Entah pagi, siang, atau pun sore, waktu tidak bisa dibedakan lagi. Di luar tampak sama karena selama dua hari berturut-turut awan hitam terus saja menyelimuti langit Losapins. Beberapa titik tertentu, sesekali terlihat cahaya yang memancar dari balik awan dan suara menggelegar di udara yang terdengar samar-samar. Tiupan angin yang kencang membuat suasana di Losapins semakin mencekam.
Faisr terbang menelusuri
sungai Chivori yang hampa. Tiada bangau yang beramai-ramai menciprat air sambil
bergelut dengan ikan-ikan di sana. Bahkan, ikan-ikan yang terlihat dari
permukaan, lebih sepi dari hari-hari biasanya. Tampak dari pandangannya,
seseorang berdiri tegak di ujung jembatan kayu. Terlihat dari tangan kanannya
yang menggenggam sebuah busur tua berpita lonceng kecil dan kedua lengannya
yang diselubungi sarung tangan hitam. Fairspun terbang lebih bersemangat
setelah melihat kedatangan tuannya tersebut. Lalu, merpati cantik itu
menghampirinya dan bertengger di pundaknya. Namun, kedatangan Faisr sepertinya
tidak dimengerti oleh tuannya yang hanya diam seperti patung. Maka, dia
memutar-mutar badannya ke kanan dan ke kiri, mencoba memberi tahu bahwa dia begitu
lapar dan berharap jari-jari tangan tuannya terbuka dengan isi penuh butir
jagung. Tapi, tuannya justru memberikan usapan lembut padanya. Faisr tidak
mengerti apa yang telah terjadi pada tuannya tersebut. Dia pun hanya bisa diam
di pundaknya, menunggu hingga tuannya menyadari keinginannya.
Jordan masih merasa sedih
dengan kebenaran di rumah Earon. Pandangannya yang kosong, membayangkan saat
Earon bisa menerima keberadaannya. Tapi di tengah-tengah bayangan itu juga
terseling saat Earon sama sekali tidak mengharapkan keberadaannya. Dia
mengingat setiap ucapan kebencian Earon yang secara tidak sadar pernah
terlontar untuk dirinya. Dia juga mengingat saat Earon begitu memuji ikatan
persahabatan yang terjalin dengannya.
Keadaan yang demikian juga
dialami oleh Earon yang berdiri di depan perapian ruang tamu di rumahnya,
memegang gelas bening yang berisi air putih di tangan kanannya, dan busur
kesayangan di tangan kirinya. Tatapan kosongnya mengikuti kobaran api yang
membakar bongkahan kayu yang kering. Nyala api itu seperti halnya nyala
kemarahan dalam hati Earon, namun tidak tahu akan dikemanakan arah kobarannya.
Dia mengingat setiap peristiwa kebersamaan persahabatannya dengan Jordan,
mengingat ketenangan yang dia rasakan setiap melihat kehadiran Jordan, mengingat
setiap keputusan yang Jordan sarankan tidak pernah membuatnya kecewa. Dia
berpikir bahwa mungkin benar yang dikatakan Trigar. Tapi anggapan itu musnah,
sesaat setelah bayangan peristiwa kebakaran itu menghampiri pikirannya. Tampak
dari genggaman kedua tangannya yang semakin mengencang, memperlihatkan dendam
kesumatnya pada Jordan.
Sementara di sungai Chivori,
Jordan masih memikirkan peristiwa di saat kakaknya pertama kali menyerangnya
secara brutal. Kenangan yang paling menyakitkan dan mengerikan, yang membawa
trauma baginya hingga detik ini. Namun, bayangan peristiwa itu lenyap setelah
terdengar guntur yang sangat keras, hingga diapun terperanjat, membuat Faisr
juga ikut kaget sehingga terbang melepaskan tenggerannya. Bersamaan dengan itu,
nyala api dihadapan Earon tiba-tiba membesar, membuatnya tersadar dari
lamunannya. Tapi beberapa detik kemudian, nyala api itu kembali surut.
Earon mengangkat busurnya
setinggi dadanya, lalu menatapinya. Dia melihat goresan di busurnya yang
terukir indah. Tak terlihat keterkejutan di matanya, sepertinya dia memang
sudah terbiasa melihatnya sejak ukiran tersebut muncul. Tiba-tiba, terlintas
lagi di pikiran Earon tentang ucapan yang pernah Jordan katakan padanya
mengenai kakaknya, saat di kebun Delarmy. Diapun memejamkan matanya kuat-kuat,
berharap kata-kata tersebut hilang dari pikirannya. Namun, dia tidak bisa
melakukannya dan tekanannya justru terlampiaskan pada tangannya yang mengepal
semakin kuat, hingga memecahkan gelas yang masih dipegangnya. Diapun langsung
membuka mata. Dengan pelan, dia menurunkan busurnya dengan tatapan matanya yang
tertuju pada telapak tangannya yang terbuka dan berdarah. Lalu, ia kepalkan
tangannya itu lagi dengan kuat sebagai wujud dari perasaannya yang kesal.
Setelah sadar dari
angan-angannya, Jordan tetap terdiam. Terlihat kilatan petir yang menyambar di
udara tepat di depan pandangannya, diikuti suaranya yang menggelegar. Tampak
beberapa tetesan air yang terjatuh di atas kayu jembatan, dekat dengan injakan
kaki Jordan. Tetesan tersebut berasal dari cucuran air mata Jordan, yang
kemudian terhapus oleh tetesan air hujan yang seketika turun dengan deras yang
datang mengikuti arah arus sungai Chivori. Filhener dan Wergon yang berdiri
kehujanan di pangkal jembatan, merasa begitu khawatir, melihat kesendirian
Jordan.
“Keputusan apa yang akan dia
ambil?” tanya Wergon.
“Apapun itu, kuharap kita
juga bisa menerimanya,” balas Filhener.
Hujan terus membasahi
tubuhnya, namun Jordan tidak ingin beranjak dari tempat tersebut sebelum dia
mendapatkan sebuah keputusan. Dia sedikit mengangkat busur yang ada pada
genggamannya, dengan tatapan mata yang tertuju pada balutan pita berlonceng.
Dia terus menatapinya, seolah ada petunjuk yang tersembunyi, yang tersimpan
dari balutan tersebut. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat wajahnya sambil
menurunkan kembali busurnya. Dia menarik dan mengembuskan napas kuat-kuat,
sepertinya dia sudah mengetahui keputusan yang akan diambil.
Wergon dan Filhener yang
masih menunggu Jordan, mulai merasa kedinginan.
“Kita harus segera kembali.
Kita akan kedinginan jika terus di sini. Ayo!” ajak Filhener seraya
melangkahkan kakinya mendekati Jordan.
Belum sempat Wergon
mengangkat kakinya, Jordan sudah membalikkan pandangannya, dan menghentikan
Filhener yang mendapat empat langkah. Jordan berjalan mendekati mereka berdua.
Bersamaan dengan itu, Wergon pun ikut melangkahkan kakinya mendekati Filhener.
Jordan berhenti dan berdiri di dekat kedua temannya. Tak terlihat ekspresi
apapun di raut muka Jordan, membuat Wergon dan Filhener saling bertatapan
wajah, bingung akan menanyakannya dari mana. Jordan masih diam dengan melihat
wajah kedua temannya. Menghindari situasi yang canggung, akhirnya Wergon
memulai pembicaraan.
“Uh, jadi apa yang….”
Belum sempat Wergon
melanjutkan pertanyaannya, Jordan sudah memotongnya.
“Aku tidak akan memaksa
kalian untuk ikut dalam keputusanku ini. Telah kuputuskan bahwa aku akan tetap
tinggal di sini dan melanjutkan persahabatanku dengan kakakku.”
“Apa?!” seru Wergon dan
Filhener bersamaan.
“Kau gila! Jika Earon tahu
kebenarannya, kau…. Kau bisa dicincang! Dia tidak seperti Fordien. Dia lebih
mengerikan dari serigala yang kelaparan!” sahut Filhener.
“Inilah keputusanku. Jikapun
kalian memutuskan untuk tidak ikut denganku, mungkin demikian juga yang
kuharapkan. Tapi, semua kembali pada kalian berdua.”
Jordan langsung berjalan
menuju tangga, meninggalkan kedua temannya yang masih bingung memilih.
“Tapi, tapi…. Jordan, tak
bisakah kau dengarkan kami dulu! Kau mau ke mana?!” kata Filhener bingung
bercampur kesal.
“Kuliah,” jawab Jordan
singkat.
“Masih bisanya kau
memikirkan kuliah, sementara hidup kita dalam bahaya!”
“Fil, kurasa kau harus
sedikit memelankan suaramu. Kau tahu bagaimana perasaannya saat ini,” ucap
Wergon seraya memegang bahu Filhener.
Filhener menarik napas
dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Sering saja aku tidak
mengerti jalan pikirannya,” ujarnya gelisah.
Akhirnya, mereka berdua
berjalan menyusul Jordan yang baru menginjak anak tangga. Saat sampai di ujung
atas tangga, Jordan diikuti Wergon dan Filhener, melihat Lytro sudah berdiri di
hadapannya sambil memegang sebuah payung yang terbuka di atas kepalanya. Mereka
juga melihat Vurpia duduk di jok depan mobil Lytro yang diparkir tak jauh dari
keberadaannya, di dekat pohon, menonton pertunjukannya dari balik kaca.
“Apa yang kau lakukan di
sini?” tanya Jordan dengan wajah tak acuh.
“Maafkan aku. Tak seharusnya
aku melakukan ini padamu.”
“Ya, memang! Jika saja sejak
awal kau memberitahu kami tentang monster itu, tentu kami akan memutuskan untuk
tidak mendekatinya! Kau memang yang patut dipersalahkan atas hal ini!” sahut
Wergon marah sambil menunjuk-nunjuk Lytro.
“Aku tahu ini salahku.”
Melihat penyesalan Lytro,
Jordan memberikan senyuman yang masih hanyut dalam kesedihannya.
“Salahmu? Bagaimana bisa ini
adalah salahmu? Peristiwa yang terjadi saat ini terhubung oleh peristiwa di
masa lalu, yang terikat oleh pergerakan setiap kehidupan. Tidak akan pernah ada
ujungnya jika menyalahkan sesuatu ataupun seseorang. Karena memang tidak ada
yang perlu dipersalahkan.”
“Jordan, jelas ini adalah
kesalahannya!” gerutu Wergon.
“Ini hanyalah sebab akibat
dari pilihan hidup yang kujalani. Jadi, aku menerimanya. Aku memaafkanmu atas
kebohongan yang telah kau lakukan.”
Lytro tersenyum senang
mendengarnya.
“Itu saja tidak cukup,” ujar
Filhener, “Jordan telah memutuskan untuk tetap bersamanya. Jadi, kau juga harus
segera meyakinkan atasanmu itu, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Selama dia
tidak mengetahui tentang Jordan dan selama dia tidak mengincar kami sebagai penjahat,
itu tak akan menjadi masalah.”
“Tentu saja. Pasti
kulakukan,” sahut Lytro dengan senang hati.
“Tidak mungkin,” sela
Jordan.
Semua pandangan langsung
berpaling padanya.
“Dia akan mengetahui
kebenarannya, tak lama sebelum eksekusi Charevins berlangsung. Mungkin juga dia
sudah mengetahui kalau aku adalah incarannya.”
Wergon, Filhener, dan Lytro
diam tertegun, memikirkan kebenaran yang akan terjadi menurut perkiraan Jordan
tersebut. Tapi tiba-tiba, suasana terpecah sesaat setelah Wergon bersin
dihadapan ketiganya.
“Bisakah kita kembali
sekarang? Aku benar-benar sudah kedinginan,” katanya dengan tubuhnya yang
menggigil seraya mengusap-usap hidung memerahnya dengan tangannya.
Jordan melihat tatapan mata
Filhener yang sepertinya juga menginginkan hal yang sama dengan Wergon. Dia pun
menganggukkan kepala padanya sebagai tanda kesediaannya.
“Kami harus pergi,” ucap
Jordan berpamitan pada Lytro.
“Berhati-hatilah,” balas
Lytro.
Ketiganya meninggalkan Lytro
dengan ekspresi wajah yang diam. Sepertinya kekecewaan mereka terhadap Lytro
masih tersisa, sekalipun pemberian maaf sudah terucap untuk dirinya.
Lytro terus memerhatikan
ketiganya yang tampak punggungnya saja, berjalan semakin menjauh di sepanjang
trotoar yang bersebelahan dengan taman yang membatasi ketinggian sungai
Chivori. Lalu, saat pandangannya mulai tersamarkan oleh kabut dan derasnya
hujan, dia mengalihkan perhatiannya pada Vurpia yang masih menunggunya dengan
gelisah.
Lytro berjalan mendekati
mobilnya, membuka pintu, duduk di depan setir, menguncupkan payung panjangnya,
meletakkannya di jok belakang, lalu langsung menancap gasnya. Vurpia
terheran-heran atas tindakan yang dilakukan Lytro tersebut, yang tanpa kata
tanpa ekspresi. Namun tanpa ragu dan pikir panjang lagi, dia mulai menanyakan
hal yang ingin diketahui dari hasil percakapan Lytro dengan Jordan.
“Jadi, bagaimana?” tanya
Vurpia.
“Kurasa, kita harus
bersiap-siap,” jawabnya dengan pandangan yang memerhatikan jalan di depannya.
“Maksudnya?”
“Fordien, dia tahu segalanya
tentang Jordan. Sementara Earon, dia begitu terobsesi untuk balas dendam pada
adiknya.”
“Aku tahu itu. Lalu?”
“Masalahnya adal….”
“Tunggu! Apa maksudnya
Fordien tahu tentang Jordan?” sela Vurpia tiba-tiba.
“Dia pernah menghina Jordan
habis-habisan, bahkan disaksikan semua agen dan polisi saat penangkapannya. Aku
tidak peduli benar atau tidak ucapannya, tapi hampir semua kata buruknya itu
sama dengan kisah yang pernah Earon ceritakan padaku tentang adiknya.”
“Oh, tidak,” ucap Vurpia
terkejut lemas.
“Apa? Ada apa? Kau sudah
mengetahui apa yang sedang kukhawatirkan?”
“Kenapa kau tidak bilang
padaku sejak itu?! Kalau tahu, pasti aku akan selalu mengawasi Earon untuk
tidak mendekati Fordien.”
“Mana sampai aku berpikir
begitu. Earon begitu membela Jordan saat itu. Jadi, kupikir semua akan berlanjut
dengan aman.”
“Kita harus segera menemui
Earon. Jangan sampai dia terlalu memaksa Fordien untuk angkat bicara.”
“Itulah tujuanku.”
Lytro semakin memperkencang
laju mobilnya dan berharap semuanya belum terlambat.
Akhirnya, mereka berdua
sampai di gerbang tanah AKLA. Dengan begitu tergesa-gesa, mereka keluar dari
mobil, berjalan memasuki pintu utama, lalu mencari keberadaan Earon. Namun,
baru mendapat beberapa langkah setelah melewati pintu utama, seseorang
memanggil Lytro.
“Hai, Lytro!”
Lytro menoleh ke belakang
dan melihat salah seorang rekannya menghampirinya.
“Ada apa, Bung?” tanya
Lytro.
“Tadi bosmu mencarimu. Dia
memintamu datang ke ruang kerjanya sekarang.”
Lytro dan Vurpia saling
bertatapan muka. Mereka semakin bimbang memikirkan apa yang akan terjadi di
ruang kerja Earon nanti.
“Terimakasih,” ujar Lytro
seraya menepuk bahu rekannya.
“Kembali, Kawan.”
Lytro dan Vurpia
melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan kantor utama. Sesampainya di
ruangan tersebut, Lytro dan Vurpia melihat kesibukan rekan-rekannya,
mondar-mandir dengan membawa lembaran-lembaran kertas atau tidak sama sekali,
tidak ada yang melihat atau pun menyadari kedatangan mereka berdua. Lingchi
yang kebetulan berpapasan mata dengan Lytro, menghentikan kegiatannya, lalu
mengarahkan angkatan dagunya ke ruang kerja Earon, memberi isyarat pada Lytro
agar segera menemuinya.
Lytro melangkahkan kakinya
dengan pelan dan berani, mendekati ruang kerja Earon yang serasa berubah
menjadi tempat terangker di dunia, baginya. Semua yang mendengar langkah
kakinya, langsung menghentikan kesibukannya, diam memandangi Lytro. Hal itu
membuat hatinya semakin gentar, namun dia tetap memberanikan diri untuk
berhadapan dengan penunggu tempat angker tersebut. Dia melihat Earon duduk
manis, menyandarkan dagunya pada dua tangannya yang berdiri tegak di atas meja,
dengan jari-jarinya yang saling merangkul, tatapan mengerikannya lurus ke arah
Lytro yang tampak oleh pandangannya dari balik pintu kaca ruangannya. Dia
membuka pintu ruangan tersebut dengan pelan dan berusaha menutupi
kegelisahannya.
“Kenapa kau memanggilku?”
tanya Lytro yang telah berdiri di depan meja kerja Earon.
Earon menurunkan, lalu
menumpangkan kedua tangan di atas mejanya.
“Aku tidak tahu harus
memulainya dari mana,” ucap Earon seraya menghapus tatapan mengerikannya,
meluruskan kedua tangannya, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya
dengan sedikit memutar-mutarkan kursi tersebut ke kanan dan ke kiri, “Tapi, aku
sudah tahu semuanya. Aku telah memeriksa semua sisa pencarian di komputermu.”
Lytro diam, memandang Earon
dengan tenang.
“Sungguh menakjubkan yang
kudapatkan kalau sebenarnya Filhener, Wergon, dan Jordan adalah tiga bayangan
bulan. Aku juga tahu kalau Jordan temanku, sebenarnya adalah Jordan mantan
adikku.”
Earon melihat Lytro masih
saja diam tanpa ada ekspresi apapun di raut mukanya.
“Aku tidak terkesan jika kau
tidak terkejut,” lanjut Earon geram.
Melihat Lytro yang sama
sekali tidak meluapkan apapun, Earon merasa semakin kesal. Dia langsung bangkit
berdiri sambil menepukkan kedua tangan di atas mejanya dengan sangat keras,
hingga Lytro pun sedikit terperanjat walau tidak terlalu kelihatan karena
tersamar oleh kebisuannya.
“Beraninya kau berbohong
padaku hanya untuk penjahat itu?! Sudah berapa lama kau mengenal mereka?! Sepanjang
hidupmu?! Apa kau tidak menyadari seberapa besar kesalahan yang telah kau
lakukan ini?! Kau biarkan penjahat itu berkeliaran, mencuri semua kekayaan
Losapins! Kau melindungi mereka dari pengejaran! Kau telah mengorbankan
keselamatan penduduk Losapins!” hardik Earon, “Heh! Tentu saja kau tidak
menyadari semua itu, karena kau telah dipengaruhi oleh tipuan Jordan! Tapi
jangan khawatir, karena sebentar lagi kau akan terbebas dari pengaruhnya. Aku
juga sudah merencanakan penangkapan mereka.”
Earon berjalan mendekati
Lytro. Saat mereka berdekatan dan saling berhadapan muka, Earon pun melanjutkan
ucapannya dengan berkata, “Kau harus ikut, tak peduli apapun yang sedang kau
pikirkan saat ini!”
Namun, ucapannya justru
disambut Lytro dengan senyuman lebar. Earon mengerutkan keningnya,
terheran-heran dengan sikap temannya tersebut. Kemudian senyum Lytro seketika
memudar dan berkata dengan lantang, “Tidak!”
Situasi terasa tegang,
bahkan dirasakan oleh rekan lainnya yang berdiri menggerombol di luar ruangan,
menontonnya dari balik kaca walau hanya mimik yang terlihat, tanpa bisa
mendengar jeritan-jeritannya.
“Kau tidak berhak menangkap
mereka, begitu juga aku. Tidak juga mereka yang ada di luar,” lanjut Lytro,
“Tadinya aku merasa tenang saat kukira kau mengetahui kebenarannya. Tapi tidak,
ternyata kau tidak mengetahui semua kebenarannya. Ya, aku sudah tahu kalau tiga
bayangan bulan hanyalah tiga sahabat kita. Aku memang berbohong padamu tentang
Fordien. Aku juga selama ini tahu kalau Jordan adalah adikmu.”
“Mantan adikku!”
“Dan itu semua kulakukan
untuk melindungi Jordan dari jangkauanmu dan kesalahpahaman ini.”
“Kesalahpahaman apa yang
bisa terjadi?! Jelas mereka adalah buronan!”
“Mereka bertiga adalah
mata-mata kita, Earon!” gertak Lytro yang hampir kehilangan kesabarannya.
Earon sangat terkejut
mendengarnya dengan mata yang terbelalak.
“Apa?” ucapnya seraya
mengerutkan keningnya.
“Setiap tim punya hak untuk
mengajukan seseorang untuk dijadikan mata-matanya. Dan ya, merekalah mata-mata
tim kita kali ini. Untuk itulah, sudah menjadi kewajibanmu untuk melindungi
mereka atas kesalahpahaman seperti ini.”
“Sejak kapan kau berani
melakukan itu, bahkan tanpa persetujuanku?!”
“Sejak kita kesulitan
menemukan mata-mata yang bisa dipercaya. Lagi pula, aku juga tidak perlu meminta
persetujuan dari orang yang sedang sibuk di luar kota. Aku sudah mendapatkan
persetujuan itu dari banyak pihak di sini dan sudah disahkan oleh petinggi
keamanan Losapins. Itu pun masih tanpa niat sedikit pun untuk menyembunyikan
mereka darimu. Awalnya aku hanya berpikir untuk membuatmu terkesan, dengan
melihat kesuksesan yang bisa kudapatkan saat tidak ada dirimu. Aku berniat
memperkenalkan mereka saat kau kembali. Sayang, kembalinya dirimu membuatku
tahu kalau Jordan adalah orang yang wajib kulindungi dari orang sepertimu!”
“Beraninya kau melakukan
itu!” bentak Earon seraya mendorong tubuh Lytro dengan keras. Beruntung tubuh
Lytro masih mampu menahan dorongan tersebut karena topangan salah satu kakinya
yang selangkah ke belakang, sehingga dia tidak sampai terjatuh.
“Inikah yang disebut teman?!
Inikah yang disebut rekan kerja?! Kau sama sekali tidak menghormatiku! Kau
lebih memilih dia dari pada aku yang sudah bertahun-tahun kau kenal?! Kau lebih
memercayai dia dari pada aku teman terdekatmu?!”
“Ketahuilah, semua kulakukan
untuk kebaikanmu.”
“Tidak ada kebaikan apapun
untukku atas tindakanmu ini! Trik apa yang dipakai Jordan untuk menyerang
pikiranmu hingga kau tak menyadari kesalahanmu? Jordan adalah seorang pembunuh!
Dia membunuh orang tuaku dengan sangat keji! Dan sekarang, kau justru
membelanya?!”
“Aku membela apa yang
seharusnya kubela.”
“Dan yang kau bela adalah
sebuah kesalahan! Kenapa kau tidak mengerti juga?!”
Hati Lytro sebenarnya sudah
merasa sangat jengkel pada kekeraskepalaan Earon. Tapi, dia berusaha untuk
menjelaskan semuanya dengan sedikit ketenangan, seperti yang dia lihat pada
sikap Jordan selama ini.
“Kau tahu, Earon. Jika saja
aku tidak mengenal Jordan, mungkin aku sudah menjungkirbalikkan mejamu. Mungkin
aku sudah membalas doronganmu tadi. Dan mungkin aku sudah keluar tanpa harus
mendengar dengingan kekeraskepalaanmu. Dengar, Kawan! Jika kau masih berpikir
untuk menjadi agen teladan bagi kami, maka kau seharusnya menyesal karena telah
menuduh adikmu sebagai pembunuh kedua orang tuamu. Kejadian itu hanyalah
kecelakaan. Kenapa hatimu tidak sedikit terbuka setelah melihat tindakan yang
dia lakukan selama menjadi temanmu? Tidakkah kau melihat begitu banyak
perbedaan dari anggapan yang selama ini kau tuduhkan padanya? Selama ini,
Jordan juga tidak tahu kalau kau adalah kakaknya. Dia mengetahui kebenaran ini
saat perayaan kemarin. Jadi, bukan hanya kau yang menjadi korban kebohonganku.
Asal kau tahu, Jordan lebih tersakiti mengetahui dendam kesumatmu yang masih
menyala terang untuknya. Tapi, dia memutuskan untuk tetap berteman denganmu.
Mungkin memang jalan itulah yang bisa dia lakukan untuk menikmati hidup bersama
saudaranya. Aku tidak akan bilang padanya kalau kau sudah mengetahui hal ini,
semata-mata untuk memberimu kesempatan melihat bagaimana adikmu yang
sesungguhnya. Bukankah kau butuh nasihat? Jika hidupmu ingin menjadi lebih
baik, maka belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain, jangan memperbesar
permasalahannya. Itu kupelajari langsung dari Jordan Kayshn, adikmu.
Pikirkanlah!”
Earon terdiam, tak sanggup
berkata apapun, sambil memikirkan perkataan Lytro tersebut. Melihat
ketidakberdayaan Earon, Lytropun berjalan melewatinya, meninggalkan ruang
angker tersebut dengan kepuasan hati karena mampu menaklukan keganasan sang
penunggunya. Bersamaan dengan itu, rekan-rekan lainnya seketika ikut bubar dan
kembali pada kesibukan masing-masing, seolah mereka tidak menyaksikan
pertengkaran tersebut, sebelum Lytro ataupun Earon menyadarinya.
Sementara di kelas Analisis
Nyata.
Filhener, Wergon, dan Jordan
untuk pertama kalinya duduk berjejer di deretan paling belakang, sambil
memegang sebuah bolpoin di salah satu tangannya yang terkapar di atas halaman
kosong buku catatannya yang terbuka. Pandangan mereka begitu jelas melihat
gerakan bibir dosennya saat menerangkan, namun itu hanyalah siasat mereka untuk
menyembunyikan ketidakfokusannya dan menghindari semburan kemarahan dosen
tentunya. Teman-teman sekelasnya begitu terkesan dengan aksi ketidakbiasaan
mereka tersebut. Sesekali mereka menoleh pada ketiganya untuk mengetahui apa
yang sedang dilakukannya. Tapi kekacauan yang saat ini dialami tiga serangkai,
seolah mendekam dalam pikiran mereka hingga tak sedikit pun perhatian ketiganya
yang teralihkan pada tindakan teman-temannya tersebut.
Hari serasa begitu cepat
berlalu, hingga tiba waktunya bagi masyarakat kota Losapins untuk menghentikan
kesibukannya. Di sebuah kamar tidur dengan nyala redup lampu di atas meja yang
bersebelahan dengan ranjang, Earon membaringkan tubuhnya di tengah sepinya
suasana, sambil memandangi langit-langit dan merenungkan kembali kata-kata
Lytro yang terlontar saat terakhir kali berhadapan dengannya. Wajahnya terlihat
lebih tenang. Tangan-tangannya yang terbaring lemas, tak lagi setegang saat
penyakit hatinya kambuh, atau memang kelihatannya kini hatinya sudah menjadi
luluh. Walaupun demikian, sebenarnya hatinya masih penuh dengan dilema.
Keyakinan atas prasangkanya terhadap Jordan masih begitu kuat, namun
orang-orang di sekelilingnya justru selalu menyangkalnya. Siapa yang benar dan yang
salah, masih menjadi misteri baginya.
Dia menarik napas dalam
sejenak, barangkali dapat memunculkan sisi kewibawaannya. Lalu dia berpikir,
mungkin benar yang dikatakan Lytro dan Trigar. Tidak bijak jika menghukum
seseorang tanpa suatu alasan. Maka, alasan itulah yang harus dicari oleh Earon
untuk memperkuat atau mungkin justru melemahkan prasangkanya serta memecahkan
dilema yang sedang dialaminya. Merasa sudah mendapat petunjuk yang harus
dilakukan, diapun memejamkan kedua matanya dengan lembut.
Pagi hari, sebelum
orang-orang memulai kembali pekerjaannya, Filhener dan kedua temannya sibuk
memasak di dapur rumah kontrakannya. Kesibukan itu diwarnai dengan suasana
saling diam, namun juga diramaikan dengan musik ala wajan dan panci yang
diiringi tepukan pisau saat meracik bahan-bahannya serta percikan air yang
mengalir di tempat pencucian. Keinginan untuk membahas keputusan yang akan
diambil, sesekali menghentikan kegiatan Wergon atau Filhener sejenak. Tapi, mereka
tidak terlalu yakin untuk memulainya, sehingga mereka hanya membuka mulut di
awal, namun tak berlanjut dengan suara yang terdengar hingga di telinga Jordan.
Mereka terus melakukan keragu-raguan itu, sampai-sampai Jordan selesai
menghabiskan jatah makanannya.
Wergon melihat situasi yang
tampak tepat baginya, di mana jatah makanan miliknya dan Filhener baru
tersentuh sedikit. Dia berpikir bahwa mungkin dengan melihat hal yang demikian,
Jordan akan merasa iba terhadapnya dan akhirnya menerima keputusan yang telah
dirunding bersama Filhener. Dengan percaya diri, Wergon mulai membuka mulutnya
dan saat itu juga tersela oleh pertanyaan Jordan, sebelum dia mengeluarkan
suaranya.
“Keputusan apa yang telah
kalian ambil?” tanya Jordan sambil merapikan sendoknya di atas piring kotornya,
duduk berhadapan dengan Filhener dan Wergon yang bersebelahan.
“Selalu saja,” gerutu Wergon
dalam hatinya. Tapi di sisi lain, dia juga senang atas tindakan Jordan yang
suka menyela saat dia ingin mengatakan sesuatu yang membuatnya gugup.
Filhener lalu meletakkan
sendoknya di atas makanan dalam piringnya.
“Uh…, kami minta maaf
padamu, Jordan,” ujarnya.
Jordan mengangkat dagunya
dan memerhatikan penjelasan Filhener.
“Aku tahu keputusan kami ini
bukanlah sesuatu yang kau inginkan. Kami juga tahu kau selalu membantu kami dan
kami tidak akan pernah bisa membalasnya. Untuk itu, maafkan kami jika selalu
membuatmu susah, bahkan untuk keputusan ini.”
Suasana menjadi hening
sejenak, menunggu kelanjutan ungkapan pikiran Filhener. Bahkan, seekor jangkrik
pun menyambutnya dengan bunyi kerit yang terdengar jelas, membuat ketiganya
menoleh pada jangkrik tersebut yang hinggap di atas meja makan, dekat dengan
piring Wergon. Lalu, jangkrik itu melompat turun langsung tak terlihat, seolah
menghindari keterlibatannya dari urusan mereka.
Tiga serangkai kembali fokus
pada pokok pembicaraan.
“Kami memutuskan pada
perjuangan kali ini, untuk ikut bersamamu.”
“Apa?!” sahut Wergon kaget.
“Fil, kau mengucapkannya
dengan bahasa yang akan membuat orang berpikir sebaliknya. Biar kuperjelas,”
lanjut Wergon, “Jordan, bukan begitu maksud Filhener. Maksudnya adalah sampai
kapan pun dan bagaimana pun keputusan yang kau ambil, kami akan selalu ikut
bersamamu.”
Jordan hanya bisa
menanggapinya dengan diam terkejut.
“Ya, aku tahu kau
satu-satunya orang yang tidak tega melihat kami menderita. Tapi, aku akan
menikmati penderitaan ini, selama kuhadapi bersamamu dan Wergon.”
“Itu benar. Kita pernah
melewati itu bersama dan kita akan melakukannya lagi. Kami tahu, kau pasti
berpikir masalah yang kita hadapi saat ini sudah menyangkut nyawa. Kau pasti
takut jika salah satu di antara kami… ya begitulah, tapi semoga saja tidak.
Tapi itu bukanlah tanggung jawabmu, Jordan. Jika kita melindungi satu sama
lain, tidak akan pernah terjadi apapun, semua akan baik-baik saja. Bukan
begitu?”
Melihat semangat kedua
temannya, Jordan pun tersenyum lepas seolah sebagian besar kesedihan dan
ketakutannya telah lenyap saat itu juga.
“Terimakasih, kalian berdua.
Aku bahkan tidak tahu kalau ternyata keputusan itulah yang dapat membuat hatiku
lega. Sebagian ketakutan yang kurasakan adalah ketakutan saat aku meragukan
kalian. Dan aku sadar bahwa kalian adalah bagian dari ketenanganku.”
Filhener dan Wergon
membalasnya dengan senyuman.
“Bukankah kita bertiga sudah
mendapat banyak gelar? Tiga bayangan bulan, para domba yang dikagumi serigala,
sekumpulan orang aneh, aku juga pernah mendengar ada yang menyebut kita dengan
tiga serangkai. Jika mereka berpikir kita demikian, itu artinya kita adalah
satu dan akan sangat sulit untuk dipisahkan,” jelas Wergon.
“Ya, kau benar,” sahut
Filhener sambil tersenyum bangga padanya, dilanjutkan dengan sindiran,
“Sebenarnya, aku curiga apakah saat ini aku sedang berhadapan dengan Wergon
atau alien yang sedang menyamar menjadi Wergon?”
Wergon langsung bermuka
masam.
“Hm! Mengerikan,” gerutunya.
“Oh, tak perlu dijelaskan!
Di mana pun kau menyembunyikan Wergon yang asli, aku tak peduli. Aku lebih suka
mendengar ocehan alien sepertimu dari pada mendengar rengekan Wergon yang
asli.”
Dengan muka kecutnya, Wergon
terus saja menatapi Filhener yang akhirnya bisa menikmati beberapa sendok
makanannya lagi. Namun seolah menjadi hal yang biasa, Filhener pun tak
menghiraukan sejelek apapun ekspresi wajah yang diberikan Wergon padanya.
Sementara Jordan, hanya tersenyum melihat kebiasaan kedua temannya tersebut.
“Keputusan kita ini akan
menjadi awal bagi banyak perubahan,” ujar Jordan tiba-tiba seraya mengangkat
tangan kanannya yang memegang gelas bening yang berisi air putih, dari sisi
kanan piringnya, lalu meneguknya setelah selesai mengucapkannya.
Wergon dan Filhener
menghentikan tingkahnya dan saling bertatapan muka, tidak mengerti maksud
ucapan Jordan tersebut. Namun, mereka pun tak begitu memedulikannya dan
melanjutkan untuk menghabiskan jatah makanannya masing-masing.
No comments:
Post a Comment