Hujan rintik-rintik telah jatuh di Shantman, sebuah wilayah yang dikenal sebagai pusat pendidikan di Losapins. Di tempat itu pula, berdiri sebuah bangunan yang menjadi persinggahan tiga serangkai setelah kabur dari pengadilan. Mereka telah memasuki pagar kampus Losapins, berjalan tergesa-gesa, menuju tempat penyimpanan barang penting mereka. Namun, langkahnya seketika terhenti, sesaat seorang gadis berambut ikal pendek dengan memakai baju tak berlengan dan rok mini, muncul dan berdiri di depan mereka, ketika masih berada di wilayah taman kampus.
“Hai, Tampan,” kata gadis
itu dengan lagak rayunya.
Filhener yang berada di
posisi terdekat dengan gadis itu, merasa berbangga diri dengan pujian tersebut.
“Terimakasih, Nona,” sahut
Filhener.
Gadis itu justru langsung
menunjukkan wajah kecutnya pada Filhener.
“Minggir kau, Orang aneh!
Aku tidak bicara denganmu. Aku hanya terpesona pada si manis yang berdiri di
belakangmu itu,” kata gadis itu seraya memalingkan pandangannya ke arah Jordan,
yang diikuti pula oleh tolehan Wergon dan Filhener.
“Aku tidak menyangka.
Ternyata, di balik wajah polosmu itu, tersimpan banyak rahasia licik,” lanjut
gadis itu.
“Whoa, whoa. Tunggu dulu.
Apa maksud pembicaraanmu itu?” sahut Wergon.
Gadis itu mendengkus.
“Sudahlah! Kau tidak perlu
menyembunyikan itu lagi. Semua orang di kampus ini sudah tahu kalau kalian
bertiga telah menjadi incaran AKLA. Aku benar-benar tidak menyangka kalau orang
ingusan sepertimu bisa menjadi penjahat kelas teri,” jelas si gadis, yang
kemudian mengalihkan tatapannya kembali pada Jordan sambil berkata, “Tapi
untukmu dan hanya untukmu, aku bisa menyembunyikan dirimu di hatiku. Aku jamin,
AKLA tidak akan pernah mampu menemukanmu, Sayang.”
Jordan melangkah pelan
mendahului kedua temannya, lalu berdiri, dekat dengan gadis itu. Raut gadis itu
malu-malu, ketika Jordan menatap mukanya dengan saksama.
“Kenapa kau menatapku
seperti itu?” katanya sambil tersenyum sipu.
“Aku hanya berpikir kenapa
kau tidak menyembunyikan tubuhmu saja. Jika kau tidak bisa menyembunyikan
dirimu sendiri, bagaimana kau bisa menyembunyikan orang lain? Aku takut yang
terjadi justru hatimu yang akan meledak karena tidak mampu melampiaskan
seleraku.”
Filhener dan Wergon seketika
mengumpat tawanya. Sementara Jordan, melanjutkan langkah kakinya, melewati
gadis itu yang diam menahan marah setelah mendengar ucapan Jordan tersebut.
“Setelah kupikir lagi, kita
memang terlalu banyak menghabiskan waktu di sini,” kata Filhener.
“Hahaha…, tidak juga. Aku
malah menikmatinya. Jarang sekali ada orang yang mau menghibur kita saat
situasi sulit seperti ini.”
“Apa maksudmu, Cengeng?!”
sahut gadis itu kesal.
“Heheheh. Lajjy, kuberitahu sesuatu. Kau
adalah wanita pertama yang berani mengatakan itu langsung pada Jordan. Lihatlah
dirimu! Jordan punya selera yang sangat tinggi. Tidak seperti pacarmu Migo yang
sukanya mengganggu anak-anak! Selera macam apa itu?! Pantas saja dia langsung
menerimamu!”
“Beraninya kau mengatakan
itu di depanku!”
“Ya, aku berani! Dan silakan
kau adukan itu pada pacarmu! Karena aku tidak perlu lagi menyembunyikan
tongkatku untuk mematahkan lehernya!”
Lajjy begitu ngeri mendengarnya.
Tapi kemarahannya yang dipendam, masih terlihat pada gigitan gigi-giginya yang
menekan keras.
Filhener melihat kekesalan
Wergon yang begitu serius diluapkannya melalui kata-kata tersebut. Sepertinya,
selama ini Wergon selalu menahan perasaan itu setiap kali diganggu oleh Migo.
Namun karena kini identitasnya sudah terbongkar, dia pun membebaskan
kejengkelannya, walaupun baru di depan kekasih Migo.
Kemudian, Filhener menepuk
punggung Wergon, yang mengisyaratkan bahwa mereka harus fokus kembali pada tujuan
mereka sebenarnya. Wergon yang memahami tanda tersebut langsung melangkahkan
kakinya bersama Filhener, untuk menyusul Jordan. Sementara Lajjy, dia merasa
sangat malu dan jengkel dengan perlakuan yang baru saja terjadi. Diapun hanya
bisa diam, meremas-remas bibir, sambil mengentakkan salah satu kakinya ke
tanah, melihat kepergian tiga serangkai yang meninggalkannya begitu saja. Namun
tidak lama setelah itu, ketegangan di tubuhnya mulai kendur. Raut kemurkaannya
terperanjat menjadi raut kecemasan. Dia kemudian memandang ke bawah, melihati
baju dan tubuhnya. Mungkin timbul ketakutan dalam pikirannya kalau apa yang
dikatakan Jordan dan Wergon ada benarnya.
Akhirnya, Jordan, Filhener,
dan Wergon berhasil melewati lorong kampus dengan aman. Terlihat Wergon sedang
berusaha membuka kunci sebuah pintu ruangan. Dia terus memutar-mutar kunci itu,
namun tidak juga berhasil terbuka.
“Bisakah kau cepat sedikit,
Wergon?!” ujar Filhener yang merasa jengkel dengan situasi tersebut.
“Aku sedang berusaha,
Riphoman!” sahut Wergon gemas, yang masih mengutak-atik kuncinya.
“Apa kau tidak sadar kita
sudah terlalu lama melakukan ini?!”
“Bisakah kau membantuku
dengan diam saja?!”
Filhener menggeram.
“Jordan, mungkin kau punya
ide lain?” tanyanya.
“Polisi sudah ada di sini,”
jawab Jordan sekejap.
“Eeaaa!” sahut Wergon
terkejut dan ketakutan mendengarnya, yang seketika membuat kunci tersebut
berhasil terbuka.
Kemudian, mereka langsung
bergegas masuk dan kembali menutup pintu itu.
“Motivasi yang bagus,
Jordan,” kata Filhener yang berdiri sambil bersandar pada pintu.
“Jadi maksudnya, itu hanya
gurauan?” ujar Wergon yang juga bersandar pada pintu, tepi barisan paling
dalam, di sisi Filhener.
“Itu bukan motivasi atau pun
gurauan, tapi kenyataan,” jawab Jordan.
Wergon dan Filhener terperangah
mendengarnya.
“Bagaimana kau bisa tahu
itu?” tanya Wergon.
“Aku melihat mereka masuk ke
gedung rektor, saat Lajjy mencegat kita.”
Mengetahui informasi
tersebut, Wergon dan Filhener langsung beranjak mengumpulkan barang-barang dari
loker masing-masing. Mereka bertiga dengan tergesa-gesa memasukkan beberapa
alat yang sepertinya merupakan benda penemuan mereka, ke masing-masing ransel
yang disampirkan di bahu, di depan dada. Setelah semuanya dirasa cukup,
merekapun menutup kembali pintu lokernya dan cepat-cepat pergi dari ruangan
yang berisi peralatan canggih tersebut. Namun saat Jordan hampir menutup pintu
lokernya, pandangannya terlintas pada pajangan foto yang terisolasi di belakang
pintu tersebut. Satu-satunya foto yang terpampang jelas dengan gambar lima pria
yang tampak begitu dekat dan bahagia. Jordan berdiri di samping kanan Earon
yang lebih tinggi darinya. Dia dirangkul oleh Earon di pundaknya, dengan
tatapan mata dan senyum ceria keduanya yang tampak jelas diambil di depan
kamera. Filhener menyilangkan kedua tangannya di dada, yang berdiri di antara
Jordan dan Lytro. Sementara Wergon, dia berdiri di sisi kiri Earon sambil
melambaikan tangan kanannya di depan kamera, dengan senyuman yang tampak
gigi-giginya. Lalu, Lytro hanya terlihat senyum tawarnya dengan lirikan mata
awas yang mengarah pada si kakak beradik.
Jordan terdiam menatapi foto
itu. Dari sorotan matanya tampak bahwa dia sangat merindukan kenangan tersebut
dan berharap semuanya kembali seperti dulu. Tapi sesaat kemudian, bibirnya
mengerut penuh kekesalan. Dia langsung merampas foto itu, meremasnya hingga
menjadi gumpalan tak berbentuk, lalu membuangnya begitu saja ke lantai. Melihat
Wergon dan Filhener yang sudah menunggunya di dekat pintu ruangan, diapun
membiarkan pintu lokernya dalam keadaan terbuka untuk bergegas menyusul mereka.
Wergon mengintip dari balik
pintu, lalu menoleh ke kiri. Namun tiba-tiba, tubuhnya langsung tak bergerak
begitu dia menoleh ke arah kanan. Filhener yang penasaran dengan apa yang
terjadi pada si anak cengeng, menyusul untuk mengintipnya. Matanya pun seketika
terbelalak pada sesuatu yang dilihatnya. Mulutnya menganga dengan napas yang
tertahan. Tidak disangka, seorang polisi telah berdiri tepat di muka Wergon.
Ternyata alasan itulah yang menyebabkan Wergon tidak berkutik sama sekali.
Polisi yang melihat kehadiran Filhener, langsung merasa kaget, hingga diapun
mengambil pistolnya dari sabuk dan mengarahkannya pada Filhener. Dengan cepat,
Filhener menghantam pergelangan tangan polisi itu yang memegang pistol. Wergon
pun turut membantu Filhener dengan menahan pergelangan tangan lain polisi
tersebut, lalu memuntirnya ke belakang. Polisi itu mencoba berteriak memanggil
rekan lainnya yang barangkali tidak jauh dari keberadaannya.
“Mereka ada di sini!”
Tapi, Jordan segera
membungkamnya dengan jarum bius dari jam tangannya sebelum teriakan polisi
tersebut terdengar oleh anggota yang lain, hingga polisi itupun tak sadarkan
diri.
Dengan pelan, Wergon
menyandarkan tubuh polisi itu ke dinding. Sejenak Jordan menoleh ke arah kamera
pengintai yang dipasang di sudut langit-langit, lalu bergegas melangkah cepat
bersama kedua temannya, meninggalkan tempat tersebut. Mereka begitu
berhati-hati setiap menemui tikungan lorong kampus, berhenti sebentar dan
melihat-lihat barangkali ada polisi yang telah menghadang jalan mereka.
Beruntung, hal demikian tidak mungkin tidak terjadi di saat nama mereka menjadi
terkenal di kalangan anggota keamanan Losapins. Beberapa polisi sering
terlihat, berjalan sambil mencari sesuatu atau seseorang atau lebih tepatnya
tiga bayangan bulan. Dengan saksama, mereka menatap setiap wajah mahasiswa yang
melewatinya.
Di tengah ketegangan tiga
serangkai untuk meloloskan diri dari kejaran polisi, mahasiswa yang lainnya pun
turut menambah sensasi. Beberapa mahasiswa yang melihat tiga serangkai langsung
terperangah. Ada juga yang melihatnya tanpa kesan apapun di raut wajah mereka,
melewati tiga serangkai begitu saja seolah tidak mengenalnya. Mungkin merekalah
yang bukan termasuk golongan penggosip, yang tidak mau mendengar hal-hal
negatif di lingkungan kampusnya. Tapi, tidak sedikit pula yang setelah melihat
kehadiran tiga serangkai, bergegas mencari polisi, atau langsung berteriak
keras memberitahu keberadaan ketiganya, bahkan meminta tolong. Apa yang telah
dilakukan hingga ada yang berteriak minta tolong. Berpapasan wajah saja tidak.
Begitulah yang terlintas dalam benak Wergon dan Filhener. Sementara Jordan,
walaupun banyak gangguan yang dapat menghancurkan mentalnya, dia berusaha untuk
tetap fokus mencari jalan hingga bisa kembali ke pangkuan Avasone.
Akhirnya, mereka bertiga
telah melangkah keluar dari pintu dan langsung berlari menuju halaman belakang
kampus. Namun di tengah pelarian itu, tiba-tiba seorang anggota Migvor bersama
kepala gengnya, menghadang ketiganya yang serentak menahan laju langkahnya.
Sejenak kedua kelompok hanya terdiam dengan saling bertatapan muka, mencoba
untuk membaca maksud batin mereka satu sama lain.
“Kalian butuh sekutu?
Ikutlah denganku!” kata Migo.
Jordan, Wergon, dan Filhener
terdiam heran dengan tawaran tersebut, hingga timbul keraguan dan kecurigaan
terhadap Migo kalau-kalau dia hanya ingin menjebak mereka. Namun, mereka tidak
punya pilihan lain dan menerima tawaran tersebut. Bersama, mereka melangkah
cepat menuju pagar belakang area kampus.
“Aku tidak mengerti, kenapa
kau malah membantu kami?” ujar Wergon dalam langkahnya, membuntuti Migo dan
bawahannya.
“Orang sebodoh kalian bisa
menjadi penjahat, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Seharusnya, yang mereka
incar itu adalah aku. Akan kubuktikan pada polisi-polisi itu kalau aku bisa
melakukannya jauh lebih baik dari kalian.”
Wergon dan Jordan saling
bertatapan wajah.
“Kau tidak tahu masalah
besar apa yang akan kau hadapi, Migo,” sahut Jordan.
“Untuk itulah aku ingin tahu
masalah itu dari kalian.”
Merekapun melihat mobil Migo
yang diparkir tak jauh dari gerbang belakang, merapat trotoar, yang sekaligus
membuat Jordan, Wergon, dan Filhener bertanya-tanya dalam pikiran
masing-masing, untuk apa mereka harus ikut ke mobil itu, sementara mereka
sendiri punya mobil yang lebih hebat.
“Polisi itu pasti sudah
mengenali mobil kalian. Kita akan menggunakan mobil ini untuk menghapus jejak
sementara. Setidaknya, itu akan memberikan sedikit waktu untuk menyusun semacam
rencana atau yang lainnya,” ujar Migo yang sekaligus menjawab pertanyaan dalam
benak tiga serangkai.
“Ide yang tidak buruk,”
sahut Filhener.
Kelimanya bergegas masuk ke
mobil dan langsung menarik persneling.
Sementara nasib Earon
bersama sekutunya yang terbius oleh sengatan Jordan, mereka semua akhirnya
telah tersadar setelah kurang lebih satu jam tak bernapas, yang kemudian
langsung diperiksa oleh petugas medis. Awalnya Earon tidak mau diperiksa dan
berniat untuk segera pergi mengejar Jordan, namun karena tubuhnya masih lemah
karena pertarungannya, diapun memutuskan untuk memulihkan tenaganya bersama tim
medis.
Kabar mengenai kebrutalan
tiga serangkai di pengadilan tersiar di setiap saluran televisi dan radio
Losapins. Setiap rumah, perkantoran, rumah makan, bahkan rumah sakit yang memiliki
media penyiaran, setiap menitnya membahas tentang kejadian itu tanpa jeda.
Dalam siaran itu pula, kali ini, Jordan, Filhener, dan Wergon benar-benar
dinobatkan sebagai penjahat buronan kelas atas. Untuk itu, bagi siapa pun yang
melihatnya, mereka wajib melaporkannya pada polisi. Dan siapa pun yang berhasil
mendapatkannya dalam keadaan hidup atau mati, mereka akan diberikan hadiah yang
sangat besar.
Namun, walaupun Earon sudah
memiliki bala masyarakat Losapins karena siaran tersebut, hatinya masih belum lega.
Dia merasa kalau kelicikan Jordan tidak akan pernah ada yang mampu
menghentikannya jika bukan dia sendiri yang melakukannya. Untuk itulah, diapun
merencanakan sesuatu yang lain. Menjelang petang, dia menyempatkan diri untuk
kembali ke rumah Vurpia yang hening. Sambil melangkah tertegun-tegun, dia
memasuki setiap ruang yang remang-remang, melihati sekelilingnya, hingga
terbayang kenangan saat keceriaan Vurpia masih menghiasi rumah itu. Di balik
duka mendalam yang masih dirasakannya, terlukis senyuman kecil di wajahnya akan
kenangan itu. Namun, Earon berusaha untuk tetap kuat dan melanjutkan tujuannya.
Begitu tiba di kamar tidur
Vurpia, pandangannya langsung tertuju pada bunga aones yang diletakkan di pot
di atas meja. Mahkota warna emasnya yang mempesona, telah mekar sempurna,
dengan hiasan sebuah biji merah sebesar kelereng di tengahnya. Dia melangkahkan
kakinya, mendekati bunga itu. Earon justru sangat terharu begitu mengamatinya,
hingga matanya berkaca-kaca. Bisa-bisanya Vurpia masih menyimpan bunga pemberian
pertamanya sampai-sampai bunga itu mendekati level bahaya, pikir Earon. Tapi,
Earon segera menjauhkan angan-angan itu dan mengubahnya menjadi kekuatan
baginya untuk membalaskan kematian kekasih tercintanya itu. Tanpa rasa takut
dia mengambil bunga itu, lalu cepat-cepat pergi.
Hujan rintik-rintik
berlangsung singkat, membuat Faisr terbang dengan bebas untuk melepas beban
sejenak. Mengitari langit Losapins, hinggap dari atap ke atap, pohon ke pohon,
selama berjam-jam. Tiba waktunya ketika kaki mungilnya hinggap di sebuah dahan
pohon berdaun hijau lebat, yang berdiri di halaman samping sebuah rumah tak
berpenghuni. Entah apa yang membuatnya memberanikan diri untuk datang ke tempat
itu pasca surya tenggelam. Suasana rumah yang gelap dan sepi, membuat Faisr
merinding ketika melihat cahaya merah menyala singkat dari balik lubang-lubang
ventilasi rumah yang menghadap pohon tersebut. Untuk memenuhi rasa
penasarannya, diapun mengepakkan kedua sayapnya, menerobos masuk dari ventilasi
untuk melihat cahaya misterius itu. Tapi sebelum hal tersebut dilakukan, dia
mengaktifkan kamera pengintai kecilnya terlebih dahulu, barangkali tuannya
butuh sedikit hiburan dengan menikmati apa yang sedang dilihatnya.
Sementara di tengah
persiapan Jordan dan kawanannya.
Beberapa bahan telah tersaji
di atas meja yang penuh dengan serakan peralatan tiga serangkai. Jordan
tampaknya sedang serius membuat sebuah ramuan. Di tengah redupnya cahaya
ruangan, sorotan lampu meja menerangi setiap langkahnya dalam menimbang,
menumbuk, maupun mencampurnya. Sesekali Jordan meliriki selembar kertas yang
terlampir di sisinya, dengan jari-jari tangan yang merayap di atas tulisan,
mengikuti alur peracikannya.
“Jordan, bisa ambilkan
Kritty?!” seru Wergon yang terdengar dari ruang sebelah.
“Sebentar!” sahut Jordan
yang tanggung melakukan campuran ramuannya.
Saat itu juga, lampu
indikator monitor genggam Jordan yang tergeletak di depannya, menyala merah,
yang menandakan ada rekaman yang sedang diaktifkan. Dia hanya melihatnya
sekilas, lalu memalingkan pandangannya kembali pada mangkok racikannya. Raut
mukanya tidak terlihat adanya keterkejutan, seolah-olah itu sudah menjadi hal
yang biasa baginya. Mungkin itu juga menjadi salah satu bukti bahwa Faisr sudah
sering kali menyalakan kameranya tanpa guna.
Kembali pada ketegangan
Faisr.
“Sedikit lagi, tepat setelah
mereka saling membunuh, bunga ini akan mengubah dunia menjadi jauh lebih indah.
Kau memang cerdik, Vuklir. Sangat cerdik. Kau berhasil menghasut Jordan hingga
akhirnya tidak ada lagi keyakinan dalam dirinya untuk Volan. Aku tidak
menyangka Jordan bisa melakukan kejahatan sejauh itu, hahaha…!” ucap pemegang
Pridiatick kegirangan.
“Apa itu artinya kita hanya
akan diam menunggu?” kata Vuklir yang juga ikut senang.
“Cukup duduk manis dan
biarkan para pemegang busur menyelesaikan urusan mereka terlebih dahulu.”
Vuklir terdiam memikirkan
sesuatu yang membuat raut mukanya terperanjat gelisah.
“Tapi, bagaimana jika yang
terbunuh hanya salah satu atau ada generasi baru dari pemegang busur
setelahnya?”
Di sebuah ruangan dengan
nyala lampu neon terang, wajan dan panci yang bergelantungan pada dindingnya,
serta lemari es ukuran besar yang berdiri berimpit dengan tembok di sebelah
jalan masuk, di belakang Filhener duduk yang bersebelahan dengan Wergon yang
sedang menghadap sebuah benda yang masih tampak kabel-kabel tak beraturan di
atas meja kayu persegi.
“Seperti itulah kakak
Jordan. Aku yakin kau pun akan membenarkan perbuatan itu,” ucap Filhener yang
masih meninggalkan cerita.
“Hei, Bung! Dengar! Aku
memang jahat, tapi aku masih bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak,”
ujar Migo dengan percaya diri, yang kemudian memudar menjadi kebimbangan sambil
berkata, “Maksudku, di pihak Miguveer itu artinya di pihak yang benar, ‘kan?”
Wergon mengerutkan dagunya.
“Entah pihak mana yang
salah, tapi yang kutahu pasti hanyalah, Jordan adalah keluarga kami,” katanya.
Suasana langsung hening.
Semua pendengar terdiam memperhatikan Wergon.
“Walaupun dia yang paling
muda di antara kami, tapi dia yang paling mengerti keadaan kami. Dia tidak mau
menjadi beban kami, tapi dia selalu ikut menanggung beban kami. Aku tidak bisa
membayangkan apa jadinya diriku tanpanya. Anak gelandangan yang akan selalu
diinjak-injak, mungkin bisa jadi memutuskan untuk menjadi seorang perampok.
Pada akhirnya, juga akan menjadi seorang penjahat. Tapi, aku lebih memilih
untuk menjadi seorang penjahat bersama Jordan daripada menjadi orang baik yang samar.
Sekalipun aku mengemban
tugas untuk melindungi Jordan seumur hidup, itu tidak akan pernah cukup untuk membalas
semuanya. Dan untuk itulah, aku akan selalu bersamanya,” lanjut Wergon dengan
air mata yang telah mengalirkan di salah satu pipinya.
Menyadari hal itu, Wergon
langsung mengusap pipinya yang basah seraya berkata, “Owh, apa ini?”
“Kurasa, atapmu bocor,
Migo,” lanjut Wergon sambil menghadapkan mukanya ke langit-langit.
Filhener diam termenung.
Pandangannya berpaling ke bawah, memikirkan kembali semua ucapan Wergon
tersebut. Dari tatapan mata gelisahnya, seolah dia ingin melepaskan sesuatu.
Sesuatu yang sepertinya menjadi alasan adanya hawa ragu di sekitarnya, terlebih
semenjak dia kabur dari pengadilan. Keraguan itulah yang menyebabkan dia
bimbang ke mana harus melangkah.
Tapi tak lama setelah itu,
dia menghela napas sambil memejamkan kedua matanya sejenak. Dia kembali membuka
mata dan mengangkat mukanya dengan senyuman lebar yang terukir di raut
wajahnya. Tampak sekali bahwa Filhener telah mendapatkan ketenteraman dan
keyakinan dalam dirinya untuk mengambil jalan yang seharusnya diambil.
Sepertinya, kabut keraguan yang menutupi hatinya kini telah lenyap.
“Kau benar-benar anak
cengeng. Wergon,” kata Filhener yang masih tampak senyumannya.
Sejenak Wergon terdiam
menatap Filhener.
“Hm! Ternyata ada yang lebih
cengeng dari si anak cengeng,” sindir Wergon.
Filhener terdiam penasaran
akan maksud perkataan Wergon tersebut.
Tanpa disadari, ternyata air
mata telah membasahi kedua pipi Filhener. Filhenerpun langsung mengusapinya
sambil berkata, “Tadi mataku habis kemasukan serangga. Rumahmu memang banyak
serangganya, Migo.”
“Rumahku juga yang jadi
korbannya,” gumam Migo.
Seketika, semua yang ada di
ruangan tersebut langsung tertawa mendengarnya, termasuk Migo.
Jordan yang masih sendirian
di mejanya, sepertinya tertarik untuk melihat monitor berlayar gelapnya. Dia
menghentikan kegiatannya sejenak dengan si bumbu hitam. Namun, saat tangannya
hendak menyentuh monitor itu, tiba-tiba terdengar jeritan orang tak bersabar.
“Jordan! Bisakah kau lebih
cepat membawa pesananku?!”
Seketika itu juga, perhatian
Jordan teralih untuk memenuhi keinginan Wergon terlebih dahulu. Dia langsung
mengalihkan tangannya pada Kritty, lalu membawanya ke ruang dapur.
“Tak bisakah kau minta
tolong pada orang yang sedang menganggur? Terlebih ada tiga orang di sini,”
ujar Jordan agak kesal.
“Tidak ada yang menganggur
di sini. Mereka juga sibuk mendengar ceritaku,” sahut Wergon.
Mendengar hal itu, Filhener
langsung menyikut lengan Wergon, dengan ekspresi wajah ancaman.
“Aku hanya bercanda saja.
Jangan diambil serius, Jordan. Maafkan aku,” kata Wergon sambil meringis di
hadapan Jordan.
Jordan hanya bisa
mengembuskan napas kuat dari mulutnya, sebagai bentuk pengontrolan diri
terhadap perasaan dan pikirannya yang sedang bercampur aduk.
Suasana kembali tersorot
pada ruangan bercahaya merah.
“Kalau begitu, sebelum yang
lain menyadarinya, kupastikan tongkat ini sudah menaburkan benih perubahan.
Setelah itu, manusia hanya akan memikirkan dirinya sendiri, menyelamatkan
dirinya sendiri dari kengerian yang tidak bisa terhindarkan. Kalau sudah
seperti itu, siapa yang akan mampu menumbuhkan rasa cinta dan kepercayaan?”
Sang pemegang tongkat
berjalan melewati Vuklir, lalu berdiri membelakanginya.
“Hm! Hati manusia memang mudah
terombang-ambing oleh tipuan indra mereka. Mereka tidak pernah memikirkan ke
mana arah dari kenyataan yang mereka lewati. Tapi, itulah yang kusukai dari
sifat mereka.”
Mendengar penjelasan dari si
pemegang tongkat, Vuklir merasa cukup tenang.
Lalu, sekilas pandangan si
pemegang tongkat melewati Faisr yang sedang mengamati pembicaraan mereka,
bertengger di atas benda kayu tinggi yang tidak begitu jelas bentuknya karena
ruangan yang gelap, sementara cahaya merah hanya bersinar menutupi tubuh sang
pemegang tongkat saja.
“Burung itu,” batin si
pemegang tongkat Pridiatick, yang sepertinya sudah cukup mengenal Faisr.
Melihat tatapan mata tajam
dan seram dari pemegang Pridiatick, Faisr langsung kabur ketakutan, melalui
celah ventilasi. Sementara itu, sang pemegang tongkat Pridiatick hanya bersikap
tenang, seolah-olah membiarkan Faisr pergi begitu saja dengan mengetahui
rencananya itu. Tak lama setelahnya, dia membuka salah satu telapak tangannya,
lantas keluarlah cahaya merah yang bergelombang di atas telapak tangannya itu
hingga membentuk sesuatu yang menyerupai burung elang.
Faisr terus mengepakkan
sayapnya dengan cepat. Tampak dari gerakan tubuhnya yang dipenuhi oleh
ketegangan dan rasa takut. Dia berusaha untuk menjauh dari rumah itu dan pergi
ke tempat keramaian yang barangkali dapat membuatnya sedikit merasa tenang.
Tapi, tidak ketika ia melihat cahaya merah yang meluncur ke arahnya dari
belakang. Pandangannya dari wujud cahaya itu semakin jelas, diiringi dengan
semakin dekatnya kematian yang memburunya.
Jordan langsung kembali ke
mejanya setelah dia menyerahkan Kritty pada Wergon. Lampu di monitor genggamnya
masih berkedip. Dia masih punya rasa penasaran dengan yang dilakukan Faisr
terhadap kameranya. Dalam keadaan masih berdiri, dia mengambil dan mengangkat
monitor genggamnya itu. Lalu, dia menekan tombol sesuatu di samping badan
monitor. Sebuah nama dari merek monitor genggam itu muncul di layar, yang
artinya dia baru saja mengaktifkannya. Sensor adanya rekaman masih menyala
seiring berjalannya proses booting.
Napas Faisr mulai
terengah-engah. Dia terus mencoba untuk mengelabuhi si elang merah dengan
terbang berliku-liku melewati tiang-tiang, pohon, maupun gedung-gedung. Dan
usahanya tersebut sepertinya berhasil setelah tidak terlihat lagi si elang
merah yang membuntutinya. Dia begitu kelelahan dan hendak mencari tenggeran
untuk beristirahat sejenak. Namun di tengah niatnya itu, si elang merah
tiba-tiba muncul dari arah depan yang seketika menyambarnya layaknya kilat,
hingga akhirnya Faisr hancur bersamaan dengan lenyapnya cahaya merah.
Kedipan lampu merah di
monitor genggam Jordan, mati saat menu di layar utama telah penuh. Seketika
hati Jordan bergetar, merasakan adanya sesuatu yang tidak menyenangkan. Dia pun
belum sempat melihat apa yang sebenarnya sedang direkam oleh Faisr. Tidak lama
setelah itu, terlihat cahaya lampu polisi dari luar yang terpantul melewati
jendela kaca ruangan tersebut. Pandangan Jordan yang mulanya menatapi layar
monitor genggamnya, beralih ke arah datangnya sinar tersebut. Setelah
meletakkan kembali monitor genggamnya di atas meja, dia berjalan mendekati
jendela, lalu mengintipnya dari balik gorden. Dia melihat mobil polisi itu
berhenti di depan sebuah rumah, dengan lampu mobil yang telah dimatikan. Tampak
seorang pria tua berambut putih yang sedang mengobrol dengan dua orang polisi
yang keluar dari mobil polisi tersebut. Si pria tua kemudian mengarahkan jari
telunjuknya ke jendela rumah, tepat di tempat Jordan berdiri mengintipnya.
Dengan segera, Jordan langsung menutup kembali gordennya, barangkali mereka
melihat apa yang sedang dilakukannya.
“Ada apa, Jordan?” tanya
Filhener yang melihat wajah tegang Jordan yang masih berdiri di dekat jendela.
Dengan sikap tergesa-gesa,
Jordan melangkah kembali ke meja, seraya berkata “Kita harus cepat pergi dari
sini dan melakukan rencana selanjutnya.”
“Apa yang sebenarnya
terjadi?” tanya Wergon yang berdiri di belakang Filhener, sambil membawa Kritty
di tangan kirinya.
Sejenak Jordan menghentikan
penataan barang-barangnya yang ada di atas meja, lalu menatap keempat temannya
yang sedang dilanda kegelisahaan.
“Polisi sudah di luar,
menemukan kita. Kita tidak akan punya tempat lagi untuk bersantai. Untuk
itulah, kita akan melakukan rencana itu, malam ini juga,” kata Jordan.
“Tapi, itu tidak mungkin.
Aku baru menyelesaikan beberapa saja. Maksudku, baru satu yang benar-benar
sudah selesai,” sahut Wergon sambil menunjukkan Kritty pada Jordan.
“Kita tidak butuh semuanya.
Cukup Kritty, itu akan menarik perhatiannya,” ujar Jordan.
“Itu gila! Kalau seperti
itu, aku tidak mau ikut dengan kalian!” keluh Migo yang berdiri bersama salah
satu anggota gengnya, Filhener, dan Wergon.
“Migo benar. Itu terlalu
berbahaya, Jordan. Kita bisa pergi ke perbatasan. Di sana, jarang ada orang
yang mengetahui kita. Atau sekalian kita pergi ke desa Wesnoreast. Kita
selesaikan peralatan kita dulu, Jordan. Tanpa peralatan ini, nyawa kita semua
bisa terancam. Kita tidak punya senjata apapun untuk melawan mereka,” jelas
Filhener.
“Untuk kali ini, Jordan.
Tolong, penuhi usulan kami ini,” lanjut Wergon.
Suasana terasa hening
sejenak. Wergon, Filhener, dan dua anggota Migvor menunggu keputusan Jordan,
dengan penuh kerisauan. Jordan menghela napasnya dan berkata dengan tenang,
“Kita tidak bisa pergi ke perbatasan. Polisi pasti sudah menunggu kita di garis
kota. Dengan Kritty, tidak akan terjadi apapun dengan kalian.”
“Bagaimana bisa? Sekalipun
kau berhasil membunuh Volan, bagaimana cara kita keluar dari yang lain? Itu
sama saja bunuh diri,” sahut Wergon.
Jordan tersenyum singkat.
“Tapi kenyataannya, kalian
pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kita telah terbukti bersalah. Hukuman berat
pasti di pihak kita,” jelas Jordan, “Baik. Kali ini aku yang akan ikut dengan
kalian. Tapi, aku tidak punya rencana bagus apapun jika harus menunggu sampai
semua senjatanya selesai. Aku harap kita pun punya banyak waktu untuk
menyelesaikannya.”
Semua pemirsa menampilkan
raut wajah bingung dan resah.
“Di satu sisi, senjata kita
lengkap, bahkan tidak akan ada yang mampu mengalahkannya. Di sisi lain, ada
rencanaku, dengan senjata seadanya,” lanjut Jordan, “Sekarang, keputusan ada di
tangan kalian. Kuyakin, kalian juga cukup cerdik untuk memilihnya, jadi aku
tidak akan berkomentar sedikit pun.”
Wergon, Filhener, dan Migo
saling bertatapan muka, begitu bingung dan berat dengan keputusan yang nantinya
harus mereka ambil. Jordan yang melihat raut muka teman-temannya justru
mengumpat geli, walaupun tidak terlalu tampak di wajahnya.
“Kuperingatkan kalau para
polisi di luar sana sudah mengantri untuk mendobrak pintu,” jelas Jordan.
“Aku ikut Jordan!” seru
salah satu anggota geng Migvor tiba-tiba.
“Diam kau, Rekshein! Kau
tidak tahu kami sedang berpikir?!” pekik Migo.
Semua justru langsung
menatap Migo karena pekikannya itu, takut jika polisi mendengarnya. Wajah Migo
seketika langsung diam.
“Rekshein? Jadi, itu
namanya?” kata Filhener, “Semoga namanya itu manjur di balik wajah bodohnya.”
“Sudah! Ini bukan waktunya
bercanda! Membuat kepalaku semakin pusing saja!” hardik Wergon.
“Jadi?” tanya Jordan.
“Aku pilih senjata,” jawab
Wergon.
“Aku juga,” sambung
Filhener.
“A, aku… juga, Miguveer,”
sahut Migo agak ragu.
Jordan hanya bisa diam
menerima keputusan tersebut. Namun sesungguhnya, dibalik kebisuannya itu
tersimpan kekecewaan yang sangat mendalam terhadap keputusan teman-temannya
itu.
Tiba-tiba, terdengar suara
gedoran pintu sekali. Jordan beserta kawan-kawannya langsung memalingkan
mukanya ke sumber suara, dengan jantung yang berdebar keras, hingga secara
tidak sadar mereka juga mengumpat napasnya sejenak.
Kemudian untuk gedoran yang
kedua, pintu tersebut berhasil dibobol hingga membanting dinding tepi pintu
saat terbuka. Beberapa anggota polisi langsung masuk seraya menodongkan
masing-masing senjata mereka. Ruangan terlihat gelap dan sepi. Tidak ada
sedikit pun gerakan bayangan yang terlihat karena sorotan lampu senter mereka.
Yang terlihat hanyalah peralatan yang berserakan di atas meja.
Lytro muncul dari belakang.
Dia kemudian mendekati meja tersebut, sementara yang lain memberikan penerangan
kepada Lytro. Lytro begitu mengamati setiap benda yang diambilnya dari atas
meja. Dia juga melihat mangkok-mangkok kecil serta alu yang tergeletak di salah
satu mangkok tersebut, masih terlihat basah dengan bekas racikan berwarna
hitam. Pasti mereka belum lama perginya, pikir Lytro. Dengan menggunakan bahasa
isyarat, diapun meminta beberapa anggota polisi untuk memeriksa setiap ruangan
di rumah itu, sementara beberapa yang lain mengamankan bagian luar. Lytro masih
menyelidiki benda-benda di atas meja. Tidak lama setelah itu, dahinya mengerut
ketika melihat sebuah monitor genggam tergeletak di antara peralatan tersebut.
Dia mengambil monitor genggam yang ter-stand by itu, menyalakannya, lalu
membuka-buka file, barangkali ada sesuatu yang dapat dijadikan informasi
menarik.
Sementara saat semua anggota
polisi masih disibukkan dengan kondisi dalam rumah, Jordan dan teman-temannya
langsung berjalan cepat menuju mobil Migo yang diparkir di tepi jalan, lewat
halaman belakang. Beruntung, suasana yang gelap karena bayangan tanaman-tanaman
tinggi dan pepohonan, cukup melapangkan pergerakan mereka, terlebih tidak
adanya polisi yang berjaga di sana.
“Aku tidak mengerti, kenapa
mereka hanya menggerombol lewat pintu depan saja?” tanya Wergon dalam
langkahnya.
“Jumlah mereka sedikit.
Pasti mereka harus membagi tugas di tempat lain. Berita itu, membuat banyak
orang tertarik dengan hadiahnya sampai-sampai memberitahukan informasi palsu
tentang keberadaan kita. Kurasa, polisi-polisi itu sudah berkali-kali kena
tipu, hingga akhirnya mereka pun jemu dan melalaikan kemungkinan yang bisa
terjadi seperti saat ini,” jelas Jordan.
Migo yang mendengar
penjelasan Jordan tersebut, hanya bisa diam terpinga.
“Bagaimana dia bisa berpikir
seperti itu?” tanya Migo lirih kepada Filhener.
Filhener tersenyum sambil
berkata, “Sebentar lagi kau juga akan tahu seperti apa Jordan sebenarnya.”
Tidak lama kemudian, muncul
dua orang polisi dari balik sudut belakang rumah penyergapan. Wergon yang
mengetahuinya langsung mengangkat kedua bahunya yang merapat dengan badan.
“Ada polisi…i…i…,” katanya
seraya melangkahkan kakinya lebih cepat, mendahului Jordan, Filhener, Migo, dan
Rekshein.
“Siapa di sana?!” seru salah seorang polisi
yang melihat kelimanya sedang berjalan di bawah bayangan pohon halaman.
“Jangan menoleh!” ucap
Jordan lirih kepada Migo dan Rekshein yang hampir membalikkan pandangannya,
“Teruslah berjalan!”
Anggota tiga serangkai dan
Migvor pun tidak menggubris seruan polisi tersebut. Mereka justru mempercepat
laju kakinya, hingga menimbulkan kecurigaan pada dua polisi itu.
“Tunggu! Kalian berlima! Berhenti di sana!”
seru polisi itu lagi, dengan tangan yang telah siap memegang pistol di sabuk
pinggangnya.
Lima sekawan tidak peduli
dengan gertakan itu. Mereka langsung berlari ke mobil yang tidak jauh lagi dari
keberadaannya. Sementara dua polisi itupun langsung menarik pistol dari
sarungnya, tapi tidak sampai menarik pelatuknya, karena mungkin saja kelimanya
bukanlah manusia incaran mereka. Sambil menodongkan pistol, para polisi itu
ikut berlari mengejar mereka. Hingga saat kelimanya akan bergegas masuk ke
sebuah mobil versi lama, dengan cat warna abu-abu yang terlihat kusam dan
beretak-retak, dan beberapa titik badan mobil yang sudah peok, sejenak Jordan
berhenti sambil berdiri di dekat pintu belakang mobil yang terbuka. Dia
memalingkan mukanya sepintas pada sepasang polisi itu yang berjarak sekitar dua
puluh lima meter mendekatinya. Dengan sorotan lampu jalan yang berdiri tegak,
tepat di atas mobil itu, wajah Jordan pun terlihat jelas oleh kedua polisi
sampai-sampai menghentikan langkah mereka yang hanya bisa bengong menatapnya.
Seperti halnya seseorang yang melihat mata sang singa mengarah padanya, seperti
itu juga yang dirasakan oleh dua polisi itu saat melihat rajanya penjahat.
Melihat kepatungan dua polisi itu, Jordanpun cepat-cepat masuk ke mobil. Namun
sesaat setelah pintunya ditutup, Jordan begitu terkejut melihat Filhener
ternyata duduk satu jok dengannya, mengapit Rekshein, dekat sisi pintu belakang
yang lain.
“Kenapa kau di sini, Fil?”
tanya Jordan yang melihat ketegangan Filhener dengan napas yang masih mengembus
keras-keras.
“Aku gugup. Aku tak peduli
di mana pun diriku,” jawab Filhener dengan tatapan mata ke depan yang tidak
fokus.
Tiba-tiba, terdengar suara
gemuruh dengan mobil yang bergetar. Siapa gerangan yang telah menyalakan mesin
mobilnya, sementara si pembalap duduk di jok belakang, pikir Jordan.
Baru saja Jordan memiringkan
kepalanya untuk mengintip si pengemudi di depannya, teriakan kegirangan
menyambut suasana yang justru membuatnya semakin tidak keruan.
“Tancap gas!!!” seru Wergon
yang langsung menginjak gasnya, membuat semua penumpang langsung tersentak kaget
sampai-sampai tubuhnya menekan keras ke sandaran jok.
Sementara para polisi yang
masih berdiri termenung, hanya bisa memandang mobil tersangka lari begitu saja.
Tidak lama kemudian, salah satu mengeluarkan walkie-talkie-nya untuk
menghubungi rekannya yang lain.
“Mereka. Mereka kabur,”
ucapnya gugup dengan pikiran yang masih terbawa tegang.
Lytro terlihat begitu serius
menonton sesuatu pada monitor genggam milik Jordan. Namun di tengah
perhatiannya itu, tiba-tiba tiga polisi langsung muncul terbirit-birit dari
dapur dengan napas yang terengah-engah. Mereka langsung berlari mendekati
Lytro, seperti habis melihat penampakan yang mengerikan. Melihat tingkah
mengagetkan itu, Lytropun langsung melontarkan pertanyaan atas rasa
penasarannya.
“Ada apa?” tanya Lytro
bingung.
Salah satu dari polisi itu
menjawabnya dengan napas yang masih mengembus keras-keras, “Jordan dan
teman-temannya ada di sini. Mereka berhasil kabur.”
Serentak Lytro diikuti oleh
tiga polisi tersebut, segera lari keluar untuk mengejar tiga serangkai. Sampai
di teras depan, tanpa menghentikan langkahnya, Lytro melihat dua anggota polisi
lainnya berlari menyusulnya dari halaman belakang. Mereka begitu cepat-cepat
masuk mobil dan langsung menancap gas. Salah satu dari anggota polisi yang
menyaksikan kaburnya tiga bayangan bulan, duduk di samping Lytro yang
mengemudikan mobil polisinya.
“Seperti apa mobilnya?”
tanya Lytro sambil fokus mengamati jalan di depan.
“Terjelek di jalanan. Kau
akan tahu sendiri. Bernomor 4114P,” jawab rekan polisinya.
Lytro hanya diam, mengerti
dengan jawaban tersebut. Sementara rekan lainnya berusaha untuk memanggil bala
bantuan yang mungkin saja berpapasan atau melihat si kancil hitam.
Mobil yang dikendarai Wergon
bagaikan banteng yang kehilangan kendali. Menyerobot ke jalur lawan hingga
banyak kendaraan yang kewalahan menghadapinya. Semua penumpang, termasuk
sopirnya, mengalami ketegangan tingkat tinggi, dengan tatapan mata yang
terbelalak ke depan, takut jika banyak korban berjatuhan karena ulah Wergon
tersebut.
“Sabuk pengaman. Sabuk
pengaman. Sabuk pengaman,” ucap Filhener dengan tubuh kaku.
Namun, sepertinya hal
berbeda dirasakan oleh Rekshein. Dia satu-satunya penumpang yang justru sangat
menikmati situasi tersebut.
“Wuuuiiiihhh…,” katanya
dengan senyum wajah bodohnya.
Ada banyak kendaraan yang
terserempet, tapi lebih banyak kendaraan yang terkena hantaman moncong
mobilnya. Bahkan sering kali, Wergon hampir menabrak orang-orang yang mau
menyeberang di jalanan, melanggar lalu lintas, dan sekali terdengar suara
pekikan seekor anjing saat melalui jalan pintas alias lorong sempit.
Selama aksi ugal-ugalan
tersebut, belum ada satu pun polisi yang terlihat membuntutinya. Hingga
akhirnya, mobil Migo melewati suatu tempat yang sepi dari keberadaan
orang-orang yang berlalu-lalang. Sebuah jalan gelap nan kotor yang kanan
kirinya terparkir tong-tong sampah.
Tampak di depan telah
berhenti sebuah bayangan mobil hitam, tapi Wergon tidak langsung menghentikan
lajunya pada bayangan itu. Kecepatan mobil yang nakal tidak berkurang dan
semakin mendekati bayangan itu. Sepertinya Wergon juga siap untuk menghantam
siapa pun yang berniat menghalanginya.
Tiba-tiba, terdengar suara
panjang dari decitan ban mobil. Tubuh semua penumpang langsung terlempar ke
depan, yang sekaligus mengakhiri jabatan Wergon sebagai sopir mobil malam itu.
Migo segera membuka pintu dan keluar dengan sangat tergesa-gesa. Dia berdiri di
dekat tong sampah sambil membungkukkan badannya. Suara muntahan Migo terdengar
di sepanjang lorong gelap yang sepi tersebut.
“Aku harap yang lain
baik-baik saja,” ucap Wergon gelisah yang masih terbawa tegang.
Filhener awalnya hanya diam
dengan wajah pucat sambil memegang perutnya. Setelah melihat Migo yang
sepertinya memang itu jalan singkat untuk dibebaskan, Filhenerpun ikut keluar
menyusul Migo, muntah sepuasnya di belakang mobil. Sementara Rekshein, dia
tidak perlu menjadi pusat perhatian. Senyuman yang tampak bersama gigi-giginya
menandakan bahwa dia baik-baik saja. Kemudian Jordan hanya bisa menyandarkan
sisi badannya ke pintu. Wajahnya begitu pucat dan lemas. Salah satu tangan
menopang kepala, sementara tangan yang lain memegang perut. Berbeda dengan Migo
dan Filhener, tampaknya Jordan lebih memilih untuk membebaskan rasa mualnya
dengan ketenangan.
Melihat sikap teman-temannya
tersebut.
“Tendang aku jika duduk di
depan kemudi lagi,” kata Wergon.
Bulan sabit tampak mengintip
dari balik awan dengan cahayanya yang suram. Udara malam yang dingin berembus
cukup kencang, membawa suara-suara derum di tengah kekosongan tanah perbatasan.
Lain keadaan dengan suara sirene polisi yang datang dan pergi, terus terdengar
meramaikan jalanan kota, meningkatkan kewaspadaan lima sekawan yang kondisinya
mulai membaik.
Jordan berdiri di depan
Avasone, sementara empat lainnya berjejer di depan mobil Migo.
“Aku percayakan tugas itu
pada kalian,” pinta Jordan seraya memegang salah satu pundak Wergon.
“Berjanjilah kau akan
kembali, Jordan. Jika bukan kau yang menyelamatkan kami, siapa lagi yang bisa
melakukannya,” sahut Filhener cemas.
Jordan tersenyum tipis.
“Tentu. Aku pasti kembali,”
jawab Jordan, “Pergilah! Jika itu tidak berhasil padanya, maka kusarankan
kalian berdua untuk tetap bersama. Jangan biarkan kebencian dan kecemburuan
tumbuh di hati kalian.”
Wergon dan Filhener yang
berdiri berdampingan, hanya bisa diam saling menatap muka setelah mendengar
ucapan Jordan tersebut.
“Volan harus dibunuh. Itu
satu-satunya jalan untuk mengakhiri semua ini,” lanjut Jordan.
Angin malam yang berembus di
setiap celah kota begitu dingin. Sedingin hati masyarakat yang tidak peduli
lagi terhadap sekitarnya. Mereka berjalan melewati setiap detik kehidupan hanya
untuk memikirkan keadaannya sendiri. Egois, begitulah yang lebih nyaman mereka
lakukan. Malam di Losapins saat itu memang tidak seperti malam biasa.
Keadaannya lebih ramai, sekalipun hampir mendekati jam tengah malam. Tentu
saja, karena layar reklame dengan tulisan berjalan “Malam Hari Jadi Losapins
ke-59” terpampang jelas di tiang besar tengah kota tersebut. Namun, perayaan
yang terjadi bukanlah suatu kehangatan kebersamaan yang mereka inginkan.
Walaupun begitu banyak orang yang berlalu-lalang, mereka lebih memilih
menikmatinya dengan duduk di kursi taman, jalan-jalan, makan atau minum seorang
diri. Sekalipun menemukan teman bicara yang tak dikenal, tapi hati tetap terasa
sendiri. Dunia serasa sepi tanpa orang yang mereka harapkan berada dekat di
samping mereka. Karena kebanyakan dari mereka yang melakukan perayaan itu,
merupakan korban dari keegoisan yang lain. Meninggalkan anak, saudara,
keluarga, dan temannya-temannya tidak seburuk kehilangan waktu untuk
menyelesaikan laporan akhir bulan, tugas kuliah, atau kepentingan lain yang
telah mengikat mereka.
Terlihat seorang gadis kecil
berumur sekitar enam tahun dengan rambut pirang terurai sampai ke pinggang,
berjalan santai mengikuti arah keluar gedung pencakar langit, sambil menjilati
es krim kerucut rasa coklat. Tidak ada seorang pun yang menemani atau mengawasi
gadis tersebut, bahkan tidak juga dengan orang tuanya. Hal itu bisa menjadi
kesempatan besar bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk
memanfaatkan situasi anak tersebut. Dan itu memang benar terjadi.
Sebuah mobil tiba-tiba
berhenti tepat di hadapannya, yang seketika ikut menghentikan langkah gadis
itu. Terlihat dua orang, masing-masing membuka pintu mobil satu sisi depan dan
belakang, menurunkan kakinya, lalu berdiri di depan si gadis kecil, sambil
mengenakan jubah hitam. Gadis itu mengangkat pandangannya, mencoba melihat muka
dua orang itu yang tertutup oleh bayangan dari kain penutup kepala. Kemudian,
salah satu dari mereka menganjurkan sebuah boneka cantik pada gadis itu. Gadis
itupun langsung tersenyum ramah melihat si boneka Kritty dan mengangkat mukanya
lagi pada si pembawa boneka. Mungkinkah boneka itu untuknya, pikir si gadis
kecil. Melihat tatapan mata si gadis, orang itupun menganjurkan kepalanya
hendak membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. Setelah terlihat beberapa
gerakan bibir dari si pembawa boneka, gadis itu tetap tersenyum, menganggukkan
kepalanya sambil menerima bonekanya. Orang itupun kembali menegakkan tubuhnya.
Si gadis kemudian
membalikkan arah langkahnya. Sambil membawa Kritty dan menikmati santapan es
krim yang tinggal sedikit, dengan santai dia berjalan menuju pintu masuk gedung
pencakar langit itu.
“Kalian yakin ini akan
berhasil?” tanya Migo dari dalam mobil, duduk di jok belakang.
Muka kedua orang itupun
tampak ketika mereka mengangkat dagunya, hingga cahaya kotapun menyinari wajah
mereka. Keduanya tidak lain adalah Wergon dan Filhener.
“Kami tidak pernah gagal
selama itu dalam rencana Jordan,” jawab Filhener agak cemas dengan pandangan
yang memperhatikan langkah gadis kecil itu.
Migo terdiam sejenak setelah
mendengar jawaban tersebut.
“Memangnya siapa Miguveer?
Kenapa kalian begitu yakin dengannya? Dia hanya seorang manusia. Rencananya
bisa saja gagal. Rencana macam apa yang mencoba menghancurkan kota dan membunuh
salah seorang agen Losapins? Aku, aku benar-benar tidak percaya kalian sering
melakukan kegilaan ini,” sahut Migo dengan hati penuh kebimbangan, “Sungguh
ironis, kini aku tak berdaya di depan kalian. Heh! Kalian tentu saja bisa
membunuhku di saat aku pernah mengganggu kalian, ‘kan?”
Pandangan Filhener dan
Wergon seketika teralih pada ocehan Migo. Mereka berdua melirikkan matanya ke
belakang, tapi tidak sampai menolehnya, dengan diam dan bingung.
“Ooh, kenyataan apa yang
sedang kuhadapi?” lanjut Migo seraya meremas kepalanya dengan kedua tangan,
“Ini pasti hanya mimpi. Tapi, kenapa aku juga merasa takut? Bangunlah!
Bangunlah! Aku hanya ada di alam mimpi. Tidak mungkin tiga orang aneh ini bisa
melampaui keunggulanku.”
“Dia pasti sedang mengigau,”
kata Filhener.
“Mungkin efek mabuknya belum
menghilang,” sahut Wergon yang justru mencemaskan kondisi Migo.
Filhener menghela napas.
“Tidak lama lagi kita
ketambahan masalah,” ujarnya seraya memalingkan pandangannya kembali pada si
gadis kecil yang telah melewati depan meja resepsionis, yang terlihat dari
balik dinding-dinding kaca.
Suasana tersorot kembali
pada aksi si gadis kecil. Dia sudah melangkah mendekati sebuah lingkaran rak
besar yang berisi pajangan bermacam-macam boneka. Rak itu diletakkan di tengah
aula besar lantai satu gedung itu. Setelah meletakkan boneka yang dibawanya ke
sela tempat rak yang masih muat, gadis itupun menghampiri salah seorang wanita
yang berdiri tak jauh darinya, lalu menarik-narik bajunya. Wanita itu langsung
membungkukkan badannya mengikuti tinggi si gadis kecil. Gadis kecil itu
kemudian membisikkan sesuatu di telinga wanita muda itu, yang seketika
menjadikan senyum wanita itu terperanjat tegang. Tidak peduli dengan keadaan
selanjutnya, gadis itu langsung pergi meninggalkannya.
Terlihat seorang teman yang
berdiri di sisi wanita itu, penasaran dengan perubahan mimik wajahnya. Ketika
wanita itu kembali menegakkan tubuhnya, temannya pun langsung menyentuh bahunya.
“Ada apa?” tanyanya gelisah.
Wanita itu mengedip-kedipkan
matanya sejenak.
“Tidak ada,” ucapnya dengan
sorotan mata tegang dan bingung.
Si gadis kecil melangkah
keluar gedung, bersamaan dengan orang-orang yang mempunyai urusan untuk keluar
juga. Melihat situasi tersebut,Wergon dan Filhener yang mukanya tertutup lagi
oleh bayangan tudung kepala, tidak berkomentar apapun, dan langsung kembali
masuk ke mobil.
Sementara itu, beberapa
mobil polisi telah terparkir acak di area halaman gedung kepolisian. Banyak
agen dan polisi yang mondar-mandir ke sana kemari, mencoba menempatkan posisi
yang tepat pada kasus mereka kali ini. Begitu juga dengan Lytro yang melangkah
cepat di tengah kerumunan sambil mengangkat-angkat kepalanya. Sepertinya, dia
sedang mencari seseorang atau mungkin menghampiri seseorang yang dia cari.
“Dari mana saja kau?” ujar
Lytro seraya menepuk salah satu bahu rekannya dari belakang.
Rekannya langsung
membalikkan pandangan ke arahnya.
“Dari tadi aku mencarimu,”
lanjut Lytro, “Kau tiba-tiba menghilang saat orang-orang membutuhkanmu.”
“Seharusnya, aku yang
bertanya padamu. Begitu banyak polisi di kota, lalu kenapa tak satu pun dari
kalian yang berhasil menemukannya?!” sahut Earon kesal.
“Bisakah kau sedikit tenang?
Menjadi kebiasaanmu cepat marah jika tentang adikmu. Lagipula, aku mendapatkan
sesuatu yang mungkin bisa membuatmu bingung. Jadi, aku butuh ketenanganmu.”
Earon menghela napas.
“Dengar! Aku tidak pernah
punya adik. Jangan semakin memancing emosiku dengan mengatakan kalau dia adalah
adikku.”
Lytro hanya bisa diam.
“Katakan! Apa yang kau
dapat?” tanya Earon dengan nada tenang.
Lytro masih terdiam
memperhatikan Earon, seolah memikirkan sesuatu.
“Sebenarnya, tidak ada. Aku
hanya ingin bertanya padamu.”
“Kau sudah banyak membuang
waktuku. Cepat! Apa yang ingin kau tanyakan?”
Sejenak Lytro berpikir lagi.
“Apa kau merasakan keanehan
yang terjadi padamu? Atau mungkin kau meragukan semua ini? Maksudku, bagaimana
kalau semua ini ada hubungannya dengan orang yang begitu membencimu dan berniat
merusak hidupmu?”
Earon mengerutkan keningnya,
bingung dengan pertanyaan tersebut.
“Tidak ada yang aneh. Tidak
ada keraguan. Untuk itulah, aku harus menghukum Jordan.”
Suasana terasa hening
sejenak. Dalam keheningan itu, Earon dan Lytro saling bertatap mata, seakan-akan
mencoba melihat kebenaran yang sedang dialami satu sama lain. Lalu, Lytro
mengembuskan napas dalam-dalam.
“Kau benar. Kurasa, itu
satu-satunya jalan untuk mengakhiri semua ini,” katanya dalam kecemasan.
Earon melihat kebimbangan
yang terlihat di mata Lytro. Diapun mendekat dan memegang pundak Lytro.
“Dengar, Kawan! Aku tidak
akan pernah membiarkan Jordan merasuki pikiranmu lagi. Kau lihat! Kita sampai
di sini karena ulah Jordan. Dan kau pun melihat sendiri, dia menyerang kita di
pengadilan. Terlebih serangan itu benar-benar sudah dia rencanakan. Bukankah
itu artinya dia orang yang sangat licik. Dia merencanakan pembunuhan Vurpia.
Dia merencanakan semuanya dengan sangat rapi, hingga orang-orang meragukan
semua itu. Kalau dia memang tidak bersalah, tidak seharusnya dia terus mencoba
melarikan diri. Bukan begitu?”
Lytro merenungkan kembali
perkataan Earon tersebut. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam yang mengubah
raut mukanya menjadi wajah penuh keyakinan.
“Ayo, kita selesaikan misi
ini!” ucap Lytro.
Malam semakin menjadi suram
dengan langit yang tiada cahaya bulan. Puncak perayaan disambut dengan
letupan-letupan kembang api berwarna-warni yang menghiasi langit Losapins.
Orang-orang langsung mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi untuk melihat kesemarakan
itu. Beberapa menyambutnya dengan senyum ke atas, tapi tidak sedikit pula yang
menyambutnya dengan senyum ke bawah.
Beberapa detik setelah
hiasan kembang api lenyap di udara, tiba-tiba terdengar suara ledakan bom yang
sangat dahsyat. Masyarakat yang melihat dan mendengar, seketika panik dan
menjerit histeris. Mereka langsung menelungkup sambil berlari, takut jika
sisa-sisa ledakan sampai menimpa mereka. Dalam sekejap, ledakan bom itu
langsung menjatuhkan salah satu gedung berlantai tiga puluh, hingga rata dengan
tanah. Sementara getaran yang timbul akibat ledakan, menghancurkan kaca-kaca
gedung di sekelilingnya.
Earon, Lytro, dan rekan
polisi yang lain hanya bisa diam sambil membuka mulutnya lebar-lebar, melihat
dari kejauhan bagaimana gedung itu tiba-tiba tumbang di antara gedung-gedung
sekelilingnya yang lebih pendek dan masih berdiri kokoh.
“Apa itu?” tanya Lingchi
terkejut, yang berdiri di depan Lytro.
“Apapun itu, kita pasti
sedang diteror,” jawab Lytro.
Sementara Earon, dia masih
terdiam mengamati bayang-bayang gedung itu yang telah lenyap.
“Jordan!” ucap Earon
menggeram seraya meremas kedua tangannya erat-erat, dengan salah satu tangan
yang menggenggam busur kesayangannya.
Sebuah busur lain dengan
ukirannya yang indah, berada di genggaman tangan seseorang yang sedang berdiri
di atap gedung apartemen berlantai lima yang telah meninggalkan nyala lampu
redup di beberapa titik ruang. Seseorang berjubah hitam dengan kepala yang
diselimuti oleh kain penutup kepala, hanya diam mengamati sesuatu dari atas
sana. Jubahnya yang berkibar-kibar menandakan bahwa angin saat itu bertiup
kencang. Jordan sepertinya sudah lama memperhatikan situasi kota dari tempat
itu. Tatapan mata di raut mukanya yang diam, memandang kepulan asap di kejauhan
yang merupakan bekas tragedi bom yang baru saja terjadi. Tidak hanya itu,
kepekatan aliran sungai Chivory yang berada tepat di seberangnya, menghiasi
pula dalam pandangannya.
Suasana tersorot pada
Jordan, yang kemudian menuruni bangunan tempat injakannya, menyeberangi sungai
yang mengenaskan, melewati orang-orang jalanan yang dilanda kegelisahan,
kendaraan-kendaraan yang seolah kehilangan arah, lorong-lorong kota yang kumuh,
hingga sampai pada gedung biru dengan nyala lampu gemerlap di puncaknya. Gedung
bermenara tiga dengan sebelas lantai lebih tinggi dari gedung korban ledakan
bom, menjadi incaran para artis dadakan selanjutnya.
Wergon, Filhener, dan Migo
berjalan memasuki gedung hotel tersebut, bahkan tanpa menutup muka. Dengan
sangat percaya diri, mereka menatap wajah orang-orang yang berpapasan
dengannya, sambil membawa sebuah tas hitam besar yang dijinjing oleh Migo,
berjalan menuju elevator. Sementara orang-orang yang melihat dan menyadari
siapa mereka sebenarnya, langsung menghentikan kegiatannya sejenak dengan diam terperangah.
Bahkan, ada yang sampai saling bertabrakan karena pandangannya terus tertuju
pada langkah ketiganya. Selain itu, ada juga beberapa orang yang tidak tahu
siapa tiga sekawan itu. Mereka terdiam bingung bukan karena ketidaktahuannya
itu, melainkan justru karena melihat tingkah aneh orang-orang di sekelilingnya.
Tidak lama setelah mereka
bertiga memasuki ruang elevator yang kosong.
“Rasanya aku ingin
mengompol,” ucap Migo resah dan tegang, sesaat setelah Wergon menekan tombol
tujuan pintu.
Sejenak pandangan Wergon
menuju ke arah sebuah kamera yang dipasang di sudut langit-langit ruang
elevator.
“Jangan takut! Wergon akan
menjagamu,” sahut Filhener mencoba menenangkan kondisi Migo.
Mendengar ucapan Filhener,
Wergon langsung mengalihkan pandangannya pada Filhener seraya berkata, “Apa?!
Dia bukan tanggung jawabku. Mengajaknya adalah salah satu rencanamu. Jadi, kau
yang harus bertanggung jawab atas keselamatannya. Aku tidak mau menambah beban
masalahku.”
“Tapi, kau juga
menyetujuinya. Kau sendiri yang bilang akan melindunginya.”
“Bung! Itu salah satu
siasatku agar kau bisa menggandeng tangannya! Bukan berarti aku harus menjadi
perisainya!”
“Aku tidak peduli! Kau
bilang begitu, maka memang harus begitu yang kau lakukan!”
Migo yang berdiri di antara
Wergon dan Filhener, hanya bisa menerima muncratan-muncratan air liur mereka.
“Baik. Aku melindunginya,
sementara kau melindungiku.”
“Kau semakin pintar juga ya.
Maksudmu, aku berada di depan barisan melindungi dua anak cengeng?!”
“Kalau tidak mau ya makanya
tugasmu untuk menjaga dia! Begitu saja repot.”
“Hentikan!” pekik Migo yang
seketika membungkam adu mulut tersebut.
“Masalah kecil saja
diributkan!” lanjut Migo, “Aku tidak mengerti bagaimana Miguveer bisa betah
dengan sifat kekanak-kanakan kalian! Lagi pula, aku bisa menjaga diri. Dengar!
Aku Migo Danyiman, tidak takut dengan polisi. Aku bisa mengalahkan mereka
semua. Mengerti!”
Filhener dan Wergon hanya
bisa terdiam kagum dengan kata-kata Migo yang semangat dan lebih berani dari
sebelumnya itu. Dan pada saat itu juga, pintu elevator terbuka yang menandakan
bahwa mereka telah sampai di lantai tujuan.
“Baru dicap sebagai buronan
saja sudah sombong,” gumam Migo sambil melangkah keluar elevator.
Namun, baru mendapat tiga
langkah, Migo tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu dalam tatapannya.
“Eik!!!” ucapnya kaget
sampai-sampai kaki terakhir yang melangkah, kembali lagi melangkah ke belakang,
yang sekaligus menghentikan langkah kakinya hingga mengakibatkan tabrakan
beruntun pada Wergon dan Filhener.
Filhener dan Wergon melihat
tubuh Migo yang kembali kaku dengan tatapan mata yang begitu gentar.
“Apa kau sudah kehilangan
semangatmu?” sindir Filhener.
“Ssstt! Pelankan suaramu,
Fil!” pinta Wergon yang mengikuti situasi Migo, dengan pandangan kaku ke depan.
Penasaran dengan perubahan
sikap kedua temannya, Filhener mengikuti arah dari tatapan mata mereka. Dia pun
langsung kaget dengan sesuatu yang dilihatnya. Ternyata dua orang polisi sedang
berjaga, mengamankan situasi lantai tersebut. Mereka sedang berpatroli, tepat
di hadapan Migo, Filhener, dan Wergon. Kedua polisi itu sejenak berhenti di
depan mereka, sambil mengamati keadaan kanan, depan, dan kiri. Ketiganya begitu
tegang dengan mata yang terbelalak. Dan dalam hati mereka yang berdebar
kencang, teriring harapan agar kedua polisi itu tidak menoleh ke belakang,
tepat mereka berada.
Beberapa saat kemudian,
kedua polisi itu mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang seketika
menimbulkan kecurigaan. Mereka langsung berlari mendekatinya dan salah satu
berkata, “Hei, kau! Berhenti!”
Dalam kondisi masih
mematung, pelototan mata Migo, Wergon, dan Filhener terus mengawasi pergerakan
kedua polisi tersebut.
“Heeuuww…,” bunyi embusan
napas Migo yang dikeluarkan dari mulutnya, seraya menurunkan bahunya.
Filhener dan Wergon juga
langsung ikut menurunkan kedua bahunya, lega bahwa polisi-polisi itu tidak
memberikan tatapannya pada mereka.
“Ayo!” ajak Wergon yang
melangkahkan kakinya kembali dengan pelan dan awas, diikuti oleh Migo dan
Filhener.
Setelah beberapa langkah,
sejenak Wergon, Migo, dan Filhener menolehkan pandangannya pada sesuatu yang
dituju oleh kedua polisi itu. Ternyata, mereka telah memergoki seorang pria
berusia tiga puluh lima tahunan yang tertangkap membawa tas hitam besar berisi
bermacam-macam senjata api. Namun, bukan keadaan itu yang menjadi perhatian
Wergon, Migo, dan Filhener, melainkan perhatian kedua polisi yang masih terpaku
pada kejahatan yang baru saja dilakukan oleh pria terebut. Merekapun
melangkahkan kakinya lebih cepat di saat situasi kedua polisi itu dalam pancingan.
Sementara keadaan di
Chansury, para agen dan polisi masih sibuk melakukan pencarian tentang
keberadaan tiga serangkai. Di sebuah ruang kerja yang tidak terlalu luas,
Earon, Lytro, dan Lingchi, bertiga terus mengamati tampilan gambar bergerak
yang dibagi oleh beberapa sekat dalam satu monitor.
“Itu mobilnya,” ujar Lytro
yang mengendalikan laptopnya yang diletakkan pada meja persegi panjang yang
merapat pada dinding ruangan, seraya memperbesar gambar pemandangan salah satu
titik jalan di kota Losapins yang ditunjuknya, “Kita ikuti jejak mobil ini.”
“Kau yakin kalau itu mobil
mereka?” tanya Earon yang duduk di sisi Lytro.
“Sangat yakin. Berdasarkan
pelat nomor dan corak mobil yang sangat sesuai dengan informasi yang kudapat
dari saksi mata.”
Lytro terus menelusuri jejak
incarannya dan dalam sekejap diapun mendapatkannya.
“Dapat!” serunya yang
seketika membuat Earon dan Lingchi mengimpit bahu mereka pada tubuh Lytro.
Saking seriusnya melakukan
penelusuran itu, Lytro justru tidak menyadari rasa sesak karena impitan kedua
temannya tersebut.
“Mereka berhenti di depan
gedung Bhavicamka,” lanjut Lytro.
Mulai dari adegan itu,
ketiganya melihat setiap detik tampilan dengan saksama.
“Mereka keluar mobil,” ucap
Lingchi, “Tapi, siapa yang satunya? Dia bukan Jordan.”
“Lytro, kapan gambar ini
diambil?” tanya Earon cepat.
“Sekitar lima belas menit
yang lalu,” jawab Lytro, “Biar kupercepat.”
Adegan melaju sedikit lebih
cepat sampai pada detik terakhir pengambilan gambar.
“Mereka belum keluar,”
lanjut Lytro.
Earon langsung bangkit dari
tempat duduknya dan bergegas melangkah pergi.
“Gedung itu pasti incaran
mereka. Kali ini tidak akan kubiarkan mereka lolos! Lytro, cepat…,”
Belum sempat perintah Earon
genap, salah seorang rekannya tiba-tiba muncul di depan pintu belakang mobil
van tersebut yang terbuka lebar.
“Earon! Kami dapat informasi
kalau mereka sekarang ada di Bhavicamka,” katanya.
Suasana langsung berubah
menjadi hening, membuat rekannya terperanjat canggung, sehingga terlintas
anggapan bahwa mereka terdiam karena mengira informasinya itu hanyalah kabar
burung.
“Salah seorang karyawannya
yang langsung melaporkan itu. Dia juga mengirimkan foto saat mereka tersenyum
padanya,” lanjut rekannya tersebut meyakinkan pendengar.
Suasana masih hening.
“Lytro, siapkan formasinya!”
ucap Earon memecah suasana, seraya melangkah cepat keluar dari van, “Semuanya!
Cepat berkumpul!”
Semua langsung mengikuti
aba-aba Earon tersebut.
Suasana tersorot kembali di
gedung Bhavicamka.
Wergon, Filhener, dan Migo
kembali memasuki elevator yang sedang sepi, tanpa terlihat lagi tas hitam yang
sebelumnya mereka bawa. Sejak awal mereka memang sengaja memasuki elevator yang
sedang tidak berpenghuni. Hal itu bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi
mereka untuk lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi rencana selanjutnya.
Dalam penantian terbukanya pintu elevator, Filhener melihat ketegangan yang
tampak pada diri Migo.
“Setelah ini, kita akan
benar-benar berhadapan dengan polisi-polisi itu, ‘kan?” tanya Migo yang
berusaha menutupi kecemasannya.
“Kurasa begitu,” jawab
Wergon yang mengikuti perasaan Migo.
Filhener yang berdiri di
samping Wergon, langsung menyenggol tubuhnya.
“Semua akan baik-baik saja.
Kita akan melindungi satu sama lain,” katanya mencoba mengubah suasana hati
kedua rekannya.
Mendengar hal itu, Wergon
langsung mengangkat mukanya, seolah teringat sesuatu.
“Ya, kau benar,” katanya
dilanjutkan dengan perubahan raut muka semangat seraya berkata, “Dan itu adalah
kata-kataku! Terimakasih telah mencurinya, Filhener.”
Filhener hanya tersenyum singkat,
bukan karena sindiran Wergon tersebut, melainkan melihat kekuatan temannya yang
telah bangkit kembali.
Melihat gairah kedua orang
aneh itu, Migopun ikut bangkit semangat dengan helaan napas panjang.
Sekalipun masih ada
keresahan di hati ketiganya, namun semangat mereka mampu menutupi keresahan itu
hingga akhirnya dapat lenyap dari bayang-bayang mereka.
Ting.
Suara nyaring dari elevator
telah berbunyi. Lantai pesanan telah siap di hadapan mata mereka dengan
terbukanya pintu. Mereka begitu terkejut melihat hidangan yang tersaji. Tujuh
polisi formasi dua baris, telah meluruskan kedua lengan mereka sambil
menyodorkan sebuah pistol di masing-masing genggamannya.
“Jangan bergerak! Angkat
tangan kalian!” teriak salah seorang dari barisan terdepan.
“Apa tidak ada perintah lain
selain itu?” sahut Wergon yang kemudian langsung menarik tongkatnya, “Waktunya
bersenang-senang!”
Dengan berani, Wergon
berlari menantang ketujuh polisi tersebut.
Tidak mau kalah, Filhener
mengeluarkan kedua pistolnya, lalu dengan cepat menembakkannya ke arah
peluru-peluru yang mencoba menghalangi Wergon. Beberapa tembakannya juga
membidik ke arah genggaman pistol-pistol polisi tersebut, yang membuat empat di
antaranya terpental. Sementara yang lain dihipnotis oleh ketangkasan permainan
tongkat Wergon, yang membuat ketujuh polisi tersebut akhirnya jatuh tak
sadarkan diri.
Sejenak melihati sekitar.
Tidak ada karyawan hotel ataupun manusia lain selain ketujuh polisi yang sedang
tergeletak. Tanpa mengulur waktu, mereka berdua terus berlari menuju pintu
keluar, disusul oleh Migo yang membuntutinya.
“Menurutmu, di mana
orang-orang?” tanya Wergon dalam napas yang terengah-engah.
“Menurutmu, aku pengasuh
mereka?” jawab Filhener ketus, yang kemudian langkahnya berhenti saat berada
tepat di depan pintu.
Filhener mencoba membuka
pintu itu. Menarik dan mendorong, namun pintu tersebut tetap tidak bisa dibuka.
“Sial! Pintunya dikunci,”
ucap Filhener kesal.
“Apa?!” seru Migo panik,
“Kita terperangkap di sini?!”
“Pasti ada jalan lain,”
sambung Wergon optimis, seraya melangkah perlahan, sedikit menjauhi pintu,
sambil menoleh kanan kirinya, barangkali menemukan solusi dari permasalahan
tersebut. Tapi, kemudian….
“Oouuhhh, kenapa harus
berhadapan dengan teka-teki lagi?” kata Wergon seraya menjambak rambutnya
dengan kedua tangannya, “Tidak bisakah hanya ada satu cara dan itu berjalan
mulus? Kalau saja pintu itu tidak dibuat dengan kaca anti peluru, pasti sudah
ku….”
Dwweeerrrr pyyaaarrrrr.
Mendengarnya, Wergon dan
Migo langsung terperangah sambil memalingkan pandangannya ke sumber suara.
Terlihat serpihan kaca telah bertebaran di lantai, sekaligus ditangkupkannya
kembali pistol pada sarungnya di sisi kanan pinggul Filhener. Begitu juga
dengan Wergon, diapun menurunkan kedua tangannya dengan mulut yang masih terbuka
kecil.
“Lain kali kalau aku
mendengar ocehanmu lagi, tidak segan kusumpal mulutmu dengan pistolku!” ucap
Filhener kesal seraya melangkah keluar, menginjak pecahan-pecahan kaca hingga
mengeluarkan suara injakannya.
Mendengar ucapan tersebut,
Wergon langsung menampilkan wajah dongkolnya. Sementara Migo, dia segera
berlari menyusul Filhener yang sekitar dua meter sudah di depannya.
Lalu, terdengar suara sirene
mobil polisi yang sayup-sayup. Sejenak Filhener melihat sekitar tanpa
menghentikan langkahnya. Tapi, belum terlihat bayang-bayang akan penampakan
polisi. Selang beberapa detik kemudian, mobil polisi muncul berbondong-bondong
dari balik tikungan jalan searah. Filhener dan Migo langsung mempercepat
jalannya menuju mobil yang telah ditunggu oleh Rekshein yang sedang mengamati
mereka dari balik kaca pintu jok belakang. Sesampainya di mobil, Migo segera
masuk di jok belakang, duduk bersama Rekshein. Sementara Filhener, sejenak dia
berhenti saat baru membuka pintu mobil depan.
“Cepat, Wergon!” serunya.
Wergon terus berlari, hingga
akhirnya dia masuk mobil tak lama setelah Filhener menghidupkan mesinnya, yang
kemudian langsung menancap gas.
Aksi kebut-kebutan kembali
dimulai. Kali ini, mereka benar-benar dibuntuti oleh sekawanan mobil polisi.
Dengan kecekatannya, Filhener mencoba untuk mengelabuhi polisi-polisi itu
dengan melewati rintangan sulit kendaraan-kendaraan lain yang berlalu-lalang
dan tikungan-tikungan tajam. Namun, sepertinya para polisi itu pun tidak
sembarangan memilih pengemudinya. Mereka berhasil melewati semua trik yang
digunakan Filhener, walaupun ada satu dua juga yang menjadi korban. Wergon dan
Migo yang sempat menolehkan mukanya ke belakang melihat kecerdikan
polisi-polisi tersebut, hanya bisa menelan ludah.
“Mereka sangat tangguh, ya?”
gerutu Migo.
Sampai di simpang tiga,
tiba-tiba muncul lagi beberapa mobil polisi dari arah depan, yang seketika
membuat Filhener membanting setirnya ke sisi lain dan hal tersebut terus saja
terjadi setiap mereka menemui persimpangan. Filhener mulai dibuat kewalahan
dengan trik para polisi itu. Yang dapat dia lakukan hanyalah mencoba mengambil
peluang lain, sekalipun harus melewati lorong sempit, agar tidak tercegat oleh
mereka. Hingga mereka melewati jalan layang, mobil-mobil polisi masih saja
berjejeran membuntutinya. Sungguh suasana kota menjadi semakin ramai karena
aksi itu.
“Tidak. Bukan ini
rencananya! Kita menjauh dari perbatasan!” ujar Migo panik.
“Aku sedang berusaha!
Sepertinya, mereka ingin kita terperangkap di pelabuhan!” sahut Filhener ikut
merasa tegang.
“Kita harus memutar arah!
Aku tidak mau tertangkap di sini, Fil! Tidak ada rencana jika kita tertangkap
di sini!”
“Bisakah kau beri aku
kesempatan untuk berpikir sebentar?! Tenangkan dirimu! Kau pikir aku akan kalah
dengan mereka?!”
Migo mengambil dua napas
ketenangan sejenak, walaupun dalam hatinya masih penuh dengan kegelisahan.
“Jadi, kalian menantangku,
ya? Lihat saja siapa yang lebih pintar,” gumam Filhener yang kemudian langsung
membanting setirnya, mengambil dan mengikuti jalur arah lawan.
Filhener memulai aksi
barunya. Dia nekat menerobos celah sempit di antara dua kendaraan ataupun
pembatas jalan dengan kendaraan lain. Dan seperti biasa dalam aksi kebutannya,
dia selalu menerobol lampu merah. Mobilnya juga hampir terjungkir oleh
gesekan-gesekan keras itu, sampai-sampai harus kehilangan dua kaca spion,
bemper depan, dan belakang.
“Aku tidak mengerti, kenapa
jalanan kota masih saja ramai?” tanya Filhener dalam kefokusannya menyetir.
Namun, tidak terdengar
sedikit pun suara sahutan dari teman-temannya. Filhenerpun tidak
memedulikannya, lalu melupakannya seolah pertanyaan itu tidak pernah terucap
olehnya.
Tidak hanya sampai di situ,
Filhener juga menantang mobil-mobil polisi yang mencoba menghadangnya dengan
terus melaju kencang melawan mereka. Tapi, itu hanyalah taktik Filhener untuk
menarik kegentaran mereka, sehingga bisa mendapatkan sedikit celah di antara
mereka. Kedua bahu terangkat, gigi atas dan depan saling menekan keras, napas
sering tertahan, mata terbuka lebar-lebar, tidak bisa berkata apapun, begitulah
yang dialami Wergon, Migo, dan Rekshein selama aksinya tersebut.
Akhirnya perjuangan tersebut
membuahkan sedikit perasaan lega di hati mereka, ketika dapat melihat
perbatasan yang dihiasi mobil-mobil polisi yang diparkir berjejeran memenuhi
jalan garis perbatasan. Hanya tinggal melewati persimpangan terakhir, kemudian
mengambil jalan lurus, mereka akan mendapatkan tempat yang diimpikan.
“Sedikit lagi,” gumam
Filhener dengan tatapan yang fokus ke depan.
Tapi saat mendekati
persimpangan, keempatnya dikejutkan dengan kehadiran sebuah truk kontainer yang
muncul dari arah kanan. Merekapun semakin panik ketika truk tersebut langsung
berhenti dan memotong jalan mereka, sementara mobil dalam keadaan gas penuh.
“Rem! Rem! Rem! Reemm!” seru
Wergon tegang.
“Awas tabrakan!” sahut Migo
bersamaan dengan seruan Wergon, yang juga ikut tegang.
“Pegangan!” seru Filhener.
Tangan para penumpang
langsung menggerayang, mencari pegangan seadanya. Tanpa berpikir lama, entah
dengan pegangan pada lekukan dinding pintu mobil, bawah jok, atau pun pada
sandaran jok di depannya, mereka anggap itu sudah mampu menahan tubuh mereka
jika terjadi benturan.
Bunyi decitan roda terdengar
di sepanjang Filhener mulai menginjak remnya, beberapa detik setelah
mengucapkan seruannya itu. Tubuh semua penumpang menekan keras pada sandaran
jok dengan jantung yang berdetak kencang, kedua mata yang tak sanggup untuk
berkedip, dan pegangan tangan yang begitu keras dan kaku. Sekitar empat meter
dari badan truk, Filhenerpun langsung membanting setirnya ke kanan hingga mobil
tersebut memutar balik, dan akhirnya berhenti.
Mobil-mobil polisi ikut
berhenti mengepung mereka dan langsung keluar seraya menodongkan senjatanya ke
arah mobil buronan. Bahkan, ada salah seorang polisi yang menodongkan bazoka ke
arah mereka.
Wergon, Filhener, Migo, dan
Rekshein melihat pengepungan itu dengan napas yang terengah-engah. Bukan karena
kelelahan dengan apa yang telah mereka alami, tapi sebagai persiapan untuk
menghadapi tantangan selanjutnya.
“Yang benar saja,” ujar Migo
keheranan melihat polisi yang memegang bazoka, dengan napas yang masih
mengembus keras-keras, “Mereka pikir kita akan terbang, begitu?”
“Kuucapkan selamat. Mungkin
kita satu-satunya buronan yang disambut dengan bazoka,” ujar Wergon.
“Tidak. Kurasa, mereka
benar-benar marah pada kita,” lanjut Filhener.
Mereka berempat belum
sanggup untuk keluar, hanya bisa menatapi mereka dari balik kaca. Saat itu
juga, Earon bersama Lytro keluar dari balik kerumunan kawanannya. Earonpun
langsung menyuruh anak buahnya untuk segera menangkap mereka.
“Seret mereka keluar!”
katanya.
Dengan tetap menodongkan
senjata, beberapa polisi menghampiri empat sekawan. Sementara yang lain,
termasuk si pembawa bazoka tetap bersiaga di belakangnya.
Setelah polisi itu berhasil
memaksa para buronan keluar dengan kedua tangan yang telah diborgol di belakang
tubuh, raut muka Earon seketika berubah menjadi penuh kekecewaan.
“Kenapa? Kau tidak
melihatnya bersama kami?” ketus Wergon, “Kejutan! Kau tertipu lagi.”
Mendengar ucapan itu, apipun
menyala besar dalam hati Earon. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang dan
kemarahannya hanya sebatas dilampiaskan dengan kepalan kencang kedua tangannya.
“Periksa lagi mobil itu!”
perintahnya.
Tidak lama setelah perintah
itu dikumandangkan, salah seorang agen AKLA keluar dari mobil Migo.
“Kosong. Tidak ada siapa pun
lagi di sini,” katanya.
Seketika, wajah para agen
dan polisi begitu bingung dan kecewa, karena tidak berhasil menangkap mangsa
utama mereka.
“Dia pasti berhasil kabur
sebelum kita mengepungnya,” sahut Lytro.
“Hahahahaha....”
Semua wajah langsung
berpaling pada sumber suara tawa itu yang tidak lain adalah Wergon.
“Kau tahu, Migo? Ini adalah
bagian yang kusuka saat bisa melihat wajah memelas mereka,” lanjut Wergon.
Filhener dan Migo
mengerutkan keningnya mendengar sindiran Wergon tersebut.
“Diamlah, Wergon! Apa yang
kau lakukan?” ucap Filhener menggeram.
Wergon kemudian memalingkan
mukanya pada Filhener.
“Bukankah menjadi tugas kita
selanjutnya?”
Filhener berpikir sejenak.
Kemudian, kedua matanya langsung terbuka sedikit lebih lebar dengan mulut
menganga kecil, yang artinya dia mengerti maksud dari kelakuan Wergon tersebut.
Diapun memperlihatkan senyum liciknya pada Wergon.
“Jangan sesekali kalian
terpengaruh oleh sikap aneh mereka! Apapun yang mereka lakukan hanyalah untuk
mengakali kalian! Cepat, bawa mereka ke mobil!” kata Earon.
Dengan paksaan dan dorongan,
Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein langsung diseret ke sebuah mobil van
polisi, dikawal oleh empat-empat anggota polisi khusus. Dua memegang tangan
mereka, sementara dua lainnya menodongkan senjata ke tubuh mereka.
No comments:
Post a Comment