakan,
Jordan? Aku lebih baik kebasahan dari pada meninggalkan adikku menunggu
sendirian di sini. Apa yang akan aku katakan pada ibu jika aku pulang tanpa
dirimu? Ayo, pulanglah bersamaku! Ibu sedang menunggu kita.”
Jordan sangat terkejut
mendengar ucapan Volan tersebut. Dia tak menyangka perubahan sifatnya bisa
sampai sejauh itu. Dia pun hanya bisa tersenyum, seakan dalam hati ingin
mengucapkan terimakasih, tetapi tak sempat juga dia mengatakannya. Volan
menggandeng tangan kiri Jordan, lalu mereka mulai berjalan bersama, melewati
derasnya hujan. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Volan terus memegang erat
tangan adiknya. Jordan pun bahagia bisa merasakan kebaikan yang diberikan dari
kakaknya tersebut. Dia berharap agar semua itu terus ia rasakan sampai akhir
hidupnya.
Saat itu pula, kedua busur
mulai terbangun. Ukiran lambang dari masing-masing busur kini tampak dan
bersinar terang. Busur Jordan yang ia letakkan di atas ranjangnya bersinar
dengan nyala biru terang, sementara busur Volan yang diletakkan di atas meja
belajarnya bersinar dengan nyala merah terang. Namun, perlahan-lahan sinarnya
mulai lenyap dan hanya membekas seperti ukiran kayu biasa.
Sesampainya di rumah, Volan
dan Jordan disambut oleh ibunya.
“Oh, lihatlah baju kalian
bisa sebasah ini! Cepat ganti baju, karena aku sudah mempersiapkan coklat panas
untuk dua putra tersayangku.”
“Baik, Ibu!” seru Volan dan
Jordan kegirangan.
Mereka berdua seakan
menikmati kebersamaan di hari itu, sehingga tak terasa waktu pun cepat berlalu.
Setiap sore sebelum matahari
terbenam, kini Jordan dan Volan berlatih memanah berdua tanpa bimbingan dari
Trigar. Walaupun demikian, Volan merasa bangga karena dengan belajar sendiri
tanpa menunggu bimbingan dari ahlinya, seakan dia sudah menjadi seorang pakar.
Ketepatan membidiknya hampir selalu sempurna. Sementara itu, Jordan masih belum
bisa mengarahkan anak panahnya dengan benar. Ketepatannya dalam membidik masih
sangat lemah. Jordan hampir tak mau memainkannya lagi saat itu. Namun, Volan
mencoba untuk terus menyemangatinya.
“Ayo, Jordan! Cobalah lagi,
aku yakin kau bisa melakukannya!”
“Entahlah, Kak. Mungkin memanah
bukan keahlianku.”
“Hey, sini biar kubantu
bagaimana mengarahkannya!”
Volan berdiri di belakang
Jordan, tangan kirinya memegang lengan kiri Jordan. Sedangkan, tangan satunya
mengatur posisi tangan kanan Jordan yang sedang memegang anak panah.
“Sekarang, tarik napas
dalam-dalam.”
Jordan menarik napas
sejenak.
“Bagus. Tetap fokus pada
titik itu. Seimbangkan arah mata anak panahnya dengan gerakan napasmu pada
titik tersebut. Jika kau yakin untuk dilepas, maka lepaskanlah. Jangan terlalu
tegang dibuatnya. Santai saja.”
Untuk melakukannya, Jordan
harus percaya bahwa yang dikatakan Volan tersebut benar, maka dia pun berusaha
untuk mengikuti perkataan itu. Beberapa detik kemudian, Jordan melepaskan anak
panahnya dan sekilas dia melihat ujung mata anak panah itu bersinar. Lalu yang
terjadi, anak panahnya mengenai papan lingkaran serta menghancurkannya. Mereka
berdua hanya bisa diam terheran-heran, melihat kejadian itu dengan mulut
terbuka.
“Mungkin karena papannya
sudah tua,” ucap Volan memecah suasana.
Jordan hanya bisa meringis.
“Jadi, bagaimana latihan
kalian?” tanya Trigar tiba-tiba.
Volan dan Jordan terkejut
dan menoleh ke belakang.
“Paman Trigar? Kurasa Paman
harus memanggilku master suatu saat nanti, karena aku mulai mengalahkan
ketepatan Paman,” kata Volan seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya.
“Hahahaha…. Kau mulai
sombong, Volan!”
Volan tersenyum lebar kepada
Trigar.
“Paman! Paman! Kurasa Paman
juga harus mengizinkanku menggunakan anak panah sungguhan karena aku sudah bisa
mengenai papannya!” sahut Jordan kegirangan sambil menarik-narik lengan baju
Trigar.
“Benarkah?”
“Iya, Paman. Bahkan papannya
sampai hancur terkena bidikannya,” lanjut Volan.
Seakan Trigar tidak
memercayai yang dikatakannya, maka Jordan segera menarik tangan kanannya dan
menunjukkan hasil bidikannya. Trigar benar-benar terkejut ketika melihat
potongan-potongan papan yang berserakan. Bagaimana mungkin papan kayu setebal satu
setengah sentimeter bisa hancur dengan sentuhan anak panah bermata cangkir isap,
pikirnya. Lalu, dia mengambil salah satu dari potongan papan tersebut. Ketika
ia melihatnya dengan seksama, terdapat bekas hitam yang mengelilingi potongan
tersebut. Saat dia menyentuh pada bagian bekas hitamnya, ternyata seperti arang
kayu dan terasa masih hangat. Dia semakin heran ketika beberapa potongan
lainnya terjadi demikian.
“Benarkah ini karena
bidikanmu, Jordan?” tanya Volan.
“Tentu saja, Paman. Tapi,
aku tidak akan bisa melakukannya kalau tidak dibantu oleh Kakak.”
“Menurut Paman, apa yang
terjadi?” tanya Volan yang juga merasa penasaran.
“Hmmm, entahlah. Tapi,
mungkin terkena sambaran petir.”
“Hehe. Mana mungkin ada
petir di hari secerah ini. Bahkan, awan pun tak tampak.”
“Tentu saja, mungkin. Petir
ajaib yang menghampiri anak-anak sombong, seperti dirimu. Belum bisa 100% tepat
sasaran saja sudah berani menantangku. Kau juga, Jordan. Belum mencobanya
sendirian saja sudah minta anak panah sungguhan. Bagaimana kalau tanpa kakakmu
hasil bidikanmu justru mengarah ke orang-orang korupsi di pusat kota?” kata
Trigar.
Trigar merasa bingung ketika
Volan dan Jordan justru menertawakan perkataannya yang dianggap serius. Dia
semakin tambah bingung lagi saat mereka berdua tiba-tiba langsung memeluk
tubuhnya setelah menertawakannya. Namun, dia mulai mengerti bahwa mereka sangat
menyayangi dirinya. Lalu, mereka bertiga tertawa bersama seakan melupakan
keanehan yang terjadi pada papan sasaran yang hancur saat itu. Trigar pun
mengajak Volan dan Jordan untuk masuk ke dalam rumah. Salah seorang tukang
kebun yang sedang membersihkan reruntuhan daun di halaman rumah melihat
keakraban mereka bertiga, berjalan bergandengan tangan dengan cahaya matahari
yang menyinari tubuh mereka dari arah samping. Sungguh suasana yang membuat
hati tukang kebun itu menjadi damai.
“Aw, Paman! Kau menginjak
kakiku,” kata Jordan tiba-tiba sambil berjalan menggandeng tangan kanan Trigar.
“Oops, maaf.”
Terlihat Jordan membersihkan
kakinya yang terinjak, tukang kebun itu pun tersenyum dan kembali melanjutkan
pekerjaannya.
No comments:
Post a Comment