CHAPTER 4: KEDEKATAN

 

Suatu hari, Vurpia mendatangi meja kerja Lytro. Dia melihat Lytro diam termenung menatap layar komputernya yang menyala, dan tangan kanannya masih memegang mouse. Tampaknya, dia begitu gelisah memikirkan sesuatu.

“Lytro. Lytro?” panggil Vurpia resah di depan mejanya.

Lytro tetap terdiam tak merespon.

“Lytro!” ucap Vurpia lebih keras.

Lytro pun tersentak dan menoleh Vurpia.

“Ada apa, Lytro? Hari ini kau terlihat berbeda.”

“Kita perlu bicara. Ini tentang Earon.”

Melihat tatapan Lytro, Vurpia tahu bahwa telah ada tanda yang buruk baginya, yang akan terjadi pada Earon.

Sementara siang itu di Universitas Losapins, Jordan dan kedua temannya baru saja keluar dari kelasnya. Mereka berjalan menuju kelas lain untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Namun dalam perjalanannya, tiba-tiba suara handphone Jordan berbunyi. Mereka melihat nama orang yang meneleponnya, tertulis Mr. C. Belum sempat Jordan menekan tombol angkat, Migo merebutnya dari belakang dan mematikannya.

“Kembalikan, Migo!” pinta Wergon seraya tangannya meraih-raih handphone Jordan yang berada pada tangan Migo.

“Kau mulai berani denganku ya, Anak cengeng!” ucapnya dan dengan cepat mengambil boneka Wergon yang digantung di sisi kanan tasnya.

“Berikan Kritty padaku! Jika tidak….”

“Jika tidak, apa yang akan kau lakukan, hmmm? Menangisinya seharian?” ejek Migo sekaligus semua geng Migvor yang berada di sana menertawakannya, “Kalian bertiga memang lemah!”

“Jika tidak, boneka itu akan menaruh dendam padamu, lalu tubuh kalian akan hancur berkeping-keping. Berceceran di setiap sudut ruangan ini,” sahut Filhener dengan nada datar dan wajah dingin.

Tawa mereka berubah menjadi senyum ketakutan.

“Kau pikir aku percaya denganmu!”

Filhener mengangkat kedua bahunya tanpa ada ekspresi apapun di wajahnya.

Migo menatap Wergon. Benarkah yang dikatakan Filhener, apa itu sebabnya si anak cengeng Wergon selalu berbicara sendiri dengan bonekanya, apa boneka ini mengandung kutukan. Banyak hal yang dipikirkan oleh Migo, namun dia sadar bahwa tak mungkin juga ada hal-hal seperti itu. Perasaannya bercampur aduk antara percaya dan tak percaya, takut dan jengkel.

Pada akhirnya, Migo mengembalikan boneka itu pada Wergon. Tapi, rasa jengkelnya tetap ia lampiaskan dengan melempar handphone Jordan ke tembok dengan sangat keras hingga semua bagiannya terlepas. Pandangan Jordan menuju pada handphone-nya yang sudah tak berbentuk lagi.

“Kau ingat luka lecet di tanganku yang pernah kau buat?! Ribuan losa harus kubuang hanya untuk menghilangkan bekasnya. Harga handphone-mu saja belum cukup untuk membayarnya! Jadi jika lain kali kuambil lagi barangmu, jangan pernah memintaku untuk mengembalikannya padamu!” ucap Migo menatap marah Jordan.

Tapi, Filhener justru tertawa kekeh mendengar ucapan Migo tersebut. Semua pandangan mereka mengarah padanya.

“Hei, Ketua geng. Kupikir kau dipilih karena kekuatanmu. Ternyata, kau bisa lecet juga oleh kami yang lemah ini?”

Migo langsung mengerutkan keningnya. Dia seakan ingin meluapkan amarahnya kembali atas perkataan menjengkelkan yang baru Filhener katakan, namun dia tak bisa berbuat apapun. Terlebih ada seorang bapak dosen yang berjalan melewatinya, memperhatikan tingkahnya, menuju kelas yang akan dimasuki oleh Jordan dan yang lainnya.

“Ayo, kita pergi dari sekumpulan orang aneh ini!” ujar Migo dengan perasaan marah.

Geng Migvor akhirnya pergi dari hadapan mereka. Migo menghantamkan tubuhnya ke bahu Jordan saat dia berjalan melewatinya. Jordan pun sedikit terpental, lalu sejenak tangannya memegang bahunya yang terkena hantamannya.

“Kau benar-benar membuat mereka ketakutan, Filhener. Tapi lain kali, jangan lagi kau sebut Kritty sebagai boneka kanibal,” ucapnya seraya mengelus-elus kepala bonekanya, “Bukan begitu, Kritty-ku sayang.”

Filhener hanya bisa mendengus melihat tingkah gila yang dilakukan lagi oleh Wergon. Lalu tanpa pikir panjang, dia segera mengambil handphone-nya untuk menghubungi Mr. C. Beberapa saat kemudian, setelah Mr. C atau yang biasa disebut orang yang tak dikenal itu menerima panggilannya, Filhener segera menyerahkannya pada Jordan.

“Ada apa tadi kau meneleponku?” tanya Jordan penasaran.

Jordan terdiam mendengarkan jawaban Mr. C.

“Tapi, kenapa?”

Dia terdiam mendengarkannya lagi.

Wergon dan Filhener tidak dapat mengerti pembicaraan Jordan. Mereka hanya bisa menunggu hingga pembicaraan itu selesai. Setelah handphone-nya sudah diturunkan, Jordan mengembuskan napas seraya memandang gelisah kedua temannya. Wergon dan Filhener merasakan sesuatu yang tidak enak dengan tatapan mata Jordan tersebut.

Sore hari dengan langit yang berselimut awan tipis, Earon beserta Lytro berjalan di sepanjang trotoar yang bersebelahan dengan taman yang membatasi ketinggian sungai Chivori. Mereka menikmati keramaian kota dengan kehangatan matahari sore yang menyengat bagian belakang tubuh mereka, embusan angin yang menggoyangkan pohon-pohon di taman, dan kilauan cahaya matahari yang terpancar dari air sungai. Jeritan tawa sesekali terdengar dari gurauan mereka yang semakin menyatu dengan suasana ketenangan pinggiran sungai. Saat Lytro masih tertawa bersamanya, Earon melihat tiga orang yang berada di jembatan kayu seberang sungai. Setiap langkahnya memperjelas pandangannya pada tiga orang tersebut, membuatnya semakin penasaran siapa mereka yang sepertinya sudah sangat akrab dengan penghuni sungai Chivori. Lalu, senyuman lebar muncul di wajah Earon saat dia menyadari bahwa ada Jordan di antara ketiganya. Dia segera menepuk-nepuk bahu Lytro untuk menunjukkan padanya sosok Jordan, seseorang yang selalu ia ceritakan.

“Lihatlah! Itu Jordan!” teriaknya kegirangan.

“Ayo!” lanjutnya seraya berjalan lebih cepat menuju jembatan kayu.

Lytro menghentikan langkahnya sejenak.

“Kau bercanda?! Kita harus berputar melewati jembatan utama yang jaraknya sekitar enam ratus meter dari titik aku berdiri,” keluh Lytro.

Earon berhenti melangkah, membalikkan padangannya ke Lytro yang tertinggal sekitar empat meter darinya.

“Baik, kalau begitu kau berenang saja ke sungai!” sahut Earon agak kesal.

Lytro terdiam, sementara Earon masih menunggunya.

“Apa lagi yang kau tunggu?!”

Akhirnya, Lytro memutuskan untuk mengikutinya.

Sementara Jordan yang bersama dengan Wergon, Filhener, dan Faisr yang bertengger di pundaknya, sedang menaburkan pakan kepada ikan-ikan yang berada di sungai.

“Akhir-akhir ini aku sering merasakan sesuatu yang aneh,” ucap Jordan dengan pandangan ke arah kerumunan ikan di depannya.

“Aneh dalam arti?” tanya Filhener penasaran.

“Aku juga tidak tahu pasti. Aku hanya sekedar melihat sekelilingku dan kurasakan hal yang tak biasa. Bahkan, terkadang hatiku bergetar secara tiba-tiba, tidak saat aku memikirkan sesuatu.”

“Mungkin itu hanyalah permainan perasaan, Jordan. Kau tahu, sering sekali kita tertipu dalam permainan perasaan itu,” sahut Wergon.

“Lagi pula, kami tidak merasakan apapun. Semua tampak normal, seperti biasa,” hibur Filhener menenangkan Jordan.

“Masalahnya adalah…, sekarang aku merasakan getaran kuat itu lagi,” ucap Jordan seraya menatap kedua temannya.

Filhener dan Wergon membalas tatapannya dengan perasaan sedikit takut.

“Hei, Jordan!” teriak seseorang dari atas sambil melambaikan tangannya.

Jordan menatap wajah orang itu dengan saksama.

“Earon!” ucapnya senang.

Earon dan Lytro berjalan menuruni tangga, menghampiri mereka bertiga.

“Jadi, dia yang bernama Earon,” kata Wergon saat kedua agen sampai di pangkal jembatan.

“Dan dia bersama dengan…. Lytro,” sahut Filhener disertai dengan saling bertatapan mata di antara ketiganya. Saat itu juga, Faisr melepaskan tenggerannya, terbang seakan menjauh dari keterlibatan.

Earon dan Lytro sudah berdiri di hadapan mereka. Tampak dari raut muka Earon yang begitu bahagia bisa melihat Jordan kembali. Namun di sisi lain, Jordan dan kedua temannya agak canggung dengan kehadirannya terlebih bersama dengan Lytro.

“Bagaimana kalian bisa kemari?” tanya Jordan senang dan penasaran.

“Aku melihatmu dari atas seberang sana,” jawab Earon seraya menunjuk perkiraan tempat tersebut.

Sejenak Jordan menoleh ke belakang, mengarahkan pandangannya pada tempat yang dimaksud Earon.

“Perkenalkan, Jordan. Dia adalah teman sekerjaku, namanya Lytro Crodawill. Dan Lytro, dia adalah teman yang sering aku ceritakan padamu, Jordan Miguveer.”

Mereka berdua saling berjabat tangan dengan penuh senyuman di wajah mereka.

“Dan dua temanku ini adalah Filhener dan Wergon,” kata Jordan seraya menunjuk pada mereka di sebelah kanannya.

Mereka saling berjabatan tangan sebagai awal perkenalan mereka.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Lytro dengan wajah penasaran sesaat setelah dia melepaskan tangan jabatannya yang terakhir bersama Filhener. Dia merasa tidak asing lagi dengan rupa tiga serangkai.

“Uh, belum. Belum pernah sama sekali kita bertemu. Bukan begitu, Teman-teman?” jawab Wergon tersenyum geram sambil menepuk pundak Filhener dengan cukup keras, sehingga membuatnya sedikit membungkuk ke samping arah tepukannya.

“Yah, belum sama sekali. Bukan begitu, Jordan?” sahut Filhener yang merambatkan tepukannya ke pundak Jordan.

“Mungkin kita memang pernah bertemu.”

Wergon dan Filhener langsung terkejut dan menoleh ke arah Jordan bersamaan.

“Hanya saja pada saat itu kita tidak menyadarinya, karena belum saling mengenal,” lanjut Jordan tenang.

Lytro tertawa mendengar ucapan Jordan.

“Kau benar, ehehehe…,” katanya sambil merangkul pundak Jordan dan menggoyang-goyangkan jari telunjuk dari tangan lainnya ke depan dan belakang.

“Jadi, kalian adalah agen AKLA?” ucap Filhener.

“Pemimpin,” sahut Lytro.

“Pemimpin?”

“Earon yang memimpin AKLA. Sementara aku bisa disebut sebagai tangan kanannya. Jadi, beruntunglah kalian memiliki kami, karena kami bisa selalu melindungi kalian atau malah kami lebih cepat menangkap kalian, hahahaha…,” gurau Lytro.

Jordan, Filhener, dan Wergon tesenyum kaku mendengar gurauan tersebut.

“Dia terdengar sedikit sombong di depan kita,” gumam Wergon pada Filhener dan Jordan.

Filhener segera menginjak kaki Wergon karena takut jika Lytro mendengar ucapannya.

“Aku baru tahu kalau kau seorang pemanah,” sela Earon.

Lalu, Jordan sedikit memutar badannya dan memperlihatkan busur yang ia sandang dekat dengan wadah anak panahnya.

“Ya, sebenarnya sudah lama aku bisa memanah,” sahut Jordan, “Dan, kau pun demikian?”

Earon kini yang memperlihatkan busur di dekat wadah anak panahnya.

“Aku tidak percaya kita memiliki keahlian yang sama. Memanah,” ucapnya.

“Bagus, kalian berdua punya keahlian yang sama. Apakah kita memiliki keahlian yang sama pula, Kawan-kawan?” gerutu Lytro sambil menatap Filhener dan Wergon.

“Iyyyaaahhhh. Mungkin….”

Belum sempat Wergon melanjutkan ucapannya, Filhener segera menyelanya.

“Cengeng,” sahutnya.

Wergon langsung bermuka masam menatap wajah Filhener. Namun, Lytro justru tertawa kekeh.

“Kuakui itu, Kawan,” ucap Lytro seraya meninju bahu Wergon dengan pelan.

Melihat itu, wajah Wergon seketika berubah menjadi tawa kebahagiaan bersama dengan Lytro. Sementara Filhener hanya bisa mengembuskan napas kuat-kuat melihat tawa mereka yang sama-sama gilanya.

“Satu lagi anak cengeng merengek di depanku,” gumamnya.

“Jordan, bagaimana kalau besok kita bertemu lagi di sini?” ajak Earon.

Jordan terlihat berpikir sejenak.

“Baik.”

“Tunggu, tunggu, tunggu dulu. Kau ingin mengajaknya untuk membuat rencana agar bisa melamar wanita idamanmu, sementara aku tidak kau ajak? Begitukah perlakuanmu padaku sekarang?” gerutu Lytro.

“Bukan begitu. Maksudku….”

“Sudah, jangan bicara lagi! Besok aku juga akan ikut denganmu.”

“Apa?!” ucap Earon terkejut.

“Rencana melamar wanita? Ehm…,” sahut Filhener sambil mengelus-elus dagunya, “Kami juga akan ikut.”

“Whoa, whoa, whoa. Apa-apaan ini?! Aku hanya mengajak Jordan dan kalian semua mau ikut? Semua rencana justru akan berantakan,” ujar Earon kesal.

“Tidak apa-apa, Earon. Siapa tahu mereka lebih berguna. Biarkan mereka ikut. Mereka juga teman kita,” kata Jordan menenangkannya.

Earon menghela napas.

“Baiklah,” ucapnya dengan nada keberatan.

Detik demi detik terus berjalan. Mereka menunggu hari saat dipertemukan kembali.

Tengah malam sebelum hari itu dimulai, di suatu tempat yang begitu gelap, terdengar jeritan seseorang diikuti pancaran cahaya merah dari tongkat yang ia pegang.

“Tongkat Pridiatick memberitahuku bahwa sudah tiba waktunya untuk menjadikan umat manusia sebagai budakku. Namun para pemegang busur, mereka telah dipertemukan kembali!” teriaknya marah.

Dalam nyala sinar merah yang meredup tersebut, tampak wajah seseorang yang tak asing lagi, berdiri di hadapan sang pemegang tongkat. Dia adalah Vuklir, teman kerja Jordan.

“Kenapa tidak memintaku untuk langsung membunuh mereka saja, Tuanku?” usulnya.

“Mereka tidak bisa disentuh sedikit pun oleh kejahatanku, bagaimana pun perantaranya. Aku hanya mampu menyerang hati mereka untuk mengalahkannya.”

“Aku bisa merasakan kekuatan yang dimiliki oleh salah satu dari mereka. Begitu kuat hatinya. Sepertinya, akan sulit sekali untuk dipengaruhi.”

“Dialah anak kecil itu. Anak yang sulit untuk kusingkirkan! Anak yang menjadi ancaman terbesarku!”

 “Bukankah Tuan pernah masuk ke dalam pikirannya? Jika hatinya terlalu kuat, maka Tuan bisa serang pikirannya.”

“Tidak secepat itu. Ketakutannya berasal dari ketidaksanggupannya melepaskan ikatan dengan saudaranya, itulah yang membuat hatinya kuat. Tapi di sisi lain, karena ketakutan itulah aku bisa masuk ke dalam pikirannya. Jika pun rasa takutnya kini tidak untuk Earon, hatinya tentu lemah.”

“Bukankah Volan dan Earon sama saja? Apa yang memungkinkan hati Jordan lemah untuk Earon?”

“Karena bagi Jordan, Earon dan Volan adalah dua sisi yang sangat jauh berbeda.”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kita harus tahu kelemahan hati mereka, lalu kita pecah belah keduanya.”

Suasana terasa sangat mencekam, terlebih tongkat Pridiatick bersinar terang menyinari ruangan tersebut, menyatakan kemurkaan sang pemegang tongkat terhadap para pemegang busur.

Hari libur pagi, cuaca secerah hati Earon yang ingin berjumpa kembali dengan Jordan. Di tengah keramaian kota, mereka berjalan sambil membicarakan rencananya.

“Kita akan memulainya dengan rencana pendekatan. Kurasa itu akan membutuhkan waktu beberapa hari,” usul Jordan.

“Apapun rencanamu, Jordan,” sahut Earon gembira.

Sementara Lytro, dia hanya terdiam dengan wajah gelisahnya melihat kedekatan Earon dengan Jordan. Di sisi lain, dia pun merasa kesal dengan perlakuan Earon terhadapnya yang seakan lebih mengutamakan Jordan dari dirinya. Berjalan bersama Filhener dan Wergon, membelakangi Earon dan Jordan, Lytro menundukkan pandangannya dan tampak dari bola matanya yang bergerak ke kanan maupun ke kiri, dia sedang memikirkan sesuatu. Sesaat setelah itu, Lytro kembali mengangkat pandangannya dan segera merangkul, menarik, dan menahan langkah Wergon yang berada di sisi kirinya.

“Ada apa, Lytro?” tanya Wergon penasaran dengan tangan Lytro yang masih merangkul pundaknya.

“Tidakkah kau takut kehilangan temanmu?”

“Maksudmu, siapa?”

Lytro melepaskan rangkulannya.

“Jordan. Dia terlalu dekat dengan Earon.”

“Apa yang perlu kutakutkan jika mereka dekat? Lagi pula, mereka berteman. Aku pun sebagai teman Jordan sudah sangat dekat sekali dengannya.”

“Itu karena kau tidak tahu masalahnya!” ucap Lytro seraya mengarahkan wajah kesalnya di depan Wergon.

Situasi terasa hening sejenak.

“Ada apa denganmu?! Dan kenapa kau marah padaku?!”

Lytro masih menatap Wergon dengan wajah kesalnya. Sementara Wergon berusaha memikirkan suatu alasan yang menyebabkan wajah kesal Lytro belum juga reda.

“Atau jangan-jangan, kau cemburu pada Earon. Kau….!”

Seketika wajah Lytro yang marah berubah menjadi wajah keterkejutan atas apa yang sedang dipikirkan oleh Wergon.

“Tidak, tidak, tidak, tidak. Aku bukan orang seperti itu,” jelasnya.

Lalu, Wergon bergerak dua langkah ke samping kiri menjauhi Lytro.

“Apa yang kau lakukan?” kata Lytro setelah melihat tingkah Wergon tersebut.

Wergon bergerak lagi satu langkah ke samping kiri. Namun, melihat tingkah Wergon tersebut justru membuatnya semakin kesal. Dia menggeram marah, lalu segera melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan Wergon yang masih diam berdiri melihat keanehannya, dan menghampiri yang lainnya.

Hari pertama rencana pendekatan.

Jordan, Earon, dan yang lainnya berada di sebuah rumah makan kecil yang letaknya di tepi jalan, tak jauh dari sungai Chivori. Mereka duduk di sebuah meja dengan kursi yang saling berhadapan. Terlihat di atas meja, mereka hanya memesan minuman. Jordan dan Earon membuat coretan rencana mereka di atas selembar kertas putih. Mereka sangat serius dengan diskusi perencanaan tersebut. Jordan menulis coretannya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memasukkan dua sendok teh gula ke dalam secangkir teh hangatnya. Namun, sebelum gula itu dimasukkan ke dalam cangkir, Lytro secara diam-diam telah menukarnya dengan wadah yang berisi garam. Merasa tak puas dengan jumlah garam yang diambil Jordan, dia pun perlahan-lahan menambahkan tiga sendok garam ke dalam cangkir Jordan saat sedang diaduk, sementara pandangan Jordan masih tertuju pada coretannya.

“Kurasa untuk rencana pertama, kedua, dan ketiga cukup seperti ini. Rencana selanjutnya, kita lihat situasi,” ujar Jordan seraya meletakkan penanya di samping kertas coretannya.

Earon memutar arah kertas coretan Jordan dan sejenak melihatnya. Sementara Jordan tampaknya sudah merasa kehausan dan mengambil secangkir teh hangatnya dengan tangan kanan, lalu meminumnya.

“Bagus, tapi mungkin kita bisa….”

Semburan dari Jordan langsung mengarah pada Earon yang berada di hadapannya, sebelum Earon melanjutkan perkataannya. Filhener, Lytro, dan Wergon langsung tertawa melihatnya. Wajah, baju atas, dan kertas coretan Earon basah terkena semburan tersebut. Sementara Jordan menjulurkan lidahnya setelah merasakan sesuatu yang sangat berbeda dengan tehnya. Dia kemudian mengambil wadah yang dianggap berisi gula tersebut. Setelah dicicipi kembali, ternyata rasanya asin.

“Garam!” seru Jordan.

Earon merasa malu dengan kejadian tersebut. Namun, dia pun tahu bahwa itu adalah ulah Lytro. Lalu, dia melirikan matanya pada Lytro yang duduk di samping kiri Jordan. Melihat tatapan marah Earon, Jordan pun menoleh ke Lytro yang telah mengumpat tawanya, menutup mulutnya dengan tangan kanannya yang menggenggam ringan.

Di hari itu pula, di sebuah taman yang berada di tengah keramaian kota, Earon memperkenalkan Jordan pada Vurpia. Jordan tersenyum menatap Vurpia seraya sedikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk dari salam perkenalan. Sementara Filhener, Lytro, dan Wergon dari kejauhan hanya duduk di atas kursi panjang, dekat dengan pohon taman, melihat aksi dari rencana mereka. Lytro melihat betapa bahagianya Earon saat bersama dengan Jordan. Tertawa, tersenyum, dan belum pernah dia melihat Earon murung karena Jordan. Tapi entah apa yang membuat Lytro justru merasa kesal dengan semua itu. Wajahnya selalu cemberut atau kadang gelisah saat melihat kedekatan mereka.

Hari kedua rencana pendekatan.

Jordan, Earon, dan Lytro pergi ke sebuah toko baju. Terlihat Jordan begitu serius memilihkan baju untuk Vurpia bersama Earon yang selalu berada di sisinya. Jordan menunjukkan baju merah berlengan panjang dengan motif bunga. Namun, Lytro dengan segera menarik Earon ke lemari lain dan memperlihatkan baju pilihannya yang sama dengan yang ditunjuk oleh Jordan.

“Apa bedanya dengan yang tadi?!” ujar Earon.

Earon memutar tubuhnya untuk kembali pada pilihan Jordan. Tapi, Lytro justru menahannya, terus memaksanya untuk mengambil pilihannya, walaupun Earon tetap mengatakan untuk kembali pada pilihan Jordan. Serasa sudah cukup lama Earon tak menghampirinya, Jordan akhirnya mendekati Earon dan Lytro yang masih memperdebatkan pilihan tersebut. Lalu, sejenak Jordan melihat-lihat baju yang dipilih oleh Lytro.

“Ini memang sama seperti yang tadi, tapi jahitannya lebih bagus. Kurasa kau ambil yang ini saja, Earon,” ujar Jordan.

“Lihat! Kubilang juga apa,” gerutu Lytro.

Pada akhirnya, Earon pun mengambil baju tersebut untuk segera diberikan pada Vurpia. Tapi untuk kesempatan rencana kali ini, Jordan tak ikut bersamanya. Dia hanya akan didampingi oleh Lytro. Mereka membungkus baju tersebut dengan kardus berbentuk balok yang dilapisi dengan kertas kado cantik.

Malam hari pun tiba.

Di tengah kesibukan agen-agen yang masih berada di kantor AKLA, Earon dan Lytro mendekati meja kerja Vurpia. Tampaknya, Vurpia masih sangat sibuk mengetik pekerjaannya di depan komputernya. Bahkan, dia tak menyadari mereka berdua sudah berdiri di belakang samping mejanya. Earon masih berdiri ragu untuk memberikan hadiah itu. Pikirannya bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Langsung memanggilnya dan menyerahkan hadiah tersebut ataukah harus bertele-tele membahas seseuatu yang tidak penting, baru menyerahkan hadiahnya. Pikiran Earon yang terlalu mencemaskan rencananya, membuat Lytro bergerak untuk memulai percakapan. Dia memanggil Vurpia dengan nada yang lembut. Vurpia pun mendengar panggilan tersebut dan menoleh ke belakang.

“Hei! Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanyanya dengan wajah yang begitu ceria.

Earon masih saja diam berdiri menatap mata Vurpia. Ingin berkata, namun tak kuasa harus berkata apa. Mulutnya sedikit terbuka dengan gerakan mata ke kanan dan ke kiri layaknya orang bingung. Vurpia yang melihat ketidaksanggupan Earon berhadapan dengannya, hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala dengan pandangan ke bawah. Lytro pun merasa malu dengan tingkah Earon terhadap Vurpia tersebut dan segera menginjak salah satu kakinya agar Earon bisa sadar dari ketidakberdayaannya. Earon mengedip-kedipkan matanya setelah merasakan rasa sakit dari injakan Lytro yang ia tahan. Pelan-pelan dia menyerahkan kado merahnya dengan kedua tangannya di hadapan Vurpia. Vurpia menyambutnya dengan senyuman manis, menerima pemberiannya, lalu mengucapkan terimakasih.

Setelah itu, tanpa ada kata apapun, Earon yang diikuti Lytro segera pergi dari hadapan Vurpia, entah karena takut mengganggu waktu kerjanya ataukah ingin segera berteriak meluapkan keberhasilannya. Namun saat mereka masuk dalam ruang kerja Earon, Earon langsung berteriak yeah, begitu bahagianya seraya saling bertepukan tangan dengan Lytro yang ikut bahagia pula, lalu merangkul pundak mereka satu sama lain.

Hari ketiga rencana pendekatan.

Malam hari, di tepi jalan yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, Earon dan Jordan bertemu di bawah pohon perintis. Di sana, Earon memulai rencana ketiganya. Dia mengambil handphone dari saku kanan jaketnya, lalu memencet kombinasi angka. Terlihat dia menempelkan handphone tersebut di telinganya, menunggu panggilannya diangkat oleh orang tujuannya. Beberapa detik setelah itu, wajahnya tampak begitu senang dan memulai percakapan dengan orang dibalik teleponnya tersebut. Merasakan dinginnya malam, Jordan merapatkan jaketnya, menunggu hingga Earon selesai dengan percakapannya.

Tidak lama kemudian, Earon menurunkan handphone-nya. Dia begitu senang dan memberitahu kepada Jordan hasil dari percakapan tersebut. Sepertinya rencananya berhasil lagi. Namun tanpa disadari, ternyata Lytro telah mengawasi mereka berdua sejak mereka bertemu. Dia berdiri di seberang jalan, dekat dengan tiang lampu, menatap mereka dengan pandangan gelisah. Dia melihat kedekatan dan kebahagiaan mereka yang semakin menjadi-jadi. Namun, wajah gelisahnya berubah menjadi wajah penuh kekesalan. Dia pun segera menyeberangi jalan dan menghampiri mereka. Sepertinya, Jordan dan Earon begitu terkejut melihat kedatangan Lytro yang tiba-tiba. Dia lalu menarik tangan Earon dan mengatakan sesuatu yang tampaknya begitu penting, yang membuat Earon berpihak pada Lytro dan meninggalkan Jordan di tempat itu. Berjalan menjauh darinya, Jordan tampaknya mengerti bahwa mereka sedang serius membahas pekerjaan mereka.

Tiba-tiba, Filhener dan Wergon mengagetkan Jordan dari belakang dengan menepuk kedua pundaknya. Jordan sedikit terperanjat, menoleh ke belakang, dan tertawa bahagia melihat kehadiran kedua temannya. Wergon merangkul pundak Jordan dan mengajaknya pergi dari tempat itu, berjalan berlawanan dengan arah yang diambil Earon. Walaupun demikian, Jordan tetap merasa senang. Dia pun memberitahukan rencana Earon yang baru saja berhasil kepada kedua temannya tersebut. Mereka berdua ikut senang mendengarnya.

Di balik semua itu, tampaknya busur tersebut ikut merasakan apa yang Jordan dan Earon rasakan saat mereka dipertemukan maupun dipisahkan. Lambang masing-masing busur kembali menyala terang, seakan menjadi kabar gembira bagi yang mengetahui kebenaran kejahatan yang sesungguhnya. Lalu, cahaya lambang tersebut sedikit demi sedikit memudar kembali dan membekas seperti ukiran kayu biasa. Namun, Jordan dan Earon belum menyadari bahwa busur-busur yang sedang mereka sandang telah mereka hidupkan kembali.

Saat itu pula, pemegang tongkat Pridiatick juga merasakan kekuatan busur yang mulai terbangun. Di tempat gelap tersebut dengan nyala merah dari tongkatnya, dia membuat rencana lebih lanjut untuk menghancurkan kekuatan busur tersebut sebelum Jordan dan Earon mengetahuinya, bersama dengan Vuklir.

“Kenapa yang terjadi justru seperti ini? Mereka semakin memperkuat ikatannya. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuanku?” ucap Vuklir berdiri di depan pemegang tongkat yang berhawa kegelapan di sekitarnya.

Sang pemegang tongkat hanya terdiam dan terlihat matanya yang terpejam tenang.

“Tuanku?!” panggil Vuklir penasaran atas yang dilakukan tuannya tersebut.

Beberapa saat kemudian, sang pemegang tongkat membuka mata merahnya pelan-pelan. Tatapannya lurus tertuju pada sesuatu di depannya, namun tidak fokus.

“Apa yang telah Tuan lakukan?” tanya Vuklir semakin penasaran.

Sang pemegang tongkat terdiam sejenak, seakan memikirkan sesuatu yang telah ia lihat maupun yang akan ia lihat.

“Aku baru saja mencoba masuk ke dalam pikiran mereka. Namun, hanya Jordan yang bisa kusinggahi,” jawab pemegang tongkat dengan nada tenang, tapi hatinya bercampur marah dan takut, “Tidak untuk Volan ataupun Earon, dia memberikan tali yang sama kuatnya.”

Mendengar perkataan tuannya, Vuklir menurunkan pandangannya sejenak, memikirkan ide yang mungkin muncul dalam kepalanya untuk dapat menghancurkan para pemegang busur. Namun, tampaknya dia belum dapat menemukannya, lalu mengangkat pandangannya kembali sambil berkata, “Apa itu artinya kita tidak dapat melemahkan mereka?”

“Sejak pertama busur-busur itu dipegang, tak pernah satu pun dari generasi terdahuluku yang gagal untuk menghancurkan mereka. Kami selalu menang dan sampai sekarang pun, kami akan selalu menang. Tidak akan pernah kubiarkan mereka menghidupkan busur itu. Earon masih memiliki kelemahan dalam hatinya. Itu akan mempermudah untuk membunuh Jordan. Tapi Jordan, aku terpaksa harus memberikan penglihatan itu padanya.”

Vuklir terdiam membisu, merasa rendah diri di hadapan tuannya.

 “Lalu, apa tugasku?” tanyanya dengan suara pelan.

“Tugasmu hanyalah meyakinkan Jordan. Jika kau mampu melakukannya, maka dengan mudah hatinya yang kuat akan menjadi rapuh. Dan saat itulah, hati mereka akan dipenuhi dengan keraguan, yang pada akhirnya darah akan tertumpah.”

Kelicikan sang pemegang tongkat tampak dari mata merahnya yang menyipit. Ia memandang tajam Vuklir yang tersenyum licik atas rencana mereka tersebut.

Malam itu pula, saat pantulan cahaya bulan melewati ventilasi kamar Jordan yang gelap, sang pemegang tongkat tidak melewatkan sedikit pun kesempatan untuk segera memberikan mimpi buruk pada Jordan. Dalam tidurnya yang begitu lelap dan tenang, seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi penuh ketegangan. Mimpi itu dimulai dari perjalanan dua orang sahabat, yang pada akhirnya mereka memutuskan untuk saling berperang. Keduanya membawa busur yang begitu cantik dan anggun. Yang satu berwarna emas dan satunya lagi berwarna perak. Jordan melihat lambang masing-masing busur tersebut yang menggenggam di tangan mereka. Cahaya merah menerangi bayangan peperangan itu, membuat mimpi itu semakin terasa mencekam bagi Jordan. Keringatnya mulai membanjiri tempat tidurnya.

Saat hanya tinggal dua sahabat yang tersisa dalam peperangan tersebut, Jordan seakan berperan menjadi salah satu dari mereka. Dia melihat orang yang melawannya membawa busur emas dan mengarahkan anak panahnya pada dirinya. Begitu juga dengan Jordan, dia mengarahkan anak panahnya pada orang tersebut. Tangannya gemetar, tak ingin dia melepaskan anak panah itu pada orang yang membawa busur emas, dan mencoba untuk mengubah alur mimpi itu. Namun, dia seakan tak bisa mengendalikan semua itu. Lalu, saat keduanya melesatkan anak panahnya masing-masing, Jordan langsung terbangun sesaat setelah anak panah dari pembawa busur emas menembus tubuhnya.

Dia terbangun dan langsung meraba-raba tubuhnya barangkali anak panah itu masih menancap. Napasnya terengah-engah, seperti habis berlari dikejar singa. Tatapan matanya jelalatan, seperti orang yang kebingungan. Dia begitu ketakutan atas mimpi yang seakan terasa nyata baginya. Lalu, dia memejamkan mata sejenak. Mengambil beberapa napas dalam-dalam, kemudian perlahan-lahan membuka matanya. Dia mencoba mengingat kembali mimpi anehnya. Lambang busur yang berwarna perak, yang ia lihat dalam pertarungan dua sahabat itu sepertinya pernah ia temui di dunia nyata. Dia berusaha keras mengingat lambang itu, tapi pikirannya seakan tak mampu menjangkau waktu dan tempat ia melihat lambang tersebut sebelumnya, sehingga kepalanya justru terasa sakit. Dia menekan-nekan dahinya dengan salah satu tangannya supaya sakit kepalanya agak mereda. Ada apa dengan mimpi aneh itu, pikirnya.

Saat pikiran Jordan masih dalam proses ketenangan, tiba-tiba saja jendela kamarnya terbuka ditiup angin yang begitu kencang. Suara lambaian pintu jendela kayunya yang membanting dinding tepi jendela dengan angin yang berembus kencang hingga halaman buku-buku yang berada di atas meja terbuka, membuat suasana hati Jordan semakin gentar. Cahaya bulan purnama yang melewati jendela memperjelas penglihatannya. Dia menatap busur yang diletakkan di atas meja, di samping buku-bukunya tersebut, dan sesaat dia melihat kilauan garis pada busurnya. Merasa penasaran dengan kilauan garis tersebut, diapun menurunkan kedua kakinya ke lantai, berjalan pelan mendekati meja belajarnya.

Dalam langkahnya, dia merasa sedikit tegang dan penuh pikiran. Dia memang pernah melihat lambang di busurnya. Itu pun sudah sangat lama sekali dan tak mungkin lambang itu sama dengan yang ia lihat di mimpinya. Sesaat, dia memalingkan pandangannya ke luar jendela. Tampak langit di sebelah barat begitu gelap. Mungkin itu yang menyebabkan angin begitu kencang karena akan ada badai dari arah barat, pikirnya. Namun, dia tidak terlalu menghiraukan akan terjadinya badai tersebut. Yang masih berat untuk ia pikirkan adalah sesuatu tentang kilauan cahaya pada busurnya, yang bersinar di bawah pantulan sinar bulan. Saat Jordan sudah berdiri di dekatnya, kilauan garis itu masih tampak. Dia dengan lembut mengambilnya dan seketika kilauan garis itu menghilang, menunjukkannya pada penampakan sebuah ukiran di daerah genggam busurnya. Mata Jordan langsung terperanjat saat melihat ukiran tersebut. Ukiran yang membentuk lambang sama dengan yang dilihat di mimpinya. Jantungnya mulai berdebar kencang dan napasnya mengembus keras-keras. Dia berusaha untuk tetap tenang. Memejamkan matanya kembali beberapa detik dengan tangan kanan yang masih menggenggam erat busurnya. Dalam pejamannya yang singkat tersebut, dia berharap bahwa semua ini hanyalah kebetulan dan tidak ada hubungannya dengan mimpinya, tidak ada hubungannya dengan keanehan yang sering menimpanya. Begitu membuka mata, maka semua akan kembali normal, pikirnya.

Dengan pelan-pelan, dia membuka matanya. Kerutan di dahinya tampak jelas, menginginkan semua itu tidak nyata. Saat kedua matanya sudah terbuka lebar, dia melihat keadaan di luar jendela. Tidak terlihat lagi awan gelap di sebelah barat, langit terang dengan cahaya bulan tanpa ada kabut yang menutupinya, angin kencang sudah mereda, dan pintu jendela tak lagi membanting dinding. Semua sudah cukup membuat hati Jordan sedikit tenang bahwa yang terjadi padanya tadi hanyalah halusinasi semata. Namun, tinggal satu hal lagi yang perlu ia yakinkan bahwa ukiran yang ada pada busurnya sudah tak ada lagi. Perlahan-lahan, dia melihat kembali ukiran tersebut. Dan ternyata, yang ia lihat adalah lambang ukiran busur yang masih tampak sangat jelas di matanya. Dia hanya bisa diam. Terlihat dari napasnya yang datar dan raut wajahnya yang tenang, Jordan seakan menerima kenyataan yang terjadi dengan hati yang bingung.

Hari keempat rencana pendekatan.

Siang itu dengan langit yang berawan kelabu, Jordan dan yang lainnya menikmati santapan es krim. Mereka duduk berjejeran di jembatan kayu sungai Chivori, melipat celana panjangnya hingga setinggi lutut, seraya mengayun-ayunkan kedua kakinya hingga menyentuh air. Terlihat kedua busur Jordan dan Earon, serta anak panahnya digeletakkan di belakang tubuh mereka. Wergon yang selalu membawa boneka kesayangannya, ia baringkan di sisi kanannya.

“Tak ada aksi untuk hari ini!” seru Earon sambil mengangkat tangannya yang menggenggam es krimnya, diikuti oleh Jordan dan yang lainnya, sebelum mereka memakannya.

Tapi sebelum lidah Jordan menyentuh es krimnya, dengan sengaja Lytro menyenggol tangan kanannya, sehingga kepala es krim tersebut seluruhnya tercebur ke dalam air. Sejenak Jordan terdiam kaku dengan posisi lidahnya yang hendak menjulur keluar, tangan kanan yang masih mengangkat kerucut es krimnya, dengan mata yang melirik ke bawah melihat kepala es krimnya dikerumuni oleh ikan-ikan. Sementara yang lainnya, berhenti menikmati es krim sejenak, lalu memalingkan pandangannya pada Jordan.

“Mungkin sedikit berbagi es krim bersama ikan akan mempermudah rencana kita selanjutnya,” gerutu Jordan seraya menurunkan tangan kanannya hingga bertopang pada pahanya.

Melihat hal itu, Earon mengambil kerucut es krim Jordan dan membagikan es krimnya lebih banyak dari bagiannya sendiri.

“Kau benar. Berbagi sedikit dengan yang lainnya akan mempermudah segala urusan,” ucap Earon seraya memberikan es krim itu kembali pada Jordan.

“Hmmm, terimakasih,” kata Jordan seraya tersenyum senang padanya.

Sepertinya tindakan Earon tersebut memberikan tanggapan pada yang lainnya. Lytro pun mengambil es krim Earon, lalu menambahkan sedikit miliknya. Sementara Filhener yang duduk di sebelah Lytro, mengambil es krim miliknya dan membagikannya. Begitu juga dengan Wergon, membagikan es krimnya di atas kepala es krim milik Filhener.

Sungguh mereka begitu menikmati es krimnya. Setiap jilatan dari es krim tersebut seakan menjatuhkan butir-butir beban yang sedang mereka hadapi. Tapi yang terpenting adalah mereka sangat menikmati kebersamaan yang mereka lakukan, tanpa memandang status jabatan mereka masing-masing.

“Ternyata, makan es krim tak seburuk kelihatannya,” kata Lytro sambil menjilat-jilat es krimnya yang hampir habis.

“Sebenarnya, ini mengingatkanku pada masa kecilku,” sahut Earon.

“Siapa yang masa kecilnya tak pernah makan es krim? Tentu tak seorang pun yang akan mengacungkan tangannya,” ujar Jordan.

Earon menurunkan tangannya setelah menghabiskan es krimnya.

“Memang benar. Semua seakan bahagia saat mengingat masa kecilnya. Mereka tersenyum dan tertawa kembali saat kenangan itu muncul dalam pikiran mereka. Tapi tidak untukku dengan saudaraku.”

Jordan menatap wajah Earon yang memandang ke bawah dengan tatapan tidak fokus. Dia seakan bisa membaca sesuatu yang sedang dihadapi oleh Earon. Dari raut muka yang mencoba untuk tetap tenang, sepertinya Earon memikul beban berat yang telah ia bawa sejak lama.

“Kau punya saudara?”

Dengan segera Lytro menghabiskan es krimnya yang masih tersisa sedikit.

“Dulu aku punya seorang adik laki-laki. Hanya saja, dia….”

Belum sempat Earon melanjutkan pembicaraannya, Lytro bergegas menyelanya.

“Baiklah, Bung. Waktu istirahat sudah habis. Kita harus kembali ke kantor sekarang,” kata Lytro seraya bangkit dari tempat duduknya.

“Baiklah,” ucap Earon menyusul Lytro bangkit dari tempat duduknya seraya mengambil kembali busur dan anak panahnya.

Jordan, Filhener, dan Wergon pun ikut bangkit berdiri setelah menghabiskan es krim mereka masing-masing.

“Ngomong-ngomong, kapan kau akan menjenguk bibimu lagi?” tanya Earon sambil menyandangkan busur dan anak panahnya.

“Entahlah. Yang jelas minggu ini aku tak boleh meluputkannya. Kenapa?” sahut Jordan.

“Jika kau tidak keberatan, aku ingin ikut denganmu. Aku ingin berkenalan dengan keluargamu. Dan lain kali, akan kuajak kau untuk berkenalan dengan ayahku.”

“Tentu, tentu. Dan juga adikmu yang bernama…, siapa?”

Perasaan Earon seakan terguncang dengan pertanyaan tersebut. Ingin menjawabnya, namun dia tak sudi untuk menyebut namanya. Sehingga mulutnya hanya terlihat membuka dengan gerakan bibir yang tak jelas.

“Earon, kita harus pergi sekarang! Bisakah kita lanjutkan ini lain kali?!” sela Lytro yang tampaknya merasa kesal dengan situasi tersebut.

Jordan menatap Lytro. Melihat raut wajahnya, membuat sesuatu terlintas dalam pikiran Jordan. Rasa penasaran pun memenuhi hatinya, namun dia tetap memendamnya.

“Sebentar saja menunggu, apa kau tidak bisa?” ucap Earon agak kesal pada Lytro.

“Apa lagi yang harus kutunggu?!”

Earon pun hanya bisa mengalah dan menarik napas dalam-dalam.

“Aku harus pergi, Jordan. Kita lanjutkan lain kali saja,” ucap Earon tenang.

“Kalau begitu, nanti aku akan menghubungimu.”

Mereka saling berjabatan tangan, sebelum Earon dan Lytro pergi meninggalkan tiga serangkai.

Earon dan Lytro berjalan menjauh dari Jordan dan kedua temannya yang masih berdiri memandangi mereka hingga keduanya menaiki tangga.

“Earon punya seorang adik. Apa yang kau pikirkan tentang itu, Jordan?” tanya Filhener tiba-tiba.

“Pasti dia sangat beruntung memilikinya,” jawab Jordan lembut.

“Aku harap juga begitu. Tak seperti kakakmu Volan yang selalu mengusikmu. Bahkan, hingga selama kau tak bersamanya lagi pun, dia masih saja mengusik hidupmu.”

“Sssstttt, pelan-pelan saat menyebut nama itu, Fil. Bagaimana kalau dia mendengar dan mengetahui keberadaan Jordan? Pasti dia akan menyeret Jordan ke neraka pribadinya,” sahut Wergon dengan suara pelan.

Jordan mengembuskan napas kuat-kuat melalui mulutnya dengan pandangan gelisah.

“Kenapa kita bisa berteman dengan mereka?” tanya Filhener mengalihkan pembicaraan.

Jordan dan Wergon langsung mengerutkan keningnya dan menoleh pada Filhener yang berdiri di antara mereka.

“Maksudmu, mereka siapa?” tanya Wergon penasaran.

“Earon dan Lytro. Aku tak pernah menyangka sebelumnya kalau hidup kita akan seperti ini. Dulu kita hanyalah pemain akrobat jalanan. Lalu dalam waktu yang begitu singkat, status kita berubah menjadi penjahat nomor satu yang berteman dengan pembela kebajikan nomor satu di Losapins.”

“Hehe, memang aneh.”

“Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah sampai kapan kita harus terus bersembunyi dari mereka, dari masyarakat, dari diri kita sendiri?”

Jordan memandang kesuraman dari wajah kedua temannya, seakan tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk memilih hidup yang lain.

“Ayolah, Teman-teman. Lagi pula, ini hanya sesaat. Setelah semua selesai, hidup kita akan kembali seperti sedia kala. Memilih hidup apapun yang menjadi keinginan kita” ujar Jordan mencoba mengembalikan semangat mereka.

“Ya. Lalu aku akan bekerja di perkantoran,” sahut Wergon.

“Atau mungkin menjadi hacker,” ucap Jordan.

“Bekerja sama dengan polisi menumpas kejahatan,” kata Filhener.

“Menjadi tim AKLA profesional,” balas Wergon.

“Menyelamatkan dunia, hahaha…,” sahut Filhener optimis diikuti oleh tawa bahagia bersama Jordan dan Wergon.

“Menyelamatkan dunia. Itu pasti hanya mimpi,” kata Wergon yang meleburkan tawanya.

Seketika tawa mereka menghilang, terdiam tanpa ada ekspresi apapun di wajah mereka.

“Kalau begitu tak perlu dimimpikan,” ujar Jordan seraya melangkahkan kakinya, pergi dari tempat tersebut.

Filhener segera menyusul Jordan setelah dia mendapatkan langkah pertamanya. Sementara Wergon masih berdiri, memikirkan semua perkataan yang baru saja ia katakan. Mungkinkah bisa menjadi seperti yang diucapkan bersama teman-temannya tadi, pikirnya.

Lalu, tanpa sengaja pandangan Wergon tertuju pada busur yang Jordan sandang. Ia melihat sesuatu yang bersinar pada busur tersebut. Tapi, cahaya itu hanya tinggal kelihatan tipis-tipis yang kemudian melenyap.

“Jordan, entah hanya fatamorgana atau aku memang melihat sinar di busurmu?”

Jordan dan Filhener menghentikan langkahnya, lalu membalikkan pandangannya pada Wergon. Filhener segera menatap busur Jordan. Begitu juga dengan Jordan yang langsung mengambil busurnya. Dia mengamati busurnya dan tak ada sinar seperti yang Wergon katakan. Tapi, ada tambahan ukiran di sekeliling ukiran lambang yang sebelumnya telah ada. Ukiran itu pasti baru saja muncul, pikirnya.

“Tak ada apapun. Mana ada sinar pada kayu tua?” sahut Filhener.

“Tapi, aku melihatnya dan sinar itu memang tampak nyata.”

Saat itu pula, Jordan mendapat bayangan itu lagi. Bayangan yang hampir sama dengan mimpi buruk yang pernah ia alami terakhir kali. Kini dia melihat perjalanan tragis yang dialami oleh sepasang suami istri. Awalnya mereka begitu bahagia, layaknya keluarga yang mampu membangun keluarga yang harmonis. Namun belum sempat dikaruniai seorang anak, mereka justru saling meracuni. Racun tersebut dimasukkan dalam masing-masing makanan dan minuman mereka, yang sekaligus menewaskan keduanya. Dalam bayangan sekilas itu, tak terlepas dari suasana yang diterangi dengan cahaya merah dan benda yang selalu ia lihat, yaitu busur emas dan busur perak yang mulai kehilangan cahaya keanggunannya. Busur emas berada pada genggaman sang suami, sementara busur perak pada genggaman sang istri.

Tampaknya bayangan yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya tersebut, membuat kepala Jordan seakan dihantam oleh komet. Dia menekan sisi kepalanya kuat-kuat dan merintih kecil. Sementara Filhener dan Wergon yang melihat Jordan kesakitan tanpa sebab yang diketahui, membuat mereka khawatir dengan keadaannya.

“Kau baik-baik saja?” ucap Filhener cemas yang lekas memegang sisi tubuh Jordan yang hampir terjatuh.

Wergon segera mendekat dan membantu Filhener memegang tubuh Jordan yang mencoba untuk tetap berdiri. Jordan membuka matanya kembali secara perlahan-lahan, setelah rasa sakitnya berhenti. Dia mengambil beberapa napas dalam untuk menenangkan dirinya. Melihat kondisi Jordan yang mulai pulih, Filhener dan Wergon melepaskan pegangannya.

“Kau tak apa, Jordan? Atau, kita periksakan dulu ke dokter?” ujar Filhener memulai pembicaraan.

“Tak apa. Tak apa. Aku baik-baik saja,” jawab Jordan dengan ekspresi wajah yang tampak seperti orang yang sangat kelelahan.

“Mau mengatakan sesuatu pada kami?”

“Rasanya seperti ada pikiran lain yang menjejal kepalamu.”

Suasana terasa sunyi sejenak. Jordan memandang wajah kedua temannya yang terdiam cemas terhadap keadaannya tersebut. Lalu, dia malah tertawa kecil melihatnya.

“Tak apa. Aku yakin baik-baik saja. Dan berhentilah menunjukkan wajah seperti itu di depanku.”

Filhener dan Wergon menarik napas lega, melihat Jordan dapat tersenyum. Namun di sisi lain, mereka berdua masih tetap merasa cemas.

“Kalau begitu, ada apa denganmu tadi?” tanya Wergon.

“Aku melihat…. Entah kenapa aku melihat kejadian yang cukup menyeramkan.”

“Kejadian di mana?”

“Tunggu dulu. Maksudmu, seperti kau bisa melihat kejadian melalui pikiranmu?” sahut Filhener.

“Masa depan?” lanjut Wergon.

“Ya, tapi yang kulihat adalah masa lalu. Dan, selalu diakhiri dengan kematian.”

Wergon dan Filhener langsung merinding mendengar kata terakhir yang diucapkan Jordan tersebut.

“Kematian? Kematian siapa?” tanya Filhener.

“Kematian dua orang yang memegang busur. Yang satunya membawa busur emas dan satunya lagi membawa busur perak. Awalnya mereka bisa hidup berdampingan, seakan semua bisa menjamin keduanya tak akan pernah mau menyakiti satu sama lain. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang membuat mereka saling membenci dan akhirnya membunuh.”

“Sejak kapan kau mendapatkan kisah mengerikan itu?”

“Sekitar dua hari yang lalu. Awalnya itu muncul lewat mimpi. Tapi setelah itu, semua terlihat begitu saja tanpa pernah kuperkirakan.”

“Membunuh. Mengerikan sekali,” sahut Wergon, “Tunggu dulu. Kau bilang busur? Apa, apa menurutmu kau membawa salah satu dari busur itu? Maksudku, itu aneh bukan kalau tiba-tiba saja kau mendapat penglihatan itu, lalu kau mungkin membawa busurnya. Busur itu memberikan petunjuk padamu.”

Jordan mengangkat tangannya yang memegang busur, sedikit lebih tinggi. Dia menatap busurnya kembali.

“Mungkin kau benar, Wergon. Dan sinar yang kau lihat di busurku, aku tidak akan menyangkalnya. Sinar itu juga sering kulihat, membentuk ukiran sedikit demi sedikit,” jelas Jordan sambil memandangi ukiran di busurnya. Begitu juga dengan Wergon dan Filhener, melihat dengan jelas ukiran yang muncul di busur Jordan.

“Tapi, entahlah. Sebenarnya itu membuatku bingung. Karena tepat dua hari yang lalu, kami juga melihat bayangan itu,” ucap Filhener.

“Kalian mendapat penglihatan seperti itu juga?” ujar Jordan terkejut.

“Bukan penglihatan, tapi bayangan. Benar-benar hanya bayangan hitam dan sangat menakutkan.”

“Benar. Jordan. Malam itu, kami berniat meminjam bukumu untuk mengerjakan tugas. Lalu, sebelum aku membuka pintu kamarmu lebar-lebar, kami melihat sebuah bayangan berdiri di dekat busurmu dengan wajahnya yang mengarah padamu atau seperti sedang memperhatikanmu saat kau tertidur nyenyak. Kami tidak langsung memergokinya. Kami hanya mengintipnya jika dia mencoba berbuat sesuatu terhadapmu,” lanjut Wergon.

“Mungkin itu hanyalah bayangan orang dari luar.”

“Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Cahaya bulan yang membuat bayangan itu terlihat jelas. Terlebih saat dia menoleh ke belakang, kami melihat mata merahnya. Sangat mengerikan. Setelah melihat itu, kami langsung pergi ketakutan karena kami pikir dia tahu keberadaan kami.”

Jordan semakin merasa takut mendengar kesaksian dari kedua temannya tersebut. Apa yang sebenarnya sedang terjadi, pikirnya.

“Tapi, jika penglihatan itu benar dan busurmu adalah salah satunya. Itu berarti, busur satunya dibawa oleh orang lain. Lalu, siapa? Dan, kenapa peristiwa mengerikan itu diperlihatkan padamu? Apa itu artinya, kau dan pembawa busur lain akan melakukan hal yang sama, seperti yang ada dalam penglihatanmu?” tanya Filhener resah.

“Mungkin Volan yang membawanya,” ucap Jordan dengan wajah penuh keresahan yang tampak dari matanya.

Mata Filhener dan Wergon langsung terperanjat mendengar tebakan Jordan tersebut.

“Ada banyak busur tua di dunia ini, Jordan. Kenapa yang kau tebak hanya kakakmu?!” sahut Wergon dengan nada agak keras.

“Dulu, ayahku memberikan sepasang busur tua ini. Masing-masing untukku dan kakakku. Jadi, siapa lagi yang harus kutebak kalau bukan dia?”

Filhener dan Wergon memandang gelisah.

“Oh, tidak. Tidak, tidak, tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Kalau kakakmu yang membawanya,….”

“Artinya, kejadian itu benar-benar akan berlanjut padamu,” sela Filhener.

“Busur itu adalah kutukan! Buang saja, Jordan!” teriak Wergon ketakutan.

“Tidak! Tak boleh ada lagi yang menemukan dan memegang busur ini, sebelum aku tahu kepastiannya. Aku harus tahu kenapa peristiwa itu terjadi. Aku harus tahu kenapa busur ini dibuat. Aku harus tahu semua itu.”

Filhener dan Wergon hanya bisa terdiam gelisah menatap Jordan yang masih saja bersikeras mempertahankan busurnya. Kecemasan mereka bertiga akan kejadian aneh tersebut, disambut oleh langit yang semakin menggelap. Namun, cahaya matahari masih bisa terpantul dari satu celah kecil awan hitam tersebut. Sorotan cahaya kecilnya yang memanjang hingga menyentuh ketenangan sungai Chivori, terlihat begitu indah dengan airnya yang berlinang, bersinar di tengah suasana kota yang meredup, seakan menggambarkan masih ada harapan bagi mereka yang mau berusaha.

Keadaan yang demikian, tiba-tiba membuat suasana tersorot kembali pada Jordan dan kedua temannya yang masih berdiri di pangkal jembatan. Jordan tertawa terkekeh-kekeh, sambil sedikit membungkukkan badannya, memegang ringan perutnya, hingga mengusap air mata tawanya.

“Sekarang, apa lagi yang ada dalam pikirannya?” tanya Filhener terkejut melihat tingkah Jordan yang tiba-tiba seperti itu.

Wergon hanya bisa mengangkat kedua bahunya.

“Oh, kalian sungguh. Sungguh, sungguh temanku yang sangat baik,” ucap Jordan saat tawanya mulai mereda.

“Ah-hah. Apa hanya itu yang membuatmu tertawa?” sahut Filhener sambil mengangkat salah satu alisnya.

Jordan terdiam mengumpat tawanya sambil menatap mata Filhener. Filhener mengembuskan napas dengan mengeluarkan suara embusannya. Lalu, pergi melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumah. Jordan dan Wergon pun segera menyusulnya.

“Mungkin lain kali, kami harus membawamu ke dokter jiwa, Jordan,” lanjut Filhener berjalan berdampingan dengan kedua temannya, saat dia mendapatkan tiga anak tangga.

Saat itu pula, terlihat Vuklir sedang berdiri mengamati mereka bertiga, bersembunyi dari balik salah satu pohon taman yang membatasi ketinggian sungai Chivori. Tampaknya dia sudah cukup lama berada di sana. Dan dari raut wajahnya, dia tidak begitu senang dengan hasil pengamatan yang ia lakukan terhadap mereka bertiga, terlebih pada Jordan. Dia menatap sorotan kecil dari pantulan cahaya matahari yang masih menyinari sungai Chivori. Hal itu membuat ia ingin meluapkan amarahnya. Dia mengangkat tangan kanannya sedikit lebih tinggi dengan jari-jari yang terbuka ringan, mengarah pada lubang awan gelap yang memancarkan sinar tersebut. Hanya dengan mengepalkan tangannya, seketika tidak ada cahaya lagi yang menyinari kota Losapins. Baginya, tak akan pernah sedikit pun dari harapan manusia yang dibiarkan bersinar dalam kehidupan mereka. Semua harapan itu akan dilenyapkan dan hanya kegelapan yang akan menggantikan harapan itu.

Hari kelima rencana pendekatan.

Beberapa hari terakhir ini, langit terus saja tampak murung. Terkadang cuaca tampak cerah hanya beberapa saat saja. Sinar matahari menerangi daerah Losapins, tapi dengan awan kelabu yang menggumpal tebal, kemudian cahayanya lenyap kembali. Cuaca tampaknya sedang tidak teratur, terlebih sore itu ketika Jordan, Earon, dan yang lainnya berencana untuk bertemu untuk menyiapkan rencana pendekatan selanjutnya.

Di depan toko “LITHINGS SHOP”, Lytro memarkirkan mobilnya sama yang pernah dibawa Earon saat pertama kali membelikan bunga aones untuk Vurpia. Dia segera turun bersamaan dengan Jordan yang baru saja keluar mengunci pintu toko tersebut. Dia mendekati Lytro yang berdiri menunggunya sambil menyandarkan tubuhnya di pintu mobil depannya yang tertutup. Mereka bersalaman dan saling menyenyumi sebelum akhirnya membahas pembicaraan lebih lanjut. Setelah mereka saling melepaskan jabatan tangan mereka, Jordan merasa ada sesuatu yang kurang dari apa yang dia lihat.

“Di mana Earon?” tanya Jordan seraya melihat-lihat ke dalam mobil lewat kaca pintu, barangkali Earon masih berada di dalam.

Lytro langsung menanggapinya dengan sikap gugup.

“Uh, ya…. Kutinggalkan dia, um… di kantornya,” jawab Lytro.

Jordan langsung tertawa mendengarnya.

“Kau meninggalkannya?! Sungguh teman yang baik. Aku tak menduga kau bisa melakukan itu padanya,” sindir Jordan.

“Terkadang teman baik harus mengorbankan seorang teman demi yang terbaik bagi teman yang lain. Bahkan, untuk dirimu,” gerutu Lytro.

“Baiklah, aku sangat tersentuh. Tapi, kau meninggalkan dia sepertinya tak ada efek kebaikan untuk diriku.”

Lytro mengembuskan napas melalui mulutnya, seakan melepaskan beban pikiran yang menekannya akhir-akhir ini.

“Justru dengan demikian, kita akan bebas membahas urusan kita.”

Jordan teringat sesuatu setelah mendengar ucapan Lytro tersebut.

“Oh, aku hampir lupa,” sahut Jordan seraya merogoh saku kiri jaketnya.

Dia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus dalam plastik hitam yang diikat, lalu menyerahkannya pada Lytro.

“Terimakasih,” ucap Lytro seraya membuka ikatan plastik tersebut.

Jordan membalasnya dengan anggukan dan senyuman singkat.

Setelah Lytro sudah melepaskan ikatannya dan tinggal melihat isi dalam plastik tersebut, Jordan menanyakan sesuatu padanya.

“Lytro, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Lytro memalingkan pandangannya pada Jordan, sebelum dia melihat isi dalam plastiknya.

“Tidak,” jawabnya.

Jordan masih belum merasa puas dengan jawaban yang terlalu singkat tersebut.

“Kalau begitu, katakan padaku kenapa kau memintaku untuk melakukan semua ini?”

“Sudah kubilang, kau tak perlu tahu dan itu tak penting bagimu.”

“Aku tahu kau mencoba menjauhkanku dari Earon.”

Lytro langsung terkejut dengan tebakan Jordan tersebut.

“Untuk apa aku melakukan itu?! Seperti kurang kerjaan saja.”

“Itu sebabnya hanya kau yang tahu. Kau meninggalkannya, tidakkah itu salah satu bukti bahwa kau berusaha agar aku tidak terlalu dekat dengannya.”

“Aku meninggalkan dia, karena aku memang ingin meninggalkannya. Dan tak ada hubungannya dengan dirimu, mengerti?!”

“Kau tidak bisa membohongiku, Lytro. Tingkahmu berubah setiap aku berhadapan dengan Earon.”

“Bagaimana kalau hentikan pembicaraan yang tak penting ini?!” teriak Lytro yang mulai kesal dibuatnya.

Jordan diam menatap wajah Lytro dengan pandangan gelisah.

“Tidak semua teman tahu tentang diriku. Dan aku memercayaimu atas hal itu. Aku tahu yang kau lakukan adalah yang terbaik untuk kami.”

Lytro menundukkan pandangannya sejenak. Dia seperti memendam penyesalannya atas perkataan yang baru saja ia ucapkan pada Jordan.

Tiba-tiba, Earon langsung muncul dengan tatapan tajam ke mata Lytro. Kehadirannya tersebut tentu membuat Lytro dan Jordan kaget seperti melihat kemunculan hantu yang ingin balas dendam. Dengan segera, Lytro pun menyembunyikan bungkusan plastik hitam itu di belakang tubuhnya. Tampak dari wajah Earon yang memerah dan gerakan bibirnya yang tak sabar ingin menggigit sesuatu, dia sangat marah pada Lytro.

“Earon, dari mana saja dirimu?! Kau tahu aku mencarimu, jadi aku menanyakan keberadaanmu pada Jordan. Tapi ternyata, dia juga tidak tahu hehe,” kata Lytro berdiri kaku dengan tangan kanan di belakang tubuhnya.

“Jangan banyak alasan! Kau memang sengaja meninggalkanku! Kau juga sengaja mengunciku di kantor saat aku sibuk mencari buku yang kau minta!”

“Apa?!” sahut Jordan terkejut mendengar pengakuan Earon tersebut.

“Tidak, tidak, sungguh. A, a, aku tidak bermaksud demikian,” jawab Lytro gugup.

“Kau pikir dengan menyiapkan banyak makanan di atas mejaku, aku akan bersantai menikmatinya hingga pintu terbuka sendiri. Tidak!” kata Earon yang semakin mendekatkan langkahnya pada Lytro.

“Sungguh! Aku, aku….”

Lytro mengambil beberapa napas sejenak. Ekspresi wajahnya dari yang penuh kegugupan berubah menjadi wajah keberanian untuk menjawab Earon.

“Baik. Baik. Aku salah. Aku minta maaf.”

Earon terdiam dengan wajah kemarahan yang mulai mereda setelah mendengar permintaan maaf dari Lytro. Kemudian, dia melirikkan matanya pada sesuatu yang Lytro sembunyikan.

“Apa yang kau sembunyikan itu?!” tanyanya penasaran.

“Bukan apa-apa.”

“Perlihatkan padaku!” seru Earon seraya mencoba meraih tangan Lytro yang memegang bungkusannya.

Lytro pun menghindarinya, tapi Earon mencoba meraihnya lagi. Dalam posisi tubuhnya yang terhimpit oleh mobil dan Earon yang berada di depannya, Lytro terus berusaha agar Earon tidak mendapatkannya.

“Ini tidak penting bagimu!” ucap Lytro mencoba meyakinkannya.

“Kalau tidak penting, kau tak perlu menyembunyikan itu dariku!”

Jordan yang melihat tingkah mereka saling memperebutkan bungkusannya, membuatnya tidak tinggal diam.

“Baik, cukup! Earon! Lytro!” seru Jordan.

Namun, tak satu pun dari mereka berdua yang memperhatikan Jordan.

“Kubilang, cukup kalian berdua!” kata Jordan lebih keras, hingga terdengar guntur di langit yang seakan menanggapi seruan Jordan tersebut.

Mereka berdua langsung berhenti bertengkar dan sejenak memandang langit yang sudah gelap tertutup awan, seakan mencari arah suara guntur itu berasal. Lalu, memalingkan pandangannya pada Jordan.

“Bungkusan itu, aku yang memberikannya. Lytro benar, isinya tidak penting bagimu. Karena di dalamnya hanyalah...,” Jordan berpikir sejenak, “Rumus matematika.”

Earon mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Jordan.

“Uh…, kurasa kita harus segera bergegas untuk persiapan bioskop di rumahku. Filhener dan Wergon sudah menunggu kita di sana,” sela Lytro segera sebelum pikiran Earon mengarah ke hal-hal yang tidak ia inginkan.

“Kalian berdua pergilah,” sahut Jordan.

“Apa? Kau tidak ikut?” tanya Earon dengan perasaan kecewa.

“Tidak,” jawab Jordan seraya memandang lurus ke mata Lytro.

“Kenapa tidak? Ini rencanamu, Jordan. Bagaimana jadinya nanti tanpa dirimu?”

Melihat tatapan Jordan yang masih tertuju pada Lytro, Earon menaruh curiga terhadap Lytro.

“Jangan-jangan kau telah mengatakan sesuatu pada Jordan!” ujar Earon menatap tajam Lytro.

Tatapan Lytro langsung berpaling pada Earon yang mulai meluapkan amarahnya kembali padanya.

“Apa yang kau bicarakan?! Kau selalu mencurigaiku semenjak kau memperkenalkan aku dengannya!”

“Itu bukanlah kecurigaan. Aku berbicara berdasarkan fakta. Kau ingin tahu apa yang kubicarakan? Kau mencoba menjauhkan aku dari Jordan!”

“Oh, hebat. Bukan pertama kalinya aku mendengar itu dalam waktu kurang dari lima belas menit.”

Earon tertawa sinis.

“Ternyata ada orang lain yang berbicara seperti itu padamu, ya? Siapa dia? Akan kuberi dia penghargaan atas pikirannya yang sama denganku terhadap dirimu!”

Lytro hanya terdiam kesal sambil mengarahkan pandangannya pada Jordan. Saat itu pula, Earon melihat arah tatapan Lytro tersebut.

“Jordan? Jadi, Jordan juga mengatakan itu. Ternyata kami, para korbanmu telah mengungkapkan kebenaran dari tujuanmu yang sesungguhnya!”

“Kebenaran?! Seharusnya kau selidiki dulu sesuatu yang kau anggap kebenaran itu. Aku melakukan semua ini adalah untuk kebaikanmu. Untuk kebaikan kalian berdua.”

“Kalau begitu, katakan kenapa kau melakukan itu pada kami?”

“Aku tidak bisa mengatakannya. Jika aku mengatakan alasannya, itu tidak akan baik lagi bagi kalian.”

“Baik, Kawan-kawan. Sudah cukup bertengkarnya,” ucap Jordan mencoba bersikap tenang, meredakan ketegangan, “Earon, aku tidak ikut karena ada sesuatu yang harus kukerjakan. Aku bisa saja menyusulmu nanti jika aku sudah menyelesaikannya. Lytro, aku tahu apapun yang kau lakukan adalah yang terbaik untuk kami, teman-temanmu. Kita adalah teman, jadi kita nikmati persahabatan ini dengan saling berbagi kebaikan, mengerti?”

Earon dan Lytro terdiam, memikirkan perkataan Jordan tersebut atas pertengkaran sepele yang baru saja mereka lakukan.

Malam hari sekitar pukul 08.20 waktu setempat, Vurpia, Earon, dan Lingchi yang juga merupakan agen wanita satu kerjanya, berjalan keluar pintu setelah menonton bioskop di ruang keluarga rumah Lytro yang masih menampilkan adegan credits pada layar proyeksinya. Terlihat Vurpia begitu cantik dengan baju merah pemberian Earon.

“Uh…, Vurpia. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan,” ujar Earon seraya menghentikan langkahnya, diikuti oleh Vurpia dan Lingchi, saat mereka berada di ujung tangga depan pintu.

Earon merasa gugup harus memulai pembicaraannya dari mana. Melihat kegugupannya, Vurpia meminta Lingchi untuk pergi mendahuluinya.

“Lingchi, bisakah kau tunggu aku di dalam mobil?” pinta Vurpia.

“Tentu saja,” sahut Lingchi dengan senyuman, “Selamat malam, Earon. Terimakasih juga atas tontonannya.”

Earon membalasnya dengan senyuman lebar.

Sesaat setelah Lingchi meninggalkannya, Earon melanjutkan pembicaraannya.

“Jadi, Vurpia. Sebenarnya, aku….”

“Ya?” ucap Vurpia dengan penuh penasaran.

“Aku….”

“Ya?”

“Aku….”

“Iyyyaaaa? Aku menunggumu, Earon.”

“Oh, maaf. Hanya saja aku….”

Kegugupan Earon membuatnya sulit untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Vurpia.

“Apa lagi yang kau tunggu?! Apa susahnya mengatakan itu padanya?” gerutu Lytro yang berdiri di depan pintu melihat peristiwa itu, bersama Wergon dan Filhener.

Angin malam berembus mengenai tubuh mereka. Pohon-pohon di sekitar rumah menari-nari seakan menyambut malam yang kian larut. Vurpia merapatkan jaketnya, namun tatapannya masih tertuju pada Earon. Sementara itu, Earon berusaha untuk tenang agar bisa mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Dia mengambil napas panjang sejenak, bahkan hingga menelan ludah sekali. Kemudian saat itu juga Jordan datang, berjalan menuju pintu pagar besi yang tingginya sekitar satu meter. Dia membuka pintu pagar tersebut. Tapi saat melihat Earon sedang berdiri di hadapan Vurpia, dia menghentikan langkahnya, dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh keduanya.

Tampaknya, rasa gugup Earon sudah luntur dan siap untuk mengatakannya.

“Jadi, Vurpia. Maukah kau menikah denganku?”

Seketika Vurpia terkejut mendengar pengakuan Earon tersebut. Kini, wajah Vurpia memerah dan tampak gugup dengan jawaban yang akan ia berikan pada Earon.

“Tapi, kau tahu aku sudah tidak punya lagi orang tua,” kata Vurpia.

“Ya, aku tahu itu.”

“Aku berbeda dari wanita lainnya.”

“Ya, itulah yang kusuka.”

“Tapi, aku benar-benar berbeda dengan wanita lain. Aku harus memakai pakaian yang sangat rapat untuk menghindari kontaminasi dengan ya, kau tahu.”

“Aku suka busana tertutupmu.”

“Aku wanita yang menyukai bunga aones. Itu sungguh aneh, bukan?”

“Tidak apa. Itu tak masalah.”

“Jarang ada wanita yang menyukai bunga mematikan itu. Heh! Aku memang wanita aneh. Padahal, mereka menggunakannya sebagai hiasan rumah mereka saat ada orang yang meninggal.”

“Kurasa, kau hebat.”

“Setelah selesai, mereka langsung membuangnya. Sementara aku, menyimpannya hingga batas kuncupnya kedaluwarsa.”

“Oh, terimakasih.”

“Terimakasih untuk apa?”

“Jawabanmu?”

Suasana terasa hening sejenak. Vurpia dan Earon terdiam dengan saling bertatapan mata. Sementara Jordan, Wergon, Filhener, dan Lytro, masih menunggu adegan selanjutnya.

“Maafkan aku, Earon. Aku sungguh tak bisa,” jawab Vurpia dengan wajah muram.

Earon merasa sangat sedih dengan keputusan itu. Tapi, dia mencoba untuk bisa menerimanya.

“Tidak apa-apa. Setidaknya, kita masih menjadi rekan kerja.”

“Bukan itu yang kumaksud. Aku benar-benar tak bisa. Aku tak bisa menolak permintaanmu. Aku ingin menjadi cinta sejatimu. Selamanya.”

Wajah Earon yang begitu sedih terperanjat menjadi wajah dengan penuh kegembiraan. Begitu juga dengan Jordan dan yang lain, mereka begitu bahagia karena rencananya telah berhasil. Saking bahagianya, Earon seakan ingin terbang ke angkasa dan mengajak Vurpia berdansa bersamanya, melayang di udara. Namun hal itu tidak akan terjadi karena dalam khayalannya tersebut, ia tersambar petir sebelum lagu diputar dan seketika dia kembali dalam kenyataan. Walaupun demikian, Earon masih ingin meluapkan kegirangannya. Secara tidak sadar, dia membuka kedua tangannya dan ingin memeluk Vurpia. Tapi dengan segera, Vurpia pun menghalangi tangan Earon sebelum ia menyentuhnya.

“Ooops, maaf. Aku tidak bermaksud untuk memelukmu,” ucap Earon menyesal.

Vurpia membalasnya dengan senyuman manis.

“Kalau begitu, segeralah kita atur tanggal pernikahannya! Agar aku pun bisa memelukmu setiap saat.”

Mereka berdua terlihat begitu senang, saling tersenyum sipu, dan bertatapan mata.

“Kurasa, aku harus kembali sekarang. Aku khawatir Lingchi menungguku terlalu lama,” ujar Vurpia, “Sampai bertemu lagi, Earon.”

Earon membalasnya dengan menganggukkan kepalanya.

“Aku pulang dulu, Lytro, Fil, Wergon!” kata Vurpia dengan suara keras.

“Hati-hati!” balas Wergon dan Lytro bersamaan dengan Filhener yang membalas, “Sampai bertemu lagi.”

Vurpia melangkahkan kakinya menuju gerbang dan terkejut melihat Jordan berdiri di sana.

“Jordan? Kau tidak masuk?”

“Uh, aku baru saja datang. Dan aku melihat kau mau keluar, jadi aku berhenti. Di sini.”

Sekilas, Vurpia teringat ungkapan cinta yang baru saja Earon katakan padanya, lalu tersenyum lebar sambil melangkahkan kakinya kembali menuju gerbang yang telah Jordan bukakan untuknya.

“Aku pulang dulu, Jordan,” ucapnya ketika melewati Jordan.

Jordan membalasnya dengan anggukan dan senyuman.

Tapi tiba-tiba, Jordan merasakan hawa yang tidak enak, sesaat setelah Vurpia melewatinya. Kipasan angin yang ia rasakan dari tubuh Vurpia, membuat hatinya terperanjat gundah. Waktu seakan menjadi lambat, udara malam yang awalnya tidak begitu dingin baginya, kini menjadi terasa sangat dingin hingga dia merapatkan jaketnya erat-erat. Terdengar suara desis yang memanggil namanya, lalu ia merasa ada beban yang ditaruh di pundaknya.

“Jordan, jangan melamun!” seru Earon khawatir dengan tangan kanan yang diletakkan di pundak Jordan.

 Jordan langsung terkejut sadar, sekaligus situasi yang ia rasakan kembali normal.

Kemudian, Earon memeluk erat Jordan sebelum Jordan mengatakan sesuatu. Earon begitu bahagia, entah karena rencananya telah berhasil atau sangat sayang pada sahabatnya tersebut sampai-sampai Wergon, Filhener, dan Lytro yang berjalan mendekatinya, melihat pelukan Earon yang tak kunjung dilepas.

“Terimakasih, Jordan,” kata Earon lirih di dekat telinga Jordan.

Jordan tersenyum haru atas sikap Earon tersebut. Dia juga semakin mengeratkan pelukannya.

“Ini terlalu dramatis,” gerutu Filhener, “Bisakah kalian sudahi pelukannya? Jika orang lain melihat ini, mereka akan mengira kita semua gila.”

Earon melepaskan pelukannya dan tiba-tiba, sesuatu terlintas dalam pikirannya.

“Lytro, bagaimana dengan kasus tiga bayangan bulan?” tanyanya.

“Uh, aku sudah sedikit lebih tahu tentang mereka,” jawab Lytro bimbang, “Tapi, jangan khawatir. Aku pasti segera mengungkap kedok mereka dalam waktu dekat ini dan kau tidak perlu menanyakan itu. Kau tahu, biar aku yang menangani mereka. Dan kau cukup menangani yang satunya. Uh maksudku, aku menangani tiga bayangan bulan sendiri, tapi aku juga akan membantumu menangani yang satunya.”

Earon hanya bisa tersenyum sinis melihat sikap dan ucapan Lytro yang seperti dihadapkan dengan ujian kelulusan.

“Baik, kuberi kau waktu satu minggu. Setelah itu, yang menjadi urusanmu akan menjadi urusanku pula.”

“Hei, tidak bisa begitu!”

“Siapa yang kalian bicarakan? Tiga bayangan bulan dan yang satunya,” tanya Jordan penasaran.

“Tiga pencuri tulang lebah madu yang tak kunjung ditangkap oleh Lytro, kami nobatkan sebagai tiga bayangan bulan,” jelas Earon seraya sedikit menyindir Lytro.

Jordan, Wergon, dan Filhener langsung merasa kaku di sekujur tubuhnya. Mereka seakan tak bisa bergerak dan berkata apapun lagi, hanya saling melirikkan mata di antara ketiganya.

“Dan yang satunya….”

Earon berhenti berkata sejenak. Wajahnya terlihat murung sebelum ia melanjutkan perkataannya.

“Ah, kalau itu tidak perlu dibahas,” katanya.

Walaupun demikian, Jordan merasakan adanya kejanggalan dari permasalahan yang sedang ia hadapi baru-baru ini. Bukan hanya karena dari penglihatan seramnya, tapi juga orang-orang di sekelilingnya. Semua terasa aneh, seakan ada teka-teki yang jawabannya mungkin akan membuatnya sangat terkejut.

Malam semakin larut. Mereka semua menginap di rumah Lytro. Sekitar pukul 02.36, saat semuanya masih tertidur lelap, Lytro menyempatkan diri untuk masuk ke ruang perpustakaan kecilnya dengan membawa bungkusan plastik yang diberi dari Jordan. Dia duduk sambil mengeluarkan satu per satu isi dalam plastik tersebut di atas meja persegi dengan penerangan lampu duduk. Dia mengeluarkan flashdisk, selembar kertas berukuran (9x4) cm dan terlihat dari gerakan matanya yang membaca tulisannya, lalu satu sendok teh serbuk hitam yang dibungkus dalam plastik klip bening ukuran kecil. Dia begitu terkejut melihat serbuk hitam tersebut, kemudian diangkat kira-kira setinggi matanya, mengamatinya sambil diremas-remas menggunakan jari-jarinya. Namun, dia tak mampu mengenali serbuk hitam itu. Timbul berbagai pertanyaan di benak Lytro. Kenapa Jordan memberikan itu padanya dan apa sebenarnya serbuk hitam tersebut, pikirnya penasaran.

 

No comments:

Post a Comment