CHAPTER 14: PELARIAN

 

Hujan rintik-rintik telah jatuh di Shantman, sebuah wilayah yang dikenal sebagai pusat pendidikan di Losapins. Di tempat itu pula, berdiri sebuah bangunan yang menjadi persinggahan tiga serangkai setelah kabur dari pengadilan. Mereka telah memasuki pagar kampus Losapins, berjalan tergesa-gesa, menuju tempat penyimpanan barang penting mereka. Namun, langkahnya seketika terhenti, sesaat seorang gadis berambut ikal pendek dengan memakai baju tak berlengan dan rok mini, muncul dan berdiri di depan mereka, ketika masih berada di wilayah taman kampus.

“Hai, Tampan,” kata gadis itu dengan lagak rayunya.

Filhener yang berada di posisi terdekat dengan gadis itu, merasa berbangga diri dengan pujian tersebut.

“Terimakasih, Nona,” sahut Filhener.

Gadis itu justru langsung menunjukkan wajah kecutnya pada Filhener.

“Minggir kau, Orang aneh! Aku tidak bicara denganmu. Aku hanya terpesona pada si manis yang berdiri di belakangmu itu,” kata gadis itu seraya memalingkan pandangannya ke arah Jordan, yang diikuti pula oleh tolehan Wergon dan Filhener.

“Aku tidak menyangka. Ternyata, di balik wajah polosmu itu, tersimpan banyak rahasia licik,” lanjut gadis itu.

“Whoa, whoa. Tunggu dulu. Apa maksud pembicaraanmu itu?” sahut Wergon.

Gadis itu mendengkus.

“Sudahlah! Kau tidak perlu menyembunyikan itu lagi. Semua orang di kampus ini sudah tahu kalau kalian bertiga telah menjadi incaran AKLA. Aku benar-benar tidak menyangka kalau orang ingusan sepertimu bisa menjadi penjahat kelas teri,” jelas si gadis, yang kemudian mengalihkan tatapannya kembali pada Jordan sambil berkata, “Tapi untukmu dan hanya untukmu, aku bisa menyembunyikan dirimu di hatiku. Aku jamin, AKLA tidak akan pernah mampu menemukanmu, Sayang.”

Jordan melangkah pelan mendahului kedua temannya, lalu berdiri, dekat dengan gadis itu. Raut gadis itu malu-malu, ketika Jordan menatap mukanya dengan saksama.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” katanya sambil tersenyum sipu.

“Aku hanya berpikir kenapa kau tidak menyembunyikan tubuhmu saja. Jika kau tidak bisa menyembunyikan dirimu sendiri, bagaimana kau bisa menyembunyikan orang lain? Aku takut yang terjadi justru hatimu yang akan meledak karena tidak mampu melampiaskan seleraku.”

Filhener dan Wergon seketika mengumpat tawanya. Sementara Jordan, melanjutkan langkah kakinya, melewati gadis itu yang diam menahan marah setelah mendengar ucapan Jordan tersebut.

“Setelah kupikir lagi, kita memang terlalu banyak menghabiskan waktu di sini,” kata Filhener.

“Hahaha…, tidak juga. Aku malah menikmatinya. Jarang sekali ada orang yang mau menghibur kita saat situasi sulit seperti ini.”

“Apa maksudmu, Cengeng?!” sahut gadis itu kesal.

 “Heheheh. Lajjy, kuberitahu sesuatu. Kau adalah wanita pertama yang berani mengatakan itu langsung pada Jordan. Lihatlah dirimu! Jordan punya selera yang sangat tinggi. Tidak seperti pacarmu Migo yang sukanya mengganggu anak-anak! Selera macam apa itu?! Pantas saja dia langsung menerimamu!”

“Beraninya kau mengatakan itu di depanku!”

“Ya, aku berani! Dan silakan kau adukan itu pada pacarmu! Karena aku tidak perlu lagi menyembunyikan tongkatku untuk mematahkan lehernya!”

Lajjy begitu ngeri mendengarnya. Tapi kemarahannya yang dipendam, masih terlihat pada gigitan gigi-giginya yang menekan keras.

Filhener melihat kekesalan Wergon yang begitu serius diluapkannya melalui kata-kata tersebut. Sepertinya, selama ini Wergon selalu menahan perasaan itu setiap kali diganggu oleh Migo. Namun karena kini identitasnya sudah terbongkar, dia pun membebaskan kejengkelannya, walaupun baru di depan kekasih Migo.

Kemudian, Filhener menepuk punggung Wergon, yang mengisyaratkan bahwa mereka harus fokus kembali pada tujuan mereka sebenarnya. Wergon yang memahami tanda tersebut langsung melangkahkan kakinya bersama Filhener, untuk menyusul Jordan. Sementara Lajjy, dia merasa sangat malu dan jengkel dengan perlakuan yang baru saja terjadi. Diapun hanya bisa diam, meremas-remas bibir, sambil mengentakkan salah satu kakinya ke tanah, melihat kepergian tiga serangkai yang meninggalkannya begitu saja. Namun tidak lama setelah itu, ketegangan di tubuhnya mulai kendur. Raut kemurkaannya terperanjat menjadi raut kecemasan. Dia kemudian memandang ke bawah, melihati baju dan tubuhnya. Mungkin timbul ketakutan dalam pikirannya kalau apa yang dikatakan Jordan dan Wergon ada benarnya.

Akhirnya, Jordan, Filhener, dan Wergon berhasil melewati lorong kampus dengan aman. Terlihat Wergon sedang berusaha membuka kunci sebuah pintu ruangan. Dia terus memutar-mutar kunci itu, namun tidak juga berhasil terbuka.

“Bisakah kau cepat sedikit, Wergon?!” ujar Filhener yang merasa jengkel dengan situasi tersebut.

“Aku sedang berusaha, Riphoman!” sahut Wergon gemas, yang masih mengutak-atik kuncinya.

“Apa kau tidak sadar kita sudah terlalu lama melakukan ini?!”

“Bisakah kau membantuku dengan diam saja?!”

Filhener menggeram.

“Jordan, mungkin kau punya ide lain?” tanyanya.

“Polisi sudah ada di sini,” jawab Jordan sekejap.

“Eeaaa!” sahut Wergon terkejut dan ketakutan mendengarnya, yang seketika membuat kunci tersebut berhasil terbuka.

Kemudian, mereka langsung bergegas masuk dan kembali menutup pintu itu.

“Motivasi yang bagus, Jordan,” kata Filhener yang berdiri sambil bersandar pada pintu.

“Jadi maksudnya, itu hanya gurauan?” ujar Wergon yang juga bersandar pada pintu, tepi barisan paling dalam, di sisi Filhener.

“Itu bukan motivasi atau pun gurauan, tapi kenyataan,” jawab Jordan.

Wergon dan Filhener terperangah mendengarnya.

“Bagaimana kau bisa tahu itu?” tanya Wergon.

“Aku melihat mereka masuk ke gedung rektor, saat Lajjy mencegat kita.”

Mengetahui informasi tersebut, Wergon dan Filhener langsung beranjak mengumpulkan barang-barang dari loker masing-masing. Mereka bertiga dengan tergesa-gesa memasukkan beberapa alat yang sepertinya merupakan benda penemuan mereka, ke masing-masing ransel yang disampirkan di bahu, di depan dada. Setelah semuanya dirasa cukup, merekapun menutup kembali pintu lokernya dan cepat-cepat pergi dari ruangan yang berisi peralatan canggih tersebut. Namun saat Jordan hampir menutup pintu lokernya, pandangannya terlintas pada pajangan foto yang terisolasi di belakang pintu tersebut. Satu-satunya foto yang terpampang jelas dengan gambar lima pria yang tampak begitu dekat dan bahagia. Jordan berdiri di samping kanan Earon yang lebih tinggi darinya. Dia dirangkul oleh Earon di pundaknya, dengan tatapan mata dan senyum ceria keduanya yang tampak jelas diambil di depan kamera. Filhener menyilangkan kedua tangannya di dada, yang berdiri di antara Jordan dan Lytro. Sementara Wergon, dia berdiri di sisi kiri Earon sambil melambaikan tangan kanannya di depan kamera, dengan senyuman yang tampak gigi-giginya. Lalu, Lytro hanya terlihat senyum tawarnya dengan lirikan mata awas yang mengarah pada si kakak beradik.

Jordan terdiam menatapi foto itu. Dari sorotan matanya tampak bahwa dia sangat merindukan kenangan tersebut dan berharap semuanya kembali seperti dulu. Tapi sesaat kemudian, bibirnya mengerut penuh kekesalan. Dia langsung merampas foto itu, meremasnya hingga menjadi gumpalan tak berbentuk, lalu membuangnya begitu saja ke lantai. Melihat Wergon dan Filhener yang sudah menunggunya di dekat pintu ruangan, diapun membiarkan pintu lokernya dalam keadaan terbuka untuk bergegas menyusul mereka.

Wergon mengintip dari balik pintu, lalu menoleh ke kiri. Namun tiba-tiba, tubuhnya langsung tak bergerak begitu dia menoleh ke arah kanan. Filhener yang penasaran dengan apa yang terjadi pada si anak cengeng, menyusul untuk mengintipnya. Matanya pun seketika terbelalak pada sesuatu yang dilihatnya. Mulutnya menganga dengan napas yang tertahan. Tidak disangka, seorang polisi telah berdiri tepat di muka Wergon. Ternyata alasan itulah yang menyebabkan Wergon tidak berkutik sama sekali. Polisi yang melihat kehadiran Filhener, langsung merasa kaget, hingga diapun mengambil pistolnya dari sabuk dan mengarahkannya pada Filhener. Dengan cepat, Filhener menghantam pergelangan tangan polisi itu yang memegang pistol. Wergon pun turut membantu Filhener dengan menahan pergelangan tangan lain polisi tersebut, lalu memuntirnya ke belakang. Polisi itu mencoba berteriak memanggil rekan lainnya yang barangkali tidak jauh dari keberadaannya.

“Mereka ada di sini!”

Tapi, Jordan segera membungkamnya dengan jarum bius dari jam tangannya sebelum teriakan polisi tersebut terdengar oleh anggota yang lain, hingga polisi itupun tak sadarkan diri.

Dengan pelan, Wergon menyandarkan tubuh polisi itu ke dinding. Sejenak Jordan menoleh ke arah kamera pengintai yang dipasang di sudut langit-langit, lalu bergegas melangkah cepat bersama kedua temannya, meninggalkan tempat tersebut. Mereka begitu berhati-hati setiap menemui tikungan lorong kampus, berhenti sebentar dan melihat-lihat barangkali ada polisi yang telah menghadang jalan mereka. Beruntung, hal demikian tidak mungkin tidak terjadi di saat nama mereka menjadi terkenal di kalangan anggota keamanan Losapins. Beberapa polisi sering terlihat, berjalan sambil mencari sesuatu atau seseorang atau lebih tepatnya tiga bayangan bulan. Dengan saksama, mereka menatap setiap wajah mahasiswa yang melewatinya.

Di tengah ketegangan tiga serangkai untuk meloloskan diri dari kejaran polisi, mahasiswa yang lainnya pun turut menambah sensasi. Beberapa mahasiswa yang melihat tiga serangkai langsung terperangah. Ada juga yang melihatnya tanpa kesan apapun di raut wajah mereka, melewati tiga serangkai begitu saja seolah tidak mengenalnya. Mungkin merekalah yang bukan termasuk golongan penggosip, yang tidak mau mendengar hal-hal negatif di lingkungan kampusnya. Tapi, tidak sedikit pula yang setelah melihat kehadiran tiga serangkai, bergegas mencari polisi, atau langsung berteriak keras memberitahu keberadaan ketiganya, bahkan meminta tolong. Apa yang telah dilakukan hingga ada yang berteriak minta tolong. Berpapasan wajah saja tidak. Begitulah yang terlintas dalam benak Wergon dan Filhener. Sementara Jordan, walaupun banyak gangguan yang dapat menghancurkan mentalnya, dia berusaha untuk tetap fokus mencari jalan hingga bisa kembali ke pangkuan Avasone.

Akhirnya, mereka bertiga telah melangkah keluar dari pintu dan langsung berlari menuju halaman belakang kampus. Namun di tengah pelarian itu, tiba-tiba seorang anggota Migvor bersama kepala gengnya, menghadang ketiganya yang serentak menahan laju langkahnya. Sejenak kedua kelompok hanya terdiam dengan saling bertatapan muka, mencoba untuk membaca maksud batin mereka satu sama lain.

“Kalian butuh sekutu? Ikutlah denganku!” kata Migo.

Jordan, Wergon, dan Filhener terdiam heran dengan tawaran tersebut, hingga timbul keraguan dan kecurigaan terhadap Migo kalau-kalau dia hanya ingin menjebak mereka. Namun, mereka tidak punya pilihan lain dan menerima tawaran tersebut. Bersama, mereka melangkah cepat menuju pagar belakang area kampus.

“Aku tidak mengerti, kenapa kau malah membantu kami?” ujar Wergon dalam langkahnya, membuntuti Migo dan bawahannya.

“Orang sebodoh kalian bisa menjadi penjahat, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Seharusnya, yang mereka incar itu adalah aku. Akan kubuktikan pada polisi-polisi itu kalau aku bisa melakukannya jauh lebih baik dari kalian.”

Wergon dan Jordan saling bertatapan wajah.

“Kau tidak tahu masalah besar apa yang akan kau hadapi, Migo,” sahut Jordan.

“Untuk itulah aku ingin tahu masalah itu dari kalian.”

Merekapun melihat mobil Migo yang diparkir tak jauh dari gerbang belakang, merapat trotoar, yang sekaligus membuat Jordan, Wergon, dan Filhener bertanya-tanya dalam pikiran masing-masing, untuk apa mereka harus ikut ke mobil itu, sementara mereka sendiri punya mobil yang lebih hebat.

“Polisi itu pasti sudah mengenali mobil kalian. Kita akan menggunakan mobil ini untuk menghapus jejak sementara. Setidaknya, itu akan memberikan sedikit waktu untuk menyusun semacam rencana atau yang lainnya,” ujar Migo yang sekaligus menjawab pertanyaan dalam benak tiga serangkai.

“Ide yang tidak buruk,” sahut Filhener.

Kelimanya bergegas masuk ke mobil dan langsung menarik persneling.

Sementara nasib Earon bersama sekutunya yang terbius oleh sengatan Jordan, mereka semua akhirnya telah tersadar setelah kurang lebih satu jam tak bernapas, yang kemudian langsung diperiksa oleh petugas medis. Awalnya Earon tidak mau diperiksa dan berniat untuk segera pergi mengejar Jordan, namun karena tubuhnya masih lemah karena pertarungannya, diapun memutuskan untuk memulihkan tenaganya bersama tim medis.

Kabar mengenai kebrutalan tiga serangkai di pengadilan tersiar di setiap saluran televisi dan radio Losapins. Setiap rumah, perkantoran, rumah makan, bahkan rumah sakit yang memiliki media penyiaran, setiap menitnya membahas tentang kejadian itu tanpa jeda. Dalam siaran itu pula, kali ini, Jordan, Filhener, dan Wergon benar-benar dinobatkan sebagai penjahat buronan kelas atas. Untuk itu, bagi siapa pun yang melihatnya, mereka wajib melaporkannya pada polisi. Dan siapa pun yang berhasil mendapatkannya dalam keadaan hidup atau mati, mereka akan diberikan hadiah yang sangat besar.

Namun, walaupun Earon sudah memiliki bala masyarakat Losapins karena siaran tersebut, hatinya masih belum lega. Dia merasa kalau kelicikan Jordan tidak akan pernah ada yang mampu menghentikannya jika bukan dia sendiri yang melakukannya. Untuk itulah, diapun merencanakan sesuatu yang lain. Menjelang petang, dia menyempatkan diri untuk kembali ke rumah Vurpia yang hening. Sambil melangkah tertegun-tegun, dia memasuki setiap ruang yang remang-remang, melihati sekelilingnya, hingga terbayang kenangan saat keceriaan Vurpia masih menghiasi rumah itu. Di balik duka mendalam yang masih dirasakannya, terlukis senyuman kecil di wajahnya akan kenangan itu. Namun, Earon berusaha untuk tetap kuat dan melanjutkan tujuannya.

Begitu tiba di kamar tidur Vurpia, pandangannya langsung tertuju pada bunga aones yang diletakkan di pot di atas meja. Mahkota warna emasnya yang mempesona, telah mekar sempurna, dengan hiasan sebuah biji merah sebesar kelereng di tengahnya. Dia melangkahkan kakinya, mendekati bunga itu. Earon justru sangat terharu begitu mengamatinya, hingga matanya berkaca-kaca. Bisa-bisanya Vurpia masih menyimpan bunga pemberian pertamanya sampai-sampai bunga itu mendekati level bahaya, pikir Earon. Tapi, Earon segera menjauhkan angan-angan itu dan mengubahnya menjadi kekuatan baginya untuk membalaskan kematian kekasih tercintanya itu. Tanpa rasa takut dia mengambil bunga itu, lalu cepat-cepat pergi.

Hujan rintik-rintik berlangsung singkat, membuat Faisr terbang dengan bebas untuk melepas beban sejenak. Mengitari langit Losapins, hinggap dari atap ke atap, pohon ke pohon, selama berjam-jam. Tiba waktunya ketika kaki mungilnya hinggap di sebuah dahan pohon berdaun hijau lebat, yang berdiri di halaman samping sebuah rumah tak berpenghuni. Entah apa yang membuatnya memberanikan diri untuk datang ke tempat itu pasca surya tenggelam. Suasana rumah yang gelap dan sepi, membuat Faisr merinding ketika melihat cahaya merah menyala singkat dari balik lubang-lubang ventilasi rumah yang menghadap pohon tersebut. Untuk memenuhi rasa penasarannya, diapun mengepakkan kedua sayapnya, menerobos masuk dari ventilasi untuk melihat cahaya misterius itu. Tapi sebelum hal tersebut dilakukan, dia mengaktifkan kamera pengintai kecilnya terlebih dahulu, barangkali tuannya butuh sedikit hiburan dengan menikmati apa yang sedang dilihatnya.

Sementara di tengah persiapan Jordan dan kawanannya.

Beberapa bahan telah tersaji di atas meja yang penuh dengan serakan peralatan tiga serangkai. Jordan tampaknya sedang serius membuat sebuah ramuan. Di tengah redupnya cahaya ruangan, sorotan lampu meja menerangi setiap langkahnya dalam menimbang, menumbuk, maupun mencampurnya. Sesekali Jordan meliriki selembar kertas yang terlampir di sisinya, dengan jari-jari tangan yang merayap di atas tulisan, mengikuti alur peracikannya.

“Jordan, bisa ambilkan Kritty?!” seru Wergon yang terdengar dari ruang sebelah.

“Sebentar!” sahut Jordan yang tanggung melakukan campuran ramuannya.

Saat itu juga, lampu indikator monitor genggam Jordan yang tergeletak di depannya, menyala merah, yang menandakan ada rekaman yang sedang diaktifkan. Dia hanya melihatnya sekilas, lalu memalingkan pandangannya kembali pada mangkok racikannya. Raut mukanya tidak terlihat adanya keterkejutan, seolah-olah itu sudah menjadi hal yang biasa baginya. Mungkin itu juga menjadi salah satu bukti bahwa Faisr sudah sering kali menyalakan kameranya tanpa guna.

Kembali pada ketegangan Faisr.

“Sedikit lagi, tepat setelah mereka saling membunuh, bunga ini akan mengubah dunia menjadi jauh lebih indah. Kau memang cerdik, Vuklir. Sangat cerdik. Kau berhasil menghasut Jordan hingga akhirnya tidak ada lagi keyakinan dalam dirinya untuk Volan. Aku tidak menyangka Jordan bisa melakukan kejahatan sejauh itu, hahaha…!” ucap pemegang Pridiatick kegirangan.

“Apa itu artinya kita hanya akan diam menunggu?” kata Vuklir yang juga ikut senang.

“Cukup duduk manis dan biarkan para pemegang busur menyelesaikan urusan mereka terlebih dahulu.”

Vuklir terdiam memikirkan sesuatu yang membuat raut mukanya terperanjat gelisah.

“Tapi, bagaimana jika yang terbunuh hanya salah satu atau ada generasi baru dari pemegang busur setelahnya?”

Di sebuah ruangan dengan nyala lampu neon terang, wajan dan panci yang bergelantungan pada dindingnya, serta lemari es ukuran besar yang berdiri berimpit dengan tembok di sebelah jalan masuk, di belakang Filhener duduk yang bersebelahan dengan Wergon yang sedang menghadap sebuah benda yang masih tampak kabel-kabel tak beraturan di atas meja kayu persegi.

“Seperti itulah kakak Jordan. Aku yakin kau pun akan membenarkan perbuatan itu,” ucap Filhener yang masih meninggalkan cerita.

“Hei, Bung! Dengar! Aku memang jahat, tapi aku masih bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak,” ujar Migo dengan percaya diri, yang kemudian memudar menjadi kebimbangan sambil berkata, “Maksudku, di pihak Miguveer itu artinya di pihak yang benar, ‘kan?”

Wergon mengerutkan dagunya.

“Entah pihak mana yang salah, tapi yang kutahu pasti hanyalah, Jordan adalah keluarga kami,” katanya.

Suasana langsung hening. Semua pendengar terdiam memperhatikan Wergon.

“Walaupun dia yang paling muda di antara kami, tapi dia yang paling mengerti keadaan kami. Dia tidak mau menjadi beban kami, tapi dia selalu ikut menanggung beban kami. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya diriku tanpanya. Anak gelandangan yang akan selalu diinjak-injak, mungkin bisa jadi memutuskan untuk menjadi seorang perampok. Pada akhirnya, juga akan menjadi seorang penjahat. Tapi, aku lebih memilih untuk menjadi seorang penjahat bersama Jordan daripada menjadi orang baik yang samar.

Sekalipun aku mengemban tugas untuk melindungi Jordan seumur hidup, itu tidak akan pernah cukup untuk membalas semuanya. Dan untuk itulah, aku akan selalu bersamanya,” lanjut Wergon dengan air mata yang telah mengalirkan di salah satu pipinya.

Menyadari hal itu, Wergon langsung mengusap pipinya yang basah seraya berkata, “Owh, apa ini?”

“Kurasa, atapmu bocor, Migo,” lanjut Wergon sambil menghadapkan mukanya ke langit-langit.

Filhener diam termenung. Pandangannya berpaling ke bawah, memikirkan kembali semua ucapan Wergon tersebut. Dari tatapan mata gelisahnya, seolah dia ingin melepaskan sesuatu. Sesuatu yang sepertinya menjadi alasan adanya hawa ragu di sekitarnya, terlebih semenjak dia kabur dari pengadilan. Keraguan itulah yang menyebabkan dia bimbang ke mana harus melangkah.

Tapi tak lama setelah itu, dia menghela napas sambil memejamkan kedua matanya sejenak. Dia kembali membuka mata dan mengangkat mukanya dengan senyuman lebar yang terukir di raut wajahnya. Tampak sekali bahwa Filhener telah mendapatkan ketenteraman dan keyakinan dalam dirinya untuk mengambil jalan yang seharusnya diambil. Sepertinya, kabut keraguan yang menutupi hatinya kini telah lenyap.

“Kau benar-benar anak cengeng. Wergon,” kata Filhener yang masih tampak senyumannya.

Sejenak Wergon terdiam menatap Filhener.

“Hm! Ternyata ada yang lebih cengeng dari si anak cengeng,” sindir Wergon.

Filhener terdiam penasaran akan maksud perkataan Wergon tersebut.

Tanpa disadari, ternyata air mata telah membasahi kedua pipi Filhener. Filhenerpun langsung mengusapinya sambil berkata, “Tadi mataku habis kemasukan serangga. Rumahmu memang banyak serangganya, Migo.”

“Rumahku juga yang jadi korbannya,” gumam Migo.

Seketika, semua yang ada di ruangan tersebut langsung tertawa mendengarnya, termasuk Migo.

Jordan yang masih sendirian di mejanya, sepertinya tertarik untuk melihat monitor berlayar gelapnya. Dia menghentikan kegiatannya sejenak dengan si bumbu hitam. Namun, saat tangannya hendak menyentuh monitor itu, tiba-tiba terdengar jeritan orang tak bersabar.

“Jordan! Bisakah kau lebih cepat membawa pesananku?!”

Seketika itu juga, perhatian Jordan teralih untuk memenuhi keinginan Wergon terlebih dahulu. Dia langsung mengalihkan tangannya pada Kritty, lalu membawanya ke ruang dapur.

“Tak bisakah kau minta tolong pada orang yang sedang menganggur? Terlebih ada tiga orang di sini,” ujar Jordan agak kesal.

“Tidak ada yang menganggur di sini. Mereka juga sibuk mendengar ceritaku,” sahut Wergon.

Mendengar hal itu, Filhener langsung menyikut lengan Wergon, dengan ekspresi wajah ancaman.

“Aku hanya bercanda saja. Jangan diambil serius, Jordan. Maafkan aku,” kata Wergon sambil meringis di hadapan Jordan.

Jordan hanya bisa mengembuskan napas kuat dari mulutnya, sebagai bentuk pengontrolan diri terhadap perasaan dan pikirannya yang sedang bercampur aduk.

Suasana kembali tersorot pada ruangan bercahaya merah.

“Kalau begitu, sebelum yang lain menyadarinya, kupastikan tongkat ini sudah menaburkan benih perubahan. Setelah itu, manusia hanya akan memikirkan dirinya sendiri, menyelamatkan dirinya sendiri dari kengerian yang tidak bisa terhindarkan. Kalau sudah seperti itu, siapa yang akan mampu menumbuhkan rasa cinta dan kepercayaan?”

Sang pemegang tongkat berjalan melewati Vuklir, lalu berdiri membelakanginya.

 “Hm! Hati manusia memang mudah terombang-ambing oleh tipuan indra mereka. Mereka tidak pernah memikirkan ke mana arah dari kenyataan yang mereka lewati. Tapi, itulah yang kusukai dari sifat mereka.”

Mendengar penjelasan dari si pemegang tongkat, Vuklir merasa cukup tenang.

Lalu, sekilas pandangan si pemegang tongkat melewati Faisr yang sedang mengamati pembicaraan mereka, bertengger di atas benda kayu tinggi yang tidak begitu jelas bentuknya karena ruangan yang gelap, sementara cahaya merah hanya bersinar menutupi tubuh sang pemegang tongkat saja.

“Burung itu,” batin si pemegang tongkat Pridiatick, yang sepertinya sudah cukup mengenal Faisr.

Melihat tatapan mata tajam dan seram dari pemegang Pridiatick, Faisr langsung kabur ketakutan, melalui celah ventilasi. Sementara itu, sang pemegang tongkat Pridiatick hanya bersikap tenang, seolah-olah membiarkan Faisr pergi begitu saja dengan mengetahui rencananya itu. Tak lama setelahnya, dia membuka salah satu telapak tangannya, lantas keluarlah cahaya merah yang bergelombang di atas telapak tangannya itu hingga membentuk sesuatu yang menyerupai burung elang.

Faisr terus mengepakkan sayapnya dengan cepat. Tampak dari gerakan tubuhnya yang dipenuhi oleh ketegangan dan rasa takut. Dia berusaha untuk menjauh dari rumah itu dan pergi ke tempat keramaian yang barangkali dapat membuatnya sedikit merasa tenang. Tapi, tidak ketika ia melihat cahaya merah yang meluncur ke arahnya dari belakang. Pandangannya dari wujud cahaya itu semakin jelas, diiringi dengan semakin dekatnya kematian yang memburunya.

Jordan langsung kembali ke mejanya setelah dia menyerahkan Kritty pada Wergon. Lampu di monitor genggamnya masih berkedip. Dia masih punya rasa penasaran dengan yang dilakukan Faisr terhadap kameranya. Dalam keadaan masih berdiri, dia mengambil dan mengangkat monitor genggamnya itu. Lalu, dia menekan tombol sesuatu di samping badan monitor. Sebuah nama dari merek monitor genggam itu muncul di layar, yang artinya dia baru saja mengaktifkannya. Sensor adanya rekaman masih menyala seiring berjalannya proses booting.

Napas Faisr mulai terengah-engah. Dia terus mencoba untuk mengelabuhi si elang merah dengan terbang berliku-liku melewati tiang-tiang, pohon, maupun gedung-gedung. Dan usahanya tersebut sepertinya berhasil setelah tidak terlihat lagi si elang merah yang membuntutinya. Dia begitu kelelahan dan hendak mencari tenggeran untuk beristirahat sejenak. Namun di tengah niatnya itu, si elang merah tiba-tiba muncul dari arah depan yang seketika menyambarnya layaknya kilat, hingga akhirnya Faisr hancur bersamaan dengan lenyapnya cahaya merah.

Kedipan lampu merah di monitor genggam Jordan, mati saat menu di layar utama telah penuh. Seketika hati Jordan bergetar, merasakan adanya sesuatu yang tidak menyenangkan. Dia pun belum sempat melihat apa yang sebenarnya sedang direkam oleh Faisr. Tidak lama setelah itu, terlihat cahaya lampu polisi dari luar yang terpantul melewati jendela kaca ruangan tersebut. Pandangan Jordan yang mulanya menatapi layar monitor genggamnya, beralih ke arah datangnya sinar tersebut. Setelah meletakkan kembali monitor genggamnya di atas meja, dia berjalan mendekati jendela, lalu mengintipnya dari balik gorden. Dia melihat mobil polisi itu berhenti di depan sebuah rumah, dengan lampu mobil yang telah dimatikan. Tampak seorang pria tua berambut putih yang sedang mengobrol dengan dua orang polisi yang keluar dari mobil polisi tersebut. Si pria tua kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke jendela rumah, tepat di tempat Jordan berdiri mengintipnya. Dengan segera, Jordan langsung menutup kembali gordennya, barangkali mereka melihat apa yang sedang dilakukannya.

“Ada apa, Jordan?” tanya Filhener yang melihat wajah tegang Jordan yang masih berdiri di dekat jendela.

Dengan sikap tergesa-gesa, Jordan melangkah kembali ke meja, seraya berkata “Kita harus cepat pergi dari sini dan melakukan rencana selanjutnya.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Wergon yang berdiri di belakang Filhener, sambil membawa Kritty di tangan kirinya.

Sejenak Jordan menghentikan penataan barang-barangnya yang ada di atas meja, lalu menatap keempat temannya yang sedang dilanda kegelisahaan.

“Polisi sudah di luar, menemukan kita. Kita tidak akan punya tempat lagi untuk bersantai. Untuk itulah, kita akan melakukan rencana itu, malam ini juga,” kata Jordan.

“Tapi, itu tidak mungkin. Aku baru menyelesaikan beberapa saja. Maksudku, baru satu yang benar-benar sudah selesai,” sahut Wergon sambil menunjukkan Kritty pada Jordan.

“Kita tidak butuh semuanya. Cukup Kritty, itu akan menarik perhatiannya,” ujar Jordan.

“Itu gila! Kalau seperti itu, aku tidak mau ikut dengan kalian!” keluh Migo yang berdiri bersama salah satu anggota gengnya, Filhener, dan Wergon.

“Migo benar. Itu terlalu berbahaya, Jordan. Kita bisa pergi ke perbatasan. Di sana, jarang ada orang yang mengetahui kita. Atau sekalian kita pergi ke desa Wesnoreast. Kita selesaikan peralatan kita dulu, Jordan. Tanpa peralatan ini, nyawa kita semua bisa terancam. Kita tidak punya senjata apapun untuk melawan mereka,” jelas Filhener.

“Untuk kali ini, Jordan. Tolong, penuhi usulan kami ini,” lanjut Wergon.

Suasana terasa hening sejenak. Wergon, Filhener, dan dua anggota Migvor menunggu keputusan Jordan, dengan penuh kerisauan. Jordan menghela napasnya dan berkata dengan tenang, “Kita tidak bisa pergi ke perbatasan. Polisi pasti sudah menunggu kita di garis kota. Dengan Kritty, tidak akan terjadi apapun dengan kalian.”

“Bagaimana bisa? Sekalipun kau berhasil membunuh Volan, bagaimana cara kita keluar dari yang lain? Itu sama saja bunuh diri,” sahut Wergon.

Jordan tersenyum singkat.

“Tapi kenyataannya, kalian pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kita telah terbukti bersalah. Hukuman berat pasti di pihak kita,” jelas Jordan, “Baik. Kali ini aku yang akan ikut dengan kalian. Tapi, aku tidak punya rencana bagus apapun jika harus menunggu sampai semua senjatanya selesai. Aku harap kita pun punya banyak waktu untuk menyelesaikannya.”

Semua pemirsa menampilkan raut wajah bingung dan resah.

“Di satu sisi, senjata kita lengkap, bahkan tidak akan ada yang mampu mengalahkannya. Di sisi lain, ada rencanaku, dengan senjata seadanya,” lanjut Jordan, “Sekarang, keputusan ada di tangan kalian. Kuyakin, kalian juga cukup cerdik untuk memilihnya, jadi aku tidak akan berkomentar sedikit pun.”

Wergon, Filhener, dan Migo saling bertatapan muka, begitu bingung dan berat dengan keputusan yang nantinya harus mereka ambil. Jordan yang melihat raut muka teman-temannya justru mengumpat geli, walaupun tidak terlalu tampak di wajahnya.

“Kuperingatkan kalau para polisi di luar sana sudah mengantri untuk mendobrak pintu,” jelas Jordan.

“Aku ikut Jordan!” seru salah satu anggota geng Migvor tiba-tiba.

“Diam kau, Rekshein! Kau tidak tahu kami sedang berpikir?!” pekik Migo.

Semua justru langsung menatap Migo karena pekikannya itu, takut jika polisi mendengarnya. Wajah Migo seketika langsung diam.

“Rekshein? Jadi, itu namanya?” kata Filhener, “Semoga namanya itu manjur di balik wajah bodohnya.”

“Sudah! Ini bukan waktunya bercanda! Membuat kepalaku semakin pusing saja!” hardik Wergon.

“Jadi?” tanya Jordan.

“Aku pilih senjata,” jawab Wergon.

“Aku juga,” sambung Filhener.

“A, aku… juga, Miguveer,” sahut Migo agak ragu.

Jordan hanya bisa diam menerima keputusan tersebut. Namun sesungguhnya, dibalik kebisuannya itu tersimpan kekecewaan yang sangat mendalam terhadap keputusan teman-temannya itu.

Tiba-tiba, terdengar suara gedoran pintu sekali. Jordan beserta kawan-kawannya langsung memalingkan mukanya ke sumber suara, dengan jantung yang berdebar keras, hingga secara tidak sadar mereka juga mengumpat napasnya sejenak.

Kemudian untuk gedoran yang kedua, pintu tersebut berhasil dibobol hingga membanting dinding tepi pintu saat terbuka. Beberapa anggota polisi langsung masuk seraya menodongkan masing-masing senjata mereka. Ruangan terlihat gelap dan sepi. Tidak ada sedikit pun gerakan bayangan yang terlihat karena sorotan lampu senter mereka. Yang terlihat hanyalah peralatan yang berserakan di atas meja.

Lytro muncul dari belakang. Dia kemudian mendekati meja tersebut, sementara yang lain memberikan penerangan kepada Lytro. Lytro begitu mengamati setiap benda yang diambilnya dari atas meja. Dia juga melihat mangkok-mangkok kecil serta alu yang tergeletak di salah satu mangkok tersebut, masih terlihat basah dengan bekas racikan berwarna hitam. Pasti mereka belum lama perginya, pikir Lytro. Dengan menggunakan bahasa isyarat, diapun meminta beberapa anggota polisi untuk memeriksa setiap ruangan di rumah itu, sementara beberapa yang lain mengamankan bagian luar. Lytro masih menyelidiki benda-benda di atas meja. Tidak lama setelah itu, dahinya mengerut ketika melihat sebuah monitor genggam tergeletak di antara peralatan tersebut. Dia mengambil monitor genggam yang ter-stand by itu, menyalakannya, lalu membuka-buka file, barangkali ada sesuatu yang dapat dijadikan informasi menarik.

Sementara saat semua anggota polisi masih disibukkan dengan kondisi dalam rumah, Jordan dan teman-temannya langsung berjalan cepat menuju mobil Migo yang diparkir di tepi jalan, lewat halaman belakang. Beruntung, suasana yang gelap karena bayangan tanaman-tanaman tinggi dan pepohonan, cukup melapangkan pergerakan mereka, terlebih tidak adanya polisi yang berjaga di sana.

“Aku tidak mengerti, kenapa mereka hanya menggerombol lewat pintu depan saja?” tanya Wergon dalam langkahnya.

“Jumlah mereka sedikit. Pasti mereka harus membagi tugas di tempat lain. Berita itu, membuat banyak orang tertarik dengan hadiahnya sampai-sampai memberitahukan informasi palsu tentang keberadaan kita. Kurasa, polisi-polisi itu sudah berkali-kali kena tipu, hingga akhirnya mereka pun jemu dan melalaikan kemungkinan yang bisa terjadi seperti saat ini,” jelas Jordan.

Migo yang mendengar penjelasan Jordan tersebut, hanya bisa diam terpinga.

“Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu?” tanya Migo lirih kepada Filhener.

Filhener tersenyum sambil berkata, “Sebentar lagi kau juga akan tahu seperti apa Jordan sebenarnya.”

Tidak lama kemudian, muncul dua orang polisi dari balik sudut belakang rumah penyergapan. Wergon yang mengetahuinya langsung mengangkat kedua bahunya yang merapat dengan badan.

“Ada polisi…i…i…,” katanya seraya melangkahkan kakinya lebih cepat, mendahului Jordan, Filhener, Migo, dan Rekshein.

 “Siapa di sana?!” seru salah seorang polisi yang melihat kelimanya sedang berjalan di bawah bayangan pohon halaman.

“Jangan menoleh!” ucap Jordan lirih kepada Migo dan Rekshein yang hampir membalikkan pandangannya, “Teruslah berjalan!”

Anggota tiga serangkai dan Migvor pun tidak menggubris seruan polisi tersebut. Mereka justru mempercepat laju kakinya, hingga menimbulkan kecurigaan pada dua polisi itu.

 “Tunggu! Kalian berlima! Berhenti di sana!” seru polisi itu lagi, dengan tangan yang telah siap memegang pistol di sabuk pinggangnya.

Lima sekawan tidak peduli dengan gertakan itu. Mereka langsung berlari ke mobil yang tidak jauh lagi dari keberadaannya. Sementara dua polisi itupun langsung menarik pistol dari sarungnya, tapi tidak sampai menarik pelatuknya, karena mungkin saja kelimanya bukanlah manusia incaran mereka. Sambil menodongkan pistol, para polisi itu ikut berlari mengejar mereka. Hingga saat kelimanya akan bergegas masuk ke sebuah mobil versi lama, dengan cat warna abu-abu yang terlihat kusam dan beretak-retak, dan beberapa titik badan mobil yang sudah peok, sejenak Jordan berhenti sambil berdiri di dekat pintu belakang mobil yang terbuka. Dia memalingkan mukanya sepintas pada sepasang polisi itu yang berjarak sekitar dua puluh lima meter mendekatinya. Dengan sorotan lampu jalan yang berdiri tegak, tepat di atas mobil itu, wajah Jordan pun terlihat jelas oleh kedua polisi sampai-sampai menghentikan langkah mereka yang hanya bisa bengong menatapnya. Seperti halnya seseorang yang melihat mata sang singa mengarah padanya, seperti itu juga yang dirasakan oleh dua polisi itu saat melihat rajanya penjahat. Melihat kepatungan dua polisi itu, Jordanpun cepat-cepat masuk ke mobil. Namun sesaat setelah pintunya ditutup, Jordan begitu terkejut melihat Filhener ternyata duduk satu jok dengannya, mengapit Rekshein, dekat sisi pintu belakang yang lain.

“Kenapa kau di sini, Fil?” tanya Jordan yang melihat ketegangan Filhener dengan napas yang masih mengembus keras-keras.

“Aku gugup. Aku tak peduli di mana pun diriku,” jawab Filhener dengan tatapan mata ke depan yang tidak fokus.

Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dengan mobil yang bergetar. Siapa gerangan yang telah menyalakan mesin mobilnya, sementara si pembalap duduk di jok belakang, pikir Jordan.

Baru saja Jordan memiringkan kepalanya untuk mengintip si pengemudi di depannya, teriakan kegirangan menyambut suasana yang justru membuatnya semakin tidak keruan.

“Tancap gas!!!” seru Wergon yang langsung menginjak gasnya, membuat semua penumpang langsung tersentak kaget sampai-sampai tubuhnya menekan keras ke sandaran jok.

Sementara para polisi yang masih berdiri termenung, hanya bisa memandang mobil tersangka lari begitu saja. Tidak lama kemudian, salah satu mengeluarkan walkie-talkie-nya untuk menghubungi rekannya yang lain.

“Mereka. Mereka kabur,” ucapnya gugup dengan pikiran yang masih terbawa tegang.

Lytro terlihat begitu serius menonton sesuatu pada monitor genggam milik Jordan. Namun di tengah perhatiannya itu, tiba-tiba tiga polisi langsung muncul terbirit-birit dari dapur dengan napas yang terengah-engah. Mereka langsung berlari mendekati Lytro, seperti habis melihat penampakan yang mengerikan. Melihat tingkah mengagetkan itu, Lytropun langsung melontarkan pertanyaan atas rasa penasarannya.

“Ada apa?” tanya Lytro bingung.

Salah satu dari polisi itu menjawabnya dengan napas yang masih mengembus keras-keras, “Jordan dan teman-temannya ada di sini. Mereka berhasil kabur.”

Serentak Lytro diikuti oleh tiga polisi tersebut, segera lari keluar untuk mengejar tiga serangkai. Sampai di teras depan, tanpa menghentikan langkahnya, Lytro melihat dua anggota polisi lainnya berlari menyusulnya dari halaman belakang. Mereka begitu cepat-cepat masuk mobil dan langsung menancap gas. Salah satu dari anggota polisi yang menyaksikan kaburnya tiga bayangan bulan, duduk di samping Lytro yang mengemudikan mobil polisinya.

“Seperti apa mobilnya?” tanya Lytro sambil fokus mengamati jalan di depan.

“Terjelek di jalanan. Kau akan tahu sendiri. Bernomor 4114P,” jawab rekan polisinya.

Lytro hanya diam, mengerti dengan jawaban tersebut. Sementara rekan lainnya berusaha untuk memanggil bala bantuan yang mungkin saja berpapasan atau melihat si kancil hitam.

Mobil yang dikendarai Wergon bagaikan banteng yang kehilangan kendali. Menyerobot ke jalur lawan hingga banyak kendaraan yang kewalahan menghadapinya. Semua penumpang, termasuk sopirnya, mengalami ketegangan tingkat tinggi, dengan tatapan mata yang terbelalak ke depan, takut jika banyak korban berjatuhan karena ulah Wergon tersebut.

“Sabuk pengaman. Sabuk pengaman. Sabuk pengaman,” ucap Filhener dengan tubuh kaku.

Namun, sepertinya hal berbeda dirasakan oleh Rekshein. Dia satu-satunya penumpang yang justru sangat menikmati situasi tersebut.

“Wuuuiiiihhh…,” katanya dengan senyum wajah bodohnya.

Ada banyak kendaraan yang terserempet, tapi lebih banyak kendaraan yang terkena hantaman moncong mobilnya. Bahkan sering kali, Wergon hampir menabrak orang-orang yang mau menyeberang di jalanan, melanggar lalu lintas, dan sekali terdengar suara pekikan seekor anjing saat melalui jalan pintas alias lorong sempit.

Selama aksi ugal-ugalan tersebut, belum ada satu pun polisi yang terlihat membuntutinya. Hingga akhirnya, mobil Migo melewati suatu tempat yang sepi dari keberadaan orang-orang yang berlalu-lalang. Sebuah jalan gelap nan kotor yang kanan kirinya terparkir tong-tong sampah.

Tampak di depan telah berhenti sebuah bayangan mobil hitam, tapi Wergon tidak langsung menghentikan lajunya pada bayangan itu. Kecepatan mobil yang nakal tidak berkurang dan semakin mendekati bayangan itu. Sepertinya Wergon juga siap untuk menghantam siapa pun yang berniat menghalanginya.

Tiba-tiba, terdengar suara panjang dari decitan ban mobil. Tubuh semua penumpang langsung terlempar ke depan, yang sekaligus mengakhiri jabatan Wergon sebagai sopir mobil malam itu. Migo segera membuka pintu dan keluar dengan sangat tergesa-gesa. Dia berdiri di dekat tong sampah sambil membungkukkan badannya. Suara muntahan Migo terdengar di sepanjang lorong gelap yang sepi tersebut.

“Aku harap yang lain baik-baik saja,” ucap Wergon gelisah yang masih terbawa tegang.

Filhener awalnya hanya diam dengan wajah pucat sambil memegang perutnya. Setelah melihat Migo yang sepertinya memang itu jalan singkat untuk dibebaskan, Filhenerpun ikut keluar menyusul Migo, muntah sepuasnya di belakang mobil. Sementara Rekshein, dia tidak perlu menjadi pusat perhatian. Senyuman yang tampak bersama gigi-giginya menandakan bahwa dia baik-baik saja. Kemudian Jordan hanya bisa menyandarkan sisi badannya ke pintu. Wajahnya begitu pucat dan lemas. Salah satu tangan menopang kepala, sementara tangan yang lain memegang perut. Berbeda dengan Migo dan Filhener, tampaknya Jordan lebih memilih untuk membebaskan rasa mualnya dengan ketenangan.

Melihat sikap teman-temannya tersebut.

“Tendang aku jika duduk di depan kemudi lagi,” kata Wergon.

Bulan sabit tampak mengintip dari balik awan dengan cahayanya yang suram. Udara malam yang dingin berembus cukup kencang, membawa suara-suara derum di tengah kekosongan tanah perbatasan. Lain keadaan dengan suara sirene polisi yang datang dan pergi, terus terdengar meramaikan jalanan kota, meningkatkan kewaspadaan lima sekawan yang kondisinya mulai membaik.

Jordan berdiri di depan Avasone, sementara empat lainnya berjejer di depan mobil Migo.

“Aku percayakan tugas itu pada kalian,” pinta Jordan seraya memegang salah satu pundak Wergon.

“Berjanjilah kau akan kembali, Jordan. Jika bukan kau yang menyelamatkan kami, siapa lagi yang bisa melakukannya,” sahut Filhener cemas.

Jordan tersenyum tipis.

“Tentu. Aku pasti kembali,” jawab Jordan, “Pergilah! Jika itu tidak berhasil padanya, maka kusarankan kalian berdua untuk tetap bersama. Jangan biarkan kebencian dan kecemburuan tumbuh di hati kalian.”

Wergon dan Filhener yang berdiri berdampingan, hanya bisa diam saling menatap muka setelah mendengar ucapan Jordan tersebut.

“Volan harus dibunuh. Itu satu-satunya jalan untuk mengakhiri semua ini,” lanjut Jordan.

Angin malam yang berembus di setiap celah kota begitu dingin. Sedingin hati masyarakat yang tidak peduli lagi terhadap sekitarnya. Mereka berjalan melewati setiap detik kehidupan hanya untuk memikirkan keadaannya sendiri. Egois, begitulah yang lebih nyaman mereka lakukan. Malam di Losapins saat itu memang tidak seperti malam biasa. Keadaannya lebih ramai, sekalipun hampir mendekati jam tengah malam. Tentu saja, karena layar reklame dengan tulisan berjalan “Malam Hari Jadi Losapins ke-59” terpampang jelas di tiang besar tengah kota tersebut. Namun, perayaan yang terjadi bukanlah suatu kehangatan kebersamaan yang mereka inginkan. Walaupun begitu banyak orang yang berlalu-lalang, mereka lebih memilih menikmatinya dengan duduk di kursi taman, jalan-jalan, makan atau minum seorang diri. Sekalipun menemukan teman bicara yang tak dikenal, tapi hati tetap terasa sendiri. Dunia serasa sepi tanpa orang yang mereka harapkan berada dekat di samping mereka. Karena kebanyakan dari mereka yang melakukan perayaan itu, merupakan korban dari keegoisan yang lain. Meninggalkan anak, saudara, keluarga, dan temannya-temannya tidak seburuk kehilangan waktu untuk menyelesaikan laporan akhir bulan, tugas kuliah, atau kepentingan lain yang telah mengikat mereka.

Terlihat seorang gadis kecil berumur sekitar enam tahun dengan rambut pirang terurai sampai ke pinggang, berjalan santai mengikuti arah keluar gedung pencakar langit, sambil menjilati es krim kerucut rasa coklat. Tidak ada seorang pun yang menemani atau mengawasi gadis tersebut, bahkan tidak juga dengan orang tuanya. Hal itu bisa menjadi kesempatan besar bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk memanfaatkan situasi anak tersebut. Dan itu memang benar terjadi.

Sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya, yang seketika ikut menghentikan langkah gadis itu. Terlihat dua orang, masing-masing membuka pintu mobil satu sisi depan dan belakang, menurunkan kakinya, lalu berdiri di depan si gadis kecil, sambil mengenakan jubah hitam. Gadis itu mengangkat pandangannya, mencoba melihat muka dua orang itu yang tertutup oleh bayangan dari kain penutup kepala. Kemudian, salah satu dari mereka menganjurkan sebuah boneka cantik pada gadis itu. Gadis itupun langsung tersenyum ramah melihat si boneka Kritty dan mengangkat mukanya lagi pada si pembawa boneka. Mungkinkah boneka itu untuknya, pikir si gadis kecil. Melihat tatapan mata si gadis, orang itupun menganjurkan kepalanya hendak membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. Setelah terlihat beberapa gerakan bibir dari si pembawa boneka, gadis itu tetap tersenyum, menganggukkan kepalanya sambil menerima bonekanya. Orang itupun kembali menegakkan tubuhnya.

Si gadis kemudian membalikkan arah langkahnya. Sambil membawa Kritty dan menikmati santapan es krim yang tinggal sedikit, dengan santai dia berjalan menuju pintu masuk gedung pencakar langit itu.

“Kalian yakin ini akan berhasil?” tanya Migo dari dalam mobil, duduk di jok belakang.

Muka kedua orang itupun tampak ketika mereka mengangkat dagunya, hingga cahaya kotapun menyinari wajah mereka. Keduanya tidak lain adalah Wergon dan Filhener.

“Kami tidak pernah gagal selama itu dalam rencana Jordan,” jawab Filhener agak cemas dengan pandangan yang memperhatikan langkah gadis kecil itu.

Migo terdiam sejenak setelah mendengar jawaban tersebut.

“Memangnya siapa Miguveer? Kenapa kalian begitu yakin dengannya? Dia hanya seorang manusia. Rencananya bisa saja gagal. Rencana macam apa yang mencoba menghancurkan kota dan membunuh salah seorang agen Losapins? Aku, aku benar-benar tidak percaya kalian sering melakukan kegilaan ini,” sahut Migo dengan hati penuh kebimbangan, “Sungguh ironis, kini aku tak berdaya di depan kalian. Heh! Kalian tentu saja bisa membunuhku di saat aku pernah mengganggu kalian, ‘kan?”

Pandangan Filhener dan Wergon seketika teralih pada ocehan Migo. Mereka berdua melirikkan matanya ke belakang, tapi tidak sampai menolehnya, dengan diam dan bingung.

“Ooh, kenyataan apa yang sedang kuhadapi?” lanjut Migo seraya meremas kepalanya dengan kedua tangan, “Ini pasti hanya mimpi. Tapi, kenapa aku juga merasa takut? Bangunlah! Bangunlah! Aku hanya ada di alam mimpi. Tidak mungkin tiga orang aneh ini bisa melampaui keunggulanku.”

“Dia pasti sedang mengigau,” kata Filhener.

“Mungkin efek mabuknya belum menghilang,” sahut Wergon yang justru mencemaskan kondisi Migo.

Filhener menghela napas.

“Tidak lama lagi kita ketambahan masalah,” ujarnya seraya memalingkan pandangannya kembali pada si gadis kecil yang telah melewati depan meja resepsionis, yang terlihat dari balik dinding-dinding kaca.

Suasana tersorot kembali pada aksi si gadis kecil. Dia sudah melangkah mendekati sebuah lingkaran rak besar yang berisi pajangan bermacam-macam boneka. Rak itu diletakkan di tengah aula besar lantai satu gedung itu. Setelah meletakkan boneka yang dibawanya ke sela tempat rak yang masih muat, gadis itupun menghampiri salah seorang wanita yang berdiri tak jauh darinya, lalu menarik-narik bajunya. Wanita itu langsung membungkukkan badannya mengikuti tinggi si gadis kecil. Gadis kecil itu kemudian membisikkan sesuatu di telinga wanita muda itu, yang seketika menjadikan senyum wanita itu terperanjat tegang. Tidak peduli dengan keadaan selanjutnya, gadis itu langsung pergi meninggalkannya.

Terlihat seorang teman yang berdiri di sisi wanita itu, penasaran dengan perubahan mimik wajahnya. Ketika wanita itu kembali menegakkan tubuhnya, temannya pun langsung menyentuh bahunya.

“Ada apa?” tanyanya gelisah.

Wanita itu mengedip-kedipkan matanya sejenak.

“Tidak ada,” ucapnya dengan sorotan mata tegang dan bingung.

Si gadis kecil melangkah keluar gedung, bersamaan dengan orang-orang yang mempunyai urusan untuk keluar juga. Melihat situasi tersebut,Wergon dan Filhener yang mukanya tertutup lagi oleh bayangan tudung kepala, tidak berkomentar apapun, dan langsung kembali masuk ke mobil.

Sementara itu, beberapa mobil polisi telah terparkir acak di area halaman gedung kepolisian. Banyak agen dan polisi yang mondar-mandir ke sana kemari, mencoba menempatkan posisi yang tepat pada kasus mereka kali ini. Begitu juga dengan Lytro yang melangkah cepat di tengah kerumunan sambil mengangkat-angkat kepalanya. Sepertinya, dia sedang mencari seseorang atau mungkin menghampiri seseorang yang dia cari.

“Dari mana saja kau?” ujar Lytro seraya menepuk salah satu bahu rekannya dari belakang.

Rekannya langsung membalikkan pandangan ke arahnya.

“Dari tadi aku mencarimu,” lanjut Lytro, “Kau tiba-tiba menghilang saat orang-orang membutuhkanmu.”

“Seharusnya, aku yang bertanya padamu. Begitu banyak polisi di kota, lalu kenapa tak satu pun dari kalian yang berhasil menemukannya?!” sahut Earon kesal.

“Bisakah kau sedikit tenang? Menjadi kebiasaanmu cepat marah jika tentang adikmu. Lagipula, aku mendapatkan sesuatu yang mungkin bisa membuatmu bingung. Jadi, aku butuh ketenanganmu.”

Earon menghela napas.

“Dengar! Aku tidak pernah punya adik. Jangan semakin memancing emosiku dengan mengatakan kalau dia adalah adikku.”

Lytro hanya bisa diam.

“Katakan! Apa yang kau dapat?” tanya Earon dengan nada tenang.

Lytro masih terdiam memperhatikan Earon, seolah memikirkan sesuatu.

“Sebenarnya, tidak ada. Aku hanya ingin bertanya padamu.”

“Kau sudah banyak membuang waktuku. Cepat! Apa yang ingin kau tanyakan?”

Sejenak Lytro berpikir lagi.

“Apa kau merasakan keanehan yang terjadi padamu? Atau mungkin kau meragukan semua ini? Maksudku, bagaimana kalau semua ini ada hubungannya dengan orang yang begitu membencimu dan berniat merusak hidupmu?”

Earon mengerutkan keningnya, bingung dengan pertanyaan tersebut.

“Tidak ada yang aneh. Tidak ada keraguan. Untuk itulah, aku harus menghukum Jordan.”

Suasana terasa hening sejenak. Dalam keheningan itu, Earon dan Lytro saling bertatap mata, seakan-akan mencoba melihat kebenaran yang sedang dialami satu sama lain. Lalu, Lytro mengembuskan napas dalam-dalam.

“Kau benar. Kurasa, itu satu-satunya jalan untuk mengakhiri semua ini,” katanya dalam kecemasan.

Earon melihat kebimbangan yang terlihat di mata Lytro. Diapun mendekat dan memegang pundak Lytro.

“Dengar, Kawan! Aku tidak akan pernah membiarkan Jordan merasuki pikiranmu lagi. Kau lihat! Kita sampai di sini karena ulah Jordan. Dan kau pun melihat sendiri, dia menyerang kita di pengadilan. Terlebih serangan itu benar-benar sudah dia rencanakan. Bukankah itu artinya dia orang yang sangat licik. Dia merencanakan pembunuhan Vurpia. Dia merencanakan semuanya dengan sangat rapi, hingga orang-orang meragukan semua itu. Kalau dia memang tidak bersalah, tidak seharusnya dia terus mencoba melarikan diri. Bukan begitu?”

Lytro merenungkan kembali perkataan Earon tersebut. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam yang mengubah raut mukanya menjadi wajah penuh keyakinan.

“Ayo, kita selesaikan misi ini!” ucap Lytro.

Malam semakin menjadi suram dengan langit yang tiada cahaya bulan. Puncak perayaan disambut dengan letupan-letupan kembang api berwarna-warni yang menghiasi langit Losapins. Orang-orang langsung mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi untuk melihat kesemarakan itu. Beberapa menyambutnya dengan senyum ke atas, tapi tidak sedikit pula yang menyambutnya dengan senyum ke bawah.

Beberapa detik setelah hiasan kembang api lenyap di udara, tiba-tiba terdengar suara ledakan bom yang sangat dahsyat. Masyarakat yang melihat dan mendengar, seketika panik dan menjerit histeris. Mereka langsung menelungkup sambil berlari, takut jika sisa-sisa ledakan sampai menimpa mereka. Dalam sekejap, ledakan bom itu langsung menjatuhkan salah satu gedung berlantai tiga puluh, hingga rata dengan tanah. Sementara getaran yang timbul akibat ledakan, menghancurkan kaca-kaca gedung di sekelilingnya.

Earon, Lytro, dan rekan polisi yang lain hanya bisa diam sambil membuka mulutnya lebar-lebar, melihat dari kejauhan bagaimana gedung itu tiba-tiba tumbang di antara gedung-gedung sekelilingnya yang lebih pendek dan masih berdiri kokoh.

“Apa itu?” tanya Lingchi terkejut, yang berdiri di depan Lytro.

“Apapun itu, kita pasti sedang diteror,” jawab Lytro.

Sementara Earon, dia masih terdiam mengamati bayang-bayang gedung itu yang telah lenyap.

“Jordan!” ucap Earon menggeram seraya meremas kedua tangannya erat-erat, dengan salah satu tangan yang menggenggam busur kesayangannya.

Sebuah busur lain dengan ukirannya yang indah, berada di genggaman tangan seseorang yang sedang berdiri di atap gedung apartemen berlantai lima yang telah meninggalkan nyala lampu redup di beberapa titik ruang. Seseorang berjubah hitam dengan kepala yang diselimuti oleh kain penutup kepala, hanya diam mengamati sesuatu dari atas sana. Jubahnya yang berkibar-kibar menandakan bahwa angin saat itu bertiup kencang. Jordan sepertinya sudah lama memperhatikan situasi kota dari tempat itu. Tatapan mata di raut mukanya yang diam, memandang kepulan asap di kejauhan yang merupakan bekas tragedi bom yang baru saja terjadi. Tidak hanya itu, kepekatan aliran sungai Chivory yang berada tepat di seberangnya, menghiasi pula dalam pandangannya.

Suasana tersorot pada Jordan, yang kemudian menuruni bangunan tempat injakannya, menyeberangi sungai yang mengenaskan, melewati orang-orang jalanan yang dilanda kegelisahan, kendaraan-kendaraan yang seolah kehilangan arah, lorong-lorong kota yang kumuh, hingga sampai pada gedung biru dengan nyala lampu gemerlap di puncaknya. Gedung bermenara tiga dengan sebelas lantai lebih tinggi dari gedung korban ledakan bom, menjadi incaran para artis dadakan selanjutnya.

Wergon, Filhener, dan Migo berjalan memasuki gedung hotel tersebut, bahkan tanpa menutup muka. Dengan sangat percaya diri, mereka menatap wajah orang-orang yang berpapasan dengannya, sambil membawa sebuah tas hitam besar yang dijinjing oleh Migo, berjalan menuju elevator. Sementara orang-orang yang melihat dan menyadari siapa mereka sebenarnya, langsung menghentikan kegiatannya sejenak dengan diam terperangah. Bahkan, ada yang sampai saling bertabrakan karena pandangannya terus tertuju pada langkah ketiganya. Selain itu, ada juga beberapa orang yang tidak tahu siapa tiga sekawan itu. Mereka terdiam bingung bukan karena ketidaktahuannya itu, melainkan justru karena melihat tingkah aneh orang-orang di sekelilingnya.

Tidak lama setelah mereka bertiga memasuki ruang elevator yang kosong.

“Rasanya aku ingin mengompol,” ucap Migo resah dan tegang, sesaat setelah Wergon menekan tombol tujuan pintu.

Sejenak pandangan Wergon menuju ke arah sebuah kamera yang dipasang di sudut langit-langit ruang elevator.

“Jangan takut! Wergon akan menjagamu,” sahut Filhener mencoba menenangkan kondisi Migo.

Mendengar ucapan Filhener, Wergon langsung mengalihkan pandangannya pada Filhener seraya berkata, “Apa?! Dia bukan tanggung jawabku. Mengajaknya adalah salah satu rencanamu. Jadi, kau yang harus bertanggung jawab atas keselamatannya. Aku tidak mau menambah beban masalahku.”

“Tapi, kau juga menyetujuinya. Kau sendiri yang bilang akan melindunginya.”

“Bung! Itu salah satu siasatku agar kau bisa menggandeng tangannya! Bukan berarti aku harus menjadi perisainya!”

“Aku tidak peduli! Kau bilang begitu, maka memang harus begitu yang kau lakukan!”

Migo yang berdiri di antara Wergon dan Filhener, hanya bisa menerima muncratan-muncratan air liur mereka.

“Baik. Aku melindunginya, sementara kau melindungiku.”

“Kau semakin pintar juga ya. Maksudmu, aku berada di depan barisan melindungi dua anak cengeng?!”

“Kalau tidak mau ya makanya tugasmu untuk menjaga dia! Begitu saja repot.”

“Hentikan!” pekik Migo yang seketika membungkam adu mulut tersebut.

“Masalah kecil saja diributkan!” lanjut Migo, “Aku tidak mengerti bagaimana Miguveer bisa betah dengan sifat kekanak-kanakan kalian! Lagi pula, aku bisa menjaga diri. Dengar! Aku Migo Danyiman, tidak takut dengan polisi. Aku bisa mengalahkan mereka semua. Mengerti!”

Filhener dan Wergon hanya bisa terdiam kagum dengan kata-kata Migo yang semangat dan lebih berani dari sebelumnya itu. Dan pada saat itu juga, pintu elevator terbuka yang menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai tujuan.

“Baru dicap sebagai buronan saja sudah sombong,” gumam Migo sambil melangkah keluar elevator.

Namun, baru mendapat tiga langkah, Migo tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu dalam tatapannya.

“Eik!!!” ucapnya kaget sampai-sampai kaki terakhir yang melangkah, kembali lagi melangkah ke belakang, yang sekaligus menghentikan langkah kakinya hingga mengakibatkan tabrakan beruntun pada Wergon dan Filhener.

Filhener dan Wergon melihat tubuh Migo yang kembali kaku dengan tatapan mata yang begitu gentar.

“Apa kau sudah kehilangan semangatmu?” sindir Filhener.

“Ssstt! Pelankan suaramu, Fil!” pinta Wergon yang mengikuti situasi Migo, dengan pandangan kaku ke depan.

Penasaran dengan perubahan sikap kedua temannya, Filhener mengikuti arah dari tatapan mata mereka. Dia pun langsung kaget dengan sesuatu yang dilihatnya. Ternyata dua orang polisi sedang berjaga, mengamankan situasi lantai tersebut. Mereka sedang berpatroli, tepat di hadapan Migo, Filhener, dan Wergon. Kedua polisi itu sejenak berhenti di depan mereka, sambil mengamati keadaan kanan, depan, dan kiri. Ketiganya begitu tegang dengan mata yang terbelalak. Dan dalam hati mereka yang berdebar kencang, teriring harapan agar kedua polisi itu tidak menoleh ke belakang, tepat mereka berada.

Beberapa saat kemudian, kedua polisi itu mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang seketika menimbulkan kecurigaan. Mereka langsung berlari mendekatinya dan salah satu berkata, “Hei, kau! Berhenti!”

Dalam kondisi masih mematung, pelototan mata Migo, Wergon, dan Filhener terus mengawasi pergerakan kedua polisi tersebut.

“Heeuuww…,” bunyi embusan napas Migo yang dikeluarkan dari mulutnya, seraya menurunkan bahunya.

Filhener dan Wergon juga langsung ikut menurunkan kedua bahunya, lega bahwa polisi-polisi itu tidak memberikan tatapannya pada mereka.

“Ayo!” ajak Wergon yang melangkahkan kakinya kembali dengan pelan dan awas, diikuti oleh Migo dan Filhener.

Setelah beberapa langkah, sejenak Wergon, Migo, dan Filhener menolehkan pandangannya pada sesuatu yang dituju oleh kedua polisi itu. Ternyata, mereka telah memergoki seorang pria berusia tiga puluh lima tahunan yang tertangkap membawa tas hitam besar berisi bermacam-macam senjata api. Namun, bukan keadaan itu yang menjadi perhatian Wergon, Migo, dan Filhener, melainkan perhatian kedua polisi yang masih terpaku pada kejahatan yang baru saja dilakukan oleh pria terebut. Merekapun melangkahkan kakinya lebih cepat di saat situasi kedua polisi itu dalam pancingan.

Sementara keadaan di Chansury, para agen dan polisi masih sibuk melakukan pencarian tentang keberadaan tiga serangkai. Di sebuah ruang kerja yang tidak terlalu luas, Earon, Lytro, dan Lingchi, bertiga terus mengamati tampilan gambar bergerak yang dibagi oleh beberapa sekat dalam satu monitor.

“Itu mobilnya,” ujar Lytro yang mengendalikan laptopnya yang diletakkan pada meja persegi panjang yang merapat pada dinding ruangan, seraya memperbesar gambar pemandangan salah satu titik jalan di kota Losapins yang ditunjuknya, “Kita ikuti jejak mobil ini.”

“Kau yakin kalau itu mobil mereka?” tanya Earon yang duduk di sisi Lytro.

“Sangat yakin. Berdasarkan pelat nomor dan corak mobil yang sangat sesuai dengan informasi yang kudapat dari saksi mata.”

Lytro terus menelusuri jejak incarannya dan dalam sekejap diapun mendapatkannya.

“Dapat!” serunya yang seketika membuat Earon dan Lingchi mengimpit bahu mereka pada tubuh Lytro.

Saking seriusnya melakukan penelusuran itu, Lytro justru tidak menyadari rasa sesak karena impitan kedua temannya tersebut.

“Mereka berhenti di depan gedung Bhavicamka,” lanjut Lytro.

Mulai dari adegan itu, ketiganya melihat setiap detik tampilan dengan saksama.

“Mereka keluar mobil,” ucap Lingchi, “Tapi, siapa yang satunya? Dia bukan Jordan.”

“Lytro, kapan gambar ini diambil?” tanya Earon cepat.

“Sekitar lima belas menit yang lalu,” jawab Lytro, “Biar kupercepat.”

Adegan melaju sedikit lebih cepat sampai pada detik terakhir pengambilan gambar.

“Mereka belum keluar,” lanjut Lytro.

Earon langsung bangkit dari tempat duduknya dan bergegas melangkah pergi.

“Gedung itu pasti incaran mereka. Kali ini tidak akan kubiarkan mereka lolos! Lytro, cepat…,”

Belum sempat perintah Earon genap, salah seorang rekannya tiba-tiba muncul di depan pintu belakang mobil van tersebut yang terbuka lebar.

“Earon! Kami dapat informasi kalau mereka sekarang ada di Bhavicamka,” katanya.

Suasana langsung berubah menjadi hening, membuat rekannya terperanjat canggung, sehingga terlintas anggapan bahwa mereka terdiam karena mengira informasinya itu hanyalah kabar burung.

“Salah seorang karyawannya yang langsung melaporkan itu. Dia juga mengirimkan foto saat mereka tersenyum padanya,” lanjut rekannya tersebut meyakinkan pendengar.

Suasana masih hening.

“Lytro, siapkan formasinya!” ucap Earon memecah suasana, seraya melangkah cepat keluar dari van, “Semuanya! Cepat berkumpul!”

Semua langsung mengikuti aba-aba Earon tersebut.

Suasana tersorot kembali di gedung Bhavicamka.

Wergon, Filhener, dan Migo kembali memasuki elevator yang sedang sepi, tanpa terlihat lagi tas hitam yang sebelumnya mereka bawa. Sejak awal mereka memang sengaja memasuki elevator yang sedang tidak berpenghuni. Hal itu bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi rencana selanjutnya. Dalam penantian terbukanya pintu elevator, Filhener melihat ketegangan yang tampak pada diri Migo.

“Setelah ini, kita akan benar-benar berhadapan dengan polisi-polisi itu, ‘kan?” tanya Migo yang berusaha menutupi kecemasannya.

“Kurasa begitu,” jawab Wergon yang mengikuti perasaan Migo.

Filhener yang berdiri di samping Wergon, langsung menyenggol tubuhnya.

“Semua akan baik-baik saja. Kita akan melindungi satu sama lain,” katanya mencoba mengubah suasana hati kedua rekannya.

Mendengar hal itu, Wergon langsung mengangkat mukanya, seolah teringat sesuatu.

“Ya, kau benar,” katanya dilanjutkan dengan perubahan raut muka semangat seraya berkata, “Dan itu adalah kata-kataku! Terimakasih telah mencurinya, Filhener.”

Filhener hanya tersenyum singkat, bukan karena sindiran Wergon tersebut, melainkan melihat kekuatan temannya yang telah bangkit kembali.

Melihat gairah kedua orang aneh itu, Migopun ikut bangkit semangat dengan helaan napas panjang.

Sekalipun masih ada keresahan di hati ketiganya, namun semangat mereka mampu menutupi keresahan itu hingga akhirnya dapat lenyap dari bayang-bayang mereka.

Ting.

Suara nyaring dari elevator telah berbunyi. Lantai pesanan telah siap di hadapan mata mereka dengan terbukanya pintu. Mereka begitu terkejut melihat hidangan yang tersaji. Tujuh polisi formasi dua baris, telah meluruskan kedua lengan mereka sambil menyodorkan sebuah pistol di masing-masing genggamannya.

“Jangan bergerak! Angkat tangan kalian!” teriak salah seorang dari barisan terdepan.

“Apa tidak ada perintah lain selain itu?” sahut Wergon yang kemudian langsung menarik tongkatnya, “Waktunya bersenang-senang!”

Dengan berani, Wergon berlari menantang ketujuh polisi tersebut.

Tidak mau kalah, Filhener mengeluarkan kedua pistolnya, lalu dengan cepat menembakkannya ke arah peluru-peluru yang mencoba menghalangi Wergon. Beberapa tembakannya juga membidik ke arah genggaman pistol-pistol polisi tersebut, yang membuat empat di antaranya terpental. Sementara yang lain dihipnotis oleh ketangkasan permainan tongkat Wergon, yang membuat ketujuh polisi tersebut akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Sejenak melihati sekitar. Tidak ada karyawan hotel ataupun manusia lain selain ketujuh polisi yang sedang tergeletak. Tanpa mengulur waktu, mereka berdua terus berlari menuju pintu keluar, disusul oleh Migo yang membuntutinya.

“Menurutmu, di mana orang-orang?” tanya Wergon dalam napas yang terengah-engah.

“Menurutmu, aku pengasuh mereka?” jawab Filhener ketus, yang kemudian langkahnya berhenti saat berada tepat di depan pintu.

Filhener mencoba membuka pintu itu. Menarik dan mendorong, namun pintu tersebut tetap tidak bisa dibuka.

“Sial! Pintunya dikunci,” ucap Filhener kesal.

“Apa?!” seru Migo panik, “Kita terperangkap di sini?!”

“Pasti ada jalan lain,” sambung Wergon optimis, seraya melangkah perlahan, sedikit menjauhi pintu, sambil menoleh kanan kirinya, barangkali menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Tapi, kemudian….

“Oouuhhh, kenapa harus berhadapan dengan teka-teki lagi?” kata Wergon seraya menjambak rambutnya dengan kedua tangannya, “Tidak bisakah hanya ada satu cara dan itu berjalan mulus? Kalau saja pintu itu tidak dibuat dengan kaca anti peluru, pasti sudah ku….”

Dwweeerrrr pyyaaarrrrr.

Mendengarnya, Wergon dan Migo langsung terperangah sambil memalingkan pandangannya ke sumber suara. Terlihat serpihan kaca telah bertebaran di lantai, sekaligus ditangkupkannya kembali pistol pada sarungnya di sisi kanan pinggul Filhener. Begitu juga dengan Wergon, diapun menurunkan kedua tangannya dengan mulut yang masih terbuka kecil.

“Lain kali kalau aku mendengar ocehanmu lagi, tidak segan kusumpal mulutmu dengan pistolku!” ucap Filhener kesal seraya melangkah keluar, menginjak pecahan-pecahan kaca hingga mengeluarkan suara injakannya.

Mendengar ucapan tersebut, Wergon langsung menampilkan wajah dongkolnya. Sementara Migo, dia segera berlari menyusul Filhener yang sekitar dua meter sudah di depannya.

Lalu, terdengar suara sirene mobil polisi yang sayup-sayup. Sejenak Filhener melihat sekitar tanpa menghentikan langkahnya. Tapi, belum terlihat bayang-bayang akan penampakan polisi. Selang beberapa detik kemudian, mobil polisi muncul berbondong-bondong dari balik tikungan jalan searah. Filhener dan Migo langsung mempercepat jalannya menuju mobil yang telah ditunggu oleh Rekshein yang sedang mengamati mereka dari balik kaca pintu jok belakang. Sesampainya di mobil, Migo segera masuk di jok belakang, duduk bersama Rekshein. Sementara Filhener, sejenak dia berhenti saat baru membuka pintu mobil depan.

“Cepat, Wergon!” serunya.

Wergon terus berlari, hingga akhirnya dia masuk mobil tak lama setelah Filhener menghidupkan mesinnya, yang kemudian langsung menancap gas.

Aksi kebut-kebutan kembali dimulai. Kali ini, mereka benar-benar dibuntuti oleh sekawanan mobil polisi. Dengan kecekatannya, Filhener mencoba untuk mengelabuhi polisi-polisi itu dengan melewati rintangan sulit kendaraan-kendaraan lain yang berlalu-lalang dan tikungan-tikungan tajam. Namun, sepertinya para polisi itu pun tidak sembarangan memilih pengemudinya. Mereka berhasil melewati semua trik yang digunakan Filhener, walaupun ada satu dua juga yang menjadi korban. Wergon dan Migo yang sempat menolehkan mukanya ke belakang melihat kecerdikan polisi-polisi tersebut, hanya bisa menelan ludah.

“Mereka sangat tangguh, ya?” gerutu Migo.

Sampai di simpang tiga, tiba-tiba muncul lagi beberapa mobil polisi dari arah depan, yang seketika membuat Filhener membanting setirnya ke sisi lain dan hal tersebut terus saja terjadi setiap mereka menemui persimpangan. Filhener mulai dibuat kewalahan dengan trik para polisi itu. Yang dapat dia lakukan hanyalah mencoba mengambil peluang lain, sekalipun harus melewati lorong sempit, agar tidak tercegat oleh mereka. Hingga mereka melewati jalan layang, mobil-mobil polisi masih saja berjejeran membuntutinya. Sungguh suasana kota menjadi semakin ramai karena aksi itu.

“Tidak. Bukan ini rencananya! Kita menjauh dari perbatasan!” ujar Migo panik.

“Aku sedang berusaha! Sepertinya, mereka ingin kita terperangkap di pelabuhan!” sahut Filhener ikut merasa tegang.

“Kita harus memutar arah! Aku tidak mau tertangkap di sini, Fil! Tidak ada rencana jika kita tertangkap di sini!”

“Bisakah kau beri aku kesempatan untuk berpikir sebentar?! Tenangkan dirimu! Kau pikir aku akan kalah dengan mereka?!”

Migo mengambil dua napas ketenangan sejenak, walaupun dalam hatinya masih penuh dengan kegelisahan.

“Jadi, kalian menantangku, ya? Lihat saja siapa yang lebih pintar,” gumam Filhener yang kemudian langsung membanting setirnya, mengambil dan mengikuti jalur arah lawan.

Filhener memulai aksi barunya. Dia nekat menerobos celah sempit di antara dua kendaraan ataupun pembatas jalan dengan kendaraan lain. Dan seperti biasa dalam aksi kebutannya, dia selalu menerobol lampu merah. Mobilnya juga hampir terjungkir oleh gesekan-gesekan keras itu, sampai-sampai harus kehilangan dua kaca spion, bemper depan, dan belakang.

“Aku tidak mengerti, kenapa jalanan kota masih saja ramai?” tanya Filhener dalam kefokusannya menyetir.

Namun, tidak terdengar sedikit pun suara sahutan dari teman-temannya. Filhenerpun tidak memedulikannya, lalu melupakannya seolah pertanyaan itu tidak pernah terucap olehnya.

Tidak hanya sampai di situ, Filhener juga menantang mobil-mobil polisi yang mencoba menghadangnya dengan terus melaju kencang melawan mereka. Tapi, itu hanyalah taktik Filhener untuk menarik kegentaran mereka, sehingga bisa mendapatkan sedikit celah di antara mereka. Kedua bahu terangkat, gigi atas dan depan saling menekan keras, napas sering tertahan, mata terbuka lebar-lebar, tidak bisa berkata apapun, begitulah yang dialami Wergon, Migo, dan Rekshein selama aksinya tersebut.

Akhirnya perjuangan tersebut membuahkan sedikit perasaan lega di hati mereka, ketika dapat melihat perbatasan yang dihiasi mobil-mobil polisi yang diparkir berjejeran memenuhi jalan garis perbatasan. Hanya tinggal melewati persimpangan terakhir, kemudian mengambil jalan lurus, mereka akan mendapatkan tempat yang diimpikan.

“Sedikit lagi,” gumam Filhener dengan tatapan yang fokus ke depan.

Tapi saat mendekati persimpangan, keempatnya dikejutkan dengan kehadiran sebuah truk kontainer yang muncul dari arah kanan. Merekapun semakin panik ketika truk tersebut langsung berhenti dan memotong jalan mereka, sementara mobil dalam keadaan gas penuh.

“Rem! Rem! Rem! Reemm!” seru Wergon tegang.

“Awas tabrakan!” sahut Migo bersamaan dengan seruan Wergon, yang juga ikut tegang.

“Pegangan!” seru Filhener.

Tangan para penumpang langsung menggerayang, mencari pegangan seadanya. Tanpa berpikir lama, entah dengan pegangan pada lekukan dinding pintu mobil, bawah jok, atau pun pada sandaran jok di depannya, mereka anggap itu sudah mampu menahan tubuh mereka jika terjadi benturan.

Bunyi decitan roda terdengar di sepanjang Filhener mulai menginjak remnya, beberapa detik setelah mengucapkan seruannya itu. Tubuh semua penumpang menekan keras pada sandaran jok dengan jantung yang berdetak kencang, kedua mata yang tak sanggup untuk berkedip, dan pegangan tangan yang begitu keras dan kaku. Sekitar empat meter dari badan truk, Filhenerpun langsung membanting setirnya ke kanan hingga mobil tersebut memutar balik, dan akhirnya berhenti.

Mobil-mobil polisi ikut berhenti mengepung mereka dan langsung keluar seraya menodongkan senjatanya ke arah mobil buronan. Bahkan, ada salah seorang polisi yang menodongkan bazoka ke arah mereka.

Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein melihat pengepungan itu dengan napas yang terengah-engah. Bukan karena kelelahan dengan apa yang telah mereka alami, tapi sebagai persiapan untuk menghadapi tantangan selanjutnya.

“Yang benar saja,” ujar Migo keheranan melihat polisi yang memegang bazoka, dengan napas yang masih mengembus keras-keras, “Mereka pikir kita akan terbang, begitu?”

“Kuucapkan selamat. Mungkin kita satu-satunya buronan yang disambut dengan bazoka,” ujar Wergon.

“Tidak. Kurasa, mereka benar-benar marah pada kita,” lanjut Filhener.

Mereka berempat belum sanggup untuk keluar, hanya bisa menatapi mereka dari balik kaca. Saat itu juga, Earon bersama Lytro keluar dari balik kerumunan kawanannya. Earonpun langsung menyuruh anak buahnya untuk segera menangkap mereka.

“Seret mereka keluar!” katanya.

Dengan tetap menodongkan senjata, beberapa polisi menghampiri empat sekawan. Sementara yang lain, termasuk si pembawa bazoka tetap bersiaga di belakangnya.

Setelah polisi itu berhasil memaksa para buronan keluar dengan kedua tangan yang telah diborgol di belakang tubuh, raut muka Earon seketika berubah menjadi penuh kekecewaan.

“Kenapa? Kau tidak melihatnya bersama kami?” ketus Wergon, “Kejutan! Kau tertipu lagi.”

Mendengar ucapan itu, apipun menyala besar dalam hati Earon. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang dan kemarahannya hanya sebatas dilampiaskan dengan kepalan kencang kedua tangannya.

“Periksa lagi mobil itu!” perintahnya.

Tidak lama setelah perintah itu dikumandangkan, salah seorang agen AKLA keluar dari mobil Migo.

“Kosong. Tidak ada siapa pun lagi di sini,” katanya.

Seketika, wajah para agen dan polisi begitu bingung dan kecewa, karena tidak berhasil menangkap mangsa utama mereka.

“Dia pasti berhasil kabur sebelum kita mengepungnya,” sahut Lytro.

“Hahahahaha....”

Semua wajah langsung berpaling pada sumber suara tawa itu yang tidak lain adalah Wergon.

“Kau tahu, Migo? Ini adalah bagian yang kusuka saat bisa melihat wajah memelas mereka,” lanjut Wergon.

Filhener dan Migo mengerutkan keningnya mendengar sindiran Wergon tersebut.

“Diamlah, Wergon! Apa yang kau lakukan?” ucap Filhener menggeram.

Wergon kemudian memalingkan mukanya pada Filhener.

“Bukankah menjadi tugas kita selanjutnya?”

Filhener berpikir sejenak. Kemudian, kedua matanya langsung terbuka sedikit lebih lebar dengan mulut menganga kecil, yang artinya dia mengerti maksud dari kelakuan Wergon tersebut. Diapun memperlihatkan senyum liciknya pada Wergon.

“Jangan sesekali kalian terpengaruh oleh sikap aneh mereka! Apapun yang mereka lakukan hanyalah untuk mengakali kalian! Cepat, bawa mereka ke mobil!” kata Earon.

Dengan paksaan dan dorongan, Wergon, Filhener, Migo, dan Rekshein langsung diseret ke sebuah mobil van polisi, dikawal oleh empat-empat anggota polisi khusus. Dua memegang tangan mereka, sementara dua lainnya menodongkan senjata ke tubuh mereka.

 

No comments:

Post a Comment