CHAPTER 1: MISI PENCURIAN BENDA PENINGGALAN

Abad masa kini.

Seekor burung merpati betina berbulu putih dengan warna coklat pada bagian dadanya, terbang di atas keramaian kota Losapins, melewati jalan raya yang selalu padat menjelang matahari terbenam, melihat seorang karyawati yang bergegas pulang yang tampak dari kaca jendela gedung kantornya di lantai dua, menelusuri sungai Chivori yang memiliki lebar sekitar seratus meter dengan ketinggian sepuluh meter dari daratan kota, dengan keindahan taman di sepanjang pinggiran sungai yang membagi kota tersebut. Taman yang penuh dengan rerumputan segar dan pohon-pohon berjejeran, baik bagian tepi sungai maupun bagian atas yang membatasi ketinggiannya. Burung itu terbang mendekati permukaan air sungai, tampak berbagai jenis ikan air tawar yang hidup di sana, beberapa bangau yang sedang asyik berenang sambil mengawasi ikan yang menjadi incaran mangsanya, serta menikmati kilauan cahaya matahari dari pantulan air sungai yang tenang.

Di sanalah terlihat seorang pemuda yang memakai baju berlengan pendek, bercelana panjang yang ditekuk hingga ke lututnya, dan sarung tangan hitamnya menutupi punggung tangan hingga seluruh lengannya yang ikatannya terselubung pada telapak tangannya. Dia sedang duduk di ujung jembatan kayu dengan mengayun-ayunkan kedua kakinya hingga menyentuh air, menikmati ketenangan suasana sungai Chivori di sore hari. Tampak sebuah busur tua ia letakkan di atas jaket samping kirinya dan beberapa anak panah di dalam wadah anak panahnya yang ia gendong. Merpati itu menghampirinya saat ia membuka genggaman tangan kanannya yang berisi beberapa butir jagung.

“Kenapa kau lama sekali, Faisr?” kata pemuda itu ketika merpatinya hendak bertengger di tangannya.

Saat kakinya sudah bertengger di ujung jari-jarinya, burung itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda permintaan maaf, lalu melanjutkan santapan lezat biji-biji jagungnya. Pemuda itu tersenyum melihat tingkah merpatinya tersebut.

Sesaat setelah itu, terlihat dua pemuda lain berjalan menuruni tangga yang mengarah lurus menuju jembatan kayu. Salah satu dari dua pemuda tersebut memegang sebuah boneka beruang coklat bercungur putih dengan pita kuning bentuk kupu-kupu di lehernya.

“Jangan khawatir! Kita hampir sampai, Kritty,” katanya sambil menggerak-gerakkan bonekanya seakan menjadikannya tampak hidup.

Mereka berdua melihat pemuda itu terlihat bahagia bermain-main dengan burungnya di atas jembatan kayu.

“Kau tahu, Filhener. Kadang terlintas di pikiranku betapa gilanya Jordan berbicara, bahkan tertawa sendiri bersama burungnya.”

“Setidaknya, dia tidak berbicara dengan boneka yang dianggap hewan peliharaannya.”

“Maksudmu?” gerutu Wergon.

“Menurutmu?”

“Jelas, yang kau maksud itu bukan aku. Karena aku menganggap Kritty seperti kekasihku.”

Filhener mengembuskan napas sambil sedikit mengeluarkan suara embusannya.

“Kurasa, satu-satunya orang normal di antara kita bertiga hanyalah aku.”

“Hai, Jordan!” teriak Wergon saat dia sampai di pangkal jembatan, sambil melambaikan tangannya.

Jordan dengan burungnya yang masih bertengger di tangannya, menoleh ke belakang, lalu tersenyum senang melihat kedatangan dua teman baiknya.

“Ada apa kalian kemari?” tanya Jordan.

“Seperti dirimu, mencari ketenangan jiwa,” jawab Wergon, “Ini aneh. Mereka membuat dan menjaga tempat ini, tapi tak satu pun dari mereka yang mengunjunginya.”

“Jordan, kau tidak jaga toko?” sela Filhener.

“Tidak ada jatah jaga untuk hari ini. Jadwalku lusa.”

“Itu berarti tiga hari kau tidak kejatahan. Apa mereka sudah melupakanmu?”

Jordan tersenyum lebar pada Filhener.

“Kurasa karena ada seorang pegawai baru, jadi jadwalku pun berubah. Tapi setidaknya, gajiku tetap.”

“Kalau begitu, jangan sampai lupa tugas kita besok malam.”

“Aku siap untuk besok, Kawan!” sahut Wergon seraya merangkulkan tangannya di pundak Filhener.

Mata Filhener langsung terlihat tak enak.

Di tengah keramaian suara kota, mereka bertiga mengobrol sambil duduk menikmati pemandangan sungai Chivori dengan pantulan cahaya matahari dari balik awan putih yang bergelombang, melemparkan sesuatu ke dalam air, seperti memberi makan ikan-ikan yang ada di sana.

Keesokan harinya, langit tampak begitu cerah, tak terlihat awan sejauh mata memandang, hanya kilauan cahaya surya yang membuat mata langsung remang-remang setelah melihatnya.

Losapins memiliki sebuah universitas besar yang berdiri di tengah kota. Bangunannya didesain menyerupai istana zaman kuno yang megah, berlantai lima, terdapat sebuah menara jam besar yang berdiri di atas bangunan tersebut dan menghadap gerbang masuk, serta beberapa menara kecil lainnya, memiliki taman yang luas dan sejuk dengan beberapa pohon berdaun merah dan hijau, serta warna-warni bunga yang menghias batu besar yang bertulis “LOSAPINS UNIVERSITY”. Di sanalah Jordan dan kedua sahabatnya belajar. Mereka mengambil jurusan yang sama, yaitu Matematika.

Saat itu merupakan jam mata kuliah Persamaan Diferensial dengan bapak dosen pengampu yang selalu menggunakan metode pembelajaran “mencatat” pada setiap jam mata kuliahnya, sehingga membuat situasi kelas terasa membosankan. Di dalam ruang kelasnya, mereka bertiga selalu duduk di barisan paling depan, sibuk mencatat saat dosennya menulis ringkasannya di papan tulis. Sementara yang lainnya, hanya diam seakan memperhatikan saat dosen mengarahkan pandangannya pada mereka. Tapi jika sudah berbalik lagi pada papan tulis hitamnya, mereka kembali melakukan sesuatu untuk menghilangkan kebosanan, seperti menggambar, berbicara antar teman dengan suara yang lirih, bahkan ada pula mahasiswa yang suka menjahili Jordan dan kedua temannya dengan menembakkan gulungan kertas kecil yang ditiup dengan sedotan.

Jam belajar hari itu pun telah usai. Jordan, Filhener, dan Wergon berjalan di taman kampus. Namun di tengah penyegaran otak tersebut, mereka melihat geng Migvor berjalan di tengah kerumunan anak yang sedang menikmati suasana taman. Geng Migvor merupakan geng yang paling ditakuti di Universitas Losapins. Saat mereka berjalan melewati anak-anak yang ada di sana, semua langsung menyingkir seakan melihat kobaran api yang memiliki dua kaki. Jika mereka tidak menyingkir, maka mereka akan terkena semburan apinya. Namun bagi tiga serangkai, geng Migvor bukanlah siapa-siapa yang perlu ditakuti. Mereka tidak takut pada semburan api yang akan mereka dapatkan jika tidak menjauh dari jalannya.

Akhirnya, ketua geng tersebut yang bernama Migo Danyiman, beserta empat teman laki-lakinya berdiri di hadapan tiga serangkai. Dia mengorek hidungnya dengan jari kelingkingnya, lalu mengusapkannya di pundak baju Jordan. Jordan hanya bisa diam melihat kotoran hidungnya menempel di bajunya. Wajahnya pun menampakan sedikit kejijikannya.

“Kenapa kalian menghalangi jalanku?” tanya Migo dengan lagaknya.

“Kau yang menghalangi jalan kami,” jawab Filhener tenang.

Migo tersenyum licik.

“Kalian pikir siapa diri kalian? Kalian hanyalah tiga orang aneh yang secara kebetulan diterima di sini. Yang satu orang aneh pembawa busur, yang satunya lagi anak cengeng yang memohon pada bonekanya.”

“Dan kau, orang aneh yang bicara sendiri pada mobilnya,” lanjut Migo sambil menatap tajam Filhener.

“Hei, bisakah kau beritahu kami arti dari brmm brmm brmm brmmmmmmmm? hahahaha…,” ejek salah seorang teman Migo yang berdiri di sisi kanannya, sekaligus semua anggota geng Migvor ikut menertawakannya.

Tiga serangkai merasa sangat terhina atas semua ucapan Migo dan teman-temannya tersebut. Namun, mereka pun berusaha untuk menahan amarahnya.

“Kalian ingin tahu artinya? Artinya adalah kau menghalangi jalan kami,” jawab Filhener.

Migo mulai marah dibuatnya. Dia meremas kerah baju Filhener. Namun, wajah Filhener masih tampak tenang. Jordan mencoba menghentikan perbuatan Migo, tapi Migo justru menyerangnya. Dia membenturkan tubuhnya ke batang pohon dan mencekam lehernya dengan lengannya. Filhener dan Wergon mencoba menghentikan Migo, tapi mereka dihalangi oleh empat temannya yang juga menjatuhkan mereka berdua.

Saat itu pun suasana mulai tegang. Semua mahasiswa yang melihatnya langsung mengerumuni panggung pertunjukan, menikmatinya seakan patut menjadi hiburan bagi mereka.

“Jika kau tidak ingin punya masalah denganku, maka jangan mencampuri urusanku!”

Jordan hampir tidak bisa mendengar yang diucapkan Migo padanya. Dia hanya berusaha melepaskan tangan kanan Migo yang membuatnya tak bisa bernapas.

“Jika suatu saat kau ikut campur lagi urusanku, maka kau akan kehilangan segalanya, Orang aneh pembawa busur!”

Tiba-tiba saja, mata Jordan terperanjat dengan pupil membesar yang tampak di kedua matanya. Dia menarik tangan Migo dengan sangat kuat. Migo merasa gemetar di sekujur tangan kanannya yang mulai sedikit terangkat. Dia berusaha menahannya, tapi tarikan jari-jari Jordan lebih kuat. Karena tak ingin menanggung malu di hadapan semua orang, maka dia pun segera melepaskan tangannya. Jordan terjatuh dengan posisi dadanya menghadap ke bawah, namun tangan kirinya masih menyangga tubuhnya, sementara tangan kanannya memegang lehernya yang terasa sakit, napasnya mengembus keras-keras hingga terbatuk-batuk. Migo menatap ketidakberdayaan Jordan, lalu pergi dari hadapan mereka, diikuti oleh anggota geng lainnya. Mereka yang menonton pertunjukan pun segera membubarkan diri.

Filhener dan Wergon segera mendekati dan membantu Jordan untuk berdiri.

“Kau melakukannya, Jordan,” ucap Wergon seraya memegang tangan kiri Jordan.

“Apa maksudmu?” tanya Jordan berdiri lemas.

“Mungkin mereka semua berpikir bahwa yang dilakukan Migo tadi seakan dia menaruh belas kasihan padamu. Tapi, kami berdua melihatnya. Bahkan, jika Migo memaksakan dirinya untuk melawanmu, mungkin kau pun bisa mematahkan lengannya.”

“Apa yang terjadi, Jordan? Apa yang membuatmu melakukannya?” tanya Filhener cemas.

“Entahlah. Hanya saja, ucapan terakhir yang dia katakan padaku, seakan pernah kudengar sebelumnya. Ancaman yang mengawali segalanya.”

“Kami tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Mengawali segalanya dalam hal apa?”

Jordan sudah merasa lebih baik. Filhener dan Wergon melepaskan pegangan tangannya.

“Sudah, lupakan saja! Ayo, kita pulang!” ajak Jordan.

Sejenak Wergon dan Filhener saling bertatapan muka, lalu berjalan menyusul Jordan yang telah mendahului mereka. Wergon langsung merangkul Jordan saat mereka mencapainya. Mereka bertiga berjalan menjauhi tempat perkelahiannya. Dengan merasakan injakan rumput, angin sepoi yang menggoyangkan pepohonan, serta reruntuhan dedaunan yang menaburi taman, sejenak mereka ingin melupakan kejadian yang baru saja terjadi.

“Tapi sungguh, aku masih belum menerima dengan yang dikatakan Migo. Anak cengeng yang memohon pada bonekanya?! Aku tidak seperti itu,” gerutu Wergon.

Jordan dan Filhener tertawa kecil mendengarnya.

“Kau memang tidak seperti itu, Wergon,” hibur Jordan yang membuat hati Wergon sedikit lega.

“Heh! Yang benar saja. Kurasa Migo ada benarnya,” sahut Filhener.

Wajah Wergon kembali cemberut. Namun, pandangan kesalnya mengarah pada Filhener yang tak peduli dengan tatapannya. Filhener hanya mengarahkan pandangannya ke depan, walaupun dia tahu Wergon juga komat-kamit mulut padanya.

Tengah malam telah tiba, mereka bertiga bersiap-siap untuk melaksanakan tugas mereka, membawa senjata yang menjadi keahlian masing-masing, pakaian mereka rapat serba hitam, dan memakai masker untuk menyembunyikan identitas mereka saat mulai beraksi. Tiga serangkai bersama seekor burung merpati terlatih “Faisr”, melintasi kota yang mulai sepi. Filhener mengendarai mobil sedan warna hitam metalik, pelek racing krom, bersayap belakang, serta dapat ia ajak bicara. Jordan duduk di sampingnya, Wergon duduk di jok belakang, sedangkan Faisr terbang di atasnya. Saat mereka sampai di persimpangan jalan, Faisr berpisah dengan yang lain. Dia bergegas mengawasi situasi kota dengan menyalakan kamera pengintai yang dipasang pada kaki kirinya. Sementara rekaman dari kamera tersebut, muncul pada monitor genggam yang dibawa oleh Jordan.

Kali ini, tugas mereka adalah mengambil sebuah benda yang terbuat dari tulang, yang bentuknya menyerupai lebah madu. Menurut para ilmuwan dari Universitas Losapins, benda tersebut sudah berumur ribuan tahun, dan merupakan satu-satunya benda peninggalan yang apabila ditukar dengan nilai nominal, bilangannya akan sangat besar. Itulah yang membuat banyak orang ingin memilikinya. Bahkan, sudah puluhan kali orang mencoba mencurinya, namun tak seorang pun dari mereka yang berhasil.

Mobil Filhener akhirnya berhenti di depan gedung besar yang dikelilingi oleh pohon berbatang ramping dengan cahaya lampu yang cukup terang di halamannya dan pada bagian dinding atas pintu masuk tertulis “LOSAPINS HISTORICAL MUSEUM”. Mereka segera turun dari mobil untuk bergegas melakukan aksinya. Filhener meminta mobilnya untuk meninggalkan mereka dan menjemputnya saat dia memanggilnya.

Rencana mereka dimulai dengan mengendap-endap masuk di tempat tersebut, sebuah gedung dengan tulisan “LOSAPINS COUNTY PUBLIC LIBRARY” terpampang jelas pada pagar besi yang tidak terlalu tinggi berada di depan kolam air pancur, dan warna lampu neon yang menerangi tulisannya. Di perpustakaan yang letaknya tepat berseberangan dengan museum itulah, tulang lebah madu yang asli disimpan.

Mereka berhasil masuk tanpa dicurigai satpam perpustakaan, memblokir kamera pengawas yang dipasang di beberapa sudut langit-langit dan sistem keamanan lainnya dengan bantuan Wergon. Dalam gelapnya ruangan, mereka berusaha mencari jalan rahasia menuju ruang bawah tanah, menyorotkan lampu senternya sambil mengambil beberapa buku yang disusun dalam rak, menggeser lampu meja, atau apapun yang kiranya menjadi kunci untuk membuka pintu menuju ruang rahasia. Beberapa menit kemudian, Jordan menemukan sebuah buku bersampul merah dengan judul Buku J: Bermainlah ke Dunia Pikiran tanpa nama pengarang, dengan ketebalan buku kira-kira tiga ratus halaman. Buku tersebut terletak di rak paling atas, diapit oleh dua buku yang sama, lebih menjorok ke dalam, dan ukurannya lebih kecil dari buku-buku yang berada satu rak dengannya. Timbul kecurigaan Jordan. Dia berpikir bahwa mungkin dengan menggeser buku itu sedikit keluar atau mengambilnya, maka akan terjadi sesuatu. Namun bukan hanya diambil, dibuka pun buku itu tidak berpengaruh apapun di sekitar ruangan tersebut.

“Bagaimana kalau bukan di sini tempatnya? Kita sudah mengubrak-abrik semuanya, tapi belum juga kita temukan,” kata Wergon mulai putus asa, “Ini pasti semacam teka-teki. Kenapa kita selalu berhadapan dengan teka-teki yang tak pernah bisa kupecahkan?”

Filhener yang masih memeriksa beberapa buku di rak merasa terusik dengan perkataan Wergon yang selalu ia ucapkan setiap akan memecahkan kode rahasia.

“Kurasa, kau cukup diam dan duduk manis saja di sana, Anak cengeng! Itu akan membuat pekerjaanku lebih baik dari pada harus mendengar ocehanmu!” katanya.

Jordan masih membolak-balik halaman buku yang ia ambil. Dia menemukan sesuatu di halaman kosong terakhir yang ketebalan kertasnya berbeda dengan lembaran-lembaran sebelumnya. Sebuah piringan kaca biru dengan permukaan tampak cembung, ditempel pada halaman tersebut. Ketika kaca tersebut disoroti dengan senternya, terlihat kilauan cahayanya yang sungguh indah, layaknya berlian. Pasti ada sesuatu yang menjadikan kaca ini sumbernya, pikirnya. Dia mulai mencari sesuatu yang menurutnya menjadi objek sasaran dari kaca tersebut. Dia pun melihat langit-langit dan memutar-mutar pandangannya sambil menyorotinya dengan senter.

“Mau beri tahu apa yang sedang kau cari, Jordan?” tanya Wergon penasaran sambil menyandarkan kepalanya pada salah satu tangannya yang berdiri dengan kepalan ringan di atas meja bundar, dengan duduk santai di atas kursi.

Jordan menurunkan pandangannya dan memperlihatkan lembaran berkaca biru kepada kedua temannya sambil menjelaskan apa yang ia pikirkan mengenai kaca tersebut.

Mereka pun bergegas mencari benda yang dimaksud Jordan di setiap ruangan perpustakaan. Setelah beberapa menit berpencar, Filhener memanggil Jordan dan Wergon dan memperlihatkan benda aneh yang terpasang di tengah atap kaca pada ruangan terbesar perpustakaan. Seperti halnya dengan halaman terakhir dalam bukunya, benda tersebut layaknya bunga matahari yang memiliki piringan kaca bening sebagai pusatnya, yang dihiasi oleh lekukan-lekukan emas. Wergon mengarahkan pantulan kaca biru ke benda itu dengan sumber cahaya senternya. Setelah sinar pantulnya tepat mengenai kaca bening tersebut, beberapa buku dalam seluruh rak menyala huruf biru terang yang berbeda, begitu juga dengan buku yang masih dipegang Wergon, menyala dengan huruf J.

Jordan dan Filhener mengamati buku-buku tersebut dan ternyata judul semua buku yang menyala sama dengan judul buku yang Jordan temukan sebelumnya. Kemudian, Jordan mengambil salah satu dari buku yang menyalakan huruf E, tapi juga tak berpengaruh apapun dan yang dia temukan pada halaman terakhir buku itu hanyalah piringan kaca berwarna merah. Dia mulai sedikit jengkel, namun belum sampai kejengkelannya tampak di raut wajahnya. Maka, dia meletakkan kembali buku tersebut dengan sedikit lebih keras dan dalam, sebagai luapan atas kejengkelannya. Tapi tiba-tiba, beberapa tembakan anak panah keluar dari sudut langit-langit, mengarah pada Wergon yang masih berdiri di bawah cermin matahari, serta Filhener dan Jordan yang masih mengamati buku yang lain. Dalam serangan anak panah dadakan tersebut, membuat ketiganya sangat terkejut. Walaupun demikian, mereka memiliki refleks yang begitu cepat.

Wergon segera menutup bukunya dan mengambil tongkat yang panjangnya sekitar lima puluh sentimeter, dari sarung tongkat yang diikatkan di belakang tubuhnya. Saat tongkat itu terpisah beberapa sentimeter dari sarung tongkatnya, secara otomatis tongkatnya mengalami perpanjangan sekitar lima puluh sentimeter pada kedua ujungnya. Dengan sangat terampil, ia mampu menggunakan tongkatnya, menahan tembakan-tembakan anak panah itu yang mengarah padanya, memutar-mutar tongkatnya, melompat maupun menghindar dari anak panah tersebut.

Begitu juga dengan Jordan, dia segera mengambil pedang panjang dari sarung pedangnya dan dengan cepat menjatuhkan semua anak panah yang mengarah padanya dan Filhener yang berlindung di belakangnya. Setiap suara anak panah yang mengenai pedangnya seakan menjadi irama bagi Jordan, menjadikan penglihatannya lebih tajam dan gerakan tangan serta tubuhnya lebih tangkas.

Beberapa menit kemudian, tembakan itu pun berhenti. Wergon dan Jordan merasa sangat kelelahan dengan serangan tersebut. Sejenak Wergon menyelonjorkan kakinya di bawah cermin matahari dengan tongkat yang ia letakkan di samping kanannya. Sementara Jordan, membungkukkan badannya dengan pedang yang masih ia pegang di tangan kanannya, dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya yang sedikit ditekuk, dan mengambil napas dalam-dalam.

“Kuakui, ini jebakan terlama dan paling melelahkan yang belum pernah kualami sebelumnya,” kata Wergon dengan napas yang masih terengah-engah.

Filhener mengamati semua buku yang menyala itu mati sekejap sesaat setelah Wergon menyingkirkan pantulan kaca biru dari cermin matahari.

“Jika ada banyak huruf, pasti ini semacam tebak kata,” sahut Filhener, “Apa saja yang dia katakan padamu, Jordan? Mungkin dia memberitahu sesuatu untuk memecahkan teka-teki ini.”

Jordan mulai menegakkan tubuhnya dan meletakkan kembali pedangnya ke sarung pedangnya.

“Dia hanya memberitahu kalau tulang lebah madu ada di ruang rahasia perpustakaan. Memintaku untuk mengambil salah satu buku dan jika sudah kutemukan, maka jangan ambil yang lainnya,” jawab Jordan.

“Mungkin di buku itu ada petunjuk untuk memecahkan kodenya,” lanjut Jordan seraya berjalan menghampiri Wergon yang sudah bangkit berdiri.

Jordan membuka lagi setiap halaman di buku tersebut. Membaca setiap kata yang menarik pikirannya. Namun, tak ada apapun yang dapat ia curigai. Semua kata tampak normal, bahkan tak ada satu huruf pun di halaman terakhir tempat kaca biru itu ditempelkan, yang dapat dijadikan petunjuk bagi mereka.

“Kita sudah menghabiskan banyak waktu di sini. Ini tak akan berhasil,” kata Wergon.

“Apa yang membuat anak panah itu meluncur dari langit-langit?” tanya Filhener.

“Aku hanya mengembalikannya ke tempat semula, lalu aku merasa mengenai sesuatu yang membuat buku itu lebih menjorok ke dalam. Itu berarti, ada tombol pada tempat masing-masing buku tersebut. Saat kita menekan tombolnya, maka kejutan maut akan keluar mengarah pada kita. Jika benar ini adalah tebak kata, maka kita harus menemukan kata itu.”

“Kalau seperti itu keadaannya, kurasa Wergon benar. Ini akan menghabiskan waktu kita. Kenapa tidak kita pencet semua tombolnya? Mungkin yang dimaksud jangan ambil yang lainnya adalah cukup kita menekan sembarang tanpa mengambil buku tersebut, maka tak kan ada kejutan maut.”

“Apa?! Kau bercanda! Bagaimana kalau perkiraan itu salah? Satu tombol saja sudah membuatku setengah mati. Dua puluh empat tombol akan mengantarkanku ke dunia lain,” ujar Wergon.

Jordan melihat cermin matahari itu sambil memikirkan sesuatu. Lalu, dia meminta Wergon untuk mengarahkan lagi pantulannya ke cermin matahari tersebut. Semua buku itu kembali menyala dengan huruf masing-masing. Jordan menyipitkan matanya ketika melihat ada sebuah bayangan lingkaran kecil tepat di tengah cermin matahari. Lingkaran yang seakan terhalang dari pantulan cahaya cermin biru. Dia mengambil busur dan anak panahnya, lalu ia arahkan pada bayangan lingkaran tersebut.

“Tahan, Wergon!” pinta Jordan.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Filhener.

“Mencoba memecahkan kodenya.”

Pandangan Jordan sudah fokus pada lingkaran tersebut. Dilepaskan anak panah dari busurnya. Mata anak panah yang semula menguncup, namun saat dilepas, udara masuk dari celah kecil di ujungnya, mendapatkan tekanan yang membuatnya mekar menjadi anak panah bermata cangkir isap. Saat anak panahnya menempel pada daerah bayangan itu, cermin matahari tertekan sedikit lebih ke dalam dan berputar berlawanan arah putaran jarum jam.

Semua buku bernyala pun ikut menjorok ke dalam di masing-masing tempatnya. Lantai mulai berputar dan bergeser membentuk suatu gambar. Namun, lantai yang berdiamater dua meter di bawah cermin matahari tepat tiga serangkai menginjaknya, tidak berputar. Setiap lapisan lantai yang berputar bertambah diameter sekitar satu meter. Lapisan pertama berputar searah putaran jarum jam, lapisan kedua berputar berlawanan putaran jarum jam, dan lapisan ketiga berputar searah jarum jam, tetapi lajunya lebih cepat dari dua lapisan sebelumnya.

Pandangan mereka mengikuti alur pergerakan bagaimana kunci tersebut terbuka.

“Jordan, kau berhasil melakukannya. Lagi,” kata Wergon.

Beberapa detik kemudian, putaran lantai itu pun berhenti, menggambarkan sesuatu yang serupa dengan cermin matahari dengan hiasannya, dan semua buku yang menyala ikut padam. Namun setelah itu, tak ada pergerakan apapun sebagai tanda akhir dari terbukanya pintu menuju ruang jalan rahasia.

“Inikah saja?” tanya Filhener penasaran dan sedikit bingung.

“Lalu, di mana lubang pintunya? Hei, cermin matahari! Tunjukkan kami lubang rahasiamu!” ucap Wergon mulai kesal seraya menatap cermin matahari sambil menunjukkan kepalan tangan kirinya.

Lalu, terdengar suara seorang wanita yang berkata, “Silakan masukkan kata sandi dengan lisan!

Mereka bertiga terdiam sejenak dan suasana terasa hening sesaat setelah suara wanita tersebut berhenti bicara.

“Dia terdengar seperti Rishan,” gerutu Wergon.

“Siapa? Saudara perempuanmu?” tanya Filhener.

“Bukan.”

“Ibumu?” tebak Jordan.

“Bukan juga.”

“Baiklah. Kalau begitu, nenekmu?” lanjut Filhener.

“Dia adalah boneka kelinciku yang menjadi korban pada misi kedua kita.”

Jordan dan Filhener saling bertatapan muka dan di balik maskernya, mereka tersenyum kecil mendengar perkataan Wergon tersebut. Namun beberapa detik kemudian, suara itu mulai muncul kembali.

Silakan masukkan kata sandi dengan lisan! Atau sesuatu akan segera menghancurkan Anda.

“Sepertinya, dia mulai mengancam kita,” kata Filhener.

“Suara itu diprogram dari komputer dan terdengar seperti berasal dari cermin matahari,” ucap Jordan, “Wergon, bukankah kau sudah mematikan semua sistem keamanan perpustakaan?”

“Tentu saja.”

Silakan masukkan kata sandi dengan lisan! Atau sesuatu akan segera menghancurkan Anda dalam hitungan lima belas. Hitungan dimulai dari lima belas.

Ketiganya sangat terkejut ketika laser berjaring muncul secara tiba-tiba, mengepung mereka dari empat sisi ruangan tersebut, yaitu depan, belakang, samping kanan dan kiri.

Empat belas

Mereka semakin gugup ketika laser tersebut merambat ke tempat mereka berdiri, semakin mempersempit ruangan pergerakan mereka, terlebih mereka pun melihat bahwa sinarnya mampu memotong tebaran anak panah yang berada di lantai.

Tiga belas

Jordan tampak berpikir sejenak, lalu berteriak, “Imajinasi!”.

Namun, tak terjadi apapun pada sinar lasernya. Mereka benar-benar sangat gugup dan ketakutan. Pikiran mereka menjadi kacau, menyebabkan pertengkaran di antara mereka.

“Wergon, kau bilang sudah mematikan semua sistem keamanan!” kata Filhener marah bercampur dengan takut.

Dua belas

“Aku memang sudah mematikannya, Tuan Riphoman!” bentak Wergon di depan muka Filhener sambil mengangkat tubuhnya sedikit lebih tinggi.

Sebelas

 “Lalu, kenapa masih ada laser dan serangan anak panah yang mencoba membunuh kita!”

Sepuluh

 “Mana kutahu! Kenapa tidak kau coba mematikannya sendiri!”

Sembilan

Kedua tangan Jordan mengepal kencang. Raut wajahnya tampak kesal mendengar pertengkaran mereka berdua.

“Cukup! Bisakah kalian diam?! Itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah!” katanya.

Delapan

Filhener dan Wergon mulai terdiam dengan saling memalingkan pandangannya. Jordan berusaha mencari cara agar bisa menghindari sinar mematikan tersebut. Pandangannya tertuju pada setiap tempat di ruangan tersebut, mencari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk meloloskan diri.

Tujuh

Jordan benar-benar tak sanggup lagi untuk berpikir. Sinar laser sudah berada cukup dekat dengan mereka. Namun, dia masih berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Dia menatap lagi cermin matahari dan sesuatu terlintas di dalam pikirannya.

“Filhener, hancurkan cermin itu!” ujar Jordan.

Filhener segera mengambil salah satu dari dua pistol yang dibawanya. Dia melepaskan satu tembakan, menghancurkan kaca pada cermin matahari. Pecahan kaca tersebut bertaburan mengenai tubuh mereka bertiga, sinar laser sudah tak berjalan, dan suara wanita itu sudah tak terdengar lagi. Mereka mengembuskan napas melalui mulutnya secara bersamaan dan mulai merasa lega. Filhener menepukkan tangannya ke salah satu pundak Jordan, sebagai penyampaian terima kasih atas kerja bagusnya. Dia juga tahu dari raut mata Jordan yang menatap wajahnya, tersenyum lebar dari balik maskernya.

Enam

Mereka langsung terkejut mendengar suara itu muncul kembali. Mata mereka terperanjat dan menarik napas kaget. Dalam ilusi mereka, jaring laser yang mulai merambat tersebut seakan memiliki dua mata menyeramkan dan tertawa licik dengan mulut yang lebar, menginginkan tubuh mereka tercincang menjadi potongan-potongan dadu.

Lima. Peringatan untuk segera memasukkan kata sandi dengan lisan!

Jantung mereka berdebar sangat kencang, terlebih Jordan, yang terus didesak oleh Filhener dan Wergon agar bisa mengeluarkan mereka. Jordan sangat kebingungan. Kepalan kedua tangannya kempas kempis dengan cepat dan pandangannya hanya tertuju pada laser yang mendekatinya, ke kanan, kiri, dan depan. Mereka bertiga berdiri berhimpitan dengan saling membelakangi, tepat di bawah cermin matahari.

Dalam suasana genting tersebut, Jordan terpaksa mengambil handphone dari saku kanan celananya. Dia memencet tombol dengan sangat tergesa-gesa, bahkan tampak sekali dari jari-jarinya yang gemetar.

Terdengar suara telepon yang berdering di sebuah tempat yang masih penuh dengan kesibukan orang-orang di sana. Salah seorang mengangkat panggilan telepon seluler tersebut. Tak terlihat dengan jelas bagaimana bentuk tubuh dan rupanya. Hanya tampak bibir yang berucap dengan seseorang yang berada di balik teleponnya tersebut.

“Halo, selamat malam.”

Sandinya!

Orang tak dikenal tersebut tersenyum lebar saat mendengar suara Jordan dari balik teleponnya.

“Cukup imajinasi.”

Sudah kucoba!

“Kubilang, cukup imajinasi.”

Cukup imajinasi!” teriak Jordan yang terdengar keras di telinga orang tersebut.

Kemudian, dia langsung menutup teleponnya, begitu juga dengan Jordan.

Akhirnya, mereka bertiga kembali merasa lega setelah laser tersebut lenyap pada suara hitungan dua. Tapi tiba-tiba saja, lantai yang sedang mereka injak langsung terbuka, membentuk lingkaran besar, pusat dari gambar bunga matahari tersebut. Mereka terjatuh dengan ketinggian sekitar dua setengah meter. Hal itu membuat jantung ketiganya seakan berhenti sejenak. Mereka mengembuskan napas keras-keras setelah kedua tangan yang menyangga tubuh mereka masing-masing, menyentuh lantai ruang bawah tanah. Jordan segera bangkit berdiri dan meminta kedua temannya untuk bergegas melakukan aksinya kembali.

“Yang benar saja. Kata sandinya cukup imajinasi?! Sungguh tak bermutu!” gerutu Wergon sambil berdiri.

“Kita harus cepat! Karena sebentar lagi AKLA akan segera datang,” sela Jordan.

Jordan menyoroti jalan panjang yang berada di hadapannya, kemudian memutar pandangannya ke belakang yang ternyata hanyalah jalan buntu yang berdinding dengan jarak sekitar satu meter darinya. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan cepat bersama Filhener dan Wergon yang mengikutinya, menelusuri terowongan yang berdinding dan berlantai keramik, menuju tempat tulang lebah madu di simpan. Sesekali Jordan pun melihat monitor genggam yang dibawanya, memastikan kedatangan polisi dari rekaman video Faisr.

Terowongan tersebut ternyata cukup membuat mereka kelelahan. Tetapi di akhir tikungan, mereka melihat cahaya terang di ujung terowongan tersebut.

“Pasti itu,” ucap Wergon.

“Kita harus tetap waspada. Siapa tahu ada kejutan maut di sana,” sahut Filhener, “Jordan, bagaimana menurutmu?”

Jordan tampak serius melihat monitor genggamnya. Ternyata, tim AKLA sudah terlihat di perempatan Jalan Losafir dengan menggunakan beberapa mobil kepolisian. Filhener masih menunggu jawaban dari Jordan. Belum sempat Filhener menolehnya, Jordan yang berada di belakang keduanya, langsung berlari menuju tempat terang tersebut.

“Ayo!” ajak Wergon menyusul Jordan.

“Ya, ya. Kalian pergilah! Kutunggu di sini saja,” jawab Filhener seraya menyandarkan tubuh sisi kanannya ke dinding dengan kedua tangan menyilang di atas dada.

Wergon dan Jordan hampir mendekati tempat tersebut. Tidak ada tanda-tanda kejutan maut di sekeliling mereka. Walaupun demikian, mata mereka tetap awas jika terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Akhirnya, mereka berdua memasuki ruangan tersebut dan ternyata, yang dipikirkan Wergon benar. Langkah mereka sedikit demi sedikit mulai melambat dan berhenti di dekat tulang lebah madu yang tersaji di atas tugu batu setinggi satu meter dengan lampu di setiap sudut langit-langit yang menyorotinya.

“Apa kita akan langsung mengambilnya?” tanya Wergon.

“Dia mempermainkan kita di atas sana. Aku yakin tak akan ada jebakan lagi di sini.”

Jordan melihat lagi monitor genggamnya. Mobil kepolisian sudah berhenti di depan pintu masuk perpustakaan. Beberapa tim AKLA sudah bergerak memasuki perpustakaan, sedangkan yang lain yang jumlahnya lebih banyak bersiaga di depan pintu-pintu luar perpustakaan.

Jordan pun tidak ragu-ragu untuk segera mengambil tulang lebah madu dan bergerak cepat menuju Filhener yang sedang menunggunya. Dia memasukkan tulang lebah madu ke dalam tas ransel yang dibawa oleh Filhener. Mereka bertiga langsung berlari menuju tempat terbukanya lantai cermin matahari. Ketika mereka melihat dinding penghalang di ujung terowongan, Jordan dan Wergon sedikit melambatkan langkahnya, sementara Filhener tetap melangkah cepat hingga berhenti tepat di bawah lubang tersebut. Jordan kembali melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia bersiap melompat keluar melalui lubang lantai dengan kedua telapak tangan Filhener yang menjadi tumpuannya. Kaki kanannya sudah menginjak telapak tangan Filhener, kemudian Filhener melemparkannya ke atas. Saat itu pun, Jordan telah memegang busur di tangan kirinya dan tangan kanannya bersiap mengambil dua buah anak panahnya. Pandangannya semakin meluas dan melihat lima orang tim AKLA telah bersiaga dengan mengarahkan pistol mereka padanya. Jordan melepaskan dua anak panah, kemudian melepaskan lagi tiga anak panah dengan sangat cepat. Bahkan, kelima tim AKLA tidak menyadari kapan anak panah tersebut menempel pada tubuh mereka masing-masing. Dalam hitungan ke-5, tim AKLA berhasil dijatuhkan. Karena pada saat mata anak panah itu menempel di tubuh mereka, keluar jarum kecil di tengah cangkir isap yang berisi obat bius, memasukkan cairan tersebut ke pembuluh darah yang kemudian membuat mereka tertidur selama tiga puluh menit.

Ketika kaki Jordan menyentuh lantai dengan tangan kanan yang menopang tubuhnya, Wergon menyusul keluar dan membantu Filhener keluar dari terowongan tersebut dengan menarik kuat kedua tangannya dan melemparkan tubuhnya ke atas.

“Baik. Selanjutnya kita ke mana?” tanya Filhener.

Jordan melihat monitor genggamnya dan sepertinya peluang terbesar untuk meloloskan diri berada pada pintu belakang perpustakaan.

“Kita lewat pintu belakang!” kata Jordan.

“Avasone, ke belakang Bamura Birdshop!” ujar Filhener seraya mendekatkan mulutnya pada gelang telekomunikasinya.

Wergon dan Filhener berlari menuju pintu belakang, sementara Jordan mengikutinya tepat di belakang mereka. Saat mereka hampir mendekati pintu, Filhener mengeluarkan dua pistol dari kedua sarung pistol yang berada di kedua sisi pinggulnya, Wergon bersiaga dengan memegang erat tongkatnya, dan Jordan mengambil tiga buah anak panahnya. Beberapa polisi telah bersiap menjaga pintu belakang. Pistol-pistol mereka sudah diarahkan ke pintu tersebut. Lalu tiba-tiba saja, pintu tersebut didobrak dari dalam. Wergon dan Filhener muncul dihadapan mereka, berdiri sambil melebarkan salah satu telapak tangannya, menghalangi silaunya sinar senter yang menyoroti mata mereka.

“Jangan bergerak! Angkat tangan kalian!” teriak salah seorang dari anggota AKLA.

“Kalian baik sekali ya. Selalu menyambut kami dengan pistol kalian. Tapi ngomong-ngomong, kami tidak begitu suka dengan senter kalian yang selalu menyoroti mata kami. Bisakah lain kali kalian menyambut kami tanpa ada acara sorotan senter?” sahut Wergon.

“Jangan banyak bicara! Cepat angkat tangan kalian dan jangan macam-macam! Kalau tidak, kami tak akan segan-segan untuk menembak kalian!”

Filhener dan Wergon masa bodoh dengan perintah tersebut, berdiri santai seakan-akan yang mereka hadapi hanyalah pasukan semut kecil.

Beberapa saat kemudian, tiga di antara sembilan polisi tersebut jatuh pingsan dengan anak panah yang sudah menempel pada masing-masing bahu mereka. Saat itu pula, Jordan berjalan keluar dari balik gelapnya ruangan yang terlihat dari jalur pintu belakang tersebut. Seluruh tembakan pistol mereka pun dilepaskan mengarah padanya. Wergon dan Filhener yang berada di depannya, melindungi Jordan supaya dia dapat melumpuhkan semua polisi satu per satu. Filhener terus menembakkan pelurunya tepat ke puluru yang ditembakkan oleh polisi. Sementara Wergon, memainkan tongkatnya ke sisi kanan, depan, maupun kiri, membuat suara kelintingan, dan menjatuhkan semua peluru yang mengarah padanya.

“Peluruku hampir habis! Aku tak bisa menahan mereka lebih lama lagi!” teriak Filhener.

“Cepat lakukan sesuatu! Sendiku sudah hampir lepas semua!” sahut Wergon.

Sementara para polisi yang berjaga di depan pintu utama, masih menunggu kedatangan tiga orang yang menjadi buronan mereka, bersama seorang pemimpin penyergapan tersebut, Lytro Crodawill, yang juga sering muncul dalam beberapa aksi penyergapan sebelumnya.

Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, akhirnya mereka melihat sesuatu dari balik pintu kaca yang beruangan gelap itu. Lima bayangan orang sedang berjalan mendekat ke arah pintu. Dua diantaranya merangkul tubuh salah seorang yang lain. Lytro sangat serius menatap lima orang tersebut. Benarkah di antara dari mereka ada buronan yang selama ini menjadi incaran utamanya, pikirnya. Bayangan itu sedikit demi sedikit mulai tampak jelas, lalu Lytro memerintah semua polisi untuk bersiap.

“Bersiap di posisi kalian masing-masing!” perintahnya.

Saat sebagian tubuh mereka dari bawah mulai terlihat jelas, jantung Lytro berdetak kencang. Inilah kesuksesan Lytro yang selama ini dia impikan, karena dia tahu bahwa tiga orang buronan yang menjadi incarannya, bukanlah penjahat biasa. Mereka sangat sulit untuk ditaklukan.

Akhirnya mereka semua terkejut ketika kelima bayangan itu membuka pintu dengan wajah mereka yang mulai terlihat dari pantulan cahaya lampu di sekelilingnya.

“Sial!” kata Lytro seraya berlari dengan membawa pistol yang masih ia pegang di tangan kanannya, melewati kelima bayangan yang ternyata adalah rekannya sendiri yang sebelumnya telah ditaklukan oleh Jordan, masuk dengan harapan dia belum terlambat untuk mengejar burunonnya.

Namun saat sampai di pintu belakang, ia melihat semua polisi yang bertugas untuk berjaga di sana, baru terbangun dari pengaruh obat bius yang diberikan oleh Jordan. Seorang agen dan beberapa polisi ternyata mengikuti Lytro tanpa ia sadari. Mereka pun berhenti mengejar, berdiri di dekat Lytro, dan terkejut melihat polisi-polisi tersebut masih terbangun lemas. Kemudian, beberapa dari yang lain membantu mereka untuk berdiri. Lytro mengamati keadaan di sekelilingnya. Tak ada jejak sedikit pun akan keberadaan buronannya. Dia tak dapat melakukan apa-apa lagi, kecuali menerima kekalahannya pada kesempatan itu.

Faisr terbang tepat di atas Lytro berdiri. Dia tidak menyadari bahwa wajah kekalahannya terekam pada monitor genggam Jordan. Dalam perjalanan pulang, Jordan dan kedua temannya yang sudah berganti kostum dengan pakaian hariannya, tertawa gembira melihat itu.

“Lihatlah wajahnya! Seperti anak kecil yang ditinggal ibunya! Hahaha….” gurau Wergon yang duduk di jok belakang.

“Setidaknya, itu bisa menjadi sedikit hiburan setelah kita bekerja,” sahut Filhener.

“Nilai A untuk kerja tim kita,” ucap Jordan dengan hadapan wajah di antara Filhener dan Wergon.

Jordan dan Wergon bertepuk tangan dengan gembira.

“Kalian tahu. Saat seperti inilah hal yang paling aku sukai saat bersama kalian,” lanjut Filhener senang.

Mereka bertiga tertawa bersama dengan gurauan mereka masing-masing. Lalu, sedikit demi sedikit tawa Jordan memudar menjadi senyuman kecil ketika ia melihat keadaan di luar jendela mobilnya. Dalam renungannya, dia begitu bahagia dengan kehidupan yang saat ini ia jalani. Dan sepertinya, dia memang sangat menyukai kehidupannya yang sekarang.

Pada hari menjelang subuh tersebut, mobil mereka berjalan semakin menjauh dan yang terlihat bagian belakang mobil yang tampak semakin mengecil. Faisr pun terbang menyusulnya, mengakhiri misi mereka malam itu. 

No comments:

Post a Comment