CHAPTER 5: SEBUAH CERITA DI KEBUN DELARMY

 

Hari libur pagi, saat matahari tampak di balik dedaunan puncak pohon perintis, Jordan, Earon, dan Filhener mengunjungi rumah Delarmy.

Tok, tok, tok.

Terdengar suara ketukan pintu depan rumah saat Delarmy sedang merapikan benda-benda hiasan kecilnya di meja ruang tamu. Sepertinya, dia sudah mengetahui kalau yang mengetuk pintu tersebut adalah anak kesayangannya, maka dia pun mengambil sebuah guci kecil yang sepertinya telah ia persiapkan di atas perapian.

“Buka saja pintunya!” serunya.

Sedikit demi sedikit pintu terbuka, cahaya dari luar merambat menerangi lantai yang menjadi jalannya pintu. Saat pintu merayap setengah terbuka, Delarmy bersiap mengayunkan gucinya. Namun, ayunan tangannya langsung terhenti ketika seseorang yang ia lihat adalah sosok wajah yang belum pernah ia temui sebelumnya, berdiri di antara Jordan dan Filhener, sedikit lebih ke depan. Delarmy pun menurunkan tangan yang memegang gucinya. Dia berjalan mendekat sambil tersenyum ramah melihat kehadiran Earon, masih dengan tangannya yang memegang guci tersebut.

“Siapa namamu, Anak muda?” tanyanya saat langkahnya terhenti tepat di hadapan Earon.

“Earon. Begitulah sahabatku memanggil,” jawab Earon dengan ramah pula.

Delarmy terdiam sambil tersenyum lebar menatap mata ketiganya. Jordan dan Filhener tampaknya sudah mengerti maksud dari tatapan tersebut. Sementara Earon, dia hanya bisa menoleh pada Jordan dan Filhener yang terdiam dengan ekspresi wajah keluh kesah, merasa bingung dengan tingkah mereka.

“Jangan lakukan ini padanya,” ujar Filhener.

“Kalian tidak membawa Wergon, jadi dia yang akan menggantikannya.”

“Bibi, dia adalah tamu kita. Tak baik kita memintanya untuk melakukan itu. Biar kami berdua yang melakukannya,” sahut Jordan.

“Siapa pun yang kalian ajak kemari, maka ajaklah dia juga untuk bersenang-senang. Mumpung hari ini cerah.”

Earon benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia pun angkat bicara untuk memenuhi rasa penasarannya tersebut.

“Maaf, kalau boleh tahu, apa maksud dari bersenang-senang?”

Suasana terasa hening sejenak. Jordan menatap mata Delarmy, berharap agar bibinya tidak mengatakan pekerjaan itu pada Earon.

“Saatnya berkebun, Anak-anak!” seru Delarmy gembira.

Jordan pun tak bisa mengelak keinginan bibinya tersebut, walaupun sebenarnya hatinya merasa tidak enak terhadap Earon yang dipaksa ikut untuk bekerja di kebun.

Hari itu adalah hari yang cerah. Tak terlihat sedikit pun awan yang menandakan akan turunnya hujan di langit biru yang terbentang. Angin wilayah perbatasan yang masih sesejuk tiupan angin di desa Wesnoreast. Seperti yang Delarmy katakan bahwa memang hari yang tepat untuk berkebun.

Di halaman belakang rumahnya, Jordan sedang mengubrak-abrik peti besi yang dipepetkan pada tembok rumah. Dia mencari perkakas yang digunakan untuk berkebun. Terlihat mereka sudah melepaskan jaket dan menggunakan baju rangkapan dalamnya, mempersiapkan dua cangkul yang diletakkan di dekat Filhener dan Earon yang berdiri menunggu benda kebun ajaib yang akan Jordan keluarkan. Secara bertahap, Jordan mengeluarkan satu ember dan tiga sekop. Merasa sudah cukup dengan perkakas yang dibutuhkan, Jordan menyapu kedua telapak tangannya.

“Sudah. Ini saja yang kita butuhkan,” katanya sambil menumpukan kedua tangan di pinggang dengan pandangan yang berbalik ke arah kedua temannya.

Jordan mengambil satu sekop dan satu cangkul. Dia bergegas menuju tanah kebun yang tersengat sinar matahari. Sementara Filhener mengambil ember dan satu sekop, lalu segera menyusul Jordan. Namun, langkah ke duanya terhenti ketika melihat Earon masih berdiri dengan tatapan mata yang kebingungan.

“Apa kau ingin membawa embernya? Sementara, aku akan membawa cangkulnya,” ujar Filhener sesaat setelah berbalik ke arah Earon.

“Tidak perlu. Biar aku yang membawa cangkulnya. Setidaknya, aku tahu cangkul digunakan untuk apa,” sahut Earon dengan tangan yang sudah memegang ujung pegangan cangkul.

Filhener merengutkan keningnya saat seketika sesuatu terlintas di kepalanya.

“Jangan katakan kalau kau tahu nama benda-benda ini, tapi tidak tahu cara menggunakannya.”

Earon menoleh Filhener dengan tatapannya, dia menjawabnya dengan gugup.

“Uh, tentu saja aku bisa. Yah, kau tahu. Itu mudah, bukan?”

Filhener membalas tatapannya dengan wajah yang tidak enak.

“Heh, jika ada orang yang tak bisa menggunakan benda-benda ini….” Earon melihat lagi tatapan tak enak Filhener, lalu memelankan temponya saat berkata, “Jelas, itulah aku.”

Pengakuan Earon tersebut tampaknya tidak membuat Filhener menghentikan ekspresi wajah tak enak di depannya.

“Sungguh, Fil. Aku sudah mengakuinya dan tolong hentikan wajah menyebalkanmu itu!” gerutu Earon kesal.

“Aku tahu tak seharusnya Bibi Delarmy memintamu,” gumam Filhener seraya mengembalikan wajah normalnya.

“Kenapa kalian masih diam saja di situ?!” seru Jordan tiba-tiba, menghentikan galiannya sejenak dengan sedikit membungkuk, kedua tangan memegang pegangan cangkul, dan ujung pisaunya menyentuh tanah.

“Jangan khawatir, Agen rahasia. Sebentar lagi kau akan naik pangkat menjadi agen kebun tetap kami. Kau bersama dengan ahlinya,” ucap Filhener kepada Earon seraya melangkahkan kakinya menuju Jordan yang masih terhenti menunggunya.

Earon tersenyum lebar menyamping. Dia pun segera menyusul, membantu kedua temannya yang sudah mulai bekerja dengan benda bawaannya masing-masing.

Sementara ketiga tukang kebun sedang disibukkan di tanah perbatasan, Wergon dan Lytro disibukkan oleh selembar kertas yang sepertinya belum juga terpecahkan. Hal itu tampak dari raut wajah mereka yang terlihat lesu. Mereka berdua duduk bersebelahan dengan kursi kayu persegi sendiri-sendiri, menghadap sebuah komputer yang berada di antara keduanya, dan masing-masing segelas teh hangat di sisinya. Lytro mengambil segelas tehnya dan meneguknya sedikit demi sedikit, tapi pandangannya masih tertuju pada layar komputer yang sedang menampilkan proses loading.

“Kuharap kali ini berhasil,” katanya sesaat setelah meneguk kembali air tehnya.

Beberapa menit setelah itu, tiba-tiba layar komputernya menampilkan tulisan There are no results to display. Seketika Wergon dan Lytro mengeluarkan suara “ceh” yang ditimbulkan antara lidah dan rongga mulut atas.

“Sebenarnya program macam apa yang kau pakai?!” keluh Lytro.

“Mana kutahu! Kau sendiri yang bilang pakai programku ini saja, Wergon. Kujamin tak ada lima menit, satu juta pencarian langsung ketemu. Nyatanya ini sudah hampir tiga jam,” sahut Wergon kesal.

“Yang benar saja,” gerutu Lytro sambil menjambak rambut bagian depan dengan kedua tangannya.

“Memang benar yang kukatakan.”

Lytro melepaskan jambakannya.

“Bukan, maksudku bagaimana bisa ini tidak berhasil.”

Suasana terasa hening sejenak.

“Mungkin kau kurang menambahi bumbu-bumbunya, jadi kurang meresap,” ucap Wergon yang mulai memegang kembali keyboard-nya.

“Baiklah, Chef bumbu-bumbu. Kuserahkan lagi padamu,” kata Lytro seraya memerhatikan Wergon melakukan aksinya.

Lalu tiba-tiba, sesuatu terlintas dalam pikiran Lytro yang membuatnya resah.

“Hei, Wergon. Menurutmu, apa yang sedang Earon dan Jordan lakukan?” tanya Lytro.

Wergon mendengarkan pertanyaan Lytro tersebut, namun pandangannya terus tertuju pada monitornya dengan jari-jari tangannya yang mengetik sesuatu pada keyboard.

“Mungkin sedang bersenang-senang,” jawabnya.

“Apa mungkin mereka sedang menceritakan masalah keluarganya satu sama lain?”

“Aku tidak tahu. Kalau pun begitu, kurasa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau santai saja. Earon dan Jordan, mereka lebih terlihat seperti saudara. Jadi, tak akan timbul masalah besar jika seseorang telah membuat ikatan saudara dengan yang lain. Yang ada, justru mereka akan saling menyayangi dan memercayai. Sekali pun nantinya ada permasalahan, mereka pasti akan mencari jalan dengan kekeluargaan.”

“Aku tak menyangka kau bisa berpidato sepanjang itu,” sindir Lytro sambil tersenyum sinis.

“Terserah kau saja,” gerutu Wergon.

Lytro kembali diam diiringi dengan perubahan senyum kegelisahan, memikirkan kembali semua yang baru saja Wergon katakan.

Kembali ke situasi halaman belakang rumah Delarmy.

Sampai di siang hari menjelang sore, Earon berjalan lesu meraih kursi panjang tua yang ditempatkan di bawah pohon besar yang tak jauh dari tanah kebun. Dia bahkan tak kuat mengangkat cangkulnya, jadi hanya ia seret hingga terdengar bunyi gesekan antara pangkal pisau dengan tanah. Napasnya terengah-engah ringan dengan keringat yang bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.

Akhirnya, dia pun duduk dan segera mengambil napas lega sambil menyelonjorkan kedua kakinya ke bawah dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya di masing-masing sisi.

“Pasti kau sangat lelah, ya?” sahut Delarmy tiba-tiba yang berada di samping belakang, meletakkan nampannya di sisi kanan Earon, “Ini minum tehnya dulu!”

Barangkali tempat untuk nampannya tidak cukup, maka Earon segera menyingkirkan tangan kanan yang menopang tubuhnya. Pandangannya juga langsung tertuju pada tiga gelas kosong dengan sebuah teko yang berisi teh panas yang masih mengepul, tersaji di atas nampan bundar tersebut. Namun, entah apa yang membuat pandangannya beralih pada Jordan yang masih giat mengurus tanah kebunnya dalam suasana panas terik.

“Bibi,” ucap Earon lirih.

“Hmm?” sahut Delarmy sambil menuangkan teh ke dalam gelas ke dua.

Earon terdiam berpikir sejenak.

“Di mana orang tua Jordan?”

Seketika Delarmy terdiam sebelum dia meletakkan kembali tekonya. Earon melihat raut wajah Delarmy berusaha tegar, tapi justru itu membuatnya semakin penasaran. Lalu, Delarmy meletakkan tekonya, duduk di sebelah kanan Earon yang dipisahkan oleh nampan, dan memandangnya dengan senyuman lebar.

“Orang tua Jordan berada di tempat yang belum pernah bisa kau lihat.”

Seketika Earon terkejut mendengar ucapan Delarmy tersebut. Dia menduga sesuatu yang tentunya bukan hal yang baik untuk dibicarakan. Namun, hatinya pun penuh dengan rasa penasaran, yang mendorongnya untuk tetap berbicara.

“Maksud Bibi, mereka sudah meninggal?”

Delarmy langsung menganggukkan kepalanya dengan senyuman kecil dan pandangan gelisahnya.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud….”

“Tidak apa. Kurasa itu pertanyaan yang wajar untuk seorang agen seperti dirimu. Penuh penasaran, timbul pertanyaan.”

Earon tersenyum sinis.

“Percayalah, Bi. Aku bisa lebih buruk dari seorang wartawan,” ujarnya.

Delarmy pun tertawa kecil mengikuti situasi yang mereka sedang coba pulihkan. Lalu, sejenak suasana terasa hening. Mereka berdua tersenyum diam sambil melihat suasana di depan mata mereka. Angin berembus kencang menggoyangkan pepohonan dan rerumputan, dan sentuhan kelembutannya memberikan ketenangan di sekitarnya. Saat itulah Earon berpikir bahwa saat yang tepat untuk melanjutkan rasa keingintahuannya.

“Sebenarnya, aku juga sering melihat Jordan menggunakan sarung tangan, tak pernah sedetik pun kutahu dia melepaskannya. Bahkan ketika ada waktunya untuk melepaskan itu, dia seakan bersembunyi untuk melakukannya. Sepertinya dia menutupi sesuatu, hanya saja agak aneh jika yang ditutupi adalah tangannya. Tapi, mungkin dia memang suka memakainya atau nyaman saat memakainya. Entahlah, katanya memecah suasana.

Delarmy memandang diam ke depan dengan senyuman yang memudar. Lalu, Earon memalingkan pandangan padanya, menatap wajahnya seakan ada kenangan buruk yang pernah terjadi.

“Mungkin Bibi tahu kenapa?”

Delarmy masih terdiam sambil membalas tatapan mata Earon. Dari tatapannya terlihat bahwa Delarmy sedang memikirkan sesuatu.

Beberapa detik kemudian, dia kembali memalingkan pandangannya ke depan seraya berkata, “Dia memang sedang bersembunyi dari seseorang.”

Ucapan Delarmy tersebut langsung membuat Earon kaget.

“Apa?” ucapnya lirih.

“Bagaimana bisa? Kulihat, dia tampak tenang-tenang saja, seperti tidak ada masalah dalam hidupnya,” lanjutnya.

Delarmy menarik napas sejenak, mengambil beberapa udara ketenangan untuk bisa kuat mengingat kembali kenangan-kenangan itu.

“Itu dimulai saat usianya masih sepuluh tahun.”

Earon semakin terkejut mendengar hal itu. Umur sepuluh tahun, rasanya cukup berat untuk memendam hal-hal buruk yang menimpa Jordan hingga saat ini, pikirnya.

“Beberapa hari setelah kedua orang tuanya meninggal, dia tinggal bersamaku,” lanjut Delarmy, “Tapi, dia begitu sedih dan ketakutan. Sangat takut. Dia terus bersembunyi di dalam rumah, tak berani keluar, dan putus sekolah selama tiga setengah tahun. Terkadang dia termenung sendirian di dalam kamarnya, berdiri di depan jendela sambil menatapi hal-hal di luar sana dengan tangan yang menggenggam busur dan mainan lonceng kecilnya. Dalam renungannya itu, aku juga sering melihat dia meneteskan air mata. Aku sungguh tidak tega saat melihat dia melakukan itu terus-terusan. Aku selalu mencoba untuk mengajaknya keluar rumah, walau hanya di halaman, tapi dia tidak mau. Selama kurang lebih tujuh bulan, dia terus melakukan hal yang demikian. Hingga suatu hari dia sendiri yang memintaku untuk menemaninya jalan-jalan ke kota Losapins.

“Bibi. Bisakah Bibi temani aku jalan-jalan keluar? Aku rindu kota rumahku,” ucap Jordan pelan.

Delarmy tersenyum lebar.

“Tentu saja, Sayang. Kemanapun, aku akan selalu menemanimu,” sahut Delarmy sambil sedikit membungkuk dan mengusap lembut rambut Jordan.

Tapi, sepertinya Jordan belum berani menampilkan dirinya di depan umum. Setiap kali kami keluar, dia selalu memakai baju lengan panjang, celana panjang, sarung tangan, jubah, benar-benar seperti busana di musim dingin. Tak lupa tudung dari jubahnya selalu ia pakai dengan masker untuk menutupi wajahnya. Kurasa, ketakutannya dari orang tersebut membuat hidupnya jauh pula dari orang-orang di sekelilingnya.

Di perjalanan, dia selalu diam melihat orang-orang sekitar yang berlalu lalang melewatinya. Pandangannya begitu awas, barangkali di antara mereka adalah orang yang mencarinya. Terkadang dia merasa iri saat melihat anak-anak lain bisa bermain, berlarian, dan tertawa bersama. Tapi, itu tak pernah berlangsung lama, hanya sebentar saja rasa itu muncul yang kemudian dia meninggalkan mereka lagi. Lalu, suatu hari dia melihat dua anak pengamen. Mereka sering kulihat mengamen di pinggir pangkal jembatan sungai Chivori, begitu juga hari itu, meski hanya hari-hari tertentu saja. Menyanyikan lagu diiringi musik ala tutup botol dengan suaranya yang tidak terlalu bagus. Tapi, aku tidak terlalu menghiraukan mereka, jadi kami hanya melewatinya dan kuajak Jordan untuk pergi ke toko buah. Kugandeng erat tangan Jordan karena kulihat pandangannya terus ke belakang, tertuju pada anak-anak pengamen itu. Sepertinya, dia sangat tertarik pada mereka berdua. Kau tahu, dan dua anak pengamen itu adalah Wergon dan Filhener.

Hari itu dengan langit yang diselimuti beberapa gumpalan awan putih dan populasi jalan yang lebih ramai dari hari biasanya, datanglah seorang anak laki-laki yang berumur sekitar lima belas tahunan menghampiri Wergon dan Filhener yang sedang asyik mengamen. Lalu tiba-tiba, anak tersebut menendang setengah keras kaleng yang berisi uang receh hasil mengamennya hingga berceceran ke mana-mana. Hal itu tentu membuat Filhener dan Wergon merasa kesal padanya, terlebih dia melakukannya dengan sengaja.

“Oops, aku tidak sengaja,” ucap anak itu dengan lagaknya sambil menghentikan langkahnya di hadapan mereka.

“Apa masalahmu?!” bentak Filhener yang sekaligus langsung bangkit berdiri di hadapan anak tersebut.

“Aduh, apa yang kau lakukan?! Jadi hilang semua uangnya,” rengek Wergon seraya menjumputi uang recehnya.

“Apa masalahku? Apa masalahmu?! Sudah kubilang aku tidak sengaja melakukannya!” sahut anak tersebut sambil mendorong keras dada Filhener dengan tangan kanannya.

Dengan salah satu kaki yang mampu menopangnya ke belakang dan lengan yang menumpu di pagar jembatan, Filhener hampir saja terjatuh. Lalu, dia ingin membalas perlawanan yang anak itu lakukan terhadapnya dengan hal yang sama. Namun saat tangannya akan diayunkan, tiba-tiba seorang wanita berbadan gemuk dengan pakaian dan gaya yang seperti model, mendatangi mereka. Filhener pun langsung menurunkan kembali tangannya tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini, Sayang?” tanya wanita tersebut.

“Tidak apa-apa, Ibu. Hanya ingin tahu kesombongan para pengemis ini. Tapi kini aku tahu, mereka sebenarnya sama sekali tak berdaya jika dihadapkan dengan uang,” ucapnya sambil menatap tajam Filhener yang juga menatap tajam dirinya.

“Apa yang sudah aku katakan padamu?! Jangan pernah dekati mereka! Ingat, derajat kita sangat jauh lebih tinggi dari mereka. Jadi mereka tidak se-level, bahkan sangat jauh levelnya. Dekatilah orang-orang yang se-level dengan kita, Sayang!” kata wanita itu dengan sangat sombongnya.

Hati Filhener benar-benar seperti terbakar, namun dia juga tidak dapat berbuat apapun mengingat dia memang hanyalah seorang pengamen. Luapan emosinya hanya bisa ia tunjukkan dengan kedua tangannya yang mengepal kencang.

“Tentu saja, Ibu. Aku juga tidak mau melihat, apalagi bergaul dengan mereka!”

Ibu dan anak yang sombong itu pun melangkahkan kakinya menjauh dari Wergon dan Filhener. Namun saat si ibu akan melangkahkan kaki ke-duanya, Wergon langsung menjerit kesakitan. Tak disangka kalau langkah pertama kakinya telah menginjak tangan kanan Wergon yang masih menjumputi koin-koinnya.

“Oops, tak sengaja,” ucapnya dengan nada menyindir, walaupun ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya. Mungkin itu artinya, dia benar-benar tidak sengaja melakukannya.

“Apa kalimat itu warisan dari keluarga kalian?” gerutu Wergon yang hampir meneteskan air mata menahan rasa sakitnya, sambil mengelus-elus bagian tangannya yang sakit.

Ibu beserta anaknya tersebut pun tak peduli apapun sahutan Wergon. Mereka langsung pergi begitu saja, tanpa ucapan maaf.

“Sombong!” gumam Filhener jengkel, memerhatikan bagaimana mereka berjalan lenggak-lenggok menjauh darinya.

“Apa yang baru saja kau katakan, Fil?”

“Bagaimana dengan tanganmu?” tanya Filhener mengalihkan kejengkelannya.

“Kau tidak lihat! Tanganku memerah dan ini rasanya seperti terbakar. Sungguh sakit, sakit sekali hikz… hikz…. Bisakah kau memberikan beberapa tiupan?” ucapnya sambil merengek dan memperlihatkan tangannya di depan Filhener.

Filhener terdiam sambil mengangkat salah satu alisnya dan berpikir betapa anehnya teman satu-satunya itu. Dia pun memberikan satu gelengan kepala sebagai jawaban atas permintaan Wergon tersebut. Sementara Wergon langsung merengut dan menurunkan kembali tangannya.

Beberapa saat setelah itu, muncul seorang anak yang tiba-tiba berdiri di depan mereka. Wergon dan Filhener menoleh dan melihatnya secara perlahan dari kaki yang kemudian merambat hingga kepalanya. Dia terlihat aneh dengan pakaiannya yang begitu rapat, bertudung kepala, dan masker yang menutupi separuh wajah bagian bawah, pikir mereka. Anak itu adalah Jordan.

“Apa yang Anda lakukan di situ?” tanya Filhener penasaran.

“Kenapa kalian melakukan ini?” tanya Jordan balik pada keduanya.

“Apa?”

“Kenapa, kenapa kalian mengamen di jalanan?”

Wergon dan Filhener terdiam bingung sejenak dengan saling bertatapan muka.

“Ya, tentu untuk memenuhi kebutuhan kami,” jawab Wergon.

“Lalu, di mana orang tua kalian?”

“Orang tua kami sudah meninggal,” ujar Wergon dengan wajah sedihnya.

“Apa kalian bersaudara?”

“Tidak mungkin,” sahut Filhener singkat.

“Di mana rumah kalian?”

“Rumah kami adalah semau kami. Jadi, kami tinggal di beberapa tempat sempit dan kumuh di sudut-sudut bangunan kota ini.”

“Bagaimana kalian bisa bertahan dari cuaca? Tidakkah kalian merasa kedinginan saat malam?”

“Saat kami membutuhkan sesuatu, pasti kami akan mencarinya. Itulah yang membuat kami bertahan. Karena ada banyak jalan untuk bertahan, hanya saja jalan yang kami ambil biaya karcis masuknya yang paling murah.”

Wergon langsung tertawa mendengar ucapan Filhener tersebut.

“Apa ada pertanyaan lagi, Tuan banyak tanya?” lanjut Filhener.

“Apa kalian punya teman lain?”

Wergon dan Filhener terdiam sekejap sambil memandang gelisah.

“Siapa yang mau berteman dengan kami. Kami hanyalah anak pengamen. Anak-anak gelandangan. Anak-anak tak berpendidikan,” jawab Filhener lembut.

Jordan begitu terharu melihat penderitaan yang dialami oleh Wergon dan Filhener. Mungkin merekalah teman yang tepat untuknya, teman yang akan mengerti keadaannya, teman yang akan selalu membantunya di kala susah, teman yang akan setia menemaninya dalam situasi apapun, pikirnya.

“Mungkin mereka yang tidak mau berteman dengan kalian adalah orang-orang yang merugi,” hibur Jordan, “Aku akan sangat bangga jika bisa berteman dengan kalian.”

Wergon dan Filhener langsung mengangkat wajah dengan kesedihan yang mulai memudar.

“Kau…. Apa yang kau katakan?” tanya Wergon heran.

“Jadi, apa kita berteman sekarang?” jawab Jordan sambil mengulurkan tangan kanannya di hadapan Wergon.

Wergon tersenyum senang mendengarnya.

“Tentu saja, Kawan baru banyak tanya. Kita berteman!” jawab Wergon kegirangan seraya berjabatan tangan dengan Jordan.

“Namaku Wergon dan ini adalah Filhener.”

“Senang berteman denganmu, Filhener,” ujar Jordan sambil berjabatan tangan pula dengan Filhener yang ikut senang.

“Hei, ayo ikut denganku! Aku akan kenalkan kalian dengan bibiku. Mungkin dia akan memberi kalian tempat tinggal baru,” sahut Jordan sesaat setelah melepaskan jabatannya.

Wergon dan Filhener sepertinya sangat senang mendengar akan diberikan tempat tinggal baru. Mereka pun bergegas pergi bersama Jordan. Selangkah demi selangkah berjalan menjauhi tempat awal persahabatan mereka. Tapi dari kejauhan, masih terdengar beberapa ucapan yang terlontar dari mulut mereka.

“Mmmm, kau tahu, sejujurnya ini sedikit aneh,” lanjut Filhener sambil menggaruk belakang kepalanya, “Kau datang hanya ingin tahu tentang kami dan menyatakan berteman dengan kami. Apa yang sebenarnya membawamu untuk melakukan itu, temanku…..?”

“Mungkin akan kuberitahu nanti, termasuk namaku.”

“Kau pasti bukan anak kota?” sahut Wergon.

“Aku lahir dan dibesarkan di tengah kota ini. Apa ada masalah?”

Wergon mengangkat bahunya dan berkata, “Tidak, lupakan saja!”

Saat itu aku masih sibuk memilih buah dan tanpa kusadari Jordan sudah tidak lagi memegang tanganku. Aku begitu cemas jika dia telah diculik oleh orang yang ia maksud. Aku langsung mencarinya, berlarian di sepanjang jalan, tapi tetap saja aku tidak menemukannya. Aku menangis ketakutan jika terjadi apa-apa padanya. Lalu aku berbalik dan begitu terkejut saat melihat Jordan sudah berada dihadapanku. Tangisan ketakutanku seketika berubah menjadi tangisan bahagia dan langsung kupeluk erat dirinya. Tapi, aku sangat heran dengan kedatangan dua pengamen itu bersamanya.

“Kenapa kau membawa dua anak ini, Jordan? Siapa mereka?” tanya Delarmy penasaran sesaat setelah menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

“Mereka adalah teman baruku, Bibi. Di samping kananku ini adalah Wergon dan yang ini adalah Filhener.”

“Kalau begitu, kalian bisa memanggilku Bibi Delarmy,” ujar Delarmy seraya berjabatan tangan dengan Wergon dan Filhener dengan senyuman ramah.

Terlebih Jordan mengajukan permintaan yang sedikit aneh.

“Dan mereka tidak punya tempat tinggal.”

“Lalu?”

“Lalu…, apakah Bibi mengizinkan mereka untuk tinggal bersama kita?”

Delarmy langsung menegakkan punggungnya setelah mendengar permintaan Jordan tersebut. Dia hanya diam dan menghela napas. Wajahnya yang tampak tidak enak membuat Jordan ragu kalau permintaannya akan diterima.

Aku menatap wajah ketiganya, seakan begitu berharap aku bisa menerima dua teman barunya itu. Itu membuatku tidak tega jika harus menelantarkan mereka. Apalagi itu untuk pertama kalinya Jordan bisa memercayai orang lain untuk dijadikan temannya. Aku pun menerima mereka berdua untuk tinggal bersama kami. Aku tidak tahu apa yang membuat Jordan memilih mereka sebagai temannya. Namun setelah kami melewati waktu bersama, aku mulai mengerti kenapa Jordan memilih mereka.

Mereka bertiga berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Penderitaan yang mereka alami menjadi awal dari keberhasilan mereka dan sebagai kunci bangkitnya semangat hidup mereka. Dukungan satu sama lain, membuat Jordan sedikit demi sedikit berani untuk tampil di muka umum. Dia tak lagi memakai busana musim dingin, walaupun lengan dan tangannya masih ditutupi hingga saat ini.”

Delarmy seperti sudah mengakhiri ceritanya, namun Earon masih saja serius memerhatikan setiap kata yang akan keluar dari bibir Delarmy seraya memegang segelas teh dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pahanya.

“Kau masih ingin aku melanjutkan kisahnya?” tanya Delarmy.

Earon menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Tentu, Bibi. Aku ingin tahu bagaimana Jordan hidup hingga bisa seperti sekarang ini.”

Delarmy tersenyum lebar pada Earon dan dari raut wajahnya, sepertinya kisah selanjutnya tidak terlalu menjadi beban kepedihan untuknya.

“Mereka tidak pernah merepotkanku. Mereka selalu membantuku untuk berkebun, memasak, dan juga mencari uang. Setiap ada selang waktu, mereka mengamen di jalan-jalan pinggiran kota Losapins. Walaupun mereka tahu bahwa tidak banyak orang yang melewati pinggiran kota. Tapi mereka pantang menyerah. Mereka bilang kalau uang hasil mengamen itu untuk tabungan biaya sekolah mereka kelak karena mereka tidak mau orang-orang berpikir kalau mereka adalah cerminan orang-orang yang terbelakang. Aku hanya bisa tersenyum geli mendengar itu. Tapi itu membuatku tahu bahwa mereka juga seperti anak-anak yang lain. Ingin bersekolah dan mendapat lebih banyak teman.

Saat awal ajaran baru akan tiba, mereka tampak sedih dan tiada hari tanpa menggerutu. Bahkan mereka tak berselera makan.

Di sebuah ruang makan yang berdampingan dengan dapur, jendela kaca yang memantulkan sinar luar menerangi ruangan tersebut, meja makan yang berbentuk persegi dengan empat kursi yang ditata saling berhadapan, serta hiasan satu pot bunga mawar putih yang diletakkan di atas tengah meja tersebut. Delarmy yang bersampingan dengan Jordan, duduk berhadapan dengan Filhener dan Wergon. Piring-piring dengan nasi dan lauk harian sudah tersaji di depan mereka. Delarmy menikmati makanan yang baru saja selesai ia buat. Sementara tiga yang lainnya, hanya memainkan sendok mereka. Wergon mengaduk-aduk makanannya, Filhener menusuk-nusuk makanannya, dan Jordan hanya diam memegang sendoknya. Pandangan kosong mereka bertiga layaknya orang yang sedang menanggung beban, terus tertuju pada piringnya.

Delarmy yang memerhatikan mereka tak kunjung makan, membuatnya ingin tahu apa yang menyebabkan mereka demikian.

“Wergon, kenapa makanannya kau aduk-aduk? Filhener, kau bisa memecahkan piringnya! Jordan, jika kau terus diam seperti itu akan banyak hantu yang ingin merasukimu.”

Seketika mereka bertiga langsung mengangkat kepala dan berhenti melakukan tingkahnya.

“Ada apa dengan kalian?” tanya Delarmy lembut, “Apa kalian sudah bosan dengan makanannya? Atau makanan kali ini tidak terasa enak?”

“Ini bukan tentang makanan, Bibi. Ini tentang…,” sahut Wergon.

“Tentang apa? Ceritakan padaku!”

“Tabungan kami tidak cukup untuk masuk sekolah tahun ini,” jawab Filhener.

“Tapi, tidak apa-apa, Bibi. Mungkin kami bisa daftar tahun depan saat tabungan kami sudah cukup,” kata Jordan yang mencoba menghibur suasana, walaupun dirinya sendiri juga sulit untuk menerimanya.

Delarmy hanya tersenyum lebar.

“Kalau sudah berniat tahun depan, bukan lagi menjadi beban kalian, ‘kan? Makanlah dulu! Aku tidak mau kalau nanti kalian sakit,” ujarnya.

Setelah mereka menghabiskan semua makanannya dan sesaat setelah Jordan meletakkan sendok di atas piring kosongnya, Delarmy mulai angkat bicara lagi.

“Jadi, apa kalian ingin sekali bersekolah?” tanya Delarmy.

Mereka bertiga menganggukkan kepala secara bersamaan.

“Kalau begitu simpan tabungan yang kalian miliki dan belajarlah yang rajin.”

Jordan dan kedua temannya saling memandang, tidak mengerti maksud dari perkataan Delarmy tersebut.

“Maksudnya, Bibi akan menyekolahkan kami atau bagaimana?” tanya Jordan bingung.

“Tentu saja. Demi anak kesayanganku, demi semuanya. Kalian bisa sekolah tahun ini. Biar aku yang menanggung biayanya, tapi ingat hanya jika aku punya uang. Jika tidak, maka tabungan kalian bisa menggantikannya untuk biaya selanjutnya.”

Jordan, Wergon, dan Filhener begitu bahagia mendengarnya.

“Terimakasih, Bibi,” ucap ketiganya kegirangan.

“Kami akan melakukan semua yang Bibi mau,” lanjut Jordan.

“Benar, Bi!” sahut Wergon.

Delarmy tersenyum lebar seakan merasakan pula kegembiraan yang mereka rasakan.

Walaupun demikian, tidak mudah juga bagi mereka untuk bisa diterima di sekolah yang standarnya hebat atau sedang. Umur mereka yang tidak jauh berbeda seharusnya duduk dibangku SMP. Tetapi, tak ada satu sekolah pun yang mau menerima mereka tanpa bukti ijazah SD. Hanya sekolah dengan standar rendah yang mau menerima mereka. Namun, aku tidak mau mereka sekolah di sana karena kedisiplinan sekolah seperti itu di kota Losapins sangatlah kurang. Terlebih, pemerintah tidak pernah menghiraukannya.

Apa boleh buat, aku harus meminta mereka untuk lanjut di bangku SD terlebih dahulu dan mereka tidak keberatan. Namun, itu pun tak mudah. Dengan umur yang lumayan jauh dengan anak-anak SD pada umumnya, pihak sekolah menganggap bahwa mereka adalah anak-anak yang terasingkan, dikucilkan dari masyarakat karena ketidakgunaannya. Untuk itu, kami harus berjuang meyakinkan pihak sekolah bahwa Jordan dan kedua temannya tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Setelah melalui beberapa tes, akhirnya pihak sekolah terkesan dengan hasilnya. Tapi, mereka pun tidak bisa ditempatkan di bangku kelas enam. Pihak sekolah menempatkannya di bangku kelas lima agar ketiganya mengetahui peraturan-peraturan yang telah ditetapkan di sekolah itu.

Akhirnya, mereka lulus SD dengan peringkat terbaik. Mereka melanjutkan belajarnya di SMP favorit dan lulus dua tahun kemudian, lalu SMA lulus setelah dua tahun belajar. Mereka melanjutkan ke universitas terbaik di Losapins melalui beasiswa. Dan saat ini, mereka mampu menyusul pendidikannya sama seperti anak-anak yang seumur dengan mereka.

Kau tahu, Earon. Sejak belajar di bangku SMP, mereka membayar uang sekolah dari hasil kerja keras mereka sendiri. Mereka tak lagi mengamen, tetapi menjadi pemain akrobat jalanan. Setiap sore mereka giat berlatih di halaman belakang ini, berselang-seling dengan memainkannya langsung di depan umum. Itu pun masih di jalan-jalan pinggiran kota, tapi hasil yang diperoleh lebih memuaskan dari mengamen.

Dan kudengar sekarang mereka sudah sangat jarang memainkannya lagi. Dengan kepandaian dan keterampilan yang telah mereka miliki tentu mereka akan lebih memilih untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.”

Earon masih terdiam merenung haru setelah mendengar perjuangan yang mereka hadapi bersama. Mereka selalu bisa saling mengisi, baik di kala susah maupun senang.

Sementara itu, Wergon dan Lytro masih saja menunggu proses loading pada monitor komputer di hadapannya. Jari-jari tangan Wergon masih berada di atas keyboard, sepertinya tak lama dia baru memberikan input-an di programnya.

“Kumohon. Berhasil. Berhasil,” kata Wergon resah seraya mengepalkan kedua tangannya di atas keyboard.

Wergon dan Lytro mengamati prosesnya dengan sungguh-sungguh, terlebih saat hampir mendekati seratus persen. Namun saat proses loading sudah selesai, hasilnya tidak seperti yang mereka pikirkan sebelumnya, karena begitu banyak tulisan yang begitu detail yang seketika membuat Wergon terlonjak kegirangan. Bahkan, dia nyaris menumpahkan minumannya yang hampir habis di dekat monitor atas keyboard.

“Akhirnya, aku berhasil!” katanya sambil berdiri dengan semakin memperkuat kepalan tangannya yang diangkat tinggi-tinggi.

“Kerja bagus, Wergon!” ujar Lytro yang ikut senang sambil menepuk belakang tubuh Wergon.

“Tentu saja. Sudah kubilang programku…. Aaaaa…!!”

Belum sempat Wergon membanggakan dirinya, salah satu kakinya tiba-tiba tersandung ke belakang yang membuatnya terjatuh bersama kursinya.

Lytro yang melihat itu mencoba meraih uluran tangannya sebelum terjatuh, tapi karena jari-jarinya belum siap sehingga membuatnya meleset dan terjatuhlah Wergon.

“Awwuhuhuhuhuh…!” rintih Wergon sambil memegang punggungnya dengan posisi tubuh yang masih terbaring di lantai dengan kursi di sisinya yang kondisi salah satu kaki kursi tersebut patah.

Lytro hanya diam duduk di kursi dan menahan tawanya sambil melihat Wergon kesakitan.

“Kau tak apa?” tanyanya.

“Rasanya ada yang hancur,” jawab Wergon dengan ekspresi diam yang terfokus pada tulang belakang yang terasa sakit.

Lytro dan Wergon telah berhasil memecahkan kasus mereka. Kini beralih ke suasana di kebun Delarmy.

“Aku tak menyangka jika Jordan pernah menjalani hidup sesulit itu,” kata Earon pelan yang masih duduk di samping Delarmy.

“Aku bahkan tak yakin jika Jordan sudah melupakan masa lalunya. Aku tahu, sebenarnya dia masih sangat merasa takut pada seseorang yang mencarinya. Aku masih bisa melihat kesedihan terpendam di balik senyum manisnya.”

“Kau benar, Bi. Dia sama sekali tidak menampilkan raut wajah sedihnya atau itulah dia yang tidak mau membuat orang khawatir karenanya,” ucap Earon, “Aku ingin tahu satu hal, Bibi.”

Delarmy menatap wajah Earon sebagai tanda bahwa dia juga ingin tahu apa yang ingin Earon tanyakan padanya.

“Siapa orang yang mengincar Jordan? Siapa orang yang telah menyakiti Jordan hingga dia tidak dapat melupakannya?” ucapnya Earon agak marah.

Delarmy bingung harus menjawab apa.

“A, a, aku tidak. Aku tidak bisa mengatakannya padamu,” jawab Delarmy gugup.

“Kenapa tidak, Bibi? Ini demi Jordan. Aku akan menangkap orang itu jika dia berani menyakitinya lagi.”

“Sungguh, aku tidak bisa mengatakannya padamu.”

“Kumohon, Bi. Ini karena aku menyayangi Jordan dan biarkan aku yang membalasnya. Apapun akan aku lakukan untuk membuat hidup Jordan tenang kembali.”

“Dan itulah yang Jordan coba lakukan, membuat hidup orang yang paling dia sayangi tenang dari keberadaannya. Dan satu hal lagi, tanpa balas dendam.”

Delarmy langsung bangkit berdiri, bersamaan dengan Jordan dan Filhener yang berjalan mendekati mereka.

“Maafkan aku, Earon,” ucap Delarmy sambil tersenyum lebar pada Earon, lalu pergi meninggalkannya.

Earon membalasnya dengan senyuman kecil, walaupun hatinya kecewa karena belum mengetahui sepenuhnya kebenaran tentang masa lalu Jordan.

“Kau tampaknya sudah sangat akrab dengan bibi Delarmy. Tak semua kenalan baru bisa melakukan keakraban secepat yang kau lakukan pada bibi,” ujar Jordan yang sudah berdiri di depannya. Sementara saat itu pula, Filhener sedang memutar pinggangnya yang terasa pegal ke kanan dan kiri, berdiri di samping Jordan.

“Itu karena bibimu orang yang ramah. Semua orang tentu merasa nyaman dengannya,” jawab Earon.

Jordanpun langsung duduk di tempat yang Delarmy tempati sebelumnya. Dia mengambil segelas teh hangat dan menikmatinya dengan rasa lelah yang semakin memberikan kenikmatan tersendiri. Filhener juga menyusul Jordan dengan duduk di sampingnya setelah dia mengambil satu-satunya gelas teh yang tersisa di atas nampan.

Beberapa saat kemudian, Earon melihat Filhener sedang menatapi selembar kertas berukuran (8x10) cm, yang kemudian ia mainkan kertas tersebut dengan salah satu tangannya setelah dirasa tidak penting lagi untuk terus diamati. Tapi, ada sesuatu yang menarik perhatian Earon saat melihat gambar seseorang di atas selembar kertas kotor tersebut.

“Hei, apa yang ada di tanganmu itu?” tanya Earon penasaran sambil meletakkan gelasnya yang tersisa seperempat air teh, di atas nampan.

Filhener langsung menghentikan permainannya.

“Foto ini?” sahut Filhener.

Jordanpun mengarahkan pandangannya pada gambar foto yang masih dipegang oleh Filhener.

“Bukankah itu Charevins?” katanya.

Mendengar itu, Earon langsung merebut foto tersebut dari genggaman Filhener. Jordan dan Filhener kebingungan atas tindakan Earon tersebut yang sambil berdiri di hadapan mereka berdua, terlebih saat raut wajahnya mulai memerah saat melihat foto Fordien. Wajahnya yang terlihat penuh amarah kemudian berpaling pada Filhener. Hal itu membuat Filhener semakin bingung dan ketakutan. Mungkinkah Earon bercuriga kalau dirinya pernah bekerja sama dengan penjahat kelas kakap tersebut, pikir Filhener.

“Jangan lihat aku! Aku hanya menemukannya di sana,” jelas Filhener gugup seraya mengangkat dagunya menunjuk ke arah tanah kebun yang baru saja ia garap, “Jadi apapun kasusmu dengan orang itu, aku sama sekali tidak ada hubungannya.”

Earon memejamkan mata sejenak. Mungkin amarahnya terlalu berlebihan, bahkan membuat temannya merasa gelisah terhadapnya. Perlahan-lahan, dia mengambil beberapa napas ketenangan. Setelah cukup kuat untuk mengendalikan amarahnya, dia mulai membuka matanya kembali.

“Kenapa fotonya bisa sampai di sini?” tanya Jordan penasaran.

Earon memasukkan foto tersebut di saku kiri celananya. Mungkin dengan tujuan agar dia tidak lagi melihat wajah orang di balik foto tersebut, sehingga amarahnya tidak berkobar.

“Mungkin karena aku tak sengaja menjatuhkannya,” sahut Earon.

Jordan dan Filhener langsung mengangkat wajahnya.

“Maaf, Fil. Aku tadi tidak bermaksud marah, benci, atau curiga terhadapmu. Aku hanya tidak bisa menahan emosiku setiap kulihat wajah penipu ini,” jelas Earon.

Pengakuan Earon tersebut sedikit membuat Filhener lega, namun juga terbayang dalam benak dirinya dan Jordan, apa yang membuat Earon melakukan semua itu.

Lalu, Jordan bangkit dari duduknya.

“Aku tahu dia adalah incaranmu. Sebagai tugas dan tanggung jawab, kau harus menangkapnya demi kedamaian Losapins. Tapi yang kulihat tidaklah demikian. Kau melakukannya karena ada unsur paksaan dalam dirimu, yaitu dendam,” ujar Jordan, “Siapa dia yang telah membuatmu begini?”

Earon terdiam sejenak. Tatapannya tertuju pada mata Jordan, sementara pikirannya tertuju pada apa yang baru saja Jordan katakan. Kemudian pandangannya berpaling sambil melakukan beberapa kedipan mata sebelum menjawab pertanyaan Jordan. Mungkin pertanda bahwa dia siap dengan semua kebenaran yang akan dia ungkapkan pada sahabatnya. Jordan melihat kegelisahan yang dialami oleh Earon. Dia melihat ada kekecewaan yang terpendam dalam diri Earon yang seakan tak bisa dihapus.

“Sudah sekian lama aku mencarinya, dan aku tahu kalau ternyata dia adalah saudaraku. Fordien adalah adikku. Tapi itu dulu,” jawab Earon.

Filhener begitu terkejut mendengarnya dan langsung bangkit berdiri dengan mulut menganga, sementara keterkejutan Jordan dibawa dengan suasana diam dan tenang.

“Aku tidak suka kalau harus mengingat kejadian itu lagi,” lanjut Earon dengan berat hati.

“Kalau begitu, aku tidak bisa memaksamu untuk bercerita, ‘kan?” sahut Jordan sambil tersenyum kecil.

Earon melihat senyuman Jordan tersebut. Lalu entah kenapa, tapi mungkin karena senyuman kecil Jordan membuat Earon berniat untuk melanjutkan pembicaraannya.

“Saat dia masih kecil, dia sudah menghancurkan kebahagianku. Merenggut nyawa orang-orang yang kucintai. Masa kecilnya benar-benar licik, sama seperti sekarang ini. Dia berbisa, seperti ular. Jika bertemu dengannya, jangan sampai kalian tertipu oleh wajahnya yang sok lugu.”

“Lugu?”

“Yang benar saja. Justru dari wajahnya itu, aku tahu kalau dia berotak kriminal. Tapi, wajah kalian memang sedikit mirip,” sahut Filhener.

“Tentu saja, karena kami saudara seibu. Tidak, dia tidak lagi saudaraku. Dia hanyalah parasit dalam hidupku. Dan harus segera kusingkirkan. Selama keberadaannya masih ada di dunia ini, aku tidak akan pernah bisa tenang,” ucap Earon geram.

Jordan memandang gelisah Earon. Dia sangat mengerti perasaan seperti apa yang Earon rasakan saat disakiti oleh saudaranya sendiri. Tapi di sisi lain, hatinya pun merasa resah dengan niat yang akan Earon lakukan terhadap adiknya.

“Jadi maksudnya, kau akan membunuh adikmu?” ucapnya.

Filhener langsung terkejut dan menoleh pada Jordan. Kenapa Jordan bisa berpikiran kalau Earon akan melakukan hal sekeji itu, pikirnya.

“Itu keputusan yang bijak, bukan?” lanjut Earon.

Filhener semakin terkejut atas perkataan Earon tersebut. Ternyata benar yang dipikirkan oleh Jordan. Tapi anehnya, kenapa Jordan hanya diam berdiri dan tidak memberinya peringatan. Ada apa dengan mereka berdua yang hanya diam dan saling memandang, pikirnya lagi.

Suasana terasa hening sejenak.

“Aku juga memiliki seorang kakak,” ucap Jordan tiba-tiba, “Dia selalu menyayangiku. Dia mengorbankan kebahagiaannya hanya untuk diriku. Aku ingin membalas semua itu dengan memberinya kebahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya. Tapi aku tidak tahu caranya. Hingga kami pun berpisah, dan aku sangat menyesal karena belum bisa memberikan apa yang dia inginkan. Jika suatu saat aku diberi kesempatan untuk bertemu dengannya, apapun yang terjadi di antara kami, akan kupastikan dia tahu betapa sayangnya aku padanya. Karena kesempatan itu tidak akan datang untuk yang kedua kalinya.”

Earon hanya membisu sambil menundukkan pandangan. Terlihat dari binar matanya, dia memikirkan kembali keputusan yang akan dia ambil. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat pandangannya kembali ke arah Jordan. Dia menatap mata Jordan yang menunggu jawaban pantas seperti apa yang harus ia ambil. Di balik tatapan itu pula, Earon mengingat kembali semua kisah Jordan yang telah ia ketahui dari Delarmy. Siapa sebenarnya Jordan, yang begitu sulit ditebak ini. Tapi siapa pun dirinya, telah membuat hati Earon tenang setiap ingin mengobarkan amarah.

Secara perlahan-lahan, Earon pun mengambil napas dalam dan mengembuskannya.

“Kurasa, biarlah keadilan yang menghukumnya,” katanya.

Jordan tersenyum lega mendengar jawaban tersebut.

“Tapi, aku tidak bisa memaafkannya. Tidak pernah bisa. Aku tidak akan memaafkannya sekalipun dia berlutut dan menangis di hadapanku.”

Rasa lega Jordan seketika bercampur dengan kegelisahan setelah Earon melontarkan ucapannya tersebut.

Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon milik Earon. Dia membalikkan tubuhnya, lalu mengangkat telepon yang ia ambil dari saku celana kanannya.

“Halo, Lytro. Ada apa?” tanyanya sesaat setelah dia mendekatkan teleponnya di telinganya.

Jordan dan Filhener yang berdiri membelakangi Earon, berusaha mengikuti pembicaraannya dengan Lytro.

“Benarkah?”

“Baik, aku segera ke sana.”

Earon segera menutup teleponnya dan berpamitan pada sahabatnya.

“Aku harus pergi sekarang,” katanya seraya berjalan masuk menuju rumah untuk mengambil barang yang ia letakkan di dalam, mungkin juga untuk sekalian pamit pada Delarmy.

Jordan dan Filhener sebenarnya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tak sempat menanyakannya pada Earon, karena dia terlihat begitu tergesa-gesa.

Namun tak lama kemudian, terdengar bunyi panggilan handphone milik Jordan. Tertulis nama Mr. C. Jordan melihat ke belakang barangkali bibinya terlihat, tapi tidak. Dia pun menekan tombol angkat serta mengeraskan speaker-nya agar Filhener ikut mendengarnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Jordan penasaran.

Aku punya tugas untuk kalian. Akan ada rencana penyergapan malam ini, jadi aku minta kalian mengawasi satu orang penting dalam penyergapan tersebut.

“Siapa dia?”

Mungkin kali ini dia yang akan menjadi pemimpin penyergapan itu.

Begitu mengatakannya, tiba-tiba sambungan teleponnya terputus.

Jordan dan Filhener saling bertatapan mata. Sepertinya mereka berdua sudah tahu seseorang yang dimaksud oleh Mr. C.

“Tidakkah kau pikir semua ini terasa sangat aneh dan membingungkan?” tanya Jordan resah.

“Ya. Lebih tepatnya sejak kita bertemu dengan para agen itu.”

Mereka berdua menghelas napas bersamaan, seakan pasrah menerima kenyataan yang telah terjadi dalam hidup mereka.

Hari mulai petang. Bayangan pun sedikit demi sedikit merambat naik, menggelapkan wilayah perbatasan beriringan dengan tenggelamnya matahari dari balik bukit-bukit kecil yang mengelilingi daerah tersebut. Burung-burung sudah kembali dari ladang makanan dan menuju ke sarang pohon mereka masing-masing. Begitulah situasi sore hari di daerah perbatasan kali ini, yang telah meninggalkan cerita-cerita dari suatu ikatan persahabatan.

 

 

No comments:

Post a Comment