Suatu hari, Vurpia
mendatangi meja kerja Lytro. Dia melihat Lytro diam termenung menatap layar
komputernya yang menyala, dan tangan kanannya masih memegang mouse. Tampaknya, dia begitu gelisah
memikirkan sesuatu.
“Lytro. Lytro?” panggil
Vurpia resah di depan mejanya.
Lytro tetap terdiam tak
merespon.
“Lytro!” ucap Vurpia lebih
keras.
Lytro pun tersentak dan
menoleh Vurpia.
“Ada apa, Lytro? Hari ini
kau terlihat berbeda.”
“Kita perlu bicara. Ini
tentang Earon.”
Melihat tatapan Lytro, Vurpia tahu bahwa telah ada tanda yang buruk baginya, yang akan terjadi pada Earon.
Sementara siang itu di
Universitas Losapins, Jordan dan kedua temannya baru saja keluar dari kelasnya.
Mereka berjalan menuju kelas lain untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya.
Namun dalam perjalanannya, tiba-tiba suara handphone
Jordan berbunyi. Mereka melihat nama orang yang meneleponnya, tertulis Mr. C.
Belum sempat Jordan menekan tombol angkat, Migo merebutnya dari belakang dan
mematikannya.
“Kembalikan, Migo!” pinta
Wergon seraya tangannya meraih-raih handphone
Jordan yang berada pada tangan Migo.
“Kau mulai berani denganku
ya, Anak cengeng!” ucapnya dan dengan cepat mengambil boneka Wergon yang
digantung di sisi kanan tasnya.
“Berikan Kritty padaku! Jika
tidak….”
“Jika tidak, apa yang akan
kau lakukan, hmmm? Menangisinya seharian?” ejek Migo sekaligus semua geng
Migvor yang berada di sana menertawakannya, “Kalian bertiga memang lemah!”
“Jika tidak, boneka itu akan
menaruh dendam padamu, lalu tubuh kalian akan hancur berkeping-keping.
Berceceran di setiap sudut ruangan ini,” sahut Filhener dengan nada datar dan
wajah dingin.
Tawa mereka berubah menjadi
senyum ketakutan.
“Kau pikir aku percaya
denganmu!”
Filhener mengangkat kedua
bahunya tanpa ada ekspresi apapun di wajahnya.
Migo menatap Wergon.
Benarkah yang dikatakan Filhener, apa itu sebabnya si anak cengeng Wergon
selalu berbicara sendiri dengan bonekanya, apa boneka ini mengandung kutukan.
Banyak hal yang dipikirkan oleh Migo, namun dia sadar bahwa tak mungkin juga
ada hal-hal seperti itu. Perasaannya bercampur aduk antara percaya dan tak
percaya, takut dan jengkel.
Pada akhirnya, Migo
mengembalikan boneka itu pada Wergon. Tapi, rasa jengkelnya tetap ia lampiaskan
dengan melempar handphone Jordan ke
tembok dengan sangat keras hingga semua bagiannya terlepas. Pandangan Jordan
menuju pada handphone-nya yang sudah
tak berbentuk lagi.
“Kau ingat luka lecet di
tanganku yang pernah kau buat?! Ribuan losa harus kubuang hanya untuk
menghilangkan bekasnya. Harga handphone-mu
saja belum cukup untuk membayarnya! Jadi jika lain kali kuambil lagi barangmu,
jangan pernah memintaku untuk mengembalikannya padamu!” ucap Migo menatap marah
Jordan.
Tapi, Filhener justru
tertawa kekeh mendengar ucapan Migo tersebut. Semua pandangan mereka mengarah
padanya.
“Hei, Ketua geng. Kupikir
kau dipilih karena kekuatanmu. Ternyata, kau bisa lecet juga oleh kami yang
lemah ini?”
Migo langsung mengerutkan
keningnya. Dia seakan ingin meluapkan amarahnya kembali atas perkataan
menjengkelkan yang baru Filhener katakan, namun dia tak bisa berbuat apapun.
Terlebih ada seorang bapak dosen yang berjalan melewatinya, memperhatikan
tingkahnya, menuju kelas yang akan dimasuki oleh Jordan dan yang lainnya.
“Ayo, kita pergi dari
sekumpulan orang aneh ini!” ujar Migo dengan perasaan marah.
Geng Migvor akhirnya pergi
dari hadapan mereka. Migo menghantamkan tubuhnya ke bahu Jordan saat dia
berjalan melewatinya. Jordan pun sedikit terpental, lalu sejenak tangannya
memegang bahunya yang terkena hantamannya.
“Kau benar-benar membuat
mereka ketakutan, Filhener. Tapi lain kali, jangan lagi kau sebut Kritty
sebagai boneka kanibal,” ucapnya seraya mengelus-elus kepala bonekanya, “Bukan
begitu, Kritty-ku sayang.”
Filhener hanya bisa
mendengus melihat tingkah gila yang dilakukan lagi oleh Wergon. Lalu tanpa
pikir panjang, dia segera mengambil handphone-nya
untuk menghubungi Mr. C. Beberapa saat kemudian, setelah Mr. C atau yang biasa
disebut orang yang tak dikenal itu menerima panggilannya, Filhener segera
menyerahkannya pada Jordan.
“Ada apa tadi kau
meneleponku?” tanya Jordan penasaran.
Jordan terdiam mendengarkan
jawaban Mr. C.
“Tapi, kenapa?”
Dia terdiam mendengarkannya
lagi.
Wergon dan Filhener tidak
dapat mengerti pembicaraan Jordan. Mereka hanya bisa menunggu hingga
pembicaraan itu selesai. Setelah handphone-nya
sudah diturunkan, Jordan mengembuskan napas seraya memandang gelisah kedua
temannya. Wergon dan Filhener merasakan sesuatu yang tidak enak dengan tatapan
mata Jordan tersebut.
Sore hari dengan langit yang
berselimut awan tipis, Earon beserta Lytro berjalan di sepanjang trotoar yang
bersebelahan dengan taman yang membatasi ketinggian sungai Chivori. Mereka
menikmati keramaian kota dengan kehangatan matahari sore yang menyengat bagian
belakang tubuh mereka, embusan angin yang menggoyangkan pohon-pohon di taman,
dan kilauan cahaya matahari yang terpancar dari air sungai. Jeritan tawa
sesekali terdengar dari gurauan mereka yang semakin menyatu dengan suasana
ketenangan pinggiran sungai. Saat Lytro masih tertawa bersamanya, Earon melihat
tiga orang yang berada di jembatan kayu seberang sungai. Setiap langkahnya
memperjelas pandangannya pada tiga orang tersebut, membuatnya semakin penasaran
siapa mereka yang sepertinya sudah sangat akrab dengan penghuni sungai Chivori.
Lalu, senyuman lebar muncul di wajah Earon saat dia menyadari bahwa ada Jordan
di antara ketiganya. Dia segera menepuk-nepuk bahu Lytro untuk menunjukkan padanya
sosok Jordan, seseorang yang selalu ia ceritakan.
“Lihatlah! Itu Jordan!”
teriaknya kegirangan.
“Ayo!” lanjutnya seraya
berjalan lebih cepat menuju jembatan kayu.
Lytro menghentikan
langkahnya sejenak.
“Kau bercanda?! Kita harus
berputar melewati jembatan utama yang jaraknya sekitar enam ratus meter dari
titik aku berdiri,” keluh Lytro.
Earon berhenti melangkah,
membalikkan padangannya ke Lytro yang tertinggal sekitar empat meter darinya.
“Baik, kalau begitu kau
berenang saja ke sungai!” sahut Earon agak kesal.
Lytro terdiam, sementara
Earon masih menunggunya.
“Apa lagi yang kau tunggu?!”
Akhirnya, Lytro memutuskan
untuk mengikutinya.
Sementara Jordan yang
bersama dengan Wergon, Filhener, dan Faisr yang bertengger di pundaknya, sedang
menaburkan pakan kepada ikan-ikan yang berada di sungai.
“Akhir-akhir ini aku sering
merasakan sesuatu yang aneh,” ucap Jordan dengan pandangan ke arah kerumunan
ikan di depannya.
“Aneh dalam arti?” tanya
Filhener penasaran.
“Aku juga tidak tahu pasti.
Aku hanya sekedar melihat sekelilingku dan kurasakan hal yang tak biasa.
Bahkan, terkadang hatiku bergetar secara tiba-tiba, tidak saat aku memikirkan
sesuatu.”
“Mungkin itu hanyalah
permainan perasaan, Jordan. Kau tahu, sering sekali kita tertipu dalam
permainan perasaan itu,” sahut Wergon.
“Lagi pula, kami tidak
merasakan apapun. Semua tampak normal, seperti biasa,” hibur Filhener
menenangkan Jordan.
“Masalahnya adalah…,
sekarang aku merasakan getaran kuat itu lagi,” ucap Jordan seraya menatap kedua
temannya.
Filhener dan Wergon membalas
tatapannya dengan perasaan sedikit takut.
“Hei, Jordan!” teriak
seseorang dari atas sambil melambaikan tangannya.
Jordan menatap wajah orang
itu dengan saksama.
“Earon!” ucapnya senang.
Earon dan Lytro berjalan
menuruni tangga, menghampiri mereka bertiga.
“Jadi, dia yang bernama
Earon,” kata Wergon saat kedua agen sampai di pangkal jembatan.
“Dan dia bersama dengan….
Lytro,” sahut Filhener disertai dengan saling bertatapan mata di antara
ketiganya. Saat itu juga, Faisr melepaskan tenggerannya, terbang seakan menjauh
dari keterlibatan.
Earon dan Lytro sudah
berdiri di hadapan mereka. Tampak dari raut muka Earon yang begitu bahagia bisa
melihat Jordan kembali. Namun di sisi lain, Jordan dan kedua temannya agak
canggung dengan kehadirannya terlebih bersama dengan Lytro.
“Bagaimana kalian bisa
kemari?” tanya Jordan senang dan penasaran.
“Aku melihatmu dari atas
seberang sana,” jawab Earon seraya menunjuk perkiraan tempat tersebut.
Sejenak Jordan menoleh ke
belakang, mengarahkan pandangannya pada tempat yang dimaksud Earon.
“Perkenalkan, Jordan. Dia
adalah teman sekerjaku, namanya Lytro Crodawill. Dan Lytro, dia adalah teman
yang sering aku ceritakan padamu, Jordan Miguveer.”
Mereka berdua saling
berjabat tangan dengan penuh senyuman di wajah mereka.
“Dan dua temanku ini adalah
Filhener dan Wergon,” kata Jordan seraya menunjuk pada mereka di sebelah
kanannya.
Mereka saling berjabatan
tangan sebagai awal perkenalan mereka.
“Apa kita pernah bertemu
sebelumnya?” tanya Lytro dengan wajah penasaran sesaat setelah dia melepaskan
tangan jabatannya yang terakhir bersama Filhener. Dia merasa tidak asing lagi
dengan rupa tiga serangkai.
“Uh, belum. Belum pernah
sama sekali kita bertemu. Bukan begitu, Teman-teman?” jawab Wergon tersenyum
geram sambil menepuk pundak Filhener dengan cukup keras, sehingga membuatnya
sedikit membungkuk ke samping arah tepukannya.
“Yah, belum sama sekali.
Bukan begitu, Jordan?” sahut Filhener yang merambatkan tepukannya ke pundak
Jordan.
“Mungkin kita memang pernah
bertemu.”
Wergon dan Filhener langsung
terkejut dan menoleh ke arah Jordan bersamaan.
“Hanya saja pada saat itu
kita tidak menyadarinya, karena belum saling mengenal,” lanjut Jordan tenang.
Lytro tertawa mendengar
ucapan Jordan.
“Kau benar, ehehehe…,”
katanya sambil merangkul pundak Jordan dan menggoyang-goyangkan jari telunjuk
dari tangan lainnya ke depan dan belakang.
“Jadi, kalian adalah agen AKLA?”
ucap Filhener.
“Pemimpin,” sahut Lytro.
“Pemimpin?”
“Earon yang memimpin AKLA.
Sementara aku bisa disebut sebagai tangan kanannya. Jadi, beruntunglah kalian
memiliki kami, karena kami bisa selalu melindungi kalian atau malah kami lebih
cepat menangkap kalian, hahahaha…,” gurau Lytro.
Jordan, Filhener, dan Wergon
tesenyum kaku mendengar gurauan tersebut.
“Dia terdengar sedikit sombong
di depan kita,” gumam Wergon pada Filhener dan Jordan.
Filhener segera menginjak
kaki Wergon karena takut jika Lytro mendengar ucapannya.
“Aku baru tahu kalau kau
seorang pemanah,” sela Earon.
Lalu, Jordan sedikit memutar
badannya dan memperlihatkan busur yang ia sandang dekat dengan wadah anak
panahnya.
“Ya, sebenarnya sudah lama
aku bisa memanah,” sahut Jordan, “Dan, kau pun demikian?”
Earon kini yang
memperlihatkan busur di dekat wadah anak panahnya.
“Aku tidak percaya kita
memiliki keahlian yang sama. Memanah,” ucapnya.
“Bagus, kalian berdua punya
keahlian yang sama. Apakah kita memiliki keahlian yang sama pula, Kawan-kawan?”
gerutu Lytro sambil menatap Filhener dan Wergon.
“Iyyyaaahhhh. Mungkin….”
Belum sempat Wergon
melanjutkan ucapannya, Filhener segera menyelanya.
“Cengeng,” sahutnya.
Wergon langsung bermuka
masam menatap wajah Filhener. Namun, Lytro justru tertawa kekeh.
“Kuakui itu, Kawan,” ucap
Lytro seraya meninju bahu Wergon dengan pelan.
Melihat itu, wajah Wergon
seketika berubah menjadi tawa kebahagiaan bersama dengan Lytro. Sementara
Filhener hanya bisa mengembuskan napas kuat-kuat melihat tawa mereka yang
sama-sama gilanya.
“Satu lagi anak cengeng
merengek di depanku,” gumamnya.
“Jordan, bagaimana kalau
besok kita bertemu lagi di sini?” ajak Earon.
Jordan terlihat berpikir
sejenak.
“Baik.”
“Tunggu, tunggu, tunggu
dulu. Kau ingin mengajaknya untuk membuat rencana agar bisa melamar wanita
idamanmu, sementara aku tidak kau ajak? Begitukah perlakuanmu padaku sekarang?”
gerutu Lytro.
“Bukan begitu. Maksudku….”
“Sudah, jangan bicara lagi!
Besok aku juga akan ikut denganmu.”
“Apa?!” ucap Earon terkejut.
“Rencana melamar wanita?
Ehm…,” sahut Filhener sambil mengelus-elus dagunya, “Kami juga akan ikut.”
“Whoa, whoa, whoa. Apa-apaan
ini?! Aku hanya mengajak Jordan dan kalian semua mau ikut? Semua rencana justru
akan berantakan,” ujar Earon kesal.
“Tidak apa-apa, Earon. Siapa
tahu mereka lebih berguna. Biarkan mereka ikut. Mereka juga teman kita,” kata
Jordan menenangkannya.
Earon menghela napas.
“Baiklah,” ucapnya dengan
nada keberatan.
Detik demi detik terus
berjalan. Mereka menunggu hari saat dipertemukan kembali.
Tengah malam sebelum hari
itu dimulai, di suatu tempat yang begitu gelap, terdengar jeritan seseorang
diikuti pancaran cahaya merah dari tongkat yang ia pegang.
“Tongkat Pridiatick
memberitahuku bahwa sudah tiba waktunya untuk menjadikan umat manusia sebagai
budakku. Namun para pemegang busur, mereka telah dipertemukan kembali!”
teriaknya marah.
Dalam nyala sinar merah yang
meredup tersebut, tampak wajah seseorang yang tak asing lagi, berdiri di
hadapan sang pemegang tongkat. Dia adalah Vuklir, teman kerja Jordan.
“Kenapa tidak memintaku
untuk langsung membunuh mereka saja, Tuanku?” usulnya.
“Mereka tidak bisa disentuh
sedikit pun oleh kejahatanku, bagaimana pun perantaranya. Aku hanya mampu
menyerang hati mereka untuk mengalahkannya.”
“Aku bisa merasakan kekuatan
yang dimiliki oleh salah satu dari mereka. Begitu kuat hatinya. Sepertinya,
akan sulit sekali untuk dipengaruhi.”
“Dialah anak kecil itu. Anak
yang sulit untuk kusingkirkan! Anak yang menjadi ancaman terbesarku!”
“Bukankah Tuan pernah masuk ke dalam pikirannya? Jika
hatinya terlalu kuat, maka Tuan bisa serang pikirannya.”
“Tidak secepat itu.
Ketakutannya berasal dari ketidaksanggupannya melepaskan ikatan dengan
saudaranya, itulah yang membuat hatinya kuat. Tapi di sisi lain, karena
ketakutan itulah aku bisa masuk ke dalam pikirannya. Jika pun rasa takutnya
kini tidak untuk Earon, hatinya tentu lemah.”
“Bukankah Volan dan Earon
sama saja? Apa yang memungkinkan hati Jordan lemah untuk Earon?”
“Karena bagi Jordan, Earon
dan Volan adalah dua sisi yang sangat jauh berbeda.”
“Lalu, apa yang harus kita
lakukan sekarang?”
“Kita harus tahu kelemahan
hati mereka, lalu kita pecah belah keduanya.”
Suasana terasa sangat
mencekam, terlebih tongkat Pridiatick bersinar terang menyinari ruangan
tersebut, menyatakan kemurkaan sang pemegang tongkat terhadap para pemegang
busur.
Hari libur pagi, cuaca
secerah hati Earon yang ingin berjumpa kembali dengan Jordan. Di tengah
keramaian kota, mereka berjalan sambil membicarakan rencananya.
“Kita akan memulainya dengan
rencana pendekatan. Kurasa itu akan membutuhkan waktu beberapa hari,” usul
Jordan.
“Apapun rencanamu, Jordan,”
sahut Earon gembira.
Sementara Lytro, dia hanya
terdiam dengan wajah gelisahnya melihat kedekatan Earon dengan Jordan. Di sisi
lain, dia pun merasa kesal dengan perlakuan Earon terhadapnya yang seakan lebih
mengutamakan Jordan dari dirinya. Berjalan bersama Filhener dan Wergon, membelakangi
Earon dan Jordan, Lytro menundukkan pandangannya dan tampak dari bola matanya
yang bergerak ke kanan maupun ke kiri, dia sedang memikirkan sesuatu. Sesaat
setelah itu, Lytro kembali mengangkat pandangannya dan segera merangkul,
menarik, dan menahan langkah Wergon yang berada di sisi kirinya.
“Ada apa, Lytro?” tanya
Wergon penasaran dengan tangan Lytro yang masih merangkul pundaknya.
“Tidakkah kau takut
kehilangan temanmu?”
“Maksudmu, siapa?”
Lytro melepaskan
rangkulannya.
“Jordan. Dia terlalu dekat
dengan Earon.”
“Apa yang perlu kutakutkan
jika mereka dekat? Lagi pula, mereka berteman. Aku pun sebagai teman Jordan
sudah sangat dekat sekali dengannya.”
“Itu karena kau tidak tahu
masalahnya!” ucap Lytro seraya mengarahkan wajah kesalnya di depan Wergon.
Situasi terasa hening
sejenak.
“Ada apa denganmu?! Dan
kenapa kau marah padaku?!”
Lytro masih menatap Wergon
dengan wajah kesalnya. Sementara Wergon berusaha memikirkan suatu alasan yang
menyebabkan wajah kesal Lytro belum juga reda.
“Atau jangan-jangan, kau
cemburu pada Earon. Kau….!”
Seketika wajah Lytro yang
marah berubah menjadi wajah keterkejutan atas apa yang sedang dipikirkan oleh
Wergon.
“Tidak, tidak, tidak, tidak.
Aku bukan orang seperti itu,” jelasnya.
Lalu, Wergon bergerak dua
langkah ke samping kiri menjauhi Lytro.
“Apa yang kau lakukan?” kata
Lytro setelah melihat tingkah Wergon tersebut.
Wergon bergerak lagi satu
langkah ke samping kiri. Namun, melihat tingkah Wergon tersebut justru
membuatnya semakin kesal. Dia menggeram marah, lalu segera melangkahkan
kakinya, pergi meninggalkan Wergon yang masih diam berdiri melihat keanehannya,
dan menghampiri yang lainnya.
Hari pertama rencana
pendekatan.
Jordan, Earon, dan yang
lainnya berada di sebuah rumah makan kecil yang letaknya di tepi jalan, tak
jauh dari sungai Chivori. Mereka duduk di sebuah meja dengan kursi yang saling
berhadapan. Terlihat di atas meja, mereka hanya memesan minuman. Jordan dan
Earon membuat coretan rencana mereka di atas selembar kertas putih. Mereka
sangat serius dengan diskusi perencanaan tersebut. Jordan menulis coretannya
dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memasukkan dua sendok teh gula ke
dalam secangkir teh hangatnya. Namun, sebelum gula itu dimasukkan ke dalam
cangkir, Lytro secara diam-diam telah menukarnya dengan wadah yang berisi
garam. Merasa tak puas dengan jumlah garam yang diambil Jordan, dia pun
perlahan-lahan menambahkan tiga sendok garam ke dalam cangkir Jordan saat
sedang diaduk, sementara pandangan Jordan masih tertuju pada coretannya.
“Kurasa untuk rencana
pertama, kedua, dan ketiga cukup seperti ini. Rencana selanjutnya, kita lihat
situasi,” ujar Jordan seraya meletakkan penanya di samping kertas coretannya.
Earon memutar arah kertas
coretan Jordan dan sejenak melihatnya. Sementara Jordan tampaknya sudah merasa
kehausan dan mengambil secangkir teh hangatnya dengan tangan kanan, lalu
meminumnya.
“Bagus, tapi mungkin kita
bisa….”
Semburan dari Jordan
langsung mengarah pada Earon yang berada di hadapannya, sebelum Earon
melanjutkan perkataannya. Filhener, Lytro, dan Wergon langsung tertawa
melihatnya. Wajah, baju atas, dan kertas coretan Earon basah terkena semburan
tersebut. Sementara Jordan menjulurkan lidahnya setelah merasakan sesuatu yang
sangat berbeda dengan tehnya. Dia kemudian mengambil wadah yang dianggap berisi
gula tersebut. Setelah dicicipi kembali, ternyata rasanya asin.
“Garam!” seru Jordan.
Earon merasa malu dengan
kejadian tersebut. Namun, dia pun tahu bahwa itu adalah ulah Lytro. Lalu, dia
melirikan matanya pada Lytro yang duduk di samping kiri Jordan. Melihat tatapan
marah Earon, Jordan pun menoleh ke Lytro yang telah mengumpat tawanya, menutup
mulutnya dengan tangan kanannya yang menggenggam ringan.
Di hari itu pula, di sebuah
taman yang berada di tengah keramaian kota, Earon memperkenalkan Jordan pada
Vurpia. Jordan tersenyum menatap Vurpia seraya sedikit menundukkan kepalanya
sebagai bentuk dari salam perkenalan. Sementara Filhener, Lytro, dan Wergon
dari kejauhan hanya duduk di atas kursi panjang, dekat dengan pohon taman,
melihat aksi dari rencana mereka. Lytro melihat betapa bahagianya Earon saat
bersama dengan Jordan. Tertawa, tersenyum, dan belum pernah dia melihat Earon
murung karena Jordan. Tapi entah apa yang membuat Lytro justru merasa kesal
dengan semua itu. Wajahnya selalu cemberut atau kadang gelisah saat melihat
kedekatan mereka.
Hari kedua rencana
pendekatan.
Jordan, Earon, dan Lytro
pergi ke sebuah toko baju. Terlihat Jordan begitu serius memilihkan baju untuk
Vurpia bersama Earon yang selalu berada di sisinya. Jordan menunjukkan baju
merah berlengan panjang dengan motif bunga. Namun, Lytro dengan segera menarik
Earon ke lemari lain dan memperlihatkan baju pilihannya yang sama dengan yang
ditunjuk oleh Jordan.
“Apa bedanya dengan yang
tadi?!” ujar Earon.
Earon memutar tubuhnya untuk
kembali pada pilihan Jordan. Tapi, Lytro justru menahannya, terus memaksanya
untuk mengambil pilihannya, walaupun Earon tetap mengatakan untuk kembali pada
pilihan Jordan. Serasa sudah cukup lama Earon tak menghampirinya, Jordan
akhirnya mendekati Earon dan Lytro yang masih memperdebatkan pilihan tersebut.
Lalu, sejenak Jordan melihat-lihat baju yang dipilih oleh Lytro.
“Ini memang sama seperti
yang tadi, tapi jahitannya lebih bagus. Kurasa kau ambil yang ini saja, Earon,”
ujar Jordan.
“Lihat! Kubilang juga apa,”
gerutu Lytro.
Pada akhirnya, Earon pun
mengambil baju tersebut untuk segera diberikan pada Vurpia. Tapi untuk
kesempatan rencana kali ini, Jordan tak ikut bersamanya. Dia hanya akan
didampingi oleh Lytro. Mereka membungkus baju tersebut dengan kardus berbentuk
balok yang dilapisi dengan kertas kado cantik.
Malam hari pun tiba.
Di tengah kesibukan
agen-agen yang masih berada di kantor AKLA, Earon dan Lytro mendekati meja
kerja Vurpia. Tampaknya, Vurpia masih sangat sibuk mengetik pekerjaannya di
depan komputernya. Bahkan, dia tak menyadari mereka berdua sudah berdiri di
belakang samping mejanya. Earon masih berdiri ragu untuk memberikan hadiah itu.
Pikirannya bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Langsung memanggilnya
dan menyerahkan hadiah tersebut ataukah harus bertele-tele membahas seseuatu
yang tidak penting, baru menyerahkan hadiahnya. Pikiran Earon yang terlalu
mencemaskan rencananya, membuat Lytro bergerak untuk memulai percakapan. Dia
memanggil Vurpia dengan nada yang lembut. Vurpia pun mendengar panggilan
tersebut dan menoleh ke belakang.
“Hei! Apa yang sedang kalian
lakukan di sini?” tanyanya dengan wajah yang begitu ceria.
Earon masih saja diam
berdiri menatap mata Vurpia. Ingin berkata, namun tak kuasa harus berkata apa.
Mulutnya sedikit terbuka dengan gerakan mata ke kanan dan ke kiri layaknya
orang bingung. Vurpia yang melihat ketidaksanggupan Earon berhadapan dengannya,
hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala dengan pandangan ke bawah. Lytro pun
merasa malu dengan tingkah Earon terhadap Vurpia tersebut dan segera menginjak
salah satu kakinya agar Earon bisa sadar dari ketidakberdayaannya. Earon
mengedip-kedipkan matanya setelah merasakan rasa sakit dari injakan Lytro yang
ia tahan. Pelan-pelan dia menyerahkan kado merahnya dengan kedua tangannya di
hadapan Vurpia. Vurpia menyambutnya dengan senyuman manis, menerima
pemberiannya, lalu mengucapkan terimakasih.
Setelah itu, tanpa ada kata
apapun, Earon yang diikuti Lytro segera pergi dari hadapan Vurpia, entah karena
takut mengganggu waktu kerjanya ataukah ingin segera berteriak meluapkan
keberhasilannya. Namun saat mereka masuk dalam ruang kerja Earon, Earon
langsung berteriak yeah, begitu
bahagianya seraya saling bertepukan tangan dengan Lytro yang ikut bahagia pula,
lalu merangkul pundak mereka satu sama lain.
Hari ketiga rencana
pendekatan.
Malam hari, di tepi jalan
yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, Earon dan Jordan bertemu
di bawah pohon perintis. Di sana, Earon memulai rencana ketiganya. Dia
mengambil handphone dari saku kanan
jaketnya, lalu memencet kombinasi angka. Terlihat dia menempelkan handphone tersebut di telinganya,
menunggu panggilannya diangkat oleh orang tujuannya. Beberapa detik setelah
itu, wajahnya tampak begitu senang dan memulai percakapan dengan orang dibalik
teleponnya tersebut. Merasakan dinginnya malam, Jordan merapatkan jaketnya,
menunggu hingga Earon selesai dengan percakapannya.
Tidak lama kemudian, Earon
menurunkan handphone-nya. Dia begitu
senang dan memberitahu kepada Jordan hasil dari percakapan tersebut. Sepertinya
rencananya berhasil lagi. Namun tanpa disadari, ternyata Lytro telah mengawasi
mereka berdua sejak mereka bertemu. Dia berdiri di seberang jalan, dekat dengan
tiang lampu, menatap mereka dengan pandangan gelisah. Dia melihat kedekatan dan
kebahagiaan mereka yang semakin menjadi-jadi. Namun, wajah gelisahnya berubah
menjadi wajah penuh kekesalan. Dia pun segera menyeberangi jalan dan
menghampiri mereka. Sepertinya, Jordan dan Earon begitu terkejut melihat
kedatangan Lytro yang tiba-tiba. Dia lalu menarik tangan Earon dan mengatakan
sesuatu yang tampaknya begitu penting, yang membuat Earon berpihak pada Lytro
dan meninggalkan Jordan di tempat itu. Berjalan menjauh darinya, Jordan
tampaknya mengerti bahwa mereka sedang serius membahas pekerjaan mereka.
Tiba-tiba, Filhener dan
Wergon mengagetkan Jordan dari belakang dengan menepuk kedua pundaknya. Jordan
sedikit terperanjat, menoleh ke belakang, dan tertawa bahagia melihat kehadiran
kedua temannya. Wergon merangkul pundak Jordan dan mengajaknya pergi dari
tempat itu, berjalan berlawanan dengan arah yang diambil Earon. Walaupun
demikian, Jordan tetap merasa senang. Dia pun memberitahukan rencana Earon yang
baru saja berhasil kepada kedua temannya tersebut. Mereka berdua ikut senang
mendengarnya.
Di balik semua itu,
tampaknya busur tersebut ikut merasakan apa yang Jordan dan Earon rasakan saat
mereka dipertemukan maupun dipisahkan. Lambang masing-masing busur kembali
menyala terang, seakan menjadi kabar gembira bagi yang mengetahui kebenaran
kejahatan yang sesungguhnya. Lalu, cahaya lambang tersebut sedikit demi sedikit
memudar kembali dan membekas seperti ukiran kayu biasa. Namun, Jordan dan Earon
belum menyadari bahwa busur-busur yang sedang mereka sandang telah mereka hidupkan
kembali.
Saat itu pula, pemegang
tongkat Pridiatick juga merasakan kekuatan busur yang mulai terbangun. Di
tempat gelap tersebut dengan nyala merah dari tongkatnya, dia membuat rencana
lebih lanjut untuk menghancurkan kekuatan busur tersebut sebelum Jordan dan
Earon mengetahuinya, bersama dengan Vuklir.
“Kenapa yang terjadi justru
seperti ini? Mereka semakin memperkuat ikatannya. Apa yang harus kita lakukan
sekarang, Tuanku?” ucap Vuklir berdiri di depan pemegang tongkat yang berhawa
kegelapan di sekitarnya.
Sang pemegang tongkat hanya
terdiam dan terlihat matanya yang terpejam tenang.
“Tuanku?!” panggil Vuklir
penasaran atas yang dilakukan tuannya tersebut.
Beberapa saat kemudian, sang
pemegang tongkat membuka mata merahnya pelan-pelan. Tatapannya lurus tertuju
pada sesuatu di depannya, namun tidak fokus.
“Apa yang telah Tuan
lakukan?” tanya Vuklir semakin penasaran.
Sang pemegang tongkat
terdiam sejenak, seakan memikirkan sesuatu yang telah ia lihat maupun yang akan
ia lihat.
“Aku baru saja mencoba masuk
ke dalam pikiran mereka. Namun, hanya Jordan yang bisa kusinggahi,” jawab
pemegang tongkat dengan nada tenang, tapi hatinya bercampur marah dan takut,
“Tidak untuk Volan ataupun Earon, dia memberikan tali yang sama kuatnya.”
Mendengar perkataan tuannya,
Vuklir menurunkan pandangannya sejenak, memikirkan ide yang mungkin muncul
dalam kepalanya untuk dapat menghancurkan para pemegang busur. Namun, tampaknya
dia belum dapat menemukannya, lalu mengangkat pandangannya kembali sambil
berkata, “Apa itu artinya kita tidak dapat melemahkan mereka?”
“Sejak pertama busur-busur
itu dipegang, tak pernah satu pun dari generasi terdahuluku yang gagal untuk
menghancurkan mereka. Kami selalu menang dan sampai sekarang pun, kami akan
selalu menang. Tidak akan pernah kubiarkan mereka menghidupkan busur itu. Earon
masih memiliki kelemahan dalam hatinya. Itu akan mempermudah untuk membunuh
Jordan. Tapi Jordan, aku terpaksa harus memberikan penglihatan itu padanya.”
Vuklir terdiam membisu,
merasa rendah diri di hadapan tuannya.
“Lalu, apa tugasku?” tanyanya dengan suara
pelan.
“Tugasmu hanyalah meyakinkan
Jordan. Jika kau mampu melakukannya, maka dengan mudah hatinya yang kuat akan
menjadi rapuh. Dan saat itulah, hati mereka akan dipenuhi dengan keraguan, yang
pada akhirnya darah akan tertumpah.”
Kelicikan sang pemegang
tongkat tampak dari mata merahnya yang menyipit. Ia memandang tajam Vuklir yang
tersenyum licik atas rencana mereka tersebut.
Malam itu pula, saat
pantulan cahaya bulan melewati ventilasi kamar Jordan yang gelap, sang pemegang
tongkat tidak melewatkan sedikit pun kesempatan untuk segera memberikan mimpi
buruk pada Jordan. Dalam tidurnya yang begitu lelap dan tenang, seketika
ekspresi wajahnya berubah menjadi penuh ketegangan. Mimpi itu dimulai dari
perjalanan dua orang sahabat, yang pada akhirnya mereka memutuskan untuk saling
berperang. Keduanya membawa busur yang begitu cantik dan anggun. Yang satu
berwarna emas dan satunya lagi berwarna perak. Jordan melihat lambang
masing-masing busur tersebut yang menggenggam di tangan mereka. Cahaya merah
menerangi bayangan peperangan itu, membuat mimpi itu semakin terasa mencekam
bagi Jordan. Keringatnya mulai membanjiri tempat tidurnya.
Saat hanya tinggal dua
sahabat yang tersisa dalam peperangan tersebut, Jordan seakan berperan menjadi
salah satu dari mereka. Dia melihat orang yang melawannya membawa busur emas
dan mengarahkan anak panahnya pada dirinya. Begitu juga dengan Jordan, dia
mengarahkan anak panahnya pada orang tersebut. Tangannya gemetar, tak ingin dia
melepaskan anak panah itu pada orang yang membawa busur emas, dan mencoba untuk
mengubah alur mimpi itu. Namun, dia seakan tak bisa mengendalikan semua itu.
Lalu, saat keduanya melesatkan anak panahnya masing-masing, Jordan langsung
terbangun sesaat setelah anak panah dari pembawa busur emas menembus tubuhnya.
Dia terbangun dan langsung
meraba-raba tubuhnya barangkali anak panah itu masih menancap. Napasnya
terengah-engah, seperti habis berlari dikejar singa. Tatapan matanya jelalatan,
seperti orang yang kebingungan. Dia begitu ketakutan atas mimpi yang seakan
terasa nyata baginya. Lalu, dia memejamkan mata sejenak. Mengambil beberapa
napas dalam-dalam, kemudian perlahan-lahan membuka matanya. Dia mencoba
mengingat kembali mimpi anehnya. Lambang busur yang berwarna perak, yang ia
lihat dalam pertarungan dua sahabat itu sepertinya pernah ia temui di dunia
nyata. Dia berusaha keras mengingat lambang itu, tapi pikirannya seakan tak
mampu menjangkau waktu dan tempat ia melihat lambang tersebut sebelumnya,
sehingga kepalanya justru terasa sakit. Dia menekan-nekan dahinya dengan salah
satu tangannya supaya sakit kepalanya agak mereda. Ada apa dengan mimpi aneh
itu, pikirnya.
Saat pikiran Jordan masih
dalam proses ketenangan, tiba-tiba saja jendela kamarnya terbuka ditiup angin
yang begitu kencang. Suara lambaian pintu jendela kayunya yang membanting
dinding tepi jendela dengan angin yang berembus kencang hingga halaman
buku-buku yang berada di atas meja terbuka, membuat suasana hati Jordan semakin
gentar. Cahaya bulan purnama yang melewati jendela memperjelas penglihatannya.
Dia menatap busur yang diletakkan di atas meja, di samping buku-bukunya
tersebut, dan sesaat dia melihat kilauan garis pada busurnya. Merasa penasaran
dengan kilauan garis tersebut, diapun menurunkan kedua kakinya ke lantai,
berjalan pelan mendekati meja belajarnya.
Dalam langkahnya, dia merasa
sedikit tegang dan penuh pikiran. Dia memang pernah melihat lambang di
busurnya. Itu pun sudah sangat lama sekali dan tak mungkin lambang itu sama
dengan yang ia lihat di mimpinya. Sesaat, dia memalingkan pandangannya ke luar
jendela. Tampak langit di sebelah barat begitu gelap. Mungkin itu yang
menyebabkan angin begitu kencang karena akan ada badai dari arah barat,
pikirnya. Namun, dia tidak terlalu menghiraukan akan terjadinya badai tersebut.
Yang masih berat untuk ia pikirkan adalah sesuatu tentang kilauan cahaya pada
busurnya, yang bersinar di bawah pantulan sinar bulan. Saat Jordan sudah
berdiri di dekatnya, kilauan garis itu masih tampak. Dia dengan lembut mengambilnya
dan seketika kilauan garis itu menghilang, menunjukkannya pada penampakan
sebuah ukiran di daerah genggam busurnya. Mata Jordan langsung terperanjat saat
melihat ukiran tersebut. Ukiran yang membentuk lambang sama dengan yang dilihat
di mimpinya. Jantungnya mulai berdebar kencang dan napasnya mengembus
keras-keras. Dia berusaha untuk tetap tenang. Memejamkan matanya kembali
beberapa detik dengan tangan kanan yang masih menggenggam erat busurnya. Dalam
pejamannya yang singkat tersebut, dia berharap bahwa semua ini hanyalah
kebetulan dan tidak ada hubungannya dengan mimpinya, tidak ada hubungannya
dengan keanehan yang sering menimpanya. Begitu membuka mata, maka semua akan
kembali normal, pikirnya.
Dengan pelan-pelan, dia
membuka matanya. Kerutan di dahinya tampak jelas, menginginkan semua itu tidak
nyata. Saat kedua matanya sudah terbuka lebar, dia melihat keadaan di luar
jendela. Tidak terlihat lagi awan gelap di sebelah barat, langit terang dengan
cahaya bulan tanpa ada kabut yang menutupinya, angin kencang sudah mereda, dan
pintu jendela tak lagi membanting dinding. Semua sudah cukup membuat hati
Jordan sedikit tenang bahwa yang terjadi padanya tadi hanyalah halusinasi
semata. Namun, tinggal satu hal lagi yang perlu ia yakinkan bahwa ukiran yang
ada pada busurnya sudah tak ada lagi. Perlahan-lahan, dia melihat kembali
ukiran tersebut. Dan ternyata, yang ia lihat adalah lambang ukiran busur yang
masih tampak sangat jelas di matanya. Dia hanya bisa diam. Terlihat dari
napasnya yang datar dan raut wajahnya yang tenang, Jordan seakan menerima
kenyataan yang terjadi dengan hati yang bingung.
Hari keempat rencana
pendekatan.
Siang itu dengan langit yang
berawan kelabu, Jordan dan yang lainnya menikmati santapan es krim. Mereka
duduk berjejeran di jembatan kayu sungai Chivori, melipat celana panjangnya
hingga setinggi lutut, seraya mengayun-ayunkan kedua kakinya hingga menyentuh
air. Terlihat kedua busur Jordan dan Earon, serta anak panahnya digeletakkan di
belakang tubuh mereka. Wergon yang selalu membawa boneka kesayangannya, ia
baringkan di sisi kanannya.
“Tak ada aksi untuk hari
ini!” seru Earon sambil mengangkat tangannya yang menggenggam es krimnya,
diikuti oleh Jordan dan yang lainnya, sebelum mereka memakannya.
Tapi sebelum lidah Jordan
menyentuh es krimnya, dengan sengaja Lytro menyenggol tangan kanannya, sehingga
kepala es krim tersebut seluruhnya tercebur ke dalam air. Sejenak Jordan
terdiam kaku dengan posisi lidahnya yang hendak menjulur keluar, tangan kanan
yang masih mengangkat kerucut es krimnya, dengan mata yang melirik ke bawah
melihat kepala es krimnya dikerumuni oleh ikan-ikan. Sementara yang lainnya,
berhenti menikmati es krim sejenak, lalu memalingkan pandangannya pada Jordan.
“Mungkin sedikit berbagi es
krim bersama ikan akan mempermudah rencana kita selanjutnya,” gerutu Jordan
seraya menurunkan tangan kanannya hingga bertopang pada pahanya.
Melihat hal itu, Earon
mengambil kerucut es krim Jordan dan membagikan es krimnya lebih banyak dari
bagiannya sendiri.
“Kau benar. Berbagi sedikit
dengan yang lainnya akan mempermudah segala urusan,” ucap Earon seraya
memberikan es krim itu kembali pada Jordan.
“Hmmm, terimakasih,” kata
Jordan seraya tersenyum senang padanya.
Sepertinya tindakan Earon
tersebut memberikan tanggapan pada yang lainnya. Lytro pun mengambil es krim
Earon, lalu menambahkan sedikit miliknya. Sementara Filhener yang duduk di
sebelah Lytro, mengambil es krim miliknya dan membagikannya. Begitu juga dengan
Wergon, membagikan es krimnya di atas kepala es krim milik Filhener.
Sungguh mereka begitu
menikmati es krimnya. Setiap jilatan dari es krim tersebut seakan menjatuhkan
butir-butir beban yang sedang mereka hadapi. Tapi yang terpenting adalah mereka
sangat menikmati kebersamaan yang mereka lakukan, tanpa memandang status
jabatan mereka masing-masing.
“Ternyata, makan es krim tak
seburuk kelihatannya,” kata Lytro sambil menjilat-jilat es krimnya yang hampir
habis.
“Sebenarnya, ini
mengingatkanku pada masa kecilku,” sahut Earon.
“Siapa yang masa kecilnya
tak pernah makan es krim? Tentu tak seorang pun yang akan mengacungkan
tangannya,” ujar Jordan.
Earon menurunkan tangannya
setelah menghabiskan es krimnya.
“Memang benar. Semua seakan
bahagia saat mengingat masa kecilnya. Mereka tersenyum dan tertawa kembali saat
kenangan itu muncul dalam pikiran mereka. Tapi tidak untukku dengan saudaraku.”
Jordan menatap wajah Earon
yang memandang ke bawah dengan tatapan tidak fokus. Dia seakan bisa membaca
sesuatu yang sedang dihadapi oleh Earon. Dari raut muka yang mencoba untuk
tetap tenang, sepertinya Earon memikul beban berat yang telah ia bawa sejak
lama.
“Kau punya saudara?”
Dengan segera Lytro
menghabiskan es krimnya yang masih tersisa sedikit.
“Dulu aku punya seorang adik
laki-laki. Hanya saja, dia….”
Belum sempat Earon
melanjutkan pembicaraannya, Lytro bergegas menyelanya.
“Baiklah, Bung. Waktu
istirahat sudah habis. Kita harus kembali ke kantor sekarang,” kata Lytro
seraya bangkit dari tempat duduknya.
“Baiklah,” ucap Earon
menyusul Lytro bangkit dari tempat duduknya seraya mengambil kembali busur dan
anak panahnya.
Jordan, Filhener, dan Wergon
pun ikut bangkit berdiri setelah menghabiskan es krim mereka masing-masing.
“Ngomong-ngomong, kapan kau
akan menjenguk bibimu lagi?” tanya Earon sambil menyandangkan busur dan anak
panahnya.
“Entahlah. Yang jelas minggu
ini aku tak boleh meluputkannya. Kenapa?” sahut Jordan.
“Jika kau tidak keberatan,
aku ingin ikut denganmu. Aku ingin berkenalan dengan keluargamu. Dan lain kali,
akan kuajak kau untuk berkenalan dengan ayahku.”
“Tentu, tentu. Dan juga
adikmu yang bernama…, siapa?”
Perasaan Earon seakan
terguncang dengan pertanyaan tersebut. Ingin menjawabnya, namun dia tak sudi
untuk menyebut namanya. Sehingga mulutnya hanya terlihat membuka dengan gerakan
bibir yang tak jelas.
“Earon, kita harus pergi
sekarang! Bisakah kita lanjutkan ini lain kali?!” sela Lytro yang tampaknya
merasa kesal dengan situasi tersebut.
Jordan menatap Lytro.
Melihat raut wajahnya, membuat sesuatu terlintas dalam pikiran Jordan. Rasa
penasaran pun memenuhi hatinya, namun dia tetap memendamnya.
“Sebentar saja menunggu, apa
kau tidak bisa?” ucap Earon agak kesal pada Lytro.
“Apa lagi yang harus
kutunggu?!”
Earon pun hanya bisa
mengalah dan menarik napas dalam-dalam.
“Aku harus pergi, Jordan.
Kita lanjutkan lain kali saja,” ucap Earon tenang.
“Kalau begitu, nanti aku
akan menghubungimu.”
Mereka saling berjabatan
tangan, sebelum Earon dan Lytro pergi meninggalkan tiga serangkai.
Earon dan Lytro berjalan
menjauh dari Jordan dan kedua temannya yang masih berdiri memandangi mereka
hingga keduanya menaiki tangga.
“Earon punya seorang adik.
Apa yang kau pikirkan tentang itu, Jordan?” tanya Filhener tiba-tiba.
“Pasti dia sangat beruntung
memilikinya,” jawab Jordan lembut.
“Aku harap juga begitu. Tak
seperti kakakmu Volan yang selalu mengusikmu. Bahkan, hingga selama kau tak
bersamanya lagi pun, dia masih saja mengusik hidupmu.”
“Sssstttt, pelan-pelan saat
menyebut nama itu, Fil. Bagaimana kalau dia mendengar dan mengetahui keberadaan
Jordan? Pasti dia akan menyeret Jordan ke neraka pribadinya,” sahut Wergon
dengan suara pelan.
Jordan mengembuskan napas
kuat-kuat melalui mulutnya dengan pandangan gelisah.
“Kenapa kita bisa berteman
dengan mereka?” tanya Filhener mengalihkan pembicaraan.
Jordan dan Wergon langsung
mengerutkan keningnya dan menoleh pada Filhener yang berdiri di antara mereka.
“Maksudmu, mereka siapa?”
tanya Wergon penasaran.
“Earon dan Lytro. Aku tak
pernah menyangka sebelumnya kalau hidup kita akan seperti ini. Dulu kita
hanyalah pemain akrobat jalanan. Lalu dalam waktu yang begitu singkat, status
kita berubah menjadi penjahat nomor satu yang berteman dengan pembela kebajikan
nomor satu di Losapins.”
“Hehe, memang aneh.”
“Yang menjadi pertanyaan
selanjutnya adalah sampai kapan kita harus terus bersembunyi dari mereka, dari
masyarakat, dari diri kita sendiri?”
Jordan memandang kesuraman
dari wajah kedua temannya, seakan tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk
memilih hidup yang lain.
“Ayolah, Teman-teman. Lagi
pula, ini hanya sesaat. Setelah semua selesai, hidup kita akan kembali seperti
sedia kala. Memilih hidup apapun yang menjadi keinginan kita” ujar Jordan
mencoba mengembalikan semangat mereka.
“Ya. Lalu aku akan bekerja
di perkantoran,” sahut Wergon.
“Atau mungkin menjadi hacker,” ucap Jordan.
“Bekerja sama dengan polisi
menumpas kejahatan,” kata Filhener.
“Menjadi tim AKLA
profesional,” balas Wergon.
“Menyelamatkan dunia,
hahaha…,” sahut Filhener optimis diikuti oleh tawa bahagia bersama Jordan dan
Wergon.
“Menyelamatkan dunia. Itu
pasti hanya mimpi,” kata Wergon yang meleburkan tawanya.
Seketika tawa mereka
menghilang, terdiam tanpa ada ekspresi apapun di wajah mereka.
“Kalau begitu tak perlu
dimimpikan,” ujar Jordan seraya melangkahkan kakinya, pergi dari tempat
tersebut.
Filhener segera menyusul
Jordan setelah dia mendapatkan langkah pertamanya. Sementara Wergon masih
berdiri, memikirkan semua perkataan yang baru saja ia katakan. Mungkinkah bisa
menjadi seperti yang diucapkan bersama teman-temannya tadi, pikirnya.
Lalu, tanpa sengaja
pandangan Wergon tertuju pada busur yang Jordan sandang. Ia melihat sesuatu
yang bersinar pada busur tersebut. Tapi, cahaya itu hanya tinggal kelihatan
tipis-tipis yang kemudian melenyap.
“Jordan, entah hanya
fatamorgana atau aku memang melihat sinar di busurmu?”
Jordan dan Filhener
menghentikan langkahnya, lalu membalikkan pandangannya pada Wergon. Filhener
segera menatap busur Jordan. Begitu juga dengan Jordan yang langsung mengambil
busurnya. Dia mengamati busurnya dan tak ada sinar seperti yang Wergon katakan.
Tapi, ada tambahan ukiran di sekeliling ukiran lambang yang sebelumnya telah
ada. Ukiran itu pasti baru saja muncul, pikirnya.
“Tak ada apapun. Mana ada
sinar pada kayu tua?” sahut Filhener.
“Tapi, aku melihatnya dan
sinar itu memang tampak nyata.”
Saat itu pula, Jordan
mendapat bayangan itu lagi. Bayangan yang hampir sama dengan mimpi buruk yang
pernah ia alami terakhir kali. Kini dia melihat perjalanan tragis yang dialami
oleh sepasang suami istri. Awalnya mereka begitu bahagia, layaknya keluarga
yang mampu membangun keluarga yang harmonis. Namun belum sempat dikaruniai
seorang anak, mereka justru saling meracuni. Racun tersebut dimasukkan dalam
masing-masing makanan dan minuman mereka, yang sekaligus menewaskan keduanya.
Dalam bayangan sekilas itu, tak terlepas dari suasana yang diterangi dengan
cahaya merah dan benda yang selalu ia lihat, yaitu busur emas dan busur perak
yang mulai kehilangan cahaya keanggunannya. Busur emas berada pada genggaman
sang suami, sementara busur perak pada genggaman sang istri.
Tampaknya bayangan yang
tiba-tiba muncul dalam pikirannya tersebut, membuat kepala Jordan seakan
dihantam oleh komet. Dia menekan sisi kepalanya kuat-kuat dan merintih kecil.
Sementara Filhener dan Wergon yang melihat Jordan kesakitan tanpa sebab yang
diketahui, membuat mereka khawatir dengan keadaannya.
“Kau baik-baik saja?” ucap
Filhener cemas yang lekas memegang sisi tubuh Jordan yang hampir terjatuh.
Wergon segera mendekat dan
membantu Filhener memegang tubuh Jordan yang mencoba untuk tetap berdiri.
Jordan membuka matanya kembali secara perlahan-lahan, setelah rasa sakitnya
berhenti. Dia mengambil beberapa napas dalam untuk menenangkan dirinya. Melihat
kondisi Jordan yang mulai pulih, Filhener dan Wergon melepaskan pegangannya.
“Kau tak apa, Jordan? Atau,
kita periksakan dulu ke dokter?” ujar Filhener memulai pembicaraan.
“Tak apa. Tak apa. Aku
baik-baik saja,” jawab Jordan dengan ekspresi wajah yang tampak seperti orang
yang sangat kelelahan.
“Mau mengatakan sesuatu pada
kami?”
“Rasanya seperti ada pikiran
lain yang menjejal kepalamu.”
Suasana terasa sunyi
sejenak. Jordan memandang wajah kedua temannya yang terdiam cemas terhadap
keadaannya tersebut. Lalu, dia malah tertawa kecil melihatnya.
“Tak apa. Aku yakin
baik-baik saja. Dan berhentilah menunjukkan wajah seperti itu di depanku.”
Filhener dan Wergon menarik
napas lega, melihat Jordan dapat tersenyum. Namun di sisi lain, mereka berdua
masih tetap merasa cemas.
“Kalau begitu, ada apa
denganmu tadi?” tanya Wergon.
“Aku melihat…. Entah kenapa
aku melihat kejadian yang cukup menyeramkan.”
“Kejadian di mana?”
“Tunggu dulu. Maksudmu,
seperti kau bisa melihat kejadian melalui pikiranmu?” sahut Filhener.
“Masa depan?” lanjut Wergon.
“Ya, tapi yang kulihat
adalah masa lalu. Dan, selalu diakhiri dengan kematian.”
Wergon dan Filhener langsung
merinding mendengar kata terakhir yang diucapkan Jordan tersebut.
“Kematian? Kematian siapa?”
tanya Filhener.
“Kematian dua orang yang
memegang busur. Yang satunya membawa busur emas dan satunya lagi membawa busur
perak. Awalnya mereka bisa hidup berdampingan, seakan semua bisa menjamin
keduanya tak akan pernah mau menyakiti satu sama lain. Tapi, sepertinya ada
sesuatu yang membuat mereka saling membenci dan akhirnya membunuh.”
“Sejak kapan kau mendapatkan
kisah mengerikan itu?”
“Sekitar dua hari yang lalu.
Awalnya itu muncul lewat mimpi. Tapi setelah itu, semua terlihat begitu saja
tanpa pernah kuperkirakan.”
“Membunuh. Mengerikan
sekali,” sahut Wergon, “Tunggu dulu. Kau bilang busur? Apa, apa menurutmu kau
membawa salah satu dari busur itu? Maksudku, itu aneh bukan kalau tiba-tiba
saja kau mendapat penglihatan itu, lalu kau mungkin membawa busurnya. Busur itu
memberikan petunjuk padamu.”
Jordan mengangkat tangannya
yang memegang busur, sedikit lebih tinggi. Dia menatap busurnya kembali.
“Mungkin kau benar, Wergon.
Dan sinar yang kau lihat di busurku, aku tidak akan menyangkalnya. Sinar itu
juga sering kulihat, membentuk ukiran sedikit demi sedikit,” jelas Jordan
sambil memandangi ukiran di busurnya. Begitu juga dengan Wergon dan Filhener,
melihat dengan jelas ukiran yang muncul di busur Jordan.
“Tapi, entahlah. Sebenarnya
itu membuatku bingung. Karena tepat dua hari yang lalu, kami juga melihat
bayangan itu,” ucap Filhener.
“Kalian mendapat penglihatan
seperti itu juga?” ujar Jordan terkejut.
“Bukan penglihatan, tapi
bayangan. Benar-benar hanya bayangan hitam dan sangat menakutkan.”
“Benar. Jordan. Malam itu,
kami berniat meminjam bukumu untuk mengerjakan tugas. Lalu, sebelum aku membuka
pintu kamarmu lebar-lebar, kami melihat sebuah bayangan berdiri di dekat busurmu
dengan wajahnya yang mengarah padamu atau seperti sedang memperhatikanmu saat
kau tertidur nyenyak. Kami tidak langsung memergokinya. Kami hanya mengintipnya
jika dia mencoba berbuat sesuatu terhadapmu,” lanjut Wergon.
“Mungkin itu hanyalah
bayangan orang dari luar.”
“Tidak, tidak, itu tidak
mungkin. Cahaya bulan yang membuat bayangan itu terlihat jelas. Terlebih saat
dia menoleh ke belakang, kami melihat mata merahnya. Sangat mengerikan. Setelah
melihat itu, kami langsung pergi ketakutan karena kami pikir dia tahu
keberadaan kami.”
Jordan semakin merasa takut
mendengar kesaksian dari kedua temannya tersebut. Apa yang sebenarnya sedang
terjadi, pikirnya.
“Tapi, jika penglihatan itu
benar dan busurmu adalah salah satunya. Itu berarti, busur satunya dibawa oleh
orang lain. Lalu, siapa? Dan, kenapa peristiwa mengerikan itu diperlihatkan
padamu? Apa itu artinya, kau dan pembawa busur lain akan melakukan hal yang
sama, seperti yang ada dalam penglihatanmu?” tanya Filhener resah.
“Mungkin Volan yang
membawanya,” ucap Jordan dengan wajah penuh keresahan yang tampak dari matanya.
Mata Filhener dan Wergon
langsung terperanjat mendengar tebakan Jordan tersebut.
“Ada banyak busur tua di
dunia ini, Jordan. Kenapa yang kau tebak hanya kakakmu?!” sahut Wergon dengan
nada agak keras.
“Dulu, ayahku memberikan
sepasang busur tua ini. Masing-masing untukku dan kakakku. Jadi, siapa lagi
yang harus kutebak kalau bukan dia?”
Filhener dan Wergon
memandang gelisah.
“Oh, tidak. Tidak, tidak,
tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Kalau kakakmu yang membawanya,….”
“Artinya, kejadian itu
benar-benar akan berlanjut padamu,” sela Filhener.
“Busur itu adalah kutukan!
Buang saja, Jordan!” teriak Wergon ketakutan.
“Tidak! Tak boleh ada lagi
yang menemukan dan memegang busur ini, sebelum aku tahu kepastiannya. Aku harus
tahu kenapa peristiwa itu terjadi. Aku harus tahu kenapa busur ini dibuat. Aku
harus tahu semua itu.”
Filhener dan Wergon hanya
bisa terdiam gelisah menatap Jordan yang masih saja bersikeras mempertahankan
busurnya. Kecemasan mereka bertiga akan kejadian aneh tersebut, disambut oleh
langit yang semakin menggelap. Namun, cahaya matahari masih bisa terpantul dari
satu celah kecil awan hitam tersebut. Sorotan cahaya kecilnya yang memanjang
hingga menyentuh ketenangan sungai Chivori, terlihat begitu indah dengan airnya
yang berlinang, bersinar di tengah suasana kota yang meredup, seakan
menggambarkan masih ada harapan bagi mereka yang mau berusaha.
Keadaan yang demikian,
tiba-tiba membuat suasana tersorot kembali pada Jordan dan kedua temannya yang
masih berdiri di pangkal jembatan. Jordan tertawa terkekeh-kekeh, sambil
sedikit membungkukkan badannya, memegang ringan perutnya, hingga mengusap air
mata tawanya.
“Sekarang, apa lagi yang ada
dalam pikirannya?” tanya Filhener terkejut melihat tingkah Jordan yang
tiba-tiba seperti itu.
Wergon hanya bisa mengangkat
kedua bahunya.
“Oh, kalian sungguh.
Sungguh, sungguh temanku yang sangat baik,” ucap Jordan saat tawanya mulai
mereda.
“Ah-hah. Apa hanya itu yang
membuatmu tertawa?” sahut Filhener sambil mengangkat salah satu alisnya.
Jordan terdiam mengumpat
tawanya sambil menatap mata Filhener. Filhener mengembuskan napas dengan
mengeluarkan suara embusannya. Lalu, pergi melanjutkan langkahnya untuk kembali
ke rumah. Jordan dan Wergon pun segera menyusulnya.
“Mungkin lain kali, kami
harus membawamu ke dokter jiwa, Jordan,” lanjut Filhener berjalan berdampingan
dengan kedua temannya, saat dia mendapatkan tiga anak tangga.
Saat itu pula, terlihat
Vuklir sedang berdiri mengamati mereka bertiga, bersembunyi dari balik salah
satu pohon taman yang membatasi ketinggian sungai Chivori. Tampaknya dia sudah
cukup lama berada di sana. Dan dari raut wajahnya, dia tidak begitu senang
dengan hasil pengamatan yang ia lakukan terhadap mereka bertiga, terlebih pada
Jordan. Dia menatap sorotan kecil dari pantulan cahaya matahari yang masih
menyinari sungai Chivori. Hal itu membuat ia ingin meluapkan amarahnya. Dia
mengangkat tangan kanannya sedikit lebih tinggi dengan jari-jari yang terbuka
ringan, mengarah pada lubang awan gelap yang memancarkan sinar tersebut. Hanya
dengan mengepalkan tangannya, seketika tidak ada cahaya lagi yang menyinari
kota Losapins. Baginya, tak akan pernah sedikit pun dari harapan manusia yang
dibiarkan bersinar dalam kehidupan mereka. Semua harapan itu akan dilenyapkan
dan hanya kegelapan yang akan menggantikan harapan itu.
Hari kelima rencana
pendekatan.
Beberapa hari terakhir ini,
langit terus saja tampak murung. Terkadang cuaca tampak cerah hanya beberapa
saat saja. Sinar matahari menerangi daerah Losapins, tapi dengan awan kelabu
yang menggumpal tebal, kemudian cahayanya lenyap kembali. Cuaca tampaknya
sedang tidak teratur, terlebih sore itu ketika Jordan, Earon, dan yang lainnya
berencana untuk bertemu untuk menyiapkan rencana pendekatan selanjutnya.
Di depan toko “LITHINGS
SHOP”, Lytro memarkirkan mobilnya sama yang pernah dibawa Earon saat pertama
kali membelikan bunga aones untuk Vurpia. Dia segera turun bersamaan dengan
Jordan yang baru saja keluar mengunci pintu toko tersebut. Dia mendekati Lytro
yang berdiri menunggunya sambil menyandarkan tubuhnya di pintu mobil depannya
yang tertutup. Mereka bersalaman dan saling menyenyumi sebelum akhirnya
membahas pembicaraan lebih lanjut. Setelah mereka saling melepaskan jabatan
tangan mereka, Jordan merasa ada sesuatu yang kurang dari apa yang dia lihat.
“Di mana Earon?” tanya
Jordan seraya melihat-lihat ke dalam mobil lewat kaca pintu, barangkali Earon
masih berada di dalam.
Lytro langsung menanggapinya
dengan sikap gugup.
“Uh, ya…. Kutinggalkan dia,
um… di kantornya,” jawab Lytro.
Jordan langsung tertawa
mendengarnya.
“Kau meninggalkannya?!
Sungguh teman yang baik. Aku tak menduga kau bisa melakukan itu padanya,”
sindir Jordan.
“Terkadang teman baik harus
mengorbankan seorang teman demi yang terbaik bagi teman yang lain. Bahkan,
untuk dirimu,” gerutu Lytro.
“Baiklah, aku sangat
tersentuh. Tapi, kau meninggalkan dia sepertinya tak ada efek kebaikan untuk
diriku.”
Lytro mengembuskan napas
melalui mulutnya, seakan melepaskan beban pikiran yang menekannya akhir-akhir
ini.
“Justru dengan demikian,
kita akan bebas membahas urusan kita.”
Jordan teringat sesuatu
setelah mendengar ucapan Lytro tersebut.
“Oh, aku hampir lupa,” sahut
Jordan seraya merogoh saku kiri jaketnya.
Dia mengeluarkan sesuatu
yang dibungkus dalam plastik hitam yang diikat, lalu menyerahkannya pada Lytro.
“Terimakasih,” ucap Lytro
seraya membuka ikatan plastik tersebut.
Jordan membalasnya dengan
anggukan dan senyuman singkat.
Setelah Lytro sudah
melepaskan ikatannya dan tinggal melihat isi dalam plastik tersebut, Jordan
menanyakan sesuatu padanya.
“Lytro, apa kau
menyembunyikan sesuatu dariku?”
Lytro memalingkan
pandangannya pada Jordan, sebelum dia melihat isi dalam plastiknya.
“Tidak,” jawabnya.
Jordan masih belum merasa
puas dengan jawaban yang terlalu singkat tersebut.
“Kalau begitu, katakan
padaku kenapa kau memintaku untuk melakukan semua ini?”
“Sudah kubilang, kau tak
perlu tahu dan itu tak penting bagimu.”
“Aku tahu kau mencoba
menjauhkanku dari Earon.”
Lytro langsung terkejut
dengan tebakan Jordan tersebut.
“Untuk apa aku melakukan
itu?! Seperti kurang kerjaan saja.”
“Itu sebabnya hanya kau yang
tahu. Kau meninggalkannya, tidakkah itu salah satu bukti bahwa kau berusaha
agar aku tidak terlalu dekat dengannya.”
“Aku meninggalkan dia,
karena aku memang ingin meninggalkannya. Dan tak ada hubungannya dengan dirimu,
mengerti?!”
“Kau tidak bisa
membohongiku, Lytro. Tingkahmu berubah setiap aku berhadapan dengan Earon.”
“Bagaimana kalau hentikan
pembicaraan yang tak penting ini?!” teriak Lytro yang mulai kesal dibuatnya.
Jordan diam menatap wajah
Lytro dengan pandangan gelisah.
“Tidak semua teman tahu
tentang diriku. Dan aku memercayaimu atas hal itu. Aku tahu yang kau lakukan
adalah yang terbaik untuk kami.”
Lytro menundukkan
pandangannya sejenak. Dia seperti memendam penyesalannya atas perkataan yang
baru saja ia ucapkan pada Jordan.
Tiba-tiba, Earon langsung
muncul dengan tatapan tajam ke mata Lytro. Kehadirannya tersebut tentu membuat
Lytro dan Jordan kaget seperti melihat kemunculan hantu yang ingin balas
dendam. Dengan segera, Lytro pun menyembunyikan bungkusan plastik hitam itu di
belakang tubuhnya. Tampak dari wajah Earon yang memerah dan gerakan bibirnya
yang tak sabar ingin menggigit sesuatu, dia sangat marah pada Lytro.
“Earon, dari mana saja
dirimu?! Kau tahu aku mencarimu, jadi aku menanyakan keberadaanmu pada Jordan.
Tapi ternyata, dia juga tidak tahu hehe,” kata Lytro berdiri kaku dengan tangan
kanan di belakang tubuhnya.
“Jangan banyak alasan! Kau
memang sengaja meninggalkanku! Kau juga sengaja mengunciku di kantor saat aku
sibuk mencari buku yang kau minta!”
“Apa?!” sahut Jordan
terkejut mendengar pengakuan Earon tersebut.
“Tidak, tidak, sungguh. A,
a, aku tidak bermaksud demikian,” jawab Lytro gugup.
“Kau pikir dengan menyiapkan
banyak makanan di atas mejaku, aku akan bersantai menikmatinya hingga pintu
terbuka sendiri. Tidak!” kata Earon yang semakin mendekatkan langkahnya pada
Lytro.
“Sungguh! Aku, aku….”
Lytro mengambil beberapa
napas sejenak. Ekspresi wajahnya dari yang penuh kegugupan berubah menjadi
wajah keberanian untuk menjawab Earon.
“Baik. Baik. Aku salah. Aku
minta maaf.”
Earon terdiam dengan wajah
kemarahan yang mulai mereda setelah mendengar permintaan maaf dari Lytro.
Kemudian, dia melirikkan matanya pada sesuatu yang Lytro sembunyikan.
“Apa yang kau sembunyikan
itu?!” tanyanya penasaran.
“Bukan apa-apa.”
“Perlihatkan padaku!” seru
Earon seraya mencoba meraih tangan Lytro yang memegang bungkusannya.
Lytro pun menghindarinya,
tapi Earon mencoba meraihnya lagi. Dalam posisi tubuhnya yang terhimpit oleh
mobil dan Earon yang berada di depannya, Lytro terus berusaha agar Earon tidak
mendapatkannya.
“Ini tidak penting bagimu!”
ucap Lytro mencoba meyakinkannya.
“Kalau tidak penting, kau
tak perlu menyembunyikan itu dariku!”
Jordan yang melihat tingkah
mereka saling memperebutkan bungkusannya, membuatnya tidak tinggal diam.
“Baik, cukup! Earon! Lytro!”
seru Jordan.
Namun, tak satu pun dari
mereka berdua yang memperhatikan Jordan.
“Kubilang, cukup kalian
berdua!” kata Jordan lebih keras, hingga terdengar guntur di langit yang seakan
menanggapi seruan Jordan tersebut.
Mereka berdua langsung
berhenti bertengkar dan sejenak memandang langit yang sudah gelap tertutup
awan, seakan mencari arah suara guntur itu berasal. Lalu, memalingkan
pandangannya pada Jordan.
“Bungkusan itu, aku yang
memberikannya. Lytro benar, isinya tidak penting bagimu. Karena di dalamnya
hanyalah...,” Jordan berpikir sejenak, “Rumus matematika.”
Earon mengerutkan keningnya
mendengar penjelasan Jordan.
“Uh…, kurasa kita harus
segera bergegas untuk persiapan bioskop di rumahku. Filhener dan Wergon sudah
menunggu kita di sana,” sela Lytro segera sebelum pikiran Earon mengarah ke
hal-hal yang tidak ia inginkan.
“Kalian berdua pergilah,”
sahut Jordan.
“Apa? Kau tidak ikut?” tanya
Earon dengan perasaan kecewa.
“Tidak,” jawab Jordan seraya
memandang lurus ke mata Lytro.
“Kenapa tidak? Ini
rencanamu, Jordan. Bagaimana jadinya nanti tanpa dirimu?”
Melihat tatapan Jordan yang
masih tertuju pada Lytro, Earon menaruh curiga terhadap Lytro.
“Jangan-jangan kau telah
mengatakan sesuatu pada Jordan!” ujar Earon menatap tajam Lytro.
Tatapan Lytro langsung
berpaling pada Earon yang mulai meluapkan amarahnya kembali padanya.
“Apa yang kau bicarakan?!
Kau selalu mencurigaiku semenjak kau memperkenalkan aku dengannya!”
“Itu bukanlah kecurigaan.
Aku berbicara berdasarkan fakta. Kau ingin tahu apa yang kubicarakan? Kau
mencoba menjauhkan aku dari Jordan!”
“Oh, hebat. Bukan pertama
kalinya aku mendengar itu dalam waktu kurang dari lima belas menit.”
Earon tertawa sinis.
“Ternyata ada orang lain
yang berbicara seperti itu padamu, ya? Siapa dia? Akan kuberi dia penghargaan
atas pikirannya yang sama denganku terhadap dirimu!”
Lytro hanya terdiam kesal
sambil mengarahkan pandangannya pada Jordan. Saat itu pula, Earon melihat arah
tatapan Lytro tersebut.
“Jordan? Jadi, Jordan juga
mengatakan itu. Ternyata kami, para korbanmu telah mengungkapkan kebenaran dari
tujuanmu yang sesungguhnya!”
“Kebenaran?! Seharusnya kau
selidiki dulu sesuatu yang kau anggap kebenaran itu. Aku melakukan semua ini
adalah untuk kebaikanmu. Untuk kebaikan kalian berdua.”
“Kalau begitu, katakan
kenapa kau melakukan itu pada kami?”
“Aku tidak bisa
mengatakannya. Jika aku mengatakan alasannya, itu tidak akan baik lagi bagi kalian.”
“Baik, Kawan-kawan. Sudah
cukup bertengkarnya,” ucap Jordan mencoba bersikap tenang, meredakan
ketegangan, “Earon, aku tidak ikut karena ada sesuatu yang harus kukerjakan.
Aku bisa saja menyusulmu nanti jika aku sudah menyelesaikannya. Lytro, aku tahu
apapun yang kau lakukan adalah yang terbaik untuk kami, teman-temanmu. Kita
adalah teman, jadi kita nikmati persahabatan ini dengan saling berbagi
kebaikan, mengerti?”
Earon dan Lytro terdiam,
memikirkan perkataan Jordan tersebut atas pertengkaran sepele yang baru saja
mereka lakukan.
Malam hari sekitar pukul
08.20 waktu setempat, Vurpia, Earon, dan Lingchi yang juga merupakan agen
wanita satu kerjanya, berjalan keluar pintu setelah menonton bioskop di ruang
keluarga rumah Lytro yang masih menampilkan adegan credits pada layar proyeksinya. Terlihat
Vurpia begitu cantik dengan baju merah pemberian Earon.
“Uh…, Vurpia. Sebenarnya ada
sesuatu yang ingin kukatakan,” ujar Earon seraya menghentikan langkahnya,
diikuti oleh Vurpia dan Lingchi, saat mereka berada di ujung tangga depan
pintu.
Earon merasa gugup harus
memulai pembicaraannya dari mana. Melihat kegugupannya, Vurpia meminta Lingchi
untuk pergi mendahuluinya.
“Lingchi, bisakah kau tunggu
aku di dalam mobil?” pinta Vurpia.
“Tentu saja,” sahut Lingchi
dengan senyuman, “Selamat malam, Earon. Terimakasih juga atas tontonannya.”
Earon membalasnya dengan
senyuman lebar.
Sesaat setelah Lingchi
meninggalkannya, Earon melanjutkan pembicaraannya.
“Jadi, Vurpia. Sebenarnya,
aku….”
“Ya?” ucap Vurpia dengan
penuh penasaran.
“Aku….”
“Ya?”
“Aku….”
“Iyyyaaaa? Aku menunggumu,
Earon.”
“Oh, maaf. Hanya saja aku….”
Kegugupan Earon membuatnya
sulit untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Vurpia.
“Apa lagi yang kau tunggu?!
Apa susahnya mengatakan itu padanya?” gerutu Lytro yang berdiri di depan pintu
melihat peristiwa itu, bersama Wergon dan Filhener.
Angin malam berembus
mengenai tubuh mereka. Pohon-pohon di sekitar rumah menari-nari seakan
menyambut malam yang kian larut. Vurpia merapatkan jaketnya, namun tatapannya
masih tertuju pada Earon. Sementara itu, Earon berusaha untuk tenang agar bisa
mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Dia mengambil napas panjang sejenak,
bahkan hingga menelan ludah sekali. Kemudian saat itu juga Jordan datang,
berjalan menuju pintu pagar besi yang tingginya sekitar satu meter. Dia membuka
pintu pagar tersebut. Tapi saat melihat Earon sedang berdiri di hadapan Vurpia,
dia menghentikan langkahnya, dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh
keduanya.
Tampaknya, rasa gugup Earon
sudah luntur dan siap untuk mengatakannya.
“Jadi, Vurpia. Maukah kau
menikah denganku?”
Seketika Vurpia terkejut
mendengar pengakuan Earon tersebut. Kini, wajah Vurpia memerah dan tampak gugup
dengan jawaban yang akan ia berikan pada Earon.
“Tapi, kau tahu aku sudah
tidak punya lagi orang tua,” kata Vurpia.
“Ya, aku tahu itu.”
“Aku berbeda dari wanita
lainnya.”
“Ya, itulah yang kusuka.”
“Tapi, aku benar-benar
berbeda dengan wanita lain. Aku harus memakai pakaian yang sangat rapat untuk
menghindari kontaminasi dengan ya, kau tahu.”
“Aku suka busana
tertutupmu.”
“Aku wanita yang menyukai
bunga aones. Itu sungguh aneh, bukan?”
“Tidak apa. Itu tak
masalah.”
“Jarang ada wanita yang
menyukai bunga mematikan itu. Heh! Aku memang wanita aneh. Padahal, mereka
menggunakannya sebagai hiasan rumah mereka saat ada orang yang meninggal.”
“Kurasa, kau hebat.”
“Setelah selesai, mereka
langsung membuangnya. Sementara aku, menyimpannya hingga batas kuncupnya
kedaluwarsa.”
“Oh, terimakasih.”
“Terimakasih untuk apa?”
“Jawabanmu?”
Suasana terasa hening
sejenak. Vurpia dan Earon terdiam dengan saling bertatapan mata. Sementara
Jordan, Wergon, Filhener, dan Lytro, masih menunggu adegan selanjutnya.
“Maafkan aku, Earon. Aku
sungguh tak bisa,” jawab Vurpia dengan wajah muram.
Earon merasa sangat sedih
dengan keputusan itu. Tapi, dia mencoba untuk bisa menerimanya.
“Tidak apa-apa. Setidaknya,
kita masih menjadi rekan kerja.”
“Bukan itu yang kumaksud.
Aku benar-benar tak bisa. Aku tak bisa menolak permintaanmu. Aku ingin menjadi
cinta sejatimu. Selamanya.”
Wajah Earon yang begitu
sedih terperanjat menjadi wajah dengan penuh kegembiraan. Begitu juga dengan
Jordan dan yang lain, mereka begitu bahagia karena rencananya telah berhasil.
Saking bahagianya, Earon seakan ingin terbang ke angkasa dan mengajak Vurpia
berdansa bersamanya, melayang di udara. Namun hal itu tidak akan terjadi karena
dalam khayalannya tersebut, ia tersambar petir sebelum lagu diputar dan
seketika dia kembali dalam kenyataan. Walaupun demikian, Earon masih ingin
meluapkan kegirangannya. Secara tidak sadar, dia membuka kedua tangannya dan
ingin memeluk Vurpia. Tapi dengan segera, Vurpia pun menghalangi tangan Earon
sebelum ia menyentuhnya.
“Ooops, maaf. Aku tidak
bermaksud untuk memelukmu,” ucap Earon menyesal.
Vurpia membalasnya dengan
senyuman manis.
“Kalau begitu, segeralah
kita atur tanggal pernikahannya! Agar aku pun bisa memelukmu setiap saat.”
Mereka berdua terlihat
begitu senang, saling tersenyum sipu, dan bertatapan mata.
“Kurasa, aku harus kembali
sekarang. Aku khawatir Lingchi menungguku terlalu lama,” ujar Vurpia, “Sampai
bertemu lagi, Earon.”
Earon membalasnya dengan
menganggukkan kepalanya.
“Aku pulang dulu, Lytro,
Fil, Wergon!” kata Vurpia dengan suara keras.
“Hati-hati!” balas Wergon
dan Lytro bersamaan dengan Filhener yang membalas, “Sampai bertemu lagi.”
Vurpia melangkahkan kakinya
menuju gerbang dan terkejut melihat Jordan berdiri di sana.
“Jordan? Kau tidak masuk?”
“Uh, aku baru saja datang.
Dan aku melihat kau mau keluar, jadi aku berhenti. Di sini.”
Sekilas, Vurpia teringat
ungkapan cinta yang baru saja Earon katakan padanya, lalu tersenyum lebar
sambil melangkahkan kakinya kembali menuju gerbang yang telah Jordan bukakan
untuknya.
“Aku pulang dulu, Jordan,”
ucapnya ketika melewati Jordan.
Jordan membalasnya dengan
anggukan dan senyuman.
Tapi tiba-tiba, Jordan
merasakan hawa yang tidak enak, sesaat setelah Vurpia melewatinya. Kipasan
angin yang ia rasakan dari tubuh Vurpia, membuat hatinya terperanjat gundah.
Waktu seakan menjadi lambat, udara malam yang awalnya tidak begitu dingin
baginya, kini menjadi terasa sangat dingin hingga dia merapatkan jaketnya
erat-erat. Terdengar suara desis yang memanggil namanya, lalu ia merasa ada
beban yang ditaruh di pundaknya.
“Jordan, jangan melamun!”
seru Earon khawatir dengan tangan kanan yang diletakkan di pundak Jordan.
Jordan langsung terkejut sadar, sekaligus
situasi yang ia rasakan kembali normal.
Kemudian, Earon memeluk erat
Jordan sebelum Jordan mengatakan sesuatu. Earon begitu bahagia, entah karena
rencananya telah berhasil atau sangat sayang pada sahabatnya tersebut
sampai-sampai Wergon, Filhener, dan Lytro yang berjalan mendekatinya, melihat
pelukan Earon yang tak kunjung dilepas.
“Terimakasih, Jordan,” kata
Earon lirih di dekat telinga Jordan.
Jordan tersenyum haru atas
sikap Earon tersebut. Dia juga semakin mengeratkan pelukannya.
“Ini terlalu dramatis,”
gerutu Filhener, “Bisakah kalian sudahi pelukannya? Jika orang lain melihat
ini, mereka akan mengira kita semua gila.”
Earon melepaskan pelukannya
dan tiba-tiba, sesuatu terlintas dalam pikirannya.
“Lytro, bagaimana dengan
kasus tiga bayangan bulan?” tanyanya.
“Uh, aku sudah sedikit lebih
tahu tentang mereka,” jawab Lytro bimbang, “Tapi, jangan khawatir. Aku pasti
segera mengungkap kedok mereka dalam waktu dekat ini dan kau tidak perlu
menanyakan itu. Kau tahu, biar aku yang menangani mereka. Dan kau cukup
menangani yang satunya. Uh maksudku, aku menangani tiga bayangan bulan sendiri,
tapi aku juga akan membantumu menangani yang satunya.”
Earon hanya bisa tersenyum
sinis melihat sikap dan ucapan Lytro yang seperti dihadapkan dengan ujian
kelulusan.
“Baik, kuberi kau waktu satu
minggu. Setelah itu, yang menjadi urusanmu akan menjadi urusanku pula.”
“Hei, tidak bisa begitu!”
“Siapa yang kalian
bicarakan? Tiga bayangan bulan dan yang satunya,” tanya Jordan penasaran.
“Tiga pencuri tulang lebah
madu yang tak kunjung ditangkap oleh Lytro, kami nobatkan sebagai tiga bayangan
bulan,” jelas Earon seraya sedikit menyindir Lytro.
Jordan, Wergon, dan Filhener
langsung merasa kaku di sekujur tubuhnya. Mereka seakan tak bisa bergerak dan
berkata apapun lagi, hanya saling melirikkan mata di antara ketiganya.
“Dan yang satunya….”
Earon berhenti berkata
sejenak. Wajahnya terlihat murung sebelum ia melanjutkan perkataannya.
“Ah, kalau itu tidak perlu
dibahas,” katanya.
Walaupun demikian, Jordan
merasakan adanya kejanggalan dari permasalahan yang sedang ia hadapi baru-baru
ini. Bukan hanya karena dari penglihatan seramnya, tapi juga orang-orang di
sekelilingnya. Semua terasa aneh, seakan ada teka-teki yang jawabannya mungkin
akan membuatnya sangat terkejut.
Malam semakin larut. Mereka
semua menginap di rumah Lytro. Sekitar pukul 02.36, saat semuanya masih
tertidur lelap, Lytro menyempatkan diri untuk masuk ke ruang perpustakaan
kecilnya dengan membawa bungkusan plastik yang diberi dari Jordan. Dia duduk
sambil mengeluarkan satu per satu isi dalam plastik tersebut di atas meja
persegi dengan penerangan lampu duduk. Dia mengeluarkan flashdisk, selembar kertas berukuran (9x4) cm dan terlihat dari
gerakan matanya yang membaca tulisannya, lalu satu sendok teh serbuk hitam yang
dibungkus dalam plastik klip bening ukuran kecil. Dia begitu terkejut melihat
serbuk hitam tersebut, kemudian diangkat kira-kira setinggi matanya,
mengamatinya sambil diremas-remas menggunakan jari-jarinya. Namun, dia tak
mampu mengenali serbuk hitam itu. Timbul berbagai pertanyaan di benak Lytro.
Kenapa Jordan memberikan itu padanya dan apa sebenarnya serbuk hitam tersebut,
pikirnya penasaran.
No comments:
Post a Comment