Siang hari yang menggelap.
Di sebuah rumah besar
berlantai satu dengan halaman depan yang dihiasi rerumputan hijau, warna-warni
bunga, dan kolam air pancur di tengahnya, yang luasnya cukup untuk memparkir
satu buah helikopter, Lytro, Earon, serta Vurpia melakukan perdebatan kecil di
dalam rumah tersebut.
“Apa?! Kenapa kau tidak
memberitahuku?!” ucap Lytro terkejut kesal berdiri di dekat jendela dapur
membelakangi Earon yang sedang menyiapkan sajian pesta di rumahnya.
“Kau juga seharusnya memberitahuku, Earon!” sahut Vurpia yang juga ikut terkejut seraya menghentikan kegiatannya membantu Earon di meja dapur.
Sejenak Earon berpaling ke
arah mereka sambil berkata, “Kenapa aku harus memberitahumu, Vurpia? Aku tahu
kau bisa memercayaiku. Dan kau, Lytro. Kuyakin, kau tidak akan mau mendengar
alasanku.”
Lytro mendengkus.
“Kurasa, orang-orang mulai
bisa mencuri pikiranku,” gumamnya dengan wajah yang kurang mengenakkan.
Suasana kembali normal,
setelah dirasa tidak ada masalah apapun yang akan timbul berdasarkan perdebatan
tersebut. Pandangan Earon kembali dengan persiapannya, diikuti Vurpia yang
membantunya menuangkan air panas ke dalam sebuah cerek berukuran besar.
Beberapa saat kemudian,
terdengar suara bel pintu saat Earon, Lytro, dan Vurpia mengobrol di ruang
tamu, sambil menikmati hangatnya api yang menyala di perapian. Earon segera
bangkit dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Tampak
dari raut mukanya yang begitu senang sebelum dia memutar gagang pintunya,
seolah dia sudah mengetahui seseorang yang akan berdiri di hadapannya. Saat
pintu terbuka lebar, ucapan selamat datang tersambut hangat untuk Jordan,
Wergon, dan Filhener dengan latar belakang cuaca yang tidak begitu baik. Langit
siang seperti senja, suara petir yang menggelegar terdengar dari langit yang
jauh, udara dingin bertiup lembut, namun belum ada setetes air pun yang
membasahi area pandangannya. Melihat suasana itu, Earon langsung mempersilakan
mereka masuk sesaat setelah mereka bersalaman. Sesampainya di ruang tamu,
mereka bertiga terkesan melihat Lytro dan Vurpia baru saja bangkit berdiri
menyambut mereka.
“Lytro dan Vurpia juga ada
di sini? Ini bagus!” ucap Jordan senang.
“Dia juga tidak beritahu
kami tentang kedatanganmu,” ketus Lytro.
“Kejutan. Orang-orang
terdekatku akan merayakan keberhasilanku di sini, bersamaku. Selagi kita punya
waktu untuk melakukannya,” sahut Earon.
Filhener, Jordan, dan Wergon
secara berurutan bersalaman dengan Lytro dan tersenyum ramah pada Vurpia.
“Kalian tunggulah di sini!
Aku akan menyiapkan semuanya,” kata Earon.
“Biar kubantu, Earon,” ujar
Vurpia.
“Eeehhh, tidak, tidak,
tidak! Kau tunggu di sini saja. Kau tamunya. Lagi pula, kau tadi sudah banyak
membantuku. Santai saja.”
“Kenapa kau tidak meminta
pelayanmu untuk membantumu?” tanya Filhener.
“Aku hanya punya beberapa
tukang kebun. Tugas mereka hanya mengurusi kebun dan membersihkan rumah ini.
Sementara untuk memasak, mencuci pakaian, membuka pintu, atau hal lain selain
tugas utama mereka, selagi aku masih bisa melakukannya, maka akan kulakukan
sendiri.”
“Apa itu artinya, kau juga
memasakkan makanan untuk mereka?”
“Ehmmm, tidak. Apa rasa
penasaranmu sudah terpenuhi, Fil?”
“Oh ya, tentu. Sekarang aku
tahu alasan apa yang akan kugunakan untuk menobatkanmu sebagai agen kebun tetap
bibi Delarmy.”
Semua tertawa kecil
mendengar sindiran Filhener tersebut. Sementara Earon merasa malu dengan hal
itu, terlebih di depan Vurpia yang mengumpat tawanya, maka diapun segera pergi
ke belakang untuk mempersiapkan perayaannya.
Wergon dan yang lainnya
kembali menikmati hangatnya suasana, dengan duduk di dua sofa panjang yang
saling berhadapan, dengan meja persegi panjang di tengahnya, membicarakan
sesuatu yang membuat mereka tertawa atau terkejut, seraya menunggu jamuan yang
akan Earon berikan. Namun sebelum menduduki kursi yang empuk tersebut,
pandangan Jordan teralih pada benda-benda yang terpajang di atas meja yang
merapat pada dinding. Rasa penasarannya membuat dia melangkahkan kakinya
perlahan menuju benda itu. Benda itu semakin jelas dilihatnya, lalu sedikit
mengerutkan keningnya. Sesampainya di dekat meja, dia mengambil salah satu
benda yang menunjukkan gambar kedekatan Earon dengan seseorang yang seumur
dengannya dan seorang pria tua. Jordan tersenyum haru melihatnya. Dia pun mengambil
foto lain yang hampir semuanya menampilkan kedekatan tiga orang tersebut,
sementara yang lain menunjukkan gambar kedekatan Earon dengan pria tua
tersebut.
Beberapa saat kemudian,
Earon datang sambil membawa nampan yang berisi enam gelas sirup warna merah dan
secangkir kopi panas. Saat Earon sedang menata satu per satu gelasnya di atas
meja, Jordan membalikkan pandangannya sambil memegang sebuah foto hasil
pengamatannya.
“Siapa orang tua yang ada di
foto ini? Apakah dia ayahmu?” tanya Jordan kepada Earon, seraya menunjukkan
gambar orang tua yang berada di tengah dari tiga gambar orang yang ada di dalam
foto tersebut.
Sejenak Earon melihat foto
yang diperlihatkan oleh Jordan, sambil meletakkan gelas ke limanya di atas
meja.
“Ya. Dia ayahku,” jawabnya,
lalu kembali menata gelas selanjutnya.
“Dan siapa pemuda ini?”
tanya Jordan lagi.
Setelah semua gelas sudah
ditaruh di atas meja, Earon menegakkan tubuhnya dengan tangan yang memegang
nampan yang sudah kosong.
“Dia teman SMA-ku. Kami
sangat akrab. Dan ayahku sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri, bahkan
melebihi diriku,” jawabnya dengan nada jengkel yang bercampur rindu dan senang,
“Walalupun begitu, kami sudah benar-benar seperti saudara.”
Jordan terdiam seperti
memikirkan sesuatu, lalu sirna setelah sebuah pertanyaan terlintas lagi dalam
pikirannya.
“Di mana dia sekarang?”
“Terakhir kali melihatnya,
dia bilang akan pergi jauh dari Losapins. Setelah itu, aku tidak pernah tahu
kabar apapun tentang dirinya,” jawab Earon seraya berjalan ringan, mendekati
foto yang dipegang Jordan.
Kemudian, Earon mengambil
foto tersebut secara perlahan dari tangan Jordan. Tampak dari wajahnya yang
begitu rindu saat mengalami masa kebersamaan itu.
“Siapa nama temanmu ini,
Earon?” tanya Jordan lagi.
Situasi tersebut sepertinya
tidak terlalu disukai oleh Lytro. Diapun segera angkat bicara sebelum Earon
menjawab pertanyaan Jordan.
“Bisakah kita tidak membahas
masa lalu? Aku ingin saat ini dan hanya saat ini saja, kita fokus membahas
perayaannya. Yang berlalu biarlah berlalu. Mengerti?” katanya agak kesal.
Sesaat setelah itu,
terdengar suara bel pintu. Earonpun mengembalikan foto tersebut di atas meja
dan bergegas menuju pintu depan untuk membukakannya.
“Siapa lagi yang dia
undang?” gumam Lytro yang masih dalam suasana hati yang gusar.
Melihat kegusaran Lytro,
membuat Jordan melontarkan pertanyaan atas dasar perhatiannya.
“Ada apa denganmu, Lytro?
Kau tak seperti biasanya,” tanyanya sambil tersenyum.
“Aku sendiri juga tidak
tahu.”
“Terkadang seseorang perlu
berbagi masalahnya dengan orang tertentu untuk bisa melepaskan segala
perasaannya, karena jika orang itu tidak mampu memendam masalahnya sendirian,
maka perasaan itu akan dia lepaskan pada hal-hal yang tidak ada hubungannya
dengan masalahnya itu, bahkan pada hal yang sangat sepele sekalipun.”
“Beberapa orang punya alasan
sendiri, kenapa mereka harus memendam masalahnya pada orang tertentu, Jordan.”
Mereka berdua terdiam,
saling bertatapan mata, ingin mengetahui sesuatu yang sedang dipikirkan satu
sama lain. Namun, mereka seakan tak berdaya untuk mengungkapkannya. Sementara
Vurpia, Wergon, dan Filhener yang ketiganya sedang memegang gelas jamuan, ikut
terdiam melihat kelanjutan perdebatan yang akan mereka berdua lakukan.
Sementara Earon yang telah
membukakan pintu, tersenyum bahagia sambil memeluk erat melepas kerinduan pada
seseorang yang telah berdiri di depannya dengan membawa sebuah koper besar yang
diletakkan di sisinya. Ketika itu juga, Jordan mendengar bisikan bersabarlah. Dia tampak tenang dengan
kedatangan bisikan tersebut kali ini, walaupun dia tahu bahwa bisikan itu tidak
akan terdengar tanpa suatu sebab, tapi dia seakan siap menerima apapun yang
akan terjadi nanti.
Suasana di ruang tamu yang
bagaikan tempat adu mata, terpecah sesaat setelah Jordan menunjukkan senyumannya.
“Memang,” katanya, lalu
duduk di dekat Lytro sambil menepuk pundaknya dan berbicara dengan nada gurau,
“Tapi aku beritahu kau, Lytro. Jika aku sudah penasaran dengan masalah orang,
tak tanggung-tanggung aku akan mencampuri urusannya. Sekalipun dia tidak
mengatakannya, pasti aku akan mengetahui masalahnya itu segera.”
“Ya, aku tahu itu sifatmu
yang menyebalkan,” sindir Lytro dengan balasan senyum.
Filhener dan Vurpia meneguk
minumannya, mengalihkan perhatian Jordan yang melihatnya untuk keluar dari perdebatan
tersebut.
“Sepertinya, minuman ini
sangat segar,” ujarnya seraya melepaskan tangannya dari pundak Lytro, lalu
mengambil segelas sirup yang tersaji di dekatnya.
Sambil menikmati minumannya,
sejenak Jordan sedikit melirikkan matanya pada Lytro yang sedang mengambil
gelasnya. Lytro bersikap biasa seakan suasana hatinya telah membaik, tapi
Jordan tahu bahwa sebenarnya dia hanya mencoba menutupi kegelisahan yang sedang
ia pikirkan. Jordan pun hanya bisa mengembuskan napas ringan, dengan pikiran
yang masih mengganjal terhadap kecemasan temannya tersebut.
Tak lama kemudian, datanglah
seorang pria tua berjaket hitam tebal, menghampiri mereka berlima yang masih
meninggalkan tawa. Jordan segera bangkit berdiri setelah orang itu terlihat
jelas oleh pandangannya. Dia tersenyum senang menyambut kehadiran orang tua
itu. Namun di sisi lain, kehadiran orang tua itu justru membuat Lytro dan
Vurpia terkejut dengan mulut yang terbuka ringan.
“Oh, jadi kalian teman dekat
anak kesayanganku?” ucap orang tua itu ramah.
“Kau pasti calon menantuku?”
lanjutnya seraya menunjuk ke arah Vurpia.
“Bagaimana Anda tahu itu?
Bahkan, Anda belum pernah bertemu dengan saya sebelumnya.”
Orang itu tertawa bergumam.
“Tentu saja aku tahu. Anakku
selalu menceritakan kalian semua. Oh maaf, seharusnya aku memperkenalkan diriku
terlebih dahulu. Namaku Trigar, aku salah satu pelayan Volan.”
Wergon dan Filhener sangat
kaget mendengar kata terakhirnya, bahkan Wergon hampir memuntahkan minuman yang
akan diteguknya. Lalu dengan segera, tangannya mengusap sedikit tumpahannya
yang mengalir dari bibirnya.
“Si, siapa Volan?” tanya
Filhener bingung bercampur tegang.
“Siapa bilang kau pelayanku,
Paman?” sahut Earon yang tiba-tiba muncul dari belakang Trigar.
“Lihat! Apa yang telah kau
lakukan pada temanmu? Kenapa ada yang tidak tahu kalau namamu adalah Volan?”
Seketika suasana menjadi
sangat hening. Wergon, Filhener, Jordan, Vurpia, dan Lytro terdiam kaget dan
bingung dengan mulut mereka yang menganga kecil.
“Sekarang mereka malah
domblong saat mengetahuinya,” lanjut Trigar.
“Earon. Namanya Earon, bukan
Volan. Dan Anda adalah ayahnya. Bukan begitu, Earon?” ujar Jordan yang merasa
gugup dan gemetar.
Earon menoleh Trigar sesaat
dan melihat tatapan matanya yang seakan memintanya untuk menjelaskan pertanyaan
temannya tersebut.
“Baiklah, baiklah. Lytro dan
Vurpia, tak perlu kujelaskan lagi. Jordan, Wergon, Filhener, kuberitahu kalian
kalau Earon adalah nama ayah kandungku. Namanya kugunakan saat melakukan
penyamaran dalam misi pertamaku. Karena misi itu mendapatkan rekor tercepat
dalam penanganannya, sejak itulah teman dekatku lebih sering memanggilku Earon.
Dan Paman Trigar, dulu adalah pelayan setiaku. Tapi tidak lagi. Aku sudah
menganggapnya seperti ayahku yang telah membesarkanku hingga sesukses ini,”
jelas Earon, diikuti oleh Wergon dan Filhener yang secara perlahan bangkit
berdiri dengan tatapan mata yang memperhatikan setiap penjelasan Earon, “Jadi
kalau kalian mau memulainya dari awal, perkenalkan namaku adalah Volan Kayshn.”
Guntur terdengar sangat
keras hingga menggetarkan kaca-kaca jendela rumah, seakan petir tersebut
menyambar tepat di atas rumahnya. Bersamaan dengan itu, mata Jordan langsung
terbuka lebar-lebar begitu mendengar kalimat terakhir Earon. Napasnya berhenti
sejenak. Hatinya bercampur aduk tak keruan, antara takut, sedih, dan senang.
Namun, ketakutannya lebih besar dari semua perasaan yang saat ini ia rasakan.
Dia berusaha untuk tetap tenang dengan mengangkat kepalanya, lalu mengambil
beberapa napas sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Tapi tubuhnya terasa
kaku, seakan semua persendiannya tak mampu lagi digerakkan. Sekilas Jordan
melihat Filhener dan Wergon yang juga berdiri kaku dan gelisah, serasa ingin
segera pergi jauh dari tempat itu.
“Whoaa, keras sekali
suaranya,” kata Earon.
“Mulai saat ini, kalian
harus memanggilnya Volan. Karena itu memang namanya. Mengerti?” sahut Trigar.
Tak satu pun yang menanggapi
ucapannya. Earon dan Trigar justru terheran-heran melihat Lytro dan yang
lainnya terdiam cemas merenungkan sesuatu. Sepertinya mereka juga tak mendengar
guntur yang baru saja lewat, pikirnya.
“Teman-teman, apa kalian
baik-baik saja?” tanya Earon yang juga merasa cemas mengikuti suasana.
Semua masih diam.
“Teman-teman?” ucapnya lebih
keras.
Semua masih juga diam. Earon
mulai dibuat bingung olehnya.
“Teman-teman?!” ucapnya lagi
dengan sangat keras, hingga menyadarkan mereka dari angan-angan yang mengikat
tubuh mereka.
Semua serentak menoleh pada
Earon, kecuali Jordan yang tak sanggup lagi menatap wajahnya.
“Apa yang kalian pikirkan?”
tanya Earon penasaran.
Vurpia menoleh pada yang
lainnya dan tak satu pun yang memberikan jawaban atas pertanyaan Earon
tersebut. Maka, dia pun angkat bicara sebelum rasa kepenasaran Earon memuncak.
“Eehhh, tidak ada. Kami tadi
hanya…. Kami hanya berpikir, apa yang akan terjadi pada Fordien nanti,”
katanya.
“Sampai sebegitukah kalian
peduli pada penjahat itu?” guraunya, “Tapi kalian tak perlu khawatir, karena
dia sudah divonis hukuman mati.”
Semua langsung terkejut
mendengar kabar tersebut. Begitu juga dengan Jordan, yang seketika wajahnya
terangkat memandang Earon.
“Benarkah?” sahut Vurpia
senang, menutupi keresahan di wajahnya.
“Tapi, sudah. Dia tak ada
dalam daftar undangan kita, jadi jangan bahas dia lagi. Ayo, kita ke ruang
makan.”
“Tapi ngomong-ngomong, siapa
di antara kalian yang bernama Jordan?” sela Trigar tiba-tiba.
Serentak semua langsung
menoleh pada Jordan. Jordan pun semakin merasa takut kalau-kalau hal itu
membuat Earon atau Trigar mengarah pada pikiran hal-hal yang tidak dia
inginkan. Walaupun demikian, dia tetap dalam ekspresi wajah yang tenang.
“Nama yang cocok untuk orang
sepertimu,” ujar Trigar tersenyum lebar pada Jordan.
Jordan pun membalasnya
dengan senyuman hampa.
Kemudian, semua berjalan
menuju ke ruang makan. Jordan, Filhener, dan Wergon mengikuti mereka di baris
terakhir dengan wajah diam dan gelisah. Beban yang tak hanya dirasakan di dalam
pikiran, tapi juga terasa hingga di sekujur tubuh, membuat mereka tak berselera
untuk melanjutkan perayaan itu. Mungkin satu-satunya yang akan membuat mereka
berselera adalah segera pergi jauh dan sangat jauh dari keberadaan Earon.
Selama menikmati makanannya pun, mereka bertiga tampak canggung seakan tak lagi
berhadapan dengan teman, tetapi orang yang tak pernah ingin mereka kenal.
Namun, mereka pun tidak bisa berbuat apapun, selain mengikuti alur adegan yang
telah dihadapkan pada mereka. Sedikit saja mereka keluar arah, bisa jadi akan
timbul kecurigaan Earon terhadap rahasia tiga serangkai.
Detik berganti menit. Menit
berganti jam.
Setelah selesai menikmati
santapan lezat, mereka kembali bercakap-cakap di depan perapian. Namun
kebersamaan tersebut, sesaat tidak diikuti oleh Earon, Trigar, dan Jordan.
Di dekat pagar tembok
setinggi satu meter, yang menjadi batas lantai rumah, Earon bersama Trigar
berdiri sambil menikmati suasana luar yang suram, saling berkabar pengalaman
masing-masing yang belum sempat disampaikan, setelah beberapa hari tidak
bertemu. Udara dingin terus mengipas tubuh mereka, sehingga sesekali Trigar
merapatkan jaketnya.
“Aku punya kabar baik
untukmu, Paman,” ucap Earon mengawali perbincangan yang baru, “Seseorang yang
selama ini terus Paman bela telah aku tangkap. Kini aku telah membawa bukti
yang Paman inginkan. Saatnya bagi Paman untuk mengakui kalau dia memang seorang
penjahat.”
Trigar terdiam bingung
mendengar ucapan tersebut.
“Paman masih belum mengerti
juga? Orang yang bernama Fordien, dia adalah Jordan.”
Trigar langsung memalingkan
wajahnya ke arah Earon.
“Apa maksudmu kalau Fordien
adalah Jordan?” tanyanya kaget.
“Jordan. Apakah Paman sudah
lupa? Jordan yang selalu Paman sayang. Jordan yang selalu Paman idamkan. Jordan
yang selalu menipu pikiran Paman.”
“Berhenti bicara seperti
itu, Volan! Bagaimana pun, dia tetaplah adikmu. Memang benar Fordien adalah
seorang pembunuh kejam seperti yang kau ceritakan. Tapi dia bukanlah Jordan.
Jordan bukanlah penjahat bengis seperti Fordien. Jordan adalah anak yang
lembut. Bahkan, dia tidak suka melihat orang lain susah. Bagaimana mungkin dia
menjadi seorang pembunuh?”
“Kenapa Paman begitu keras
kepala?! Bukti apa lagi yang harus aku tunjukkan agar Paman berhenti ditipu
olehnya?!”
Terlihat kilatan di balik
awan hitam yang diikuti guntur dari langit yang jauh.
“Tidak akan pernah ada bukti
apapun yang bisa kau tunjukkan atas dasar pemikiranmu itu! Kau yang salah
beranggapan tentang adikmu, Volan. Janganlah kau mencari bukti atas rasa marah
dan dendammu, tapi carilah bukti atas dasar kebenaran. Kau selalu mencari
kebenaran tentang orang lain untuk masyarakat. Tapi aku tidak melihat kau
mencari kebenaran tentang adikmu untuk dirimu. Satu hal yang perlu kau ingat,
keyakinanku tentang Jordan tidak akan pernah bergeser sedikit pun.”
“Dan satu hal yang perlu
Paman ingat, keyakinanku tentang Jordan juga tidak akan pernah bergeser sedikit
pun. Aku akan membuktikan kalau Fordien memang Jordan. Sekalipun bukan dia
orangnya, siapa pun Jordan, dia akan tetap menjadi seorang penjahat. Dan akan
kupastikan, kutemukan dia dan membuat hidupnya menderita seperti yang selama
ini telah dia lakukan terhadapku,” kata Earon seraya meninggalkannya sendirian.
Trigar menundukkan pandangan
gelisahnya sambil mengembuskan napas melalui mulutnya, merasakan betapa
sulitnya meyakinkan Earon untuk mengubah pendiriannya. Sementara Earon
melangkahkan kakinya dengan penuh kesal setelah melakukan perbincangan dengan
Trigar, berjalan melewati pintu kaca geser yang terbuka, dan tidak menyadari
kalau Jordan telah berdiri merapat pada tembok dekat pintu tersebut. Beruntung
Earon tidak melihatnya, setelah dia mendengar percakapan yang baru saja mereka
berdua lakukan. Saat kondisi dirasa sudah aman, pandangan Jordan kembali pada
Trigar yang masih berdiri sendirian menatap gumpalan awan hitam di langit. Dia
ingin sekali mengatakan bahwa anak yang selalu ia bela telah berdiri di
dekatnya. Dia ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa dia pun sangat
menyayanginya. Namun, keadaan yang memaksa angan-angan itu untuk tetap
terpendam dalam benaknya.
Tak kuasa melihat derita
rindu Trigar untuk bertemu anak kesayangannya itu, maka Jordan pun
meninggalkannya dan berniat untuk kembali bersama Lytro dan yang lainnya. Namun
saat dia mendapat langkah ketiganya, Trigar memanggilnya.
“Jordan?”
Jordanpun berhenti, tapi
belum sempat menoleh pada Trigar.
“Apa yang kau lakukan di
sana?”
“Tidak ada, Paman. Aku hanya
kebetulan lewat.”
“Maukah kau menemaniku?
Kebetulan aku sendirian di sini.”
Jordan berpikir sejenak,
kemudian menguatkan hatinya untuk menatap Trigar.
“Tentu saja, Paman,” ucapnya
sambil tersenyum.
“Kurasa, Paman lebih
membutuhkan aku dari pada orang-orang yang saat ini sedang duduk di depan
perapian. Jujur saja, aku agak takut bersama mereka. Aku akan lebih nyaman
bersama Paman, sekalipun udara dingin ini menusuk sampai ke tulang,” lanjut
Jordan dengan nada sedikit bergurau, mencoba memecahkan suasana hati yang
sedang Trigar rasakan.
Trigar tertawa kecil
mendengarnya.
“Jika sudah cukup
mendapatkan beberapa tusukan, kita akan memanggangnya di perapian.”
Jordan pun tersenyum lebar
sambil melangkahkan kakinya perlahan, mendekati Trigar.
Mereka mengobrol sambil tersenyum
dan tertawa, seakan merasakan kehangatan dan kenyamanan satu sama lain. Trigar
yang biasanya merapatkan jaketnya saat udara dingin terasa di tubuhnya, saat
itu dia biarkan jaket itu pada kondisi apa adanya.
Akhirnya, mereka menemukan
cara tersendiri untuk merayakan kebersamaan tersebut. Kecuali Wergon dan
Filhener yang harus memasang wajah keceriaan untuk menutupi rasa takut mereka
terhadap Earon.
Waktu telah berlalu.
Perayaan di rumah Earon telah selesai dengan kembali ke rumah mereka
masing-masing. Jordan, Wergon, dan Filhener merasa sangat lega setelah berada
di dalam Avasone. Terlihat Wergon dan Filhener begitu kelelahan dengan acting
mereka selama di depan Earon. Sementara Jordan, hatinya masih merasa begitu
sakit mengetahui bahwa Earon adalah Volan, kakaknya. Dia tidak tahu yang harus
dilakukan selanjutnya. Apakah dia akan pergi jauh dari kota hingga Earon tidak
pernah bisa melihatnya lagi ataukah dia akan terus mempertahankan ikatannya
hingga semua kebenaran terungkap. Begitu berat pilihan yang akan diambil,
Jordan hanya bisa memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di sandaran
kursi mobil yang sedang ia duduki, dengan Filhener disebelahnya, yang menyetir
Avasone. Barangkali sedikit ketenangan dapat membuatnya mengambil keputusan
yang bijak, pikirnya. Walaupun demikian, sejak saat itu, setenang apapun
Jordan, rasa takut akan selalu menyelimuti hati dan pikirannya.
Sementara di sebuah tempat
yang gelap, tanpa ada sinar merah yang menghiasinya, terdengar jeritan murka
sang pemegang tongkat Pridiatick, yang diiringi suara-suara pecahan kaca yang
dibanting pada benda keras.
“Kenapa justru seperti ini?!
Kenapa keadaannya semakin sulit?!” katanya dengan sorotan matanya yang
mengerikan.
“Tidak. Satu-satunya yang
akan terjadi adalah kehancuran para pemegang busur. Aku harus mencari cara
untuk menghentikannya, sebelum mereka mengetahui semua kebenarannya,” ucapnya
berusaha menenangkan diri.
Tengah malam yang semakin
dingin dan sunyi, Earon menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah penjara
terbesar, terketat, dan terngeri di Losapins. Dia tampaknya terburu-buru untuk
menemui seseorang. Terlihat tiga orang petugas keamanan menyertai Earon,
menunjukkan sebuah ruangan yang sepertinya memang sudah sengaja dipesan
sebelumnya. Earonpun memasuki ruangan tersebut, sementara para petugas keamanan
menunggunya di luar.
Dengan kedua kaki yang
ditahan oleh cincin besi yang berhubung dengan kaki kursi dan kedua tangan yang
masing-masing dililit oleh sabuk besi pada lengan kursi, Fordien duduk di
sebuah kursi besi persegi. Sorotan sebuah lampu gantung yang dipasang tepat di
tengah ruangan, membuat semuanya terlihat jelas.
“Kau lagi,” katanya dengan
wajah jemu, “Kau tidak akan memberiku panah bius itu lagi, ‘kan? Karena sejak
saat itu, tiga hari berturut-turut aku tidak bisa tidur. Bahkan, terkadang aku
tidak sadar dengan yang kulakukan.”
“Berterimakasilah, karena
bukan panahku yang tertancap di tubuhmu,” sahut Earon seraya mendekati Fordien.
“Apa sebenarnya maumu?”
“Aku hanya ingin sedikit
memberikan perhatianku padamu. Bukankah itu yang pernah kau lakukan padaku
dulu? Perhatianmu telah meracuni pikiranku, bahkan pada orang-orang di
sekelilingmu. Tapi, jangan khawatir. Karena perhatianku bukanlah untuk menawari
racun yang ada dalam pikiranmu, tapi untuk mengucapkan pesan terakhir sebelum
akhirnya kau bisa tidur untuk selama-lamanya.”
“Jujur, aku tidak suka
ucapan orang yang terlalu bertele-tele.”
“Akan kukatakan intinya. Aku
senang akhirnya menemukanmu. Aku senang akhir dari hidupmu yang seperti ini.
Aku senang akhirnya bisa membalas kematian ayah dan ibu. Tapi, aku tidak senang
pada satu hal dan aku ingin tahu rahasia dari kesuksesanmu itu. Kenapa Paman
Trigar masih saja memercayaimu sebagai seorang adik yang tak berdosa? Heheh,
lucu sekali, bukan?”
Fordien tertawa bergumam
mendengar penjelasan Earon.
“Paman Trigar? Adik?
Hahaha…, leluconmu sungguh tak bisa kumengerti. Siapa yang kau bicarakan itu?”
Earon justru semakin marah
olehnya. Dia mengambil beberapa langkah hingga berdiri tepat di depan wajah
Fordien, dengan kedua tangan yang masing-masing memegang ujung sandaran
kursinya.
“Hentikan sandiwaramu ini!
Atau perlu aku harus memanggilmu Jordan? Bahkan, kau tak ingat pada Paman
Trigar? Di mana rasa terimakasihmu itu?!”
Kemarahan Earon justru
membuat Fordien semakin bingung. Dia pun mendengkus dan berkata, “Dengar, Orang
naif! Aku benar-benar tidak mengerti yang kau bicarakan. Atau kau yang tidak
mengerti dengan bahasaku? Aku tidak mengenal Paman Trigar. Lagi pula, kenapa
aku harus peduli dengannya? Apa yang telah dia berikan padaku? Kebebasanku?
Kuharap itu terjadi sebelum eksekusiku.”
Earon mengerutkan keningnya,
merasa bingung dengan kebingungan Fordien. Dia menegakkan kembali tubuhnya.
“Kuyakin kau mengenal Volan
Kayshn?!”
“Siapa lagi dia? Jangan
menambah daftar kebingunganku.”
Earon semakin tidak mengerti
dengan jawaban tersebut. Dia beranggapan kalau Fordien memang sengaja
membuatnya demikian atau Fordien memang bingung atas pertanyaan yang
diajukannya.
“Bagaimana dengan Jordan
Kayshn?!”
“Ya, aku sangat
mengenalnya,” katanya dengan nada tenang.
Earon tersenyum sinis.
“Tentu saja, kau
mengenalnya. Kenapa begitu sulit untuk mengakui kalau dirimu adalah Jordan
Kayshn?!”
“Jangan pernah samakan aku
dengan teman pengkhianatmu itu! Jordan si pemanah licik. Aku akan senang jika ada
orang yang akan membuat hidupnya menderita!”
Earon sangat terkejut dengan
ucapan Fordien tersebut. Dia terdiam seolah memikirkan sesuatu. Dia tahu kalau
Fordien sangat membenci Jordan dan tidak mungkin jawaban spontan yang diberikan
olehnya, merupakan hasil pemikiran rekayasa. Tapi di sisi lain, Earon pun tak
percaya dengan setiap kata yang keluar dari mulut Fordien. Maka untuk
memastikan keraguannya, dia melanjutkan penyelidikannya, walaupun sebenarnya
hatinya begitu merasa takut untuk mengetahui hasilnya.
“Apa yang kau ketahui
tentang Jordan Miguveer dan Jordan Kayshn?”
“Apakah itu soal ujian akhir
hidupku? Rasanya aneh jika kau tidak mengenal temanmu sendiri.”
“Katakan saja! Apa yang kau
ketahui tentang dua orang itu?!” lanjut Earon geram dengan wajah yang memerah,
seraya mendekatkan wajahnya lagi tepat di depan Fordien.
“Jordan Kayshn, si anak
yatim piatu yang meninggalkan kerabatnya saat umurnya tepat sepuluh tahun,
setelah rumahnya terbakar. Dan dia sekarang menjadi temanmu sebagai Jordan
Miguveer. Dia bekerja sama denganmu untuk menangkapku.”
Earon terdiam, mengingat
kembali kisah Jordan yang pernah diceritakan oleh Delarmy. Dia juga ingat bahwa
Jordan memiliki seorang kakak dan sebuah busur tua seperti miliknya. Tapi, itu
tidak membuat Earon cepat menerima prasangka yang ada dalam pikirannya. Dia
mengganggap kalau semua itu hanyalah kebetulan.
“Kau pasti penasaran
bagaimana aku bisa tahu tentang dirinya. Itu karena aku sangat terobsesi untuk
menjadikan dia sebagai rekan kerjaku, tapi ternyata kalian telah mengambilnya
terlebih dahulu,” lanjut Fordien.
“Apa kau dan Jordan pernah
bertemu sebelum penyergapan itu?”
“Tentu saja, karena memang
demikian rencana kalian. Membawanya ke markasku dengan barang yang kupesan.
Membuatnya masuk dalam peringkat pertama daftar buronan kalian, sehingga
penjahat lain pun tertarik untuk menguji seberapa hebat kemampuannya. Aku
sangat salut dengan taktik kalian itu.”
Kali ini, Earon benar-benar
sangat terkejut dan ketakutan. Perlahan, dia menegakkan badannya dan mundur dua
langkah tanpa dia sadari. Apa yang sebenarnya terjadi, permainan apa yang
sedang dibuat Fordien melalui ucapan dustanya itu. Begitu berat pikiran yang
dialami Earon, diapun ingin meninggalkan ruangan tersebut secepatnya sebelum
Fordien mengucapkan kata-kata yang akan semakin meracuni pikirannya. Tapi, baru
saja Earon membalikkan tubuhnya, Fordien segera menyahutnya.
“Aku sudah menjawab
pertanyaanmu. Aku harap ada ucapan selamat sebagai hadiahnya.”
Sejenak Earon berhenti tak
menoleh, sebelum dia melangkahkan kakinya.
“Selamat menjalankan hukuman
matimu besok,” ucapnya, lalu mulai melangkahkan kakinya.
Perlakuan berbeda dari
orang-orang yang menghadapnya saat ini, membuat Fordien kesal seolah
keberadaannya begitu direndahkan. Berbeda dari masa-masa kejayaanya dulu, di
mana setiap orang yang menghadapnya langsung tunduk dan patuh pada yang dia
inginkan.
“Awas kau! Akan aku balas
kalian semua! Lihat saja nanti!” serunya seraya mengoyang-goyangkan tubuhnya,
berusaha untuk melepaskan ikatannya, walaupun dia tahu kalau itu hanyalah
sia-sia.
Earon tidak menggubris
teriakan Fordien tersebut. Setelah salah seorang petugas keamanan mengunci
kembali ruangan tersebut, bertiga mengawani Earon menuju pintu keluar penjara.
Dia sepertinya terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat, yang dapat membuat
semua prasangkanya menjadi kebenaran.
Di sebuah tempat yang begitu
akrab dengan keseharian Earon, di kantor AKLA yang sepi, dia duduk menghadap
sebuah komputer dengan jari-jari tangannya yang begitu cepat mengetik
tombol-tombol pada keyboard. Dia sangat serius mencari sesuatu. Sudah
begitu banyak file yang dibuka, kemudian ditutup kembali. Sepertinya
agak sulit baginya untuk menemukan sesuatu yang sedang dia inginkan. Namun,
ekspresi wajah Earon seketika berubah menjadi wajah keterkejutan dengan mata
yang terbelalak, melihat data yang tampil pada layar komputernya. Seakan kurang
yakin dengan yang dilihat, diapun menggeser dan memutar rol mouse-nya
kembali untuk mencari data lain. Dalam sekali double click, Earon
menemukan kepastian atas keraguan yang dialaminya. Dia langsung merasa lemas di
sekujur tubuhnya dan embusan napasnya yang cepat mengharapkan kenyataan yang
dilihatnya akan berubah sebaliknya dalam sekali kedip. Namun, berapapun banyak
kedipan mata yang dilakukannya, sama sekali tidak mempengaruhi kebenaranan yang
sulit diterima olehnya tersebut. Dia terlihat bingung dari sorotan matanya yang
memperlihatkan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu, tetapi kekesalannya juga
terlihat dari remasan kedua tangannya. Tidak tahu dengan perasaan yang sedang
dialaminya sendiri, diapun melampiaskannya dengan membalikkan keyboard,
lalu bangkit berdiri sambil membanting mouse-nya di atas meja, dengan
sangat keras. Wajahnya terlihat memerah, matanya berkaca-kaca serasa ingin
menangis, namun dia tetap kuat karena ada kemarahan yang lebih besar dari pada
duka yang ada dalam hatinya saat ini.
No comments:
Post a Comment