CHAPTER 15: AKHIR DARI PENDERITAAN

 

Waktu begitu cepat berlalu. Cahaya merah dari arah timur telah merambat naik, yang hanya terlihat sedikit dan sebentar saja, kemudian tertutup lagi oleh kabut hitam yang menjadikan hari itu terasa sangat suram.

Begitu sampai di van, Wergon dan Filhener langsung didorong masuk keras-keras oleh polisi yang mengawalnya, bahkan hingga terjatuh sampai-sampai kedua lutut mereka menyentuh alas. Perlakuan tersebut tentu memancing emosi Filhener yang langsung membalikkan pandangannya pada polisi-polisi itu seraya berkata, “Bisakah kalian sedikit lembut?!”

Namun, seketika dia dikejutkan oleh perlakuan berbeda yang dialami oleh Migo dan Rekshein. Mereka tidak diperlakukan sekeras dirinya. Mereka bahkan masih bisa berdiri tegak saat memasuki van penjara. Wergon yang juga melihat hal itu, melanjutkan luapan emosi Filhener.

“Mungkin kami lupa untuk mengucapkan terima kasih atas kesempatannya tadi, tapi kenapa kalian tidak pernah bisa adil terhadap kami?” kata Wergon kesal.

Lytro diikuti Earon ikut masuk dalam van tersebut yang kemudian para polisi kawal meninggalkan keenamnya dengan pintu yang ditutup rapat-rapat. Sepertinya, kedua agen itu berniat menginterogasi keempat tersangka untuk mengetahui keberadaan Jordan.

“Kau benar. Kami memang tidak cukup adil pada kalian berdua. Akan sangat adil jika seharusnya kami langsung menembak mati kalian di sini. Dengan begitu, masalah selesai,” sahut Earon.

“Heh!” ucap Filhener dengan senyuman licik, “Kalau begitu, lakukanlah!”

Earon merasa jengkel dengan sikap congkak Filhener tersebut. Tanpa ragu, Earonpun langsung mengambil satu buah anak panah yang dia sandang, lalu membidikkannya ke arah Filhener, dengan busurnya. Migo dan Rekshein yang melihat hal itu hanya bisa terdiam takut dan gelisah.

“Dengan sangat senang hati,” ucap Earon dengan muka datar, “Jadi, siapa dulu yang ingin merasakan kelembutan anak panahku?”

Suasana menjadi hening. Filhener dan Wergon menatap tajam mata Earon.

“Kau pikir kami aka….”

Tiba-tiba Filhener langsung terbungkam saat merasakan angin tajam yang menggores rambut sampingnya. Dia tidak berkutik dengan pandangan diam yang masih tertuju pada Earon dan mulut yang meninggalkan kata terakhir yang terucap.

Suasana menjadi hening kembali. Wergon melihat pandangan kilas Migo, Rekshein, dan Lytro pada sesuatu di belakangnya. Dengan perlahan, Wergonpun menoleh ke belakang, penasaran terhadap sesuatu yang membuat suasana menjadi sunyi. Dia sangat terkejut ketika melihat anak panah Earon telah tertancap di dinding ruangan, yang langsung membuat pandangannya berpaling kembali pada busur yang dibawa Earon untuk memastikan bahwa anak panah itu bukanlah anak panah yang dilepaskan oleh Earon. Namun, keraguannya ternyata salah. Tidak ada anak panah yang menempel pada busur Earon. Diapun hanya bisa terperangah heran sambil bertanya dalam hati, “Kapan dia melakukannya?”

Namun, tidak. Wergon dan Filhener tidak boleh terbuai oleh ketakjuban permainan panah Earon. Merekapun segera menyadarkan diri.

“Kau memang tidak akan berani membunuh kami,” ketus Filhener.

“Pada dasarnya, kalian membutuhkan kami untuk mencari tahu lokasi Jordan,” lanjut Wergon.

“Bahkan sampai detik ini pun, kalian tidak henti-hentinya merepotkan kami. Kalian selalu membutuhkan kami. Tapi, apakah ini wujud dari balas budi kalian?” kata Filhener sambil memalingkan tatapan tajamnya ke arah Lytro yang berdiri di samping Earon.

“Tidak, Fil. Kitalah yang terlalu bodoh untuk dimanfaatkan oleh mereka. Seharusnya, kita tahu kalau kita hanya dijadikan anjing peliharaan bagi mereka. Begitu si anjing melawan majikannya, saat itulah si majikan mengeluarkan tongkat dan memukulkannya tanpa rasa hormat.”

Earon hanya terdiam gemetar mendengar ocehan Wergon dan Filhener. Namun di balik kebisuannya itu, mukanya telah memerah dengan gigi-giginya yang saling menekan keras dan kedua tangannya yang mengepal kencang, yang menandakan bahwa dia sedang berusaha menahan kemarahan yang luar biasa.

“Benar. Mungkin itu pula yang dialami Jordan saat bersama mantan kakaknya!” ucap Filhener menggeram seraya meliriki Earon.

“Diaaam!” hardik Earon seraya mengayunkan busurnya, yang tidak sanggup lagi menahan panas di hatinya.

Tapi kemudian, ayunan busur itu tiba-tiba berhenti. Lytro telah menahan tangan Earon saat busurnya hampir mengenai kepala Filhener.

“Tidak, Earon,” kata Lytro dengan nada tenang, “Bukan seperti ini cara yang tepat untuk mengatasi mereka.”

Earon menatap muka Lytro. Dari tatapan itu, dia mencoba memahami Lytro. Pelan-pelan, emosinyapun mulai kendur diiringi dengan merendahnya tangan Earon yang membawa busur. Lytro pun merasa bahwa Earon memercayainya, maka dia melepaskan cengkeramannya dari tangan Earon.

“Baiklah,” ucap Lytro sambil memalingkan mukanya kembali pada Wergon dan Filhener yang masih dalam kondisi bertekuk lutut, “Seperti yang kalian inginkan. Maafkan kami atas semua yang pernah kami lakukan pada kalian. Kami janji tidak akan berlaku kasar pada kalian.”

“Bagaimana denganmu, Tuan pemarah?” sahut Filhener pada Earon.

Sejenak Earon terdiam seolah memikirkan sesuatu. Kemudian, dia menghela napas panjang.

“Lytro benar. Kami tidak akan mengasari kalian lagi. Kami juga akan melindungi martabat kalian, jika ada seseorang yang berani merendahkan kalian. Tapi, kami tidak bisa membela atas kejahatan yang telah kalian lakukan. Itulah janjiku pada kalian,” ujarnya.

Wergon dan Filhener tersenyum lebar mendengarnya.

“Sekarang, katakan di mana Jordan?” lanjut Lytro.

Senyuman lebar Wergon langsung berubah menjadi tawa.

“Hahaha…. Jadi, itu trik kalian untuk menundukkan kami? Kau pikir, dengan kata-kata manis itu dapat memberikan jawaban pertanyaan terpentingmu itu? Tidak. Kami tidak akan pernah memberitahu keberadaan Jordan,” ucapnya.

Earon dan Lytro saling bertatapan muka sejenak.

“Kami janji tidak akan memberitahu dia kalau kalianlah yang menyampaikan informasi ini,” kata Lytro.

Senyuman Wergon seketika memudar setelah mendengar ucapan tersebut.

“Kau pikir, Jordan mengancam kami untuk melakukan semua ini?” katanya dengan muka kecewa.

“Memang begitu yang terjadi. Dan sudah menjadi bagian dari kelicikannya,” sahut Earon.

“Kurasa, penting bagimu untuk mengetahui beberapa hal. Dengar! Tidak pernah sedikit pun Jordan berniat untuk meresahkan kami, apalagi dengan ancaman! Kami rela melakukan semua ini, bahkan sampai berani di depanmu, karena kami percaya padanya! Kau pikir, dia mempengaruhi kami? Ya, itu benar. Dia mempengaruhi kami dengan semua kebaikan yang dia berikan kepada kami! Aku hanya tidak menyangka, orang-orang yang berpihak pada kebajikan sepertimu, justru tidak mengenal apa itu….”

“Cukup, Wergon!” sahut Filhener memotong perkataan Wergon, “Percuma kita menjelaskannya pada mereka. Hanya akan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.”

“Apakah Jordan juga yang telah mengajari kalian berbicara seperti itu?” sindir Earon, “Kalau memang kalian tidak mau bicara, aku bisa menemukannya sendiri. Sifat arogan kalian tidak lain diturunkan dari teman kalian itu. Aku hanya bisa mengucapkan selamat menikmati sisa hidup kalian. Dan satu lagi, aku cabut semua janjiku. Kupastikan kalian menderita selama sisa hidup kalian itu! Karena kalian memang pantas menerimanya!”

“Tidak!” seru Rekshein tiba-tiba, yang diikuti oleh pengalihan semua tatapan yang mengarah padanya, “Jordan sekarang sedang menuju pelabuhan. Aku sudah memberitahu kalian. Kumohon, jangan siksa aku!”

Wergon, Filhener, dan Migo mengerutkan keningnya mendengar kedunguan Rekshein tersebut.

“Bodoh!” seru Migo menggeram sambil menunjukkan wajah kesalnya pada Rekshein, “Apa yang kau lakukan?!”

Dengan wajah bodoh, gelisah, dan mata yang berkaca-kaca, Rekshein menjawab, “Aku hanya tidak mau hidup menderita. Aku tidak mau hidup seperti ini. Kumohon, tarik janjimu kembali! Kalau boleh, bebaskan aku juga!”

Earon tidak sekaligus percaya dengan ucapan tersebut. Dia justru langsung mengalihkan pandangannya pada ekspresi wajah Filhener dan Wergon, setelah kata-kata itu dikeluarkan. Wergon yang menyadari pengamatan Earon tersebut, langsung mengubah ekspresi wajahnya yang semula bercampur terkejut, heran, dan jengkel menjadi muka pemikir yang sedikit tenang.

“Tidak seharusnya kami membawamu, Rekshein! Kau menghancurkan semuanya! Tidakkah kau bisa lebih bodoh dari itu?! Kenapa tidak sekalian kau memberitahu mereka kalau Jordan akan menaiki kapal?!” ucap Wergon kesal dalam sandiwaranya.

Mendengar hal itu, Earon tersenyum licik.

“Bagus. Inilah yang sebenarnya kuinginkan. Apa susahnya mengatakan ini sejak awal?” katanya.

“Apa?!” sahut Wergon terkejut yang seketika membuatnya menjadi gugup, “Tidak. Kau, kau. Tidak. Tidak. Kau. Jangan percaya!”

“Kau pikir bisa menipuku dengan sandiwaramu itu? Kau meluruskan informasi teman lugumu ini, seolah-seolah memang begitu rencana kalian yang mengandung kebohongan.”

“Kau sama bodohnya, Wergon!” ucap Filhener kesal.

“Jangan khawatir! Aku telah menarik janjiku kembali,” lanjut Earon.

Wergon begitu merasa khawatir dan gelisah. Dari raut mukanya, dia merasa sangat bersalah atas kegegabahannya itu.

“Kalau begitu, kau juga tidak akan menyakiti Jordan, `kan?” katanya cemas.

“Heh! Apakah tercantum nama Jordan dalam janjiku?”

Semua pendengar membisu gelisah.

“Artinya, aku punya bahasa lain yang lebih mudah dimengerti olehnya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir.”

Wergon dan Filhener tidak bisa berkata apapun lagi. Pikiran mereka penuh dengan kecemasan.

“Lytro. Siapkan semua polisi dan rencana penangkapannya!” ujar Earon.

Lytro menganggukkan kepalanya.

“Ya! Bawalah semua pasukanmu!” seru Filhener tiba-tiba, “Sebanyak apapun yang kau bawa, bahkan seluruh masyarakat Losapins, kau tidak akan pernah bisa menangkapnya! Semakin banyak pasukanmu, justru membuatnya lebih mudah mengalahkanmu!”

Earon menatap tatapan murka Filhener. Dari tatapan tersebut, Earon mencoba membaca sesuatu dari mata Filhener. Diapun mengedipkan kedua matanya sekali, kemudian berpikir sejenak.

“Biar aku sendirian yang pergi,” ujarnya yang langsung membuat Lytro terkejut.

“Jangan ceroboh, Earon! Kau tahu betapa cerdiknya Jordan,” jelas Lytro khawatir.

“Menurutmu, aku tidak lebih cerdik darinya?”

Lytro menghela napas sejenak.

“Bukan begitu. Jika kita bersama-sama menangkapnya itu akan lebih mudah, 'kan? Kita lakukan bersama!” katanya.

“Tidak. Percayalah padaku!” jawab Earon yang kemudian menepuk salah satu pundak Lytro, “Aku bisa mengurusnya.”

Melihat keyakinan dan kepercayaan diri Earon, Lytropun menganggukkan kepalanya, meskipun masih ada rasa berat di hatinya.

Earon membalikkan badan, berjalan menuju pintu van, lalu mengetuknya sebanyak lima kali. Pintupun dibuka oleh dua pengawal yang masih menjaganya dari luar. Dia melangkah keluar, meninggalkan Lytro yang gelisah memandangnya. Udara dingin yang langsung berembus mengenai tubuhnya, menyadarkan Lytro dalam tatapannya yang setengah melamun. Dia membalikkan pandangannya kembali pada Filhener dan Wergon yang masih berlutut di hadapannya. Menatap mata keduanya dan mencoba memahami maksud mereka sebenarnya.

Pagi itu, suasana jalanan dekat pelabuhan terlihat sepi. Sambil menyetir mobil AKLA dengan setengah cepat, Earon mengamati kanan kirinya, barangkali akan terlihat Jordan dalam pandangannya. Langit yang tampak gelap menghiasai suasana jalanan menjadi ngeri. Terlebih telah diketahui keberadaan si predator ganas di sekitar sana. Bisa jadi predator itu langsung menerkam mangsanya saat pandangannya lengah. Begitulah yang dipikirkan oleh Earon terhadap satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya itu. Tidak, Jordan bukan adiknya, artinya bukan juga keluarganya, pikirnya.

Tidak lama kemudian, ada sebuah mobil sedan hitam yang mendadak muncul dari gang kanan, yang sekaligus mengagetkan Earon. Mobil yang melaju seperti lari kucing yang habis dilempari batu itu, dengan cepat mengarah padanya. Dapat dikatakan mobil itu juga satu-satunya mobil mewah yang berada di jalanan itu, selain dirinya. Terlebih cara mengendarainya yang nakal, membuat rasa gereget dan penasaran pada diri Earon.

Mobil itu semakin mendekatinya. Penglihatannya semakin jelas pada seseorang yang duduk di depan setir mobil itu. Kedua mata Earon langsung terbuka lebar saat pikirannya mulai bisa menebak orang itu yang terlihat dari kaca mobil depan. Napasnya berhenti sejenak dengan tatapan mata yang mengikuti kehadirannya. Waktu seolah-olah melambat ketika muka mereka saling bertemu.

“Jordan,” ucapnya dari gerakan bibirnya yang samar dan tidak bersuara, seraya menatap muka Jordan.

“Ka...,” kata Jordan lirih yang juga terkejut melihat Earon.

Namun, Jordan langsung memalingkan mukanya kembali ke depan, sebelum menyapanya. Dia mempercepat laju mobilnya begitu melihat keterkejutan yang dialami oleh Earon. Tidak mau kalah, Earonpun langsung memutar balik mobilnya untuk mengejar Jordan. Dia tidak akan membiarkan Jordan lolos lagi untuk kesempatan kali ini, tegasnya dalam hati. Jordan yang mengetahui bahwa dia telah dibuntuti, berusaha untuk terus menghilang dari pandangan Earon dengan cara berputar-putar memasuki persimpangan atau gang-gang. Walaupun tidak semudah yang diperkirakan, namun pada akhirnya Jordan sekali lagi berhasil lolos dari Earon.

Earon langsung bingung begitu Jordan lenyap dari pandangannya, yang bagaikan hantu, datang tak diundang dan pergi tak diantar. Dia terus mencari-cari bayangan Jordan yang barangkali masih berceceran di jalanan. Tapi kemudian, keningnya mengerut saat tatapan matanya melihat sesuatu jauh di depannya. Sebuah mobil hitam berhenti menghadap mobilnya, seolah-olah ingin menantangnya. Earon yang tidak perlu berpikir panjang lagi, mengetahui sopir dari mobil itu yang tidak lain adalah Jordan.

Avasone bergerak lebih dahulu, lurus menuju Earon. Lajunya begitu cepat seakan siap untuk membuat Earon terpelanting. Tanpa ragu, Earonpun menancap gas sebagai wujud penerimaan tantangan tersebut. Seperti halnya Jordan, Earon pun semakin mempercepat laju mobilnya. Jalan yang lurus dan sepi, membuat keduanya semakin leluasa untuk mempercepat laju mobilnya. Semakin cepat, cepat, dan sangat cepat. Adu tubrukan diperkirakan akan terjadi saat sampai di simpang empat yang berada tepat di depan mata mereka. Namun, terlihat sebuah truk trailer besar yang datang dari arah lain menuju persimpangan tersebut. Dengan kecepatan yang dimiliki oleh ketiganya saat ini, diperkirakan truk itu juga akan ikut menjadi korban peraduan tersebut. Mengetahui hal itu, Jordan langsung mempercepat laju mobilnya lagi dan lagi. Dia berpikir bahwa jika dia mampu mendahului melewati garis persimpangan, maka bisa dipastikan dialah yang akan menjadi pemenangnya. Sementara si sopir truk, belum menyadari kalau akan ada peraduan di hadapannya. Dia hanya menikmati jalanan bertanah kosong dan beberapa pohon di kanan kirinya, dengan melihat lampu lalu lintas di depannya yang telah berubah warna hijau. Tanpa mengurangi kecepatannya, dia pun berpikir bahwa tentu sudah aman untuk melewati persimpangan itu.

Jordan dapat melihat kecepatan Earon yang mendekatinya. Entah apa yang membuat jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, hingga wajahnya menjadi tampak gelisah. Dia melihat lagi truk yang terus melaju mendekati titik tubrukan. Walaupun begitu, Jordan berusaha untuk terus mempercepat laju mobilnya.

Si sopir truk kemudian memalingkan pandangannya ke arah kanan. Dia begitu terkejut melihat sebuah mobil berjalan sangat kencang tanpa mengurangi kecepatannya, sementara warna lampu arah jalan si sopir masih hijau dan hampir mendekati persimpangan. Sopir itupun langsung membunyikan klakson sebagai peringatan akan kehadirannya. Namun sepertinya, Earon tidak mendengar suara klakson itu, bahkan tidak menyadari akan kehadiran truk itu. Dia hanya fokus pada mobil yang menjadi sasaran utamanya. Sopir itu semakin kewalahan ketika menoleh ke sisi jalan lain dan melihat sebuah mobil lain dengan tingkah yang serupa. Kedua mobil yang saling berlawanan arah tersebut pasti akan saling bertabrakan, pikir si sopir. Untuk menghindari keterlibatan, dengan terpaksa diapun mengalah dan langsung menginjak remnya, walaupun dia tahu bahwa truk yang dikendarainya pasti akan tetap menjadi korban dari aduan itu.

Titik temu semakin dekat, dekat, sangat dekat, dan akhirnya truk itu yang justru terlebih dahulu menghantam salah satu mobil aduan. Mobil itu langsung terpelanting sejauh beberapa meter, berguling-guling tak keruan, hingga melepaskan beberapa bagian mobilnya. Sementara mobil lain yang dikemudikan oleh Earon, langsung mengerem sambil membanting setirnya, hingga akhirnya dia selamat dari tabrakan itu. Dengan mata terbelalak menatapi badan truk, dia justru sangat terkejut melihat truk itu yang tiba-tiba muncul di depannya.

Truk itu berhenti. Si sopir truk hanya bisa menjambak rambutnya dengan perasaan yang bercampur aduk antara takut, cemas dan takjub. Ketakutan dan kecemasan karena melihat tabrakan mengerikan tepat di depan matanya, sementara ketakjuban karena melihat ketangguhan mobil yang ditabraknya. Jika mobil biasa pasti sudah remuk, pikir si sopir.

Avasone kini terbaring dengan posisi terguling ke samping. Rintihan rasa sakit terdengar dalam heningnya suasana. Sekalipun ada bantal pengaman di kemudi, namun hantaman itu seakan masih terasa di sekujur tubuh Jordan. Dia berusaha membuka pintu mobil, tapi tidak bisa. Akhirnya, dia mencoba keluar melalui kaca pintu mobilnya yang sudah pecah. Dia terus berusaha menarik tubuhnya keluar sambil menahan rasa sakitnya.

Earon segera tersadar dari keterkejutannya. Dia langsung menoleh ke tempat mobil Jordan terguling. Dia membuka pintu mobilnya, berlari, dan mendekati Avasone untuk mengetahui keadaan Jordan. Namun saat langkah terakhirnya berada di dekat jok sopir Avasone, dia tidak lagi melihat tubuh Jordan di sana, hingga langsung membuat wajahnya menjadi tampak semakin gelisah. Earon terus mencari Jordan, barangkali dia terjepit atau bersembunyi di balik jok-jok yang sudah peok. Namun, dia tetap tidak menemukannya.

Tiba-tiba, Earon mendengar suara langkah kaki cepat seseorang. Dia langsung menoleh pada sumber suara itu dan ternyata itu adalah suara sopir truk yang berlari menjauhinya. Sepertinya, sopir itu tidak mau bertanggung jawab atas kejadian yang baru saja dilakukannya. Itu sebabnya, dia melarikan diri. Namun, Earon tidak menghiraukan hal itu. Dia kembali fokus pada tujuan pokoknya. Dia melihat sekelilingnya dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Jordan. Dia mulai merasa frustrasi kembali. Tidak lama setelah itu, terdengar suara keributan tong sampah. Earon mencoba mengamati asal suara itu dari balik dinding-dinding bangunan yang sunyi di sekitarnya. Diapun mengerutkan keningnya saat pandangannya tertuju pada suatu tempat.

Jordan berdiri diam dengan napas yang tersengal-sengal. Salah satu tangan meremas keras dadanya, sementara tangan yang lain memegang dinding untuk menopang tubuhnya. Dia mencoba mencari udara sejenak untuk memulihkan tenaga dan berharap pula dapat mengurangi rasa sakitnya. Sebuah tong sampah yang terjungkir tampak juga berada di dekat injakan kakinya, dengan sampah yang berserakan. Setelah beberapa saat dirasa cukup, diapun mulai melepaskan tangan topangnya dan melangkahkan kakinya kembali. Walaupun langkah cepatnya tersendat-sendat, namun dia masih bisa mengelabuhi Earon yang berusaha mencarinya. Saat bayangan Jordan lenyap menuju lorong lain, saat itu pula Earon muncul dari lorong sebelumnya.

Jordan telah melangkah sampai di tempat yang halamannya cukup luas dengan dua bangunan yang mengapitnya. Dia merasa kalau jejaknya sudah tidak lagi terdeteksi oleh Earon. Untuk itulah, dia kembali mengambil beberapa napas sejenak di tengah area tersebut. Napas panjang terakhirnya dijadikan sebagai aba-aba untuk memulai langkah pertama kakinya. Tapi, saat tumitnya baru terangkat, tiba-tiba terdengar seruan yang menggema, yang seketika membuatnya tersentak.

“JORDAN!”

Jordan memutar pandangannya ke belakang, kemudian terdiam pada sesuatu yang dilihatnya dengan tatapan mata yang mencoba untuk tetap tenang. Earon telah muncul, berdiri tegak sekitar satu setengah meter di depannya sambil menodongkan pistol ke kepala Jordan.

Sementara nasib dari anggota bayangan bulan lainnya.

Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein duduk berjejer di kursi panjang yang berimpit dengan dinding van, dengan kedua kaki dan tangan yang diborgol, serta pengawasan dari Lytro dan dua polisi khusus yang duduk di depan mereka. Sepanjang perjalanan, Wergon, Filhener, Lytro, dan dua polisi itu saling bertatap muka dengan sorotan mata tajam. Hal itu membuat suasana menjadi kaku, tegang, dan hening.

“Bisakah kita akhiri kejenuhan ini dengan sedikit obrolan?” kata Filhener bosan.

“Mungkin kau bisa mengakui kesalahanmu sebelum bicara di pengadilan?” ketus Lytro.

“Aku sangat menyesal dengan semua yang kulakukan,” jawab Filhener.

Lytro mulai tertarik dengan topik tersebut.

“Lanjutkan!”

“Aku menyesal telah bergabung denganmu. Aku menyesal telah mengenalmu. Dan tidak seharusnya aku bertemu denganmu. Pembawa masalah dalam hidupku!” katanya sambil menatap tajam Lytro.

Lytro merasa jengkel mendengar ucapan Filhener tersebut. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang.

“Ke mana kau akan membawa kami?” tanya Wergon melanjutkan pembicaraan.

“Penjara di perbatasan. Bukankah itu yang kau inginkan?” sahut Lytro.

Suasana menjadi hening kembali. Empat tahanan hanya diam dengan pandangan ke bawah. Dari tatapan mereka seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.

“Hei, Bung!” kata Wergon sambil mengangkat mukanya menatap Lytro, “Kau dapat pesan dari Jordan.”

Lytro tersenyum sinis.

“Maksudmu, pesan terakhir sebelum dia dihukum mati?” katanya.

Filhener, Migo, dan Rekshein langsung mengangkat mukanya bersamaan. Hati mereka berempat bergetar begitu kata-kata itu terdengar.

“Pesan macam apa, hm?!”

Sejenak, Wergon membisu. Dia ragu untuk melanjutkan perkataannya.

“Dua asha pasti akan lenyap,” kata Wergon kemudian, “Satu, bagian dari rencana. Satu, bagian dari harapan.”

Lytro mengerutkan keningnya.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Jika kau ingin tahu, mungkin seharusnya kau membiarkannya tetap hidup.”

“Apa ini bagian dari rencana kalian? Mencoba menghasutku dengan kata-kata membingungkan itu? Jordan, dia benar-benar pintar dalam….”

“Dia bilang hanya kau yang tahu maksudnya,” ucap Filhener dengan nada datar.

Lytro langsung diam, terkejut mendengarnya.

“Hm! Semua ini memang rencananya dan kami berhasil melakukannya. Jika kau ingin tahu, kami masih punya satu rencana lagi dan itu sangat sulit bagi kami,” lanjut Filhener.

Lytro masih tidak mengerti dengan perkataan tersebut.

“Kami memang tidak pernah mengerti tujuan dia sepenuhnya. Tapi, dia bilang kalau rencana kami selanjutnya tergantung dari bisa tidaknya kau menerjemahkan kata-kata itu.”

Wergon tiba-tiba tertawa setelah kata terakhir Filhener terucap.

“Hehehe…. Lucu sekali! Kenapa Jordan masih saja memercayainya, ya? Padahal, dia yang telah membawa kita sampai ke sini.”

“Benar. Bahkan, dia masih ingin kita menuruti ucapannya sebagai bagian dari rencana terakhirnya?” lanjut Filhener menghibur hati sendiri.

Lytro masih saja diam, memikirkan semua sindiran-sindiran Wergon dan Filhener tersebut, tanpa ada kekesalan yang terukir pada raut mukanya. Entah apa yang membuat hatinya menjadi luluh, tapi sepertinya dia pun sedang berusaha untuk memahami semua peristiwa yang baru saja terjadi.

Tubuh semua penumpang kemudian tersentak pelan ke depan kemudi. Roda mobil tidak lagi terasa getarannya, menandakan bahwa mobil yang mereka tumpangi telah berhenti. Sepertinya, mereka telah tiba di tempat tujuan.

Terdengar suara terbukanya kunci pintu van. Pandangan para tahanan melihat ke arah luar seiring merambatnya terbukanya pintu. Angin yang berembus mulai terasa berputar di dalam ruangan, memperjelas kehampaan dalam pikiran mereka. Tidak ada pemandangan yang dapat mereka lihat, selain masing-masing polisi kawal mereka yang sudah menyambutnya di depan pintu. Mereka berempatpun dipaksa lagi oleh dua polisi untuk berdiri dan segera menuruni mobil. Sementara Lytro, pandangannya hanya bisa mengikuti kepergian para tahanan itu. Bahkan, dia tidak menyentuh mereka sedikitpun, baik dengan tangan maupun suara. Bukan karena untuk menepati janjinya, tapi karena pikirannya yang masih terbayang dengan teka-teki yang membingungkan itu.

Tampak mobil-mobil polisi terparkir di halaman penjara yang dikelilingi oleh pagar tembok tinggi dengan kawat berduri. Kabut tebal dan suara kesunyian tanah perbatasan membawa suasana seram di sekitar penjara itu dan seolah menjadikannya sebagai tempat penyiksaan paling sempurna di Losapins. Lytro masih berdiri di dekat mobil van sambil melihat keempatnya dibawa menuju satu-satunya pintu masuk dan keluar gedung penjara tersebut. Tidak lama kemudian, dia teringat sesuatu yang membuatnya menggerayangi rompinya. Dimasukkan salah satu tangannya ke dalam rompi, kemudian dia menarik sesuatu dari dalam rompinya. Monitor genggam milik Jordan terhampar di telapak tangannya. Dia masih penasaran dengan semua isi yang ada dalam monitor genggam itu. Diapun membuka-buka lagi file, barangkali ada yang masih belum diketahui olehnya. Setelah terlihat beberapa usapan ujung jari tangan pada layar itu, tiba-tiba keningnya mengerut diikuti dengan berhentinya usapan jari tangannya. Dia melihat sebuah nama file di antara banyak nama file, yang tertulis asha. Kata itu mengingatkannya pada teka-teki yang ingin dia pecahkan. Dia kemudian menekan nama itu dan kemudian terbukalah isi dari file tersebut. Kedua mata dan mulutnya langsung terbuka lebar. Tangannya yang menggenggam monitor, juga bergetar, ikut menghiasi ketegangan hatinya. Lalu, dia mengangkat mukanya kembali ke arah empat tahanan.

“Ini tidak mungkin,” gumam Lytro.

Tiba-tiba, tepukan tangan keras terasa di atas pundak Lytro yang seketika membuatnya tersentak dan langsung menoleh ke belakang.

“Lingchi?” katanya agak lega.

Lingchi melihat ekspresi muka Lytro yang menyisakan ketakutannya saat menatapnya.

“Ada apa, Lytro? Kau baik-baik saja?” tanya Lingchi khawatir.

“Ah, ya!” jawab Lytro seraya mengubah raut mukanya menjadi sedikit tenang dengan senyuman singkat, “Aku baik.”

Melihat senyum kecil Lytro, Lingchipun melupakan kekhawatirannya.

“Bagaimana caranya aku bisa masuk ke rumah mengerikan itu?” tanya Lytro tiba-tiba, seraya mengangkat dagunya menunjuk ke arah pintu masuk rumah tahanan.

Lingchi mengerutkan keningnya dengan senyuman sinis.

“Kau ingin mendengar mudah atau sulitnya dahulu?”

“Mudahnya.”

“Jadilah seorang penjahat yang sangat diburu polisi! Dengan begitu, kau akan sangat mudah masuk ke penjara itu.”

“Pilihan lain?”

“Buatlah dua penjaga di depan pintu itu tertarik padamu! Sekali kau bisa masuk, maka orang dalam tidak akan banyak komentar.”

Lytro memalingkan pandangannya pada dua penjaga berbadan kekar yang berdiri di depan pintu penjara.

“Tapi,” lanjut Lingchi, “Tidak mudah menaklukan dua penjaga itu. Walaupun kau anggota AKLA yang telah mempunyai surat izin masuk dari petinggi keamanan Losapins, belum tentu mereka mau menerimamu. Kau menantang mereka, para penjaga lain di sekelilingmu akan menyalakan alarmnya, sehingga semua penghuni tahu kalau sedang ada ancaman.”

“Memangnya, siapa penjaga pintu itu?” tanya Lytro penasaran.

“Merekalah yang disebut sebagai si pembawa kunci neraka,” jelas Lingchi, “Jadi, kau tidak perlu khawatir kalau akan ada orang yang bisa membebaskan empat kaki kancil itu.”

Pandangan Lytro ke bawah seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Kau tahu, kita masih beruntung tidak ada korban jiwa dalam peledakan tadi malam,” kata Lingchi yang membuat pandangan Lytro kembali terangkat menatapnya, “Kita harus cepat kembali ke kota. Mengatur rencana baru dan mengakhiri misi ini.”

“Kau benar. Earon masih berjuang di sana. Kau dan yang lainnya pergilah dulu.”

“Kau tidak ikut bersama kami?”

“Belum. Aku akan menyusul kalian dengan rencana baru itu.”

Lingchi menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan pada Lytro.

Sementara keadaan empat sekawan yang dikawal oleh empat petugas penjara, yang berjalan melewati koridor-koridor penjara, hanya bisa diam menunduk sambil memikirkan akan kehadiran pahlawan yang berharap dapat membawa mereka keluar dari rumah penyiksaan tersebut. Empat orang petugas memberhentikan mereka di depan sebuah ruang jeruji besi yang masih kosong. Ketika salah seorang petugas sedang membukakan kunci gembok ruang tersebut, hati empat sekawanpun berubah menjadi semakin resah.

“Kenapa Jordan tidak juga datang?” gumam Migo.

Filhener, Wergon, dan Rekshein langsung mengangkat muka mereka, menatap Migo. Namun, tidak satu pun dari mereka yang menjawabnya.

Suara terbukanya gembok penjara terdengar. Salah seorang petugas menarik pintu jeruji besi dihiasi suara pekikannya yang membangunkan kesunyian lorong-lorong yang suram. Dalam hati keempat tersangka yang berdebar kencang, tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan sebuah tangan yang menepuk salah satu pundak dari petugas yang membukakan pintu itu.

Semua pemirsa langsung menoleh ke belakang untuk melihat sesosok yang telah berani mengganggu ketegangan suasana.

“Aku mendapat perintah untuk membawa para tersangka ini ke gedung AKLA,” ucap Lytro seraya menunjukkan kartu identitasnya.

Empat petugas saling bertatap muka. Suasana menjadi sunyi, membuat Lytro menjadi canggung.

“Apa ada….”

“Baik,” katanya seorang petugas yang langsung menyela rekannya, “Kami akan mengantar mereka sampai ke mobil Anda.”

Lytro tersenyum tipis sambil sedikit menganggukkan kepalanya pada petugas itu. Sementara para tersangka hanya terdiam bingung dengan permainan polisi itu yang tidak jelas. Mereka pun sudah tidak dapat berbuat apapun lagi, hanya bisa pasrah menjadi bola yang mengikuti tendangan kaki polisi itu.

Lorong demi lorong kembali mereka lewati untuk sampai ke pintu awal mereka masuk. Pintu telah terlihat. Dua petugas lain yang berdiri di dekat pintu, terkejut melihat kehadiran mereka. Sampai di dekat pintu, salah satu pengawal berbicara pada penjaga pintu dalam itu. Setelah beberapa gerakan mulut terlihat, salah seorang penjaga pintu membukakan kunci pintu neraka tersebut.

Dalam suasana tegang tersebut, Wergon kelihatannya mendapatkan sesuatu yang dapat sedikit menghibur perasaannya. Sekilas, dia melihat kunci yang dimasukkan pada lubang pintu. Dia terkagum-kagum dengan keunikan dari desain kunci yang sangat rumit tersebut, walaupun kekagumannya tidak sampai muncul di raut mukanya yang diam. Tidak hanya sampai di situ. Keheranannya juga muncul saat melewati penjaga pintu luar. Dia menatapi kedua penjaga itu yang berdiri tegak dengan lirikan mata kaku yang mengikuti langkahnya. Wergonpun hanya bisa mengerutkan keningnya melihat sikap aneh mereka.

Sampai di mobil yang sering terlihat dipakai oleh Lytro, keempat petugas langsung memaksa masuk keempat tersangka ke mobil tersebut.

“Apakah Anda perlu bantuan yang lain?” tanya salah seorang petugas kawal yang mencoba bersikap ramah pada Lytro.

“Tidak,” jawab Lytro dengan ramah pula, “Bisa diantar sampai ke sini, itu sudah sangat membantu. Terima kasih.”

Petugas itu membalasnya dengan senyuman lebar.

Tanpa mengulur waktu, Lytro segera masuk ke mobil dan membawa empat tersangka ke tempat tujuannya.

Sementara situasi di wilayah pelabuhan.

Angin berembus keras. Awan gelap semakin menyelimuti langit yang tiada cahayanya lagi. Earon tidak mau sedikit pun melepaskan pusat perhatiannya pada Jordan, bahkan karena embusan angin yang melewati tubuhnya. Sementara Jordan, dia masih berdiri sambil menatap tenang dan fokus pada muka Earon.

“Sampai kapan kau akan terus berlari, Jordan? Sampai kapan kau lelah dengan yang kau lakukan ini? Sampai kapan kau akan merasa bosan mengganggu hidupku? Kenapa, kenapa kau lahir dalam hidupku? Apa untungnya orang sepertimu lahir di dunia ini?” ucap Earon.

 Jordan masih saja diam.

“Tidak. Sudah cukup dengan kelakuanmu. Bahkan, kau benar-benar telah melewati batas yang kuperkirakan.”

Suasana terasa hening. Jordan hanya diam sambil menatapnya. Hal itu justru membuat Earon tiba-tiba berubah perasaan.

“Jawab pertanyaanku!” hardik Earon dengan muka marahnya.

Kemudian, Jordan menyahut hardikan Earon tersebut dengan senyuman tipis. Earon yang melihatnya begitu kaget, berpikir bahwa senyuman itu merupakan tanda akan dilakukannya sesuatu oleh Jordan. Dia pun spontan menarik pelatuknya dengan arahan pistol yang belum berubah. Jordan yang mengetahui reaksi Earon tersebut, langsung menunduk menghindari letupan pistol yang terdengar, sambil menarik pedang dari balik jubahnya dengan salah satu kaki yang selangkah ke depan, lalu menebaskannya pada laras senjata api Earon hingga terbelah. Earon tidak dapat berbuat apapun melihat gerakan cepat Jordan tersebut. Di saat situasi lengah tersebut, Jordan langsung melakukan ayunan satu kaki tinggi ke arah Earon. Earon yang tidak mampu menahan tendangan Jordan yang keras, akhirnya terjatuh hingga punggungnya menyentuh tanah. Tidak mau kalah, Earon dengan cepat menyesuaikan kecepatan Jordan. Dia langsung berguling untuk menghindari ujung pedang Jordan yang diarahkan ke dadanya. Suara tancapan pedang yang menembus tanahpun terdengar begitu nyaring dan mematikan.

Earon segera bangkit untuk dapat menyeimbangkan gerakannya. Kini jarak di antara mereka sekitar dua meter. Earon semakin yakin bahwa Jordan benar-benar ingin menghabisinya. Kemudian, Earon mengambil busur dan satu anak panah dari wadahnya yang dia sandang.

“Kau tidak pernah belajar untuk mengenal diriku, Volan,” ucap Jordan dengan nada datar, “Kau yang seharusnya menjawab sendiri pertanyaanmu itu. Jika saja kau tahu diriku sejak dulu, aku yakin apa yang tidak kau inginkan selama ini dalam hidupmu, tidak akan pernah terjadi. Tapi sayang, aku lebih cepat belajar untuk mengenal dirimu. Jadi, aku tahu apa yang tidak kau inginkan, sehingga kubuat itu terjadi. Kau terus saja memendam kebencianmu, tapi entah bagaimana kau tidak pernah tahu cara menyelesaikannya.”

Earon hanya terdiam menatap tajam Jordan.

“Apa tujuanmu sebenarnya, Jordan?” tanyanya.

“Tujuanku sederhana. Siapa pun yang berani menantangku, akan kutantang dirinya bagaimana pun caranya sampai titik darah penghabisan.”

“Kalau memang begitu, apakah ayah dan ibu pernah menantangmu, sehingga kau tega membunuh mereka?!”

Jordan terbungkam.

“Kenyataannya, tidak ada seorang pun yang menantangmu! Tapi, kau sendiri yang membuat tantangan itu! Dan kau berani mengorbankan keluargamu untuk mencapai ambisi bodohmu itu!”

“Ya!” tegas Jordan, “Ayah dan ibu pernah menantangku!”

Earon sangat terkejut mendengarnya.

“Apa kau lupa kalau kau juga telah menantangku di pengadilan?!” lanjut Jordan, “Tapi, jangan khawatir! Kuberikan kau kesempatan untuk menyelesaikan masalah kecil di keluarga kita. Kita akan bertarung di sini. Salah satu dari kita yang menang nantinya akan mendapatkan kedamaiannya. Sementara yang kalah, dia langsung mendapatkan kematiannya. Kalah dan menang hanya ditentukan jika ada dari kita yang mati.”

“Aku tidak akan ragu melakukannya!” seru Earon seraya memelesatkan anak panahnya ke arah Jordan.

Jordan mampu menghindari anak panah itu dan langsung berlari mendekati Earon dengan ayunan pedang yang siap menebasnya.

Kabut yang menutupi daerah Losapins kian memudar. Terdengar jeritan sebuah klakson mobil dengan kecepatan tinggi yang melaju di jalan pinggiran kota yang tidak terlalu ramai.

“Apa yang akan kau lakukan pada kami?” tanya salah seorang penumpang.

Lytro tidak menjawabnya. Dia fokus pada kemudinya.

“Apa kau sudah tuli?! Wergon bertanya padamu!” sahut Filhener marah, yang duduk di sebelah Wergon.

“Apa kau sedang memancing emosiku, Fil?! Kenapa kalian tidak bilang tentang video itu?!” ucap Lytro yang ikut kesal.

Filhener dan Wergon terdiam bingung. Lytro yang melihat kebingungan mereka dari kaca spion tengah, justru lebih bingung.

“Lihat ini!” lanjut Lytro seraya memperlihatkan sebuah monitor genggam yang dia ambil sebelumnya dari rumah Migo.

Salah satu tangan Lytro memegang kemudi dengan pandangan ke depan, sementara tangan lainnya mengulur ke belakang bersama monitor itu. Dia bermaksud memberikan monitor genggam itu pada keduanya, namun dia tidak merasakan ada sentuhan salah satu tangan mereka pada monitor genggam itu.

“Ambillah!” katanya sambil menggoyangkan monitor genggam itu, dengan pandangan yang masih ke depan.

Dia masih belum merasakan adanya sentuhan. Mungkinkah saking marahnya Wergon dan Filhener padanya, hingga mereka tidak mau menerima apa yang dia ulurkan, pikirnya. Sejenak, dia mengalihkan muka jengkelnya ke belakang. Baru dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, Filhener sudah mendahuluinya.

“Bagaimana kami bisa mengambilnya? Berpikirlah sedikit!”

Lytro lupa kalau kedua tangan mereka masih diborgol ke belakang. Ekspresi wajah dongkolnya langsung berubah menjadi wajah yang penuh malu, walaupun berusaha menyamarkannya. Kemudian, Lytro menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Dia membalikkan tubuhnya ke belakang seraya merogoh sesuatu dari dalam saku celana kanannya.

Bunyi dencing dari hasil rogohannya terdengar. Satu per satu dengan tetap di dalam mobil, semua borgol akhirnya terlepas. Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein tidak mengerti dengan maksud Lytro tersebut. Namun sebelum pertanyaan terlontar dari mulut salah satu keempatnya, Lytro langsung angkat bicara.

“Sekarang kalian bertanggung jawab untuk menjelaskan ini padaku!” kata Lytro seraya memperlihatkan lagi monitor genggam itu pada Wergon dan Filhener.

Wergon mengambil monitor genggam itu. Bersama Filhener, dia melihat tayangan video yang sebelumnya sudah di-stand by oleh Lytro. Migo dan Rekshein yang duduk di jok paling belakang, ikut penasaran dan mengangkat kepala mereka dengan muka di antara Wergon dan Filhener yang duduk di jok tengah, untuk bersama melihat tayangan tersebut. Kerutan di dahi mereka mulai tampak. Mulut mereka perlahan terbuka. Kemudian, masing-masing gigi mereka saling menekan saat detik terakhir tayangan tersebut. Wergon dan Filhener kembali menatap muka Lytro, dengan kegelisahan.

“Apa ini?!” tanya Filhener pada Lytro.

“Seharusnya, aku yang bertanya!” sahut Lytro.

“Aku tidak pernah tahu kalau mereka pernah membuat film ini,” kata Wergon.

“Apa kau tahu orang lain yang bersamanya?!”

“Dia Vuklir Rebhoyer, teman kerja kasir.”

“Bisa kau langsung menjelaskannya padaku apa yang ada di otakmu saat ini?! Aku benar-benar bingung dengan semua kebingungan ini!” sahut Filhener kesal.

“Bagaimana aku bisa menjelaskannya jika tidak satu pun dari kalian yang tahu dengan video ini!” jawab Lytro.

“Bagaimana kami bisa tahu, sementara Jordan sendiri yang memercayakan itu padamu!”

“Kau yang selama ini dekat dengan Jordan! Seharusnya, kau yang lebih tahu maksud gerak geriknya!”

“Mungkin memang tidak seharusnya Jordan tetap memercayaimu!”

“Berhenti bicara tentang kepercayaan! Kau lebih parah karena membiarkan temanmu bertarung sendirian dengan naga yang kelaparan! Apa itu yang disebut teman! Jika kau tidak mampu mencegahnya, seharusnya bertarunglah bersamanya!”

“Kau sendiri seorang pengkhianat! Dulu kau mengkhianati kami, sekarang kau ingin mengkhianati Volan! Setidaknya, aku masih berpihak pada teman-temanku!”

“Cukup!” hardik Wergon, “Telingaku hampir jebol karena dengingan kalian! Pelan-pelan saja, Bung! Dan kau mungkin kali ini jadilah dirimu yang biasanya lebih pendiam, Fil! Biarkan aku yang bicara!”

“Dengarkan baik-baik!” lanjut Wergon agak tenang pada Lytro, “Aku benar-benar tidak tahu dengan video ini. Kalaupun video ini benar, mungkin itu alasannya Jordan mengubah alur rencana kami sebelumnya.”

“Apa?” kata Lytro seraya mengerutkan keningnya.

“Ya. Dia semakin terburu-buru untuk membunuh Volan.”

“Jadi maksudmu, semua ini benar-benar rencananya?”

Wergon menganggukkan kepala.

Lytro terlihat begitu lemas menyadari hal itu. Sambil memukulkan salah satu tangannya beberapa kali pada setirnya, dia berkeluh, “Bodoh! Bodoh! Kenapa ada saja manusia bodoh seperti dirimu, Jordan!”

Lytropun menjambak keras rambutnya dengan tangan yang habis dipukulkan pada setirnya. Dengan pandangan gelisah, Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein saling bertatap muka melihat tingkah Lytro tersebut.

“A, a, aku mengerti perasaanmu. Dia hanya ingin menyelesaikan kejadian mengerikan di masa lalu. Mungkin dengan cara itu, semua hal yang tidak masuk akal ini akan berakhir,” jelas Wergon.

“Aku tidak peduli dengan si pemegang busur dan tongkat. Aku juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku hanya berpikir kenapa Jordan mau melakukan itu hanya untuk membuat si merah itu muncul ke permukaan.”

“Apa?!” ucap Filhener terkejut.

“Ya. Kau ingin tahu rencana terakhirmu? Untuk kembali percaya padaku. Dia ingin aku menggantikan posisinya. Akulah harapan yang dia maksud.”

“Kalau memang seperti itu, lalu siapa yang akan menggantikan Volan?” gumam Filhener pelan.

Wergon yang mendengar gumam Filhener tersebut, langsung terdiam merenungkan kembali pesan yang pernah disampaikan Jordan untuknya.

“Jika itu tidak berhasil padanya, maka kusarankan kalian berdua untuk tetap bersama. Jangan biarkan kebencian dan kecemburuan tumbuh di hati kalian.”

Wergon menarik napas keterkejutan. Dengan mulut yang terbuka lebar, dia menahan napasnya, seperti orang yang kesulitan bernapas.

“Ce, cepat, Bodoh! Sudah tahu teman kita akan saling membunuh, bukannya langsung mencari mereka, malah berpikir lama di sini!” hardik Wergon, “Jordan tidak akan membunuh Volan! Tapi, dia akan membiarkan dirinya terbunuh oleh Volan!”

Semua pendengar terperangah mendengarnya. Tanpa banyak kata lagi, Lytropun langsung menancap gas dengan laju mobil yang lebih cepat dari sebelumnya.

Sementara pertarungan dua bersaudara masih berlanjut. Jordan terus-menerus mengarahkan ketajaman pedangnya pada Earon. Bahkan, Earon hampir terkena tebasan pedang tersebut di lehernya. Namun karena kecekatannya pula dalam menghindari serangan Jordan, Jordanlah yang justru terkena pukulan dari busur Earon, hingga Jordan mengeluarkan darah di hidungnya.

Pertandingan berhenti sejenak. Jordan mengusap hidungnya yang berdarah. Sementara Earon tersenyum sinis melihatnya.

“Itulah akibat dari aroganmu! Tapi, aku akan mengakhirinya segera,” ucap Earon.

Earon mengeluarkan sebuah anak panahnya lagi. Jordan melihat ada yang berbeda dari anak panah yang kini dikeluarkan oleh Earon. Warna emas mengkilap terlumuri di pisau panahnya. Dan tampaknya, Jordan pun tidak terkejut dengan hal itu. Dia kemudian menutup pedang di balik jubahnya dan mengambil busur serta satu anak panahnya.

“Aku akan memberitahumu satu hal. Aku tidak terlalu mahir menggunakan pedang. Dan kurasa, kali ini kau harus lebih berhati-hati. Karena mungkin saja sentuhan anak panahku bisa mengisap nyawamu dalam hitungan detik. Lebih cepat dari pada serbuk bunga aones, bukan?” kata Jordan.

Earon terkejut mendengar kalimat terakhir itu.

“Hm!” jawab Earon, “Jangan salah sangka. Ada tujuan kenapa aku memilih serbuk aones. Karena aku akan lebih senang melihatmu menderita, merasakan sakitnya racun aones mengalir dalam darahmu sedikit demi sedikit. Semakin lama aones mencabut nyawamu, semakin kau tahu bagaimana penderitaan yang selama ini kujalani karena dirimu.”

Jordan hanya bisa tersenyum sinis mendengarnya, menyamarkan kegelisahan di wajahnya.

Angin dingin berembus mengenai tubuh mereka. Earon kembali memulai pertarungan dengan melepaskan anak panahnya. Begitu juga dengan Jordan, dia melepaskan anak panah bermata cangkir isapnya yang terbuka di udara, yang kemudian mengenai tepat pada mata anak panah yang dilepaskan Earon. Seperti halnya pertarungan yang pernah mereka lakukan sebelumnya, kombinasi antara hantaman, tendangan, tangkisan, cengkeraman, tarikan, dorongan, lepasan anak panah dari jarak dekat maupun jauh, menjadi bumbu pokok ketegangan pertandingan itu. Begitu banyak luka memar yang telah mereka terima, tapi belum satu pun yang mau menyerah. Mereka terus saja bangkit, melawan satu sama lain, meskipun sampai harus titik darah yang penghabisan. Sampai pada akhirnya, merekapun saling melepaskan anak panah, lalu bersembunyi untuk mengambil beberapa napas, sekaligus memikirkan taktik untuk bisa melumpuhkan masing-masing lawan yang sangat tangguh itu.

Earon bersembunyi di balik dinding penyangga gedung. Dalam napasnya yang terengah-engah, dia memegang sebuah anak panah sambil menahan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhnya. Dia berpikir sejenak, lalu genggaman pada anak panahnya semakin kencang, diikuti kemantapannya pada ide yang terlintas dalam pikirannya. Hanya tinggal satu anak panah itu yang dia miliki, artinya hanya ada satu kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

Sementara Jordan bersembunyi di balik tumpukan drum dan peti kotak kayu. Napasnya pun masih mengembus keras-keras sambil memegang busurnya dengan salah satu tangan yang meremas dada. Suara rintihan kecil juga terdengar di balik rasa sakit yang ditahannya. Tiba-tiba, sekejap pandangannya mulai kabur. Kedua matanya juga terasa begitu berat. Terlintas dalam pikirannya untuk menyerah dan lebih baik bersandar untuk mengobati lukanya. Namun, tekadnya untuk menyelesaikan misinya, membuatnya harus tetap bertahan dalam situasi apapun. Dia memejamkan mata sejenak sambil mengambil beberapa napas kekuatan, yang barangkali dapat memulihkan tenaganya. Saat dirasa cukup, pelan-pelan kedua matanya terbuka. Ketika kedua matanya terbuka penuh, pandangannya tiba-tiba terdiam pada sesuatu di depannya. Ternyata, Earon telah berdiri sambil menodongkan anak panahnya pada Jordan.

“Sudah berakhir,” ucap Earon seraya mengendurkan jari-jarinya pada tali busur yang ditariknya.

Tapi belum sempat semua jari Earon terbuka, Jordan dengan cepat berdiri dan menyerangnya. Earon justru sangat kaget dengan tindakan spontan Jordan yang bagaikan serudukan banteng gila itu. Dia pun mundur beberapa langkah untuk menghindari Jordan. Namun, tangan Jordan berhasil meraih busur Earon hingga terlepas dari genggamannya. Earon yang kini tanpa busur, berusaha mengarahkan anak panah yang masih di genggamannya pada Jordan. Mereka kembali memulai pertarungan dengan jarak dekat. Pukulan dan hindaran masih menghiasi pertarungan itu. Namun, tampaknya mereka tidak ingin lagi berlama-lama untuk bertarung. Jordan langsung menarik satu anah panah dari wadahnya yang disandang, lalu dengan tangan, dia mengarahkannya pada Earon yang sangat dekat dengannya. Earon yang tidak mau melepaskan kesempatan terakhirnya, juga mengayunkan ujung mata emas anak panahnya yang muncul dari balik pinggangnya, mengarah tepat pada Jordan. Dia yakin kalau kali ini anak panahnya dapat mengenai Jordan, meski ada sedikit pengorbanan yang harus dia lakukan.

Busur Jordan terjatuh di antara injakan kaki keduanya. Lengan kanan Jordan merangkul pundak Earon, dengan genggaman anak panahnya yang telah menempel pada bahu belakang Earon. Tampak pula darah yang menetes di dekat busur Jordan. Embusan napas terdengar satu sama lain di telinga mereka yang berdekatan. Kemudian, Jordan membisikkan sesuatu di telinga Earon sebelum efek racunnya bekerja.

“Maafkan aku…. Kakak,” katanya seraya memperkencang rangkulannya.

Mata Earon langsung terbelalak begitu kalimat tersebut terucap, yang disambung dengan terpejamnya kedua matanya.

Jordan merasakan tubuh Earon yang semakin menggantung. Diapun melepaskan dekapannya sambil mencabut anak panah bermata cangkir isap dari bahu Earon. Tubuh Earon hanyut ke tanah, diikuti dengan terbukanya genggaman tangan kiri Jordan yang telah menahan pisau panah Earon, di bawah dadanya. Jordan melihat tubuh kakaknya terkapar di hadapannya. Dia terus mengamatinya seolah-olah memastikan bahwa Earon benar-benar sudah mati.

Tidak lama kemudian, pandangan Jordan kembali kabur. Dia mulai merasakan sakit luar biasa yang merambat di tubuh, mengikuti aliran darahnya. Dia mengangkat telapak tangan kirinya yang berlumuran darah dan membayangkan kematian yang tidak lama lagi akan menjemputnya. Namun, dia justru tersenyum singkat membayangkan hal itu, yang kemudian langsung menjatuhkan tubuhnya di samping mayat Earon.

Di suatu tempat dengan hiasan cahaya merah suram.

Senyum kepuasan tampak dari wajah si pemegang tongkat.

“Volan sudah mati dan Jordan sedang sekarat,” katanya.

Vuklir langsung mengangkat mukanya, mengetahui tuannya sudah terbangun.

“Bangunlah tongkat Pridiatick!” katanya seraya melepaskan jari-jarinya yang memegang tongkat.

Tongkat itupun melayang tegak di antara kedua tangannya yang teranjur.

“Wujudkan apa yang dahulu tidak dapat diwujudkan oleh generasi pendahuluku! Lenyapkan semua harapan manusia menjadi jeritan keputusasaan, hingga mereka tunduk padaku! Penuhi dunia ini dengan bayangan kejahatan sampai mereka menjadi pengikutku!”

Pangkal tongkat Pridiatick menancap keras ke bawah tanah untuk memenuhi perintah tuannya tersebut. Getaran melingkarnya meruntuhkan bangunan yang menjadi kediamannya, sekaligus membuka kuncup yang berbentuk bunga aones pada ujungnya sampai mekar sempurna. Cahaya merah dari berlian yang menjadi kepala sarinya, menyala terang dan memancar hingga menembus langit. Awan suram berkumpul dan berputar dengan cahaya itu sebagai pusatnya. Langit perlahan menjadi gelap kemerahan.

“Efek racun Fordien hanya menghentikan detak jantung. Tapi, yang dibuat Jordan bisa menghentikan semua kerja organ di dalam tubuh,” jelas Wergon.

“Aku tidak tahu harus kusebut anak itu terlalu cerdas ataukah terlalu bodoh!” sahut Lytro dalam suasana hati yang masih kesal dan tegang, “Dari mana dia mempelajari semua itu?!”

Mendadak Lytro langsung menginjak remnya, melihat mobil di depannya tiba-tiba berhenti. Dia kemudian membunyikan klaksonnya tiga kali pada mobil itu. Bukannya segera menyingkir, tapi sopir mobil itu malah turun sambil memandang sesuatu. Melihat orang-orang sekitarnya juga melakukan hal yang serupa, Wergon, Filhener, dan Lytro mengerutkan keningnya atas rasa penasarannya.

“Hei, hei, lihat!” ucap Migo tiba-tiba, seraya menepuk-tepuk dan mengoyang-goyangkan pundak Filhener, “Apa itu?!”

Migo menunjuk ke langit arah jam sembilan. Semua penumpang langsung mengarahkan pandangannya pada sesuatu yang ditunjuk Migo, yang sekaligus membuat mereka terbungkam dengan mulut menganga. Perlahan mereka membuka pintu mobil dan keluar, dengan pandangan yang terus tertuju pada sesuatu yang mereka lihat itu.

Jordan terbaring lemas dengan tatapan mata yang mulai layu. Dia tidak bisa lagi merasakan keberadaan tubuhnya. Jari-jarinya tidak bisa lagi dia gerakkan. Angin dingin yang berembus pun tidak dapat dia rasakan. Sesuatu yang masih bisa dia gerakkan adalah kedipan matanya dan sesuatu yang masih bisa dia rasakan adalah rasa sakit di sekujur tubuhnya. Jordan dapat melihat gumpalan awan hitam pekat, menutupi langit kelabu, yang dihiasi dengan kilatan tipis warna merah dari balik awan tersebut. Dalam tatapannya yang diam terukir kelegaan hatinya yang kini telah pasrah kepada harapan teman-temannya.

Sementara situasi di lain tempat, baik di dalam maupun di luar gedung, orang-orang langsung menghentikan kegiatannya dan menyaksikan ketakjuban cahaya merah yang memancar ke langit. Cahaya itu bagaikan tiang penyangga dari gumpalan langit gelap sejauh mata memandang.

“Apakah itu maksud dari semua ini?” tanya Filhener yang masih terheran-heran.

“Sudah terlambat,” sahut Wergon resah.

“Apa itu pertanda kalau kiamat sudah tiba?” ucap Migo panik sampai-sampai ingin menangis, “Kita harus pergi dari sini. Mungkin saja tanah ini akan runtuh. Aku, aku belum siap untuk mati.”

“Tenangkan dirimu, Kawan!” gertak Filhener.

Migo langsung terdiam.

“Kita harus segera menemukan mereka,” ucap Lytro mencoba tetap tenang, “Ayo, semuanya masuk!”

“Kita akan lewat mana?!” seru Wergon saat Lytro hendak mengangkat kakinya, “Banyak kendaraan yang bertaburan di jalanan. Kita tidak bisa menggunakan mobil lagi.”

Lytro menghela napas sejenak. Sesaat setelah napasnya diembuskan, dia mendadak sontak berlari melewati orang-orang yang sedang terhipnotis oleh cahaya itu. Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein yang melihat reaksi Lytro tersebut, langsung ikut menyusul tanpa mengeluarkan kata.

Bersabarlah, bisikan itu tiba-tiba terdengar lagi di telinga Jordan dan mungkin akan menjadi bisikan terakhir yang terdengar di detik-detik kematiannya. Namun pada kesempatan yang singkat itu, Jordan justru menyempatkan diri untuk memikirkan bisikan itu. Sebenarnya, apa maksud dari bisikan itu. Suara siapa pula yang dipakai dalam bisikan itu. Apakah itu suara hati nuraninya atau mungkin suara dari busurnya atau justru suara sama dari bisikan yang pernah mengancamnya sebelum terjadinya kebakaran yang menewaskan orang tuanya. Jika itu adalah suara ancaman yang sama pada malam itu, lalu kenapa masih saja terdengar di pikirannya, setelah akhirnya suara itu memperlihatkan dirinya pada dunia. Tapi apapun yang sedang dipikirkan, Jordan tidak mampu lagi untuk terlalu dalam memikirkannya. Dia tidak lagi memedulikan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya itu. Tidak saat hidupnya benar-benar seperti telur di ujung tanduk.

Sekitar empat puluh lima menit setelah kematian Earon.

Dalam suasana mimpi dengan pandangan kabur yang merambat terbuka, Earon melihat sebuah bayangan yang perlahan berjalan mendekatinya. Bayangan seseorang yang memakai gaun merah dengan jahitan kain memanjang yang berkibaran terkena angin yang belum dapat ia rasakan embusannya. Pandangannya mulai jelas dan semakin jelas. Kemudian, dahinya mengerut ketika pikirannya mulai bisa menduga-duga wajah orang tersebut. Diapun menegakkan tubuhnya yang awalnya terbaring menyamping, dengan tangan sebagai penopangnya.

“Vurpia?” gumamnya ragu.

Tatapan mata Earon terperanjat senang ketika dia kemudian yakin dengan tebakannya tersebut.

“Vurpia? Kaukah itu?” serunya dengan perasaan girang dan haru.

Vurpia tersenyum manis menatap dirinya sambil menghentikan langkahnya sekitar tujuh meter darinya. Kemudian, Earon langsung bangkit berdiri untuk menyambut Vurpia.

“Kau di sini. Aku senang melihatmu masih hidup, Vurpia. Atau aku yang sudah mati?”

“Kau masih hidup, Earon?” sahut Vurpia dengan suara lembut.

“Benarkah? Itu artinya kau pun masih hidup.”

“Memang.”

Earon sangat terharu mendengarnya. Bahkan, matanya berkaca-kaca menahan keharuannya itu.

“Aku tidak pernah bisa mati,” lanjut Vurpia.

“Ya. Kau memang akan selalu hidup dalam hatiku, Vurpia,” ucap Earon dengan langkah ringannya menuju Vurpia.

Vurpia langsung menjulurkan tangan kanannya lurus ke depan dengan memperlihatkan telapak tangannya yang terbuka sempurna. Earon sekaligus berhenti melihat hal itu, ketika mendapatkan langkah ketiganya.

“Ada apa, Vurpia?” tanya Earon heran, melihat senyuman Vurpia yang ikut memudar, “Pada akhirnya kita dipersatukan kembali. Aku sangat merindukanmu.”

Vurpia tertawa kekeh mendengar ungkapan Earon tersebut. Tawanyapun seketika berhenti dan berkata, “Kau pikir, aku hewan peliharaanmu yang kapan saja bisa kau peluk? Kau pikir, aku juga senang melihatmu masih bisa berdiri?”

Earon mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan kata-kata tersebut. Namun dalam kebingungannya itu, senyum lega nan tipis masih terukir di raut muka Earon.

“Apa yang kau bicarakan? Oh ya, heheh! Kau memang belum berubah. Bahkan di dunia roh ini, kau masih sempat membuatku takut dengan kata-katamu. ”

“Dunia roh?”

Pandangan Vurpia ke bawah, berpikir sejenak.

“Hhmmm, ya…,” lanjutnya, “Aku lupa kalau aku sekarang bisa mengantarmu ke dunia itu. Mungkin di sana, kau bisa bertemu dengan orang tuamu.”

Earon terkejut mendengar ucapan Vurpia yang tidak biasa itu. Kemudian, dia menatapi sekelilingnya, tempat yang sama saat terakhir kali dia bertarung dengan Jordan. Hanya saja langit terlihat begitu aneh, bahkan suasana sekitarnya pun terasa begitu hampa. Dia membalikkan pandangannya ke belakang dan melihat tubuh Jordan yang terkapar di dekat tempat sebelumnya dia terbaring.

“Jordan,” ucapnya dalam hati dengan tatapan yang masih mengarah pada Jordan, “Apa aku masih hidup?”

Dia kemudian meraba-raba tubuhnya untuk memastikan bahwa dia benar-benar masih hidup dan tidak sedang berada di dunia mimpinya. Walaupun demikian, Earon masih bingung dengan keadaan yang sedang terjadi pada dirinya.

“Aku masih hidup,” gumamnya seraya membalikkan pandangannya kembali pada Vurpia, “Kalau aku masih hidup, bagaimana kau…. Siapa kau?”

“Aku adalah wanita yang kau kagumi.”

“Berhenti bicara seolah kau adalah Vurpia! Kau bukan Vurpia!”

“Kau memang keras kepala, Earon. Tapi berkat sifatmu itu, si parasit berhasil disingkirkan. Parasit itu memang sangat cerdik. Dia berhasil menipuku dengan memalsukan kematianmu. Tapi sayang, dia tidak tahu jika tongkat sudah ditancapkan, maka tidak akan ada yang bisa kembali.”

“Apa maksud ucapanmu itu?!”

“Oh! Jadi, sekarang kau lupa kalau adikmu adalah seorang parasit.”

Earon sangat terkejut.

“Bukankah dia satu-satunya parasit dalam hidupmu?” lanjut Vurpia, “Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu. Ini tentang kebakaran yang menewaskan orang tuamu. Kau masih ingat, kalau kebakaran itu disebabkan oleh terpaan angin yang mengembus nyala lilin di kamarmu? Sebenarnya, ada orang yang sengaja membuka pintu jendelanya dan membuat anginnya menjadi besar. Kau ingat, kalau orang tuamu terjebak di kamarnya, sehingga mereka tidak selamat? Sebenarnya, orang itu pula yang mengunci pintu kamar itu. Kau ingin mengetahui siapa orang keji itu? Dia adalah si pemegang tongkat Pridiatick.”

Kesal, bingung, penasaran, dan heran, begitulah suasana campur aduk di hati dan pikiran Earon saat ini. Namun, dia belum mampu untuk berkata apapun dan mencoba memahami maksud perkataannya dengan terus mendengarkannya.

“Dia adalah aku! Dan aku adalah Vurpia!” tegas Vurpia.

Tatapan mata Earon langsung terbelalak. Dia begitu kaget dan napasnya tertahan sejenak. Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar hatinya hingga hancur berkeping-keping. Semua perasaan dapat dia rasakan dan sedang bergelut dalam hatinya.

“Tapi, bagaimana kau bisa melakukan semua itu? Kenapa kau melakukan semua itu padaku? Apa salahku padamu?!”

“Aku tahu ini akan sangat sulit dijelaskan untuk orang seperti dirimu. Tidak ada cara lain untuk membuatmu mengerti. Lihatlah!”

Vurpia memberikan tatapan lebarnya pada Earon, begitu pula dengan Earon yang menatap dalam mata Vurpia, hingga dia dibawa masuk ke dalam penglihatan masa lalu para pemegang tongkat Pridiatick pendahulu. Dia melihat kilas balik dari alasan pemegang Pridiatick pertama menciptakan tongkat tersebut, hingga akhirnya dia dan para generasinya memutuskan untuk terus mengadu domba para pemegang busur sampai mereka saling membunuh.

Earon langsung tersentak begitu dia kembali dari penglihatan mengerikan itu. Napasnya mengembus keras-keras, jantungnya berdebar kencang, dengan tubuh yang bermandikan keringat. Dia sangat ketakutan sampai-sampai meneteskan air matanya karena tidak kuasa lagi membayangkan malapetaka itu.

“Aku bersandiwara menjadi teman baikmu, bahkan calon istrimu, hanya untuk mengetahui kelemahan kalian,” jelas Vurpia, “Aku mencoba berbagai cara untuk memisahkan kalian, tapi kalian sudah terlalu dekat, bahkan hampir tidak ada celah untuk dapat dipisahkan. Untuk itulah, aku merencanakan kematianku dengan membawa semua bukti tuduhan yang mengarah pada Jordan.”

Earon meneteskan air matanya kembali, mendengar pengakuan tersebut. Dan dari tatapan kesedihannya, dia pun begitu kecewa dan sangat marah pada Vurpia.

“Itu berhasil. Kau akhirnya begitu membenci Jordan sama seperti masa kecilmu dan Jordan pun akhirnya berani untuk merencakan pembunuhanmu. Tapi, sandiwara Jordan ternyata lebih pintar dari yang kuduga. Kau ternyata masih bisa berdiri di depanku. Tapi, aku juga senang karena dia sebentar lagi akan menyusul orang tuamu.”

Earon langsung menoleh ke belakang melihat muka pucat dan lemah Jordan dengan mata yang telah terpejam. Air mata penyesalan mengalir deras di pipinya. Kini, Jordan terbaring tidak berdaya. Dia pun tidak tahu harus berbuat apa, selain meluapkan kemarahannya dengan kepalan kencang kedua tangannya.

Dengan pelan, mukanya kembali menatap Vurpia seraya berkata, “Jadi, selama ini kau yang telah mengadu domba kami?”

“Tidak,” jawab Vurpia, “Kau sendiri yang membawa rencanaku sampai ke tujuan itu.”

Earon sangat kesal dan tidak mampu lagi menahan nafsu amarahnya.

“Kubunuh kau!” serunya sambil mengeluarkan pistol dan menembakkannya pada Vurpia.

“Masih saja keras kepala,” gumam Vurpia yang kemudian langsung mengibaskan tangan kanannya ke kanan, begitu juga tangan satunya yang mengibas ke arah kiri.

Kibasan tangan Vurpia seolah memberikan angin mematikan yang meretakkan tanah arah kibasannya, sekaligus melongsorkan tanah daerah retakan tersebut hingga menjatuhkan Earon dan Jordan. Peluru Earonpun tidak sampai mengenai Vurpia, karena arah peluru yang terperanjat beralih, saat kaki Earon terpelosot.

Vurpia melihat Earon, Jordan, dan dua busur terkapar bersama reruntuhan tanah sedalam lima meter. Mereka sudah tidak berdaya, tidak mempunyai harapan lagi, dan pastinya memutuskan untuk menyerah dan mati di tempat itu. Vurpia bisa saja mengubur mereka hidup-hidup, tapi dia lebih senang melihat mereka mati perlahan dalam penyesalan dan rasa sakit. Maka dari itu, dia memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan keduanya.

Busur emas dan busur perak seolah membisu, melihat nasib serupa yang terus dialami oleh tuan-tuan mereka sejak awal mereka dipegang. Mereka pun merasakan kehampaan harapan manusia yang tidak mampu lagi menumbuhkan rasa cinta dan kepercayaan. Apakah ada di antara umat manusia yang pantas untuk memegang mereka. Masih adakah orang yang mampu menumbuhkan rasa cinta dan kepercayaan itu. Namun, jika pun masih ada yang akan memegangnya kembali, kedua busur itu akan selalu tetap menyerahkan harapan itu padanya. Harapan untuk bisa menghidupkan mereka kembali.

 

No comments:

Post a Comment