CHAPTER 11: DILEMA DAN KEPUTUSAN

 

Entah pagi, siang, atau pun sore, waktu tidak bisa dibedakan lagi. Di luar tampak sama karena selama dua hari berturut-turut awan hitam terus saja menyelimuti langit Losapins. Beberapa titik tertentu, sesekali terlihat cahaya yang memancar dari balik awan dan suara menggelegar di udara yang terdengar samar-samar. Tiupan angin yang kencang membuat suasana di Losapins semakin mencekam.

Faisr terbang menelusuri sungai Chivori yang hampa. Tiada bangau yang beramai-ramai menciprat air sambil bergelut dengan ikan-ikan di sana. Bahkan, ikan-ikan yang terlihat dari permukaan, lebih sepi dari hari-hari biasanya. Tampak dari pandangannya, seseorang berdiri tegak di ujung jembatan kayu. Terlihat dari tangan kanannya yang menggenggam sebuah busur tua berpita lonceng kecil dan kedua lengannya yang diselubungi sarung tangan hitam. Fairspun terbang lebih bersemangat setelah melihat kedatangan tuannya tersebut. Lalu, merpati cantik itu menghampirinya dan bertengger di pundaknya. Namun, kedatangan Faisr sepertinya tidak dimengerti oleh tuannya yang hanya diam seperti patung. Maka, dia memutar-mutar badannya ke kanan dan ke kiri, mencoba memberi tahu bahwa dia begitu lapar dan berharap jari-jari tangan tuannya terbuka dengan isi penuh butir jagung. Tapi, tuannya justru memberikan usapan lembut padanya. Faisr tidak mengerti apa yang telah terjadi pada tuannya tersebut. Dia pun hanya bisa diam di pundaknya, menunggu hingga tuannya menyadari keinginannya.

Jordan masih merasa sedih dengan kebenaran di rumah Earon. Pandangannya yang kosong, membayangkan saat Earon bisa menerima keberadaannya. Tapi di tengah-tengah bayangan itu juga terseling saat Earon sama sekali tidak mengharapkan keberadaannya. Dia mengingat setiap ucapan kebencian Earon yang secara tidak sadar pernah terlontar untuk dirinya. Dia juga mengingat saat Earon begitu memuji ikatan persahabatan yang terjalin dengannya.

Keadaan yang demikian juga dialami oleh Earon yang berdiri di depan perapian ruang tamu di rumahnya, memegang gelas bening yang berisi air putih di tangan kanannya, dan busur kesayangan di tangan kirinya. Tatapan kosongnya mengikuti kobaran api yang membakar bongkahan kayu yang kering. Nyala api itu seperti halnya nyala kemarahan dalam hati Earon, namun tidak tahu akan dikemanakan arah kobarannya. Dia mengingat setiap peristiwa kebersamaan persahabatannya dengan Jordan, mengingat ketenangan yang dia rasakan setiap melihat kehadiran Jordan, mengingat setiap keputusan yang Jordan sarankan tidak pernah membuatnya kecewa. Dia berpikir bahwa mungkin benar yang dikatakan Trigar. Tapi anggapan itu musnah, sesaat setelah bayangan peristiwa kebakaran itu menghampiri pikirannya. Tampak dari genggaman kedua tangannya yang semakin mengencang, memperlihatkan dendam kesumatnya pada Jordan.

Sementara di sungai Chivori, Jordan masih memikirkan peristiwa di saat kakaknya pertama kali menyerangnya secara brutal. Kenangan yang paling menyakitkan dan mengerikan, yang membawa trauma baginya hingga detik ini. Namun, bayangan peristiwa itu lenyap setelah terdengar guntur yang sangat keras, hingga diapun terperanjat, membuat Faisr juga ikut kaget sehingga terbang melepaskan tenggerannya. Bersamaan dengan itu, nyala api dihadapan Earon tiba-tiba membesar, membuatnya tersadar dari lamunannya. Tapi beberapa detik kemudian, nyala api itu kembali surut.

Earon mengangkat busurnya setinggi dadanya, lalu menatapinya. Dia melihat goresan di busurnya yang terukir indah. Tak terlihat keterkejutan di matanya, sepertinya dia memang sudah terbiasa melihatnya sejak ukiran tersebut muncul. Tiba-tiba, terlintas lagi di pikiran Earon tentang ucapan yang pernah Jordan katakan padanya mengenai kakaknya, saat di kebun Delarmy. Diapun memejamkan matanya kuat-kuat, berharap kata-kata tersebut hilang dari pikirannya. Namun, dia tidak bisa melakukannya dan tekanannya justru terlampiaskan pada tangannya yang mengepal semakin kuat, hingga memecahkan gelas yang masih dipegangnya. Diapun langsung membuka mata. Dengan pelan, dia menurunkan busurnya dengan tatapan matanya yang tertuju pada telapak tangannya yang terbuka dan berdarah. Lalu, ia kepalkan tangannya itu lagi dengan kuat sebagai wujud dari perasaannya yang kesal.

Setelah sadar dari angan-angannya, Jordan tetap terdiam. Terlihat kilatan petir yang menyambar di udara tepat di depan pandangannya, diikuti suaranya yang menggelegar. Tampak beberapa tetesan air yang terjatuh di atas kayu jembatan, dekat dengan injakan kaki Jordan. Tetesan tersebut berasal dari cucuran air mata Jordan, yang kemudian terhapus oleh tetesan air hujan yang seketika turun dengan deras yang datang mengikuti arah arus sungai Chivori. Filhener dan Wergon yang berdiri kehujanan di pangkal jembatan, merasa begitu khawatir, melihat kesendirian Jordan.

“Keputusan apa yang akan dia ambil?” tanya Wergon.

“Apapun itu, kuharap kita juga bisa menerimanya,” balas Filhener.

Hujan terus membasahi tubuhnya, namun Jordan tidak ingin beranjak dari tempat tersebut sebelum dia mendapatkan sebuah keputusan. Dia sedikit mengangkat busur yang ada pada genggamannya, dengan tatapan mata yang tertuju pada balutan pita berlonceng. Dia terus menatapinya, seolah ada petunjuk yang tersembunyi, yang tersimpan dari balutan tersebut. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat wajahnya sambil menurunkan kembali busurnya. Dia menarik dan mengembuskan napas kuat-kuat, sepertinya dia sudah mengetahui keputusan yang akan diambil.

Wergon dan Filhener yang masih menunggu Jordan, mulai merasa kedinginan.

“Kita harus segera kembali. Kita akan kedinginan jika terus di sini. Ayo!” ajak Filhener seraya melangkahkan kakinya mendekati Jordan.

Belum sempat Wergon mengangkat kakinya, Jordan sudah membalikkan pandangannya, dan menghentikan Filhener yang mendapat empat langkah. Jordan berjalan mendekati mereka berdua. Bersamaan dengan itu, Wergon pun ikut melangkahkan kakinya mendekati Filhener. Jordan berhenti dan berdiri di dekat kedua temannya. Tak terlihat ekspresi apapun di raut muka Jordan, membuat Wergon dan Filhener saling bertatapan wajah, bingung akan menanyakannya dari mana. Jordan masih diam dengan melihat wajah kedua temannya. Menghindari situasi yang canggung, akhirnya Wergon memulai pembicaraan.

“Uh, jadi apa yang….”

Belum sempat Wergon melanjutkan pertanyaannya, Jordan sudah memotongnya.

“Aku tidak akan memaksa kalian untuk ikut dalam keputusanku ini. Telah kuputuskan bahwa aku akan tetap tinggal di sini dan melanjutkan persahabatanku dengan kakakku.”

“Apa?!” seru Wergon dan Filhener bersamaan.

“Kau gila! Jika Earon tahu kebenarannya, kau…. Kau bisa dicincang! Dia tidak seperti Fordien. Dia lebih mengerikan dari serigala yang kelaparan!” sahut Filhener.

“Inilah keputusanku. Jikapun kalian memutuskan untuk tidak ikut denganku, mungkin demikian juga yang kuharapkan. Tapi, semua kembali pada kalian berdua.”

Jordan langsung berjalan menuju tangga, meninggalkan kedua temannya yang masih bingung memilih.

“Tapi, tapi…. Jordan, tak bisakah kau dengarkan kami dulu! Kau mau ke mana?!” kata Filhener bingung bercampur kesal.

“Kuliah,” jawab Jordan singkat.

“Masih bisanya kau memikirkan kuliah, sementara hidup kita dalam bahaya!”

“Fil, kurasa kau harus sedikit memelankan suaramu. Kau tahu bagaimana perasaannya saat ini,” ucap Wergon seraya memegang bahu Filhener.

Filhener menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Sering saja aku tidak mengerti jalan pikirannya,” ujarnya gelisah.

Akhirnya, mereka berdua berjalan menyusul Jordan yang baru menginjak anak tangga. Saat sampai di ujung atas tangga, Jordan diikuti Wergon dan Filhener, melihat Lytro sudah berdiri di hadapannya sambil memegang sebuah payung yang terbuka di atas kepalanya. Mereka juga melihat Vurpia duduk di jok depan mobil Lytro yang diparkir tak jauh dari keberadaannya, di dekat pohon, menonton pertunjukannya dari balik kaca.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jordan dengan wajah tak acuh.

“Maafkan aku. Tak seharusnya aku melakukan ini padamu.”

“Ya, memang! Jika saja sejak awal kau memberitahu kami tentang monster itu, tentu kami akan memutuskan untuk tidak mendekatinya! Kau memang yang patut dipersalahkan atas hal ini!” sahut Wergon marah sambil menunjuk-nunjuk Lytro.

“Aku tahu ini salahku.”

Melihat penyesalan Lytro, Jordan memberikan senyuman yang masih hanyut dalam kesedihannya.

“Salahmu? Bagaimana bisa ini adalah salahmu? Peristiwa yang terjadi saat ini terhubung oleh peristiwa di masa lalu, yang terikat oleh pergerakan setiap kehidupan. Tidak akan pernah ada ujungnya jika menyalahkan sesuatu ataupun seseorang. Karena memang tidak ada yang perlu dipersalahkan.”

“Jordan, jelas ini adalah kesalahannya!” gerutu Wergon.

“Ini hanyalah sebab akibat dari pilihan hidup yang kujalani. Jadi, aku menerimanya. Aku memaafkanmu atas kebohongan yang telah kau lakukan.”

Lytro tersenyum senang mendengarnya.

“Itu saja tidak cukup,” ujar Filhener, “Jordan telah memutuskan untuk tetap bersamanya. Jadi, kau juga harus segera meyakinkan atasanmu itu, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Selama dia tidak mengetahui tentang Jordan dan selama dia tidak mengincar kami sebagai penjahat, itu tak akan menjadi masalah.”

“Tentu saja. Pasti kulakukan,” sahut Lytro dengan senang hati.

“Tidak mungkin,” sela Jordan.

Semua pandangan langsung berpaling padanya.

“Dia akan mengetahui kebenarannya, tak lama sebelum eksekusi Charevins berlangsung. Mungkin juga dia sudah mengetahui kalau aku adalah incarannya.”

Wergon, Filhener, dan Lytro diam tertegun, memikirkan kebenaran yang akan terjadi menurut perkiraan Jordan tersebut. Tapi tiba-tiba, suasana terpecah sesaat setelah Wergon bersin dihadapan ketiganya.

“Bisakah kita kembali sekarang? Aku benar-benar sudah kedinginan,” katanya dengan tubuhnya yang menggigil seraya mengusap-usap hidung memerahnya dengan tangannya.

Jordan melihat tatapan mata Filhener yang sepertinya juga menginginkan hal yang sama dengan Wergon. Dia pun menganggukkan kepala padanya sebagai tanda kesediaannya.

“Kami harus pergi,” ucap Jordan berpamitan pada Lytro.

“Berhati-hatilah,” balas Lytro.

Ketiganya meninggalkan Lytro dengan ekspresi wajah yang diam. Sepertinya kekecewaan mereka terhadap Lytro masih tersisa, sekalipun pemberian maaf sudah terucap untuk dirinya.

Lytro terus memerhatikan ketiganya yang tampak punggungnya saja, berjalan semakin menjauh di sepanjang trotoar yang bersebelahan dengan taman yang membatasi ketinggian sungai Chivori. Lalu, saat pandangannya mulai tersamarkan oleh kabut dan derasnya hujan, dia mengalihkan perhatiannya pada Vurpia yang masih menunggunya dengan gelisah.

Lytro berjalan mendekati mobilnya, membuka pintu, duduk di depan setir, menguncupkan payung panjangnya, meletakkannya di jok belakang, lalu langsung menancap gasnya. Vurpia terheran-heran atas tindakan yang dilakukan Lytro tersebut, yang tanpa kata tanpa ekspresi. Namun tanpa ragu dan pikir panjang lagi, dia mulai menanyakan hal yang ingin diketahui dari hasil percakapan Lytro dengan Jordan.

“Jadi, bagaimana?” tanya Vurpia.

“Kurasa, kita harus bersiap-siap,” jawabnya dengan pandangan yang memerhatikan jalan di depannya.

“Maksudnya?”

“Fordien, dia tahu segalanya tentang Jordan. Sementara Earon, dia begitu terobsesi untuk balas dendam pada adiknya.”

“Aku tahu itu. Lalu?”

“Masalahnya adal….”

“Tunggu! Apa maksudnya Fordien tahu tentang Jordan?” sela Vurpia tiba-tiba.

“Dia pernah menghina Jordan habis-habisan, bahkan disaksikan semua agen dan polisi saat penangkapannya. Aku tidak peduli benar atau tidak ucapannya, tapi hampir semua kata buruknya itu sama dengan kisah yang pernah Earon ceritakan padaku tentang adiknya.”

“Oh, tidak,” ucap Vurpia terkejut lemas.

“Apa? Ada apa? Kau sudah mengetahui apa yang sedang kukhawatirkan?”

“Kenapa kau tidak bilang padaku sejak itu?! Kalau tahu, pasti aku akan selalu mengawasi Earon untuk tidak mendekati Fordien.”

“Mana sampai aku berpikir begitu. Earon begitu membela Jordan saat itu. Jadi, kupikir semua akan berlanjut dengan aman.”

“Kita harus segera menemui Earon. Jangan sampai dia terlalu memaksa Fordien untuk angkat bicara.”

“Itulah tujuanku.”

Lytro semakin memperkencang laju mobilnya dan berharap semuanya belum terlambat.

Akhirnya, mereka berdua sampai di gerbang tanah AKLA. Dengan begitu tergesa-gesa, mereka keluar dari mobil, berjalan memasuki pintu utama, lalu mencari keberadaan Earon. Namun, baru mendapat beberapa langkah setelah melewati pintu utama, seseorang memanggil Lytro.

“Hai, Lytro!”

Lytro menoleh ke belakang dan melihat salah seorang rekannya menghampirinya.

“Ada apa, Bung?” tanya Lytro.

“Tadi bosmu mencarimu. Dia memintamu datang ke ruang kerjanya sekarang.”

Lytro dan Vurpia saling bertatapan muka. Mereka semakin bimbang memikirkan apa yang akan terjadi di ruang kerja Earon nanti.

“Terimakasih,” ujar Lytro seraya menepuk bahu rekannya.

“Kembali, Kawan.”

Lytro dan Vurpia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan kantor utama. Sesampainya di ruangan tersebut, Lytro dan Vurpia melihat kesibukan rekan-rekannya, mondar-mandir dengan membawa lembaran-lembaran kertas atau tidak sama sekali, tidak ada yang melihat atau pun menyadari kedatangan mereka berdua. Lingchi yang kebetulan berpapasan mata dengan Lytro, menghentikan kegiatannya, lalu mengarahkan angkatan dagunya ke ruang kerja Earon, memberi isyarat pada Lytro agar segera menemuinya.

Lytro melangkahkan kakinya dengan pelan dan berani, mendekati ruang kerja Earon yang serasa berubah menjadi tempat terangker di dunia, baginya. Semua yang mendengar langkah kakinya, langsung menghentikan kesibukannya, diam memandangi Lytro. Hal itu membuat hatinya semakin gentar, namun dia tetap memberanikan diri untuk berhadapan dengan penunggu tempat angker tersebut. Dia melihat Earon duduk manis, menyandarkan dagunya pada dua tangannya yang berdiri tegak di atas meja, dengan jari-jarinya yang saling merangkul, tatapan mengerikannya lurus ke arah Lytro yang tampak oleh pandangannya dari balik pintu kaca ruangannya. Dia membuka pintu ruangan tersebut dengan pelan dan berusaha menutupi kegelisahannya.

“Kenapa kau memanggilku?” tanya Lytro yang telah berdiri di depan meja kerja Earon.

Earon menurunkan, lalu menumpangkan kedua tangan di atas mejanya.

“Aku tidak tahu harus memulainya dari mana,” ucap Earon seraya menghapus tatapan mengerikannya, meluruskan kedua tangannya, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya dengan sedikit memutar-mutarkan kursi tersebut ke kanan dan ke kiri, “Tapi, aku sudah tahu semuanya. Aku telah memeriksa semua sisa pencarian di komputermu.”

Lytro diam, memandang Earon dengan tenang.

“Sungguh menakjubkan yang kudapatkan kalau sebenarnya Filhener, Wergon, dan Jordan adalah tiga bayangan bulan. Aku juga tahu kalau Jordan temanku, sebenarnya adalah Jordan mantan adikku.”

Earon melihat Lytro masih saja diam tanpa ada ekspresi apapun di raut mukanya.

“Aku tidak terkesan jika kau tidak terkejut,” lanjut Earon geram.

Melihat Lytro yang sama sekali tidak meluapkan apapun, Earon merasa semakin kesal. Dia langsung bangkit berdiri sambil menepukkan kedua tangan di atas mejanya dengan sangat keras, hingga Lytro pun sedikit terperanjat walau tidak terlalu kelihatan karena tersamar oleh kebisuannya.

“Beraninya kau berbohong padaku hanya untuk penjahat itu?! Sudah berapa lama kau mengenal mereka?! Sepanjang hidupmu?! Apa kau tidak menyadari seberapa besar kesalahan yang telah kau lakukan ini?! Kau biarkan penjahat itu berkeliaran, mencuri semua kekayaan Losapins! Kau melindungi mereka dari pengejaran! Kau telah mengorbankan keselamatan penduduk Losapins!” hardik Earon, “Heh! Tentu saja kau tidak menyadari semua itu, karena kau telah dipengaruhi oleh tipuan Jordan! Tapi jangan khawatir, karena sebentar lagi kau akan terbebas dari pengaruhnya. Aku juga sudah merencanakan penangkapan mereka.”

Earon berjalan mendekati Lytro. Saat mereka berdekatan dan saling berhadapan muka, Earon pun melanjutkan ucapannya dengan berkata, “Kau harus ikut, tak peduli apapun yang sedang kau pikirkan saat ini!”

Namun, ucapannya justru disambut Lytro dengan senyuman lebar. Earon mengerutkan keningnya, terheran-heran dengan sikap temannya tersebut. Kemudian senyum Lytro seketika memudar dan berkata dengan lantang, “Tidak!”

Situasi terasa tegang, bahkan dirasakan oleh rekan lainnya yang berdiri menggerombol di luar ruangan, menontonnya dari balik kaca walau hanya mimik yang terlihat, tanpa bisa mendengar jeritan-jeritannya.

“Kau tidak berhak menangkap mereka, begitu juga aku. Tidak juga mereka yang ada di luar,” lanjut Lytro, “Tadinya aku merasa tenang saat kukira kau mengetahui kebenarannya. Tapi tidak, ternyata kau tidak mengetahui semua kebenarannya. Ya, aku sudah tahu kalau tiga bayangan bulan hanyalah tiga sahabat kita. Aku memang berbohong padamu tentang Fordien. Aku juga selama ini tahu kalau Jordan adalah adikmu.”

“Mantan adikku!”

“Dan itu semua kulakukan untuk melindungi Jordan dari jangkauanmu dan kesalahpahaman ini.”

“Kesalahpahaman apa yang bisa terjadi?! Jelas mereka adalah buronan!”

“Mereka bertiga adalah mata-mata kita, Earon!” gertak Lytro yang hampir kehilangan kesabarannya.

Earon sangat terkejut mendengarnya dengan mata yang terbelalak.

“Apa?” ucapnya seraya mengerutkan keningnya.

“Setiap tim punya hak untuk mengajukan seseorang untuk dijadikan mata-matanya. Dan ya, merekalah mata-mata tim kita kali ini. Untuk itulah, sudah menjadi kewajibanmu untuk melindungi mereka atas kesalahpahaman seperti ini.”

“Sejak kapan kau berani melakukan itu, bahkan tanpa persetujuanku?!”

“Sejak kita kesulitan menemukan mata-mata yang bisa dipercaya. Lagi pula, aku juga tidak perlu meminta persetujuan dari orang yang sedang sibuk di luar kota. Aku sudah mendapatkan persetujuan itu dari banyak pihak di sini dan sudah disahkan oleh petinggi keamanan Losapins. Itu pun masih tanpa niat sedikit pun untuk menyembunyikan mereka darimu. Awalnya aku hanya berpikir untuk membuatmu terkesan, dengan melihat kesuksesan yang bisa kudapatkan saat tidak ada dirimu. Aku berniat memperkenalkan mereka saat kau kembali. Sayang, kembalinya dirimu membuatku tahu kalau Jordan adalah orang yang wajib kulindungi dari orang sepertimu!”

“Beraninya kau melakukan itu!” bentak Earon seraya mendorong tubuh Lytro dengan keras. Beruntung tubuh Lytro masih mampu menahan dorongan tersebut karena topangan salah satu kakinya yang selangkah ke belakang, sehingga dia tidak sampai terjatuh.

“Inikah yang disebut teman?! Inikah yang disebut rekan kerja?! Kau sama sekali tidak menghormatiku! Kau lebih memilih dia dari pada aku yang sudah bertahun-tahun kau kenal?! Kau lebih memercayai dia dari pada aku teman terdekatmu?!”

“Ketahuilah, semua kulakukan untuk kebaikanmu.”

“Tidak ada kebaikan apapun untukku atas tindakanmu ini! Trik apa yang dipakai Jordan untuk menyerang pikiranmu hingga kau tak menyadari kesalahanmu? Jordan adalah seorang pembunuh! Dia membunuh orang tuaku dengan sangat keji! Dan sekarang, kau justru membelanya?!”

“Aku membela apa yang seharusnya kubela.”

“Dan yang kau bela adalah sebuah kesalahan! Kenapa kau tidak mengerti juga?!”

Hati Lytro sebenarnya sudah merasa sangat jengkel pada kekeraskepalaan Earon. Tapi, dia berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan sedikit ketenangan, seperti yang dia lihat pada sikap Jordan selama ini.

“Kau tahu, Earon. Jika saja aku tidak mengenal Jordan, mungkin aku sudah menjungkirbalikkan mejamu. Mungkin aku sudah membalas doronganmu tadi. Dan mungkin aku sudah keluar tanpa harus mendengar dengingan kekeraskepalaanmu. Dengar, Kawan! Jika kau masih berpikir untuk menjadi agen teladan bagi kami, maka kau seharusnya menyesal karena telah menuduh adikmu sebagai pembunuh kedua orang tuamu. Kejadian itu hanyalah kecelakaan. Kenapa hatimu tidak sedikit terbuka setelah melihat tindakan yang dia lakukan selama menjadi temanmu? Tidakkah kau melihat begitu banyak perbedaan dari anggapan yang selama ini kau tuduhkan padanya? Selama ini, Jordan juga tidak tahu kalau kau adalah kakaknya. Dia mengetahui kebenaran ini saat perayaan kemarin. Jadi, bukan hanya kau yang menjadi korban kebohonganku. Asal kau tahu, Jordan lebih tersakiti mengetahui dendam kesumatmu yang masih menyala terang untuknya. Tapi, dia memutuskan untuk tetap berteman denganmu. Mungkin memang jalan itulah yang bisa dia lakukan untuk menikmati hidup bersama saudaranya. Aku tidak akan bilang padanya kalau kau sudah mengetahui hal ini, semata-mata untuk memberimu kesempatan melihat bagaimana adikmu yang sesungguhnya. Bukankah kau butuh nasihat? Jika hidupmu ingin menjadi lebih baik, maka belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain, jangan memperbesar permasalahannya. Itu kupelajari langsung dari Jordan Kayshn, adikmu. Pikirkanlah!”

Earon terdiam, tak sanggup berkata apapun, sambil memikirkan perkataan Lytro tersebut. Melihat ketidakberdayaan Earon, Lytropun berjalan melewatinya, meninggalkan ruang angker tersebut dengan kepuasan hati karena mampu menaklukan keganasan sang penunggunya. Bersamaan dengan itu, rekan-rekan lainnya seketika ikut bubar dan kembali pada kesibukan masing-masing, seolah mereka tidak menyaksikan pertengkaran tersebut, sebelum Lytro ataupun Earon menyadarinya.

Sementara di kelas Analisis Nyata.

Filhener, Wergon, dan Jordan untuk pertama kalinya duduk berjejer di deretan paling belakang, sambil memegang sebuah bolpoin di salah satu tangannya yang terkapar di atas halaman kosong buku catatannya yang terbuka. Pandangan mereka begitu jelas melihat gerakan bibir dosennya saat menerangkan, namun itu hanyalah siasat mereka untuk menyembunyikan ketidakfokusannya dan menghindari semburan kemarahan dosen tentunya. Teman-teman sekelasnya begitu terkesan dengan aksi ketidakbiasaan mereka tersebut. Sesekali mereka menoleh pada ketiganya untuk mengetahui apa yang sedang dilakukannya. Tapi kekacauan yang saat ini dialami tiga serangkai, seolah mendekam dalam pikiran mereka hingga tak sedikit pun perhatian ketiganya yang teralihkan pada tindakan teman-temannya tersebut.

Hari serasa begitu cepat berlalu, hingga tiba waktunya bagi masyarakat kota Losapins untuk menghentikan kesibukannya. Di sebuah kamar tidur dengan nyala redup lampu di atas meja yang bersebelahan dengan ranjang, Earon membaringkan tubuhnya di tengah sepinya suasana, sambil memandangi langit-langit dan merenungkan kembali kata-kata Lytro yang terlontar saat terakhir kali berhadapan dengannya. Wajahnya terlihat lebih tenang. Tangan-tangannya yang terbaring lemas, tak lagi setegang saat penyakit hatinya kambuh, atau memang kelihatannya kini hatinya sudah menjadi luluh. Walaupun demikian, sebenarnya hatinya masih penuh dengan dilema. Keyakinan atas prasangkanya terhadap Jordan masih begitu kuat, namun orang-orang di sekelilingnya justru selalu menyangkalnya. Siapa yang benar dan yang salah, masih menjadi misteri baginya.

Dia menarik napas dalam sejenak, barangkali dapat memunculkan sisi kewibawaannya. Lalu dia berpikir, mungkin benar yang dikatakan Lytro dan Trigar. Tidak bijak jika menghukum seseorang tanpa suatu alasan. Maka, alasan itulah yang harus dicari oleh Earon untuk memperkuat atau mungkin justru melemahkan prasangkanya serta memecahkan dilema yang sedang dialaminya. Merasa sudah mendapat petunjuk yang harus dilakukan, diapun memejamkan kedua matanya dengan lembut.

Pagi hari, sebelum orang-orang memulai kembali pekerjaannya, Filhener dan kedua temannya sibuk memasak di dapur rumah kontrakannya. Kesibukan itu diwarnai dengan suasana saling diam, namun juga diramaikan dengan musik ala wajan dan panci yang diiringi tepukan pisau saat meracik bahan-bahannya serta percikan air yang mengalir di tempat pencucian. Keinginan untuk membahas keputusan yang akan diambil, sesekali menghentikan kegiatan Wergon atau Filhener sejenak. Tapi, mereka tidak terlalu yakin untuk memulainya, sehingga mereka hanya membuka mulut di awal, namun tak berlanjut dengan suara yang terdengar hingga di telinga Jordan. Mereka terus melakukan keragu-raguan itu, sampai-sampai Jordan selesai menghabiskan jatah makanannya.

Wergon melihat situasi yang tampak tepat baginya, di mana jatah makanan miliknya dan Filhener baru tersentuh sedikit. Dia berpikir bahwa mungkin dengan melihat hal yang demikian, Jordan akan merasa iba terhadapnya dan akhirnya menerima keputusan yang telah dirunding bersama Filhener. Dengan percaya diri, Wergon mulai membuka mulutnya dan saat itu juga tersela oleh pertanyaan Jordan, sebelum dia mengeluarkan suaranya.

“Keputusan apa yang telah kalian ambil?” tanya Jordan sambil merapikan sendoknya di atas piring kotornya, duduk berhadapan dengan Filhener dan Wergon yang bersebelahan.

“Selalu saja,” gerutu Wergon dalam hatinya. Tapi di sisi lain, dia juga senang atas tindakan Jordan yang suka menyela saat dia ingin mengatakan sesuatu yang membuatnya gugup.

Filhener lalu meletakkan sendoknya di atas makanan dalam piringnya.

“Uh…, kami minta maaf padamu, Jordan,” ujarnya.

Jordan mengangkat dagunya dan memerhatikan penjelasan Filhener.

“Aku tahu keputusan kami ini bukanlah sesuatu yang kau inginkan. Kami juga tahu kau selalu membantu kami dan kami tidak akan pernah bisa membalasnya. Untuk itu, maafkan kami jika selalu membuatmu susah, bahkan untuk keputusan ini.”

Suasana menjadi hening sejenak, menunggu kelanjutan ungkapan pikiran Filhener. Bahkan, seekor jangkrik pun menyambutnya dengan bunyi kerit yang terdengar jelas, membuat ketiganya menoleh pada jangkrik tersebut yang hinggap di atas meja makan, dekat dengan piring Wergon. Lalu, jangkrik itu melompat turun langsung tak terlihat, seolah menghindari keterlibatannya dari urusan mereka.

Tiga serangkai kembali fokus pada pokok pembicaraan.

“Kami memutuskan pada perjuangan kali ini, untuk ikut bersamamu.”

“Apa?!” sahut Wergon kaget.

“Fil, kau mengucapkannya dengan bahasa yang akan membuat orang berpikir sebaliknya. Biar kuperjelas,” lanjut Wergon, “Jordan, bukan begitu maksud Filhener. Maksudnya adalah sampai kapan pun dan bagaimana pun keputusan yang kau ambil, kami akan selalu ikut bersamamu.”

Jordan hanya bisa menanggapinya dengan diam terkejut.

“Ya, aku tahu kau satu-satunya orang yang tidak tega melihat kami menderita. Tapi, aku akan menikmati penderitaan ini, selama kuhadapi bersamamu dan Wergon.”

“Itu benar. Kita pernah melewati itu bersama dan kita akan melakukannya lagi. Kami tahu, kau pasti berpikir masalah yang kita hadapi saat ini sudah menyangkut nyawa. Kau pasti takut jika salah satu di antara kami… ya begitulah, tapi semoga saja tidak. Tapi itu bukanlah tanggung jawabmu, Jordan. Jika kita melindungi satu sama lain, tidak akan pernah terjadi apapun, semua akan baik-baik saja. Bukan begitu?”

Melihat semangat kedua temannya, Jordan pun tersenyum lepas seolah sebagian besar kesedihan dan ketakutannya telah lenyap saat itu juga.

“Terimakasih, kalian berdua. Aku bahkan tidak tahu kalau ternyata keputusan itulah yang dapat membuat hatiku lega. Sebagian ketakutan yang kurasakan adalah ketakutan saat aku meragukan kalian. Dan aku sadar bahwa kalian adalah bagian dari ketenanganku.”

Filhener dan Wergon membalasnya dengan senyuman.

“Bukankah kita bertiga sudah mendapat banyak gelar? Tiga bayangan bulan, para domba yang dikagumi serigala, sekumpulan orang aneh, aku juga pernah mendengar ada yang menyebut kita dengan tiga serangkai. Jika mereka berpikir kita demikian, itu artinya kita adalah satu dan akan sangat sulit untuk dipisahkan,” jelas Wergon.

“Ya, kau benar,” sahut Filhener sambil tersenyum bangga padanya, dilanjutkan dengan sindiran, “Sebenarnya, aku curiga apakah saat ini aku sedang berhadapan dengan Wergon atau alien yang sedang menyamar menjadi Wergon?”

Wergon langsung bermuka masam.

“Hm! Mengerikan,” gerutunya.

“Oh, tak perlu dijelaskan! Di mana pun kau menyembunyikan Wergon yang asli, aku tak peduli. Aku lebih suka mendengar ocehan alien sepertimu dari pada mendengar rengekan Wergon yang asli.”

Dengan muka kecutnya, Wergon terus saja menatapi Filhener yang akhirnya bisa menikmati beberapa sendok makanannya lagi. Namun seolah menjadi hal yang biasa, Filhener pun tak menghiraukan sejelek apapun ekspresi wajah yang diberikan Wergon padanya. Sementara Jordan, hanya tersenyum melihat kebiasaan kedua temannya tersebut.

“Keputusan kita ini akan menjadi awal bagi banyak perubahan,” ujar Jordan tiba-tiba seraya mengangkat tangan kanannya yang memegang gelas bening yang berisi air putih, dari sisi kanan piringnya, lalu meneguknya setelah selesai mengucapkannya.

Wergon dan Filhener menghentikan tingkahnya dan saling bertatapan muka, tidak mengerti maksud ucapan Jordan tersebut. Namun, mereka pun tak begitu memedulikannya dan melanjutkan untuk menghabiskan jatah makanannya masing-masing.

 

No comments:

Post a Comment