“Permisi, maaf! Beri kami
jalan!”
Begitulah kata-kata yang
selalu terucap setiap kali Wergon menabrak orang-orang yang dilewatinya.
“Cepatlah, Wergon! Kau
terlalu lambat!” sentak Filhener yang sudah mendahului Wergon sekitar sepuluh
meter.
“Tinggalkan saja dia!
Terlalu banyak menunggu, justru semuanya akan semakin kacau!” gerutu Lytro.
Lytro, Filhener, Migo, dan Rekshein pun berlari tanpa menghiraukan keberadaan Wergon. Melihat teman-temannya yang semakin jauh meninggalkannya, Wergon semakin cepat pula melangkah dan semakin banyak pula orang-orang yang ditabraknya.
“Hei, tunggu! Maaf. Bisakah
kalian sedikit setia! Maaf, maaf, ada urusan penting.”
Vurpia kini telah berada
kembali di dekat tongkat Pridiatick yang tertancap kokoh. Sambil melangkah
pelan mengitari tongkatnya, dia mengamati ketakjuban Pridiatick yang tidak
pernah dia lihat sebelumnya.
“Sangat indah,” katanya
terkagum-kagum, yang kemudian langkahnya berhenti sambil memandangi berlian
merah Pridiatick.
“Ini tidak sesulit yang
kukira,” kata Vurpia, “Menyingkirkan para pemegang busur adalah hal yang sangat
mudah dan… menyenangkan.”
Vuklir muncul dari belakang
Vurpia.
“Aku rasa, kini saatnya
menyingkirkan keberadaan para manusia hina dan mengambil alih dunia.”
“Benar. Tapi, sepertinya
akan lebih seru jika kuberi mereka sedikit pemanasan, sebelum kuperlihatkan
kejutan yang besar.”
Vuklir tersenyum licik, ikut
senang dengan rencana tersebut, diikuti juga kekuatan cahaya Pridiatick yang
semakin kuat untuk memenuhi keinginan tuannya.
Sementara kondisi para
pemegang busur.
Dalam mata yang masih
terpejam, Earon mulai tersadar dengan gerakan ringan bola matanya, diikuti
batuk-batuk sambil mengambil beberapa napas dalam yang tampaknya terjun bebas
itu membuat dadanya terasa sesak. Dia kemudian membuka kedua matanya yang masih
lemas dan melihat sekelilingnya. Namun, tampaknya dia masih bingung dengan
situasi sekitar. Diapun mengangkat punggungnya yang terasa berat dan mencoba
untuk melihat kembali sekelilingnya. Begitu banyak kardus, kursi, peti kemas,
dan barang bekas lainnya yang dihiasi dengan gantungan sawang dan taburan debu
di setiap tempat. Dia berpikir kalau tempat seperti itu pasti sebuah gudang.
Earon kembali batuk sambil mengayun-ayunkan salah satu tangan di depan mukanya.
Kemudian, dia melihat puing-puing dinding yang berserakan di sekitar tempat dia
berada. Dia kembali merasa bingung melihat hal itu, terlebih setelah tangannya
meraba alas, dan ternyata dia telah menduduki sofa bekas yang dipenuhi kerikil
besar. Segera, pandangannya mengarah ke atas dan melihat sebuah lubang besar
yang terukir pada atap ruangan tersebut atau lebih tepatnya dia berada tepat di
bawah daerah lubang itu. Earon seketika terperanjat, teringat akan kejadian
yang baru saja terjadi padanya. Diapun langsung berusaha untuk berdiri dan
mencari sesuatu.
“Jordan,” katanya lirih
dalam kegelisahan, “Jordan, di mana kau?”
Earon terus mencari sambil
mengais-ngais kalau-kalau Jordan tertimpa oleh reruntuhan dinding. Tidak lama
setelah mencari, akhirnya Jordan ditemukan dalam kondisi telungkup di atas
pecahan dinding yang besar. Earon segera menghampiri dan mencoba untuk
menolongnya.
“Jordan. Bangun, Jordan!”
kata Earon seraya membalikkan tubuh Jordan yang lemas.
“Jordan, kumohon, sadarlah!”
lanjutnya dalam tangisnya sambil mengoyang-goyangkan tubuh Jordan, “Maafkan
aku! Aku, aku memang tidak pantas menjadi kakakmu. Aku tidak bisa melindungimu.
Apa yang harus kulakukan, Jordan? Kumohon, bangunlah!”
Tidak terjadi reaksi apapun
dari Jordan. Sementara Earon terus saja menyalahkan dirinya dengan cucuran air
mata penyesalan.
“Apa yang telah kulakukan?
Bagaimana bisa aku melakukan ini padamu?”
Sesaat, tangisannya pun
terhenti sambil mengusap air mata di pipinya dan berkata, “Dengar! Aku berjanji
akan menjadi kakak terbaik untukmu. Aku akan selalu menyayangimu. Aku akan
selalu di dekatmu. Dan tidak akan pernah kubiarkan orang lain menyakitimu. Jika
mereka berani menyakitimu, aku akan langsung menghukum mereka semua. Tidak ada
yang boleh menyakiti adikku. Tidak boleh. Tapi, jika kau menderita karena aku,
maka aku akan pergi jauh dari hidupmu. Itulah janjiku. Jadi, sekarang
bangunlah! Kau sahabatku. Adikku. Keluargaku. Berikan aku kesempatan untuk bisa
menjadi kakakmu.”
Earon masih tidak merasakan
adanya kesadaran pada diri Jordan. Keputusasaan mulai terlahir dalam dirinya.
Diapun kembali menangisinya sambil mendekap erat tubuh adiknya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu
sampai kau bangun,” bisiknya di dekat telinga Jordan, “Aku menyayangimu,
Jordan. Aku tidak punya siapa pun lagi. Aku tidak bisa memercayai siapa pun
lagi. Tidak, selain dirimu.”
Kemudian, Earon mencium
kening Jordan untuk yang pertama kalinya, sebagai tanda bahwa dia begitu
menyayangi Jordan dan tidak mau kehilangan dirinya.
Namun, kejadian itu
tampaknya membuat kedua busur kembali terbangun. Lambang dari masing-masing
busur menyala terang. Busur perak yang menjadi saksi kunci di masa lalu, mulai
mengingat sebuah kalimat penting dan terlupakan yang pernah didengar oleh
pemegang pertamanya. Busur itu pun terdiam seolah menatap langit sambil
berusaha mengingat kembali kata-kata itu.
Di balik gumpalan awan hitam
yang mengerikan terlihat petir berwarna biru terang yang menyambar di udara, di
tengah-tengah petir-petir yang memancar warna merah. Petir itu terlihat begitu
indah dan sekaligus membuat busur perak teringat akan kata-kata yang pernah
dibisikkan oleh seorang wanita pembawa busur pada Renwimay sang pemegang
pertama busur perak. Bersamaan dengan teringatnya kata-kata itu, setetes airpun
jatuh dari balik awan gelap yang merupakan tempat petir biru tadi muncul.
“Kurasakan
ketulusan hati seorang generasi pemegang busur perak, maka akan kuberikan
ingatan kata yang akan menuntunnya pada kebahagiaannya “bersabarlah”. Saat
waktunya tiba, akan jatuh setetes air dari awan kegelapan yang akan
menyembuhkannya dari segala rasa sakit yang pernah dia terima.”
Air
yang menetes dari langit itupun jatuh di pipi Earon, yang mengalir, lalu
menyatu dengan tetesan air matanya, kemudian jatuh ke pipi Jordan.
Suasana
menjadi hening sejenak dan mulailah keajaiban itu. Sedikit demi sedikit setiap
luka Jordan menutup, begitu juga dengan luka memarnya yang mulai tak terlihat.
Warna pucat di seluruh tubuh Jordan berubah menjadi segar kembali. Gerakan jari
tangan Jordan juga sudah tampak, mengawali kesadarannya. Namun sepertinya,
Earon belum menyadari akan hal itu. Dia masih meneteskan air mata sambil
memeluk erat Jordan.
Pemulihan
itu tidak hanya terjadi pada Jordan, tapi juga pada Earon. Dia merasakan
kondisi tubuhnya yang membaik, bahkan tidak ada lagi rasa sakit. Ketika dia
melihat luka-luka memarnya yang sudah tidak membekas, saat itulah dia baru
menyadarinya dan sedikit melonggarkan pelukannya pada Jordan.
“Apa
yang telah terjadi padaku?” katanya terheran-heran sambil melihat-lihat
tangannya yang tidak ada lagi bekas luka.
Tiba-tiba,
pandangannya beralih dan langsung memegang tangan kiri Jordan. Dia kemudian
mengusap telapak tangan kiri Jordan yang berlumuran darah, yang sebelumnya
terkena tusukan anak panahnya. Setelah darah itu tersingkir karena usapannya,
tidak terlihat adanya luka di telapak tangan itu. Tampak bersih dan tidak ada
sedikit pun bekas goresan. Earonpun hanya terperengah melihat kejadian aneh
tersebut.
“Ternyata
kau cengeng juga.”
Earon
langsung tersentak setelah mendengar suara tanpa nama itu, yang membuatnya
semakin takut dan memperkencang dekapannya pada Jordan.
“Aku
akan mati jika kau peluk sekencang ini,” ucap suara itu lagi.
Earon
langsung menatap muka Jordan, yang spontan mengubah ekspresi di wajahnya.
“Jordan.
Kau sudah sadar?” kata Earon sambil tersenyum haru dan girang.
“Apa
yang terjadi? Di mana kita?” tanya Jordan yang masih sedikit lemas.
Earon
membantu Jordan agar bisa menegakkan punggungnya.
“Sudah
berakhir, Jordan.”
“Apanya
yang sudah berakhir?” tanya Jordan bingung.
“Sudah
berakhir semua rasa sakit di hati ini. Aku akan selalu menyayangimu…, Adikku.”
Jordan
langsung mengangkat mukanya dan menatap muka Earon. Sebagian dari dirinya tidak
percaya dengan kata terakhir yang terucap di bibir Earon tersebut. Namun, dia
pun sangat terharu mendengarnya.
“Adik?”
Earon
mengangguk-anggukkan kepalanya, tersenyum sambil berkata, “Ya, kaulah adikku.”
Jordan
begitu bahagia mendengarnya sampai-sampai matanya berlinang-linang. Tapi, dia
menahan keharuannya itu, terlebih saat melihat busurnya masih tergeletak di
antara reruntuhan dengan nyala biru terang pada ukiran lambangnya. Mengetahui
kebungkaman Jordan, Earonpun mengikuti arah pandangannya. Melihat busur Jordan,
ia kemudian langsung teringat tentang pengkhinatan yang dilakukan oleh Vurpia.
Pandangannyapun segera beralih untuk mencari busurnya. Tidak sulit menemukannya
karena nyala merah terang dari busurnya, telah menunjukkan keberadaannya.
“Ini
sungguh tidak masuk akal,” gumam Jordan.
Earon
memalingkan mukanya pada Jordan.
“Kalau
begitu, kita harus segera mengakhiri ketidakmasukakalan ini. Kau dan aku,”
sahut Earon seraya memegang pundak Jordan.
Jordan
bingung dengan ucapan Earon yang seolah telah mengetahui sesuatu.
“Aku
sudah tahu semuanya. Vurpia. Dialah dalang dari bencana ini,” ucap Earon
menggeram, “Dia juga yang telah….!”
Tampaknya
Earon teringat akan sesuatu, yang membuat kemarahannya seketika tertahan.
“Aku
tidak tahu siapa yang seharusnya disalahkan,” lanjutnya gelisah, “Aku tidak mau
mengulangi kesalahan itu lagi.”
Melihat
kecemasan itu, Jordan memegang tangan kakaknya sambil tersenyum, lalu berkata,
“Sekarang, Kakak bersamaku. Kita akan melakukannya bersama. Jika ada kesalahan
yang akan kita buat nantinya, kita tanggung itu bersama. Dan aku tidak akan
lagi menjadi orang lemah, karena ada kakakku yang selalu bersamaku.”
Earon
melihat keyakinan pada diri Jordan yang tercermin di wajahnya. Diapun mengubah
raut wajahnya dan menanggapinya dengan anggukan yang penuh keyakinan pula.
“Baiklah.
Ayo, kita lakukan! Pertama, kita harus mencari cara untuk bisa ke atas,” ucap
Earon seraya mengamati lagi isi ruang bawah tanah itu, barangkali ada sesuatu
yang dapat membantu memecahkan masalahnya itu, “Kita mungkin bisa menata
tumpukan benda-benda ini, lalu kita panjat.”
“Atau
menggunakan tangga,” sahut Jordan seraya mengarahkan tatapannya pada tangga
yang terlihat dari gawang pintu ruangan tersebut.
Earon
mengarahkan pandangannya pada tangga yang ditunjuk Jordan, lalu terdiam
sejenak.
“Owh
ya. Tangga. Benar juga. Tidak terlihat olehku dari sini.”
Jordan
mengumpat geli.
“Apa
yang lucu? Ayo, biar kakakmu membantumu berdiri.”
Earon
membantu Jordan berdiri, juga mengambilkan dua busurnya.
“Entah
kenapa aku bisa merasa sebaik ini. Apa yang Kakak berikan padaku?”
“Mungkin
pelukanku yang membuatmu sembuh,” gurau Earon.
Jordanpun
hanya bisa tersenyum bahagia, melihat sikap berbeda dari kakaknya.
“Setelah
ini, kita isi ulang terlebih dahulu senjata kita,” lanjut Earon.
Wergon
melangkah tersendat-sendat karena begitu lelahnya dia mengejar teman-temannya.
Sementara Lytro, Filhener, Migo, dan Rekshein sudah sampai di tengah lorong
yang panjang. Mereka pun berhenti sejenak di lorong itu untuk mengambil
beberapa napas. Tapi tidak lama kemudian, tangan Migo yang bertopang pada
dinding, merasakan getaran yang kuat.
“Kenapa
dinding ini bergerak?” tanya Migo penasaran.
Lytro
dan yang lainnya juga merasakan getaran kuat tersebut. Kaki mereka terhuyung-huyung.
Tong-tong sampah dan dinding bangunan yang mengapit mereka, juga ikut bergetar.
Namun, mereka berempat tetap saja berdiri di tengah lorong tersebut sambil
mengamati dinding-dinding yang seolah-olah akan jatuh menimpa mereka. Sementara
Wergon, dengan napas yang terengah-engah, dia melangkah terseret-seret,
melewati kawan-kawannya yang sedang dihipnotis oleh goyangan dinding lorong
itu.
Setelah
hampir mendekati seperempat dari ujung lorong, Wergon menoleh ke belakang dan
berteriak, “Apa yang kalian lakukan di sana?! Memperlambat langkah dan
mengacaukan semuanya?!”
Mendengar
sindiran Wergon, semua temannya langsung tersadar dari lamunan goyang dinding
dan segera berlari menyusul Wergon.
Gempa
sudah berhenti. Saat kelimanya sudah sampai di ujung lorong, langkah mereka
melambat karena dikejutkan dengan pemandangan yang membuat mereka cukup
jengkel.
“Apa?!”
ucap Lytro.
“Yang
benar saja,” kata Wergon bersamaan dengan Lytro.
Jalanan
kini dipenuhi oleh orang-orang. Gempa yang hampir memecahkan seluruh kaca
gedung dan meretakkan sebagian jalan itu membuat semua penduduk kota Losapins
panik dan memilih untuk berada di luar. Terdengar pendapat samar-samar di
tengah kerumunan orang-orang itu yang mengatakan untuk tetap di luar karena
takut jika terjadi gempa susulan. Beberapa juga ada yang bertanya asal gempa
yang dahsyat itu.
Melihat
hal itu, Wergon dan kawan-kawan hanya bisa menghela napas secara bersamaan,
untuk mengawali langkah mereka yang semakin menantang. Namun, sebelum salah
satu dari mereka ada yang mengangkat kakinya, tiba-tiba terlihat sebuah benda
kecil yang melayang-layang di atas kerumunan orang-orang tersebut. Benda
sebesar kelereng, sehalus bulu, sedingin es, dan berwarna merah jambu itu,
mengikat hati setiap penonton. Semua orangpun terdiam hening melihatnya.
Benda
itu turun dengan ringan di tengah kerumunan. Hingga akhirnya, ada seseorang
yang mengulurkan tangannya untuk dijadikan tempat pendaratan benda kecil itu.
Sampai di telapak tangan, pelan-pelan orang tersebut menurunkannya agar dapat
dilihat lebih jelas.
“Salju?”
katanya.
Orang-orang
yang berada di dekatnya pun terlena memandang keindahan benda itu dan berniat
untuk memegangnya. Namun belum sempat tangan-tangan mereka dianjurkan, benda
itu langsung melebur dan lenyap sedikit demi sedikit di telapak tangan orang
yang memegangnya tadi.
Lytro,
Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein hanya bisa terus mengamati dari kejauhan
tentang keanehan benda tersebut. Tiba-tiba, sikap orang yang memegang benda
kecil tadi, menjadi aneh. Dia langsung bertekuk lutut sambil berteriak
histeris. Semua orang di sekitarnyapun langsung menjauh beberapa meter
mengitarinya dan tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba untuk membantunya.
Mereka hanya bisa terdiam melihat orang tersebut tersiksa. Takut, begitulah
perasaan seketika semua orang, begitu juga dengan Filhener dan kawan-kawan.
Sedikit
demi sedikit, tubuh orang tersebut berubah menjadi aneh. Tangan dan lengannya
menjadi kekar dan bersisik dengan kuku-kukunya yang memanjang dan menajam,
seperti cakar elang. Bentuk kakinya membesar dan membentuk seperti kaki
serigala. Dagunya menjorok ke depan. Giginya seperti gergaji dengan dua taring
yang keluar hingga menusuk dagunya. Hidungnya seperti hidung babi. Matanya
melotot dan retinanya memerah. Telinganya meruncing ke atas. Keluar dua tanduk
di dahinya, dua sayap tak berbulu, ekor seperti ekor kadal dengan gelang api
yang terselubung di ujungnya. Hampir seluruh tubuhnya bersisik dan berbulu di
sepanjang ruas tulang belakang.
Saat
monster itu berubah sempurna, suasana pun menjadi hening sejenak, dengan
tatapan diam penonton yang terus mengamati gerak gerik monster itu. Wajah
monster itu terangkat, matanya pelan-pelan terbuka, dan Wergonpun berteriak,
“Lari!!!”
Wergon
dan kawan-kawan langsung berlari menjauh dari monster mengerikan itu. Sementara
yang lain, masih tetap diam berdiri, tidak menanggapi seruan Wergon tersebut.
Namun saat monster itu menunjukkan suaranya yang menggelegar, baru semua orang
segera berlarian menyelamatkan diri. Bahkan beberapa saling menabrak,
kebingungan mengambil arah. Monster itupun menyeruduki orang-orang sambil
mengamuk dan merusak benda-benda yang dilewatinya.
No comments:
Post a Comment