CHAPTER 16: YANG TERSISA DARI MASA LALU

 

“Permisi, maaf! Beri kami jalan!”

Begitulah kata-kata yang selalu terucap setiap kali Wergon menabrak orang-orang yang dilewatinya.

“Cepatlah, Wergon! Kau terlalu lambat!” sentak Filhener yang sudah mendahului Wergon sekitar sepuluh meter.

“Tinggalkan saja dia! Terlalu banyak menunggu, justru semuanya akan semakin kacau!” gerutu Lytro.

Lytro, Filhener, Migo, dan Rekshein pun berlari tanpa menghiraukan keberadaan Wergon. Melihat teman-temannya yang semakin jauh meninggalkannya, Wergon semakin cepat pula melangkah dan semakin banyak pula orang-orang yang ditabraknya.

“Hei, tunggu! Maaf. Bisakah kalian sedikit setia! Maaf, maaf, ada urusan penting.”

Vurpia kini telah berada kembali di dekat tongkat Pridiatick yang tertancap kokoh. Sambil melangkah pelan mengitari tongkatnya, dia mengamati ketakjuban Pridiatick yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

“Sangat indah,” katanya terkagum-kagum, yang kemudian langkahnya berhenti sambil memandangi berlian merah Pridiatick.

“Ini tidak sesulit yang kukira,” kata Vurpia, “Menyingkirkan para pemegang busur adalah hal yang sangat mudah dan… menyenangkan.”

Vuklir muncul dari belakang Vurpia.

“Aku rasa, kini saatnya menyingkirkan keberadaan para manusia hina dan mengambil alih dunia.”

“Benar. Tapi, sepertinya akan lebih seru jika kuberi mereka sedikit pemanasan, sebelum kuperlihatkan kejutan yang besar.”

Vuklir tersenyum licik, ikut senang dengan rencana tersebut, diikuti juga kekuatan cahaya Pridiatick yang semakin kuat untuk memenuhi keinginan tuannya.

Sementara kondisi para pemegang busur.

Dalam mata yang masih terpejam, Earon mulai tersadar dengan gerakan ringan bola matanya, diikuti batuk-batuk sambil mengambil beberapa napas dalam yang tampaknya terjun bebas itu membuat dadanya terasa sesak. Dia kemudian membuka kedua matanya yang masih lemas dan melihat sekelilingnya. Namun, tampaknya dia masih bingung dengan situasi sekitar. Diapun mengangkat punggungnya yang terasa berat dan mencoba untuk melihat kembali sekelilingnya. Begitu banyak kardus, kursi, peti kemas, dan barang bekas lainnya yang dihiasi dengan gantungan sawang dan taburan debu di setiap tempat. Dia berpikir kalau tempat seperti itu pasti sebuah gudang. Earon kembali batuk sambil mengayun-ayunkan salah satu tangan di depan mukanya. Kemudian, dia melihat puing-puing dinding yang berserakan di sekitar tempat dia berada. Dia kembali merasa bingung melihat hal itu, terlebih setelah tangannya meraba alas, dan ternyata dia telah menduduki sofa bekas yang dipenuhi kerikil besar. Segera, pandangannya mengarah ke atas dan melihat sebuah lubang besar yang terukir pada atap ruangan tersebut atau lebih tepatnya dia berada tepat di bawah daerah lubang itu. Earon seketika terperanjat, teringat akan kejadian yang baru saja terjadi padanya. Diapun langsung berusaha untuk berdiri dan mencari sesuatu.

“Jordan,” katanya lirih dalam kegelisahan, “Jordan, di mana kau?”

Earon terus mencari sambil mengais-ngais kalau-kalau Jordan tertimpa oleh reruntuhan dinding. Tidak lama setelah mencari, akhirnya Jordan ditemukan dalam kondisi telungkup di atas pecahan dinding yang besar. Earon segera menghampiri dan mencoba untuk menolongnya.

“Jordan. Bangun, Jordan!” kata Earon seraya membalikkan tubuh Jordan yang lemas.

“Jordan, kumohon, sadarlah!” lanjutnya dalam tangisnya sambil mengoyang-goyangkan tubuh Jordan, “Maafkan aku! Aku, aku memang tidak pantas menjadi kakakmu. Aku tidak bisa melindungimu. Apa yang harus kulakukan, Jordan? Kumohon, bangunlah!”

Tidak terjadi reaksi apapun dari Jordan. Sementara Earon terus saja menyalahkan dirinya dengan cucuran air mata penyesalan.

“Apa yang telah kulakukan? Bagaimana bisa aku melakukan ini padamu?”

Sesaat, tangisannya pun terhenti sambil mengusap air mata di pipinya dan berkata, “Dengar! Aku berjanji akan menjadi kakak terbaik untukmu. Aku akan selalu menyayangimu. Aku akan selalu di dekatmu. Dan tidak akan pernah kubiarkan orang lain menyakitimu. Jika mereka berani menyakitimu, aku akan langsung menghukum mereka semua. Tidak ada yang boleh menyakiti adikku. Tidak boleh. Tapi, jika kau menderita karena aku, maka aku akan pergi jauh dari hidupmu. Itulah janjiku. Jadi, sekarang bangunlah! Kau sahabatku. Adikku. Keluargaku. Berikan aku kesempatan untuk bisa menjadi kakakmu.”

Earon masih tidak merasakan adanya kesadaran pada diri Jordan. Keputusasaan mulai terlahir dalam dirinya. Diapun kembali menangisinya sambil mendekap erat tubuh adiknya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kau bangun,” bisiknya di dekat telinga Jordan, “Aku menyayangimu, Jordan. Aku tidak punya siapa pun lagi. Aku tidak bisa memercayai siapa pun lagi. Tidak, selain dirimu.”

Kemudian, Earon mencium kening Jordan untuk yang pertama kalinya, sebagai tanda bahwa dia begitu menyayangi Jordan dan tidak mau kehilangan dirinya.

Namun, kejadian itu tampaknya membuat kedua busur kembali terbangun. Lambang dari masing-masing busur menyala terang. Busur perak yang menjadi saksi kunci di masa lalu, mulai mengingat sebuah kalimat penting dan terlupakan yang pernah didengar oleh pemegang pertamanya. Busur itu pun terdiam seolah menatap langit sambil berusaha mengingat kembali kata-kata itu.

Di balik gumpalan awan hitam yang mengerikan terlihat petir berwarna biru terang yang menyambar di udara, di tengah-tengah petir-petir yang memancar warna merah. Petir itu terlihat begitu indah dan sekaligus membuat busur perak teringat akan kata-kata yang pernah dibisikkan oleh seorang wanita pembawa busur pada Renwimay sang pemegang pertama busur perak. Bersamaan dengan teringatnya kata-kata itu, setetes airpun jatuh dari balik awan gelap yang merupakan tempat petir biru tadi muncul.

“Kurasakan ketulusan hati seorang generasi pemegang busur perak, maka akan kuberikan ingatan kata yang akan menuntunnya pada kebahagiaannya “bersabarlah”. Saat waktunya tiba, akan jatuh setetes air dari awan kegelapan yang akan menyembuhkannya dari segala rasa sakit yang pernah dia terima.”

Air yang menetes dari langit itupun jatuh di pipi Earon, yang mengalir, lalu menyatu dengan tetesan air matanya, kemudian jatuh ke pipi Jordan.

Suasana menjadi hening sejenak dan mulailah keajaiban itu. Sedikit demi sedikit setiap luka Jordan menutup, begitu juga dengan luka memarnya yang mulai tak terlihat. Warna pucat di seluruh tubuh Jordan berubah menjadi segar kembali. Gerakan jari tangan Jordan juga sudah tampak, mengawali kesadarannya. Namun sepertinya, Earon belum menyadari akan hal itu. Dia masih meneteskan air mata sambil memeluk erat Jordan.

Pemulihan itu tidak hanya terjadi pada Jordan, tapi juga pada Earon. Dia merasakan kondisi tubuhnya yang membaik, bahkan tidak ada lagi rasa sakit. Ketika dia melihat luka-luka memarnya yang sudah tidak membekas, saat itulah dia baru menyadarinya dan sedikit melonggarkan pelukannya pada Jordan.

“Apa yang telah terjadi padaku?” katanya terheran-heran sambil melihat-lihat tangannya yang tidak ada lagi bekas luka.

Tiba-tiba, pandangannya beralih dan langsung memegang tangan kiri Jordan. Dia kemudian mengusap telapak tangan kiri Jordan yang berlumuran darah, yang sebelumnya terkena tusukan anak panahnya. Setelah darah itu tersingkir karena usapannya, tidak terlihat adanya luka di telapak tangan itu. Tampak bersih dan tidak ada sedikit pun bekas goresan. Earonpun hanya terperengah melihat kejadian aneh tersebut.

“Ternyata kau cengeng juga.”

Earon langsung tersentak setelah mendengar suara tanpa nama itu, yang membuatnya semakin takut dan memperkencang dekapannya pada Jordan.

“Aku akan mati jika kau peluk sekencang ini,” ucap suara itu lagi.

Earon langsung menatap muka Jordan, yang spontan mengubah ekspresi di wajahnya.

“Jordan. Kau sudah sadar?” kata Earon sambil tersenyum haru dan girang.

“Apa yang terjadi? Di mana kita?” tanya Jordan yang masih sedikit lemas.

Earon membantu Jordan agar bisa menegakkan punggungnya.

“Sudah berakhir, Jordan.”

“Apanya yang sudah berakhir?” tanya Jordan bingung.

“Sudah berakhir semua rasa sakit di hati ini. Aku akan selalu menyayangimu…, Adikku.”

Jordan langsung mengangkat mukanya dan menatap muka Earon. Sebagian dari dirinya tidak percaya dengan kata terakhir yang terucap di bibir Earon tersebut. Namun, dia pun sangat terharu mendengarnya.

“Adik?”

Earon mengangguk-anggukkan kepalanya, tersenyum sambil berkata, “Ya, kaulah adikku.”

Jordan begitu bahagia mendengarnya sampai-sampai matanya berlinang-linang. Tapi, dia menahan keharuannya itu, terlebih saat melihat busurnya masih tergeletak di antara reruntuhan dengan nyala biru terang pada ukiran lambangnya. Mengetahui kebungkaman Jordan, Earonpun mengikuti arah pandangannya. Melihat busur Jordan, ia kemudian langsung teringat tentang pengkhinatan yang dilakukan oleh Vurpia. Pandangannyapun segera beralih untuk mencari busurnya. Tidak sulit menemukannya karena nyala merah terang dari busurnya, telah menunjukkan keberadaannya.

“Ini sungguh tidak masuk akal,” gumam Jordan.

Earon memalingkan mukanya pada Jordan.

“Kalau begitu, kita harus segera mengakhiri ketidakmasukakalan ini. Kau dan aku,” sahut Earon seraya memegang pundak Jordan.

Jordan bingung dengan ucapan Earon yang seolah telah mengetahui sesuatu.

“Aku sudah tahu semuanya. Vurpia. Dialah dalang dari bencana ini,” ucap Earon menggeram, “Dia juga yang telah….!”

Tampaknya Earon teringat akan sesuatu, yang membuat kemarahannya seketika tertahan.

“Aku tidak tahu siapa yang seharusnya disalahkan,” lanjutnya gelisah, “Aku tidak mau mengulangi kesalahan itu lagi.”

Melihat kecemasan itu, Jordan memegang tangan kakaknya sambil tersenyum, lalu berkata, “Sekarang, Kakak bersamaku. Kita akan melakukannya bersama. Jika ada kesalahan yang akan kita buat nantinya, kita tanggung itu bersama. Dan aku tidak akan lagi menjadi orang lemah, karena ada kakakku yang selalu bersamaku.”

Earon melihat keyakinan pada diri Jordan yang tercermin di wajahnya. Diapun mengubah raut wajahnya dan menanggapinya dengan anggukan yang penuh keyakinan pula.

“Baiklah. Ayo, kita lakukan! Pertama, kita harus mencari cara untuk bisa ke atas,” ucap Earon seraya mengamati lagi isi ruang bawah tanah itu, barangkali ada sesuatu yang dapat membantu memecahkan masalahnya itu, “Kita mungkin bisa menata tumpukan benda-benda ini, lalu kita panjat.”

“Atau menggunakan tangga,” sahut Jordan seraya mengarahkan tatapannya pada tangga yang terlihat dari gawang pintu ruangan tersebut.

Earon mengarahkan pandangannya pada tangga yang ditunjuk Jordan, lalu terdiam sejenak.

“Owh ya. Tangga. Benar juga. Tidak terlihat olehku dari sini.”

Jordan mengumpat geli.

“Apa yang lucu? Ayo, biar kakakmu membantumu berdiri.”

Earon membantu Jordan berdiri, juga mengambilkan dua busurnya.

“Entah kenapa aku bisa merasa sebaik ini. Apa yang Kakak berikan padaku?”

“Mungkin pelukanku yang membuatmu sembuh,” gurau Earon.

Jordanpun hanya bisa tersenyum bahagia, melihat sikap berbeda dari kakaknya.

“Setelah ini, kita isi ulang terlebih dahulu senjata kita,” lanjut Earon.

Wergon melangkah tersendat-sendat karena begitu lelahnya dia mengejar teman-temannya. Sementara Lytro, Filhener, Migo, dan Rekshein sudah sampai di tengah lorong yang panjang. Mereka pun berhenti sejenak di lorong itu untuk mengambil beberapa napas. Tapi tidak lama kemudian, tangan Migo yang bertopang pada dinding, merasakan getaran yang kuat.

“Kenapa dinding ini bergerak?” tanya Migo penasaran.

Lytro dan yang lainnya juga merasakan getaran kuat tersebut. Kaki mereka terhuyung-huyung. Tong-tong sampah dan dinding bangunan yang mengapit mereka, juga ikut bergetar. Namun, mereka berempat tetap saja berdiri di tengah lorong tersebut sambil mengamati dinding-dinding yang seolah-olah akan jatuh menimpa mereka. Sementara Wergon, dengan napas yang terengah-engah, dia melangkah terseret-seret, melewati kawan-kawannya yang sedang dihipnotis oleh goyangan dinding lorong itu.

Setelah hampir mendekati seperempat dari ujung lorong, Wergon menoleh ke belakang dan berteriak, “Apa yang kalian lakukan di sana?! Memperlambat langkah dan mengacaukan semuanya?!”

Mendengar sindiran Wergon, semua temannya langsung tersadar dari lamunan goyang dinding dan segera berlari menyusul Wergon.

Gempa sudah berhenti. Saat kelimanya sudah sampai di ujung lorong, langkah mereka melambat karena dikejutkan dengan pemandangan yang membuat mereka cukup jengkel.

“Apa?!” ucap Lytro.

“Yang benar saja,” kata Wergon bersamaan dengan Lytro.

Jalanan kini dipenuhi oleh orang-orang. Gempa yang hampir memecahkan seluruh kaca gedung dan meretakkan sebagian jalan itu membuat semua penduduk kota Losapins panik dan memilih untuk berada di luar. Terdengar pendapat samar-samar di tengah kerumunan orang-orang itu yang mengatakan untuk tetap di luar karena takut jika terjadi gempa susulan. Beberapa juga ada yang bertanya asal gempa yang dahsyat itu.

Melihat hal itu, Wergon dan kawan-kawan hanya bisa menghela napas secara bersamaan, untuk mengawali langkah mereka yang semakin menantang. Namun, sebelum salah satu dari mereka ada yang mengangkat kakinya, tiba-tiba terlihat sebuah benda kecil yang melayang-layang di atas kerumunan orang-orang tersebut. Benda sebesar kelereng, sehalus bulu, sedingin es, dan berwarna merah jambu itu, mengikat hati setiap penonton. Semua orangpun terdiam hening melihatnya.

Benda itu turun dengan ringan di tengah kerumunan. Hingga akhirnya, ada seseorang yang mengulurkan tangannya untuk dijadikan tempat pendaratan benda kecil itu. Sampai di telapak tangan, pelan-pelan orang tersebut menurunkannya agar dapat dilihat lebih jelas.

“Salju?” katanya.

Orang-orang yang berada di dekatnya pun terlena memandang keindahan benda itu dan berniat untuk memegangnya. Namun belum sempat tangan-tangan mereka dianjurkan, benda itu langsung melebur dan lenyap sedikit demi sedikit di telapak tangan orang yang memegangnya tadi.

Lytro, Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein hanya bisa terus mengamati dari kejauhan tentang keanehan benda tersebut. Tiba-tiba, sikap orang yang memegang benda kecil tadi, menjadi aneh. Dia langsung bertekuk lutut sambil berteriak histeris. Semua orang di sekitarnyapun langsung menjauh beberapa meter mengitarinya dan tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba untuk membantunya. Mereka hanya bisa terdiam melihat orang tersebut tersiksa. Takut, begitulah perasaan seketika semua orang, begitu juga dengan Filhener dan kawan-kawan.

Sedikit demi sedikit, tubuh orang tersebut berubah menjadi aneh. Tangan dan lengannya menjadi kekar dan bersisik dengan kuku-kukunya yang memanjang dan menajam, seperti cakar elang. Bentuk kakinya membesar dan membentuk seperti kaki serigala. Dagunya menjorok ke depan. Giginya seperti gergaji dengan dua taring yang keluar hingga menusuk dagunya. Hidungnya seperti hidung babi. Matanya melotot dan retinanya memerah. Telinganya meruncing ke atas. Keluar dua tanduk di dahinya, dua sayap tak berbulu, ekor seperti ekor kadal dengan gelang api yang terselubung di ujungnya. Hampir seluruh tubuhnya bersisik dan berbulu di sepanjang ruas tulang belakang.

Saat monster itu berubah sempurna, suasana pun menjadi hening sejenak, dengan tatapan diam penonton yang terus mengamati gerak gerik monster itu. Wajah monster itu terangkat, matanya pelan-pelan terbuka, dan Wergonpun berteriak, “Lari!!!”

Wergon dan kawan-kawan langsung berlari menjauh dari monster mengerikan itu. Sementara yang lain, masih tetap diam berdiri, tidak menanggapi seruan Wergon tersebut. Namun saat monster itu menunjukkan suaranya yang menggelegar, baru semua orang segera berlarian menyelamatkan diri. Bahkan beberapa saling menabrak, kebingungan mengambil arah. Monster itupun menyeruduki orang-orang sambil mengamuk dan merusak benda-benda yang dilewatinya.

 

No comments:

Post a Comment