CHAPTER 9: MASA LALU “SINAR UKIRAN BUSUR”

 

Selama liburan, Jordan dan Volan berlatih untuk memanah dengan tepat sasaran. Mereka dilatih oleh salah seorang pelayan di rumahnya yang juga seorang pemanah handal. Namanya adalah Trigar Hurtantos. Mereka begitu bahagia ketika dilatih oleh Trigar di halaman belakang rumahnya. Trigar melatih mereka dengan penuh kesabaran. Dia mengajarkan cara memegang busur dan membidik yang benar agar mata anak panah bisa tertancap tepat pada satu titik. Rasa senang mereka akan permainan memanahnya membuat mereka suka membawa busurnya ke mana pun mereka pergi. Bahkan, saat di sekolah pun mereka membawanya. Tentu saja mereka mendapat teguran dari guru untuk tidak membawa busur-busur tersebut.

Hari minggu merupakan hari yang sangat cerah. Pagi itu, Volan terlihat begitu serius mengamati sesuatu. Tangan kanannya mulai menarik anak panah dan matanya terpusat pada satu titik yang menjadi incaran bidikannya dengan jarak lima puluh meter. Dia bersiap untuk melepaskannya. Angin berembus mengenai tubuhnya. Jantung berdetak kencang hingga terdengar di telinganya. Dia mencoba untuk menyeimbangkan napasnya dan wuzzzz, yang terlihat hanyalah anak panah yang sudah tertancap di luar sebuah papan merah putih berselang-selang dengan diameter tiga puluh sentimeter.

“Sial, padahal kurang sedikit lagi!” kata Volan kesal.

“Teruslah berlatih untuk mengontrol napasmu dan pastikan dirimu tenang sebelum kau melepaskannya. Tapi, menurutku itu cukup bagus. Anak panahmu masih mengenai pohonnya,” jelas Trigar.

“Apa yang bagus jika aku selalu melakukan kesalahan itu berulang kali.”

“Setidaknya, anak panahmu lebih dekat satu sentimeter dari latihan-latihan sebelumnya,” hibur Trigar sambil tersenyum lebar pada Volan.

Volan hanya menatap Trigar dengan wajah kesal.

Kemudian, Trigar meminta Jordan untuk bergantian posisi dengan Volan.

“Bolehkah aku menggunakan anak panah sungguhan untuk kesempatan kali ini, Paman Trigar?”

“Kurasa jangan dulu, Jordan. Aku khawatir anak panahmu akan mengarah ke tukang kebun yang ada di sana,” ucap Trigar sedikit membungkuk dengan memegang bahu kiri Jordan seraya menunjuk seorang wanita gemuk yang sedang memangkas tanaman sambil menggoyangkan pinggulnya, yang berada cukup dekat di belakang mereka.

Jordan tertawa kecil.

Jordan kembali fokus pada latihannya. Dia menarik napas dalam-dalam dan anak panahnya mulai ditarik. Pegangannya berusaha untuk bisa mengarahkan anak panah pada papan lingkaran tersebut. Saat dia merasa yakin, kemudian dilepaskan anak panahnya. Beruntung sekali untuk latihan ini, dia cukup mampu untuk mengarahkannya dengan benar, walaupun tidak tertancap pada papan maupun pohonnya.

“Bagus sekali, Jordan. Aku yakin beberapa latihan lagi kau mampu mengenai papan itu,” kata Trigar sambil menepuk bahu Jordan.

Berjam-jam sudah mereka berlatih, akhirnya Trigar harus meninggalkan mereka berdua untuk melanjutkan tugasnya sebagai pelayan. Jordan dan Volan bersandar di bawah pohon yang masih terdapat beberapa tancapan anak panah bidikan Volan. Mereka duduk dengan posisi kaki selonjor sambil menikmati sejuknya angin yang berembus. Jordan juga sedikit bercerita tentang sesuatu hal yang ingin ia ceritakan bersama Volan.

“Kakak, baru-baru ini aku merasa ada sesuatu yang terus mengikutiku. Dia selalu membisikan kata bersabarlah. Mungkin Kakak juga pernah mendengarnya?” kata Jordan.

“Aku bukan anak aneh sepertimu. Tentu aku tak pernah mendengarnya. Atau mungkin karena kau terlalu dimanja oleh ayah dan ibu, membuat pikiranmu juga ingin dimanja dengan kata bersabarlah.”

Jordan terdiam, lalu menarik napas sejenak.

 “Aku tahu Kakak sebenarnya iri padaku. Kakak mengira ibu tak lagi sayang pada Kakak. Tapi sebenarnya, ibu sangat menyayangi Kakak. Saat belum bisa membaca, ibu selalu membacakan cerita padaku. Dan nama karakter utama yang selalu disebut adalah Volan. Aku tahu kenapa ibu selalu memakai nama itu. Karena ibu berharap Kakak akan menjadi seorang anak yang selalu bisa dibanggakan.”

Volan kini yang terdiam dan tatapannya seakan tertuju pada busur yang ia pangku.

“Mungkin Kakak terlalu berlebihan menanggapi semua ini. Kalau Kakak menyadarinya, sebenarnya ibu mencoba melakukan hal terbaik untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Kakak,” lanjut Jordan.

“Satu-satunya yang kusadari adalah ibu memang selalu memberikan perhatiannya padamu. Sebelum ibu menikah dengan ayah, dia selalu berada di dekatku. Tak pernah sedikit pun meninggalkanku sendirian. Lalu, kau hadir dalam keluarga ini yang hanya membuat kekacauan dalam hidupku!” kata Volan memperlihatkan wajah kesalnya pada Jordan.

Jordan memalingkan tatapannya. Wajahnya tampak sedikit suram.

Tiba-tiba Reina berjalan menghampiri Jordan dan Volan. Terlihat dia membawa sebuah nampan sambil tersenyum pada kedua putranya. Kemudian, dia duduk di depan mereka dan meletakkan nampan tersebut di atas rerumputan. Wajah murung Jordan menghilang ketika ibunya memperlihatkan sepiring kue dan dua gelas susu untuknya dan kakaknya. Reina menawarkan kuenya kepada Jordan terlebih dahulu.

“Cobalah kue ini, Aamadav! Kau akan ketagihan saat mendapat gigitan pertamanya.”

Jordan mengambil sepotong kue dan langsung mengambil susu tanpa Reina tawarkan. Reina begitu bahagia melihat Jordan menikmati hidangannya. Dia mengelus rambut Jordan yang masih memegang separuh potongan kuenya di tangan kanan dan susu di tangan kirinya. Sementara itu, Volan justu merasa kesal atas apa yang ia lihat. Dia segera bangun dan mencoba menjauh dari mereka. Namun, tangan kanan Reina meraih tangan kiri Volan yang saat itu berjalan melewatinya. Dia menarik Volan untuk duduk di samping kanannya. Dia pun menawarkan kue dan susu kepada Volan, tetapi Volan menolaknya. Dia mencoba memperlihatkan senyuman pada Volan, justru Volan memalingkan pandangannya.

“Apa kau masih ingat, Volan? Dulu ketika masih kecil, kau sangat menyukai kue ini. Bahkan, aku rela membuatkannya di tengah malam agar kau berhenti merengek.”

Volan tetap saja diam tanpa melihat tatapan wajah ibunya.

“Sudah lama aku tidak membuatkan kue kesukaanmu ini. Wajar jika kau sudah melupakannya,” kata Reina seraya meneteskan air mata.

Volan mencoba untuk terus menunjukkan rasa kesalnya, tetapi dia pun tak kuasa melihat ibunya bersedih. Maka, dia mengambil sepotong kue di atas piring yang masih dipegang oleh ibunya tersebut. Saat mendapat gigitan pertamanya, Volan benar-benar seakan kembali ke masa lalunya. Dia tersenyum merasakan betapa nikmat kue buatan ibunya tersebut dan kembali memakannya hingga gigitan terakhir. Bertahun-tahun tak pernah dia rasakan, kue tersebut seakan memberikan tanda kepada Volan bahwa ibunya masih sayang padanya. Kemudian, Volan mengusap air mata ibunya dan langsung memeluk erat tubuhnya, begitu juga dengan Reina. Saat itu pun Jordan tersenyum bahagia melihat Volan dapat merasakan kembali hal terindah dalam hidupnya.

Malam hari setelah Volan menutup buku bacaannya, dia merasa terkejut melihat ibunya masuk ke kamarnya tiba-tiba. Dia menghampiri Volan dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.

“Ada apa Ibu kemari?”

“Memastikan kalau putraku sudah tidur dengan lelap. Kemarilah, Nak!” kata Reina sambil menggandeng tangan Volan untuk berbaring di atas ranjang. Dia pun menyelimuti tubuh Volan, mencium dahinya, dan mengucapkan selamat malam padanya.

Volan merasa tersentuh atas apa yang dilakukan oleh ibunya tersebut. Setelah Reina mematikan lampu dan sebelum dia menutup pintu kamar, Volan segera mengucapkan terimakasih kepada ibunya. Reina hanya memberikan senyuman lebar kepada Volan, lalu menutup pintu.

Waktu telah menunjukkan pukul 06.35. Saatnya bagi Volan dan Jordan untuk bergegas berangkat ke sekolah. Mereka berdua segera berpamitan dengan kedua orang tuanya. Setelah Volan mencium tangan ibunya, dia merasa semakin bahagia ketika ibunya memberikan bekal untuk dirinya dan Jordan. Volan menatap wajah ibunya dengan senyuman. Ini adalah hal terindah dalam hidup Volan dan Jordan. Selama ini, tak pernah ibunya sendiri yang membuatkan bekal untuk mereka.

Suatu hari setelah jam pelajaran selesai, Volan segera berlari menghampiri adiknya yang sedang berdiri di depan kelas 4 SD. Namun, wajah Jordan kini tampak murung. Semurung saat uang sakunya sudah habis. Mungkin karena dia sudah tahu akan ditinggal pulang Volan sendirian, terlebih ketika itu hujan lebat.

“Ayo, kita pulang , Jordan!” ajak Volan dengan senyuman.

“Mmmm, Kakak pulanglah dulu! Aku tidak membawa payung. Kurasa, aku akan menunggu hingga hujan sudah reda.”

“Kalau begitu, satu payung untuk kita berdua,” kata Volan seraya membuka payungnya.

“Tapi, payung ini tidak cukup untuk kita berdua. Nanti Kakak akan kebasahan. Pulanglah dulu! Tak masalah jika aku di sini sendirian.”

“Apa yang kau katakan, Jordan? Aku lebih baik kebasahan dari pada meninggalkan adikku menunggu sendirian di sini. Apa yang akan aku katakan pada ibu jika aku pulang tanpa dirimu? Ayo, pulanglah bersamaku! Ibu sedang menunggu kita.”

Jordan sangat terkejut mendengar ucapan Volan tersebut. Dia tak menyangka perubahan sifatnya bisa sampai sejauh itu. Dia pun hanya bisa tersenyum, seakan dalam hati ingin mengucapkan terimakasih, tetapi tak sempat juga dia mengatakannya. Volan menggandeng tangan kiri Jordan, lalu mereka mulai berjalan bersama, melewati derasnya hujan. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Volan terus memegang erat tangan adiknya. Jordan pun bahagia bisa merasakan kebaikan yang diberikan dari kakaknya tersebut. Dia berharap agar semua itu terus ia rasakan sampai akhir hidupnya.

Saat itu pula, kedua busur mulai terbangun. Ukiran lambang dari masing-masing busur kini tampak dan bersinar terang. Busur Jordan yang ia letakkan di atas ranjangnya bersinar dengan nyala biru terang, sementara busur Volan yang diletakkan di atas meja belajarnya bersinar dengan nyala merah terang. Namun, perlahan-lahan sinarnya mulai lenyap dan hanya membekas seperti ukiran kayu biasa.

Sesampainya di rumah, Volan dan Jordan disambut oleh ibunya.

“Oh, lihatlah baju kalian bisa sebasah ini! Cepat ganti baju, karena aku sudah mempersiapkan coklat panas untuk dua putra tersayangku.”

“Baik, Ibu!” seru Volan dan Jordan kegirangan.

Mereka berdua seakan menikmati kebersamaan di hari itu, sehingga tak terasa waktu pun cepat berlalu.

Setiap sore sebelum matahari terbenam, kini Jordan dan Volan berlatih memanah berdua tanpa bimbingan dari Trigar. Walaupun demikian, Volan merasa bangga karena dengan belajar sendiri tanpa menunggu bimbingan dari ahlinya, seakan dia sudah menjadi seorang pakar. Ketepatan membidiknya hampir selalu sempurna. Sementara itu, Jordan masih belum bisa mengarahkan anak panahnya dengan benar. Ketepatannya dalam membidik masih sangat lemah. Jordan hampir tak mau memainkannya lagi saat itu. Namun, Volan mencoba untuk terus menyemangatinya.

“Ayo, Jordan! Cobalah lagi, aku yakin kau bisa melakukannya!”

“Entahlah, Kak. Mungkin memanah bukan keahlianku.”

“Hey, sini biar kubantu bagaimana mengarahkannya!”

Volan berdiri di belakang Jordan, tangan kirinya memegang lengan kiri Jordan. Sedangkan, tangan satunya mengatur posisi tangan kanan Jordan yang sedang memegang anak panah.

“Sekarang, tarik napas dalam-dalam.”

Jordan menarik napas sejenak.

“Bagus. Tetap fokus pada titik itu. Seimbangkan arah mata anak panahnya dengan gerakan napasmu pada titik tersebut. Jika kau yakin untuk dilepas, maka lepaskanlah. Jangan terlalu tegang dibuatnya. Santai saja.”

Untuk melakukannya, Jordan harus percaya bahwa yang dikatakan Volan tersebut benar, maka dia pun berusaha untuk mengikuti perkataan itu. Beberapa detik kemudian, Jordan melepaskan anak panahnya dan sekilas dia melihat ujung mata anak panah itu bersinar. Lalu yang terjadi, anak panahnya mengenai papan lingkaran serta menghancurkannya. Mereka berdua hanya bisa diam terheran-heran, melihat kejadian itu dengan mulut terbuka.

“Mungkin karena papannya sudah tua,” ucap Volan memecah suasana.

Jordan hanya bisa meringis.

“Jadi, bagaimana latihan kalian?” tanya Trigar tiba-tiba.

Volan dan Jordan terkejut dan menoleh ke belakang.

“Paman Trigar? Kurasa Paman harus memanggilku master suatu saat nanti, karena aku mulai mengalahkan ketepatan Paman,” kata Volan seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya.

“Hahahaha…. Kau mulai sombong, Volan!”

Volan tersenyum lebar kepada Trigar.

“Paman! Paman! Kurasa Paman juga harus mengizinkanku menggunakan anak panah sungguhan karena aku sudah bisa mengenai papannya!” sahut Jordan kegirangan sambil menarik-narik lengan baju Trigar.

“Benarkah?”

“Iya, Paman. Bahkan papannya sampai hancur terkena bidikannya,” lanjut Volan.

Seakan Trigar tidak memercayai yang dikatakannya, maka Jordan segera menarik tangan kanannya dan menunjukkan hasil bidikannya. Trigar benar-benar terkejut ketika melihat potongan-potongan papan yang berserakan. Bagaimana mungkin papan kayu setebal satu setengah sentimeter bisa hancur dengan sentuhan anak panah bermata cangkir isap, pikirnya. Lalu, dia mengambil salah satu dari potongan papan tersebut. Ketika ia melihatnya dengan seksama, terdapat bekas hitam yang mengelilingi potongan tersebut. Saat dia menyentuh pada bagian bekas hitamnya, ternyata seperti arang kayu dan terasa masih hangat. Dia semakin heran ketika beberapa potongan lainnya terjadi demikian.

“Benarkah ini karena bidikanmu, Jordan?” tanya Volan.

“Tentu saja, Paman. Tapi, aku tidak akan bisa melakukannya kalau tidak dibantu oleh Kakak.”

“Menurut Paman, apa yang terjadi?” tanya Volan yang juga merasa penasaran.

“Hmmm, entahlah. Tapi, mungkin terkena sambaran petir.”

“Hehe. Mana mungkin ada petir di hari secerah ini. Bahkan, awan pun tak tampak.”

“Tentu saja, mungkin. Petir ajaib yang menghampiri anak-anak sombong, seperti dirimu. Belum bisa 100% tepat sasaran saja sudah berani menantangku. Kau juga, Jordan. Belum mencobanya sendirian saja sudah minta anak panah sungguhan. Bagaimana kalau tanpa kakakmu hasil bidikanmu justru mengarah ke orang-orang korupsi di pusat kota?” kata Trigar.

Trigar merasa bingung ketika Volan dan Jordan justru menertawakan perkataannya yang dianggap serius. Dia semakin tambah bingung lagi saat mereka berdua tiba-tiba langsung memeluk tubuhnya setelah menertawakannya. Namun, dia mulai mengerti bahwa mereka sangat menyayangi dirinya. Lalu, mereka bertiga tertawa bersama seakan melupakan keanehan yang terjadi pada papan sasaran yang hancur saat itu. Trigar pun mengajak Volan dan Jordan untuk masuk ke dalam rumah. Salah seorang tukang kebun yang sedang membersihkan reruntuhan daun di halaman rumah melihat keakraban mereka bertiga, berjalan bergandengan tangan dengan cahaya matahari yang menyinari tubuh mereka dari arah samping. Sungguh suasana yang membuat hati tukang kebun itu menjadi damai.

“Aw, Paman! Kau menginjak kakiku,” kata Jordan tiba-tiba sambil berjalan menggandeng tangan kanan Trigar.

“Oops, maaf.”

Terlihat Jordan membersihkan kakinya yang terinjak, tukang kebun itu pun tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

No comments:

Post a Comment