CHAPTER 7: KEBENARAN PARA PEMEGANG BUSUR

Siang hari yang menggelap.

Di sebuah rumah besar berlantai satu dengan halaman depan yang dihiasi rerumputan hijau, warna-warni bunga, dan kolam air pancur di tengahnya, yang luasnya cukup untuk memparkir satu buah helikopter, Lytro, Earon, serta Vurpia melakukan perdebatan kecil di dalam rumah tersebut.

“Apa?! Kenapa kau tidak memberitahuku?!” ucap Lytro terkejut kesal berdiri di dekat jendela dapur membelakangi Earon yang sedang menyiapkan sajian pesta di rumahnya.

“Kau juga seharusnya memberitahuku, Earon!” sahut Vurpia yang juga ikut terkejut seraya menghentikan kegiatannya membantu Earon di meja dapur.

Sejenak Earon berpaling ke arah mereka sambil berkata, “Kenapa aku harus memberitahumu, Vurpia? Aku tahu kau bisa memercayaiku. Dan kau, Lytro. Kuyakin, kau tidak akan mau mendengar alasanku.”

Lytro mendengkus.

“Kurasa, orang-orang mulai bisa mencuri pikiranku,” gumamnya dengan wajah yang kurang mengenakkan.

Suasana kembali normal, setelah dirasa tidak ada masalah apapun yang akan timbul berdasarkan perdebatan tersebut. Pandangan Earon kembali dengan persiapannya, diikuti Vurpia yang membantunya menuangkan air panas ke dalam sebuah cerek berukuran besar.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara bel pintu saat Earon, Lytro, dan Vurpia mengobrol di ruang tamu, sambil menikmati hangatnya api yang menyala di perapian. Earon segera bangkit dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Tampak dari raut mukanya yang begitu senang sebelum dia memutar gagang pintunya, seolah dia sudah mengetahui seseorang yang akan berdiri di hadapannya. Saat pintu terbuka lebar, ucapan selamat datang tersambut hangat untuk Jordan, Wergon, dan Filhener dengan latar belakang cuaca yang tidak begitu baik. Langit siang seperti senja, suara petir yang menggelegar terdengar dari langit yang jauh, udara dingin bertiup lembut, namun belum ada setetes air pun yang membasahi area pandangannya. Melihat suasana itu, Earon langsung mempersilakan mereka masuk sesaat setelah mereka bersalaman. Sesampainya di ruang tamu, mereka bertiga terkesan melihat Lytro dan Vurpia baru saja bangkit berdiri menyambut mereka.

“Lytro dan Vurpia juga ada di sini? Ini bagus!” ucap Jordan senang.

“Dia juga tidak beritahu kami tentang kedatanganmu,” ketus Lytro.

“Kejutan. Orang-orang terdekatku akan merayakan keberhasilanku di sini, bersamaku. Selagi kita punya waktu untuk melakukannya,” sahut Earon.

Filhener, Jordan, dan Wergon secara berurutan bersalaman dengan Lytro dan tersenyum ramah pada Vurpia.

“Kalian tunggulah di sini! Aku akan menyiapkan semuanya,” kata Earon.

“Biar kubantu, Earon,” ujar Vurpia.

“Eeehhh, tidak, tidak, tidak! Kau tunggu di sini saja. Kau tamunya. Lagi pula, kau tadi sudah banyak membantuku. Santai saja.”

“Kenapa kau tidak meminta pelayanmu untuk membantumu?” tanya Filhener.

“Aku hanya punya beberapa tukang kebun. Tugas mereka hanya mengurusi kebun dan membersihkan rumah ini. Sementara untuk memasak, mencuci pakaian, membuka pintu, atau hal lain selain tugas utama mereka, selagi aku masih bisa melakukannya, maka akan kulakukan sendiri.”

“Apa itu artinya, kau juga memasakkan makanan untuk mereka?”

“Ehmmm, tidak. Apa rasa penasaranmu sudah terpenuhi, Fil?”

“Oh ya, tentu. Sekarang aku tahu alasan apa yang akan kugunakan untuk menobatkanmu sebagai agen kebun tetap bibi Delarmy.”

Semua tertawa kecil mendengar sindiran Filhener tersebut. Sementara Earon merasa malu dengan hal itu, terlebih di depan Vurpia yang mengumpat tawanya, maka diapun segera pergi ke belakang untuk mempersiapkan perayaannya.

Wergon dan yang lainnya kembali menikmati hangatnya suasana, dengan duduk di dua sofa panjang yang saling berhadapan, dengan meja persegi panjang di tengahnya, membicarakan sesuatu yang membuat mereka tertawa atau terkejut, seraya menunggu jamuan yang akan Earon berikan. Namun sebelum menduduki kursi yang empuk tersebut, pandangan Jordan teralih pada benda-benda yang terpajang di atas meja yang merapat pada dinding. Rasa penasarannya membuat dia melangkahkan kakinya perlahan menuju benda itu. Benda itu semakin jelas dilihatnya, lalu sedikit mengerutkan keningnya. Sesampainya di dekat meja, dia mengambil salah satu benda yang menunjukkan gambar kedekatan Earon dengan seseorang yang seumur dengannya dan seorang pria tua. Jordan tersenyum haru melihatnya. Dia pun mengambil foto lain yang hampir semuanya menampilkan kedekatan tiga orang tersebut, sementara yang lain menunjukkan gambar kedekatan Earon dengan pria tua tersebut.

Beberapa saat kemudian, Earon datang sambil membawa nampan yang berisi enam gelas sirup warna merah dan secangkir kopi panas. Saat Earon sedang menata satu per satu gelasnya di atas meja, Jordan membalikkan pandangannya sambil memegang sebuah foto hasil pengamatannya.

“Siapa orang tua yang ada di foto ini? Apakah dia ayahmu?” tanya Jordan kepada Earon, seraya menunjukkan gambar orang tua yang berada di tengah dari tiga gambar orang yang ada di dalam foto tersebut.

Sejenak Earon melihat foto yang diperlihatkan oleh Jordan, sambil meletakkan gelas ke limanya di atas meja.

“Ya. Dia ayahku,” jawabnya, lalu kembali menata gelas selanjutnya.

“Dan siapa pemuda ini?” tanya Jordan lagi.

Setelah semua gelas sudah ditaruh di atas meja, Earon menegakkan tubuhnya dengan tangan yang memegang nampan yang sudah kosong.

“Dia teman SMA-ku. Kami sangat akrab. Dan ayahku sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri, bahkan melebihi diriku,” jawabnya dengan nada jengkel yang bercampur rindu dan senang, “Walalupun begitu, kami sudah benar-benar seperti saudara.”

Jordan terdiam seperti memikirkan sesuatu, lalu sirna setelah sebuah pertanyaan terlintas lagi dalam pikirannya.

“Di mana dia sekarang?”

“Terakhir kali melihatnya, dia bilang akan pergi jauh dari Losapins. Setelah itu, aku tidak pernah tahu kabar apapun tentang dirinya,” jawab Earon seraya berjalan ringan, mendekati foto yang dipegang Jordan.

Kemudian, Earon mengambil foto tersebut secara perlahan dari tangan Jordan. Tampak dari wajahnya yang begitu rindu saat mengalami masa kebersamaan itu.

“Siapa nama temanmu ini, Earon?” tanya Jordan lagi.

Situasi tersebut sepertinya tidak terlalu disukai oleh Lytro. Diapun segera angkat bicara sebelum Earon menjawab pertanyaan Jordan.

“Bisakah kita tidak membahas masa lalu? Aku ingin saat ini dan hanya saat ini saja, kita fokus membahas perayaannya. Yang berlalu biarlah berlalu. Mengerti?” katanya agak kesal.

Sesaat setelah itu, terdengar suara bel pintu. Earonpun mengembalikan foto tersebut di atas meja dan bergegas menuju pintu depan untuk membukakannya.

“Siapa lagi yang dia undang?” gumam Lytro yang masih dalam suasana hati yang gusar.

Melihat kegusaran Lytro, membuat Jordan melontarkan pertanyaan atas dasar perhatiannya.

“Ada apa denganmu, Lytro? Kau tak seperti biasanya,” tanyanya sambil tersenyum.

“Aku sendiri juga tidak tahu.”

“Terkadang seseorang perlu berbagi masalahnya dengan orang tertentu untuk bisa melepaskan segala perasaannya, karena jika orang itu tidak mampu memendam masalahnya sendirian, maka perasaan itu akan dia lepaskan pada hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan masalahnya itu, bahkan pada hal yang sangat sepele sekalipun.”

“Beberapa orang punya alasan sendiri, kenapa mereka harus memendam masalahnya pada orang tertentu, Jordan.”

Mereka berdua terdiam, saling bertatapan mata, ingin mengetahui sesuatu yang sedang dipikirkan satu sama lain. Namun, mereka seakan tak berdaya untuk mengungkapkannya. Sementara Vurpia, Wergon, dan Filhener yang ketiganya sedang memegang gelas jamuan, ikut terdiam melihat kelanjutan perdebatan yang akan mereka berdua lakukan.

Sementara Earon yang telah membukakan pintu, tersenyum bahagia sambil memeluk erat melepas kerinduan pada seseorang yang telah berdiri di depannya dengan membawa sebuah koper besar yang diletakkan di sisinya. Ketika itu juga, Jordan mendengar bisikan bersabarlah. Dia tampak tenang dengan kedatangan bisikan tersebut kali ini, walaupun dia tahu bahwa bisikan itu tidak akan terdengar tanpa suatu sebab, tapi dia seakan siap menerima apapun yang akan terjadi nanti.

Suasana di ruang tamu yang bagaikan tempat adu mata, terpecah sesaat setelah Jordan menunjukkan senyumannya.

“Memang,” katanya, lalu duduk di dekat Lytro sambil menepuk pundaknya dan berbicara dengan nada gurau, “Tapi aku beritahu kau, Lytro. Jika aku sudah penasaran dengan masalah orang, tak tanggung-tanggung aku akan mencampuri urusannya. Sekalipun dia tidak mengatakannya, pasti aku akan mengetahui masalahnya itu segera.”

“Ya, aku tahu itu sifatmu yang menyebalkan,” sindir Lytro dengan balasan senyum.

Filhener dan Vurpia meneguk minumannya, mengalihkan perhatian Jordan yang melihatnya untuk keluar dari perdebatan tersebut.

“Sepertinya, minuman ini sangat segar,” ujarnya seraya melepaskan tangannya dari pundak Lytro, lalu mengambil segelas sirup yang tersaji di dekatnya.

Sambil menikmati minumannya, sejenak Jordan sedikit melirikkan matanya pada Lytro yang sedang mengambil gelasnya. Lytro bersikap biasa seakan suasana hatinya telah membaik, tapi Jordan tahu bahwa sebenarnya dia hanya mencoba menutupi kegelisahan yang sedang ia pikirkan. Jordan pun hanya bisa mengembuskan napas ringan, dengan pikiran yang masih mengganjal terhadap kecemasan temannya tersebut.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pria tua berjaket hitam tebal, menghampiri mereka berlima yang masih meninggalkan tawa. Jordan segera bangkit berdiri setelah orang itu terlihat jelas oleh pandangannya. Dia tersenyum senang menyambut kehadiran orang tua itu. Namun di sisi lain, kehadiran orang tua itu justru membuat Lytro dan Vurpia terkejut dengan mulut yang terbuka ringan.

“Oh, jadi kalian teman dekat anak kesayanganku?” ucap orang tua itu ramah.

“Kau pasti calon menantuku?” lanjutnya seraya menunjuk ke arah Vurpia.

“Bagaimana Anda tahu itu? Bahkan, Anda belum pernah bertemu dengan saya sebelumnya.”

Orang itu tertawa bergumam.

“Tentu saja aku tahu. Anakku selalu menceritakan kalian semua. Oh maaf, seharusnya aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Trigar, aku salah satu pelayan Volan.”

Wergon dan Filhener sangat kaget mendengar kata terakhirnya, bahkan Wergon hampir memuntahkan minuman yang akan diteguknya. Lalu dengan segera, tangannya mengusap sedikit tumpahannya yang mengalir dari bibirnya.

“Si, siapa Volan?” tanya Filhener bingung bercampur tegang.

“Siapa bilang kau pelayanku, Paman?” sahut Earon yang tiba-tiba muncul dari belakang Trigar.

“Lihat! Apa yang telah kau lakukan pada temanmu? Kenapa ada yang tidak tahu kalau namamu adalah Volan?”

Seketika suasana menjadi sangat hening. Wergon, Filhener, Jordan, Vurpia, dan Lytro terdiam kaget dan bingung dengan mulut mereka yang menganga kecil.

“Sekarang mereka malah domblong saat mengetahuinya,” lanjut Trigar.

“Earon. Namanya Earon, bukan Volan. Dan Anda adalah ayahnya. Bukan begitu, Earon?” ujar Jordan yang merasa gugup dan gemetar.

Earon menoleh Trigar sesaat dan melihat tatapan matanya yang seakan memintanya untuk menjelaskan pertanyaan temannya tersebut.

“Baiklah, baiklah. Lytro dan Vurpia, tak perlu kujelaskan lagi. Jordan, Wergon, Filhener, kuberitahu kalian kalau Earon adalah nama ayah kandungku. Namanya kugunakan saat melakukan penyamaran dalam misi pertamaku. Karena misi itu mendapatkan rekor tercepat dalam penanganannya, sejak itulah teman dekatku lebih sering memanggilku Earon. Dan Paman Trigar, dulu adalah pelayan setiaku. Tapi tidak lagi. Aku sudah menganggapnya seperti ayahku yang telah membesarkanku hingga sesukses ini,” jelas Earon, diikuti oleh Wergon dan Filhener yang secara perlahan bangkit berdiri dengan tatapan mata yang memperhatikan setiap penjelasan Earon, “Jadi kalau kalian mau memulainya dari awal, perkenalkan namaku adalah Volan Kayshn.”

Guntur terdengar sangat keras hingga menggetarkan kaca-kaca jendela rumah, seakan petir tersebut menyambar tepat di atas rumahnya. Bersamaan dengan itu, mata Jordan langsung terbuka lebar-lebar begitu mendengar kalimat terakhir Earon. Napasnya berhenti sejenak. Hatinya bercampur aduk tak keruan, antara takut, sedih, dan senang. Namun, ketakutannya lebih besar dari semua perasaan yang saat ini ia rasakan. Dia berusaha untuk tetap tenang dengan mengangkat kepalanya, lalu mengambil beberapa napas sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Tapi tubuhnya terasa kaku, seakan semua persendiannya tak mampu lagi digerakkan. Sekilas Jordan melihat Filhener dan Wergon yang juga berdiri kaku dan gelisah, serasa ingin segera pergi jauh dari tempat itu.

“Whoaa, keras sekali suaranya,” kata Earon.

“Mulai saat ini, kalian harus memanggilnya Volan. Karena itu memang namanya. Mengerti?” sahut Trigar.

Tak satu pun yang menanggapi ucapannya. Earon dan Trigar justru terheran-heran melihat Lytro dan yang lainnya terdiam cemas merenungkan sesuatu. Sepertinya mereka juga tak mendengar guntur yang baru saja lewat, pikirnya.

“Teman-teman, apa kalian baik-baik saja?” tanya Earon yang juga merasa cemas mengikuti suasana.

Semua masih diam.

“Teman-teman?” ucapnya lebih keras.

Semua masih juga diam. Earon mulai dibuat bingung olehnya.

“Teman-teman?!” ucapnya lagi dengan sangat keras, hingga menyadarkan mereka dari angan-angan yang mengikat tubuh mereka.

Semua serentak menoleh pada Earon, kecuali Jordan yang tak sanggup lagi menatap wajahnya.

“Apa yang kalian pikirkan?” tanya Earon penasaran.

Vurpia menoleh pada yang lainnya dan tak satu pun yang memberikan jawaban atas pertanyaan Earon tersebut. Maka, dia pun angkat bicara sebelum rasa kepenasaran Earon memuncak.

“Eehhh, tidak ada. Kami tadi hanya…. Kami hanya berpikir, apa yang akan terjadi pada Fordien nanti,” katanya.

“Sampai sebegitukah kalian peduli pada penjahat itu?” guraunya, “Tapi kalian tak perlu khawatir, karena dia sudah divonis hukuman mati.”

Semua langsung terkejut mendengar kabar tersebut. Begitu juga dengan Jordan, yang seketika wajahnya terangkat memandang Earon.

“Benarkah?” sahut Vurpia senang, menutupi keresahan di wajahnya.

“Tapi, sudah. Dia tak ada dalam daftar undangan kita, jadi jangan bahas dia lagi. Ayo, kita ke ruang makan.”

“Tapi ngomong-ngomong, siapa di antara kalian yang bernama Jordan?” sela Trigar tiba-tiba.

Serentak semua langsung menoleh pada Jordan. Jordan pun semakin merasa takut kalau-kalau hal itu membuat Earon atau Trigar mengarah pada pikiran hal-hal yang tidak dia inginkan. Walaupun demikian, dia tetap dalam ekspresi wajah yang tenang.

“Nama yang cocok untuk orang sepertimu,” ujar Trigar tersenyum lebar pada Jordan.

Jordan pun membalasnya dengan senyuman hampa.

Kemudian, semua berjalan menuju ke ruang makan. Jordan, Filhener, dan Wergon mengikuti mereka di baris terakhir dengan wajah diam dan gelisah. Beban yang tak hanya dirasakan di dalam pikiran, tapi juga terasa hingga di sekujur tubuh, membuat mereka tak berselera untuk melanjutkan perayaan itu. Mungkin satu-satunya yang akan membuat mereka berselera adalah segera pergi jauh dan sangat jauh dari keberadaan Earon. Selama menikmati makanannya pun, mereka bertiga tampak canggung seakan tak lagi berhadapan dengan teman, tetapi orang yang tak pernah ingin mereka kenal. Namun, mereka pun tidak bisa berbuat apapun, selain mengikuti alur adegan yang telah dihadapkan pada mereka. Sedikit saja mereka keluar arah, bisa jadi akan timbul kecurigaan Earon terhadap rahasia tiga serangkai.

Detik berganti menit. Menit berganti jam.

Setelah selesai menikmati santapan lezat, mereka kembali bercakap-cakap di depan perapian. Namun kebersamaan tersebut, sesaat tidak diikuti oleh Earon, Trigar, dan Jordan.

Di dekat pagar tembok setinggi satu meter, yang menjadi batas lantai rumah, Earon bersama Trigar berdiri sambil menikmati suasana luar yang suram, saling berkabar pengalaman masing-masing yang belum sempat disampaikan, setelah beberapa hari tidak bertemu. Udara dingin terus mengipas tubuh mereka, sehingga sesekali Trigar merapatkan jaketnya.

“Aku punya kabar baik untukmu, Paman,” ucap Earon mengawali perbincangan yang baru, “Seseorang yang selama ini terus Paman bela telah aku tangkap. Kini aku telah membawa bukti yang Paman inginkan. Saatnya bagi Paman untuk mengakui kalau dia memang seorang penjahat.”

Trigar terdiam bingung mendengar ucapan tersebut.

“Paman masih belum mengerti juga? Orang yang bernama Fordien, dia adalah Jordan.”

Trigar langsung memalingkan wajahnya ke arah Earon.

“Apa maksudmu kalau Fordien adalah Jordan?” tanyanya kaget.

“Jordan. Apakah Paman sudah lupa? Jordan yang selalu Paman sayang. Jordan yang selalu Paman idamkan. Jordan yang selalu menipu pikiran Paman.”

“Berhenti bicara seperti itu, Volan! Bagaimana pun, dia tetaplah adikmu. Memang benar Fordien adalah seorang pembunuh kejam seperti yang kau ceritakan. Tapi dia bukanlah Jordan. Jordan bukanlah penjahat bengis seperti Fordien. Jordan adalah anak yang lembut. Bahkan, dia tidak suka melihat orang lain susah. Bagaimana mungkin dia menjadi seorang pembunuh?”

“Kenapa Paman begitu keras kepala?! Bukti apa lagi yang harus aku tunjukkan agar Paman berhenti ditipu olehnya?!”

Terlihat kilatan di balik awan hitam yang diikuti guntur dari langit yang jauh.

“Tidak akan pernah ada bukti apapun yang bisa kau tunjukkan atas dasar pemikiranmu itu! Kau yang salah beranggapan tentang adikmu, Volan. Janganlah kau mencari bukti atas rasa marah dan dendammu, tapi carilah bukti atas dasar kebenaran. Kau selalu mencari kebenaran tentang orang lain untuk masyarakat. Tapi aku tidak melihat kau mencari kebenaran tentang adikmu untuk dirimu. Satu hal yang perlu kau ingat, keyakinanku tentang Jordan tidak akan pernah bergeser sedikit pun.”

“Dan satu hal yang perlu Paman ingat, keyakinanku tentang Jordan juga tidak akan pernah bergeser sedikit pun. Aku akan membuktikan kalau Fordien memang Jordan. Sekalipun bukan dia orangnya, siapa pun Jordan, dia akan tetap menjadi seorang penjahat. Dan akan kupastikan, kutemukan dia dan membuat hidupnya menderita seperti yang selama ini telah dia lakukan terhadapku,” kata Earon seraya meninggalkannya sendirian.

Trigar menundukkan pandangan gelisahnya sambil mengembuskan napas melalui mulutnya, merasakan betapa sulitnya meyakinkan Earon untuk mengubah pendiriannya. Sementara Earon melangkahkan kakinya dengan penuh kesal setelah melakukan perbincangan dengan Trigar, berjalan melewati pintu kaca geser yang terbuka, dan tidak menyadari kalau Jordan telah berdiri merapat pada tembok dekat pintu tersebut. Beruntung Earon tidak melihatnya, setelah dia mendengar percakapan yang baru saja mereka berdua lakukan. Saat kondisi dirasa sudah aman, pandangan Jordan kembali pada Trigar yang masih berdiri sendirian menatap gumpalan awan hitam di langit. Dia ingin sekali mengatakan bahwa anak yang selalu ia bela telah berdiri di dekatnya. Dia ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa dia pun sangat menyayanginya. Namun, keadaan yang memaksa angan-angan itu untuk tetap terpendam dalam benaknya.

Tak kuasa melihat derita rindu Trigar untuk bertemu anak kesayangannya itu, maka Jordan pun meninggalkannya dan berniat untuk kembali bersama Lytro dan yang lainnya. Namun saat dia mendapat langkah ketiganya, Trigar memanggilnya.

“Jordan?”

Jordanpun berhenti, tapi belum sempat menoleh pada Trigar.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

“Tidak ada, Paman. Aku hanya kebetulan lewat.”

“Maukah kau menemaniku? Kebetulan aku sendirian di sini.”

Jordan berpikir sejenak, kemudian menguatkan hatinya untuk menatap Trigar.

“Tentu saja, Paman,” ucapnya sambil tersenyum.

“Kurasa, Paman lebih membutuhkan aku dari pada orang-orang yang saat ini sedang duduk di depan perapian. Jujur saja, aku agak takut bersama mereka. Aku akan lebih nyaman bersama Paman, sekalipun udara dingin ini menusuk sampai ke tulang,” lanjut Jordan dengan nada sedikit bergurau, mencoba memecahkan suasana hati yang sedang Trigar rasakan.

Trigar tertawa kecil mendengarnya.

“Jika sudah cukup mendapatkan beberapa tusukan, kita akan memanggangnya di perapian.”

Jordan pun tersenyum lebar sambil melangkahkan kakinya perlahan, mendekati Trigar.

Mereka mengobrol sambil tersenyum dan tertawa, seakan merasakan kehangatan dan kenyamanan satu sama lain. Trigar yang biasanya merapatkan jaketnya saat udara dingin terasa di tubuhnya, saat itu dia biarkan jaket itu pada kondisi apa adanya.

Akhirnya, mereka menemukan cara tersendiri untuk merayakan kebersamaan tersebut. Kecuali Wergon dan Filhener yang harus memasang wajah keceriaan untuk menutupi rasa takut mereka terhadap Earon.

Waktu telah berlalu. Perayaan di rumah Earon telah selesai dengan kembali ke rumah mereka masing-masing. Jordan, Wergon, dan Filhener merasa sangat lega setelah berada di dalam Avasone. Terlihat Wergon dan Filhener begitu kelelahan dengan acting mereka selama di depan Earon. Sementara Jordan, hatinya masih merasa begitu sakit mengetahui bahwa Earon adalah Volan, kakaknya. Dia tidak tahu yang harus dilakukan selanjutnya. Apakah dia akan pergi jauh dari kota hingga Earon tidak pernah bisa melihatnya lagi ataukah dia akan terus mempertahankan ikatannya hingga semua kebenaran terungkap. Begitu berat pilihan yang akan diambil, Jordan hanya bisa memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang sedang ia duduki, dengan Filhener disebelahnya, yang menyetir Avasone. Barangkali sedikit ketenangan dapat membuatnya mengambil keputusan yang bijak, pikirnya. Walaupun demikian, sejak saat itu, setenang apapun Jordan, rasa takut akan selalu menyelimuti hati dan pikirannya.

Sementara di sebuah tempat yang gelap, tanpa ada sinar merah yang menghiasinya, terdengar jeritan murka sang pemegang tongkat Pridiatick, yang diiringi suara-suara pecahan kaca yang dibanting pada benda keras.

“Kenapa justru seperti ini?! Kenapa keadaannya semakin sulit?!” katanya dengan sorotan matanya yang mengerikan.

“Tidak. Satu-satunya yang akan terjadi adalah kehancuran para pemegang busur. Aku harus mencari cara untuk menghentikannya, sebelum mereka mengetahui semua kebenarannya,” ucapnya berusaha menenangkan diri.

Tengah malam yang semakin dingin dan sunyi, Earon menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah penjara terbesar, terketat, dan terngeri di Losapins. Dia tampaknya terburu-buru untuk menemui seseorang. Terlihat tiga orang petugas keamanan menyertai Earon, menunjukkan sebuah ruangan yang sepertinya memang sudah sengaja dipesan sebelumnya. Earonpun memasuki ruangan tersebut, sementara para petugas keamanan menunggunya di luar.

Dengan kedua kaki yang ditahan oleh cincin besi yang berhubung dengan kaki kursi dan kedua tangan yang masing-masing dililit oleh sabuk besi pada lengan kursi, Fordien duduk di sebuah kursi besi persegi. Sorotan sebuah lampu gantung yang dipasang tepat di tengah ruangan, membuat semuanya terlihat jelas.

“Kau lagi,” katanya dengan wajah jemu, “Kau tidak akan memberiku panah bius itu lagi, ‘kan? Karena sejak saat itu, tiga hari berturut-turut aku tidak bisa tidur. Bahkan, terkadang aku tidak sadar dengan yang kulakukan.”

“Berterimakasilah, karena bukan panahku yang tertancap di tubuhmu,” sahut Earon seraya mendekati Fordien.

“Apa sebenarnya maumu?”

“Aku hanya ingin sedikit memberikan perhatianku padamu. Bukankah itu yang pernah kau lakukan padaku dulu? Perhatianmu telah meracuni pikiranku, bahkan pada orang-orang di sekelilingmu. Tapi, jangan khawatir. Karena perhatianku bukanlah untuk menawari racun yang ada dalam pikiranmu, tapi untuk mengucapkan pesan terakhir sebelum akhirnya kau bisa tidur untuk selama-lamanya.”

“Jujur, aku tidak suka ucapan orang yang terlalu bertele-tele.”

“Akan kukatakan intinya. Aku senang akhirnya menemukanmu. Aku senang akhir dari hidupmu yang seperti ini. Aku senang akhirnya bisa membalas kematian ayah dan ibu. Tapi, aku tidak senang pada satu hal dan aku ingin tahu rahasia dari kesuksesanmu itu. Kenapa Paman Trigar masih saja memercayaimu sebagai seorang adik yang tak berdosa? Heheh, lucu sekali, bukan?”

Fordien tertawa bergumam mendengar penjelasan Earon.

“Paman Trigar? Adik? Hahaha…, leluconmu sungguh tak bisa kumengerti. Siapa yang kau bicarakan itu?”

Earon justru semakin marah olehnya. Dia mengambil beberapa langkah hingga berdiri tepat di depan wajah Fordien, dengan kedua tangan yang masing-masing memegang ujung sandaran kursinya.

“Hentikan sandiwaramu ini! Atau perlu aku harus memanggilmu Jordan? Bahkan, kau tak ingat pada Paman Trigar? Di mana rasa terimakasihmu itu?!”

Kemarahan Earon justru membuat Fordien semakin bingung. Dia pun mendengkus dan berkata, “Dengar, Orang naif! Aku benar-benar tidak mengerti yang kau bicarakan. Atau kau yang tidak mengerti dengan bahasaku? Aku tidak mengenal Paman Trigar. Lagi pula, kenapa aku harus peduli dengannya? Apa yang telah dia berikan padaku? Kebebasanku? Kuharap itu terjadi sebelum eksekusiku.”

Earon mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan kebingungan Fordien. Dia menegakkan kembali tubuhnya.

“Kuyakin kau mengenal Volan Kayshn?!”

“Siapa lagi dia? Jangan menambah daftar kebingunganku.”

Earon semakin tidak mengerti dengan jawaban tersebut. Dia beranggapan kalau Fordien memang sengaja membuatnya demikian atau Fordien memang bingung atas pertanyaan yang diajukannya.

“Bagaimana dengan Jordan Kayshn?!”

“Ya, aku sangat mengenalnya,” katanya dengan nada tenang.

Earon tersenyum sinis.

“Tentu saja, kau mengenalnya. Kenapa begitu sulit untuk mengakui kalau dirimu adalah Jordan Kayshn?!”

“Jangan pernah samakan aku dengan teman pengkhianatmu itu! Jordan si pemanah licik. Aku akan senang jika ada orang yang akan membuat hidupnya menderita!”

Earon sangat terkejut dengan ucapan Fordien tersebut. Dia terdiam seolah memikirkan sesuatu. Dia tahu kalau Fordien sangat membenci Jordan dan tidak mungkin jawaban spontan yang diberikan olehnya, merupakan hasil pemikiran rekayasa. Tapi di sisi lain, Earon pun tak percaya dengan setiap kata yang keluar dari mulut Fordien. Maka untuk memastikan keraguannya, dia melanjutkan penyelidikannya, walaupun sebenarnya hatinya begitu merasa takut untuk mengetahui hasilnya.

“Apa yang kau ketahui tentang Jordan Miguveer dan Jordan Kayshn?”

“Apakah itu soal ujian akhir hidupku? Rasanya aneh jika kau tidak mengenal temanmu sendiri.”

“Katakan saja! Apa yang kau ketahui tentang dua orang itu?!” lanjut Earon geram dengan wajah yang memerah, seraya mendekatkan wajahnya lagi tepat di depan Fordien.

“Jordan Kayshn, si anak yatim piatu yang meninggalkan kerabatnya saat umurnya tepat sepuluh tahun, setelah rumahnya terbakar. Dan dia sekarang menjadi temanmu sebagai Jordan Miguveer. Dia bekerja sama denganmu untuk menangkapku.”

Earon terdiam, mengingat kembali kisah Jordan yang pernah diceritakan oleh Delarmy. Dia juga ingat bahwa Jordan memiliki seorang kakak dan sebuah busur tua seperti miliknya. Tapi, itu tidak membuat Earon cepat menerima prasangka yang ada dalam pikirannya. Dia mengganggap kalau semua itu hanyalah kebetulan.

“Kau pasti penasaran bagaimana aku bisa tahu tentang dirinya. Itu karena aku sangat terobsesi untuk menjadikan dia sebagai rekan kerjaku, tapi ternyata kalian telah mengambilnya terlebih dahulu,” lanjut Fordien.

“Apa kau dan Jordan pernah bertemu sebelum penyergapan itu?”

“Tentu saja, karena memang demikian rencana kalian. Membawanya ke markasku dengan barang yang kupesan. Membuatnya masuk dalam peringkat pertama daftar buronan kalian, sehingga penjahat lain pun tertarik untuk menguji seberapa hebat kemampuannya. Aku sangat salut dengan taktik kalian itu.”

Kali ini, Earon benar-benar sangat terkejut dan ketakutan. Perlahan, dia menegakkan badannya dan mundur dua langkah tanpa dia sadari. Apa yang sebenarnya terjadi, permainan apa yang sedang dibuat Fordien melalui ucapan dustanya itu. Begitu berat pikiran yang dialami Earon, diapun ingin meninggalkan ruangan tersebut secepatnya sebelum Fordien mengucapkan kata-kata yang akan semakin meracuni pikirannya. Tapi, baru saja Earon membalikkan tubuhnya, Fordien segera menyahutnya.

“Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Aku harap ada ucapan selamat sebagai hadiahnya.”

Sejenak Earon berhenti tak menoleh, sebelum dia melangkahkan kakinya.

“Selamat menjalankan hukuman matimu besok,” ucapnya, lalu mulai melangkahkan kakinya.

Perlakuan berbeda dari orang-orang yang menghadapnya saat ini, membuat Fordien kesal seolah keberadaannya begitu direndahkan. Berbeda dari masa-masa kejayaanya dulu, di mana setiap orang yang menghadapnya langsung tunduk dan patuh pada yang dia inginkan.

“Awas kau! Akan aku balas kalian semua! Lihat saja nanti!” serunya seraya mengoyang-goyangkan tubuhnya, berusaha untuk melepaskan ikatannya, walaupun dia tahu kalau itu hanyalah sia-sia.

Earon tidak menggubris teriakan Fordien tersebut. Setelah salah seorang petugas keamanan mengunci kembali ruangan tersebut, bertiga mengawani Earon menuju pintu keluar penjara. Dia sepertinya terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat, yang dapat membuat semua prasangkanya menjadi kebenaran.

Di sebuah tempat yang begitu akrab dengan keseharian Earon, di kantor AKLA yang sepi, dia duduk menghadap sebuah komputer dengan jari-jari tangannya yang begitu cepat mengetik tombol-tombol pada keyboard. Dia sangat serius mencari sesuatu. Sudah begitu banyak file yang dibuka, kemudian ditutup kembali. Sepertinya agak sulit baginya untuk menemukan sesuatu yang sedang dia inginkan. Namun, ekspresi wajah Earon seketika berubah menjadi wajah keterkejutan dengan mata yang terbelalak, melihat data yang tampil pada layar komputernya. Seakan kurang yakin dengan yang dilihat, diapun menggeser dan memutar rol mouse-nya kembali untuk mencari data lain. Dalam sekali double click, Earon menemukan kepastian atas keraguan yang dialaminya. Dia langsung merasa lemas di sekujur tubuhnya dan embusan napasnya yang cepat mengharapkan kenyataan yang dilihatnya akan berubah sebaliknya dalam sekali kedip. Namun, berapapun banyak kedipan mata yang dilakukannya, sama sekali tidak mempengaruhi kebenaranan yang sulit diterima olehnya tersebut. Dia terlihat bingung dari sorotan matanya yang memperlihatkan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu, tetapi kekesalannya juga terlihat dari remasan kedua tangannya. Tidak tahu dengan perasaan yang sedang dialaminya sendiri, diapun melampiaskannya dengan membalikkan keyboard, lalu bangkit berdiri sambil membanting mouse­-nya di atas meja, dengan sangat keras. Wajahnya terlihat memerah, matanya berkaca-kaca serasa ingin menangis, namun dia tetap kuat karena ada kemarahan yang lebih besar dari pada duka yang ada dalam hatinya saat ini.

 

  

No comments:

Post a Comment