Hari libur pagi, saat
matahari tampak di balik dedaunan puncak pohon
perintis, Jordan, Earon, dan Filhener mengunjungi rumah Delarmy.
Tok, tok, tok.
Terdengar suara ketukan
pintu depan rumah saat Delarmy sedang merapikan benda-benda hiasan kecilnya di
meja ruang tamu. Sepertinya, dia sudah mengetahui kalau yang mengetuk pintu
tersebut adalah anak kesayangannya, maka dia pun mengambil sebuah guci kecil
yang sepertinya telah ia persiapkan di atas perapian.
“Buka saja pintunya!” serunya.
Sedikit demi sedikit pintu
terbuka, cahaya dari luar merambat menerangi lantai yang menjadi jalannya
pintu. Saat pintu merayap setengah terbuka, Delarmy bersiap mengayunkan
gucinya. Namun, ayunan tangannya langsung terhenti ketika seseorang yang ia
lihat adalah sosok wajah yang belum pernah ia temui sebelumnya, berdiri di
antara Jordan dan Filhener, sedikit lebih ke depan. Delarmy pun menurunkan
tangan yang memegang gucinya. Dia berjalan mendekat sambil tersenyum ramah
melihat kehadiran Earon, masih dengan tangannya yang memegang guci tersebut.
“Siapa namamu, Anak muda?”
tanyanya saat langkahnya terhenti tepat di hadapan Earon.
“Earon. Begitulah sahabatku
memanggil,” jawab Earon dengan ramah pula.
Delarmy terdiam sambil
tersenyum lebar menatap mata ketiganya. Jordan dan Filhener tampaknya sudah
mengerti maksud dari tatapan tersebut. Sementara Earon, dia hanya bisa menoleh
pada Jordan dan Filhener yang terdiam dengan ekspresi wajah keluh kesah, merasa
bingung dengan tingkah mereka.
“Jangan lakukan ini
padanya,” ujar Filhener.
“Kalian tidak membawa
Wergon, jadi dia yang akan menggantikannya.”
“Bibi, dia adalah tamu kita.
Tak baik kita memintanya untuk melakukan itu. Biar kami berdua yang
melakukannya,” sahut Jordan.
“Siapa pun yang kalian ajak
kemari, maka ajaklah dia juga untuk bersenang-senang. Mumpung hari ini cerah.”
Earon benar-benar tidak
mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia pun angkat bicara untuk memenuhi rasa
penasarannya tersebut.
“Maaf, kalau boleh tahu, apa
maksud dari bersenang-senang?”
Suasana terasa hening
sejenak. Jordan menatap mata Delarmy, berharap agar bibinya tidak mengatakan
pekerjaan itu pada Earon.
“Saatnya berkebun,
Anak-anak!” seru Delarmy gembira.
Jordan pun tak bisa mengelak
keinginan bibinya tersebut, walaupun sebenarnya hatinya merasa tidak enak
terhadap Earon yang dipaksa ikut untuk bekerja di kebun.
Hari itu adalah hari yang
cerah. Tak terlihat sedikit pun awan yang menandakan akan turunnya hujan di
langit biru yang terbentang. Angin wilayah perbatasan yang masih sesejuk tiupan
angin di desa Wesnoreast. Seperti yang Delarmy katakan bahwa memang hari yang
tepat untuk berkebun.
Di halaman belakang
rumahnya, Jordan sedang mengubrak-abrik peti besi yang dipepetkan pada tembok
rumah. Dia mencari perkakas yang digunakan untuk berkebun. Terlihat mereka
sudah melepaskan jaket dan menggunakan baju rangkapan dalamnya, mempersiapkan
dua cangkul yang diletakkan di dekat Filhener dan Earon yang berdiri menunggu
benda kebun ajaib yang akan Jordan keluarkan. Secara bertahap, Jordan
mengeluarkan satu ember dan tiga sekop. Merasa sudah cukup dengan perkakas yang
dibutuhkan, Jordan menyapu kedua telapak tangannya.
“Sudah. Ini saja yang kita
butuhkan,” katanya sambil menumpukan kedua tangan di pinggang dengan pandangan
yang berbalik ke arah kedua temannya.
Jordan mengambil satu sekop
dan satu cangkul. Dia bergegas menuju tanah kebun yang tersengat sinar
matahari. Sementara Filhener mengambil ember dan satu sekop, lalu segera
menyusul Jordan. Namun, langkah ke duanya terhenti ketika
melihat Earon masih berdiri dengan tatapan mata yang kebingungan.
“Apa kau ingin membawa
embernya? Sementara, aku akan membawa cangkulnya,” ujar Filhener sesaat setelah
berbalik ke arah Earon.
“Tidak perlu. Biar aku yang
membawa cangkulnya. Setidaknya, aku tahu cangkul digunakan untuk apa,” sahut
Earon dengan tangan yang sudah memegang ujung pegangan cangkul.
Filhener merengutkan
keningnya saat seketika sesuatu terlintas di kepalanya.
“Jangan katakan kalau kau
tahu nama benda-benda ini, tapi tidak tahu cara menggunakannya.”
Earon menoleh Filhener
dengan tatapannya, dia menjawabnya dengan gugup.
“Uh, tentu saja aku bisa.
Yah, kau tahu. Itu mudah, bukan?”
Filhener membalas tatapannya
dengan wajah yang tidak enak.
“Heh, jika ada orang yang
tak bisa menggunakan benda-benda ini….” Earon melihat lagi tatapan tak enak
Filhener, lalu memelankan temponya saat berkata, “Jelas, itulah aku.”
Pengakuan Earon tersebut
tampaknya tidak membuat Filhener menghentikan ekspresi wajah tak enak di
depannya.
“Sungguh, Fil. Aku sudah
mengakuinya dan tolong hentikan wajah menyebalkanmu itu!” gerutu Earon kesal.
“Aku tahu tak seharusnya
Bibi Delarmy memintamu,” gumam Filhener seraya mengembalikan wajah normalnya.
“Kenapa kalian masih diam
saja di situ?!” seru Jordan tiba-tiba, menghentikan galiannya sejenak dengan
sedikit membungkuk, kedua tangan memegang pegangan cangkul, dan ujung pisaunya
menyentuh tanah.
“Jangan khawatir, Agen
rahasia. Sebentar lagi kau akan naik pangkat menjadi agen kebun tetap kami. Kau
bersama dengan ahlinya,” ucap Filhener kepada Earon seraya melangkahkan kakinya
menuju Jordan yang masih terhenti menunggunya.
Earon tersenyum lebar
menyamping. Dia pun segera menyusul, membantu kedua temannya yang sudah mulai
bekerja dengan benda bawaannya masing-masing.
Sementara ketiga tukang
kebun sedang disibukkan di tanah perbatasan, Wergon dan Lytro disibukkan oleh
selembar kertas yang sepertinya belum juga terpecahkan. Hal itu tampak dari
raut wajah mereka yang terlihat lesu. Mereka berdua duduk bersebelahan dengan
kursi kayu persegi sendiri-sendiri, menghadap sebuah komputer yang berada di
antara keduanya, dan masing-masing segelas teh hangat di sisinya. Lytro
mengambil segelas tehnya dan meneguknya sedikit demi sedikit, tapi pandangannya
masih tertuju pada layar komputer yang sedang menampilkan proses loading.
“Kuharap kali ini berhasil,”
katanya sesaat setelah meneguk kembali air tehnya.
Beberapa menit setelah itu,
tiba-tiba layar komputernya menampilkan tulisan There are no results to display. Seketika Wergon dan Lytro
mengeluarkan suara “ceh” yang ditimbulkan antara lidah dan rongga mulut atas.
“Sebenarnya program macam
apa yang kau pakai?!” keluh Lytro.
“Mana kutahu! Kau sendiri
yang bilang pakai programku ini saja,
Wergon. Kujamin tak ada lima menit, satu juta pencarian langsung ketemu.
Nyatanya ini sudah hampir tiga jam,” sahut Wergon kesal.
“Yang benar saja,” gerutu
Lytro sambil menjambak rambut bagian depan dengan kedua tangannya.
“Memang benar yang
kukatakan.”
Lytro melepaskan
jambakannya.
“Bukan, maksudku bagaimana
bisa ini tidak berhasil.”
Suasana terasa hening
sejenak.
“Mungkin kau kurang
menambahi bumbu-bumbunya, jadi kurang meresap,” ucap Wergon yang mulai memegang
kembali keyboard-nya.
“Baiklah, Chef bumbu-bumbu.
Kuserahkan lagi padamu,” kata Lytro seraya memerhatikan Wergon melakukan aksinya.
Lalu tiba-tiba, sesuatu
terlintas dalam pikiran Lytro yang membuatnya resah.
“Hei, Wergon. Menurutmu, apa
yang sedang Earon dan Jordan lakukan?” tanya Lytro.
Wergon mendengarkan
pertanyaan Lytro tersebut, namun pandangannya terus tertuju pada monitornya
dengan jari-jari tangannya yang mengetik sesuatu pada keyboard.
“Mungkin sedang
bersenang-senang,” jawabnya.
“Apa mungkin mereka sedang
menceritakan masalah keluarganya satu sama lain?”
“Aku tidak tahu. Kalau pun
begitu, kurasa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau santai saja. Earon dan
Jordan, mereka lebih terlihat seperti saudara. Jadi, tak akan timbul masalah
besar jika seseorang telah membuat ikatan saudara dengan yang lain. Yang ada,
justru mereka akan saling menyayangi dan memercayai. Sekali pun nantinya ada
permasalahan, mereka pasti akan mencari jalan dengan kekeluargaan.”
“Aku tak menyangka kau bisa
berpidato sepanjang itu,” sindir Lytro sambil tersenyum sinis.
“Terserah kau saja,” gerutu
Wergon.
Lytro kembali diam diiringi
dengan perubahan senyum kegelisahan, memikirkan kembali semua yang baru saja
Wergon katakan.
Kembali ke situasi halaman
belakang rumah Delarmy.
Sampai di siang hari
menjelang sore, Earon berjalan lesu meraih kursi panjang tua yang ditempatkan
di bawah pohon besar yang tak jauh dari tanah kebun. Dia bahkan tak kuat
mengangkat cangkulnya, jadi hanya ia seret hingga terdengar bunyi
gesekan antara pangkal pisau dengan tanah. Napasnya terengah-engah ringan
dengan keringat yang bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
Akhirnya, dia pun duduk dan
segera mengambil napas lega sambil menyelonjorkan kedua kakinya ke
bawah dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya di masing-masing sisi.
“Pasti kau sangat lelah,
ya?” sahut Delarmy tiba-tiba yang berada di samping belakang, meletakkan
nampannya di sisi kanan Earon, “Ini minum tehnya dulu!”
Barangkali tempat untuk
nampannya tidak cukup, maka Earon segera menyingkirkan tangan kanan yang
menopang tubuhnya. Pandangannya juga langsung tertuju pada tiga gelas kosong
dengan sebuah teko yang berisi teh panas yang masih mengepul, tersaji di atas
nampan bundar tersebut. Namun, entah apa yang membuat pandangannya beralih pada
Jordan yang masih giat mengurus tanah kebunnya dalam suasana panas terik.
“Bibi,” ucap Earon lirih.
“Hmm?” sahut Delarmy sambil
menuangkan teh ke dalam gelas ke dua.
Earon terdiam berpikir
sejenak.
“Di mana orang tua Jordan?”
Seketika Delarmy terdiam
sebelum dia meletakkan kembali tekonya. Earon melihat raut wajah Delarmy
berusaha tegar, tapi justru itu membuatnya semakin penasaran. Lalu, Delarmy
meletakkan tekonya, duduk di sebelah kanan Earon yang dipisahkan oleh nampan,
dan memandangnya dengan senyuman lebar.
“Orang tua Jordan berada di
tempat yang belum pernah bisa kau lihat.”
Seketika Earon terkejut
mendengar ucapan Delarmy tersebut. Dia menduga sesuatu yang tentunya bukan hal
yang baik untuk dibicarakan. Namun, hatinya pun penuh dengan rasa penasaran,
yang mendorongnya untuk tetap berbicara.
“Maksud Bibi, mereka sudah
meninggal?”
Delarmy langsung
menganggukkan kepalanya dengan senyuman kecil
dan pandangan gelisahnya.
“Maafkan aku. Aku tidak
bermaksud….”
“Tidak apa. Kurasa itu
pertanyaan yang wajar untuk seorang agen seperti dirimu. Penuh penasaran,
timbul pertanyaan.”
Earon tersenyum sinis.
“Percayalah, Bi. Aku bisa lebih
buruk dari seorang wartawan,” ujarnya.
Delarmy pun tertawa kecil
mengikuti situasi yang mereka sedang coba pulihkan. Lalu, sejenak suasana
terasa hening. Mereka berdua tersenyum diam sambil melihat suasana di depan
mata mereka. Angin berembus kencang menggoyangkan pepohonan dan rerumputan, dan
sentuhan kelembutannya memberikan ketenangan di sekitarnya. Saat
itulah Earon berpikir bahwa saat yang tepat untuk melanjutkan rasa
keingintahuannya.
“Sebenarnya, aku juga sering
melihat Jordan menggunakan sarung tangan, tak pernah sedetik pun kutahu dia
melepaskannya. Bahkan ketika ada waktunya untuk melepaskan itu, dia seakan
bersembunyi untuk melakukannya. Sepertinya dia menutupi sesuatu, hanya saja
agak aneh jika yang ditutupi adalah tangannya. Tapi, mungkin dia memang suka
memakainya atau nyaman saat memakainya. Entahlah,” katanya memecah
suasana.
Delarmy memandang diam ke
depan dengan senyuman yang memudar. Lalu, Earon memalingkan
pandangan padanya, menatap wajahnya seakan ada kenangan buruk yang pernah
terjadi.
“Mungkin Bibi tahu kenapa?”
Delarmy masih terdiam sambil
membalas tatapan mata Earon. Dari tatapannya terlihat bahwa Delarmy sedang
memikirkan sesuatu.
Beberapa detik kemudian, dia
kembali memalingkan pandangannya ke depan seraya berkata, “Dia memang sedang
bersembunyi dari seseorang.”
Ucapan Delarmy tersebut
langsung membuat Earon kaget.
“Apa?” ucapnya lirih.
“Bagaimana bisa? Kulihat,
dia tampak tenang-tenang saja, seperti tidak ada masalah dalam hidupnya,”
lanjutnya.
Delarmy menarik napas
sejenak, mengambil beberapa udara ketenangan untuk bisa kuat mengingat kembali
kenangan-kenangan itu.
“Itu dimulai saat usianya
masih sepuluh tahun.”
Earon semakin terkejut
mendengar hal itu. Umur sepuluh tahun, rasanya cukup berat untuk memendam
hal-hal buruk yang menimpa Jordan hingga saat ini, pikirnya.
“Beberapa hari setelah kedua
orang tuanya meninggal, dia tinggal bersamaku,” lanjut Delarmy, “Tapi, dia
begitu sedih dan ketakutan. Sangat takut. Dia terus bersembunyi di dalam rumah,
tak berani keluar, dan putus sekolah selama tiga setengah tahun. Terkadang dia
termenung sendirian di dalam kamarnya, berdiri di depan jendela sambil menatapi
hal-hal di luar sana dengan tangan yang menggenggam busur dan mainan lonceng
kecilnya. Dalam renungannya itu, aku juga sering melihat dia meneteskan air
mata. Aku sungguh tidak tega saat melihat dia melakukan itu terus-terusan. Aku
selalu mencoba untuk mengajaknya keluar rumah, walau hanya di halaman, tapi dia
tidak mau. Selama kurang lebih tujuh bulan, dia terus melakukan hal yang
demikian. Hingga suatu hari dia sendiri yang memintaku untuk menemaninya
jalan-jalan ke kota Losapins.
“Bibi.
Bisakah Bibi temani aku jalan-jalan keluar? Aku rindu kota rumahku,” ucap
Jordan pelan.
Delarmy
tersenyum lebar.
“Tentu
saja, Sayang. Kemanapun, aku akan selalu menemanimu,” sahut Delarmy sambil
sedikit membungkuk dan mengusap lembut rambut Jordan.
Tapi, sepertinya Jordan
belum berani menampilkan dirinya di depan umum. Setiap kali kami keluar, dia
selalu memakai baju lengan panjang, celana panjang, sarung tangan, jubah,
benar-benar seperti busana di musim dingin. Tak lupa tudung dari jubahnya
selalu ia pakai dengan masker untuk menutupi wajahnya. Kurasa, ketakutannya
dari orang tersebut membuat hidupnya jauh pula dari orang-orang di
sekelilingnya.
Di perjalanan, dia selalu
diam melihat orang-orang sekitar yang berlalu lalang melewatinya. Pandangannya
begitu awas, barangkali di antara mereka adalah orang yang mencarinya.
Terkadang dia merasa iri saat melihat anak-anak lain bisa bermain, berlarian,
dan tertawa bersama. Tapi, itu tak pernah berlangsung lama, hanya sebentar saja
rasa itu muncul yang kemudian dia meninggalkan mereka lagi. Lalu, suatu hari
dia melihat dua anak pengamen. Mereka sering kulihat mengamen di pinggir
pangkal jembatan sungai Chivori, begitu juga hari itu, meski hanya hari-hari
tertentu saja. Menyanyikan lagu diiringi musik ala tutup botol dengan suaranya
yang tidak terlalu bagus. Tapi, aku tidak terlalu menghiraukan mereka, jadi
kami hanya melewatinya dan kuajak Jordan untuk pergi ke toko buah. Kugandeng
erat tangan Jordan karena kulihat pandangannya terus ke belakang, tertuju pada
anak-anak pengamen itu. Sepertinya, dia sangat tertarik pada mereka berdua. Kau
tahu, dan dua anak pengamen itu adalah Wergon dan Filhener.
Hari
itu dengan langit yang diselimuti beberapa gumpalan awan putih dan populasi
jalan yang lebih ramai dari hari biasanya, datanglah seorang anak laki-laki
yang berumur sekitar lima belas tahunan menghampiri Wergon dan Filhener yang
sedang asyik mengamen. Lalu tiba-tiba, anak tersebut menendang setengah keras
kaleng yang berisi uang receh hasil mengamennya hingga berceceran ke mana-mana.
Hal itu tentu membuat Filhener dan Wergon merasa kesal padanya, terlebih dia
melakukannya dengan sengaja.
“Oops,
aku tidak sengaja,” ucap anak itu dengan lagaknya sambil menghentikan
langkahnya di hadapan mereka.
“Apa
masalahmu?!” bentak Filhener yang sekaligus langsung bangkit berdiri di hadapan
anak tersebut.
“Aduh,
apa yang kau lakukan?! Jadi hilang semua uangnya,” rengek Wergon seraya
menjumputi uang recehnya.
“Apa
masalahku? Apa masalahmu?! Sudah kubilang aku tidak sengaja melakukannya!”
sahut anak tersebut sambil mendorong keras dada Filhener dengan tangan
kanannya.
Dengan
salah satu kaki yang mampu menopangnya ke belakang dan lengan yang menumpu di
pagar jembatan, Filhener hampir saja terjatuh. Lalu, dia ingin membalas
perlawanan yang anak itu lakukan terhadapnya dengan hal yang sama. Namun saat
tangannya akan diayunkan, tiba-tiba seorang wanita berbadan gemuk dengan
pakaian dan gaya yang seperti model, mendatangi mereka. Filhener pun langsung
menurunkan kembali tangannya tersebut.
“Apa
yang kau lakukan di sini, Sayang?” tanya wanita tersebut.
“Tidak
apa-apa, Ibu. Hanya ingin tahu kesombongan para pengemis ini. Tapi kini aku
tahu, mereka sebenarnya sama sekali tak berdaya jika dihadapkan dengan uang,”
ucapnya sambil menatap tajam Filhener yang juga menatap tajam dirinya.
“Apa
yang sudah aku katakan padamu?! Jangan pernah dekati mereka! Ingat, derajat
kita sangat jauh lebih tinggi dari mereka. Jadi mereka tidak se-level, bahkan
sangat jauh levelnya. Dekatilah orang-orang yang se-level dengan kita, Sayang!”
kata wanita itu dengan sangat sombongnya.
Hati
Filhener benar-benar seperti terbakar, namun dia juga tidak dapat berbuat
apapun mengingat dia memang hanyalah seorang pengamen. Luapan emosinya hanya
bisa ia tunjukkan dengan kedua tangannya yang mengepal kencang.
“Tentu
saja, Ibu. Aku juga tidak mau melihat, apalagi bergaul dengan mereka!”
Ibu
dan anak yang sombong itu pun melangkahkan kakinya menjauh dari Wergon dan
Filhener. Namun saat si ibu akan melangkahkan kaki ke-duanya, Wergon langsung
menjerit kesakitan. Tak disangka kalau langkah pertama kakinya telah menginjak
tangan kanan Wergon yang masih menjumputi koin-koinnya.
“Oops,
tak sengaja,” ucapnya dengan nada menyindir, walaupun ada sedikit perasaan
bersalah dalam hatinya. Mungkin itu artinya, dia benar-benar tidak sengaja
melakukannya.
“Apa
kalimat itu warisan dari keluarga kalian?” gerutu Wergon yang hampir meneteskan
air mata menahan rasa sakitnya, sambil mengelus-elus bagian tangannya yang
sakit.
Ibu
beserta anaknya tersebut pun tak peduli apapun sahutan Wergon. Mereka langsung
pergi begitu saja, tanpa ucapan maaf.
“Sombong!”
gumam Filhener jengkel, memerhatikan bagaimana mereka berjalan lenggak-lenggok
menjauh darinya.
“Apa
yang baru saja kau katakan, Fil?”
“Bagaimana
dengan tanganmu?” tanya Filhener mengalihkan kejengkelannya.
“Kau
tidak lihat! Tanganku memerah dan ini rasanya seperti terbakar. Sungguh sakit,
sakit sekali hikz… hikz…. Bisakah kau memberikan beberapa tiupan?” ucapnya
sambil merengek dan memperlihatkan tangannya di depan Filhener.
Filhener
terdiam sambil mengangkat salah satu alisnya dan berpikir betapa anehnya teman
satu-satunya itu. Dia pun memberikan satu gelengan kepala sebagai jawaban atas
permintaan Wergon tersebut. Sementara Wergon langsung merengut dan menurunkan
kembali tangannya.
Beberapa
saat setelah itu, muncul seorang anak yang tiba-tiba berdiri di depan mereka.
Wergon dan Filhener menoleh dan melihatnya secara perlahan dari kaki yang
kemudian merambat hingga kepalanya. Dia terlihat aneh dengan pakaiannya yang
begitu rapat, bertudung kepala, dan masker yang menutupi separuh wajah bagian
bawah, pikir mereka. Anak itu adalah Jordan.
“Apa
yang Anda lakukan di situ?” tanya Filhener penasaran.
“Kenapa
kalian melakukan ini?” tanya Jordan balik pada keduanya.
“Apa?”
“Kenapa,
kenapa kalian mengamen di jalanan?”
Wergon
dan Filhener terdiam bingung sejenak dengan saling bertatapan muka.
“Ya,
tentu untuk memenuhi kebutuhan kami,” jawab Wergon.
“Lalu,
di mana orang tua kalian?”
“Orang
tua kami sudah meninggal,” ujar Wergon dengan wajah sedihnya.
“Apa
kalian bersaudara?”
“Tidak
mungkin,” sahut Filhener singkat.
“Di
mana rumah kalian?”
“Rumah
kami adalah semau kami. Jadi, kami tinggal di beberapa tempat sempit dan kumuh
di sudut-sudut bangunan kota ini.”
“Bagaimana
kalian bisa bertahan dari cuaca? Tidakkah kalian merasa kedinginan saat malam?”
“Saat
kami membutuhkan sesuatu, pasti kami akan mencarinya. Itulah yang membuat kami
bertahan. Karena ada banyak jalan untuk bertahan, hanya saja jalan yang kami
ambil biaya karcis masuknya yang paling murah.”
Wergon
langsung tertawa mendengar ucapan Filhener tersebut.
“Apa
ada pertanyaan lagi, Tuan banyak tanya?” lanjut Filhener.
“Apa
kalian punya teman lain?”
Wergon
dan Filhener terdiam sekejap sambil memandang gelisah.
“Siapa
yang mau berteman dengan kami. Kami hanyalah anak pengamen. Anak-anak
gelandangan. Anak-anak tak berpendidikan,” jawab Filhener lembut.
Jordan
begitu terharu melihat penderitaan yang dialami oleh Wergon dan Filhener.
Mungkin merekalah teman yang tepat untuknya, teman yang akan mengerti
keadaannya, teman yang akan selalu membantunya di kala susah, teman yang akan
setia menemaninya dalam situasi apapun, pikirnya.
“Mungkin
mereka yang tidak mau berteman dengan kalian adalah orang-orang yang merugi,”
hibur Jordan, “Aku akan sangat bangga jika bisa berteman dengan kalian.”
Wergon
dan Filhener langsung mengangkat wajah dengan kesedihan yang mulai memudar.
“Kau….
Apa yang kau katakan?” tanya Wergon heran.
“Jadi,
apa kita berteman sekarang?” jawab Jordan sambil mengulurkan tangan kanannya di
hadapan Wergon.
Wergon
tersenyum senang mendengarnya.
“Tentu
saja, Kawan baru banyak tanya. Kita berteman!” jawab Wergon kegirangan seraya
berjabatan tangan dengan Jordan.
“Namaku
Wergon dan ini adalah Filhener.”
“Senang
berteman denganmu, Filhener,” ujar Jordan sambil berjabatan tangan pula dengan
Filhener yang ikut senang.
“Hei,
ayo ikut denganku! Aku akan kenalkan kalian dengan bibiku. Mungkin dia akan
memberi kalian tempat tinggal baru,” sahut Jordan sesaat setelah melepaskan
jabatannya.
Wergon
dan Filhener sepertinya sangat senang mendengar akan diberikan tempat tinggal
baru. Mereka pun bergegas pergi bersama Jordan. Selangkah demi selangkah
berjalan menjauhi tempat awal persahabatan mereka. Tapi dari kejauhan, masih
terdengar beberapa ucapan yang terlontar dari mulut mereka.
“Mmmm,
kau tahu, sejujurnya ini sedikit aneh,” lanjut Filhener sambil menggaruk
belakang kepalanya, “Kau datang hanya ingin tahu tentang kami dan menyatakan
berteman dengan kami. Apa yang sebenarnya membawamu untuk melakukan itu,
temanku…..?”
“Mungkin
akan kuberitahu nanti, termasuk namaku.”
“Kau
pasti bukan anak kota?” sahut Wergon.
“Aku
lahir dan dibesarkan di tengah kota ini. Apa ada masalah?”
Wergon
mengangkat bahunya dan berkata, “Tidak, lupakan saja!”
Saat itu aku masih sibuk
memilih buah dan tanpa kusadari Jordan sudah tidak lagi memegang tanganku. Aku
begitu cemas jika dia telah diculik oleh orang yang ia maksud. Aku langsung
mencarinya, berlarian di sepanjang jalan, tapi tetap saja aku tidak
menemukannya. Aku menangis ketakutan jika terjadi apa-apa padanya. Lalu aku
berbalik dan begitu terkejut saat melihat Jordan sudah berada dihadapanku.
Tangisan ketakutanku seketika berubah menjadi tangisan bahagia dan langsung
kupeluk erat dirinya. Tapi, aku sangat heran dengan kedatangan dua pengamen itu
bersamanya.
“Kenapa
kau membawa dua anak ini, Jordan? Siapa mereka?” tanya Delarmy penasaran sesaat
setelah menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Mereka
adalah teman baruku, Bibi. Di samping kananku ini adalah Wergon dan yang ini
adalah Filhener.”
“Kalau
begitu, kalian bisa memanggilku Bibi Delarmy,” ujar Delarmy seraya berjabatan
tangan dengan Wergon dan Filhener dengan senyuman ramah.
Terlebih Jordan mengajukan
permintaan yang sedikit aneh.
“Dan
mereka tidak punya tempat tinggal.”
“Lalu?”
“Lalu…,
apakah Bibi mengizinkan mereka untuk tinggal bersama kita?”
Delarmy
langsung menegakkan punggungnya setelah mendengar permintaan Jordan tersebut.
Dia hanya diam dan menghela napas. Wajahnya yang tampak tidak enak membuat
Jordan ragu kalau permintaannya akan diterima.
Aku menatap wajah ketiganya,
seakan begitu berharap aku bisa menerima dua teman barunya itu. Itu membuatku
tidak tega jika harus menelantarkan mereka. Apalagi itu untuk pertama kalinya
Jordan bisa memercayai orang lain untuk dijadikan temannya. Aku pun menerima
mereka berdua untuk tinggal bersama kami. Aku tidak tahu apa yang membuat
Jordan memilih mereka sebagai temannya. Namun setelah kami melewati waktu
bersama, aku mulai mengerti kenapa Jordan memilih mereka.
Mereka bertiga berbeda
dengan anak-anak pada umumnya. Penderitaan yang mereka alami menjadi awal dari
keberhasilan mereka dan sebagai kunci bangkitnya semangat hidup mereka.
Dukungan satu sama lain, membuat Jordan sedikit demi sedikit berani untuk
tampil di muka umum. Dia tak lagi memakai busana musim dingin, walaupun lengan
dan tangannya masih ditutupi hingga saat ini.”
Delarmy seperti sudah
mengakhiri ceritanya, namun Earon masih saja serius memerhatikan setiap kata
yang akan keluar dari bibir Delarmy seraya memegang segelas teh dengan kedua
tangannya yang bertumpu pada pahanya.
“Kau masih ingin aku
melanjutkan kisahnya?” tanya Delarmy.
Earon menganggukkan
kepalanya sambil berkata, “Tentu, Bibi. Aku ingin tahu bagaimana Jordan hidup
hingga bisa seperti sekarang ini.”
Delarmy tersenyum lebar pada
Earon dan dari raut wajahnya, sepertinya kisah selanjutnya tidak terlalu
menjadi beban kepedihan untuknya.
“Mereka tidak pernah
merepotkanku. Mereka selalu membantuku untuk berkebun, memasak, dan juga
mencari uang. Setiap ada selang waktu, mereka mengamen di jalan-jalan pinggiran
kota Losapins. Walaupun mereka tahu bahwa tidak banyak orang yang melewati
pinggiran kota. Tapi mereka pantang menyerah. Mereka bilang kalau uang hasil
mengamen itu untuk tabungan biaya sekolah mereka kelak karena mereka tidak mau
orang-orang berpikir kalau mereka adalah cerminan orang-orang yang terbelakang.
Aku hanya bisa tersenyum geli mendengar itu. Tapi itu membuatku tahu bahwa
mereka juga seperti anak-anak yang lain. Ingin bersekolah dan mendapat lebih
banyak teman.
Saat awal ajaran baru akan
tiba, mereka tampak sedih dan tiada hari tanpa menggerutu. Bahkan mereka tak
berselera makan.
Di
sebuah ruang makan yang berdampingan dengan dapur, jendela kaca yang
memantulkan sinar luar menerangi ruangan tersebut, meja makan yang berbentuk
persegi dengan empat kursi yang ditata saling berhadapan, serta hiasan satu pot
bunga mawar putih yang diletakkan di atas tengah meja tersebut. Delarmy yang
bersampingan dengan Jordan, duduk berhadapan dengan Filhener dan Wergon.
Piring-piring dengan nasi dan lauk harian sudah tersaji di depan mereka.
Delarmy menikmati makanan yang baru saja selesai ia buat. Sementara tiga yang
lainnya, hanya memainkan sendok mereka. Wergon mengaduk-aduk makanannya,
Filhener menusuk-nusuk makanannya, dan Jordan hanya diam memegang sendoknya.
Pandangan kosong mereka bertiga layaknya orang yang sedang menanggung beban,
terus tertuju pada piringnya.
Delarmy
yang memerhatikan mereka tak kunjung makan, membuatnya ingin tahu apa yang
menyebabkan mereka demikian.
“Wergon,
kenapa makanannya kau aduk-aduk? Filhener, kau bisa memecahkan piringnya!
Jordan, jika kau terus diam seperti itu akan banyak hantu yang ingin
merasukimu.”
Seketika
mereka bertiga langsung mengangkat kepala dan berhenti melakukan tingkahnya.
“Ada
apa dengan kalian?” tanya Delarmy lembut, “Apa kalian sudah bosan dengan
makanannya? Atau makanan kali ini tidak terasa enak?”
“Ini
bukan tentang makanan, Bibi. Ini tentang…,” sahut Wergon.
“Tentang
apa? Ceritakan padaku!”
“Tabungan
kami tidak cukup untuk masuk sekolah tahun ini,” jawab Filhener.
“Tapi,
tidak apa-apa, Bibi. Mungkin kami bisa daftar tahun depan saat tabungan kami sudah
cukup,” kata Jordan yang mencoba menghibur suasana, walaupun dirinya sendiri
juga sulit untuk menerimanya.
Delarmy
hanya tersenyum lebar.
“Kalau
sudah berniat tahun depan, bukan lagi menjadi beban kalian, ‘kan? Makanlah
dulu! Aku tidak mau kalau nanti kalian sakit,” ujarnya.
Setelah
mereka menghabiskan semua makanannya dan sesaat setelah Jordan meletakkan
sendok di atas piring kosongnya, Delarmy mulai angkat bicara lagi.
“Jadi,
apa kalian ingin sekali bersekolah?” tanya Delarmy.
Mereka
bertiga menganggukkan kepala secara bersamaan.
“Kalau
begitu simpan tabungan yang kalian miliki dan belajarlah yang rajin.”
Jordan
dan kedua temannya saling memandang, tidak mengerti maksud dari perkataan
Delarmy tersebut.
“Maksudnya,
Bibi akan menyekolahkan kami atau bagaimana?” tanya Jordan bingung.
“Tentu
saja. Demi anak kesayanganku, demi semuanya. Kalian bisa sekolah tahun ini.
Biar aku yang menanggung biayanya, tapi ingat hanya jika aku punya uang. Jika
tidak, maka tabungan kalian bisa menggantikannya untuk biaya selanjutnya.”
Jordan,
Wergon, dan Filhener begitu bahagia mendengarnya.
“Terimakasih,
Bibi,” ucap ketiganya kegirangan.
“Kami
akan melakukan semua yang Bibi mau,” lanjut Jordan.
“Benar,
Bi!” sahut Wergon.
Delarmy
tersenyum lebar seakan merasakan pula kegembiraan yang mereka rasakan.
Walaupun demikian, tidak
mudah juga bagi mereka untuk bisa diterima di sekolah yang standarnya hebat
atau sedang. Umur mereka yang tidak jauh berbeda seharusnya duduk dibangku SMP.
Tetapi, tak ada satu sekolah pun yang mau menerima mereka tanpa bukti ijazah
SD. Hanya sekolah dengan standar rendah yang mau menerima mereka. Namun, aku
tidak mau mereka sekolah di sana karena kedisiplinan sekolah seperti itu di
kota Losapins sangatlah kurang. Terlebih, pemerintah tidak pernah menghiraukannya.
Apa boleh buat, aku harus
meminta mereka untuk lanjut di bangku SD terlebih dahulu dan mereka tidak
keberatan. Namun, itu pun tak mudah. Dengan umur yang lumayan jauh dengan
anak-anak SD pada umumnya, pihak sekolah menganggap bahwa mereka adalah anak-anak
yang terasingkan, dikucilkan dari masyarakat karena ketidakgunaannya. Untuk
itu, kami harus berjuang meyakinkan pihak sekolah bahwa Jordan dan kedua
temannya tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Setelah melalui beberapa tes,
akhirnya pihak sekolah terkesan dengan hasilnya. Tapi, mereka pun tidak bisa
ditempatkan di bangku kelas enam. Pihak sekolah menempatkannya di bangku kelas
lima agar ketiganya mengetahui peraturan-peraturan yang telah ditetapkan di
sekolah itu.
Akhirnya, mereka lulus SD
dengan peringkat terbaik. Mereka melanjutkan belajarnya di SMP favorit dan
lulus dua tahun kemudian, lalu SMA lulus setelah dua tahun belajar. Mereka
melanjutkan ke universitas terbaik di Losapins melalui beasiswa. Dan saat ini,
mereka mampu menyusul pendidikannya sama seperti anak-anak yang seumur dengan
mereka.
Kau tahu, Earon. Sejak
belajar di bangku SMP, mereka membayar uang sekolah dari hasil kerja keras
mereka sendiri. Mereka tak lagi mengamen, tetapi menjadi pemain akrobat
jalanan. Setiap sore mereka giat berlatih di halaman belakang ini,
berselang-seling dengan memainkannya langsung di depan umum. Itu pun masih di
jalan-jalan pinggiran kota, tapi hasil yang diperoleh lebih memuaskan dari
mengamen.
Dan kudengar sekarang mereka
sudah sangat jarang memainkannya lagi. Dengan kepandaian dan keterampilan yang
telah mereka miliki tentu mereka akan lebih memilih untuk mencari pekerjaan
yang lebih layak.”
Earon masih terdiam merenung
haru setelah mendengar perjuangan yang mereka hadapi bersama. Mereka selalu
bisa saling mengisi, baik di kala susah maupun senang.
Sementara itu, Wergon dan
Lytro masih saja menunggu proses loading
pada monitor komputer di hadapannya. Jari-jari tangan Wergon masih berada di
atas keyboard, sepertinya tak lama
dia baru memberikan input-an di
programnya.
“Kumohon. Berhasil.
Berhasil,” kata Wergon resah seraya mengepalkan kedua tangannya di atas keyboard.
Wergon dan Lytro mengamati
prosesnya dengan sungguh-sungguh, terlebih saat hampir mendekati seratus
persen. Namun saat proses loading
sudah selesai, hasilnya tidak seperti yang mereka pikirkan sebelumnya, karena
begitu banyak tulisan yang begitu detail yang seketika membuat Wergon terlonjak
kegirangan. Bahkan, dia nyaris menumpahkan minumannya yang hampir habis di
dekat monitor atas keyboard.
“Akhirnya, aku berhasil!”
katanya sambil berdiri dengan semakin memperkuat kepalan tangannya yang
diangkat tinggi-tinggi.
“Kerja bagus, Wergon!” ujar
Lytro yang ikut senang sambil menepuk belakang tubuh Wergon.
“Tentu saja. Sudah kubilang
programku…. Aaaaa…!!”
Belum sempat Wergon
membanggakan dirinya, salah satu kakinya tiba-tiba tersandung ke belakang yang
membuatnya terjatuh bersama kursinya.
Lytro yang melihat itu
mencoba meraih uluran tangannya sebelum terjatuh, tapi karena jari-jarinya
belum siap sehingga membuatnya meleset dan terjatuhlah Wergon.
“Awwuhuhuhuhuh…!” rintih
Wergon sambil memegang punggungnya dengan posisi tubuh yang masih terbaring di
lantai dengan kursi di sisinya yang kondisi salah satu kaki kursi tersebut
patah.
Lytro hanya diam duduk di
kursi dan menahan tawanya sambil melihat Wergon kesakitan.
“Kau tak apa?” tanyanya.
“Rasanya ada yang hancur,”
jawab Wergon dengan ekspresi diam yang terfokus pada tulang belakang yang
terasa sakit.
Lytro dan Wergon telah
berhasil memecahkan kasus mereka. Kini beralih ke suasana di kebun Delarmy.
“Aku tak menyangka jika
Jordan pernah menjalani hidup sesulit itu,” kata Earon pelan yang masih duduk
di samping Delarmy.
“Aku bahkan tak yakin jika
Jordan sudah melupakan masa lalunya. Aku tahu, sebenarnya dia masih sangat
merasa takut pada seseorang yang mencarinya. Aku masih bisa melihat kesedihan
terpendam di balik senyum manisnya.”
“Kau benar, Bi. Dia sama
sekali tidak menampilkan raut wajah sedihnya atau itulah dia yang tidak mau
membuat orang khawatir karenanya,” ucap Earon, “Aku ingin tahu satu hal, Bibi.”
Delarmy menatap wajah Earon
sebagai tanda bahwa dia juga ingin tahu apa yang ingin Earon tanyakan padanya.
“Siapa orang yang mengincar
Jordan? Siapa orang yang telah menyakiti Jordan hingga dia tidak dapat
melupakannya?” ucapnya Earon agak marah.
Delarmy bingung harus
menjawab apa.
“A, a, aku tidak. Aku tidak
bisa mengatakannya padamu,” jawab Delarmy gugup.
“Kenapa tidak, Bibi? Ini
demi Jordan. Aku akan menangkap orang itu jika dia berani menyakitinya lagi.”
“Sungguh, aku tidak bisa
mengatakannya padamu.”
“Kumohon, Bi. Ini karena aku
menyayangi Jordan dan biarkan aku yang membalasnya. Apapun akan aku lakukan
untuk membuat hidup Jordan tenang kembali.”
“Dan itulah yang Jordan coba
lakukan, membuat hidup orang yang paling dia sayangi tenang dari keberadaannya.
Dan satu hal lagi, tanpa balas dendam.”
Delarmy langsung bangkit
berdiri, bersamaan dengan Jordan dan Filhener yang berjalan mendekati mereka.
“Maafkan aku, Earon,” ucap
Delarmy sambil tersenyum lebar pada Earon, lalu pergi meninggalkannya.
Earon membalasnya dengan
senyuman kecil, walaupun hatinya kecewa karena belum mengetahui sepenuhnya
kebenaran tentang masa lalu Jordan.
“Kau tampaknya sudah sangat
akrab dengan bibi Delarmy. Tak semua kenalan baru bisa melakukan keakraban
secepat yang kau lakukan pada bibi,” ujar Jordan yang sudah berdiri di
depannya. Sementara saat itu pula, Filhener sedang memutar pinggangnya yang
terasa pegal ke kanan dan kiri, berdiri di samping Jordan.
“Itu karena bibimu orang yang
ramah. Semua orang tentu merasa nyaman dengannya,” jawab Earon.
Jordanpun langsung duduk di
tempat yang Delarmy tempati sebelumnya. Dia mengambil segelas teh hangat dan
menikmatinya dengan rasa lelah yang semakin memberikan kenikmatan tersendiri.
Filhener juga menyusul Jordan dengan duduk di sampingnya setelah dia mengambil
satu-satunya gelas teh yang tersisa di atas nampan.
Beberapa saat kemudian,
Earon melihat Filhener sedang menatapi selembar kertas berukuran (8x10) cm,
yang kemudian ia mainkan kertas tersebut dengan salah satu tangannya setelah
dirasa tidak penting lagi untuk terus diamati. Tapi, ada sesuatu yang menarik
perhatian Earon saat melihat gambar seseorang di atas selembar kertas kotor
tersebut.
“Hei, apa yang ada di
tanganmu itu?” tanya Earon penasaran sambil meletakkan gelasnya yang tersisa
seperempat air teh, di atas nampan.
Filhener langsung
menghentikan permainannya.
“Foto ini?” sahut Filhener.
Jordanpun mengarahkan
pandangannya pada gambar foto yang masih dipegang oleh Filhener.
“Bukankah itu Charevins?”
katanya.
Mendengar itu, Earon
langsung merebut foto tersebut dari genggaman Filhener. Jordan dan Filhener
kebingungan atas tindakan Earon tersebut yang sambil berdiri di hadapan mereka
berdua, terlebih saat raut wajahnya mulai memerah saat melihat foto Fordien.
Wajahnya yang terlihat penuh amarah kemudian berpaling pada Filhener. Hal itu
membuat Filhener semakin bingung dan ketakutan. Mungkinkah Earon bercuriga
kalau dirinya pernah bekerja sama dengan penjahat kelas kakap tersebut, pikir
Filhener.
“Jangan lihat aku! Aku hanya
menemukannya di sana,” jelas Filhener gugup seraya mengangkat dagunya menunjuk
ke arah tanah kebun yang baru saja ia garap, “Jadi apapun kasusmu dengan orang
itu, aku sama sekali tidak ada hubungannya.”
Earon memejamkan mata
sejenak. Mungkin amarahnya terlalu berlebihan, bahkan membuat temannya merasa
gelisah terhadapnya. Perlahan-lahan, dia mengambil beberapa napas ketenangan.
Setelah cukup kuat untuk mengendalikan amarahnya, dia mulai membuka matanya
kembali.
“Kenapa fotonya bisa sampai
di sini?” tanya Jordan penasaran.
Earon memasukkan foto
tersebut di saku kiri celananya. Mungkin dengan tujuan agar dia tidak lagi
melihat wajah orang di balik foto tersebut, sehingga amarahnya tidak berkobar.
“Mungkin karena aku tak sengaja
menjatuhkannya,” sahut Earon.
Jordan dan Filhener langsung
mengangkat wajahnya.
“Maaf, Fil. Aku tadi tidak
bermaksud marah, benci, atau curiga terhadapmu. Aku hanya tidak bisa menahan
emosiku setiap kulihat wajah penipu ini,” jelas Earon.
Pengakuan Earon tersebut
sedikit membuat Filhener lega, namun juga terbayang dalam benak dirinya dan
Jordan, apa yang membuat Earon melakukan semua itu.
Lalu, Jordan bangkit dari
duduknya.
“Aku tahu dia adalah
incaranmu. Sebagai tugas dan tanggung jawab, kau harus menangkapnya demi
kedamaian Losapins. Tapi yang kulihat tidaklah demikian. Kau melakukannya
karena ada unsur paksaan dalam dirimu, yaitu dendam,” ujar Jordan, “Siapa dia
yang telah membuatmu begini?”
Earon terdiam sejenak.
Tatapannya tertuju pada mata Jordan, sementara pikirannya tertuju pada apa yang
baru saja Jordan katakan. Kemudian pandangannya berpaling sambil melakukan
beberapa kedipan mata sebelum menjawab pertanyaan Jordan. Mungkin pertanda
bahwa dia siap dengan semua kebenaran yang akan dia ungkapkan pada sahabatnya.
Jordan melihat kegelisahan yang dialami oleh Earon. Dia melihat ada kekecewaan
yang terpendam dalam diri Earon yang seakan tak bisa dihapus.
“Sudah sekian lama aku
mencarinya, dan aku tahu kalau ternyata dia adalah saudaraku. Fordien adalah
adikku. Tapi itu dulu,” jawab Earon.
Filhener begitu terkejut
mendengarnya dan langsung bangkit berdiri dengan mulut menganga, sementara
keterkejutan Jordan dibawa dengan suasana diam dan tenang.
“Aku tidak suka kalau harus
mengingat kejadian itu lagi,” lanjut Earon dengan berat hati.
“Kalau begitu, aku tidak
bisa memaksamu untuk bercerita, ‘kan?” sahut Jordan sambil tersenyum kecil.
Earon melihat senyuman
Jordan tersebut. Lalu entah kenapa, tapi mungkin karena senyuman kecil Jordan
membuat Earon berniat untuk melanjutkan pembicaraannya.
“Saat dia masih kecil, dia
sudah menghancurkan kebahagianku. Merenggut nyawa orang-orang yang kucintai.
Masa kecilnya benar-benar licik, sama seperti sekarang ini. Dia berbisa,
seperti ular. Jika bertemu dengannya, jangan sampai kalian tertipu oleh
wajahnya yang sok lugu.”
“Lugu?”
“Yang benar saja. Justru
dari wajahnya itu, aku tahu kalau dia berotak kriminal. Tapi, wajah kalian
memang sedikit mirip,” sahut Filhener.
“Tentu saja, karena kami
saudara seibu. Tidak, dia tidak lagi saudaraku. Dia hanyalah parasit dalam
hidupku. Dan harus segera kusingkirkan. Selama keberadaannya masih ada di dunia
ini, aku tidak akan pernah bisa tenang,” ucap Earon geram.
Jordan memandang gelisah
Earon. Dia sangat mengerti perasaan seperti apa yang Earon rasakan saat
disakiti oleh saudaranya sendiri. Tapi di sisi lain, hatinya pun merasa resah
dengan niat yang akan Earon lakukan terhadap adiknya.
“Jadi maksudnya, kau akan
membunuh adikmu?” ucapnya.
Filhener langsung terkejut
dan menoleh pada Jordan. Kenapa Jordan bisa berpikiran kalau Earon akan
melakukan hal sekeji itu, pikirnya.
“Itu keputusan yang bijak,
bukan?” lanjut Earon.
Filhener semakin terkejut
atas perkataan Earon tersebut. Ternyata benar yang dipikirkan oleh Jordan. Tapi
anehnya, kenapa Jordan hanya diam berdiri dan tidak memberinya peringatan. Ada
apa dengan mereka berdua yang hanya diam dan saling memandang, pikirnya lagi.
Suasana terasa hening
sejenak.
“Aku juga memiliki seorang
kakak,” ucap Jordan tiba-tiba, “Dia selalu menyayangiku. Dia mengorbankan
kebahagiaannya hanya untuk diriku. Aku ingin membalas semua itu dengan
memberinya kebahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya. Tapi aku tidak tahu
caranya. Hingga kami pun berpisah, dan aku sangat menyesal karena belum bisa
memberikan apa yang dia inginkan. Jika suatu saat aku diberi kesempatan untuk
bertemu dengannya, apapun yang terjadi di antara kami, akan kupastikan dia tahu
betapa sayangnya aku padanya. Karena kesempatan itu tidak akan datang untuk
yang kedua kalinya.”
Earon hanya membisu sambil
menundukkan pandangan. Terlihat dari binar matanya, dia memikirkan kembali
keputusan yang akan dia ambil. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat
pandangannya kembali ke arah Jordan. Dia menatap mata Jordan yang menunggu
jawaban pantas seperti apa yang harus ia ambil. Di balik tatapan itu pula,
Earon mengingat kembali semua kisah Jordan yang telah ia ketahui dari Delarmy.
Siapa sebenarnya Jordan, yang begitu sulit ditebak ini. Tapi siapa pun dirinya,
telah membuat hati Earon tenang setiap ingin mengobarkan amarah.
Secara perlahan-lahan, Earon
pun mengambil napas dalam dan mengembuskannya.
“Kurasa, biarlah keadilan
yang menghukumnya,” katanya.
Jordan tersenyum lega
mendengar jawaban tersebut.
“Tapi, aku tidak bisa
memaafkannya. Tidak pernah bisa. Aku tidak akan memaafkannya sekalipun dia
berlutut dan menangis di hadapanku.”
Rasa lega Jordan seketika
bercampur dengan kegelisahan setelah Earon melontarkan ucapannya tersebut.
Sesaat kemudian, tiba-tiba
terdengar suara panggilan telepon milik Earon. Dia membalikkan tubuhnya, lalu
mengangkat telepon yang ia ambil dari saku celana kanannya.
“Halo, Lytro. Ada apa?”
tanyanya sesaat setelah dia mendekatkan teleponnya di telinganya.
Jordan dan Filhener yang
berdiri membelakangi Earon, berusaha mengikuti pembicaraannya dengan Lytro.
“Benarkah?”
“Baik, aku segera ke sana.”
Earon segera menutup
teleponnya dan berpamitan pada sahabatnya.
“Aku harus pergi sekarang,”
katanya seraya berjalan masuk menuju rumah untuk mengambil barang yang ia
letakkan di dalam, mungkin juga untuk sekalian pamit pada Delarmy.
Jordan dan Filhener
sebenarnya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tak sempat
menanyakannya pada Earon, karena dia terlihat begitu tergesa-gesa.
Namun tak lama kemudian,
terdengar bunyi panggilan handphone
milik Jordan. Tertulis nama Mr. C. Jordan melihat ke belakang barangkali
bibinya terlihat, tapi tidak. Dia pun menekan tombol angkat serta mengeraskan speaker-nya agar Filhener ikut
mendengarnya.
“Apa yang terjadi?” tanya
Jordan penasaran.
“Aku punya tugas untuk kalian. Akan ada rencana penyergapan malam ini,
jadi aku minta kalian mengawasi satu orang penting dalam penyergapan tersebut.”
“Siapa dia?”
“Mungkin kali ini dia yang akan menjadi pemimpin penyergapan itu.”
Begitu mengatakannya,
tiba-tiba sambungan teleponnya terputus.
Jordan dan Filhener saling
bertatapan mata. Sepertinya mereka berdua sudah tahu seseorang yang dimaksud
oleh Mr. C.
“Tidakkah kau pikir semua
ini terasa sangat aneh dan membingungkan?” tanya Jordan resah.
“Ya. Lebih tepatnya sejak
kita bertemu dengan para agen itu.”
Mereka berdua menghelas
napas bersamaan, seakan pasrah menerima kenyataan yang telah terjadi dalam
hidup mereka.
Hari mulai petang. Bayangan
pun sedikit demi sedikit merambat naik, menggelapkan wilayah perbatasan
beriringan dengan tenggelamnya matahari dari balik bukit-bukit kecil yang
mengelilingi daerah tersebut. Burung-burung sudah kembali dari ladang makanan
dan menuju ke sarang pohon mereka masing-masing. Begitulah situasi sore hari di
daerah perbatasan kali ini, yang telah meninggalkan cerita-cerita dari suatu
ikatan persahabatan.
No comments:
Post a Comment