Kota Losapins menjadi porak poranda akibat kegilaan dari beberapa penduduk yang satu per satu telah berubah menjadi monster. Semua orang kebingungan mencari tempat yang aman untuk menghindari kekacauan itu. Suasana kota yang dihiasi oleh kobaran api di beberapa titik tempat tertentu dengan suara jeritan ketakutan dan rasa sakit, seolah menjadikannya kota neraka yang penuh dengan penyiksaan.
Vurpia berdiri di atas atap
sebuah gedung tinggi. Ditemani Vuklir, mereka berdua mengamati kondisi
kerusakan kota. Cahaya merah di tengah kota, masih bersinar menjulang ke
angkasa, seperti tiang yang menyangga kegelapan langit dari kota tersebut.
Angin kencang yang meniup selendang merah milik Vurpia menandakan tiupannya
dari berbagai arah dan tidak menentu.
Pada saat itu pula, sebuah
salju yang sama, yang telah mengubah orang-orang, jatuh di hadapan Vurpia. Dia
manganjurkan tangan kanannya dan hendak menjadikan telapak tangannya sebagai
sandaran salju tersebut. Ketika salju itu menyentuh kulitnya, Vurpia tersenyum
tipis nan mematikan sambil memejamkan matanya dengan pelan. Beberapa detik
setelah kedua matanya terpejam, diapun kembali membukanya dengan cepat dan
tegas. Cahaya matanya telah berubah menjadi merah terang dengan retina berwarna
kuning dan pupil hitam berbentuk celah vertikal. Seluruh tubuhnya telah berubah
menjadi monster. Kaki besar dan berbulunya seperti kaki kambing, begitu pula
dengan dua tanduknya yang menjulur setengah melingkar ke atas. Wajahnya tidak
jauh seperti wajah manusia laki-laki yang sedang menahan kemarahannya. Tidak
seperti monster-monster lain yang terlihat sedikit membungkuk, badannya lebih
besar, tegap dan gagah dengan otot-otot kekar yang terselubung kulit bersisik
halus, hitam dan tebal. Dia pun lebih terlihat sebagai monster paling berwibawa
di antara yang lain.
Perubahan itu tidak hanya
terjadi pada Vurpia, melainkan juga pada Vuklir. Pada waktu perubahan yang
sama, dia pun telah berubah menjadi monster dengan bentuk yang berbeda. Hampir
sama dengan Vurpia, hanya saja tanpa tanduk dengan badan lebih pendek dan
kecil, tetapi lebih tinggi dan besar dari monster lainnya. Wajahnya pun lebih
mirip seperti wajah kera. Tubuhnya memakai baju pelindung dengan tudung
melingkar yang menutup belakang kepala sampai ujung dahinya. Namun, baju itu
tidaklah seperti kain, melainkan tersambung sebagai bagian dari tubuhnya yang
mengeras.
“Jika saja salju ini bisa
turun lebih deras,” kata Vuklir dengan suara yang mengelegar.
Vurpia melirikkan matanya
pada Vuklir.
“Kau pikir, salju ini turun
tanpa kendaliku?” sahut Vurpia dengan suara yang berubah menjadi suara
laki-laki, “Aku mengendalikan semua ini. Aku sengaja membuat salju-salju itu
turun dengan sangat jarang, agar aku bisa mendengar lagu ketakutan mereka.
Bahkan hanya dengan sekali jentik, kini aku bisa menghancurkan dunia.”
“Sepertinya, Tuan telah
mendapatkan kekuatan dari pencipta tongkat Pridiatick, Franken Wirthan.”
“Tidak hanya kekuatannya,
aku memiliki dia seutuhnya. Aku juga bisa merasakan dengan jelas pengkhianatan
yang dilakukan para manusia itu.”
Matanya yang tajam dan
fokus, memandang ke arah kejauhan seolah merasakan sesuatu.
Langit yang diselimuti
gumpalan awan gelap dengan kilatan merahnya, dipandangi oleh seorang pria tua
dari balik jendela kaca rumahnya. Dia berdiri sambil memegang gorden yang
hendak ditariknya untuk menutup layar kaca itu.
“Apa yang terjadi dengan
langitnya?” ucap Trigar dalam hati dengan penuh ketakutan dan kekhawatiran,
“Kumohon, lindungilah putraku Volan dan orang-orang yang dicintainya.”
Sementara Wergon beserta
kawan-kawan masih terus berlari mencari jalan untuk mencapai tujuan mereka.
Namun kali ini, tujuan mereka bukan lagi untuk menemukan Jordan dan Earon,
tetapi untuk menyelamatkan diri dari kejaran monster-monster yang terus
menyeruduk tanpa kendali.
“Apa yang sebenarnya mereka
inginkan?!” tanya Wergon sambil berlari.
“Kita! Siapa lagi?!” sahut
Filhener.
“Lari saja dan jangan banyak
berpikir!” seru Lytro.
Lima sekawan dan empat orang
yang berlari bersama mereka, akhirnya terpojok di tengah jalanan kota yang
kacau, saat dihadang oleh dua monster dari arah berlawanan. Mereka langsung
bingung dan panik, tidak ada arah yang dapat mereka ambil lagi. Empat orang tak
dikenal bersama Rekshein dan Migo langsung mundur hingga berhimpit dengan badan
mobil yang terjungkir bekas serudukan salah satu monster. Namun, Wergon,
Filhener, dan Lytro mencoba untuk bersikap berani menantang kedua monster itu.
Filhener meraba samping kanan dan kiri pinggangnya, sementara Wergon
mengayunkan tangan kanannya ke belakang punggungnya. Namun, tampaknya maksud
dari gerakan mereka tersebut justru membuat mereka sendiri menjadi semakin
panik.
“Di mana tongkatku?” ucap
Wergon gugup dengan mengepal-ngepalkan tangan kosongnya yang masih menukik di
belakang punggungnya.
Dengan wajah bingung dan
polos, Filhener terus meraba-raba pinggangnya, bahkan sampai di ujung bawah
celananya.
“Apa yang sedang kalian
lakukan?” tanya Lytro yang ikut bingung dengan sikap kedua teman karibnya
tersebut.
“Aku yakin sekali sudah
membawa pistol. Tapi, kenapa tiba-tiba sekarang sudah tidak ada?” sahut
Filhener.
“Apa kau lupa kalau habis ditangkap
polisi?!”
“Apa?” ucap Wergon dan
Filhener bersamaan.
Lytro menepuk tangan kanan
ke dahinya sambil menggeram kesal.
“Ini tidak ada gunanya,”
gumam Lytro.
Tidak lama kemudian, kedua
monster itu langsung meluncur ke arah Lytro dan yang lainnya. Merekapun tidak
dapat berbuat apapun untuk melawannya dan pasrah dengan keadaan yang akan
terjadi. Ketika salah satu monster melayang ke arah mereka, saat itu pula
ketiganya menekukkan lutut dengan kedua tangan mengencang di depan dada yang
seolah dijadikan sebagai perisainya. Namun yang terjadi, monster itu justru
menerkam monster satunya yang berada di hadapannya. Keduanya bertarung seperti
halnya pertarungan dua manusia yang menginginkan gelar pemenang. Mereka saling
memukul, mencakar, dan mendorong dengan gerakan cepat dan sangat keras.
Sementara Wergon dan yang lainnya hanya bisa menonton dengan perasaan bingung
dan penasaran.
“Kenapa mereka saling
berkelahi?” gumam Wergon bingung.
Tiba-tiba salah satu monster
itu mendorong tubuh monster lawannya hingga terlempar ke arah kerumunan
orang-orang tadi dan tidak dapat disangkal lagi pasti mengenai mereka.
Merekapun kembali takut dan pasrah jika memang hari itu adalah hari terakhir
untuk mengembuskan napas. Sambil memejamkan mata kuat-kuat dengan jeritan
histeris, mereka tidak memikirkan sedikit pun akan ada harapan untuk selamat.
Namun saat tubuh monster itu sedekat ibu jari dengan kelingking dari kepala
Wergon, tiba-tiba monster itu lenyap dengan cahaya biru yang menyertai
kehancurannya. Sementara monster satunya yang juga melompat ke arah mereka,
dengan tangan cakar kanannya yang megar dan siap untuk menggaruk lawannya, ikut
hancur dengan cahaya merah api yang menyertainya.
Wergon, Lytro, Filhener, dan
yang lainnya membuka mata dengan pelan. Ke mana monster itu, pikir mereka
bingung. Kemudian, terdengar suara gerincing yang khas, yang tidak asing
didengar di telinga lima sekawan. Semuanya langsung menoleh ke sumber suara.
“Jordan!” seru Wergon riang
melihat Jordan masih bisa melangkah.
“Volan?” gumam Filhener
bingung melihat Jordan jalan berdampingan dengan Earon, “Bagaimana mungkin dia
bersamanya?”
Lytro yang melihat
kebersamaan dua bersaudara itu juga merasa bingung seperti Filhener.
“Jangan percaya dengan yang
kita lihat! Mereka pasti salah satu bentuk tipuan ilusi, pengaruh dari bencana
ini,” jelas Lytro.
Jordan dan Earon tiba di
hadapan semuanya. Tapi, bukan senyuman yang menjadi sambutan untuk mereka
berdua, melainkan wajah kegilasahan dan ketegangan. Lytro, Wergon, dan Filhener
yang berada di barisan terdepan dari gerombolan, menyiapkan kepalan tangan
kuat, yang masing-masing dihadapkan pada dua bersaudara itu, kecuali Wergon
yang bersikap tidak berlebihan.
“Ada apa?” tanya Jordan
bingung.
“Tidak perlu bersandiwara!
Katakan saja, siapa sebenarnya kalian!” gertak Lytro.
Jordan justru melemparkan
senyum pada mereka.
Melihat senyuman itu,
Wergonpun seolah terbangun dari keraguannya dan langsung memeluk erat Jordan.
Namun, Filhener dan Lytro masih dibingungkan dengan situasi.
“Wergon, jangan dekati
mereka! Apalagi memeluknya!” sahut Filhener.
Wergon melepaskan
pelukannya, menatap Filhener, dan berkata, “Tidak ada yang mampu menunjukkan
senyum ketenangan di saat musibah datang. Tidak, kecuali Jordan.”
“Jadi, apa sekarang kau juga
akan mengkhianatiku dengan menunjukkan tanganmu itu, Lytro?” ucap Earon.
Lytro tersadar dan dengan
cepat menurunkan kepalan tangannya.
Sementara Filhener begitu
terharu setelah meyakini bahwa Jordan masih bisa berdiri dihadapannya.
“Jordan. Jadi, kau
benar-benar masih hidup?” ucap Filhener seraya memeluk erat Jordan, “Kukira,
kau sudah….”
“Sudah kubilang, aku pasti
kembali,” jawab Jordan.
“Miguveer! Jordan!” seru
Migo dan Rekshein riang dan terharu, yang berlari mendekati Jordan, lalu ikut
memeluknya bersama dengan Filhener.
Filhener yang merasa
tertekan di tengah pelukan, berusaha untuk melepaskan diri.
“Minggirlah kalian! Aku
tidak bisa bernapas!” katanya.
Migo dan Rekshein tidak
menghiraukan ucapan Filhener dan terus memeluknya.
Sementara Earon, dengan
penuh haru dan bahagia diapun tersenyum tipis melihat kawan-kawannya menyambut
Jordan. Tiba-tiba, dia terperanjat ketika tangan Lytro menepuk salah satu
pundaknya.
“Aku senang kau kembali,”
ucap Lytro sambil tersenyum padanya.
Earon merasa sedikit
canggung pada Lytro, karena kesalahan yang pernah dia lakukan padanya.
“Kau benar,” kata Earon,
“Aku seharusnya tidak mengikuti nafsuku. Maafkan aku karena tidak
mendengarkanmu. Dan semua ini terjadi karena diriku.”
Lytro membalas dengan
remasan ringan di pundaknya dan senyuman kecil.
“Apa kita harus berpelukan
seperti mereka?” ujar Lytro.
Earon membalasnya dengan
senyuman lebar, lalu berkata, “Tidak. Kita tidak kekanak-kanakan. Kita orang
dewasa.”
“Ya, bagus kalau begitu.”
“Lagi pula, kita ini
laki-laki.”
“Benar.”
“Jika orang melihat kita,
bisa-bisa mereka pikir kita….”
“Itu akan menjadi buruk.”
“Apalagi kita seorang agen.
Harga diri kita pasti ternodai karena pelukan kecil.”
Lytro menganggguk-anggukkan
kepalanya.
Lalu, sontak Earon memeluk
Lytro dengan sangat erat.
“Tapi, aku tidak peduli
apapun yang akan mereka pikirkan. Asalkan, sahabatku tetap bersamaku,” ucapnya
lirih.
Lytro tersenyum dan membalas
rangkulan kedua tangannya pada tubuh Earon.
Setelah Migo, Rekshein, dan
Filhener melepaskan rangkulannya, Jordan melihat kakak dengan sahabatnya masih melakukan
pelukan persahabatan itu, lalu tersenyum kecil.
Tiba-tiba, seekor monster
muncul dari lorong. Mereka begitu terkejut melihatnya yang seketika membuat
Earon melepaskan anak panahnya. Terlihat cahaya merah yang bersinar pada ujung
mata anak panah saat dilepaskan. Monster itupun hancur bersama cahaya itu.
Semua yang melihatnya, hanya bisa diam tanpa mengedipkan mata dengan mulut
menganga.
“Bagaimana kau bisa
melakukan itu?” tanya Migo terkagum-kagum.
“Tidak ada waktu untuk
menjelaskan semuanya. Kita harus segera mengakhiri petaka ini,” jelas Jordan.
“Ya, kita bisa menggunakan
keajaiban yang kalian miliki untuk membunuh monster-monster itu,” sahut
Filhener.
“Tidak. Itu salah.
Menghancurkan monster sama saja membunuh manusia,” kata Jordan.
“Tapi, mereka bukan lagi
manusia,” ujar Wergon.
“Tidak. Mereka masih
manusia. Salju itulah yang telah mengubah mereka. Wabah ini tidak lain
bersumber dari cahaya merah itu,” jelas Jordan lagi.
“Lalu, apa yang harus kita
lakukan sekarang?”
“Menghancurkan sumber
masalahnya,” ucap Earon menggeram dengan wajah murka.
Jordan yang mengamati mimik
muka Earon, sangat mengerti apa yang sedang dirasakannya.
“Bagaimana dengan mereka?”
kata Lytro sambil menunjuk ke arah kerumunan orang-orang tak dikenal yang
berada di belakangnya, “Kita juga bertanggung jawab pada mereka yang belum
terinfeksi.”
Earon berpikir sejenak.
“Kau…,” katanya sambil
menepuk pundak Lytro, “…dan yang lain tetap bersama mereka. Evakuasi penduduk
yang belum terjangkit! Carilah tempat aman! Kami berdua yang akan mengurus
sumbernya.”
“Tidak mungkin! Aku ikut
denganmu!” ucap Lytro keberatan.
“Ya! Kami ikut denganmu,
Jordan! Kita bersama, ingat?” lanjut Wergon.
“Kurasa, pembagian tugas ini
sudah sangat tepat,” jelas Jordan, “Mereka saat ini lebih membutuhkan kalian.
Tapi jika kalian masih saja mengotot, kalian boleh menyusul kami setelah tugas
kalian selesai.”
Walaupun Lytro, Wergon, dan
Filhener sebenarnya masih keberatan dengan ide tersebut, tetapi pada akhirnya,
pembagian itupun disetujui oleh semua pihak. Jordan dan Earon bergegas menuju
tempat yang disepakati. Sementara yang lain, tetap berdiri di tempat.
“Jadi, apa yang pertama
harus kita lakukan?” tanya Filhener.
Lima sekawan memalingkan
pandangan, melihati sekerumunan orang yang berada di belakang mereka.
“Mengambil senjata kalian
terlebih dahulu,” jawab Lytro.
Jordan dan Earon terus
melangkah. Di tengah perjalanan, mereka menjumpai salah satu monster. Seperti
yang dilakukan sebelumnya, secara spontan Earon langsung mengarahkan anak
panahnya. Namun, Jordan segera menghentikan Earon dengan menarik bajunya.
“Apa yang kau lakukan?”
bisik Earon yang bersembunyi di balik dinding.
“Jangan terbiasa melakukan
itu, Kak!” sahut Jordan.
“Mereka menghambat langkah
kita.”
“Mereka tidak mengincar
kita. Cukup bersikap biasa saja.”
Earon bingung dengan maksud
Jordan tersebut. Ingin bertanya, namun tidak tahu pertanyaan tepat apa yang
langsung dapat membuatnya mengerti, sehingga mulutnya hanya bisa
menganga-nganga kecil.
“Mereka memang suka
menyeruduk tanpa kendali. Tapi sebenarnya, mereka hanya akan bertarung dengan
sejenisnya. Itulah kesimpulan sementaraku.”
Earon tidak berkata apapun
lagi. Dia mulai keluar dari tempat persembunyian, melangkah pelan, dan mencoba
untuk bersikap biasa seperti yang dikatakan Jordan. Tapi, saat kakinya mau
melangkah, Jordan tiba-tiba menahan lengannya.
“Ada apa lagi? Aku mencoba
melakukan seperti yang kau minta,” ujar Earon agak kesal pada Jordan yang
terus-terusan menahannya.
“Aku harap apapun yang akan
kita hadapi nanti, jangan gunakan emosimu untuk mengambil keputusannya.”
Earon terdiam menatap
Jordan.
“Kita harus cepat,” ujar
Earon.
Jordan melepaskan lengan
Earon dan bersamanya melangkah menyeberangi tatapan mata monster yang berada
dekat dengan mereka.
Namun saat sampai di tengah
jalan, monster itu merasakan kehadiran mereka yang membuat pandangannya
berpaling ke arah si bersaudara hingga membuat keduanya langsung diam tak
bergerak.
“Apa dia melihat kita?” ucap
Earon dengan badan kaku, di depan Jordan.
“Aku tidak bilang kalau dia
buta,” jawab Jordan.
Monster itu pelan-pelan
mendekati mereka.
“Apa kita harus lari?” kata
Earon agak gugup.
Monster itu semakin mendekat
dengan langkah cepat, yang seolah siap menyeruduk mereka.
“Jordan, apa yang harus
kulakukan?!” seru Earon semakin tegang.
Tidak terdengar tanggapan
dari Jordan.
“Jika kau tidak berkata
apapun, sungguh akan kulakukan dengan panahku!”
Earon mulai mengangkat
busurnya, namun Jordan lagi-lagi menahannya.
“Tenangkan dirimu!
Bersikaplah biasa saja!” kata Jordan menenangkan kakaknya.
Earon menghela napas dan
langsung mendapatkan ketenangannya, yang membuat langkah monster itupun
seketika berhenti.
Perhatian monster itu
tiba-tiba seolah beralih pada sesuatu, sehingga membuatnya pergi menuju arah
lain dan meninggalkan mereka. Earon mengembuskan napas lega karena tidak perlu
menahan napasnya lebih lama lagi.
“Kau sepertinya sangat tahu
mereka ya, Jordan,” ujar Earon, “Tidak. Kau sangat tahu tentang kami semua.
Kadang, aku tidak mengerti jalan….”
Ucapannya terhenti ketika
dia menoleh ke belakang dan tidak melihat Jordan di sana. Matanya mencari
keberadaan Jordan. Ternyata, dia sudah beberapa langkah mendahuluinya.
Sambil tersenyum kecil dan
agak malu, Earon melanjutkan ucapannya, “Pikiranmu.”
Jordan menoleh ke arah
Earon.
“Apa Kakak mengatakan
sesuatu?” tanya Jordan.
“Lanjutkan saja langkahmu!”
Sambil melangkah cepat,
mereka masih melanjutkan percakapannya.
“Sebenarnya, monster-monster
itu melihat kondisi pikiran dan hati kita,” jelas Jordan.
“Baik, aku mendengarkanmu,”
sahut Earon.
“Jika kita takut, maka
mereka akan mencoba menyingkirkan ketakutan itu dengan cara menyeruduknya. Tapi
saat kita tenang, siapa yang mau menyingkirkan itu.”
“Kenapa tidak menjelaskannya
tadi?”
“Karena kupikir, itu akan
membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat Kakak mengerti, sebelum kenyataan
itu terjadi. Lagipula, definisi ketenangan yang kumaksud bukan berarti menahan
napas selama mungkin.”
Sejenak Earon tertegun
mendengarnya. Tapi sesaat kemudian, dia tertawa bisu sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara situasi bersama
kelompok Lytro.
Lytro, Wergon, dan Filhener
pergi ke suatu tempat. Tampaknya, kelompok mereka telah membagi tugas lagi
untuk diserahkan kepada Migo dan Rekshein. Saat ketiganya sampai di tempat yang
tidak asing di jalanan yang tidak jauh dari gedung AKLA, mereka melihat
mobil-mobil AKLA terubrak-abrik. Lytro melihat mobil yang dibawa Lingchi
terakhir kali, terjungkir dalam keadaan badan mobil yang sudah peok-peok. Dia
kemudian berlari mendekati mobil itu.
“Lingchi!” serunya.
Dia melihat adanya gerakan di
jok depan dan mencoba memastikannya.
“Lingchi!”
Lytro berusaha menolong
Lingchi yang kesulitan keluar. Sepintas pandangannya tertuju di jok sopir dan
melihat seorang rekan lainnya yang sudah tewas. Lingchi berhasil dikeluarkan,
dengan aliran darah setengah basah dari ujung kepalanya.
“Kau baik-baik saja?” ucap
Lytro cemas.
“Aku baik.”
“Kita harus membawanya ke
rumah sakit,” kata Wergon, bersama Filhener menyusul Lytro.
“Tidak, tidak. Aku sungguh
baik-baik saja,” ujar Lingchi, “Makhluk itu melempar dan melempari dengan mobil
kami. Mereka mungkin alien atau monster yang keluar dari inti bumi. Kota ini
sepertinya sudah hancur karena ulah mereka. Ini kasus di luar kemampuan kita.
Apa menurutmu, kita sedang diserang?”
“Sangat rumit untuk
menjelaskan semuanya,” jawab Lytro.
“Ya, karena kami sendiri
juga tidak tahu apapun,” sahut Wergon.
“Tapi, kami tahu pasti
dalang dari semua ini,” ujar Filhener.
“Maksudmu?” tanya Lingchi
seraya mengerutkan keningnya.
“Vurpia.”
Lingchi begitu terkejut
mendengar jawaban Lytro tersebut dan tidak mampu berkata apapun.
Tanpa berlama-lama, Lytro
langsung menarik pintu belakang mobil yang terjungkir tadi. Dia menggerayang,
mencari sesuatu di bagian jok belakang.
“Ini dia,” ucap Lytro seraya
mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil, lalu menganjurkan sesuatu di
genggamannya pada Wergon dan Filhener sambil berkata, “Senjata kalian.”
Wergon dan Filhener segera
mengambil senjata tersebut masing-masing. Lingchi yang melihat persiapan
mereka, menimbulkan pertanyaan dalam benaknya.
“Ke mana kalian akan pergi?”
tanya Lingchi penasaran.
“Carilah tempat aman!” ujar
Lytro, “Bersama yang lain. Dan harus benar-benar aman.”
“Tapi, aku ingin ikut
denganmu juga.”
“Kumohon, kau harus…. Kau
harus tetap di dunia ini,” lanjut Lytro agak gugup, “Maksudku, tetap di sini.
Tidak, maksud…, aku tidak ingin terjadi apapun pada dirimu.”
Lingchi terdiam sambil
menatap dalam mata Lytro.
Lytro yang merasa malu
dengan tatapan tersebut, langsung berpaling. Sementara Lingchi masih belum
mengerti dengan kepastian yang ada dalam pikirannya saat ini terhadap Lytro.
Lytro, Wergon, dan Filhener
segera pergi meninggalkan Lingchi. Sekitar tujuh langkah kemudian, Lingchi
berkata, “Kalau begitu, berhati-hatilah kalian semua!”
Ketiganya menahan langkahnya
sejenak seraya memalingkan mukanya ke belakang.
“Semoga beruntung,” lanjut
Lingchi.
Tiga serangkai membalasnya
dengan anggukan kepala, lalu kembali melangkahkan kakinya untuk melanjutkan
tugasnya.
Sementara keadaan Jordan dan
Earon, mereka berdua tampaknya sudah cukup dekat dengan lokasi tiang cahaya.
Keduanya sedang mengamati keadaan sekitar dari balik reruntuhan lantai teratas
yang masih utuh sebagian di salah satu gedung terdekat.
“Sepi. Tidak ada siapa pun,”
ucap Jordan.
“Kalau begitu, segera kita
hancurkan tongkat itu! Pilih panahmu atau panahku? Aku akan sangat senang jika
panahku yang menancap untuknya,” sahut Earon yang masih mengamati depan.
“Entahlah,” jawab Jordan
gelisah seraya memalingkan mukanya ke belakang dan bersandar pada dinding
reruntuhan, “Aku tidak mengerti, kenapa dia meninggalkan perhiasan berharganya
di sini tanpa penjagaan.”
“Karena dia makhluk bodoh.”
“Tidak. Menurutmu, makhluk
bodoh macam apa yang mampu menghasut hati para pemegang busur?”
Earon merasa tersindir
dengan ucapan Jordan tersebut. Namun dari raut mukanya, diapun mencoba untuk
sadar diri.
“Baik. Kau ingin aku
mengatakan kalau dia lebih pintar dari kita? Memang. Sedikit,” katanya.
“Kita mungkin sedang
diawasi,” lanjut Jordan.
“Ayolah, Jordan! Kenapa
tidak mencoba untuk membidiknya terlebih dahulu? Itu tidak akan memberikan
kerugian apapun.”
Jordan menganggukkan
kepalanya dengan ringan, menyetujui usulan Earon tersebut.
Earon mulai membidikkan anak
panahnya ke arah tongkat Pridiatick. Saat anak panah itu dilepas dan mengenai
tongkat itu, Jordan dan Earon tercengang melihatnya.
“Apa yang terjadi dengan
panahku?” tanya Earon kaget.
“Menghilang. Dia
melewatinya, seperti….”
Belum sampai kesimpulannya
terucap, Jordan langsung tersentak menyadarinya.
“Ini jebakan!” ucap Jordan.
Sesuatu tiba-tiba menyambar
keduanya dengan sangat cepat dan keras, hingga tubuh mereka terlempar dari
gedung itu. Mereka berdua terjatuh dan belum terlihat dengan jelas apa yang
menyambar keduanya. Tubuh Earon hampir membentur tanah, tapi makhluk itu segera
menangkap dan melepaskannya kembali, yang membuat benturan menjadi sedikit
lebih ringan. Namun saat tubuhnya telah berguling di tanah, ada makhluk lain
yang menindihnya hingga dia tidak bisa bergerak sama sekali. Setelah itu,
cengkeraman makhluk yang menyambar tadi berpindah pada Jordan, lalu
membenturkan tubuhnya ke sisi dinding lainnya. Sepertinya, makhluk itu ingin
bermain-main dengan mereka terlebih dahulu, sebelum akhirnya dibunuh.
“Otakmu memang luar biasa,
Jordan,” ujar Vurpia dengan tangan yang mencengkam leher Jordan, dengan posisi
kedua telapak kakinya yang menempel pada dinding, di sisi kanan kiri pinggul
Jordan.
Tangan Jordan terus
menggerayangi cengkeraman Vurpia, mencoba untuk bisa melepaskannya.
“Berkali-kali kau mampu
mengecohku,” lanjut Vurpia, “Bahkan dengan kehadiranmu di sini, membuatku
semakin terkesan padamu.”
Tongkat Pridiatick dan
cahayanya kemudian menghilang diikuti situasi sekitar yang ikut berubah. Jordan
dan Earon begitu terkejut melihatnya dan merasa tertipu dengan perangkap
fatamorgana itu.
“Apa yang sebenarnya kau
inginkan, Vurpia?” tanya Jordan dengan suara yang tercekik.
“Waauuu, kau juga langsung
bisa mengenali diriku. Bahkan, dengan wujudku yang seperti ini. Ya. Inilah
diriku. Dan selama ini, aku memang berbohong pada kalian. Kututup rapat tubuhku
agar aku tidak dapat bersentuhan langsung dengan busur yang setiap saat kalian
manjakan itu. Tapi sekarang, aku bisa menyentuhnya, begitu juga dengan
pembawanya.”
Vurpia mengulurkan tangan
kanannya ke samping atas. Sebuah salju turun dan melayang di atas telapak
tangannya yang terbuka.
“Tujuanku sederhana, siapa
pun yang berani menantangku, akan kuubah dirinya apapun jadinya sampai dia mau
tunduk padaku. Dan tidak ada lagi yang dapat menghalangiku. Kau adalah manusia
paling menjengkelkan yang pernah kutemui, Jordan. Tapi kali ini, kau akan
menjadi monster paling kuat dan mengerikan yang pernah kumiliki.”
Kemudian, telapak tangannya
tadi di arahkan di depan muka Jordan.
“Jangan coba-coba untuk
menyakitinya!” bentak Earon yang berusaha melepaskan diri.
Vurpia sama sekali tidak
memperhatikan hardikan Earon. Dia hanya terpusat pada mangsa utamanya yang
ingin sekali segera ia lenyapkan dari dunianya.
“Aku bersumpah tidak akan
pernah memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada adikku! Aku akan menghancurkanmu!”
“Kurasa, tidak perlu ada
kata terakhir bagimu,” ucap Vurpia pada Jordan.
Sekilas pandangan Jordan
melewati mata Vurpia. Namun, pandangannya kemudian berhenti dan menjadi tatapan
dalam padanya. Tiba-tiba, air mata Jordan mengalir di salah satu pipinya. Entah
apa yang membuatnya menangis, mungkin mencoba untuk mendapatkan belas kasih
atau melihat kebenaran lain dari mata Vurpia. Tetapi, itu juga sama sekali
tidak melemahkan Vurpia, untuk menghambat tujuannya.
Vurpia meniup saljunya yang
kemudian terbang mendekati kening Jordan.
“Tidak!!!” teriak Earon yang
melihat detik-detik kehilangan Jordan untuk yang kedua kalinya.
Tidak ada yang bisa
dilakukan oleh para pemegang busur, begitu juga dengan Jordan yang tidak mampu
lagi berpikir untuk membuat rencana pelepasan.
Saljupun telah menyentuh
kening Jordan.
“Jordan!!!” seru Earon
ketakutan.
Tiba-tiba.
Salju itu langsung berubah
menjadi biru begitu menyentuhnya. Kedua busur pun menetas sinar keindahan ke
wujud awal pertama mereka dipegang. Busur emas dan perak kini memiliki ketangguhan
seutuhnya, baik dari luar maupun dalam. Perubahan itu menandakan bahwa dua
unsur pembangkit kedua busur telah dihidupkan kembali oleh Earon dan Jordan
sebagai para pemegang busur sejati.
Vurpia begitu terkejut
melihat saljunya telah berubah warna dan tidak berpengaruh pada Jordan. Salju
itu terbang ke udara dan dengan terpaan angin mengarahkannya pada Vuklir yang
masih menindihi Earon. Vuklir yang merasa terganggu dengan pemandangan salju
biru yang melayang di dekatnya, langsung ingin menyingkirkannya dengan lambaian
salah satu tangannya. Begitu salju itu tersentuh oleh tanganya, dia merasakan
rasa sakit di tangannya tersebut.
“Apa-apaan ini!” keluh
Vuklir seraya mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit.
Vurpia, Jordan, dan Earon
masih terus mengamatinya.
Vuklir menghentikan kibasan
tangannya dan sejenak diapun mengamati tangannya yang mulai terasa aneh.
Kemudian dari ujung jari hingga pergelangan tangannya, langsung berubah kembali
ke bentuk tangan manusianya. Vurpia tercengang melihat hal itu. Jika mampu
mengembalikan bagian kecil wujud monster Vuklir, artinya salju seperti itu juga
akan mampu mengembalikan seekor monster budak seutuhnya, pikir Vurpia.
Perhatian Vuklir yang
teralih memberikan kesempatan pada Earon yang merasakan sedikit kelonggarahan pada
tubuhnya. Dia langsung meraih busur emasnya yang tergeletak tidak jauh dari
jangkauan tangannya, lalu langsung memukulkannya pada tubuh Vuklir hingga dia
terpental beberapa meter. Vurpia semakin terkejut dan tumbuh ketakutan dalam
benaknya. Dia tahu bahwa pukulan Earon tidaklah keras, namun busur itu seolah
melipatgandakan kekuatannya. Earon langsung berdiri, mengambil sebuah anak
panah dari wadah yang disandangnya, dan membidikkannya pada Vurpia. Melihat hal
itu, Vurpiapun melepaskan cengkeraman Jordan dan terbang menghindari
bidikannya. Dengan hati yang penuh emosi, Earon melepaskan anak panah cahayanya
tiga kali berturut-turut, tetapi tetap saja tidak mengenai sasaran. Sementara
Jordan yang baru saja berdiri, segera memperingatkan Earon untuk bisa mengendalikan
emosinya.
“Kakak! Kendalikan emosimu
atau kau sendiri akan hancur karenanya!” seru Jordan.
Earon seolah teringat
sesuatu dengan ucapan Jordan tersebut dan langsung menghentikan bidikannya.
Jordan segera mengambil busur peraknya yang terjatuh sekitar dua meter dari
Earon. Sembari melangkahkan kakinya untuk busurnya, dia pun menghampiri
saudaranya.
Keduanya kini yakin bahwa
mereka dapat mengalahkan sumber wabah monster yang menyerang Losapins. Bahkan
bukan hanya Losapins, tapi seluruh dunia. Mereka telah mengetahui tabir
kekuatan kedua busurnya. Mereka juga yakin bahwa tidak hanya sebatas apa yang
mereka lihat, kekuatan kedua busur bisa jauh lebih dahsyat. Keduanya dengan
percaya diri menatap tajam Vurpia yang berdiri mengudara di atas mereka.
“Sekarang, kau tidak mampu
memisahkan kami lagi. Hancurlah dirimu!” gertak Earon.
Vurpia tersenyum sinis
mendengarnya.
“Tidak ada yang mampu
menghancurkanku. Kecuali si sisik bulan. Dan dia sudah menghilang beribu tahun
lamanya. Jadi, kalian jangan terlalu yakin untuk bisa mengalahkanku.”
“Siapa yang dia maksud?”
gumam Earon pada Jordan, “Aku saja masih bingung dengan kekacauan ini dan
sekarang dia menyebut sesuatu yang semakin tidak kumengerti.”
Jordan terdiam seolah
memikirkan sesuatu.
Vurpia kemudian mengeluarkan
kemampuannya. Dia menyemburkan pecahan-pecahan es ke arah Jordan dan Earon.
Jordan langsung mengambil sebuah anak panah cangkir isapnya. Saat ditarik
bersama tali busur, anak panah itu berubah menjadi cahaya biru dengan ujung
pisau yang bersinar. Jordan melepaskan anak panahnya ke arah pecahan es itu dan
terjadi penghancuran berantai.
“Tapi, kalian tidak cukup
cepat,” kata Vurpia yang tiba-tiba sudah berada di belakang Earon.
Tinjuan maut mengarah pada
Earon dan dengan cepat Earonpun menahannya dengan busurnya, hingga terseret
sekitar sepuluh meter. Namun, dia masih sanggup berdiri, walaupun salah satu
lututnya tersentuh tanah.
“Jangan alihkan perhatianmu
dari musuh!” ucap Vuklir.
Jordan sangat terkejut
melihat Vuklir yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia mengeluarkan jurus
angin mematikan ke arah Jordan. Tidak kalah cepat dengannya, Jordan langsung
menghindar dengan kemampuan bela diri yang dia miliki. Kibasan angin tersebut
membelah gedung yang mengenainya.
Pertarungan dimulai. Earon
berhadapan dengan Vurpia, sementara Jordan dengan Vuklir. Mereka semua
menggunakan jurus andalan mereka masing-masing. Vurpia mengalirkan energi untuk
mengendalikan es, angin, dan cahaya peledak. Vuklir mengalirkan energi yang
diberikan dari Vurpia, yaitu angin. Walaupun hanya satu kekuatan, dia begitu
terampil dalam mengendalikannya, bahkan hampir membuat Jordan kewalahan.
Sementara kemampuan yang dimiliki Jordan dan Earon adalah ketangkasan permainan
panah dan busur mereka. Selain kemampuan tersebut, keempatnya juga memiliki
kemampuan bela diri yang luar biasa. Tidak seperti layaknya monster yang
mengandalkan bentuk dan muka yang menyeramkan, Vurpia dan Vuklir termasuk dalam
kategori monster yang begitu cekatan dalam kemampuan bela dirinya.
Dalam pertarungan tersebut, Vurpia
berusaha untuk menjauhkan Earon dari Jordan. Mengetahui gelagat itu, Earonpun
tidak mengambil sikap bodoh. Dia mengikuti alur Vurpia, namun mengarahkannya
untuk dekat ke cahaya tongkat Pridiatick. Dengan demikian, diapun memiliki
peluang untuk bisa membidik sumbernya. Sementara Jordan, dia banyak terkena
pukulan benda yang meluncur ke arahnya. Bahkan terakhir di pertarungan, dia
memegang perutnya dengan kedua lutut yang menopang tubuhnya.
“Kenapa kau ikut dengannya?
Kau bahkan bukan bagian dari masa lalu, Vuklir,” kata Jordan dengan napas yang
terengah-engah.
Vuklir tampaknya juga
kelelahan setelah bertarung dengan Jordan. Napasnya mengembus keras-keras dan
terlihat luka lebam di beberapa titik pada bagian tubuhnya.
“Kalian bersaudara adalah
pengganggu bagi kami. Maka, kami bersaudara adalah pembasmi bagi kalian.”
Jordan terkejut
mendengarnya, namun raut wajahnya masih tenang.
“Kenapa? Kau tidak menyangka
kalau dia adalah kakakku? Banyak yang tidak kau ketahui, Jordan. Kenyataannya,
kau masih tidak tahu apapun.”
Jordan tersenyum sinis.
“Sejujurnya, aku pun tidak
pernah mau tahu semua ini,” kata Jordan.
“Terdengar seperti beban
bagimu,” ucap Vuklir sambil diam-diam menggerakkan sebuah mobil peyok di
belakang Jordan, “Jika kau mau, aku bisa membantumu menghilangkan beban yang
kau tanggung dan kaupun akan hidup bebas.”
Jordan diam, tidak
menyahutnya. Sementara gerak-gerik Vuklir belum disadari oleh Jordan,
pelan-pelan dia mengangkat mobil tersebut dengan kemampuan anginnya.
“Tidak semua orang beruntung
mendapatkan tawaranku ini. Mungkin kau satu-satunya yang beruntung,” lanjut
Vuklir, “Jadi, bagaimana?”
“Kau benar,” jawab Jordan.
Vuklir tersenyum tipis.
“Tapi, tidak,” lanjut
Jordan.
“Kau tidak pernah pandai
memilih!” ujarnya seraya mengayunkan kedua tangannya dengan tegas.
Mengetahui maksud gerakan
tangan tersebut, Jordan langsung menoleh ke belakang, lalu terkejut melihat
sebuah mobil melayang tepat di atasnya dan bergerak hendak mengambrukinya.
Namun sebelum itu terjadi, Jordan segera mengayunkan busurnya untuk membidik
mobil tersebut. Belum sempat anak panahnya diambil, Vuklirpun mencegahnya
dengan menembakkan sebuah batu ke genggaman tangan Jordan yang memegang busur,
hingga busurnya terpental. Rintihan rasa sakit Jordan terdengar sangat lirih,
mobil pun siap membunuhnya. Jordan tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya
melihat mobil itu menurun cepat ke arah mukanya, dan bluummm…. Debu berhamburan
di tempat mobil itu dibenturkan. Suaranya yang sangat keras, meyakinkan Vuklir
bahwa Jordan tidak akan lagi selamat dari tumbukan itu.
“Satu masalah sudah
selesai,” ucap Vuklir senang.
Angin yang bertiup kencang
kala itu, dengan cepat mengusap hamburan debu di sekitar lokasi kejadian.
Tiba-tiba, pandangan Vuklir
terperanjat kaget saat melihat sesuatu masih bergerak mengembang dan mengempis
di sisi mobil yang sudah tak berbentuk itu. Jordan masih hidup dengan posisi
tubuh yang ditopang oleh kedua lengannya. Hal itu membuat nyala api kejengkelan
di hati Vuklir semakin membara. Dia menggeram dan menembakkan begitu banyak
batu ke arah Jordan. Jordan yang merasa tenaganya belum sempat pulih, sementara
berusaha mencari tempat aman dari serangan kegilaan Vuklir tersebut. Batu-batu
itu terus mengenai tubuhnya, hingga membuat dahinya berdarah. Jordan tidak
dapat bergerak lebih jauh lagi, seakan pergerakannya diblokir. Diapun
memutuskan untuk berlindung di balik puing-puing mobil yang baru saja
menghantamnya.
Tembakan Vuklir berhenti.
Napas Jordan masih mengembus keras-keras seraya memulihkan tenaganya.
“Kenapa Jordan? Merasa lemah
tanpa busur yang melindungimu? Atau memang dasarnya, kau manusia lemah!”
Vuklir berjalan mendekati
tempat persembunyian Jordan. Dia berniat mengakhiri pertarungannya di saat
Jordan tak berdaya. Ketika dia sampai di balik mobil dan pandangan hendak melihatnya,
tiba-tiba Jordan langsung menyambar dan merangkul punggung Vuklir, lalu
memukuli wajahnya.
“Kau memang kuat, tapi
sangat lemah di wajah!” ujar Jordan.
Vuklir yang tidak kuasa
dengan perlakuan tersebut, langsung mengayunkan tubuh Jordan, menariknya, lalu
melemparnya.
“Sudah cukup main-mainnya!”
ucap Vuklir menggeram marah.
Jordan melihat kemurkaan
Vuklir yang menjadi-jadi. Dia berpikir dan berusaha mencari cara untuk
menghentikannya. Kemudian, pandangannya melewati busurnya yang tergeletak
sekitar enam meter darinya. Tanpa berpikir panjang lagi, Jordan segera beranjak
dan berlari untuk mengambil busurnya. Mengetahui hal itu, Vuklir segera
mengeluarkan kemampuan anginnya untuk melempar busur itu lebih jauh lagi.
Tangan Jordan tepat meraih busurnya, begitu pula dengan angin keras yang
diembuskan oleh Vuklir, tepat mengenai mereka. Sesaat setelah kaki Jordan
terlepas dari aspal, dia menarik satu anak panah dari wadah, mengarahkannya
pada Vuklir, lalu melepaskannya saat melayang di udara. Vuklir berusaha melindungi
dirinya dari serangan tersebut, dengan mengangkat mobil tadi ke hadapannya.
Cahaya panah Jordan lenyap saat melewati mobil tersebut. Namun, cahaya itu
muncul kembali setelahnya dan mengenai dada Vuklir yang seketika mengubahnya
kembali menjadi wujud manusia. Kekuatan Vuklir lenyap, begitu pun mobilnya yang
tidak lagi dikendalikan oleh kekuatannya, sehingga terjatuh dan langsung
menjatuhi tubuhnya yang berada tepat di bawahnya. Jordan yang melihat itu hanya
bisa merasakan ngeri dan iba.
Tubuh Jordan terlempar
hingga memecahkan kaca jendela dan mendarat di lantai tiga sebuah gedung
perkantoran pinggir jalan. Teriakan histeris menyambut pendaratan Jordan di
ruangan tersebut. Jordan melihat beberapa orang yang ketakutan, berkumpul
memojok di sudut dinding. Tapi, dia tidak begitu menghiraukan mereka. Dia
kembali mengintip keluar dari jendela yang dipecahkannya, untuk memastikan
keadaan Vuklir. Tidak ada sedikitpun pergerakan darinya. Vuklir telah tewas.
Namun, wajah Jordan justru terlihat cemas.
Meninggalnya Vuklir bisa
dirasakan oleh Vurpia yang masih bertarung dengan Earon. Sejenak dia
menghentikan perlawanannya dan merasakan bagian dari kekuatannya yang sudah
lenyap. Sorot matanya menandakan bahwa dia merasakan ketakutan yang lebih dari
sebelumnya.
“Tidak mungkin,” ucapnya
lirih nan cemas.
“Jangan alihkan perhatianmu
dari musuh!” kata Earon terengah-engah, yang sudah siap dengan anak panah
cahayanya.
Sementara Jordan, dia masih
memikirkan kejadian yang baru dialaminya. Dia kemudian ingin mengambil satu anak
panahnya, tapi ternyata wadahnya sudah kosong. Dia berpikir lagi sejenak. Lalu,
langkahnya bergerak di setiap bilik di ruangan kantor tersebut, sambil mencari
sesuatu. Dia menemukan sebuah penggaris yang panjangnya setengah meter, lalu
mengambilnya. Dia berlari kembali mendekati jendela. Penggaris yang dia pegang,
ditarik bersama tali busurnya. Ternyata, dia mengganti anak panahnya dengan
sebuah penggaris. Awalnya dia agak kesulitan dengan penggaris tersebut yang
panjangnya lebih pendek dari anak panah aslinya. Tapi apa boleh buat, dia yang
harus bisa menyesuaikan dengan penggarisnya. Dia memejamkan mata sejenak,
berkonstentrasi, dan berharap penggarisnya dapat berubah menjadi cahaya. Dari
ujung penggaris, cahaya biru dengan pelan merambat. Jordan membuka mata sesaat
setelah cahaya itu muncul. Seiring dengan merambatnya cahaya, ia menarik tali
busurnya sedikit demi sedikit lebih panjang hingga lengan yang membawa busur
lurus sempurna. Dia begitu senang melihat kemampuan busurnya itu. Dan langkah
terakhir adalah pembidikan. Dia dapat melihat cahaya merah yang menjulang ke
langit, dari tempatnya berdiri saat ini. Cahaya itu tidak lain bersumber dari
tongkat Pridiatick. Kini, dia harus fokus pada bidikannya dan bukanlah hal yang
mudah membidik sesuatu dari kejauhan dengan deretan gedung yang menghalanginya.
Tapi, Jordan percaya kali ini dia dapat melakukannya, sekaligus menjadi
percobaan dan memastikan kesimpulan sementara yang sedang dipikirkannya setelah
Vuklir yang menjadi korbannya. Dia mengarahkan ujung anak panahnya ke cahaya
merah yang terlihat, lalu merambat turun dengan lurus, mengikuti sumber cahaya.
Gerakan tangannya berhenti. Jordan menghela napas.
“Tunjukkan lagi padaku!”
ucapnya yang kemudian langsung melepaskan anak panahnya.
Anak panahnya melesat cepat
seperti cahaya petir yang menyambar. Dia menghilang begitu melewati dinding ke
dinding atau seperti kesimpulan yang ada dalam benak Jordan bahwa anak panah
itu menembus benda yang bukan menjadi bidikannya. Jordan tak lagi mampu melihat
cahaya anak panahnya karena terhalangi oleh dinding gedung. Dia hanya berharap
bidikannya tepat dan memberikan efek pada cahaya merah itu.
Earon dan Vurpia masih
melanjutkan perbincangannya.
“Sudah kukatakan, panahmu
tidak akan mempan padaku,” ucap Vurpia, “Tidak ada seorang pun yang mampu
mengalahkanku!”
“Tentu, karena jantungmu ada
pada bunga itu,” sahut Earon dengan anak panah cahayanya yang masih ditahan dan
terlihat pula beberapa luka lebam di tubuhnya.
“Dan tak seorang pun dapat
menyentuhnya,” kata Vurpia.
Tiba-tiba, mereka dikagetkan
oleh kilatan cahaya yang menyambar bunga Pridiatick yang tidak jauh dari
keberadaan mereka.
Jordan dapat merasakan anak
panahnya mengenai sasaran. Terlebih, tampak cahaya biru yang bersinar di dasar
tiang cahaya merah itu. Jordan begitu senang, tetapi juga bingung.
Kebingungannya timbul karena cahaya biru itu terus bersinar, sementara tidak
terlihat adanya keretakan pada tiang cahaya merah. Untuk memastikan yang
sebenarnya terjadi, dia segera pergi berlari untuk mendekati lokasi kejadian,
sekaligus untuk memberitahu Earon tentang kekuatan busurnya.
Keadaan bersama Wergon,
Filhener, dan Lytro.
Sesuai dengan pembagian
tugas, ketiganya masih menyelamatkan para korban. Begitu banyak monster yang
sudah mereka halangi, sebelum melukai para korbannya. Mereka kini masih
dihadapkan pada seekor monster yang masuk pada salah satu rumah penduduk.
Terlihat Filhener sedang menggiring sebuah keluarga yang terdiri dari pria dan
wanita dewasa, serta tiga remaja dengan dua putra dan satu putri, keluar rumah.
Sementara Wergon dan Lytro mencoba mengalihkan perhatian monster itu.
“Cepat keluarkan jurus
stroke-mu!” seru Wergon yang hampir kewalahan menangani keliaran monster itu,
dengan keahlian tongkatnya.
Sambil berusaha meraih titik
patukan, Lytro menjawab, “Aku tidak bisa jika taktik gerakanmu seperti ini!”
“Kau pikir, aku yang
mengerakkannya!”
“Berhenti bicara dan berikan
aku peluang untuk bisa meraihnya!”
Wergon melakukannya lebih
giat, hingga Lytropun berhasil mematuk beberapa titik di bagian tubuh monster
tersebut yang kemudian langsung terjatuh lemas dan tidak mampu bergerak.
Lytro dan Wergon menghela
napas panjang, sambil menatapi monster yang terbaring tak berdaya.
“Ini yang paling sulit yang
pernah kita temui,” keluh Wergon.
“Pastinya, yang paling jahat
yang pernah kita temui,” sahut Lytro.
Tiba-tiba, terdengar suara
jeritan dari luar rumah. Lytro diikuti Wergon seketika berlari meninggalkan
monster itu, untuk melihat situasi yang sedang terjadi. Sesampainya di tempat,
Wergon dan Lytro begitu terkejut melihat seekor monster sedang menghadang
keluarga yang baru saja ditolongnya.
“Dia berubah menjadi
monster!” jerit si pria dewasa.
Lytro dan Wergon mengerutkan
keningnya mendengar hal itu.
Filhener tidak lagi bersama
mereka dan monster itu mengenakan baju robek-robek yang motifnya sama dengan
yang dipakai Filhener. Mata Lytro dan Wergon terperanjat kaget menyadarinya.
“Filhener?” ucap Wergon.
Monster itu menjerit dengan
suara aumannya yang menggelegar.
Earon menyadari bahwa
kilatan cahaya biru itu tidak lain berasal dari anak panah Jordan. Tetapi, anak
panah cahaya itu tidak dapat langsung menyentuh bunga Pridiatick. Cahaya anak
panah Jordan yang masih bersinar dihalangi oleh sesuatu yang kasat mata. Sebuah
perisai yang memang digunakan untuk melindungi bunga Pridiatick dari bidikan
para pemegang busur.
Tanpa berpikir panjang,
Earon segera mengalihkan bidikannya pada perisai bunga Pridiatick, sebelum
cahaya anak panah Jordan lenyap. Namun sebelum Earon melepaskan anak panahnya,
Vurpia segera mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menghalagi Earon.
Pertarungan kembali dimulai. Kali ini, serangan Vurpia lebih brutal dari
sebelumnya, sampai-sampai Earon hampir kewalahan menghadapinya. Dan di saat
titik fokus Earon tidak stabil dengan serangan tersebut, Vurpia segera
mengibaskan salah satu tangannya hingga mengeluarkan angin mematikan, yang
mengarah padanya. Tanah yang dilewati angin mematikan tersebut seakan terbelah
dengan bekasnya yang cukup dalam. Earon menoleh dan hanya bisa melihat angin
tersebut sudah begitu dekat dengannya. Apapun yang dia lakukan pasti tidak akan
cukup cepat untuk menghentikan serangan angin itu.
Namun tiba-tiba, angin itu
lenyap begitu ada cahaya biru yang terkibas bersamanya. Jordan telah berdiri di
hadapan Earon. Dia kembali muncul untuk ikut campur dalam pertempuran itu.
Suara geram dengan wajah
murka menghiasi keadaan Vurpia ketika melihat para pemegang busur kembali
bersatu. Vurpia menyambut Jordan dengan tatapan mata yang mengerikan, seolah
menjadikan Jordan sebagai bidikan utamanya. Dari balik tatapan mata Vurpia
tersebut, Jordan dapat melihat antara ketakutan dan harapan yang tersembunyi.
Namun, dia belum dapat memastikan semua itu. Memastikan keinginan Vurpia yang
sesungguhnya.
“Apa yang sebenarnya kau
inginkan?” tanya Jordan.
Daripada ketidakpastian itu
menjadi misterius baginya, lebih baik langsung ditanyakan, pikir Jordan
sebelumnya.
Sambil berdiri membelakangi
tegaknya sinar Pridiatick, Vurpia terdiam, tidak menghiraukan pertanyaan sama
yang dikeluarkan Jordan kedua kalinya tersebut, dengan tatapan mata yang masih
menyorotinya. Diapun kembali melawan para pemegang busur. Lagi-lagi,
pertarungan dimulai.
Situasi Filhener saat ini.
Wergon dan Lytro kebingungan
menghadapi si monster Filhener. Tidak seperti monster yang lain, monster
Filhener terlihat sedikit menonjol sisi kemanusiaannya.
“Bagaimana bisa kau berubah
seperti ini?!” ucap Lytro yang justru marah pada Filhener.
Filhener menjawabnya dengan
suara auman-auman yang tidak dimengerti oleh seorang pun.
“Apa yang kau katakan?”
sahut Wergon, “Kau terdengar seperti sedang menggerutu.”
Filhener tidak sanggup harus
menggunakan bahasa apa yang dapat dipahami oleh mereka. Diapun menangis karena
kekesalannya itu. Wergon dan Lytro yang melihat tangisan monster Filhener yang
menjadi-jadi, hanya bisa saling bertatap muka bingung.
Tidak lama kemudian, muncul
seekor monster lain. Semua pandangan tertuju pada monster itu, begitu juga
dengan Filhener yang seketika menghentikan tangisannya. Begitu melihat lawannya
datang, pupil mata Filhener langsung memipih dan kehilangan kesadarannya. Dia
dengan pelan membalikkan tubuh dan mengincar lawannya itu, seperti harimau yang
hendak menangkap mangsanya.
“Oh, tidak,” ucap Wergon
cemas menyadari gelagat Filhener tersebut.
“Lytro, cepat berikan jurus
stroke-mu!” pinta Wergon segera.
Belum sempat tangan Lytro
meraih tubuhnya, Filhener langsung melompat, berlari, dan menerkam lawannya
itu.
Lytro dan Wergon tidak tahu
apa yang harus dilakukan. Mereka begitu takut dan bingung. Kejadian perkelahian
para monster yang pernah mereka hadapi sebelumnya, biasanya mereka meninggalkan
dan membiarkannya begitu saja. Mereka tidak mau ikut terlibat, karena mereka
tahu para monster jauh lebih kuat dan ganas jika sedang menghadapi lawannya.
Namun, kali ini berbeda. Mereka tidak mungkin meninggalkan temannya. Terlebih,
melihat si monster Filhener yang terus saja terjatuh karena serangan dari
lawannya itu.
“Kenapa dia jadi selemah
itu?!” kata Wergon cemas.
“Dia bukanlah tipe monster
yang kuat. Mungkin kuat saat manusia. Tapi kali ini, dia bisa jadi adalah
monster paling lemah,” jelas Lytro.
“Tidak mungkin. Dia manusia
paling jahat yang pernah kutemui,” ujar Wergon, “Filhener! Kalahkan dia!
Keluarkan seluruh kemampuanmu!”
Mereka berdua hanya masih
bisa menonton perkelahian itu.
Keadaan Filhener semakin
memburuk. Dia terus saja dihantami pukulan-pukulan mematikan dari lawannya. Dia
bahkan hampir tak sanggup berdiri. Melihat kejadian itu, Wergon bergegas
berlari untuk menolongnya. Dia melindungi Filhener dengan menggunakan keahlian
tongkatnya untuk menghalangi segala macam serangan dari monster itu. Tidak mau
ketinggalan, Lytro segera menyusul aksi heroik kawannya. Mereka berdua bekerja
sama untuk dapat menghentikan keganasan monster. Tapi yang terjadi, keduanya
justru ikut terhempas ke tanah. Filhener mengaum keras melihat hal itu, sebagai
tanda kemurkaannya yang tidak menerima jika kedua sahabatnya diberlakukan
seperti itu. Dia bangkit kembali dan melawan monster itu lebih garang dari
sebelumnya.
Perkelahian di area cahaya Pridiatick.
Earon terus berusaha
membidikkan anak panahnya ke perisai bunga Pridiatick, sementara Jordan
mengalihkan perhatian Vurpia. Tapi, sekalipun kekuatan Earon digabung dengan
Jordan, tetap saja mereka keteteran menghadapi Vurpia yang benar-benar sangat
kuat. Cahaya anak panah yang dilepaskan dari Jordan semakin melemah, sementara
anak panah Earon hanya tinggal sedikit. Hingga di penghujung pertarungan itu,
Vurpia berhasil mendapatkan Jordan. Dia menjadi tawanannya untuk mencegah Earon
melepaskan anak panahnya yang terakhir.
“Sedikit saja ada gerakan,
aku akan meledakkannya!” gertak Vurpia dengan tangan kiri yang mencekam leher
Jordan hingga kakinya tidak menyentuh tanah dan jari telunjuk kanannya yang
menodong kepala Jordan.
Earon begitu terkejut melihat
adiknya muncul dalam dekapan Vurpia, di hadapan bidikannya yang sudah tepat.
“Lakukan saja, Kakak!” pinta
Jordan dengan suara parau.
Cekaman tangan Vurpia
semakin erat, membuat Jordan semakin kesulitan bernapas dan berkata. Sementara
itu, tangan Earon mulai gemetar.
“Kau akan menyesal kalau
melakukannya, Earon!” ucap Vurpia menggeram, “Adikmu bukan hanya akan mati
karena tembakanku, tapi juga akan hancur karena bidikanmu!”
Dalam napasnya yang sempit,
Jordan berusaha mengeluarkan suaranya untuk memaksa Earon segera melepaskan
anak panahnya.
“Lepaskan anak panahnya!
Semua akan baik-baik saja,” katanya.
Earon menatap mata Jordan
yang telah berlinang air mata. Tetesan air mata yang penuh harapan dengan
mengandalkan kesempatan tersebut hanya pada Earon. Diapun tidak sanggup melihat
tangisan harapan itu. Lalu, dia menundukkan pandangannya sejenak dengan
genggaman busur dan anak panah yang masih dalam keadaan siaga. Pikirannya penuh
dengan dilema. Anak panah terakhirnya hanya tinggal dilepaskan dan semua akan berakhir.
Namun di sisi lain, ada Jordan yang akan menjadi tumbalnya. Earon kembali
mengangkat pandangannya. Dia pun melihat cahaya anak panah Jordan yang sudah
menipis. Itu membuatnya semakin bingung.
“Turunkan busurmu sekarang!”
bentak Vurpia yang memperkencang cekamannya pada Jordan hingga terdengar
geraman kesakitan, “Cepat!”
Earon tidak kuasa melihat
Jordan menanggung rasa sakit itu lagi. Diapun menuruti permintaan Vurpia, lalu
mulai menurunkan busurnya. Jordan melihat kecemasan di mata Earon dan mencoba
mengatakan kata-kata terakhirnya yang barangkali dapat menghilangkan keraguan
dalam benak Earon.
“Hei, tidak apa-apa.
Tetaplah fokus dan percayalah! Aku percaya padamu, Kak Volan,” ucap Jordan
lembut dengan senyuman kecil.
Earon seketika tersentak
mendengar ucapan Jordan tersebut. Tangannya yang memegang busur mengepal kuat
dan diangkatnya kembali busur itu. Raut wajahnya kini penuh dengan keyakinan
dan wuuussshhhhh…. Tanpa kedipan mata, anak panah Earon langsung melesat cepat,
tepat menembus jantung Jordan dan Vurpia. Namun, tidak terjadi apapun pada
keduanya. Anak panah bercahaya merah itu langsung mengenai sasaran pada perisai
Pridiatick. Perisai itu kemudian hancur, hingga mengagetkan Vurpia
sampai-sampai melepaskan cengkeraman leher Jordan. Dia berbalik ke arah bunga
Pridiatick, merasa takut dan berharap apa yang dilihatnya tidak memperburuk
keadaan, sementara cahaya biru yang tinggal setebal jarum telah masuk ke bunga
Pridiatick.
Detik demi detik dalam
penantian, ketiganya terdiam tegang. Tidak terlihat adanya reaksi apapun
terhadap bunga itu. Mungkinkah karena kekuatan cahayanya sudah melemah, pikir
si bersaudara. Vurpia merasa kalau harapannya masih bisa berdiri. Dia bernapas
lega dan tersenyum sinis kepada bersaudara.
“Sudah kubilang, tak seorang
pun dapat….”
Tiba-tiba, terdengar suara
guntur disertai petir yang menjulang ke langit bersama dengan tiang cahaya
Pridiatick. Cahaya biru bersinar terang pada titik kepala sari Pridiatick yang
tertembus. Cahaya itu semakin terang dan muncul gumpalan kilauan cairan biru
bola raksasa yang mengitari kehancuran kekuatan jahat tongkat, dengan butiran
cahaya menghiasi sekeliling gumpalan tersebut. Begitu terangnya sampai-sampai
Jordan dan Earon menutup mata sambil melebarkan kedua telapak tangan di depan
mukanya. Lalu tahap akhir, tiang cahaya merah memudar disertai butiran cahaya
biru yang membentuk cincin dan kemudian melebar hingga sinarnya melewati
seluruh daerah kegelapan. Begitu cahaya itu melewati setiap monster, mereka
berubah kembali ke wujud manusia.
“Filhener!” seru Wergon
riang seraya berlari hendak memeluknya ketika telah berubah menjadi manusia.
Dengan cepat, Filhenerpun
menyangkal.
“Jangan sentuh aku! Apa
harus selalu ada pelukan setiap kau merasa senang,” katanya, “Egh! Tubuhku
rasanya sakit semua.”
Filhener tidak sanggup untuk
berdiri sendiri, sementara Wergon dan Lytro masih diam mengamatinya.
“Baiklah, kutarik ucapanku.
Bantu aku berdiri!” ujar Filhener.
Wergon dan Lytropun membantu
menuntun Filhener berdiri dan berjalan.
“Apa kau baik-baik saja?”
tanya Wergon dalam langkahnya.
“Ya. Sepertinya, semua
tampak jauh lebih baik. Mereka berhasil melakukannya,” jawab Filhener dengan
langkah yang tersendat-sendat.
“Kita harus segera menemui
Jordan dan Earon. Tempatnya tidak jauh lagi,” sahut Lytro.
Sementara kondisi Vurpia
sudah tidak berdaya. Kekuatan utamanya telah kembali murni. Walaupun masih ada
sisa kekuatan yang ada dalam dirinya, dia sudah tidak mampu lagi
mengeluarkannya. Earon melangkahkan kakinya mendekati Vurpia. Dia begitu pula
dengan Jordan, merasa heran dengan wujud Vurpia yang masih dalam bentuk
monster. Bahkan, tidak ada sedikit pun adanya perubahan dalam bentuknya. Apakah
memang karena wujud aslinya seperti itu, pikir Earon. Melihat ketidakberdayaan
Vurpia, timbul belas kasihan pada diri Jordan. Dia mendekati Vurpia dan mencoba
menemukan sesuatu yang barangkali dapat membantunya. Namun, langkahnya
dihentikan oleh rangkulan tangan Earon.
“Memang sudah sepantasnya
dia seperti itu. Monster tetaplah monster. Dia tidak akan kembali pada wujud
yang lebih baik. Sekarang lihatlah dirimu sendiri! Kau hanyalah seekor monster
yang lemah! Begitu rendahnya dirimu!” kata Earon yang masih menyimpan
kemarahannya.
“Hentikan, Kak! Jangan
mengatakan hal seperti itu!” ujar Jordan.
“Kenapa tidak? Itu layak
untuknya. Apa kau sudah lupa? Dia yang membunuh orang tua kita. Dia juga yang
telah mengadu domba kita. Dia yang membuat semua kekacauan ini.”
“Mungkin Kakak juga perlu
bercermin untuk semua itu,” sahut Jordan tenang, “Apakah terlihat dendam di
mataku padamu, Kak Volan?”
Earon terdiam menatap mata
ketulusan Jordan.
Jordan menghelas napas
sambil memalingkan tatapannya, lalu berkata, “Aku tidak mau membahas itu lagi.
Aku bahkan ingin melupakannya. Jika kita ingin memperbaiki diri kita
masing-masing, kenapa tidak kita mulai dengan saling memaafkan.”
Earon merenungkan kembali
ucapan Jordan.
“Jika saja kalian bisa
membunuhku, aku rela mati di tangan kalian sebagai hukuman atas semua yang
kulakukan,” kata Vurpia.
“Tentu saja!” sahut Earon,
“Jika saja anak panahku masih ada, pasti kau sudah kubunuh! Tapi…. Aku
memaafkanmu. Aku memaafkanmu atas semua yang telah kau lakukan pada kami.”
Mendengar ucapan tersebut,
Jordan menatap senang dan bangga terhadap kakaknya.
“Jangan menatapku seperti
itu! Aku melakukannya karena kau memaksaku,” lanjut Earon.
Jordan membalasnya dengan
senyuman lebar.
“Apa yang bisa kami lakukan
untuk mengembalikanmu?” tanya Jordan.
Vurpia mengangkat mukanya
pada Jordan dalam ekspresi wajahnya yang diam dan penuh keputusasaan.
“Tidak ada. Aku tidak bisa diselamatkan
oleh siapa pun. Aku akan abadi bersama beban penderitaan ini. Kupikir, dengan
kekuatan dan kehidupan yang abadi akan membawaku pada kepuasan atas pembalasan
dari siksaan yang dahulu pernah kurasakan. Namun ternyata, aku justru lebih
menderita dan sendirian. Orang-orang yang kusayang, mereka semua telah pergi
meninggalkanku.”
Jordan dan Earon merasa iba
mendengarnya.
“Untuk mendapatkan kekuatan
ini, aku telah mencuri berlian ruby dari seekor naga. Dialah yang kusebut si
sisik bulan. Penjaga para berlian.”
Jordan dan Earon sangat
terkejut mendengarnya.
“Hanya naga itulah yang
mampu mengembalikanku. Tapi, dia sudah tidak hidup lagi saat ini.”
“Kau telah dikutuk?” ucap
Earon dengan pelan.
“Ya. Intinya, aku hanya
butuh permintaan maaf dari naga itu karena telah mencuri barang berharganya.
Tapi, semua sudah terlambat.”
Earon hanya bisa terdiam.
Apa yang kini bisa dilakukannya jika keadaan yang memang sudah mengutuknya,
pikirnya. Sementara Jordan, pandangannya ke bawah seolah sedang memikirkan
sesuatu.
“Maafkan aku karena tidak
bisa menyelamatkan adikmu,” kata Jordan seraya mengangkat kembali mukanya.
Earon dan Vurpia terperangah
mendengar ucapan Jordan tersebut.
“Maksudmu, monster yang
menindihku adalah adiknya?” tanya Earon.
Jordan menganggukkan kepala.
“Kekuatannya lenyap ketika
aku memanahnya. Jika saja mobil itu tidak mengambruki tubuhnya, mungkin dia
masih bisa hidup.”
Vurpia membuka mata
lebar-lebar pada Jordan. Namun, bukan tatapan kemarahan karena adiknya
terbunuh, melainkan sebuah tatapan harapan.
“Ya. Kurasa, sesuatu yang
lain yang ada dalam diriku juga telah memaafkanmu. Franken Wirthan,” lanjut
Jordan.
Vurpia semakin kaget ketika
Jordan menyebut nama itu. Dia hanya bisa diam dan mencoba memahami
keterkejutannya itu.
“Tapi, aku tidak mengerti dengan
semua perasaan ini. Aku melihat masa lalumu dari matamu, saat kau mencoba
mengubahku menjadi monster. Terkadang, tanda-tanda itu….”
Jordan seketika berhenti
berucap ketika Vurpia berdiri sambil menganjurkan busur perak di hadapannya.
“Cobalah lagi!” pinta
Vurpia.
Jordan mengambil busurnya,
tapi dia masih tidak mengerti dengan maksud permintaan Vurpia tersebut.
“Gunakan busurmu untuk
memastikan semua keraguan ini!” kata Vurpia, “Tidak masalah jika aku yang
menjadi bidikannya. Aku tidak akan mati karenanya, aku pun akan tenang jika itu
berhasil padaku.”
“Tapi, bagaimana caranya?
Aku tidak punya anak panah untuk melakukannya.”
“Mungkin kau cukup
memukulkan busurmu dengan sangat keras ke wajahnya, Jordan,” sahut Earon yang
masih terbawa kesal, “Itu jelas berhasil padanya.”
Jordan terdiam dan berpikir
sejenak.
Tidak lama kemudian,
busurnya dia angkat. Suara gerincing dari lonceng kecilnya, seolah menjadi
pertanda akan muncul sebuah kejutan yang tidak pernah dibayangkan sebagai hasil
dari pemikirannya. Jari-jari tangan kanan Jordan direntangkan di dekat pegangan
busur, yang kemudian jari-jarinya menguncup seakan-akan menarik sebuah anak
panah yang kasat mata. Cahaya biru bersinar dari ujung, merambat mengikuti
tarikan tangan Jordan hingga membentuk anak panah sempurna. Earon yang
melihatnya hanya bisa terkagum-kagum, bagaimana dia dapat melakukan hal itu.
Sementara Vurpia tersenyum yakin dengan yang ada dalam benaknya saat ini.
Vurpia mundur lima langkah
kecil menjauhi Jordan, lalu berkata, “Lakukanlah!”
Jordan memejamkan matanya,
konsentrasi dengan apa yang seharusnya menjadi bidikannya. Lalu, muncul sebuah
lambang cahaya lingkar besar dengan tiga jenis lambang di dalamnya, yaitu
cinta, kepercayaan, dan keberanian. Lambang cahaya melingkar itu muncul dari ujung
mata anak panah sebagai pusatnya, yang berputar berlawanan dengan arah jarum
jam, dan cahayanya merambat ke belakang. Jordan membuka mata secara perlahan.
Earon dan Vurpia dikejutkan dengan penampilan Jordan yang berbeda. Begitu
lambang cahaya itu melewati tubuh Jordan, warna retina matanya berubah menjadi
biru dengan pupil berbentuk celah vertikal, seperti mata naga.
“Jordan,” ucap Earon lirih
dalam kekagumannya.
Setelah melewati tubuh
Jordan, cahaya lambang itu menyatu dan berubah menjadi bentuk naga yang
samar-samar. Lalu, berlian yang dijaga oleh naga itu, masing-masing muncul dari
tempat persembunyiannya. Berlian ruby muncul dari tongkat Pridiatick, berlian
emas muncul dari busur emas, dan berlian perak muncuk dari busur perak. Ketiga
berlian itu melayang di dekat cahaya naga, di belakang Jordan.
“Betapa beruntungnya diriku
bahwa kau memiliki bagian dari sang penjaga berlian,” kata Vurpia, “Sekarang
aku tidak perlu takut lagi.”
Cahaya naga dan ketiga
berlian bersatu ke dalam anak panah Jordan, yang kemudian cahayanya berubah
menjadi warna hijau. Anak panah siap dilepaskan. Vurpia perlahan memejamkan
kedua mata dengan senyum kedamaian.
“Terima kasih,” kata Vurpia
mendesis.
Sesaat setelah Vurpia
mengucapkan kata itu, anak panahpun melesat. Vurpia hanya bisa melihat
cahayanya yang semakin terang dari balik pelupuk matanya.
Udara di kota Losapins mulai
berubah. Kesegaran dari harapan baru dapat dirasakan oleh orang-orang di setiap
embusan napasnya. Cahaya langit sore yang menembus celah-celah awan kegelapan
yang perlahan memudar, menyoroti daerah Losapins yang ingin memulai kembali
langkah awal harapan baru itu.
No comments:
Post a Comment