CHAPTER 17: BUSUR PERAK, BUSUR EMAS, DAN TONGKAT PRIDIATICK

 

Kota Losapins menjadi porak poranda akibat kegilaan dari beberapa penduduk yang satu per satu telah berubah menjadi monster. Semua orang kebingungan mencari tempat yang aman untuk menghindari kekacauan itu. Suasana kota yang dihiasi oleh kobaran api di beberapa titik tempat tertentu dengan suara jeritan ketakutan dan rasa sakit, seolah menjadikannya kota neraka yang penuh dengan penyiksaan.

Vurpia berdiri di atas atap sebuah gedung tinggi. Ditemani Vuklir, mereka berdua mengamati kondisi kerusakan kota. Cahaya merah di tengah kota, masih bersinar menjulang ke angkasa, seperti tiang yang menyangga kegelapan langit dari kota tersebut. Angin kencang yang meniup selendang merah milik Vurpia menandakan tiupannya dari berbagai arah dan tidak menentu.

Pada saat itu pula, sebuah salju yang sama, yang telah mengubah orang-orang, jatuh di hadapan Vurpia. Dia manganjurkan tangan kanannya dan hendak menjadikan telapak tangannya sebagai sandaran salju tersebut. Ketika salju itu menyentuh kulitnya, Vurpia tersenyum tipis nan mematikan sambil memejamkan matanya dengan pelan. Beberapa detik setelah kedua matanya terpejam, diapun kembali membukanya dengan cepat dan tegas. Cahaya matanya telah berubah menjadi merah terang dengan retina berwarna kuning dan pupil hitam berbentuk celah vertikal. Seluruh tubuhnya telah berubah menjadi monster. Kaki besar dan berbulunya seperti kaki kambing, begitu pula dengan dua tanduknya yang menjulur setengah melingkar ke atas. Wajahnya tidak jauh seperti wajah manusia laki-laki yang sedang menahan kemarahannya. Tidak seperti monster-monster lain yang terlihat sedikit membungkuk, badannya lebih besar, tegap dan gagah dengan otot-otot kekar yang terselubung kulit bersisik halus, hitam dan tebal. Dia pun lebih terlihat sebagai monster paling berwibawa di antara yang lain.

Perubahan itu tidak hanya terjadi pada Vurpia, melainkan juga pada Vuklir. Pada waktu perubahan yang sama, dia pun telah berubah menjadi monster dengan bentuk yang berbeda. Hampir sama dengan Vurpia, hanya saja tanpa tanduk dengan badan lebih pendek dan kecil, tetapi lebih tinggi dan besar dari monster lainnya. Wajahnya pun lebih mirip seperti wajah kera. Tubuhnya memakai baju pelindung dengan tudung melingkar yang menutup belakang kepala sampai ujung dahinya. Namun, baju itu tidaklah seperti kain, melainkan tersambung sebagai bagian dari tubuhnya yang mengeras.

“Jika saja salju ini bisa turun lebih deras,” kata Vuklir dengan suara yang mengelegar.

Vurpia melirikkan matanya pada Vuklir.

“Kau pikir, salju ini turun tanpa kendaliku?” sahut Vurpia dengan suara yang berubah menjadi suara laki-laki, “Aku mengendalikan semua ini. Aku sengaja membuat salju-salju itu turun dengan sangat jarang, agar aku bisa mendengar lagu ketakutan mereka. Bahkan hanya dengan sekali jentik, kini aku bisa menghancurkan dunia.”

“Sepertinya, Tuan telah mendapatkan kekuatan dari pencipta tongkat Pridiatick, Franken Wirthan.”

“Tidak hanya kekuatannya, aku memiliki dia seutuhnya. Aku juga bisa merasakan dengan jelas pengkhianatan yang dilakukan para manusia itu.”

Matanya yang tajam dan fokus, memandang ke arah kejauhan seolah merasakan sesuatu.

Langit yang diselimuti gumpalan awan gelap dengan kilatan merahnya, dipandangi oleh seorang pria tua dari balik jendela kaca rumahnya. Dia berdiri sambil memegang gorden yang hendak ditariknya untuk menutup layar kaca itu.

“Apa yang terjadi dengan langitnya?” ucap Trigar dalam hati dengan penuh ketakutan dan kekhawatiran, “Kumohon, lindungilah putraku Volan dan orang-orang yang dicintainya.”

Sementara Wergon beserta kawan-kawan masih terus berlari mencari jalan untuk mencapai tujuan mereka. Namun kali ini, tujuan mereka bukan lagi untuk menemukan Jordan dan Earon, tetapi untuk menyelamatkan diri dari kejaran monster-monster yang terus menyeruduk tanpa kendali.

“Apa yang sebenarnya mereka inginkan?!” tanya Wergon sambil berlari.

“Kita! Siapa lagi?!” sahut Filhener.

“Lari saja dan jangan banyak berpikir!” seru Lytro.

Lima sekawan dan empat orang yang berlari bersama mereka, akhirnya terpojok di tengah jalanan kota yang kacau, saat dihadang oleh dua monster dari arah berlawanan. Mereka langsung bingung dan panik, tidak ada arah yang dapat mereka ambil lagi. Empat orang tak dikenal bersama Rekshein dan Migo langsung mundur hingga berhimpit dengan badan mobil yang terjungkir bekas serudukan salah satu monster. Namun, Wergon, Filhener, dan Lytro mencoba untuk bersikap berani menantang kedua monster itu. Filhener meraba samping kanan dan kiri pinggangnya, sementara Wergon mengayunkan tangan kanannya ke belakang punggungnya. Namun, tampaknya maksud dari gerakan mereka tersebut justru membuat mereka sendiri menjadi semakin panik.

“Di mana tongkatku?” ucap Wergon gugup dengan mengepal-ngepalkan tangan kosongnya yang masih menukik di belakang punggungnya.

Dengan wajah bingung dan polos, Filhener terus meraba-raba pinggangnya, bahkan sampai di ujung bawah celananya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Lytro yang ikut bingung dengan sikap kedua teman karibnya tersebut.

“Aku yakin sekali sudah membawa pistol. Tapi, kenapa tiba-tiba sekarang sudah tidak ada?” sahut Filhener.

“Apa kau lupa kalau habis ditangkap polisi?!”

“Apa?” ucap Wergon dan Filhener bersamaan.

Lytro menepuk tangan kanan ke dahinya sambil menggeram kesal.

“Ini tidak ada gunanya,” gumam Lytro.

Tidak lama kemudian, kedua monster itu langsung meluncur ke arah Lytro dan yang lainnya. Merekapun tidak dapat berbuat apapun untuk melawannya dan pasrah dengan keadaan yang akan terjadi. Ketika salah satu monster melayang ke arah mereka, saat itu pula ketiganya menekukkan lutut dengan kedua tangan mengencang di depan dada yang seolah dijadikan sebagai perisainya. Namun yang terjadi, monster itu justru menerkam monster satunya yang berada di hadapannya. Keduanya bertarung seperti halnya pertarungan dua manusia yang menginginkan gelar pemenang. Mereka saling memukul, mencakar, dan mendorong dengan gerakan cepat dan sangat keras. Sementara Wergon dan yang lainnya hanya bisa menonton dengan perasaan bingung dan penasaran.

“Kenapa mereka saling berkelahi?” gumam Wergon bingung.

Tiba-tiba salah satu monster itu mendorong tubuh monster lawannya hingga terlempar ke arah kerumunan orang-orang tadi dan tidak dapat disangkal lagi pasti mengenai mereka. Merekapun kembali takut dan pasrah jika memang hari itu adalah hari terakhir untuk mengembuskan napas. Sambil memejamkan mata kuat-kuat dengan jeritan histeris, mereka tidak memikirkan sedikit pun akan ada harapan untuk selamat. Namun saat tubuh monster itu sedekat ibu jari dengan kelingking dari kepala Wergon, tiba-tiba monster itu lenyap dengan cahaya biru yang menyertai kehancurannya. Sementara monster satunya yang juga melompat ke arah mereka, dengan tangan cakar kanannya yang megar dan siap untuk menggaruk lawannya, ikut hancur dengan cahaya merah api yang menyertainya.

Wergon, Lytro, Filhener, dan yang lainnya membuka mata dengan pelan. Ke mana monster itu, pikir mereka bingung. Kemudian, terdengar suara gerincing yang khas, yang tidak asing didengar di telinga lima sekawan. Semuanya langsung menoleh ke sumber suara.

“Jordan!” seru Wergon riang melihat Jordan masih bisa melangkah.

“Volan?” gumam Filhener bingung melihat Jordan jalan berdampingan dengan Earon, “Bagaimana mungkin dia bersamanya?”

Lytro yang melihat kebersamaan dua bersaudara itu juga merasa bingung seperti Filhener.

“Jangan percaya dengan yang kita lihat! Mereka pasti salah satu bentuk tipuan ilusi, pengaruh dari bencana ini,” jelas Lytro.

Jordan dan Earon tiba di hadapan semuanya. Tapi, bukan senyuman yang menjadi sambutan untuk mereka berdua, melainkan wajah kegilasahan dan ketegangan. Lytro, Wergon, dan Filhener yang berada di barisan terdepan dari gerombolan, menyiapkan kepalan tangan kuat, yang masing-masing dihadapkan pada dua bersaudara itu, kecuali Wergon yang bersikap tidak berlebihan.

“Ada apa?” tanya Jordan bingung.

“Tidak perlu bersandiwara! Katakan saja, siapa sebenarnya kalian!” gertak Lytro.

Jordan justru melemparkan senyum pada mereka.

Melihat senyuman itu, Wergonpun seolah terbangun dari keraguannya dan langsung memeluk erat Jordan. Namun, Filhener dan Lytro masih dibingungkan dengan situasi.

“Wergon, jangan dekati mereka! Apalagi memeluknya!” sahut Filhener.

Wergon melepaskan pelukannya, menatap Filhener, dan berkata, “Tidak ada yang mampu menunjukkan senyum ketenangan di saat musibah datang. Tidak, kecuali Jordan.”

“Jadi, apa sekarang kau juga akan mengkhianatiku dengan menunjukkan tanganmu itu, Lytro?” ucap Earon.

Lytro tersadar dan dengan cepat menurunkan kepalan tangannya.

Sementara Filhener begitu terharu setelah meyakini bahwa Jordan masih bisa berdiri dihadapannya.

“Jordan. Jadi, kau benar-benar masih hidup?” ucap Filhener seraya memeluk erat Jordan, “Kukira, kau sudah….”

“Sudah kubilang, aku pasti kembali,” jawab Jordan.

“Miguveer! Jordan!” seru Migo dan Rekshein riang dan terharu, yang berlari mendekati Jordan, lalu ikut memeluknya bersama dengan Filhener.

Filhener yang merasa tertekan di tengah pelukan, berusaha untuk melepaskan diri.

“Minggirlah kalian! Aku tidak bisa bernapas!” katanya.

Migo dan Rekshein tidak menghiraukan ucapan Filhener dan terus memeluknya.

Sementara Earon, dengan penuh haru dan bahagia diapun tersenyum tipis melihat kawan-kawannya menyambut Jordan. Tiba-tiba, dia terperanjat ketika tangan Lytro menepuk salah satu pundaknya.

“Aku senang kau kembali,” ucap Lytro sambil tersenyum padanya.

Earon merasa sedikit canggung pada Lytro, karena kesalahan yang pernah dia lakukan padanya.

“Kau benar,” kata Earon, “Aku seharusnya tidak mengikuti nafsuku. Maafkan aku karena tidak mendengarkanmu. Dan semua ini terjadi karena diriku.”

Lytro membalas dengan remasan ringan di pundaknya dan senyuman kecil.

“Apa kita harus berpelukan seperti mereka?” ujar Lytro.

Earon membalasnya dengan senyuman lebar, lalu berkata, “Tidak. Kita tidak kekanak-kanakan. Kita orang dewasa.”

“Ya, bagus kalau begitu.”

“Lagi pula, kita ini laki-laki.”

“Benar.”

“Jika orang melihat kita, bisa-bisa mereka pikir kita….”

“Itu akan menjadi buruk.”

“Apalagi kita seorang agen. Harga diri kita pasti ternodai karena pelukan kecil.”

Lytro menganggguk-anggukkan kepalanya.

Lalu, sontak Earon memeluk Lytro dengan sangat erat.

“Tapi, aku tidak peduli apapun yang akan mereka pikirkan. Asalkan, sahabatku tetap bersamaku,” ucapnya lirih.

Lytro tersenyum dan membalas rangkulan kedua tangannya pada tubuh Earon.

Setelah Migo, Rekshein, dan Filhener melepaskan rangkulannya, Jordan melihat kakak dengan sahabatnya masih melakukan pelukan persahabatan itu, lalu tersenyum kecil.

Tiba-tiba, seekor monster muncul dari lorong. Mereka begitu terkejut melihatnya yang seketika membuat Earon melepaskan anak panahnya. Terlihat cahaya merah yang bersinar pada ujung mata anak panah saat dilepaskan. Monster itupun hancur bersama cahaya itu. Semua yang melihatnya, hanya bisa diam tanpa mengedipkan mata dengan mulut menganga.

“Bagaimana kau bisa melakukan itu?” tanya Migo terkagum-kagum.

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya. Kita harus segera mengakhiri petaka ini,” jelas Jordan.

“Ya, kita bisa menggunakan keajaiban yang kalian miliki untuk membunuh monster-monster itu,” sahut Filhener.

“Tidak. Itu salah. Menghancurkan monster sama saja membunuh manusia,” kata Jordan.

“Tapi, mereka bukan lagi manusia,” ujar Wergon.

“Tidak. Mereka masih manusia. Salju itulah yang telah mengubah mereka. Wabah ini tidak lain bersumber dari cahaya merah itu,” jelas Jordan lagi.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Menghancurkan sumber masalahnya,” ucap Earon menggeram dengan wajah murka.

Jordan yang mengamati mimik muka Earon, sangat mengerti apa yang sedang dirasakannya.

“Bagaimana dengan mereka?” kata Lytro sambil menunjuk ke arah kerumunan orang-orang tak dikenal yang berada di belakangnya, “Kita juga bertanggung jawab pada mereka yang belum terinfeksi.”

Earon berpikir sejenak.

“Kau…,” katanya sambil menepuk pundak Lytro, “…dan yang lain tetap bersama mereka. Evakuasi penduduk yang belum terjangkit! Carilah tempat aman! Kami berdua yang akan mengurus sumbernya.”

“Tidak mungkin! Aku ikut denganmu!” ucap Lytro keberatan.

“Ya! Kami ikut denganmu, Jordan! Kita bersama, ingat?” lanjut Wergon.

“Kurasa, pembagian tugas ini sudah sangat tepat,” jelas Jordan, “Mereka saat ini lebih membutuhkan kalian. Tapi jika kalian masih saja mengotot, kalian boleh menyusul kami setelah tugas kalian selesai.”

Walaupun Lytro, Wergon, dan Filhener sebenarnya masih keberatan dengan ide tersebut, tetapi pada akhirnya, pembagian itupun disetujui oleh semua pihak. Jordan dan Earon bergegas menuju tempat yang disepakati. Sementara yang lain, tetap berdiri di tempat.

“Jadi, apa yang pertama harus kita lakukan?” tanya Filhener.

Lima sekawan memalingkan pandangan, melihati sekerumunan orang yang berada di belakang mereka.

“Mengambil senjata kalian terlebih dahulu,” jawab Lytro.

Jordan dan Earon terus melangkah. Di tengah perjalanan, mereka menjumpai salah satu monster. Seperti yang dilakukan sebelumnya, secara spontan Earon langsung mengarahkan anak panahnya. Namun, Jordan segera menghentikan Earon dengan menarik bajunya.

“Apa yang kau lakukan?” bisik Earon yang bersembunyi di balik dinding.

“Jangan terbiasa melakukan itu, Kak!” sahut Jordan.

“Mereka menghambat langkah kita.”

“Mereka tidak mengincar kita. Cukup bersikap biasa saja.”

Earon bingung dengan maksud Jordan tersebut. Ingin bertanya, namun tidak tahu pertanyaan tepat apa yang langsung dapat membuatnya mengerti, sehingga mulutnya hanya bisa menganga-nganga kecil.

“Mereka memang suka menyeruduk tanpa kendali. Tapi sebenarnya, mereka hanya akan bertarung dengan sejenisnya. Itulah kesimpulan sementaraku.”

Earon tidak berkata apapun lagi. Dia mulai keluar dari tempat persembunyian, melangkah pelan, dan mencoba untuk bersikap biasa seperti yang dikatakan Jordan. Tapi, saat kakinya mau melangkah, Jordan tiba-tiba menahan lengannya.

“Ada apa lagi? Aku mencoba melakukan seperti yang kau minta,” ujar Earon agak kesal pada Jordan yang terus-terusan menahannya.

“Aku harap apapun yang akan kita hadapi nanti, jangan gunakan emosimu untuk mengambil keputusannya.”

Earon terdiam menatap Jordan.

“Kita harus cepat,” ujar Earon.

Jordan melepaskan lengan Earon dan bersamanya melangkah menyeberangi tatapan mata monster yang berada dekat dengan mereka.

Namun saat sampai di tengah jalan, monster itu merasakan kehadiran mereka yang membuat pandangannya berpaling ke arah si bersaudara hingga membuat keduanya langsung diam tak bergerak.

“Apa dia melihat kita?” ucap Earon dengan badan kaku, di depan Jordan.

“Aku tidak bilang kalau dia buta,” jawab Jordan.

Monster itu pelan-pelan mendekati mereka.

“Apa kita harus lari?” kata Earon agak gugup.

Monster itu semakin mendekat dengan langkah cepat, yang seolah siap menyeruduk mereka.

“Jordan, apa yang harus kulakukan?!” seru Earon semakin tegang.

Tidak terdengar tanggapan dari Jordan.

“Jika kau tidak berkata apapun, sungguh akan kulakukan dengan panahku!”

Earon mulai mengangkat busurnya, namun Jordan lagi-lagi menahannya.

“Tenangkan dirimu! Bersikaplah biasa saja!” kata Jordan menenangkan kakaknya.

Earon menghela napas dan langsung mendapatkan ketenangannya, yang membuat langkah monster itupun seketika berhenti.

Perhatian monster itu tiba-tiba seolah beralih pada sesuatu, sehingga membuatnya pergi menuju arah lain dan meninggalkan mereka. Earon mengembuskan napas lega karena tidak perlu menahan napasnya lebih lama lagi.

“Kau sepertinya sangat tahu mereka ya, Jordan,” ujar Earon, “Tidak. Kau sangat tahu tentang kami semua. Kadang, aku tidak mengerti jalan….”

Ucapannya terhenti ketika dia menoleh ke belakang dan tidak melihat Jordan di sana. Matanya mencari keberadaan Jordan. Ternyata, dia sudah beberapa langkah mendahuluinya.

Sambil tersenyum kecil dan agak malu, Earon melanjutkan ucapannya, “Pikiranmu.”

Jordan menoleh ke arah Earon.

“Apa Kakak mengatakan sesuatu?” tanya Jordan.

“Lanjutkan saja langkahmu!”

Sambil melangkah cepat, mereka masih melanjutkan percakapannya.

“Sebenarnya, monster-monster itu melihat kondisi pikiran dan hati kita,” jelas Jordan.

“Baik, aku mendengarkanmu,” sahut Earon.

“Jika kita takut, maka mereka akan mencoba menyingkirkan ketakutan itu dengan cara menyeruduknya. Tapi saat kita tenang, siapa yang mau menyingkirkan itu.”

“Kenapa tidak menjelaskannya tadi?”

“Karena kupikir, itu akan membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat Kakak mengerti, sebelum kenyataan itu terjadi. Lagipula, definisi ketenangan yang kumaksud bukan berarti menahan napas selama mungkin.”

Sejenak Earon tertegun mendengarnya. Tapi sesaat kemudian, dia tertawa bisu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara situasi bersama kelompok Lytro.

Lytro, Wergon, dan Filhener pergi ke suatu tempat. Tampaknya, kelompok mereka telah membagi tugas lagi untuk diserahkan kepada Migo dan Rekshein. Saat ketiganya sampai di tempat yang tidak asing di jalanan yang tidak jauh dari gedung AKLA, mereka melihat mobil-mobil AKLA terubrak-abrik. Lytro melihat mobil yang dibawa Lingchi terakhir kali, terjungkir dalam keadaan badan mobil yang sudah peok-peok. Dia kemudian berlari mendekati mobil itu.

“Lingchi!” serunya.

Dia melihat adanya gerakan di jok depan dan mencoba memastikannya.

“Lingchi!”

Lytro berusaha menolong Lingchi yang kesulitan keluar. Sepintas pandangannya tertuju di jok sopir dan melihat seorang rekan lainnya yang sudah tewas. Lingchi berhasil dikeluarkan, dengan aliran darah setengah basah dari ujung kepalanya.

“Kau baik-baik saja?” ucap Lytro cemas.

“Aku baik.”

“Kita harus membawanya ke rumah sakit,” kata Wergon, bersama Filhener menyusul Lytro.

“Tidak, tidak. Aku sungguh baik-baik saja,” ujar Lingchi, “Makhluk itu melempar dan melempari dengan mobil kami. Mereka mungkin alien atau monster yang keluar dari inti bumi. Kota ini sepertinya sudah hancur karena ulah mereka. Ini kasus di luar kemampuan kita. Apa menurutmu, kita sedang diserang?”

“Sangat rumit untuk menjelaskan semuanya,” jawab Lytro.

“Ya, karena kami sendiri juga tidak tahu apapun,” sahut Wergon.

“Tapi, kami tahu pasti dalang dari semua ini,” ujar Filhener.

“Maksudmu?” tanya Lingchi seraya mengerutkan keningnya.

“Vurpia.”

Lingchi begitu terkejut mendengar jawaban Lytro tersebut dan tidak mampu berkata apapun.

Tanpa berlama-lama, Lytro langsung menarik pintu belakang mobil yang terjungkir tadi. Dia menggerayang, mencari sesuatu di bagian jok belakang.

“Ini dia,” ucap Lytro seraya mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil, lalu menganjurkan sesuatu di genggamannya pada Wergon dan Filhener sambil berkata, “Senjata kalian.”

Wergon dan Filhener segera mengambil senjata tersebut masing-masing. Lingchi yang melihat persiapan mereka, menimbulkan pertanyaan dalam benaknya.

“Ke mana kalian akan pergi?” tanya Lingchi penasaran.

“Carilah tempat aman!” ujar Lytro, “Bersama yang lain. Dan harus benar-benar aman.”

“Tapi, aku ingin ikut denganmu juga.”

“Kumohon, kau harus…. Kau harus tetap di dunia ini,” lanjut Lytro agak gugup, “Maksudku, tetap di sini. Tidak, maksud…, aku tidak ingin terjadi apapun pada dirimu.”

Lingchi terdiam sambil menatap dalam mata Lytro.

Lytro yang merasa malu dengan tatapan tersebut, langsung berpaling. Sementara Lingchi masih belum mengerti dengan kepastian yang ada dalam pikirannya saat ini terhadap Lytro.

Lytro, Wergon, dan Filhener segera pergi meninggalkan Lingchi. Sekitar tujuh langkah kemudian, Lingchi berkata, “Kalau begitu, berhati-hatilah kalian semua!”

Ketiganya menahan langkahnya sejenak seraya memalingkan mukanya ke belakang.

“Semoga beruntung,” lanjut Lingchi.

Tiga serangkai membalasnya dengan anggukan kepala, lalu kembali melangkahkan kakinya untuk melanjutkan tugasnya.

Sementara keadaan Jordan dan Earon, mereka berdua tampaknya sudah cukup dekat dengan lokasi tiang cahaya. Keduanya sedang mengamati keadaan sekitar dari balik reruntuhan lantai teratas yang masih utuh sebagian di salah satu gedung terdekat.

“Sepi. Tidak ada siapa pun,” ucap Jordan.

“Kalau begitu, segera kita hancurkan tongkat itu! Pilih panahmu atau panahku? Aku akan sangat senang jika panahku yang menancap untuknya,” sahut Earon yang masih mengamati depan.

“Entahlah,” jawab Jordan gelisah seraya memalingkan mukanya ke belakang dan bersandar pada dinding reruntuhan, “Aku tidak mengerti, kenapa dia meninggalkan perhiasan berharganya di sini tanpa penjagaan.”

“Karena dia makhluk bodoh.”

“Tidak. Menurutmu, makhluk bodoh macam apa yang mampu menghasut hati para pemegang busur?”

Earon merasa tersindir dengan ucapan Jordan tersebut. Namun dari raut mukanya, diapun mencoba untuk sadar diri.

“Baik. Kau ingin aku mengatakan kalau dia lebih pintar dari kita? Memang. Sedikit,” katanya.

“Kita mungkin sedang diawasi,” lanjut Jordan.

“Ayolah, Jordan! Kenapa tidak mencoba untuk membidiknya terlebih dahulu? Itu tidak akan memberikan kerugian apapun.”

Jordan menganggukkan kepalanya dengan ringan, menyetujui usulan Earon tersebut.

Earon mulai membidikkan anak panahnya ke arah tongkat Pridiatick. Saat anak panah itu dilepas dan mengenai tongkat itu, Jordan dan Earon tercengang melihatnya.

“Apa yang terjadi dengan panahku?” tanya Earon kaget.

“Menghilang. Dia melewatinya, seperti….”

Belum sampai kesimpulannya terucap, Jordan langsung tersentak menyadarinya.

“Ini jebakan!” ucap Jordan.

Sesuatu tiba-tiba menyambar keduanya dengan sangat cepat dan keras, hingga tubuh mereka terlempar dari gedung itu. Mereka berdua terjatuh dan belum terlihat dengan jelas apa yang menyambar keduanya. Tubuh Earon hampir membentur tanah, tapi makhluk itu segera menangkap dan melepaskannya kembali, yang membuat benturan menjadi sedikit lebih ringan. Namun saat tubuhnya telah berguling di tanah, ada makhluk lain yang menindihnya hingga dia tidak bisa bergerak sama sekali. Setelah itu, cengkeraman makhluk yang menyambar tadi berpindah pada Jordan, lalu membenturkan tubuhnya ke sisi dinding lainnya. Sepertinya, makhluk itu ingin bermain-main dengan mereka terlebih dahulu, sebelum akhirnya dibunuh.

“Otakmu memang luar biasa, Jordan,” ujar Vurpia dengan tangan yang mencengkam leher Jordan, dengan posisi kedua telapak kakinya yang menempel pada dinding, di sisi kanan kiri pinggul Jordan.

Tangan Jordan terus menggerayangi cengkeraman Vurpia, mencoba untuk bisa melepaskannya.

“Berkali-kali kau mampu mengecohku,” lanjut Vurpia, “Bahkan dengan kehadiranmu di sini, membuatku semakin terkesan padamu.”

Tongkat Pridiatick dan cahayanya kemudian menghilang diikuti situasi sekitar yang ikut berubah. Jordan dan Earon begitu terkejut melihatnya dan merasa tertipu dengan perangkap fatamorgana itu.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Vurpia?” tanya Jordan dengan suara yang tercekik.

“Waauuu, kau juga langsung bisa mengenali diriku. Bahkan, dengan wujudku yang seperti ini. Ya. Inilah diriku. Dan selama ini, aku memang berbohong pada kalian. Kututup rapat tubuhku agar aku tidak dapat bersentuhan langsung dengan busur yang setiap saat kalian manjakan itu. Tapi sekarang, aku bisa menyentuhnya, begitu juga dengan pembawanya.”

Vurpia mengulurkan tangan kanannya ke samping atas. Sebuah salju turun dan melayang di atas telapak tangannya yang terbuka.

“Tujuanku sederhana, siapa pun yang berani menantangku, akan kuubah dirinya apapun jadinya sampai dia mau tunduk padaku. Dan tidak ada lagi yang dapat menghalangiku. Kau adalah manusia paling menjengkelkan yang pernah kutemui, Jordan. Tapi kali ini, kau akan menjadi monster paling kuat dan mengerikan yang pernah kumiliki.”

Kemudian, telapak tangannya tadi di arahkan di depan muka Jordan.

“Jangan coba-coba untuk menyakitinya!” bentak Earon yang berusaha melepaskan diri.

Vurpia sama sekali tidak memperhatikan hardikan Earon. Dia hanya terpusat pada mangsa utamanya yang ingin sekali segera ia lenyapkan dari dunianya.

“Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada adikku! Aku akan menghancurkanmu!”

“Kurasa, tidak perlu ada kata terakhir bagimu,” ucap Vurpia pada Jordan.

Sekilas pandangan Jordan melewati mata Vurpia. Namun, pandangannya kemudian berhenti dan menjadi tatapan dalam padanya. Tiba-tiba, air mata Jordan mengalir di salah satu pipinya. Entah apa yang membuatnya menangis, mungkin mencoba untuk mendapatkan belas kasih atau melihat kebenaran lain dari mata Vurpia. Tetapi, itu juga sama sekali tidak melemahkan Vurpia, untuk menghambat tujuannya.

Vurpia meniup saljunya yang kemudian terbang mendekati kening Jordan.

“Tidak!!!” teriak Earon yang melihat detik-detik kehilangan Jordan untuk yang kedua kalinya.

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh para pemegang busur, begitu juga dengan Jordan yang tidak mampu lagi berpikir untuk membuat rencana pelepasan.

Saljupun telah menyentuh kening Jordan.

“Jordan!!!” seru Earon ketakutan.

Tiba-tiba.

Salju itu langsung berubah menjadi biru begitu menyentuhnya. Kedua busur pun menetas sinar keindahan ke wujud awal pertama mereka dipegang. Busur emas dan perak kini memiliki ketangguhan seutuhnya, baik dari luar maupun dalam. Perubahan itu menandakan bahwa dua unsur pembangkit kedua busur telah dihidupkan kembali oleh Earon dan Jordan sebagai para pemegang busur sejati.

Vurpia begitu terkejut melihat saljunya telah berubah warna dan tidak berpengaruh pada Jordan. Salju itu terbang ke udara dan dengan terpaan angin mengarahkannya pada Vuklir yang masih menindihi Earon. Vuklir yang merasa terganggu dengan pemandangan salju biru yang melayang di dekatnya, langsung ingin menyingkirkannya dengan lambaian salah satu tangannya. Begitu salju itu tersentuh oleh tanganya, dia merasakan rasa sakit di tangannya tersebut.

“Apa-apaan ini!” keluh Vuklir seraya mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit.

Vurpia, Jordan, dan Earon masih terus mengamatinya.

Vuklir menghentikan kibasan tangannya dan sejenak diapun mengamati tangannya yang mulai terasa aneh. Kemudian dari ujung jari hingga pergelangan tangannya, langsung berubah kembali ke bentuk tangan manusianya. Vurpia tercengang melihat hal itu. Jika mampu mengembalikan bagian kecil wujud monster Vuklir, artinya salju seperti itu juga akan mampu mengembalikan seekor monster budak seutuhnya, pikir Vurpia.

Perhatian Vuklir yang teralih memberikan kesempatan pada Earon yang merasakan sedikit kelonggarahan pada tubuhnya. Dia langsung meraih busur emasnya yang tergeletak tidak jauh dari jangkauan tangannya, lalu langsung memukulkannya pada tubuh Vuklir hingga dia terpental beberapa meter. Vurpia semakin terkejut dan tumbuh ketakutan dalam benaknya. Dia tahu bahwa pukulan Earon tidaklah keras, namun busur itu seolah melipatgandakan kekuatannya. Earon langsung berdiri, mengambil sebuah anak panah dari wadah yang disandangnya, dan membidikkannya pada Vurpia. Melihat hal itu, Vurpiapun melepaskan cengkeraman Jordan dan terbang menghindari bidikannya. Dengan hati yang penuh emosi, Earon melepaskan anak panah cahayanya tiga kali berturut-turut, tetapi tetap saja tidak mengenai sasaran. Sementara Jordan yang baru saja berdiri, segera memperingatkan Earon untuk bisa mengendalikan emosinya.

“Kakak! Kendalikan emosimu atau kau sendiri akan hancur karenanya!” seru Jordan.

Earon seolah teringat sesuatu dengan ucapan Jordan tersebut dan langsung menghentikan bidikannya. Jordan segera mengambil busur peraknya yang terjatuh sekitar dua meter dari Earon. Sembari melangkahkan kakinya untuk busurnya, dia pun menghampiri saudaranya.

Keduanya kini yakin bahwa mereka dapat mengalahkan sumber wabah monster yang menyerang Losapins. Bahkan bukan hanya Losapins, tapi seluruh dunia. Mereka telah mengetahui tabir kekuatan kedua busurnya. Mereka juga yakin bahwa tidak hanya sebatas apa yang mereka lihat, kekuatan kedua busur bisa jauh lebih dahsyat. Keduanya dengan percaya diri menatap tajam Vurpia yang berdiri mengudara di atas mereka.

“Sekarang, kau tidak mampu memisahkan kami lagi. Hancurlah dirimu!” gertak Earon.

Vurpia tersenyum sinis mendengarnya.

“Tidak ada yang mampu menghancurkanku. Kecuali si sisik bulan. Dan dia sudah menghilang beribu tahun lamanya. Jadi, kalian jangan terlalu yakin untuk bisa mengalahkanku.”

“Siapa yang dia maksud?” gumam Earon pada Jordan, “Aku saja masih bingung dengan kekacauan ini dan sekarang dia menyebut sesuatu yang semakin tidak kumengerti.”

Jordan terdiam seolah memikirkan sesuatu.

Vurpia kemudian mengeluarkan kemampuannya. Dia menyemburkan pecahan-pecahan es ke arah Jordan dan Earon. Jordan langsung mengambil sebuah anak panah cangkir isapnya. Saat ditarik bersama tali busur, anak panah itu berubah menjadi cahaya biru dengan ujung pisau yang bersinar. Jordan melepaskan anak panahnya ke arah pecahan es itu dan terjadi penghancuran berantai.

“Tapi, kalian tidak cukup cepat,” kata Vurpia yang tiba-tiba sudah berada di belakang Earon.

Tinjuan maut mengarah pada Earon dan dengan cepat Earonpun menahannya dengan busurnya, hingga terseret sekitar sepuluh meter. Namun, dia masih sanggup berdiri, walaupun salah satu lututnya tersentuh tanah.

“Jangan alihkan perhatianmu dari musuh!” ucap Vuklir.

Jordan sangat terkejut melihat Vuklir yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia mengeluarkan jurus angin mematikan ke arah Jordan. Tidak kalah cepat dengannya, Jordan langsung menghindar dengan kemampuan bela diri yang dia miliki. Kibasan angin tersebut membelah gedung yang mengenainya.

Pertarungan dimulai. Earon berhadapan dengan Vurpia, sementara Jordan dengan Vuklir. Mereka semua menggunakan jurus andalan mereka masing-masing. Vurpia mengalirkan energi untuk mengendalikan es, angin, dan cahaya peledak. Vuklir mengalirkan energi yang diberikan dari Vurpia, yaitu angin. Walaupun hanya satu kekuatan, dia begitu terampil dalam mengendalikannya, bahkan hampir membuat Jordan kewalahan. Sementara kemampuan yang dimiliki Jordan dan Earon adalah ketangkasan permainan panah dan busur mereka. Selain kemampuan tersebut, keempatnya juga memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa. Tidak seperti layaknya monster yang mengandalkan bentuk dan muka yang menyeramkan, Vurpia dan Vuklir termasuk dalam kategori monster yang begitu cekatan dalam kemampuan bela dirinya.

Dalam pertarungan tersebut, Vurpia berusaha untuk menjauhkan Earon dari Jordan. Mengetahui gelagat itu, Earonpun tidak mengambil sikap bodoh. Dia mengikuti alur Vurpia, namun mengarahkannya untuk dekat ke cahaya tongkat Pridiatick. Dengan demikian, diapun memiliki peluang untuk bisa membidik sumbernya. Sementara Jordan, dia banyak terkena pukulan benda yang meluncur ke arahnya. Bahkan terakhir di pertarungan, dia memegang perutnya dengan kedua lutut yang menopang tubuhnya.

“Kenapa kau ikut dengannya? Kau bahkan bukan bagian dari masa lalu, Vuklir,” kata Jordan dengan napas yang terengah-engah.

Vuklir tampaknya juga kelelahan setelah bertarung dengan Jordan. Napasnya mengembus keras-keras dan terlihat luka lebam di beberapa titik pada bagian tubuhnya.

“Kalian bersaudara adalah pengganggu bagi kami. Maka, kami bersaudara adalah pembasmi bagi kalian.”

Jordan terkejut mendengarnya, namun raut wajahnya masih tenang.

“Kenapa? Kau tidak menyangka kalau dia adalah kakakku? Banyak yang tidak kau ketahui, Jordan. Kenyataannya, kau masih tidak tahu apapun.”

Jordan tersenyum sinis.

“Sejujurnya, aku pun tidak pernah mau tahu semua ini,” kata Jordan.

“Terdengar seperti beban bagimu,” ucap Vuklir sambil diam-diam menggerakkan sebuah mobil peyok di belakang Jordan, “Jika kau mau, aku bisa membantumu menghilangkan beban yang kau tanggung dan kaupun akan hidup bebas.”

Jordan diam, tidak menyahutnya. Sementara gerak-gerik Vuklir belum disadari oleh Jordan, pelan-pelan dia mengangkat mobil tersebut dengan kemampuan anginnya.

“Tidak semua orang beruntung mendapatkan tawaranku ini. Mungkin kau satu-satunya yang beruntung,” lanjut Vuklir, “Jadi, bagaimana?”

“Kau benar,” jawab Jordan.

Vuklir tersenyum tipis.

“Tapi, tidak,” lanjut Jordan.

“Kau tidak pernah pandai memilih!” ujarnya seraya mengayunkan kedua tangannya dengan tegas.

Mengetahui maksud gerakan tangan tersebut, Jordan langsung menoleh ke belakang, lalu terkejut melihat sebuah mobil melayang tepat di atasnya dan bergerak hendak mengambrukinya. Namun sebelum itu terjadi, Jordan segera mengayunkan busurnya untuk membidik mobil tersebut. Belum sempat anak panahnya diambil, Vuklirpun mencegahnya dengan menembakkan sebuah batu ke genggaman tangan Jordan yang memegang busur, hingga busurnya terpental. Rintihan rasa sakit Jordan terdengar sangat lirih, mobil pun siap membunuhnya. Jordan tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya melihat mobil itu menurun cepat ke arah mukanya, dan bluummm…. Debu berhamburan di tempat mobil itu dibenturkan. Suaranya yang sangat keras, meyakinkan Vuklir bahwa Jordan tidak akan lagi selamat dari tumbukan itu.

“Satu masalah sudah selesai,” ucap Vuklir senang.

Angin yang bertiup kencang kala itu, dengan cepat mengusap hamburan debu di sekitar lokasi kejadian.

Tiba-tiba, pandangan Vuklir terperanjat kaget saat melihat sesuatu masih bergerak mengembang dan mengempis di sisi mobil yang sudah tak berbentuk itu. Jordan masih hidup dengan posisi tubuh yang ditopang oleh kedua lengannya. Hal itu membuat nyala api kejengkelan di hati Vuklir semakin membara. Dia menggeram dan menembakkan begitu banyak batu ke arah Jordan. Jordan yang merasa tenaganya belum sempat pulih, sementara berusaha mencari tempat aman dari serangan kegilaan Vuklir tersebut. Batu-batu itu terus mengenai tubuhnya, hingga membuat dahinya berdarah. Jordan tidak dapat bergerak lebih jauh lagi, seakan pergerakannya diblokir. Diapun memutuskan untuk berlindung di balik puing-puing mobil yang baru saja menghantamnya.

Tembakan Vuklir berhenti. Napas Jordan masih mengembus keras-keras seraya memulihkan tenaganya.

“Kenapa Jordan? Merasa lemah tanpa busur yang melindungimu? Atau memang dasarnya, kau manusia lemah!”

Vuklir berjalan mendekati tempat persembunyian Jordan. Dia berniat mengakhiri pertarungannya di saat Jordan tak berdaya. Ketika dia sampai di balik mobil dan pandangan hendak melihatnya, tiba-tiba Jordan langsung menyambar dan merangkul punggung Vuklir, lalu memukuli wajahnya.

“Kau memang kuat, tapi sangat lemah di wajah!” ujar Jordan.

Vuklir yang tidak kuasa dengan perlakuan tersebut, langsung mengayunkan tubuh Jordan, menariknya, lalu melemparnya.

“Sudah cukup main-mainnya!” ucap Vuklir menggeram marah.

Jordan melihat kemurkaan Vuklir yang menjadi-jadi. Dia berpikir dan berusaha mencari cara untuk menghentikannya. Kemudian, pandangannya melewati busurnya yang tergeletak sekitar enam meter darinya. Tanpa berpikir panjang lagi, Jordan segera beranjak dan berlari untuk mengambil busurnya. Mengetahui hal itu, Vuklir segera mengeluarkan kemampuan anginnya untuk melempar busur itu lebih jauh lagi. Tangan Jordan tepat meraih busurnya, begitu pula dengan angin keras yang diembuskan oleh Vuklir, tepat mengenai mereka. Sesaat setelah kaki Jordan terlepas dari aspal, dia menarik satu anak panah dari wadah, mengarahkannya pada Vuklir, lalu melepaskannya saat melayang di udara. Vuklir berusaha melindungi dirinya dari serangan tersebut, dengan mengangkat mobil tadi ke hadapannya. Cahaya panah Jordan lenyap saat melewati mobil tersebut. Namun, cahaya itu muncul kembali setelahnya dan mengenai dada Vuklir yang seketika mengubahnya kembali menjadi wujud manusia. Kekuatan Vuklir lenyap, begitu pun mobilnya yang tidak lagi dikendalikan oleh kekuatannya, sehingga terjatuh dan langsung menjatuhi tubuhnya yang berada tepat di bawahnya. Jordan yang melihat itu hanya bisa merasakan ngeri dan iba.

Tubuh Jordan terlempar hingga memecahkan kaca jendela dan mendarat di lantai tiga sebuah gedung perkantoran pinggir jalan. Teriakan histeris menyambut pendaratan Jordan di ruangan tersebut. Jordan melihat beberapa orang yang ketakutan, berkumpul memojok di sudut dinding. Tapi, dia tidak begitu menghiraukan mereka. Dia kembali mengintip keluar dari jendela yang dipecahkannya, untuk memastikan keadaan Vuklir. Tidak ada sedikitpun pergerakan darinya. Vuklir telah tewas. Namun, wajah Jordan justru terlihat cemas.

Meninggalnya Vuklir bisa dirasakan oleh Vurpia yang masih bertarung dengan Earon. Sejenak dia menghentikan perlawanannya dan merasakan bagian dari kekuatannya yang sudah lenyap. Sorot matanya menandakan bahwa dia merasakan ketakutan yang lebih dari sebelumnya.

“Tidak mungkin,” ucapnya lirih nan cemas.

“Jangan alihkan perhatianmu dari musuh!” kata Earon terengah-engah, yang sudah siap dengan anak panah cahayanya.

Sementara Jordan, dia masih memikirkan kejadian yang baru dialaminya. Dia kemudian ingin mengambil satu anak panahnya, tapi ternyata wadahnya sudah kosong. Dia berpikir lagi sejenak. Lalu, langkahnya bergerak di setiap bilik di ruangan kantor tersebut, sambil mencari sesuatu. Dia menemukan sebuah penggaris yang panjangnya setengah meter, lalu mengambilnya. Dia berlari kembali mendekati jendela. Penggaris yang dia pegang, ditarik bersama tali busurnya. Ternyata, dia mengganti anak panahnya dengan sebuah penggaris. Awalnya dia agak kesulitan dengan penggaris tersebut yang panjangnya lebih pendek dari anak panah aslinya. Tapi apa boleh buat, dia yang harus bisa menyesuaikan dengan penggarisnya. Dia memejamkan mata sejenak, berkonstentrasi, dan berharap penggarisnya dapat berubah menjadi cahaya. Dari ujung penggaris, cahaya biru dengan pelan merambat. Jordan membuka mata sesaat setelah cahaya itu muncul. Seiring dengan merambatnya cahaya, ia menarik tali busurnya sedikit demi sedikit lebih panjang hingga lengan yang membawa busur lurus sempurna. Dia begitu senang melihat kemampuan busurnya itu. Dan langkah terakhir adalah pembidikan. Dia dapat melihat cahaya merah yang menjulang ke langit, dari tempatnya berdiri saat ini. Cahaya itu tidak lain bersumber dari tongkat Pridiatick. Kini, dia harus fokus pada bidikannya dan bukanlah hal yang mudah membidik sesuatu dari kejauhan dengan deretan gedung yang menghalanginya. Tapi, Jordan percaya kali ini dia dapat melakukannya, sekaligus menjadi percobaan dan memastikan kesimpulan sementara yang sedang dipikirkannya setelah Vuklir yang menjadi korbannya. Dia mengarahkan ujung anak panahnya ke cahaya merah yang terlihat, lalu merambat turun dengan lurus, mengikuti sumber cahaya. Gerakan tangannya berhenti. Jordan menghela napas.

“Tunjukkan lagi padaku!” ucapnya yang kemudian langsung melepaskan anak panahnya.

Anak panahnya melesat cepat seperti cahaya petir yang menyambar. Dia menghilang begitu melewati dinding ke dinding atau seperti kesimpulan yang ada dalam benak Jordan bahwa anak panah itu menembus benda yang bukan menjadi bidikannya. Jordan tak lagi mampu melihat cahaya anak panahnya karena terhalangi oleh dinding gedung. Dia hanya berharap bidikannya tepat dan memberikan efek pada cahaya merah itu.

Earon dan Vurpia masih melanjutkan perbincangannya.

“Sudah kukatakan, panahmu tidak akan mempan padaku,” ucap Vurpia, “Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkanku!”

“Tentu, karena jantungmu ada pada bunga itu,” sahut Earon dengan anak panah cahayanya yang masih ditahan dan terlihat pula beberapa luka lebam di tubuhnya.

“Dan tak seorang pun dapat menyentuhnya,” kata Vurpia.

Tiba-tiba, mereka dikagetkan oleh kilatan cahaya yang menyambar bunga Pridiatick yang tidak jauh dari keberadaan mereka.

Jordan dapat merasakan anak panahnya mengenai sasaran. Terlebih, tampak cahaya biru yang bersinar di dasar tiang cahaya merah itu. Jordan begitu senang, tetapi juga bingung. Kebingungannya timbul karena cahaya biru itu terus bersinar, sementara tidak terlihat adanya keretakan pada tiang cahaya merah. Untuk memastikan yang sebenarnya terjadi, dia segera pergi berlari untuk mendekati lokasi kejadian, sekaligus untuk memberitahu Earon tentang kekuatan busurnya.

Keadaan bersama Wergon, Filhener, dan Lytro.

Sesuai dengan pembagian tugas, ketiganya masih menyelamatkan para korban. Begitu banyak monster yang sudah mereka halangi, sebelum melukai para korbannya. Mereka kini masih dihadapkan pada seekor monster yang masuk pada salah satu rumah penduduk. Terlihat Filhener sedang menggiring sebuah keluarga yang terdiri dari pria dan wanita dewasa, serta tiga remaja dengan dua putra dan satu putri, keluar rumah. Sementara Wergon dan Lytro mencoba mengalihkan perhatian monster itu.

“Cepat keluarkan jurus stroke-mu!” seru Wergon yang hampir kewalahan menangani keliaran monster itu, dengan keahlian tongkatnya.

Sambil berusaha meraih titik patukan, Lytro menjawab, “Aku tidak bisa jika taktik gerakanmu seperti ini!”

“Kau pikir, aku yang mengerakkannya!”

“Berhenti bicara dan berikan aku peluang untuk bisa meraihnya!”

Wergon melakukannya lebih giat, hingga Lytropun berhasil mematuk beberapa titik di bagian tubuh monster tersebut yang kemudian langsung terjatuh lemas dan tidak mampu bergerak.

Lytro dan Wergon menghela napas panjang, sambil menatapi monster yang terbaring tak berdaya.

“Ini yang paling sulit yang pernah kita temui,” keluh Wergon.

“Pastinya, yang paling jahat yang pernah kita temui,” sahut Lytro.

Tiba-tiba, terdengar suara jeritan dari luar rumah. Lytro diikuti Wergon seketika berlari meninggalkan monster itu, untuk melihat situasi yang sedang terjadi. Sesampainya di tempat, Wergon dan Lytro begitu terkejut melihat seekor monster sedang menghadang keluarga yang baru saja ditolongnya.

“Dia berubah menjadi monster!” jerit si pria dewasa.

Lytro dan Wergon mengerutkan keningnya mendengar hal itu.

Filhener tidak lagi bersama mereka dan monster itu mengenakan baju robek-robek yang motifnya sama dengan yang dipakai Filhener. Mata Lytro dan Wergon terperanjat kaget menyadarinya.

“Filhener?” ucap Wergon.

Monster itu menjerit dengan suara aumannya yang menggelegar.

Earon menyadari bahwa kilatan cahaya biru itu tidak lain berasal dari anak panah Jordan. Tetapi, anak panah cahaya itu tidak dapat langsung menyentuh bunga Pridiatick. Cahaya anak panah Jordan yang masih bersinar dihalangi oleh sesuatu yang kasat mata. Sebuah perisai yang memang digunakan untuk melindungi bunga Pridiatick dari bidikan para pemegang busur.

Tanpa berpikir panjang, Earon segera mengalihkan bidikannya pada perisai bunga Pridiatick, sebelum cahaya anak panah Jordan lenyap. Namun sebelum Earon melepaskan anak panahnya, Vurpia segera mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menghalagi Earon. Pertarungan kembali dimulai. Kali ini, serangan Vurpia lebih brutal dari sebelumnya, sampai-sampai Earon hampir kewalahan menghadapinya. Dan di saat titik fokus Earon tidak stabil dengan serangan tersebut, Vurpia segera mengibaskan salah satu tangannya hingga mengeluarkan angin mematikan, yang mengarah padanya. Tanah yang dilewati angin mematikan tersebut seakan terbelah dengan bekasnya yang cukup dalam. Earon menoleh dan hanya bisa melihat angin tersebut sudah begitu dekat dengannya. Apapun yang dia lakukan pasti tidak akan cukup cepat untuk menghentikan serangan angin itu.

Namun tiba-tiba, angin itu lenyap begitu ada cahaya biru yang terkibas bersamanya. Jordan telah berdiri di hadapan Earon. Dia kembali muncul untuk ikut campur dalam pertempuran itu.

Suara geram dengan wajah murka menghiasi keadaan Vurpia ketika melihat para pemegang busur kembali bersatu. Vurpia menyambut Jordan dengan tatapan mata yang mengerikan, seolah menjadikan Jordan sebagai bidikan utamanya. Dari balik tatapan mata Vurpia tersebut, Jordan dapat melihat antara ketakutan dan harapan yang tersembunyi. Namun, dia belum dapat memastikan semua itu. Memastikan keinginan Vurpia yang sesungguhnya.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Jordan.

Daripada ketidakpastian itu menjadi misterius baginya, lebih baik langsung ditanyakan, pikir Jordan sebelumnya.

Sambil berdiri membelakangi tegaknya sinar Pridiatick, Vurpia terdiam, tidak menghiraukan pertanyaan sama yang dikeluarkan Jordan kedua kalinya tersebut, dengan tatapan mata yang masih menyorotinya. Diapun kembali melawan para pemegang busur. Lagi-lagi, pertarungan dimulai.

Situasi Filhener saat ini.

Wergon dan Lytro kebingungan menghadapi si monster Filhener. Tidak seperti monster yang lain, monster Filhener terlihat sedikit menonjol sisi kemanusiaannya.

“Bagaimana bisa kau berubah seperti ini?!” ucap Lytro yang justru marah pada Filhener.

Filhener menjawabnya dengan suara auman-auman yang tidak dimengerti oleh seorang pun.

“Apa yang kau katakan?” sahut Wergon, “Kau terdengar seperti sedang menggerutu.”

Filhener tidak sanggup harus menggunakan bahasa apa yang dapat dipahami oleh mereka. Diapun menangis karena kekesalannya itu. Wergon dan Lytro yang melihat tangisan monster Filhener yang menjadi-jadi, hanya bisa saling bertatap muka bingung.

Tidak lama kemudian, muncul seekor monster lain. Semua pandangan tertuju pada monster itu, begitu juga dengan Filhener yang seketika menghentikan tangisannya. Begitu melihat lawannya datang, pupil mata Filhener langsung memipih dan kehilangan kesadarannya. Dia dengan pelan membalikkan tubuh dan mengincar lawannya itu, seperti harimau yang hendak menangkap mangsanya.

“Oh, tidak,” ucap Wergon cemas menyadari gelagat Filhener tersebut.

“Lytro, cepat berikan jurus stroke-mu!” pinta Wergon segera.

Belum sempat tangan Lytro meraih tubuhnya, Filhener langsung melompat, berlari, dan menerkam lawannya itu.

Lytro dan Wergon tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka begitu takut dan bingung. Kejadian perkelahian para monster yang pernah mereka hadapi sebelumnya, biasanya mereka meninggalkan dan membiarkannya begitu saja. Mereka tidak mau ikut terlibat, karena mereka tahu para monster jauh lebih kuat dan ganas jika sedang menghadapi lawannya. Namun, kali ini berbeda. Mereka tidak mungkin meninggalkan temannya. Terlebih, melihat si monster Filhener yang terus saja terjatuh karena serangan dari lawannya itu.

“Kenapa dia jadi selemah itu?!” kata Wergon cemas.

“Dia bukanlah tipe monster yang kuat. Mungkin kuat saat manusia. Tapi kali ini, dia bisa jadi adalah monster paling lemah,” jelas Lytro.

“Tidak mungkin. Dia manusia paling jahat yang pernah kutemui,” ujar Wergon, “Filhener! Kalahkan dia! Keluarkan seluruh kemampuanmu!”

Mereka berdua hanya masih bisa menonton perkelahian itu.

Keadaan Filhener semakin memburuk. Dia terus saja dihantami pukulan-pukulan mematikan dari lawannya. Dia bahkan hampir tak sanggup berdiri. Melihat kejadian itu, Wergon bergegas berlari untuk menolongnya. Dia melindungi Filhener dengan menggunakan keahlian tongkatnya untuk menghalangi segala macam serangan dari monster itu. Tidak mau ketinggalan, Lytro segera menyusul aksi heroik kawannya. Mereka berdua bekerja sama untuk dapat menghentikan keganasan monster. Tapi yang terjadi, keduanya justru ikut terhempas ke tanah. Filhener mengaum keras melihat hal itu, sebagai tanda kemurkaannya yang tidak menerima jika kedua sahabatnya diberlakukan seperti itu. Dia bangkit kembali dan melawan monster itu lebih garang dari sebelumnya.

Perkelahian di area cahaya Pridiatick.

Earon terus berusaha membidikkan anak panahnya ke perisai bunga Pridiatick, sementara Jordan mengalihkan perhatian Vurpia. Tapi, sekalipun kekuatan Earon digabung dengan Jordan, tetap saja mereka keteteran menghadapi Vurpia yang benar-benar sangat kuat. Cahaya anak panah yang dilepaskan dari Jordan semakin melemah, sementara anak panah Earon hanya tinggal sedikit. Hingga di penghujung pertarungan itu, Vurpia berhasil mendapatkan Jordan. Dia menjadi tawanannya untuk mencegah Earon melepaskan anak panahnya yang terakhir.

“Sedikit saja ada gerakan, aku akan meledakkannya!” gertak Vurpia dengan tangan kiri yang mencekam leher Jordan hingga kakinya tidak menyentuh tanah dan jari telunjuk kanannya yang menodong kepala Jordan.

Earon begitu terkejut melihat adiknya muncul dalam dekapan Vurpia, di hadapan bidikannya yang sudah tepat.

“Lakukan saja, Kakak!” pinta Jordan dengan suara parau.

Cekaman tangan Vurpia semakin erat, membuat Jordan semakin kesulitan bernapas dan berkata. Sementara itu, tangan Earon mulai gemetar.

“Kau akan menyesal kalau melakukannya, Earon!” ucap Vurpia menggeram, “Adikmu bukan hanya akan mati karena tembakanku, tapi juga akan hancur karena bidikanmu!”

Dalam napasnya yang sempit, Jordan berusaha mengeluarkan suaranya untuk memaksa Earon segera melepaskan anak panahnya.

“Lepaskan anak panahnya! Semua akan baik-baik saja,” katanya.

Earon menatap mata Jordan yang telah berlinang air mata. Tetesan air mata yang penuh harapan dengan mengandalkan kesempatan tersebut hanya pada Earon. Diapun tidak sanggup melihat tangisan harapan itu. Lalu, dia menundukkan pandangannya sejenak dengan genggaman busur dan anak panah yang masih dalam keadaan siaga. Pikirannya penuh dengan dilema. Anak panah terakhirnya hanya tinggal dilepaskan dan semua akan berakhir. Namun di sisi lain, ada Jordan yang akan menjadi tumbalnya. Earon kembali mengangkat pandangannya. Dia pun melihat cahaya anak panah Jordan yang sudah menipis. Itu membuatnya semakin bingung.

“Turunkan busurmu sekarang!” bentak Vurpia yang memperkencang cekamannya pada Jordan hingga terdengar geraman kesakitan, “Cepat!”

Earon tidak kuasa melihat Jordan menanggung rasa sakit itu lagi. Diapun menuruti permintaan Vurpia, lalu mulai menurunkan busurnya. Jordan melihat kecemasan di mata Earon dan mencoba mengatakan kata-kata terakhirnya yang barangkali dapat menghilangkan keraguan dalam benak Earon.

“Hei, tidak apa-apa. Tetaplah fokus dan percayalah! Aku percaya padamu, Kak Volan,” ucap Jordan lembut dengan senyuman kecil.

Earon seketika tersentak mendengar ucapan Jordan tersebut. Tangannya yang memegang busur mengepal kuat dan diangkatnya kembali busur itu. Raut wajahnya kini penuh dengan keyakinan dan wuuussshhhhh…. Tanpa kedipan mata, anak panah Earon langsung melesat cepat, tepat menembus jantung Jordan dan Vurpia. Namun, tidak terjadi apapun pada keduanya. Anak panah bercahaya merah itu langsung mengenai sasaran pada perisai Pridiatick. Perisai itu kemudian hancur, hingga mengagetkan Vurpia sampai-sampai melepaskan cengkeraman leher Jordan. Dia berbalik ke arah bunga Pridiatick, merasa takut dan berharap apa yang dilihatnya tidak memperburuk keadaan, sementara cahaya biru yang tinggal setebal jarum telah masuk ke bunga Pridiatick.

Detik demi detik dalam penantian, ketiganya terdiam tegang. Tidak terlihat adanya reaksi apapun terhadap bunga itu. Mungkinkah karena kekuatan cahayanya sudah melemah, pikir si bersaudara. Vurpia merasa kalau harapannya masih bisa berdiri. Dia bernapas lega dan tersenyum sinis kepada bersaudara.

“Sudah kubilang, tak seorang pun dapat….”

Tiba-tiba, terdengar suara guntur disertai petir yang menjulang ke langit bersama dengan tiang cahaya Pridiatick. Cahaya biru bersinar terang pada titik kepala sari Pridiatick yang tertembus. Cahaya itu semakin terang dan muncul gumpalan kilauan cairan biru bola raksasa yang mengitari kehancuran kekuatan jahat tongkat, dengan butiran cahaya menghiasi sekeliling gumpalan tersebut. Begitu terangnya sampai-sampai Jordan dan Earon menutup mata sambil melebarkan kedua telapak tangan di depan mukanya. Lalu tahap akhir, tiang cahaya merah memudar disertai butiran cahaya biru yang membentuk cincin dan kemudian melebar hingga sinarnya melewati seluruh daerah kegelapan. Begitu cahaya itu melewati setiap monster, mereka berubah kembali ke wujud manusia.

“Filhener!” seru Wergon riang seraya berlari hendak memeluknya ketika telah berubah menjadi manusia.

Dengan cepat, Filhenerpun menyangkal.

“Jangan sentuh aku! Apa harus selalu ada pelukan setiap kau merasa senang,” katanya, “Egh! Tubuhku rasanya sakit semua.”

Filhener tidak sanggup untuk berdiri sendiri, sementara Wergon dan Lytro masih diam mengamatinya.

“Baiklah, kutarik ucapanku. Bantu aku berdiri!” ujar Filhener.

Wergon dan Lytropun membantu menuntun Filhener berdiri dan berjalan.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Wergon dalam langkahnya.

“Ya. Sepertinya, semua tampak jauh lebih baik. Mereka berhasil melakukannya,” jawab Filhener dengan langkah yang tersendat-sendat.

“Kita harus segera menemui Jordan dan Earon. Tempatnya tidak jauh lagi,” sahut Lytro.

Sementara kondisi Vurpia sudah tidak berdaya. Kekuatan utamanya telah kembali murni. Walaupun masih ada sisa kekuatan yang ada dalam dirinya, dia sudah tidak mampu lagi mengeluarkannya. Earon melangkahkan kakinya mendekati Vurpia. Dia begitu pula dengan Jordan, merasa heran dengan wujud Vurpia yang masih dalam bentuk monster. Bahkan, tidak ada sedikit pun adanya perubahan dalam bentuknya. Apakah memang karena wujud aslinya seperti itu, pikir Earon. Melihat ketidakberdayaan Vurpia, timbul belas kasihan pada diri Jordan. Dia mendekati Vurpia dan mencoba menemukan sesuatu yang barangkali dapat membantunya. Namun, langkahnya dihentikan oleh rangkulan tangan Earon.

“Memang sudah sepantasnya dia seperti itu. Monster tetaplah monster. Dia tidak akan kembali pada wujud yang lebih baik. Sekarang lihatlah dirimu sendiri! Kau hanyalah seekor monster yang lemah! Begitu rendahnya dirimu!” kata Earon yang masih menyimpan kemarahannya.

“Hentikan, Kak! Jangan mengatakan hal seperti itu!” ujar Jordan.

“Kenapa tidak? Itu layak untuknya. Apa kau sudah lupa? Dia yang membunuh orang tua kita. Dia juga yang telah mengadu domba kita. Dia yang membuat semua kekacauan ini.”

“Mungkin Kakak juga perlu bercermin untuk semua itu,” sahut Jordan tenang, “Apakah terlihat dendam di mataku padamu, Kak Volan?”

Earon terdiam menatap mata ketulusan Jordan.

Jordan menghelas napas sambil memalingkan tatapannya, lalu berkata, “Aku tidak mau membahas itu lagi. Aku bahkan ingin melupakannya. Jika kita ingin memperbaiki diri kita masing-masing, kenapa tidak kita mulai dengan saling memaafkan.”

Earon merenungkan kembali ucapan Jordan.

“Jika saja kalian bisa membunuhku, aku rela mati di tangan kalian sebagai hukuman atas semua yang kulakukan,” kata Vurpia.

“Tentu saja!” sahut Earon, “Jika saja anak panahku masih ada, pasti kau sudah kubunuh! Tapi…. Aku memaafkanmu. Aku memaafkanmu atas semua yang telah kau lakukan pada kami.”

Mendengar ucapan tersebut, Jordan menatap senang dan bangga terhadap kakaknya.

“Jangan menatapku seperti itu! Aku melakukannya karena kau memaksaku,” lanjut Earon.

Jordan membalasnya dengan senyuman lebar.

“Apa yang bisa kami lakukan untuk mengembalikanmu?” tanya Jordan.

Vurpia mengangkat mukanya pada Jordan dalam ekspresi wajahnya yang diam dan penuh keputusasaan.

“Tidak ada. Aku tidak bisa diselamatkan oleh siapa pun. Aku akan abadi bersama beban penderitaan ini. Kupikir, dengan kekuatan dan kehidupan yang abadi akan membawaku pada kepuasan atas pembalasan dari siksaan yang dahulu pernah kurasakan. Namun ternyata, aku justru lebih menderita dan sendirian. Orang-orang yang kusayang, mereka semua telah pergi meninggalkanku.”

Jordan dan Earon merasa iba mendengarnya.

“Untuk mendapatkan kekuatan ini, aku telah mencuri berlian ruby dari seekor naga. Dialah yang kusebut si sisik bulan. Penjaga para berlian.”

Jordan dan Earon sangat terkejut mendengarnya.

“Hanya naga itulah yang mampu mengembalikanku. Tapi, dia sudah tidak hidup lagi saat ini.”

“Kau telah dikutuk?” ucap Earon dengan pelan.

“Ya. Intinya, aku hanya butuh permintaan maaf dari naga itu karena telah mencuri barang berharganya. Tapi, semua sudah terlambat.”

Earon hanya bisa terdiam. Apa yang kini bisa dilakukannya jika keadaan yang memang sudah mengutuknya, pikirnya. Sementara Jordan, pandangannya ke bawah seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan adikmu,” kata Jordan seraya mengangkat kembali mukanya.

Earon dan Vurpia terperangah mendengar ucapan Jordan tersebut.

“Maksudmu, monster yang menindihku adalah adiknya?” tanya Earon.

Jordan menganggukkan kepala.

“Kekuatannya lenyap ketika aku memanahnya. Jika saja mobil itu tidak mengambruki tubuhnya, mungkin dia masih bisa hidup.”

Vurpia membuka mata lebar-lebar pada Jordan. Namun, bukan tatapan kemarahan karena adiknya terbunuh, melainkan sebuah tatapan harapan.

“Ya. Kurasa, sesuatu yang lain yang ada dalam diriku juga telah memaafkanmu. Franken Wirthan,” lanjut Jordan.

Vurpia semakin kaget ketika Jordan menyebut nama itu. Dia hanya bisa diam dan mencoba memahami keterkejutannya itu.

“Tapi, aku tidak mengerti dengan semua perasaan ini. Aku melihat masa lalumu dari matamu, saat kau mencoba mengubahku menjadi monster. Terkadang, tanda-tanda itu….”

Jordan seketika berhenti berucap ketika Vurpia berdiri sambil menganjurkan busur perak di hadapannya.

“Cobalah lagi!” pinta Vurpia.

Jordan mengambil busurnya, tapi dia masih tidak mengerti dengan maksud permintaan Vurpia tersebut.

“Gunakan busurmu untuk memastikan semua keraguan ini!” kata Vurpia, “Tidak masalah jika aku yang menjadi bidikannya. Aku tidak akan mati karenanya, aku pun akan tenang jika itu berhasil padaku.”

“Tapi, bagaimana caranya? Aku tidak punya anak panah untuk melakukannya.”

“Mungkin kau cukup memukulkan busurmu dengan sangat keras ke wajahnya, Jordan,” sahut Earon yang masih terbawa kesal, “Itu jelas berhasil padanya.”

Jordan terdiam dan berpikir sejenak.

Tidak lama kemudian, busurnya dia angkat. Suara gerincing dari lonceng kecilnya, seolah menjadi pertanda akan muncul sebuah kejutan yang tidak pernah dibayangkan sebagai hasil dari pemikirannya. Jari-jari tangan kanan Jordan direntangkan di dekat pegangan busur, yang kemudian jari-jarinya menguncup seakan-akan menarik sebuah anak panah yang kasat mata. Cahaya biru bersinar dari ujung, merambat mengikuti tarikan tangan Jordan hingga membentuk anak panah sempurna. Earon yang melihatnya hanya bisa terkagum-kagum, bagaimana dia dapat melakukan hal itu. Sementara Vurpia tersenyum yakin dengan yang ada dalam benaknya saat ini.

Vurpia mundur lima langkah kecil menjauhi Jordan, lalu berkata, “Lakukanlah!”

Jordan memejamkan matanya, konsentrasi dengan apa yang seharusnya menjadi bidikannya. Lalu, muncul sebuah lambang cahaya lingkar besar dengan tiga jenis lambang di dalamnya, yaitu cinta, kepercayaan, dan keberanian. Lambang cahaya melingkar itu muncul dari ujung mata anak panah sebagai pusatnya, yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam, dan cahayanya merambat ke belakang. Jordan membuka mata secara perlahan. Earon dan Vurpia dikejutkan dengan penampilan Jordan yang berbeda. Begitu lambang cahaya itu melewati tubuh Jordan, warna retina matanya berubah menjadi biru dengan pupil berbentuk celah vertikal, seperti mata naga.

“Jordan,” ucap Earon lirih dalam kekagumannya.

Setelah melewati tubuh Jordan, cahaya lambang itu menyatu dan berubah menjadi bentuk naga yang samar-samar. Lalu, berlian yang dijaga oleh naga itu, masing-masing muncul dari tempat persembunyiannya. Berlian ruby muncul dari tongkat Pridiatick, berlian emas muncul dari busur emas, dan berlian perak muncuk dari busur perak. Ketiga berlian itu melayang di dekat cahaya naga, di belakang Jordan.

“Betapa beruntungnya diriku bahwa kau memiliki bagian dari sang penjaga berlian,” kata Vurpia, “Sekarang aku tidak perlu takut lagi.”

Cahaya naga dan ketiga berlian bersatu ke dalam anak panah Jordan, yang kemudian cahayanya berubah menjadi warna hijau. Anak panah siap dilepaskan. Vurpia perlahan memejamkan kedua mata dengan senyum kedamaian.

“Terima kasih,” kata Vurpia mendesis.

Sesaat setelah Vurpia mengucapkan kata itu, anak panahpun melesat. Vurpia hanya bisa melihat cahayanya yang semakin terang dari balik pelupuk matanya.

Udara di kota Losapins mulai berubah. Kesegaran dari harapan baru dapat dirasakan oleh orang-orang di setiap embusan napasnya. Cahaya langit sore yang menembus celah-celah awan kegelapan yang perlahan memudar, menyoroti daerah Losapins yang ingin memulai kembali langkah awal harapan baru itu.

 

No comments:

Post a Comment