Suatu hari, Earon dan Jordan duduk berdampingan di
sofa ruang tamu, sambil mengusap-usap masing-masing busurnya dengan kain yang
sudah tidak terpakai. Kala itu, Jordan memakai baju berlengan pendek dan tidak
lagi memakai sarung tangannya dalam suasana santainya tersebut.
“Kak Volan,” ujar Jordan ketika usapannya menyentuh
pita berlonceng di busurnya, yang sekaligus menghentikan usapannya.
“Hmm?”
Earon menghentikan kegiatannya dan memalingkan
pandangannya pada Jordan. Dia menurunkan busurnya ke pangkuannya, kemudian
membalas pertanyaan Jordan tersebut.
“Kau sering dipanggil ibu seperti itu, tapi tidak
pernah menanyakannya?”
Jordan menggelengkan kepala dengan samar.
“Aamadav, sebuah kata yang berasal dari bahasa asli
penduduk desa Wesnoreast. Artinya sejuk atau indah dipandang mata. Sebenarnya,
sudah lama bahasa itu hampir punah. Mereka tidak pernah menggunakan bahasa
seperti itu lagi dalam kesehariannya dan lebih sering menggunakan bahasa
perkotaan,” jelas Earon.
“Pantas saja sulit kutemukan kata itu. Lalu, apa
hubungannya nama itu denganku?”
“Seingatku, ibu melahirkanmu di luar kota Losapins.
Mungkin itu sebabnya kau dipanggil dengan sebutan itu.”
“Jadi maksudnya, aku lahir di wilayah perbatasan atau
di desa Wesnoreast?”
“Hampir tepat. Tapi, kau benar-benar lahir di luar.”
Jordan bingung dengan maksud perkataan Earon
tersebut.”
“Di luar, wilayah perbatasan atau di desa Wesnoreast?”
tanyanya lagi.
“Tidak. Kau lahir tidak di rumah sakit, tidak juga di
tempat yang beratap, tapi di tengah perumputan daerah dataran Wesnoreast.”
Jordan malah tertawa mendengarnya, menganggap ucapan
Earon tersebut adalah sebuah gurauan.
“Kenapa ibu melahirkan aku di sana?” ucapnya yang
terseling dalam tawanya, “Apakah karena dokter merasa lebih nyaman memeriksa ibu
di tempat seperti itu?”
Earon justru merasa kesal karena Jordan tidak
menganggap serius ucapannya tersebut.
No comments:
Post a Comment