Waktu begitu cepat berlalu.
Cahaya merah dari arah timur telah merambat naik, yang hanya terlihat sedikit
dan sebentar saja, kemudian tertutup lagi oleh kabut hitam yang menjadikan hari
itu terasa sangat suram.
Begitu sampai di van, Wergon dan Filhener langsung didorong masuk keras-keras oleh polisi yang mengawalnya, bahkan hingga terjatuh sampai-sampai kedua lutut mereka menyentuh alas. Perlakuan tersebut tentu memancing emosi Filhener yang langsung membalikkan pandangannya pada polisi-polisi itu seraya berkata, “Bisakah kalian sedikit lembut?!”
Namun, seketika dia
dikejutkan oleh perlakuan berbeda yang dialami oleh Migo dan Rekshein. Mereka tidak
diperlakukan sekeras dirinya. Mereka bahkan masih bisa berdiri tegak saat
memasuki van penjara. Wergon yang juga melihat hal itu, melanjutkan luapan
emosi Filhener.
“Mungkin kami lupa untuk
mengucapkan terima kasih atas kesempatannya tadi, tapi kenapa kalian tidak
pernah bisa adil terhadap kami?” kata Wergon kesal.
Lytro diikuti Earon ikut
masuk dalam van tersebut yang kemudian para polisi kawal meninggalkan keenamnya
dengan pintu yang ditutup rapat-rapat. Sepertinya, kedua agen itu berniat
menginterogasi keempat tersangka untuk mengetahui keberadaan Jordan.
“Kau benar. Kami memang
tidak cukup adil pada kalian berdua. Akan sangat adil jika seharusnya kami
langsung menembak mati kalian di sini. Dengan begitu, masalah selesai,” sahut
Earon.
“Heh!” ucap Filhener dengan
senyuman licik, “Kalau begitu, lakukanlah!”
Earon merasa jengkel dengan
sikap congkak Filhener tersebut. Tanpa ragu, Earonpun langsung mengambil satu
buah anak panah yang dia sandang, lalu membidikkannya ke arah Filhener, dengan
busurnya. Migo dan Rekshein yang melihat hal itu hanya bisa terdiam takut dan
gelisah.
“Dengan sangat senang hati,”
ucap Earon dengan muka datar, “Jadi, siapa dulu yang ingin merasakan kelembutan
anak panahku?”
Suasana menjadi hening.
Filhener dan Wergon menatap tajam mata Earon.
“Kau pikir kami aka….”
Tiba-tiba Filhener langsung
terbungkam saat merasakan angin tajam yang menggores rambut sampingnya. Dia
tidak berkutik dengan pandangan diam yang masih tertuju pada Earon dan mulut
yang meninggalkan kata terakhir yang terucap.
Suasana menjadi hening
kembali. Wergon melihat pandangan kilas Migo, Rekshein, dan Lytro pada sesuatu
di belakangnya. Dengan perlahan, Wergonpun menoleh ke belakang, penasaran
terhadap sesuatu yang membuat suasana menjadi sunyi. Dia sangat terkejut ketika
melihat anak panah Earon telah tertancap di dinding ruangan, yang langsung
membuat pandangannya berpaling kembali pada busur yang dibawa Earon untuk
memastikan bahwa anak panah itu bukanlah anak panah yang dilepaskan oleh Earon.
Namun, keraguannya ternyata salah. Tidak ada anak panah yang menempel pada
busur Earon. Diapun hanya bisa terperangah heran sambil bertanya dalam hati,
“Kapan dia melakukannya?”
Namun, tidak. Wergon dan
Filhener tidak boleh terbuai oleh ketakjuban permainan panah Earon. Merekapun
segera menyadarkan diri.
“Kau memang tidak akan
berani membunuh kami,” ketus Filhener.
“Pada dasarnya, kalian
membutuhkan kami untuk mencari tahu lokasi Jordan,” lanjut Wergon.
“Bahkan sampai detik ini
pun, kalian tidak henti-hentinya merepotkan kami. Kalian selalu membutuhkan
kami. Tapi, apakah ini wujud dari balas budi kalian?” kata Filhener sambil
memalingkan tatapan tajamnya ke arah Lytro yang berdiri di samping Earon.
“Tidak, Fil. Kitalah yang
terlalu bodoh untuk dimanfaatkan oleh mereka. Seharusnya, kita tahu kalau kita
hanya dijadikan anjing peliharaan bagi mereka. Begitu si anjing melawan
majikannya, saat itulah si majikan mengeluarkan tongkat dan memukulkannya tanpa
rasa hormat.”
Earon hanya terdiam gemetar
mendengar ocehan Wergon dan Filhener. Namun di balik kebisuannya itu, mukanya
telah memerah dengan gigi-giginya yang saling menekan keras dan kedua tangannya
yang mengepal kencang, yang menandakan bahwa dia sedang berusaha menahan
kemarahan yang luar biasa.
“Benar. Mungkin itu pula
yang dialami Jordan saat bersama mantan kakaknya!” ucap Filhener menggeram
seraya meliriki Earon.
“Diaaam!” hardik Earon
seraya mengayunkan busurnya, yang tidak sanggup lagi menahan panas di hatinya.
Tapi kemudian, ayunan busur
itu tiba-tiba berhenti. Lytro telah menahan tangan Earon saat busurnya hampir
mengenai kepala Filhener.
“Tidak, Earon,” kata Lytro
dengan nada tenang, “Bukan seperti ini cara yang tepat untuk mengatasi mereka.”
Earon menatap muka Lytro.
Dari tatapan itu, dia mencoba memahami Lytro. Pelan-pelan, emosinyapun mulai
kendur diiringi dengan merendahnya tangan Earon yang membawa busur. Lytro pun
merasa bahwa Earon memercayainya, maka dia melepaskan cengkeramannya dari
tangan Earon.
“Baiklah,” ucap Lytro sambil
memalingkan mukanya kembali pada Wergon dan Filhener yang masih dalam kondisi
bertekuk lutut, “Seperti yang kalian inginkan. Maafkan kami atas semua yang
pernah kami lakukan pada kalian. Kami janji tidak akan berlaku kasar pada
kalian.”
“Bagaimana denganmu, Tuan
pemarah?” sahut Filhener pada Earon.
Sejenak Earon terdiam seolah
memikirkan sesuatu. Kemudian, dia menghela napas panjang.
“Lytro benar. Kami tidak
akan mengasari kalian lagi. Kami juga akan melindungi martabat kalian, jika ada
seseorang yang berani merendahkan kalian. Tapi, kami tidak bisa membela atas
kejahatan yang telah kalian lakukan. Itulah janjiku pada kalian,” ujarnya.
Wergon dan Filhener
tersenyum lebar mendengarnya.
“Sekarang, katakan di mana
Jordan?” lanjut Lytro.
Senyuman lebar Wergon
langsung berubah menjadi tawa.
“Hahaha…. Jadi, itu trik
kalian untuk menundukkan kami? Kau pikir, dengan kata-kata manis itu dapat
memberikan jawaban pertanyaan terpentingmu itu? Tidak. Kami tidak akan pernah
memberitahu keberadaan Jordan,” ucapnya.
Earon dan Lytro saling
bertatapan muka sejenak.
“Kami janji tidak akan
memberitahu dia kalau kalianlah yang menyampaikan informasi ini,” kata Lytro.
Senyuman Wergon seketika
memudar setelah mendengar ucapan tersebut.
“Kau pikir, Jordan mengancam
kami untuk melakukan semua ini?” katanya dengan muka kecewa.
“Memang begitu yang terjadi.
Dan sudah menjadi bagian dari kelicikannya,” sahut Earon.
“Kurasa, penting bagimu
untuk mengetahui beberapa hal. Dengar! Tidak pernah sedikit pun Jordan berniat
untuk meresahkan kami, apalagi dengan ancaman! Kami rela melakukan semua ini,
bahkan sampai berani di depanmu, karena kami percaya padanya! Kau pikir, dia
mempengaruhi kami? Ya, itu benar. Dia mempengaruhi kami dengan semua kebaikan
yang dia berikan kepada kami! Aku hanya tidak menyangka, orang-orang yang
berpihak pada kebajikan sepertimu, justru tidak mengenal apa itu….”
“Cukup, Wergon!” sahut
Filhener memotong perkataan Wergon, “Percuma kita menjelaskannya pada mereka.
Hanya akan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.”
“Apakah Jordan juga yang
telah mengajari kalian berbicara seperti itu?” sindir Earon, “Kalau memang
kalian tidak mau bicara, aku bisa menemukannya sendiri. Sifat arogan kalian
tidak lain diturunkan dari teman kalian itu. Aku hanya bisa mengucapkan selamat
menikmati sisa hidup kalian. Dan satu lagi, aku cabut semua janjiku. Kupastikan
kalian menderita selama sisa hidup kalian itu! Karena kalian memang pantas
menerimanya!”
“Tidak!” seru Rekshein
tiba-tiba, yang diikuti oleh pengalihan semua tatapan yang mengarah padanya,
“Jordan sekarang sedang menuju pelabuhan. Aku sudah memberitahu kalian.
Kumohon, jangan siksa aku!”
Wergon, Filhener, dan Migo
mengerutkan keningnya mendengar kedunguan Rekshein tersebut.
“Bodoh!” seru Migo menggeram
sambil menunjukkan wajah kesalnya pada Rekshein, “Apa yang kau lakukan?!”
Dengan wajah bodoh, gelisah,
dan mata yang berkaca-kaca, Rekshein menjawab, “Aku hanya tidak mau hidup
menderita. Aku tidak mau hidup seperti ini. Kumohon, tarik janjimu kembali!
Kalau boleh, bebaskan aku juga!”
Earon tidak sekaligus
percaya dengan ucapan tersebut. Dia justru langsung mengalihkan pandangannya
pada ekspresi wajah Filhener dan Wergon, setelah kata-kata itu dikeluarkan.
Wergon yang menyadari pengamatan Earon tersebut, langsung mengubah ekspresi
wajahnya yang semula bercampur terkejut, heran, dan jengkel menjadi muka
pemikir yang sedikit tenang.
“Tidak seharusnya kami
membawamu, Rekshein! Kau menghancurkan semuanya! Tidakkah kau bisa lebih bodoh
dari itu?! Kenapa tidak sekalian kau memberitahu mereka kalau Jordan akan
menaiki kapal?!” ucap Wergon kesal dalam sandiwaranya.
Mendengar hal itu, Earon
tersenyum licik.
“Bagus. Inilah yang
sebenarnya kuinginkan. Apa susahnya mengatakan ini sejak awal?” katanya.
“Apa?!” sahut Wergon
terkejut yang seketika membuatnya menjadi gugup, “Tidak. Kau, kau. Tidak.
Tidak. Kau. Jangan percaya!”
“Kau pikir bisa menipuku
dengan sandiwaramu itu? Kau meluruskan informasi teman lugumu ini,
seolah-seolah memang begitu rencana kalian yang mengandung kebohongan.”
“Kau sama bodohnya, Wergon!”
ucap Filhener kesal.
“Jangan khawatir! Aku telah
menarik janjiku kembali,” lanjut Earon.
Wergon begitu merasa
khawatir dan gelisah. Dari raut mukanya, dia merasa sangat bersalah atas
kegegabahannya itu.
“Kalau begitu, kau juga
tidak akan menyakiti Jordan, `kan?” katanya cemas.
“Heh! Apakah tercantum nama
Jordan dalam janjiku?”
Semua pendengar membisu
gelisah.
“Artinya, aku punya bahasa
lain yang lebih mudah dimengerti olehnya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir.”
Wergon dan Filhener tidak
bisa berkata apapun lagi. Pikiran mereka penuh dengan kecemasan.
“Lytro. Siapkan semua polisi
dan rencana penangkapannya!” ujar Earon.
Lytro menganggukkan
kepalanya.
“Ya! Bawalah semua
pasukanmu!” seru Filhener tiba-tiba, “Sebanyak apapun yang kau bawa, bahkan
seluruh masyarakat Losapins, kau tidak akan pernah bisa menangkapnya! Semakin
banyak pasukanmu, justru membuatnya lebih mudah mengalahkanmu!”
Earon menatap tatapan murka
Filhener. Dari tatapan tersebut, Earon mencoba membaca sesuatu dari mata
Filhener. Diapun mengedipkan kedua matanya sekali, kemudian berpikir sejenak.
“Biar aku sendirian yang
pergi,” ujarnya yang langsung membuat Lytro terkejut.
“Jangan ceroboh, Earon! Kau
tahu betapa cerdiknya Jordan,” jelas Lytro khawatir.
“Menurutmu, aku tidak lebih
cerdik darinya?”
Lytro menghela napas sejenak.
“Bukan begitu. Jika kita
bersama-sama menangkapnya itu akan lebih mudah, 'kan? Kita lakukan bersama!”
katanya.
“Tidak. Percayalah padaku!”
jawab Earon yang kemudian menepuk salah satu pundak Lytro, “Aku bisa
mengurusnya.”
Melihat keyakinan dan
kepercayaan diri Earon, Lytropun menganggukkan kepalanya, meskipun masih ada
rasa berat di hatinya.
Earon membalikkan badan,
berjalan menuju pintu van, lalu mengetuknya sebanyak lima kali. Pintupun dibuka
oleh dua pengawal yang masih menjaganya dari luar. Dia melangkah keluar,
meninggalkan Lytro yang gelisah memandangnya. Udara dingin yang langsung
berembus mengenai tubuhnya, menyadarkan Lytro dalam tatapannya yang setengah
melamun. Dia membalikkan pandangannya kembali pada Filhener dan Wergon yang
masih berlutut di hadapannya. Menatap mata keduanya dan mencoba memahami maksud
mereka sebenarnya.
Pagi itu, suasana jalanan
dekat pelabuhan terlihat sepi. Sambil menyetir mobil AKLA dengan setengah
cepat, Earon mengamati kanan kirinya, barangkali akan terlihat Jordan dalam
pandangannya. Langit yang tampak gelap menghiasai suasana jalanan menjadi
ngeri. Terlebih telah diketahui keberadaan si predator ganas di sekitar sana.
Bisa jadi predator itu langsung menerkam mangsanya saat pandangannya lengah.
Begitulah yang dipikirkan oleh Earon terhadap satu-satunya keluarga yang masih
dimilikinya itu. Tidak, Jordan bukan adiknya, artinya bukan juga keluarganya,
pikirnya.
Tidak lama kemudian, ada
sebuah mobil sedan hitam yang mendadak muncul dari gang kanan, yang sekaligus
mengagetkan Earon. Mobil yang melaju seperti lari kucing yang habis dilempari
batu itu, dengan cepat mengarah padanya. Dapat dikatakan mobil itu juga
satu-satunya mobil mewah yang berada di jalanan itu, selain dirinya. Terlebih
cara mengendarainya yang nakal, membuat rasa gereget dan penasaran pada diri
Earon.
Mobil itu semakin
mendekatinya. Penglihatannya semakin jelas pada seseorang yang duduk di depan
setir mobil itu. Kedua mata Earon langsung terbuka lebar saat pikirannya mulai
bisa menebak orang itu yang terlihat dari kaca mobil depan. Napasnya berhenti
sejenak dengan tatapan mata yang mengikuti kehadirannya. Waktu seolah-olah
melambat ketika muka mereka saling bertemu.
“Jordan,” ucapnya dari
gerakan bibirnya yang samar dan tidak bersuara, seraya menatap muka Jordan.
“Ka...,” kata Jordan lirih
yang juga terkejut melihat Earon.
Namun, Jordan langsung
memalingkan mukanya kembali ke depan, sebelum menyapanya. Dia mempercepat laju
mobilnya begitu melihat keterkejutan yang dialami oleh Earon. Tidak mau kalah,
Earonpun langsung memutar balik mobilnya untuk mengejar Jordan. Dia tidak akan
membiarkan Jordan lolos lagi untuk kesempatan kali ini, tegasnya dalam hati.
Jordan yang mengetahui bahwa dia telah dibuntuti, berusaha untuk terus
menghilang dari pandangan Earon dengan cara berputar-putar memasuki
persimpangan atau gang-gang. Walaupun tidak semudah yang diperkirakan, namun
pada akhirnya Jordan sekali lagi berhasil lolos dari Earon.
Earon langsung bingung
begitu Jordan lenyap dari pandangannya, yang bagaikan hantu, datang tak
diundang dan pergi tak diantar. Dia terus mencari-cari bayangan Jordan yang
barangkali masih berceceran di jalanan. Tapi kemudian, keningnya mengerut saat
tatapan matanya melihat sesuatu jauh di depannya. Sebuah mobil hitam berhenti
menghadap mobilnya, seolah-olah ingin menantangnya. Earon yang tidak perlu
berpikir panjang lagi, mengetahui sopir dari mobil itu yang tidak lain adalah
Jordan.
Avasone bergerak lebih
dahulu, lurus menuju Earon. Lajunya begitu cepat seakan siap untuk membuat
Earon terpelanting. Tanpa ragu, Earonpun menancap gas sebagai wujud penerimaan
tantangan tersebut. Seperti halnya Jordan, Earon pun semakin mempercepat laju
mobilnya. Jalan yang lurus dan sepi, membuat keduanya semakin leluasa untuk
mempercepat laju mobilnya. Semakin cepat, cepat, dan sangat cepat. Adu tubrukan
diperkirakan akan terjadi saat sampai di simpang empat yang berada tepat di
depan mata mereka. Namun, terlihat sebuah truk trailer besar yang datang dari
arah lain menuju persimpangan tersebut. Dengan kecepatan yang dimiliki oleh
ketiganya saat ini, diperkirakan truk itu juga akan ikut menjadi korban
peraduan tersebut. Mengetahui hal itu, Jordan langsung mempercepat laju
mobilnya lagi dan lagi. Dia berpikir bahwa jika dia mampu mendahului melewati
garis persimpangan, maka bisa dipastikan dialah yang akan menjadi pemenangnya.
Sementara si sopir truk, belum menyadari kalau akan ada peraduan di hadapannya.
Dia hanya menikmati jalanan bertanah kosong dan beberapa pohon di kanan
kirinya, dengan melihat lampu lalu lintas di depannya yang telah berubah warna
hijau. Tanpa mengurangi kecepatannya, dia pun berpikir bahwa tentu sudah aman
untuk melewati persimpangan itu.
Jordan dapat melihat
kecepatan Earon yang mendekatinya. Entah apa yang membuat jantungnya tiba-tiba
berdebar kencang, hingga wajahnya menjadi tampak gelisah. Dia melihat lagi truk
yang terus melaju mendekati titik tubrukan. Walaupun begitu, Jordan berusaha
untuk terus mempercepat laju mobilnya.
Si sopir truk kemudian
memalingkan pandangannya ke arah kanan. Dia begitu terkejut melihat sebuah
mobil berjalan sangat kencang tanpa mengurangi kecepatannya, sementara warna
lampu arah jalan si sopir masih hijau dan hampir mendekati persimpangan. Sopir
itupun langsung membunyikan klakson sebagai peringatan akan kehadirannya. Namun
sepertinya, Earon tidak mendengar suara klakson itu, bahkan tidak menyadari
akan kehadiran truk itu. Dia hanya fokus pada mobil yang menjadi sasaran
utamanya. Sopir itu semakin kewalahan ketika menoleh ke sisi jalan lain dan
melihat sebuah mobil lain dengan tingkah yang serupa. Kedua mobil yang saling
berlawanan arah tersebut pasti akan saling bertabrakan, pikir si sopir. Untuk
menghindari keterlibatan, dengan terpaksa diapun mengalah dan langsung
menginjak remnya, walaupun dia tahu bahwa truk yang dikendarainya pasti akan
tetap menjadi korban dari aduan itu.
Titik temu semakin dekat,
dekat, sangat dekat, dan akhirnya truk itu yang justru terlebih dahulu
menghantam salah satu mobil aduan. Mobil itu langsung terpelanting sejauh
beberapa meter, berguling-guling tak keruan, hingga melepaskan beberapa bagian
mobilnya. Sementara mobil lain yang dikemudikan oleh Earon, langsung mengerem
sambil membanting setirnya, hingga akhirnya dia selamat dari tabrakan itu.
Dengan mata terbelalak menatapi badan truk, dia justru sangat terkejut melihat
truk itu yang tiba-tiba muncul di depannya.
Truk itu berhenti. Si sopir
truk hanya bisa menjambak rambutnya dengan perasaan yang bercampur aduk antara
takut, cemas dan takjub. Ketakutan dan kecemasan karena melihat tabrakan
mengerikan tepat di depan matanya, sementara ketakjuban karena melihat
ketangguhan mobil yang ditabraknya. Jika mobil biasa pasti sudah remuk, pikir
si sopir.
Avasone kini terbaring
dengan posisi terguling ke samping. Rintihan rasa sakit terdengar dalam
heningnya suasana. Sekalipun ada bantal pengaman di kemudi, namun hantaman itu
seakan masih terasa di sekujur tubuh Jordan. Dia berusaha membuka pintu mobil,
tapi tidak bisa. Akhirnya, dia mencoba keluar melalui kaca pintu mobilnya yang
sudah pecah. Dia terus berusaha menarik tubuhnya keluar sambil menahan rasa
sakitnya.
Earon segera tersadar dari
keterkejutannya. Dia langsung menoleh ke tempat mobil Jordan terguling. Dia
membuka pintu mobilnya, berlari, dan mendekati Avasone untuk mengetahui keadaan
Jordan. Namun saat langkah terakhirnya berada di dekat jok sopir Avasone, dia
tidak lagi melihat tubuh Jordan di sana, hingga langsung membuat wajahnya
menjadi tampak semakin gelisah. Earon terus mencari Jordan, barangkali dia
terjepit atau bersembunyi di balik jok-jok yang sudah peok. Namun, dia tetap
tidak menemukannya.
Tiba-tiba, Earon mendengar
suara langkah kaki cepat seseorang. Dia langsung menoleh pada sumber suara itu
dan ternyata itu adalah suara sopir truk yang berlari menjauhinya. Sepertinya,
sopir itu tidak mau bertanggung jawab atas kejadian yang baru saja
dilakukannya. Itu sebabnya, dia melarikan diri. Namun, Earon tidak menghiraukan
hal itu. Dia kembali fokus pada tujuan pokoknya. Dia melihat sekelilingnya dan
tidak ada tanda-tanda keberadaan Jordan. Dia mulai merasa frustrasi kembali.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara keributan tong sampah. Earon mencoba
mengamati asal suara itu dari balik dinding-dinding bangunan yang sunyi di
sekitarnya. Diapun mengerutkan keningnya saat pandangannya tertuju pada suatu
tempat.
Jordan berdiri diam dengan
napas yang tersengal-sengal. Salah satu tangan meremas keras dadanya, sementara
tangan yang lain memegang dinding untuk menopang tubuhnya. Dia mencoba mencari
udara sejenak untuk memulihkan tenaga dan berharap pula dapat mengurangi rasa
sakitnya. Sebuah tong sampah yang terjungkir tampak juga berada di dekat
injakan kakinya, dengan sampah yang berserakan. Setelah beberapa saat dirasa
cukup, diapun mulai melepaskan tangan topangnya dan melangkahkan kakinya
kembali. Walaupun langkah cepatnya tersendat-sendat, namun dia masih bisa
mengelabuhi Earon yang berusaha mencarinya. Saat bayangan Jordan lenyap menuju
lorong lain, saat itu pula Earon muncul dari lorong sebelumnya.
Jordan telah melangkah
sampai di tempat yang halamannya cukup luas dengan dua bangunan yang
mengapitnya. Dia merasa kalau jejaknya sudah tidak lagi terdeteksi oleh Earon.
Untuk itulah, dia kembali mengambil beberapa napas sejenak di tengah area
tersebut. Napas panjang terakhirnya dijadikan sebagai aba-aba untuk memulai
langkah pertama kakinya. Tapi, saat tumitnya baru terangkat, tiba-tiba
terdengar seruan yang menggema, yang seketika membuatnya tersentak.
“JORDAN!”
Jordan memutar pandangannya
ke belakang, kemudian terdiam pada sesuatu yang dilihatnya dengan tatapan mata
yang mencoba untuk tetap tenang. Earon telah muncul, berdiri tegak sekitar satu
setengah meter di depannya sambil menodongkan pistol ke kepala Jordan.
Sementara nasib dari anggota
bayangan bulan lainnya.
Wergon, Filhener, Migo, dan
Rekshein duduk berjejer di kursi panjang yang berimpit dengan dinding van,
dengan kedua kaki dan tangan yang diborgol, serta pengawasan dari Lytro dan dua
polisi khusus yang duduk di depan mereka. Sepanjang perjalanan, Wergon,
Filhener, Lytro, dan dua polisi itu saling bertatap muka dengan sorotan mata
tajam. Hal itu membuat suasana menjadi kaku, tegang, dan hening.
“Bisakah kita akhiri
kejenuhan ini dengan sedikit obrolan?” kata Filhener bosan.
“Mungkin kau bisa mengakui
kesalahanmu sebelum bicara di pengadilan?” ketus Lytro.
“Aku sangat menyesal dengan
semua yang kulakukan,” jawab Filhener.
Lytro mulai tertarik dengan
topik tersebut.
“Lanjutkan!”
“Aku menyesal telah
bergabung denganmu. Aku menyesal telah mengenalmu. Dan tidak seharusnya aku
bertemu denganmu. Pembawa masalah dalam hidupku!” katanya sambil menatap tajam
Lytro.
Lytro merasa jengkel
mendengar ucapan Filhener tersebut. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang.
“Ke mana kau akan membawa
kami?” tanya Wergon melanjutkan pembicaraan.
“Penjara di perbatasan.
Bukankah itu yang kau inginkan?” sahut Lytro.
Suasana menjadi hening
kembali. Empat tahanan hanya diam dengan pandangan ke bawah. Dari tatapan
mereka seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.
“Hei, Bung!” kata Wergon
sambil mengangkat mukanya menatap Lytro, “Kau dapat pesan dari Jordan.”
Lytro tersenyum sinis.
“Maksudmu, pesan terakhir
sebelum dia dihukum mati?” katanya.
Filhener, Migo, dan Rekshein
langsung mengangkat mukanya bersamaan. Hati mereka berempat bergetar begitu
kata-kata itu terdengar.
“Pesan macam apa, hm?!”
Sejenak, Wergon membisu. Dia
ragu untuk melanjutkan perkataannya.
“Dua asha pasti akan
lenyap,” kata Wergon kemudian, “Satu, bagian dari rencana. Satu, bagian dari
harapan.”
Lytro mengerutkan keningnya.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
“Jika kau ingin tahu,
mungkin seharusnya kau membiarkannya tetap hidup.”
“Apa ini bagian dari rencana
kalian? Mencoba menghasutku dengan kata-kata membingungkan itu? Jordan, dia
benar-benar pintar dalam….”
“Dia bilang hanya kau yang
tahu maksudnya,” ucap Filhener dengan nada datar.
Lytro langsung diam,
terkejut mendengarnya.
“Hm! Semua ini memang
rencananya dan kami berhasil melakukannya. Jika kau ingin tahu, kami masih
punya satu rencana lagi dan itu sangat sulit bagi kami,” lanjut Filhener.
Lytro masih tidak mengerti
dengan perkataan tersebut.
“Kami memang tidak pernah
mengerti tujuan dia sepenuhnya. Tapi, dia bilang kalau rencana kami selanjutnya
tergantung dari bisa tidaknya kau menerjemahkan kata-kata itu.”
Wergon tiba-tiba tertawa
setelah kata terakhir Filhener terucap.
“Hehehe…. Lucu sekali!
Kenapa Jordan masih saja memercayainya, ya? Padahal, dia yang telah membawa
kita sampai ke sini.”
“Benar. Bahkan, dia masih
ingin kita menuruti ucapannya sebagai bagian dari rencana terakhirnya?” lanjut
Filhener menghibur hati sendiri.
Lytro masih saja diam,
memikirkan semua sindiran-sindiran Wergon dan Filhener tersebut, tanpa ada
kekesalan yang terukir pada raut mukanya. Entah apa yang membuat hatinya
menjadi luluh, tapi sepertinya dia pun sedang berusaha untuk memahami semua
peristiwa yang baru saja terjadi.
Tubuh semua penumpang
kemudian tersentak pelan ke depan kemudi. Roda mobil tidak lagi terasa
getarannya, menandakan bahwa mobil yang mereka tumpangi telah berhenti.
Sepertinya, mereka telah tiba di tempat tujuan.
Terdengar suara terbukanya
kunci pintu van. Pandangan para tahanan melihat ke arah luar seiring
merambatnya terbukanya pintu. Angin yang berembus mulai terasa berputar di
dalam ruangan, memperjelas kehampaan dalam pikiran mereka. Tidak ada
pemandangan yang dapat mereka lihat, selain masing-masing polisi kawal mereka
yang sudah menyambutnya di depan pintu. Mereka berempatpun dipaksa lagi oleh
dua polisi untuk berdiri dan segera menuruni mobil. Sementara Lytro,
pandangannya hanya bisa mengikuti kepergian para tahanan itu. Bahkan, dia tidak
menyentuh mereka sedikitpun, baik dengan tangan maupun suara. Bukan karena
untuk menepati janjinya, tapi karena pikirannya yang masih terbayang dengan
teka-teki yang membingungkan itu.
Tampak mobil-mobil polisi
terparkir di halaman penjara yang dikelilingi oleh pagar tembok tinggi dengan
kawat berduri. Kabut tebal dan suara kesunyian tanah perbatasan membawa suasana
seram di sekitar penjara itu dan seolah menjadikannya sebagai tempat penyiksaan
paling sempurna di Losapins. Lytro masih berdiri di dekat mobil van sambil
melihat keempatnya dibawa menuju satu-satunya pintu masuk dan keluar gedung
penjara tersebut. Tidak lama kemudian, dia teringat sesuatu yang membuatnya
menggerayangi rompinya. Dimasukkan salah satu tangannya ke dalam rompi,
kemudian dia menarik sesuatu dari dalam rompinya. Monitor genggam milik Jordan
terhampar di telapak tangannya. Dia masih penasaran dengan semua isi yang ada
dalam monitor genggam itu. Diapun membuka-buka lagi file, barangkali ada
yang masih belum diketahui olehnya. Setelah terlihat beberapa usapan ujung jari
tangan pada layar itu, tiba-tiba keningnya mengerut diikuti dengan berhentinya
usapan jari tangannya. Dia melihat sebuah nama file di antara banyak
nama file, yang tertulis asha. Kata itu mengingatkannya pada
teka-teki yang ingin dia pecahkan. Dia kemudian menekan nama itu dan kemudian
terbukalah isi dari file tersebut. Kedua mata dan mulutnya langsung
terbuka lebar. Tangannya yang menggenggam monitor, juga bergetar, ikut menghiasi
ketegangan hatinya. Lalu, dia mengangkat mukanya kembali ke arah empat tahanan.
“Ini tidak mungkin,” gumam
Lytro.
Tiba-tiba, tepukan tangan
keras terasa di atas pundak Lytro yang seketika membuatnya tersentak dan
langsung menoleh ke belakang.
“Lingchi?” katanya agak
lega.
Lingchi melihat ekspresi
muka Lytro yang menyisakan ketakutannya saat menatapnya.
“Ada apa, Lytro? Kau
baik-baik saja?” tanya Lingchi khawatir.
“Ah, ya!” jawab Lytro seraya
mengubah raut mukanya menjadi sedikit tenang dengan senyuman singkat, “Aku
baik.”
Melihat senyum kecil Lytro,
Lingchipun melupakan kekhawatirannya.
“Bagaimana caranya aku bisa
masuk ke rumah mengerikan itu?” tanya Lytro tiba-tiba, seraya mengangkat
dagunya menunjuk ke arah pintu masuk rumah tahanan.
Lingchi mengerutkan
keningnya dengan senyuman sinis.
“Kau ingin mendengar mudah
atau sulitnya dahulu?”
“Mudahnya.”
“Jadilah seorang penjahat
yang sangat diburu polisi! Dengan begitu, kau akan sangat mudah masuk ke
penjara itu.”
“Pilihan lain?”
“Buatlah dua penjaga di depan
pintu itu tertarik padamu! Sekali kau bisa masuk, maka orang dalam tidak akan
banyak komentar.”
Lytro memalingkan
pandangannya pada dua penjaga berbadan kekar yang berdiri di depan pintu
penjara.
“Tapi,” lanjut Lingchi,
“Tidak mudah menaklukan dua penjaga itu. Walaupun kau anggota AKLA yang telah
mempunyai surat izin masuk dari petinggi keamanan Losapins, belum tentu mereka
mau menerimamu. Kau menantang mereka, para penjaga lain di sekelilingmu akan
menyalakan alarmnya, sehingga semua penghuni tahu kalau sedang ada ancaman.”
“Memangnya, siapa penjaga
pintu itu?” tanya Lytro penasaran.
“Merekalah yang disebut
sebagai si pembawa kunci neraka,” jelas Lingchi, “Jadi, kau tidak perlu
khawatir kalau akan ada orang yang bisa membebaskan empat kaki kancil itu.”
Pandangan Lytro ke bawah
seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Kau tahu, kita masih
beruntung tidak ada korban jiwa dalam peledakan tadi malam,” kata Lingchi yang
membuat pandangan Lytro kembali terangkat menatapnya, “Kita harus cepat kembali
ke kota. Mengatur rencana baru dan mengakhiri misi ini.”
“Kau benar. Earon masih
berjuang di sana. Kau dan yang lainnya pergilah dulu.”
“Kau tidak ikut bersama
kami?”
“Belum. Aku akan menyusul
kalian dengan rencana baru itu.”
Lingchi menganggukkan
kepalanya dengan penuh keyakinan pada Lytro.
Sementara keadaan empat
sekawan yang dikawal oleh empat petugas penjara, yang berjalan melewati
koridor-koridor penjara, hanya bisa diam menunduk sambil memikirkan akan
kehadiran pahlawan yang berharap dapat membawa mereka keluar dari rumah
penyiksaan tersebut. Empat orang petugas memberhentikan mereka di depan sebuah
ruang jeruji besi yang masih kosong. Ketika salah seorang petugas sedang
membukakan kunci gembok ruang tersebut, hati empat sekawanpun berubah menjadi
semakin resah.
“Kenapa Jordan tidak juga
datang?” gumam Migo.
Filhener, Wergon, dan
Rekshein langsung mengangkat muka mereka, menatap Migo. Namun, tidak satu pun
dari mereka yang menjawabnya.
Suara terbukanya gembok
penjara terdengar. Salah seorang petugas menarik pintu jeruji besi dihiasi
suara pekikannya yang membangunkan kesunyian lorong-lorong yang suram. Dalam
hati keempat tersangka yang berdebar kencang, tiba-tiba dikejutkan dengan
kemunculan sebuah tangan yang menepuk salah satu pundak dari petugas yang
membukakan pintu itu.
Semua pemirsa langsung
menoleh ke belakang untuk melihat sesosok yang telah berani mengganggu
ketegangan suasana.
“Aku mendapat perintah untuk
membawa para tersangka ini ke gedung AKLA,” ucap Lytro seraya menunjukkan kartu
identitasnya.
Empat petugas saling
bertatap muka. Suasana menjadi sunyi, membuat Lytro menjadi canggung.
“Apa ada….”
“Baik,” katanya seorang
petugas yang langsung menyela rekannya, “Kami akan mengantar mereka sampai ke
mobil Anda.”
Lytro tersenyum tipis sambil
sedikit menganggukkan kepalanya pada petugas itu. Sementara para tersangka
hanya terdiam bingung dengan permainan polisi itu yang tidak jelas. Mereka pun
sudah tidak dapat berbuat apapun lagi, hanya bisa pasrah menjadi bola yang
mengikuti tendangan kaki polisi itu.
Lorong demi lorong kembali
mereka lewati untuk sampai ke pintu awal mereka masuk. Pintu telah terlihat.
Dua petugas lain yang berdiri di dekat pintu, terkejut melihat kehadiran
mereka. Sampai di dekat pintu, salah satu pengawal berbicara pada penjaga pintu
dalam itu. Setelah beberapa gerakan mulut terlihat, salah seorang penjaga pintu
membukakan kunci pintu neraka tersebut.
Dalam suasana tegang
tersebut, Wergon kelihatannya mendapatkan sesuatu yang dapat sedikit menghibur
perasaannya. Sekilas, dia melihat kunci yang dimasukkan pada lubang pintu. Dia
terkagum-kagum dengan keunikan dari desain kunci yang sangat rumit tersebut,
walaupun kekagumannya tidak sampai muncul di raut mukanya yang diam. Tidak
hanya sampai di situ. Keheranannya juga muncul saat melewati penjaga pintu
luar. Dia menatapi kedua penjaga itu yang berdiri tegak dengan lirikan mata
kaku yang mengikuti langkahnya. Wergonpun hanya bisa mengerutkan keningnya
melihat sikap aneh mereka.
Sampai di mobil yang sering
terlihat dipakai oleh Lytro, keempat petugas langsung memaksa masuk keempat
tersangka ke mobil tersebut.
“Apakah Anda perlu bantuan
yang lain?” tanya salah seorang petugas kawal yang mencoba bersikap ramah pada
Lytro.
“Tidak,” jawab Lytro dengan
ramah pula, “Bisa diantar sampai ke sini, itu sudah sangat membantu. Terima
kasih.”
Petugas itu membalasnya
dengan senyuman lebar.
Tanpa mengulur waktu, Lytro
segera masuk ke mobil dan membawa empat tersangka ke tempat tujuannya.
Sementara situasi di wilayah
pelabuhan.
Angin berembus keras. Awan
gelap semakin menyelimuti langit yang tiada cahayanya lagi. Earon tidak mau
sedikit pun melepaskan pusat perhatiannya pada Jordan, bahkan karena embusan
angin yang melewati tubuhnya. Sementara Jordan, dia masih berdiri sambil
menatap tenang dan fokus pada muka Earon.
“Sampai kapan kau akan terus
berlari, Jordan? Sampai kapan kau lelah dengan yang kau lakukan ini? Sampai
kapan kau akan merasa bosan mengganggu hidupku? Kenapa, kenapa kau lahir dalam
hidupku? Apa untungnya orang sepertimu lahir di dunia ini?” ucap Earon.
Jordan masih saja diam.
“Tidak. Sudah cukup dengan
kelakuanmu. Bahkan, kau benar-benar telah melewati batas yang kuperkirakan.”
Suasana terasa hening.
Jordan hanya diam sambil menatapnya. Hal itu justru membuat Earon tiba-tiba
berubah perasaan.
“Jawab pertanyaanku!” hardik
Earon dengan muka marahnya.
Kemudian, Jordan menyahut
hardikan Earon tersebut dengan senyuman tipis. Earon yang melihatnya begitu
kaget, berpikir bahwa senyuman itu merupakan tanda akan dilakukannya sesuatu
oleh Jordan. Dia pun spontan menarik pelatuknya dengan arahan pistol yang belum
berubah. Jordan yang mengetahui reaksi Earon tersebut, langsung menunduk
menghindari letupan pistol yang terdengar, sambil menarik pedang dari balik
jubahnya dengan salah satu kaki yang selangkah ke depan, lalu menebaskannya
pada laras senjata api Earon hingga terbelah. Earon tidak dapat berbuat apapun
melihat gerakan cepat Jordan tersebut. Di saat situasi lengah tersebut, Jordan
langsung melakukan ayunan satu kaki tinggi ke arah Earon. Earon yang tidak mampu
menahan tendangan Jordan yang keras, akhirnya terjatuh hingga punggungnya
menyentuh tanah. Tidak mau kalah, Earon dengan cepat menyesuaikan kecepatan
Jordan. Dia langsung berguling untuk menghindari ujung pedang Jordan yang
diarahkan ke dadanya. Suara tancapan pedang yang menembus tanahpun terdengar
begitu nyaring dan mematikan.
Earon segera bangkit untuk
dapat menyeimbangkan gerakannya. Kini jarak di antara mereka sekitar dua meter.
Earon semakin yakin bahwa Jordan benar-benar ingin menghabisinya. Kemudian,
Earon mengambil busur dan satu anak panah dari wadahnya yang dia sandang.
“Kau tidak pernah belajar
untuk mengenal diriku, Volan,” ucap Jordan dengan nada datar, “Kau yang
seharusnya menjawab sendiri pertanyaanmu itu. Jika saja kau tahu diriku sejak dulu,
aku yakin apa yang tidak kau inginkan selama ini dalam hidupmu, tidak akan
pernah terjadi. Tapi sayang, aku lebih cepat belajar untuk mengenal dirimu.
Jadi, aku tahu apa yang tidak kau inginkan, sehingga kubuat itu terjadi. Kau
terus saja memendam kebencianmu, tapi entah bagaimana kau tidak pernah tahu
cara menyelesaikannya.”
Earon hanya terdiam menatap
tajam Jordan.
“Apa tujuanmu sebenarnya,
Jordan?” tanyanya.
“Tujuanku sederhana. Siapa
pun yang berani menantangku, akan kutantang dirinya bagaimana pun caranya
sampai titik darah penghabisan.”
“Kalau memang begitu, apakah
ayah dan ibu pernah menantangmu, sehingga kau tega membunuh mereka?!”
Jordan terbungkam.
“Kenyataannya, tidak ada
seorang pun yang menantangmu! Tapi, kau sendiri yang membuat tantangan itu! Dan
kau berani mengorbankan keluargamu untuk mencapai ambisi bodohmu itu!”
“Ya!” tegas Jordan, “Ayah
dan ibu pernah menantangku!”
Earon sangat terkejut
mendengarnya.
“Apa kau lupa kalau kau juga
telah menantangku di pengadilan?!” lanjut Jordan, “Tapi, jangan khawatir!
Kuberikan kau kesempatan untuk menyelesaikan masalah kecil di keluarga kita.
Kita akan bertarung di sini. Salah satu dari kita yang menang nantinya akan
mendapatkan kedamaiannya. Sementara yang kalah, dia langsung mendapatkan
kematiannya. Kalah dan menang hanya ditentukan jika ada dari kita yang mati.”
“Aku tidak akan ragu
melakukannya!” seru Earon seraya memelesatkan anak panahnya ke arah Jordan.
Jordan mampu menghindari
anak panah itu dan langsung berlari mendekati Earon dengan ayunan pedang yang
siap menebasnya.
Kabut yang menutupi daerah
Losapins kian memudar. Terdengar jeritan sebuah klakson mobil dengan kecepatan
tinggi yang melaju di jalan pinggiran kota yang tidak terlalu ramai.
“Apa yang akan kau lakukan
pada kami?” tanya salah seorang penumpang.
Lytro tidak menjawabnya. Dia
fokus pada kemudinya.
“Apa kau sudah tuli?! Wergon
bertanya padamu!” sahut Filhener marah, yang duduk di sebelah Wergon.
“Apa kau sedang memancing
emosiku, Fil?! Kenapa kalian tidak bilang tentang video itu?!” ucap Lytro yang
ikut kesal.
Filhener dan Wergon terdiam
bingung. Lytro yang melihat kebingungan mereka dari kaca spion tengah, justru
lebih bingung.
“Lihat ini!” lanjut Lytro
seraya memperlihatkan sebuah monitor genggam yang dia ambil sebelumnya dari rumah
Migo.
Salah satu tangan Lytro
memegang kemudi dengan pandangan ke depan, sementara tangan lainnya mengulur ke
belakang bersama monitor itu. Dia bermaksud memberikan monitor genggam itu pada
keduanya, namun dia tidak merasakan ada sentuhan salah satu tangan mereka pada
monitor genggam itu.
“Ambillah!” katanya sambil
menggoyangkan monitor genggam itu, dengan pandangan yang masih ke depan.
Dia masih belum merasakan
adanya sentuhan. Mungkinkah saking marahnya Wergon dan Filhener padanya, hingga
mereka tidak mau menerima apa yang dia ulurkan, pikirnya. Sejenak, dia
mengalihkan muka jengkelnya ke belakang. Baru dia membuka mulutnya untuk
mengatakan sesuatu, Filhener sudah mendahuluinya.
“Bagaimana kami bisa
mengambilnya? Berpikirlah sedikit!”
Lytro lupa kalau kedua
tangan mereka masih diborgol ke belakang. Ekspresi wajah dongkolnya langsung
berubah menjadi wajah yang penuh malu, walaupun berusaha menyamarkannya.
Kemudian, Lytro menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Dia membalikkan tubuhnya
ke belakang seraya merogoh sesuatu dari dalam saku celana kanannya.
Bunyi dencing dari hasil
rogohannya terdengar. Satu per satu dengan tetap di dalam mobil, semua borgol
akhirnya terlepas. Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein tidak mengerti dengan
maksud Lytro tersebut. Namun sebelum pertanyaan terlontar dari mulut salah satu
keempatnya, Lytro langsung angkat bicara.
“Sekarang kalian bertanggung
jawab untuk menjelaskan ini padaku!” kata Lytro seraya memperlihatkan lagi
monitor genggam itu pada Wergon dan Filhener.
Wergon mengambil monitor
genggam itu. Bersama Filhener, dia melihat tayangan video yang sebelumnya sudah
di-stand by oleh Lytro. Migo dan Rekshein yang duduk di jok paling
belakang, ikut penasaran dan mengangkat kepala mereka dengan muka di antara
Wergon dan Filhener yang duduk di jok tengah, untuk bersama melihat tayangan
tersebut. Kerutan di dahi mereka mulai tampak. Mulut mereka perlahan terbuka.
Kemudian, masing-masing gigi mereka saling menekan saat detik terakhir tayangan
tersebut. Wergon dan Filhener kembali menatap muka Lytro, dengan kegelisahan.
“Apa ini?!” tanya Filhener
pada Lytro.
“Seharusnya, aku yang
bertanya!” sahut Lytro.
“Aku tidak pernah tahu kalau
mereka pernah membuat film ini,” kata Wergon.
“Apa kau tahu orang lain
yang bersamanya?!”
“Dia Vuklir Rebhoyer, teman
kerja kasir.”
“Bisa kau langsung
menjelaskannya padaku apa yang ada di otakmu saat ini?! Aku benar-benar bingung
dengan semua kebingungan ini!” sahut Filhener kesal.
“Bagaimana aku bisa
menjelaskannya jika tidak satu pun dari kalian yang tahu dengan video ini!”
jawab Lytro.
“Bagaimana kami bisa tahu,
sementara Jordan sendiri yang memercayakan itu padamu!”
“Kau yang selama ini dekat
dengan Jordan! Seharusnya, kau yang lebih tahu maksud gerak geriknya!”
“Mungkin memang tidak
seharusnya Jordan tetap memercayaimu!”
“Berhenti bicara tentang
kepercayaan! Kau lebih parah karena membiarkan temanmu bertarung sendirian
dengan naga yang kelaparan! Apa itu yang disebut teman! Jika kau tidak mampu
mencegahnya, seharusnya bertarunglah bersamanya!”
“Kau sendiri seorang
pengkhianat! Dulu kau mengkhianati kami, sekarang kau ingin mengkhianati Volan!
Setidaknya, aku masih berpihak pada teman-temanku!”
“Cukup!” hardik Wergon,
“Telingaku hampir jebol karena dengingan kalian! Pelan-pelan saja, Bung! Dan
kau mungkin kali ini jadilah dirimu yang biasanya lebih pendiam, Fil! Biarkan
aku yang bicara!”
“Dengarkan baik-baik!”
lanjut Wergon agak tenang pada Lytro, “Aku benar-benar tidak tahu dengan video
ini. Kalaupun video ini benar, mungkin itu alasannya Jordan mengubah alur
rencana kami sebelumnya.”
“Apa?” kata Lytro seraya
mengerutkan keningnya.
“Ya. Dia semakin
terburu-buru untuk membunuh Volan.”
“Jadi maksudmu, semua ini
benar-benar rencananya?”
Wergon menganggukkan kepala.
Lytro terlihat begitu lemas
menyadari hal itu. Sambil memukulkan salah satu tangannya beberapa kali pada
setirnya, dia berkeluh, “Bodoh! Bodoh! Kenapa ada saja manusia bodoh seperti
dirimu, Jordan!”
Lytropun menjambak keras
rambutnya dengan tangan yang habis dipukulkan pada setirnya. Dengan pandangan
gelisah, Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein saling bertatap muka melihat
tingkah Lytro tersebut.
“A, a, aku mengerti
perasaanmu. Dia hanya ingin menyelesaikan kejadian mengerikan di masa lalu.
Mungkin dengan cara itu, semua hal yang tidak masuk akal ini akan berakhir,”
jelas Wergon.
“Aku tidak peduli dengan si
pemegang busur dan tongkat. Aku juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku
hanya berpikir kenapa Jordan mau melakukan itu hanya untuk membuat si merah itu
muncul ke permukaan.”
“Apa?!” ucap Filhener
terkejut.
“Ya. Kau ingin tahu rencana
terakhirmu? Untuk kembali percaya padaku. Dia ingin aku menggantikan posisinya.
Akulah harapan yang dia maksud.”
“Kalau memang seperti itu,
lalu siapa yang akan menggantikan Volan?” gumam Filhener pelan.
Wergon yang mendengar gumam
Filhener tersebut, langsung terdiam merenungkan kembali pesan yang pernah
disampaikan Jordan untuknya.
“Jika itu tidak berhasil
padanya, maka kusarankan kalian berdua untuk tetap bersama. Jangan biarkan
kebencian dan kecemburuan tumbuh di hati kalian.”
Wergon menarik napas
keterkejutan. Dengan mulut yang terbuka lebar, dia menahan napasnya, seperti
orang yang kesulitan bernapas.
“Ce, cepat, Bodoh! Sudah
tahu teman kita akan saling membunuh, bukannya langsung mencari mereka, malah
berpikir lama di sini!” hardik Wergon, “Jordan tidak akan membunuh Volan! Tapi,
dia akan membiarkan dirinya terbunuh oleh Volan!”
Semua pendengar terperangah
mendengarnya. Tanpa banyak kata lagi, Lytropun langsung menancap gas dengan
laju mobil yang lebih cepat dari sebelumnya.
Sementara pertarungan dua
bersaudara masih berlanjut. Jordan terus-menerus mengarahkan ketajaman
pedangnya pada Earon. Bahkan, Earon hampir terkena tebasan pedang tersebut di
lehernya. Namun karena kecekatannya pula dalam menghindari serangan Jordan,
Jordanlah yang justru terkena pukulan dari busur Earon, hingga Jordan
mengeluarkan darah di hidungnya.
Pertandingan berhenti
sejenak. Jordan mengusap hidungnya yang berdarah. Sementara Earon tersenyum
sinis melihatnya.
“Itulah akibat dari
aroganmu! Tapi, aku akan mengakhirinya segera,” ucap Earon.
Earon mengeluarkan sebuah
anak panahnya lagi. Jordan melihat ada yang berbeda dari anak panah yang kini
dikeluarkan oleh Earon. Warna emas mengkilap terlumuri di pisau panahnya. Dan
tampaknya, Jordan pun tidak terkejut dengan hal itu. Dia kemudian menutup
pedang di balik jubahnya dan mengambil busur serta satu anak panahnya.
“Aku akan memberitahumu satu
hal. Aku tidak terlalu mahir menggunakan pedang. Dan kurasa, kali ini kau harus
lebih berhati-hati. Karena mungkin saja sentuhan anak panahku bisa mengisap
nyawamu dalam hitungan detik. Lebih cepat dari pada serbuk bunga aones, bukan?”
kata Jordan.
Earon terkejut mendengar
kalimat terakhir itu.
“Hm!” jawab Earon, “Jangan
salah sangka. Ada tujuan kenapa aku memilih serbuk aones. Karena aku akan lebih
senang melihatmu menderita, merasakan sakitnya racun aones mengalir dalam
darahmu sedikit demi sedikit. Semakin lama aones mencabut nyawamu, semakin kau
tahu bagaimana penderitaan yang selama ini kujalani karena dirimu.”
Jordan hanya bisa tersenyum
sinis mendengarnya, menyamarkan kegelisahan di wajahnya.
Angin dingin berembus
mengenai tubuh mereka. Earon kembali memulai pertarungan dengan melepaskan anak
panahnya. Begitu juga dengan Jordan, dia melepaskan anak panah bermata cangkir
isapnya yang terbuka di udara, yang kemudian mengenai tepat pada mata anak
panah yang dilepaskan Earon. Seperti halnya pertarungan yang pernah mereka
lakukan sebelumnya, kombinasi antara hantaman, tendangan, tangkisan,
cengkeraman, tarikan, dorongan, lepasan anak panah dari jarak dekat maupun
jauh, menjadi bumbu pokok ketegangan pertandingan itu. Begitu banyak luka memar
yang telah mereka terima, tapi belum satu pun yang mau menyerah. Mereka terus
saja bangkit, melawan satu sama lain, meskipun sampai harus titik darah yang
penghabisan. Sampai pada akhirnya, merekapun saling melepaskan anak panah, lalu
bersembunyi untuk mengambil beberapa napas, sekaligus memikirkan taktik untuk
bisa melumpuhkan masing-masing lawan yang sangat tangguh itu.
Earon bersembunyi di balik
dinding penyangga gedung. Dalam napasnya yang terengah-engah, dia memegang
sebuah anak panah sambil menahan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhnya.
Dia berpikir sejenak, lalu genggaman pada anak panahnya semakin kencang, diikuti
kemantapannya pada ide yang terlintas dalam pikirannya. Hanya tinggal satu anak
panah itu yang dia miliki, artinya hanya ada satu kesempatan yang tidak boleh
dilewatkan.
Sementara Jordan bersembunyi
di balik tumpukan drum dan peti kotak kayu. Napasnya pun masih mengembus
keras-keras sambil memegang busurnya dengan salah satu tangan yang meremas
dada. Suara rintihan kecil juga terdengar di balik rasa sakit yang ditahannya.
Tiba-tiba, sekejap pandangannya mulai kabur. Kedua matanya juga terasa begitu
berat. Terlintas dalam pikirannya untuk menyerah dan lebih baik bersandar untuk
mengobati lukanya. Namun, tekadnya untuk menyelesaikan misinya, membuatnya
harus tetap bertahan dalam situasi apapun. Dia memejamkan mata sejenak sambil
mengambil beberapa napas kekuatan, yang barangkali dapat memulihkan tenaganya.
Saat dirasa cukup, pelan-pelan kedua matanya terbuka. Ketika kedua matanya
terbuka penuh, pandangannya tiba-tiba terdiam pada sesuatu di depannya.
Ternyata, Earon telah berdiri sambil menodongkan anak panahnya pada Jordan.
“Sudah berakhir,” ucap Earon
seraya mengendurkan jari-jarinya pada tali busur yang ditariknya.
Tapi belum sempat semua jari
Earon terbuka, Jordan dengan cepat berdiri dan menyerangnya. Earon justru
sangat kaget dengan tindakan spontan Jordan yang bagaikan serudukan banteng
gila itu. Dia pun mundur beberapa langkah untuk menghindari Jordan. Namun,
tangan Jordan berhasil meraih busur Earon hingga terlepas dari genggamannya.
Earon yang kini tanpa busur, berusaha mengarahkan anak panah yang masih di
genggamannya pada Jordan. Mereka kembali memulai pertarungan dengan jarak
dekat. Pukulan dan hindaran masih menghiasi pertarungan itu. Namun, tampaknya
mereka tidak ingin lagi berlama-lama untuk bertarung. Jordan langsung menarik
satu anah panah dari wadahnya yang disandang, lalu dengan tangan, dia
mengarahkannya pada Earon yang sangat dekat dengannya. Earon yang tidak mau
melepaskan kesempatan terakhirnya, juga mengayunkan ujung mata emas anak
panahnya yang muncul dari balik pinggangnya, mengarah tepat pada Jordan. Dia
yakin kalau kali ini anak panahnya dapat mengenai Jordan, meski ada sedikit
pengorbanan yang harus dia lakukan.
Busur Jordan terjatuh di
antara injakan kaki keduanya. Lengan kanan Jordan merangkul pundak Earon,
dengan genggaman anak panahnya yang telah menempel pada bahu belakang Earon.
Tampak pula darah yang menetes di dekat busur Jordan. Embusan napas terdengar
satu sama lain di telinga mereka yang berdekatan. Kemudian, Jordan membisikkan
sesuatu di telinga Earon sebelum efek racunnya bekerja.
“Maafkan aku…. Kakak,”
katanya seraya memperkencang rangkulannya.
Mata Earon langsung
terbelalak begitu kalimat tersebut terucap, yang disambung dengan terpejamnya
kedua matanya.
Jordan merasakan tubuh Earon
yang semakin menggantung. Diapun melepaskan dekapannya sambil mencabut anak
panah bermata cangkir isap dari bahu Earon. Tubuh Earon hanyut ke tanah,
diikuti dengan terbukanya genggaman tangan kiri Jordan yang telah menahan pisau
panah Earon, di bawah dadanya. Jordan melihat tubuh kakaknya terkapar di
hadapannya. Dia terus mengamatinya seolah-olah memastikan bahwa Earon
benar-benar sudah mati.
Tidak lama kemudian,
pandangan Jordan kembali kabur. Dia mulai merasakan sakit luar biasa yang
merambat di tubuh, mengikuti aliran darahnya. Dia mengangkat telapak tangan
kirinya yang berlumuran darah dan membayangkan kematian yang tidak lama lagi
akan menjemputnya. Namun, dia justru tersenyum singkat membayangkan hal itu,
yang kemudian langsung menjatuhkan tubuhnya di samping mayat Earon.
Di suatu tempat dengan
hiasan cahaya merah suram.
Senyum kepuasan tampak dari
wajah si pemegang tongkat.
“Volan sudah mati dan Jordan
sedang sekarat,” katanya.
Vuklir langsung mengangkat
mukanya, mengetahui tuannya sudah terbangun.
“Bangunlah tongkat
Pridiatick!” katanya seraya melepaskan jari-jarinya yang memegang tongkat.
Tongkat itupun melayang
tegak di antara kedua tangannya yang teranjur.
“Wujudkan apa yang dahulu
tidak dapat diwujudkan oleh generasi pendahuluku! Lenyapkan semua harapan
manusia menjadi jeritan keputusasaan, hingga mereka tunduk padaku! Penuhi dunia
ini dengan bayangan kejahatan sampai mereka menjadi pengikutku!”
Pangkal tongkat Pridiatick
menancap keras ke bawah tanah untuk memenuhi perintah tuannya tersebut. Getaran
melingkarnya meruntuhkan bangunan yang menjadi kediamannya, sekaligus membuka
kuncup yang berbentuk bunga aones pada ujungnya sampai mekar sempurna. Cahaya
merah dari berlian yang menjadi kepala sarinya, menyala terang dan memancar
hingga menembus langit. Awan suram berkumpul dan berputar dengan cahaya itu
sebagai pusatnya. Langit perlahan menjadi gelap kemerahan.
“Efek racun Fordien hanya
menghentikan detak jantung. Tapi, yang dibuat Jordan bisa menghentikan semua
kerja organ di dalam tubuh,” jelas Wergon.
“Aku tidak tahu harus
kusebut anak itu terlalu cerdas ataukah terlalu bodoh!” sahut Lytro dalam
suasana hati yang masih kesal dan tegang, “Dari mana dia mempelajari semua
itu?!”
Mendadak Lytro langsung
menginjak remnya, melihat mobil di depannya tiba-tiba berhenti. Dia kemudian
membunyikan klaksonnya tiga kali pada mobil itu. Bukannya segera menyingkir,
tapi sopir mobil itu malah turun sambil memandang sesuatu. Melihat orang-orang
sekitarnya juga melakukan hal yang serupa, Wergon, Filhener, dan Lytro
mengerutkan keningnya atas rasa penasarannya.
“Hei, hei, lihat!” ucap Migo
tiba-tiba, seraya menepuk-tepuk dan mengoyang-goyangkan pundak Filhener, “Apa
itu?!”
Migo menunjuk ke langit arah
jam sembilan. Semua penumpang langsung mengarahkan pandangannya pada sesuatu
yang ditunjuk Migo, yang sekaligus membuat mereka terbungkam dengan mulut
menganga. Perlahan mereka membuka pintu mobil dan keluar, dengan pandangan yang
terus tertuju pada sesuatu yang mereka lihat itu.
Jordan terbaring lemas
dengan tatapan mata yang mulai layu. Dia tidak bisa lagi merasakan keberadaan
tubuhnya. Jari-jarinya tidak bisa lagi dia gerakkan. Angin dingin yang berembus
pun tidak dapat dia rasakan. Sesuatu yang masih bisa dia gerakkan adalah
kedipan matanya dan sesuatu yang masih bisa dia rasakan adalah rasa sakit di sekujur
tubuhnya. Jordan dapat melihat gumpalan awan hitam pekat, menutupi langit
kelabu, yang dihiasi dengan kilatan tipis warna merah dari balik awan tersebut.
Dalam tatapannya yang diam terukir kelegaan hatinya yang kini telah pasrah
kepada harapan teman-temannya.
Sementara situasi di lain
tempat, baik di dalam maupun di luar gedung, orang-orang langsung menghentikan
kegiatannya dan menyaksikan ketakjuban cahaya merah yang memancar ke langit.
Cahaya itu bagaikan tiang penyangga dari gumpalan langit gelap sejauh mata
memandang.
“Apakah itu maksud dari
semua ini?” tanya Filhener yang masih terheran-heran.
“Sudah terlambat,” sahut
Wergon resah.
“Apa itu pertanda kalau
kiamat sudah tiba?” ucap Migo panik sampai-sampai ingin menangis, “Kita harus
pergi dari sini. Mungkin saja tanah ini akan runtuh. Aku, aku belum siap untuk
mati.”
“Tenangkan dirimu, Kawan!”
gertak Filhener.
Migo langsung terdiam.
“Kita harus segera menemukan
mereka,” ucap Lytro mencoba tetap tenang, “Ayo, semuanya masuk!”
“Kita akan lewat mana?!” seru
Wergon saat Lytro hendak mengangkat kakinya, “Banyak kendaraan yang bertaburan
di jalanan. Kita tidak bisa menggunakan mobil lagi.”
Lytro menghela napas
sejenak. Sesaat setelah napasnya diembuskan, dia mendadak sontak berlari
melewati orang-orang yang sedang terhipnotis oleh cahaya itu. Wergon, Filhener,
Migo, dan Rekshein yang melihat reaksi Lytro tersebut, langsung ikut menyusul
tanpa mengeluarkan kata.
Bersabarlah, bisikan itu
tiba-tiba terdengar lagi di telinga Jordan dan mungkin akan menjadi bisikan
terakhir yang terdengar di detik-detik kematiannya. Namun pada kesempatan yang
singkat itu, Jordan justru menyempatkan diri untuk memikirkan bisikan itu.
Sebenarnya, apa maksud dari bisikan itu. Suara siapa pula yang dipakai dalam
bisikan itu. Apakah itu suara hati nuraninya atau mungkin suara dari busurnya
atau justru suara sama dari bisikan yang pernah mengancamnya sebelum terjadinya
kebakaran yang menewaskan orang tuanya. Jika itu adalah suara ancaman yang sama
pada malam itu, lalu kenapa masih saja terdengar di pikirannya, setelah
akhirnya suara itu memperlihatkan dirinya pada dunia. Tapi apapun yang sedang
dipikirkan, Jordan tidak mampu lagi untuk terlalu dalam memikirkannya. Dia
tidak lagi memedulikan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam
pikirannya itu. Tidak saat hidupnya benar-benar seperti telur di ujung tanduk.
Sekitar empat puluh lima
menit setelah kematian Earon.
Dalam suasana mimpi dengan
pandangan kabur yang merambat terbuka, Earon melihat sebuah bayangan yang
perlahan berjalan mendekatinya. Bayangan seseorang yang memakai gaun merah
dengan jahitan kain memanjang yang berkibaran terkena angin yang belum dapat ia
rasakan embusannya. Pandangannya mulai jelas dan semakin jelas. Kemudian,
dahinya mengerut ketika pikirannya mulai bisa menduga-duga wajah orang
tersebut. Diapun menegakkan tubuhnya yang awalnya terbaring menyamping, dengan
tangan sebagai penopangnya.
“Vurpia?” gumamnya ragu.
Tatapan mata Earon
terperanjat senang ketika dia kemudian yakin dengan tebakannya tersebut.
“Vurpia? Kaukah itu?”
serunya dengan perasaan girang dan haru.
Vurpia tersenyum manis
menatap dirinya sambil menghentikan langkahnya sekitar tujuh meter darinya.
Kemudian, Earon langsung bangkit berdiri untuk menyambut Vurpia.
“Kau di sini. Aku senang
melihatmu masih hidup, Vurpia. Atau aku yang sudah mati?”
“Kau masih hidup, Earon?”
sahut Vurpia dengan suara lembut.
“Benarkah? Itu artinya kau
pun masih hidup.”
“Memang.”
Earon sangat terharu
mendengarnya. Bahkan, matanya berkaca-kaca menahan keharuannya itu.
“Aku tidak pernah bisa
mati,” lanjut Vurpia.
“Ya. Kau memang akan selalu
hidup dalam hatiku, Vurpia,” ucap Earon dengan langkah ringannya menuju Vurpia.
Vurpia langsung menjulurkan
tangan kanannya lurus ke depan dengan memperlihatkan telapak tangannya yang
terbuka sempurna. Earon sekaligus berhenti melihat hal itu, ketika mendapatkan
langkah ketiganya.
“Ada apa, Vurpia?” tanya
Earon heran, melihat senyuman Vurpia yang ikut memudar, “Pada akhirnya kita
dipersatukan kembali. Aku sangat merindukanmu.”
Vurpia tertawa kekeh
mendengar ungkapan Earon tersebut. Tawanyapun seketika berhenti dan berkata,
“Kau pikir, aku hewan peliharaanmu yang kapan saja bisa kau peluk? Kau pikir,
aku juga senang melihatmu masih bisa berdiri?”
Earon mengerutkan keningnya,
tidak mengerti dengan kata-kata tersebut. Namun dalam kebingungannya itu,
senyum lega nan tipis masih terukir di raut muka Earon.
“Apa yang kau bicarakan? Oh
ya, heheh! Kau memang belum berubah. Bahkan di dunia roh ini, kau masih sempat
membuatku takut dengan kata-katamu. ”
“Dunia roh?”
Pandangan Vurpia ke bawah,
berpikir sejenak.
“Hhmmm, ya…,” lanjutnya,
“Aku lupa kalau aku sekarang bisa mengantarmu ke dunia itu. Mungkin di sana,
kau bisa bertemu dengan orang tuamu.”
Earon terkejut mendengar
ucapan Vurpia yang tidak biasa itu. Kemudian, dia menatapi sekelilingnya,
tempat yang sama saat terakhir kali dia bertarung dengan Jordan. Hanya saja
langit terlihat begitu aneh, bahkan suasana sekitarnya pun terasa begitu hampa.
Dia membalikkan pandangannya ke belakang dan melihat tubuh Jordan yang terkapar
di dekat tempat sebelumnya dia terbaring.
“Jordan,” ucapnya dalam hati
dengan tatapan yang masih mengarah pada Jordan, “Apa aku masih hidup?”
Dia kemudian meraba-raba
tubuhnya untuk memastikan bahwa dia benar-benar masih hidup dan tidak sedang
berada di dunia mimpinya. Walaupun demikian, Earon masih bingung dengan keadaan
yang sedang terjadi pada dirinya.
“Aku masih hidup,” gumamnya
seraya membalikkan pandangannya kembali pada Vurpia, “Kalau aku masih hidup,
bagaimana kau…. Siapa kau?”
“Aku adalah wanita yang kau
kagumi.”
“Berhenti bicara seolah kau
adalah Vurpia! Kau bukan Vurpia!”
“Kau memang keras kepala,
Earon. Tapi berkat sifatmu itu, si parasit berhasil disingkirkan. Parasit itu
memang sangat cerdik. Dia berhasil menipuku dengan memalsukan kematianmu. Tapi
sayang, dia tidak tahu jika tongkat sudah ditancapkan, maka tidak akan ada yang
bisa kembali.”
“Apa maksud ucapanmu itu?!”
“Oh! Jadi, sekarang kau lupa
kalau adikmu adalah seorang parasit.”
Earon sangat terkejut.
“Bukankah dia satu-satunya
parasit dalam hidupmu?” lanjut Vurpia, “Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin
kuberitahu padamu. Ini tentang kebakaran yang menewaskan orang tuamu. Kau masih
ingat, kalau kebakaran itu disebabkan oleh terpaan angin yang mengembus nyala
lilin di kamarmu? Sebenarnya, ada orang yang sengaja membuka pintu jendelanya
dan membuat anginnya menjadi besar. Kau ingat, kalau orang tuamu terjebak di
kamarnya, sehingga mereka tidak selamat? Sebenarnya, orang itu pula yang
mengunci pintu kamar itu. Kau ingin mengetahui siapa orang keji itu? Dia adalah
si pemegang tongkat Pridiatick.”
Kesal, bingung, penasaran,
dan heran, begitulah suasana campur aduk di hati dan pikiran Earon saat ini.
Namun, dia belum mampu untuk berkata apapun dan mencoba memahami maksud perkataannya
dengan terus mendengarkannya.
“Dia adalah aku! Dan aku
adalah Vurpia!” tegas Vurpia.
Tatapan mata Earon langsung
terbelalak. Dia begitu kaget dan napasnya tertahan sejenak. Kata-kata itu
bagaikan petir yang menyambar hatinya hingga hancur berkeping-keping. Semua
perasaan dapat dia rasakan dan sedang bergelut dalam hatinya.
“Tapi, bagaimana kau bisa
melakukan semua itu? Kenapa kau melakukan semua itu padaku? Apa salahku
padamu?!”
“Aku tahu ini akan sangat
sulit dijelaskan untuk orang seperti dirimu. Tidak ada cara lain untuk
membuatmu mengerti. Lihatlah!”
Vurpia memberikan tatapan
lebarnya pada Earon, begitu pula dengan Earon yang menatap dalam mata Vurpia,
hingga dia dibawa masuk ke dalam penglihatan masa lalu para pemegang tongkat
Pridiatick pendahulu. Dia melihat kilas balik dari alasan pemegang Pridiatick
pertama menciptakan tongkat tersebut, hingga akhirnya dia dan para generasinya
memutuskan untuk terus mengadu domba para pemegang busur sampai mereka saling
membunuh.
Earon langsung tersentak begitu
dia kembali dari penglihatan mengerikan itu. Napasnya mengembus keras-keras,
jantungnya berdebar kencang, dengan tubuh yang bermandikan keringat. Dia sangat
ketakutan sampai-sampai meneteskan air matanya karena tidak kuasa lagi
membayangkan malapetaka itu.
“Aku bersandiwara menjadi
teman baikmu, bahkan calon istrimu, hanya untuk mengetahui kelemahan kalian,”
jelas Vurpia, “Aku mencoba berbagai cara untuk memisahkan kalian, tapi kalian
sudah terlalu dekat, bahkan hampir tidak ada celah untuk dapat dipisahkan.
Untuk itulah, aku merencanakan kematianku dengan membawa semua bukti tuduhan
yang mengarah pada Jordan.”
Earon meneteskan air matanya
kembali, mendengar pengakuan tersebut. Dan dari tatapan kesedihannya, dia pun
begitu kecewa dan sangat marah pada Vurpia.
“Itu berhasil. Kau akhirnya
begitu membenci Jordan sama seperti masa kecilmu dan Jordan pun akhirnya berani
untuk merencakan pembunuhanmu. Tapi, sandiwara Jordan ternyata lebih pintar
dari yang kuduga. Kau ternyata masih bisa berdiri di depanku. Tapi, aku juga
senang karena dia sebentar lagi akan menyusul orang tuamu.”
Earon langsung menoleh ke
belakang melihat muka pucat dan lemah Jordan dengan mata yang telah terpejam.
Air mata penyesalan mengalir deras di pipinya. Kini, Jordan terbaring tidak berdaya.
Dia pun tidak tahu harus berbuat apa, selain meluapkan kemarahannya dengan
kepalan kencang kedua tangannya.
Dengan pelan, mukanya
kembali menatap Vurpia seraya berkata, “Jadi, selama ini kau yang telah mengadu
domba kami?”
“Tidak,” jawab Vurpia, “Kau
sendiri yang membawa rencanaku sampai ke tujuan itu.”
Earon sangat kesal dan tidak
mampu lagi menahan nafsu amarahnya.
“Kubunuh kau!” serunya
sambil mengeluarkan pistol dan menembakkannya pada Vurpia.
“Masih saja keras kepala,”
gumam Vurpia yang kemudian langsung mengibaskan tangan kanannya ke kanan,
begitu juga tangan satunya yang mengibas ke arah kiri.
Kibasan tangan Vurpia seolah
memberikan angin mematikan yang meretakkan tanah arah kibasannya, sekaligus
melongsorkan tanah daerah retakan tersebut hingga menjatuhkan Earon dan Jordan.
Peluru Earonpun tidak sampai mengenai Vurpia, karena arah peluru yang
terperanjat beralih, saat kaki Earon terpelosot.
Vurpia melihat Earon,
Jordan, dan dua busur terkapar bersama reruntuhan tanah sedalam lima meter.
Mereka sudah tidak berdaya, tidak mempunyai harapan lagi, dan pastinya
memutuskan untuk menyerah dan mati di tempat itu. Vurpia bisa saja mengubur
mereka hidup-hidup, tapi dia lebih senang melihat mereka mati perlahan dalam
penyesalan dan rasa sakit. Maka dari itu, dia memutuskan untuk langsung pergi
meninggalkan keduanya.
Busur emas dan busur perak
seolah membisu, melihat nasib serupa yang terus dialami oleh tuan-tuan mereka
sejak awal mereka dipegang. Mereka pun merasakan kehampaan harapan manusia yang
tidak mampu lagi menumbuhkan rasa cinta dan kepercayaan. Apakah ada di antara
umat manusia yang pantas untuk memegang mereka. Masih adakah orang yang mampu
menumbuhkan rasa cinta dan kepercayaan itu. Namun, jika pun masih ada yang akan
memegangnya kembali, kedua busur itu akan selalu tetap menyerahkan harapan itu
padanya. Harapan untuk bisa menghidupkan mereka kembali.
No comments:
Post a Comment