Cahaya matahari pagi telah menerangi seluruh kota Losapins, memulai kesibukan orang-orang dengan kegiatan keseharian mereka. Jordan berada di kamarnya, duduk di kursi menghadap jendela kamarnya yang terbuka lebar. Dia sedang membersihkan busur kesayangannya dengan sapu tangan yang sepertinya memang sudah kotor dan sengaja menggunakannya untuk sekalian dicuci. Dia pun berhenti menggosoknya ketika dia melihat ukiran lambang busur yang ia lihat sejak meninggalkan keluarganya, sudah tak terlihat lagi. Mungkin sudah aus karena sering dibersihkan, pikirnya.
Tiba-tiba, handphone yang ia letakkan di atas meja
belajarnya, berbunyi. Sejenak dia berhenti menatapi busurnya, meletakkan sapu
tangannya di atas meja, dan mengambil handphone-nya
dengan busur yang masih ia pegang di tangan kirinya.
“Halo.”
“Bagaimana keadaanmu?”
Jordan tampaknya sangat
senang mendengar suara orang tak dikenal itu lagi dari balik teleponnya.
“Seharusnya aku yang
melontarkan pertanyaan itu kepadamu. Karena aku tahu, kalau saat ini kau tidak
sedang bahagia,” kata Jordan tertawa kecil sambil menatap lagi busurnya.
“Terserah kau saja! Aku sangat terkesan kau bisa lolos dari perangkap
itu dan melumpuhkan beberapa polisi yang memburumu.”
“Tentu saja kau terkesan,
karena kau curang.”
Terdengar suara tawa orang
tersebut dari balik teleponnya.
“Curang? Aku tidak pernah melakukannya.”
“Kau selalu melakukannya,
Kawan. Jika saja kau kali ini memberikan kami donasi untuk melakukan
penyelidikan pada tempat misi kami selanjutnya.”
“Whoa, whoa, bukan seperti itu permainannya. Apa kau lupa aturan
permainannya? Kalian dilarang mengadakan penyelidikan pada tempat yang menjadi
misi kalian. Tidakkah aku sudah cukup baik memberi tahu tempat-tempat yang
menjadi incaranmu?”
“Jika seperti itu terus
keadaannya, kami bisa terbunuh. Terlebih semakin lama mereka semakin membuat
perangkap yang tak bisa kuperkirakan.”
“Tapi setidaknya, sedikit ketegangan bisa membuat yang lain percaya,
‘kan?”
“Aku tidak tahu ukuran
sedikit yang kau bicarakan.”
“Ayolah, Jordan. Aku tahu seberapa tangguhnya dirimu dan teman-temanmu.
Aku tak kan memberikan kalian tantangan di luar batas kemampuan. Bagaimana
kalau donasi kali ini sama seperti biasa?”
Jordan tersenyum dan menarik
napas dalam-dalam.
“Tapi, harus tiga kali
lipat. Bagaimana?”
“Setuju. Ngomong-ngomong, segera kau berikan tulang lebah madunya!”
“Baik, akan kuberikan nanti
malam.”
“Oh ya, aku hampir lupa. Selamat ulang tahun, Jordan. Semoga kau menjadi
penyelamat dunia yang telah mengalami keterpurukan ini.”
Jordan tersenyum lebar
hingga tampak gigi-giginya setelah mendengar ucapannya.
“Baiklah, sampai jumpa.”
Setelah mereka selesai
melakukan percakapan, Jordan kembali meletakkan handphone-nya di atas meja, bangkit berdiri sambil menatap keadaan
di luar jendela. Sejenak ia merasakan sesuatu yang berbeda di luar sana. Bisa
ia rasakan melalui kelembutan embusan angin yang mengenai tubuhnya.
Saat itu pula, sebuah
pesawat terbang dengan tulisan Bee-Air
telah melandas di Bandara Losapins. Semua penumpang bergegas berdiri untuk
menuruni tangga pesawat. Terlihat seorang pria yang memakai baju bermotif
kotak-kotak dengan jaket hitam yang tidak terkancing, membawa sebuah tas hitam
besar yang ia jinjing di tangan kanannya bersama dengan sebuah busur tuanya,
keluar perlahan menuju pintu. Dia melangkahkan kakinya menuruni tangga, dan
saat kaki kanannya menyentuh aspal, Jordan yang masih berdiri di depan jendela
kamarnya, mendengar bisikan bersabarlah.
Matanya langsung sedikit terperanjat ketika ia merasakan pula getaran kuat
dalam hatinya.
Begitu juga dengan orang
tadi, dia pun merasakan getaran sama seperti yang Jordan rasakan. Sejenak dia
berhenti melangkah ketika kaki kirinya sedikit terangkat. Namun, dia pun tidak
terlalu menghiraukan perasaan tersebut. Dia melanjutkan langkahnya menuju taksi
yang telah menunggunya di depan pintu keluar bandara.
Sementara itu, dalam hati
Jordan bertanya-tanya, “Kenapa kata bersabarlah
terdengar lagi di telingaku? Apakah perasaan ini adalah suatu tanda yang akan
mengubah hidupku lagi kelak?”.
Lalu, Jordan mengangkat
tangan kirinya, sedikit lebih tinggi di atas perutnya, bersama busur yang masih
ia pegang. Tatapannya lurus tertuju pada busurnya. Namun sesaat kemudian, dia
memalingkan pandangannya dengan pegangan busur yang menggenggam lebih kuat. Dia
tampak sedih dari pejaman mata gelisahnya. Serasa ingin menangis, tapi dia pun
berusaha menguatkan hatinya.
Jordan kembali membuka mata
dan meletakkan busur di atas mejanya. Dia melihat jam dinding yang terpasang di
atas pintu kamarnya, sudah menunjukkan pukul 06.27. Dia pun bergegas mengganti
pakaian dan sarapan pagi bersama Filhener dan Wergon.
“Pagi, Jordan,” sapa
Filhener yang sudah duduk di samping kanan Wergon.
“Pagi juga,” jawab Jordan
sambil menghampiri tempat duduknya yang berada di samping kiri Wergon.
Jordan sedikit tersenyum
ketika melihat Wergon masih memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya
pada kepalan tangan kanannya yang berdiri di atas meja makan.
“Jangan hiraukan dia,
Jordan! Kita habiskan saja makanannya,” ucap Filhener seraya mengambil nasi dan
telur dadar.
“Hey, Wergon, bangunlah!
Wergon!” kata Jordan sambil sedikit menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Wergon sedikit membuka
matanya. Namun, dia kembali memejamkan mata dan meletakkan kepalanya di atas
meja.
“Ya, makan saja makanannya.
Aku masih mengantuk. Hoaaaaaaaahhh...,” gumam Wergon.
“Baiklah, kalau kau yang
meminta,” sahut Filhener kegirangan yang langsung mengambil jatah telur dadar
Wergon.
Jordan dan Filhener mulai
menikmati sarapannya. Tapi belum lama setelah itu, Wergon segera terbangun,
mengambil sendok di atas piringnya, dan langsung mengambil jatah telur dadarnya
yang berada di piring Filhener. Tanpa basa-basi, dia pun mengambil nasi dan
menikmati makanannya seakan rasa kantuknya hilang secara misterius.
Jordan dan Filhener pun
hanya duduk diam menatap Wergon yang tiba-tiba demikian.
“Kau habis mimpi apa?” tanya
Filhener penasaran.
Wergon terdiam dan
menyerongkan posisi duduknya ke arah Jordan bersama dengan piringnya.
Jordan pun tertawa kecil
melihat tingkah Wergon dan usilan Filhener, lalu melanjutkan sarapannya bersama
Wergon. Sementara itu, Filhener masih saja terdiam, merasa bingung dengan
kelakukan Wergon terhadapnya.
Hari hampir menjelang siang.
Pantulan sinar matahari semakin memperindah kehijauan taman di sebuah gedung
perkantoran yang memiliki dua lantai dan satu lantai paling atas yang tingginya
setengah lebih pendek dari dua lantai di bawahnya. Bangunannya bercat putih,
tampak berdiri sangat kokoh dengan dinding yang seakan terkesan lebih tebal
dari dinding bangunan di kota Losapins, jendelanya berbentuk setengah ellips
yang memanjang, pintu utamanya menjorok ke dalam, dan di taman terdapat empat
sampai lima pohon yang tumbuh dengan jarak saling berjauhan. Pada bagian pagar
besi pintu masuk yang cukup tinggi itu terdapat tulisan AKLA (Agen Keamanan Level
Atas).
Terlihat seseorang turun
dari taksi, jelas dialah orang yang baru turun dari pesawat Bee-Air pagi tadi. Dia menaiki tangga
pintu utama yang tingginya sekitar satu meter. Begitu sepi, tak ada siapapun
saat ia membuka pintunya. Lalu, dia melangkahkan kakinya menuju lantai dua,
ruangan kantor utama AKLA. Dan tiba-tiba, dia sangat terkejut ketika membuka
pintu ruangan tersebut, semua teman-temannya sudah berkumpul menanti
kedatangannya sambil berteriak selamat
ulang tahun.
Walaupun tak ada balon yang
bergelantungan ataupun dekorasi lainnya, dia begitu merasa terharu. Kemudian,
Lytro menghampirinya sambil membawa kue ulang tahunnya yang sebesar kepalan
tangan dengan satu lilin menyala di atasnya.
“Selamat ulang tahun, Earon.
Semoga kau…, uh….”
Lytro berpikir sejenak.
“Menjadi orang yang berguna
bagi kami semua,” lanjut Lytro sambil tersenyum lebar.
Earon merasa senang dengan
pemberian tersebut. Lalu, dia meletakkan tas berat dan busur yang ia bawa di
sisi kanan ia berdiri dan meniup lilin yang telah berada di depannya. Semua
bersorak gembira sambil bertepuk tangan ketika lilin tersebut berhasil ia
padamkan.
“Terimakasih, Kawan-kawan.
Tak seharusnya kalian melakukan ini. Tapi, terimakasih sekali lagi,” ucap
Earon.
Sesaat setelah itu, semuanya
segera kembali ke tempat kerja masing-masing. Sementara Lytro masih mendampingi
Earon, membantu membawakan tas beratnya, kecuali busur yang Earon bawa sendiri.
Dalam langkah mereka menuju
ruang kerja Earon, Lytro sedikit mengulas kembali yang telah dikatakan Earon.
“Tak seharusnya kami
melakukan ini? Bagaimana kami tidak melakukan ini? Hari ini adalah hari ulang
tahunmu dan ini untuk pertama kalinya kami bisa menyambut ulang tahunmu,”
gerutu Lytro.
“Aku tahu itu. Tapi, sungguh
kalian tak perlu melakukan itu.”
“Baiklah, lalu apa yang kau
inginkan dari kami jika kau tak mau diberlakukan seperti itu?”
“Yang kuinginkan hanyalah
doa dan kurasa beberapa nasihat yang dapat mengarahkanku pada kebaikan,
mengingat waktu hidupku yang semakin menyempit.”
Lytro tertawa kecil.
“Entah kenapa aku pernah
mendengar pemikiran seperti itu. Dari mana kau mendapatkannya?”
“Entahlah,” jawab Earon
singkat dengan senyuman di wajahnya sambil membukakan pintu ruang kerjanya.
Kemudian Lytro meletakkan
tas Earon di atas kursi kerjanya. Dia terlihat sedikit kelelahan setelah
membawa tas itu, tampak dari napasnya yang sedikit terengah-engah.
“Baik. Terimakasih sudah mau
membantuku.”
“Sama-sama, Earon. Itulah
gunanya teman.”
Earon menundukkan
pandangannya seakan menyembunyikan senyuman bangganya yang lebar dari Lytro.
Lalu, pandangan Earon
berbalik ke belakang. Dia melihat seorang wanita sedang memberikan beberapa
lembaran kerjanya ke salah satu agen AKLA, dari balik dinding kaca ruang
kerjanya. Dia menggunakan pakaian berlengan panjang dengan kerah yang menutup
lehernya, tangannya tertutup rapat oleh sarung tangan, semua tubuhnya tertutup,
kecuali hanya tampak wajah dan rambut hitamnya yang terurai sepanjang separuh
dari bahunya. Dialah Vurpia Ratrhias, agen wanita terbaik di tim AKLA. Earon
mulai tak berdaya dibuatnya. Dia seakan ingin terjatuh, namun perasaannya ingin
terbang tinggi untuk meraih cintanya. Lytro menatap Earon, lalu sedikit tertawa
melihat ketidakberdayaan temannya tersebut.
“Kau menyukai wanita itu?”
tanya Lytro seraya menepuk pundak Earon.
“Sungguh menawan. Dia tidak
berubah sedikit pun setelah aku pergi ke luar kota,” jawab Earon yang masih
terus memandang Vurpia sambil tersenyum-senyum.
“Lamarlah dia!”
Seketika, Earon terkejut dan
memalingkan pandangannya ke arah Lytro.
“Kau bercanda! Aku baru
berkenalan dengannya selama tiga bulan lima belas hari. Dan kutinggalkan tiga
bulannya untuk mengurus kota lain. Lima belas hari adalah waktu yang terlalu
singkat untuk langsung melamarnya.”
“Tapi kau mencintainya, ‘kan?”
Earon menganggukkan
kepalanya.
“Kalau begitu kau segera
nikahi dia sebelum orang lain mendahuluinya!”
“Tapi…, bagaimana jika dia
menolaknya?”
“Bukankah kau butuh nasihat?
Maka, kuberikan nasihat padamu,” kata Lytro seraya merangkulkan salah satu
tangannya ke pundak Earon dan sedikit melekatkan tubuhnya, “Kau datangi
rumahnya, lalu katakan kalau kau sangat mencintainya. Dengan begitu, kau akan
mendapatkan jawabannya. Jika dia menerimamu, maka bahagialah dirimu. Tapi jika
dia menolakmu, kau cukup cari yang lain. Mudah, ‘kan?”
Earon mengerutkan keningnya
setelah mendengar ucapan Lytro tersebut.
“Halo, Kawan-kawan!”
Earon dan Lytro langsung
terkejut ketika Vurpia telah berada di belakang mereka tanpa disadari. Mereka
pun memutar pandanganya. Jantung Earon mulai berdebar kencang.
“Apa yang sedang kalian
bicarakan?” tanya Vurpia penasaran.
“Owh, hanya memberitahu
Earon agar segera melamar….”
Belum sempat Lytro
melanjutkan perkataannya, Earon langsung menginjak kaki kiri Lytro dengan cukup
keras.
“Aw, Bung! Kau menginjak
kakiku, dengan sengaja!” kata Lytro seraya sedikit mengangkat kaki kirinya
dengan tangan kiri yang hampir meraih bagian yang sakit.
Earon memelototi Lytro.
“Melamar siapa?” lanjut
Vurpia.
“Tidak, tidak. Um, maksudnya
ada tetanggaku yang ingin lamaran hehehe….”
Vurpia mengangguk-anggukkan
kepalanya sambil tersenyum dengan pandangan ke bawah.
“Jadi, kenapa kau kemari?”
lanjut Earon.
Pandangan Vurpia tertuju
lagi ke arah Earon.
“Oh ya, aku ke sini hanya
untuk memastikan kalau keadaanmu masih baik-baik saja. Dan, selamat datang
kembali, Earon. Aku senang kita jadi satu tim lagi setelah tiga bulan kami
harus memburu penjahat tanpa dirimu,” jawabnya.
“Tentu, aku baik-baik saja.
Terimakasih.”
Mereka berdua saling
menyenyumi.
Lalu, datanglah seorang agen
wanita mengetuk pintu kaca ruang kerja Earon yang tertutup, memanggil Vurpia
dengan membawa beberapa lembaran kerja. Vurpia pun segera keluar
menghampirinya. Mereka berjalan menuju meja kerja Vurpia.
Sementara itu, Earon masih
saja melihat Vurpia yang berjalan menjauh darinya. Namun, sekilas ada sesuatu
yang masuk dalam pikirannya. Dia pun segera keluar dari ruang kerjanya.
“Hei, Earon! Kau mau ke
mana?” teriak Lytro.
“Aku ingin membeli sesuatu.”
“Membeli apa?!”
Earon tampak sangat
tergesa-gesa hingga tak menjawab pertanyaan Lytro. Sementara itu, Lytro hanya
bisa terdiam dengan perasaan yang sedikit kecewa seraya menghela napas.
Sementara itu, di sebuah
toko yang berada di Jalan Losafir, dengan cat warna hitam, jendela dan pintunya
terbuat dari kaca bening sehingga tampak dari luar beberapa barang jualannya,
dan tertulis “LITHINGS SHOP” pada dinding atas pintunya. Di sana, datanglah
seorang pemuda yang menghampiri toko tersebut. Pemuda itu pun segera melepaskan
jaketnya begitu ia masuk dan melihat Jordan sedang berdiri di kasir, melayani
seorang pelanggan.
“Terimakasih atas kunjungan
Anda,” kata Jordan sambil menyerahkan barang belanjaan kepada pelanggannya.
Pelanggan itu pun tersenyum
dan keluar dari toko tersebut.
Lalu, Jordan memandang
pemuda itu dan merasa sedikit bingung dengan kehadirannya. Pemuda itupun
mendekatinya.
“Maaf, aku terlambat.”
Mendengar perkataan itu,
Jordan menduga bahwa dialah pegawai yang baru diangkat beberapa hari yang lalu.
“Jadi, kau adalah Vuklir
Rheboyer?”
“Benar. Aku pegawai baru di
sini,” sahut Vuklir sambil menganjurkan tangannya.
“Senang bisa berkenalan
denganmu,” balas Jordan dengan bersalaman dengannya.
Vuklir langsung merasakan
sesuatu saat dia memegang tangan Jordan, lalu berkata, “Whoa, kau benar-benar…,
kuat.”
Jordan tersenyum heran
dengan ucapannya, padahal dia merasa bahwa genggamannya tidak terlalu kuat.
Namun, Vuklir segera menarik kembali ucapannya sesaat setelah Jordan melepaskan
tangannya.
“Uh! Maksudku, kau cukup
kuat juga bekerja di sini, berdiri di kasir seharian dengan bayaran yang kurang
setimpal,” candanya.
Jordan pun tertawa kecil
bersamanya.
“Kalau boleh, aku mau keluar
sebentar,” pinta Jordan.
“Tentu, tentu saja, Kawan.
Lagi pula, aku tadi juga terlambat sekitar empat setengah jam.”
“Baik. Tak apa.”
Kemudian, Jordan
melangkahkan kakinya keluar pintu dan pergi ke suatu tempat. Akhirnya, dia
berhenti di depan seorang pedagang bunga dan membeli seikat bunga mawar putih.
Beberapa saat kemudian setelah dia menerima bunganya, getaran itu dirasakan
kembali oleh hatinya. Seiring berjalannya waktu setiap detiknya, perasaan itu
semakin kuat. Begitu kuat hingga akhirnya dia merasa bimbang dengan keadaan
itu. Lalu tiba-tiba, ada seseorang yang menabrak tubuhnya dari samping. Jordan
pun langsung menatap wajah orang yang menabraknya dan seketika getaran hatinya
menghilang. Dia terkejut ketika dia tidak asing lagi dengan wajah orang
tersebut yang tampak dari samping.
“Earon?!” seru Jordan tak
begitu keras karena dia masih agak ragu apakah orang tersebut memang pemilik
nama itu.
Orang tersebut mendengar
panggilannya dan membalas tatapannya. Dia pun tampaknya senang bisa melihat
wajah Jordan.
“Jordan?!” sahut Earon
sambil menunjuk ke arah Jordan.
“Earon!”
Mereka berdua tampak sangat
gembira dan saling berpelukan.
“Hohoho, lama tak jumpa.
Bagaimana kabarmu, Jordan?” tanya Earon seraya melepaskan pelukannya, tapi
tangan kirinya menepuk pundak Jordan.
“Aku baik. Bagaimana
denganmu?”
“Luar biasa.”
Sejenak mereka berdua
tersenyum diam. Sepertinya, pertemuan itu membuat mereka sedikit canggung.
“Apa bunga itu untuk
kekasihmu?” tanya Earon memecah situasi.
“Ya. Ini untuk bibiku. Sudah
lama aku tidak menjenguknya. Dia sangat menyukai bunga ini. Jadi, kubeli saja.
Setidaknya, antisipasi agar aku tidak dilempar guci saat aku kembali.”
Mereka berdua tertawa
bersama mendengar ucapan tersebut.
“Kurasa, bunga ide yang
cukup bagus,” kata Earon sambil mengarahkan pandangannya pada bunga mawar
berwarna merah, “Bu, tolong bunga mawar merahnya!”
“Apa kau akan memberikannya
pada bibimu juga?” tanya Jordan.
“Tidak. Aku ingin
memberikannya pada…,” jawab Earon tersenyum sipu.
“Aaaaa, aku mengerti,” sahut
Jordan sambil sedikit bergurau, “Kurasa, kau jangan ambil yang mawar.”
“Kenapa tidak?” ucap Earon
sambil mengerutkan keningnya.
“Wanita yang kau cintai
pasti bukanlah wanita biasa. Jadi, ambillah sesuatu yang berbeda untuk dirinya.
Mawar sudah terlalu biasa dipakai,” ujar Jordan.
Earon membuang napas
kuat-kuat.
“Kau benar. Masalahnya
adalah aku tidak terlalu mengetahui sesuatu yang ia sukai. Aku tidak tahu harus
pilih yang mana.”
Jordan memegang dagunya,
memikirkan sesuatu yang dapat memecahkan masalah Earon.
“Um, mungkin kau, uh…,
bisa…,” ucap Jordan yang masih berpikir memilih dengan pandangan mata yang
melihat ke kanan dan ke kiri terhadap bunga-bunga di depannya.
Earon yang melihat Jordan
tampak berpikir dengan serius, membuatnya begitu penasaran.
“Yah, yah?!”
“Uh…, bunga aones?” ucap
Jordan ragu.
Earon terdiam sejenak dan
agak sedikit mengangkat salah satu alisnya dengan tatapannya ke arah Jordan,
membuat Jordan merasa kurang enak dengan tatapannya tersebut.
“Ide bagus,” ujar Earon
tiba-tiba, “Maaf, Bu! Tolong yang aones saja!”
Setelah beberapa saat
menunggu, Earon menerima bunga aonesnya bersama Jordan yang masih berdiri di
sampingnya.
“Terimakasih atas sarannya,
Kawan. Semoga saja dia menyukainya,” ucap Earon.
“Ya, semoga saja,” balas
Jordan dengan senyuman.
Tak lama setelah itu,
terdengar seorang wanita yang berteriak minta tolong.
“Tolong! Tolong! Rampok!
Tolong! Rampok! Rampok!”
Datanglah seorang pria yang
umurnya sekitar tiga puluh tiga tahunan, berlari di tengah kerumunan orang
menuju ke arah Earon dan Jordan berdiri. Dari kejauhan tampak pula sumber
teriakan seorang ibu yang meminta tolong tersebut. Perampok tersebut berlari
menabrak-nabrak orang di depannya, namun tak satu pun dari kerumunan orang
tersebut yang berani menghentikannya, sehingga dibiarkan lari begitu saja.
Ketika perampok tersebut melintasi Jordan dan Earon, tanpa berpindah posisi,
Earon langsung merebut tas hitam hasil rampokannya. Perampok itu pun langsung
berbalik mengarah ke Earon dan mencoba merampas kembali tasnya. Dia berusaha
meraih tasnya, namun gerakan tangan Earon dalam menghindari tangannya yang siap
mencengkeram tas tersebut sangat tangkas, membuat perampok itu merasa
kesulitan. Setelah empat kali tak berhasil menyentuh tas tersebut, perampok itu
mulai mengancam Earon dengan mengeluarkan pisau dari saku celananya. Tak
segan-segan, perampok itu langsung mengarahkan pisau tersebut ke perut Earon.
Namun, Earon berhasil menghindarinya hanya dengan mengubah posisinya tanpa
terlalu banyak gerakan. Perampok itu mencoba lagi mengarahkan pisaunya ke
wajahnya, Earon segera menunduk. Lalu, mengarahkan lagi ke bawah dengan ujung
pisau yang tepat berada di atas kepala Earon, dia masih mampu menghindarinya
tanpa ada perlawanan. Sementara Jordan yang melihat kegigihan perampok tersebut
untuk melukai Earon, segera memegang pergelangan tangan kanannya yang membawa
pisau.
“Cukup, Bung! Kelakuanmu
sungguh tak patut ditiru!” ujarnya.
Perampok tersebut langsung
menoleh ke arah Jordan.
“Kelakuanku bukanlah
urusanmu!” katanya marah.
Perampok itu segera melempar
pisaunya ke tangan kirinya dan mengarahkannya pada Jordan. Jordan pun langsung
merunduk, menarik ikat pinggangnya, lalu mengebatkannya pada tangan kanannya
yang dipuntir ke belakang. Earon segera membantunya dengan memegang tangan
kirinya. Akhirnya, kedua tangan perampok tersebut terbelenggu di belakang tubuhnya
dengan tali pinggangnya.
Ibu yang kehilangan tasnya
langsung berlari ke arah mereka.
“Terimakasih, Nak. Kalian
sungguh anak-anak yang baik,” ucap ibu tersebut setelah Earon memberikan
tasnya.
“Sudah menjadi kewajiban saya,
Bu,” balas Earon dengan senyuman.
Earon dan Jordan
mengantarkan perampok tersebut ke mobil yang dibawa Earon dari AKLA, diparkir
tak jauh dari tempat kejadian tersebut.
Sesampainya di sana,
perampok tersebut segera dimasukkan ke dalam mobil untuk di bawa ke kantor
polisi bersama Earon.
“Kurasa, kita bisa jadi
rekan kerja yang sempurna. Jika saja kau mau ikut denganku, aku akan sangat
senang bisa bekerja sama denganmu.”
Jordan pun tertawa kecil
pada Earon.
“Kau berbicara seperti itu
bukan atas dasar apa yang telah kita lakukan tadi, ‘kan?”
“Menurutku, gerakanmu boleh
juga, Jordan.”
“Sebenarnya, tadi itu
hanyalah refleks yang kebetulan, bukan suatu keterampilan.”
“Aku tahu mana refleks yang
kebetulan dan yang terampil. Dan menurutku, refleksmu cukup terampil.
Bagaimana, kau mau ikut denganku?”
“Aku masih senang dengan pekerjaanku yang
sekarang. Lagi pula, kau lebih ahli dalam memburu para penjahat. Takutnya jika
aku ikut denganmu, justru aku membiarkan penjahat itu semakin berkeliaran,”
ucap Jordan sedikit bercanda.
Earon tertawa mendengarnya.
“Baiklah kalau begitu, aku
tak akan memaksamu. Aku harus pergi sekarang,” kata Earon.
“Berhati-hatilah, Earon!”
Earon tersenyum padanya,
lalu masuk ke mobil.
Sementara itu, Jordan
berjalan kembali ke toko. Dalam perjalanannya, sambil melihat orang-orang yang
melintasinya, Jordan tampaknya merenungkan sesuatu yang terasa berbeda baginya.
Entah apa, dia belum mengetahuinya secara pasti.
Jordan masih dalam keadaan
merenung sambil melihat seorang wanita kantoran yang sibuk berbicara dengan
seseorang di balik teleponnya, berjalan berpapasan dengannya. Pandangan Jordan
mengikuti arah jalannya wanita tersebut hingga seketika renungannya langsung
menghilang saat dia menabrak pohon yang cukup besar, berada tepat di depannya.
“Aw! Egh!” katanya lirih.
Dia merasa kesakitan di
sekujur wajahnya, terutama pada dahinya. Kenapa pohon ini tumbuh di sini,
pikirnya agak kesal seraya menekan-nekan dahinya yang sakit dengan tangan
kanannya. Bukanlah suatu kesengajaan pohon tersebut tumbuh di sana. Pohon yang
berdaun rindang itu sudah tertanam dengan sendirinya dan merupakan pohon tertua
yang tumbuh di tengah trotoar kota Losapins. Mereka juga sering mengatakannya
sebagai pohon perintis, menginspirasi masyarakat kota Losapins untuk mengadakan
penghijauan pada tempo dulu. Jordan masih berdiri sambil memandang pohon
tersebut ke atas. Tanpa pikir panjang, dia segera menurunkan pandangannya
kembali dan melangkahkan kakinya, walaupun dalam hatinya ada sedikit rasa malu.
Sementara Vurpia yang masih
disibukkan dengan lembaran kerjanya, menyadari bahwa Earon tak kelihatan
setelah dia meninggalkannya dari ruang kerjanya. Dia mencarinya ke seluruh
ruang gedung perkantoran, tapi tidak ada. Bertanya pada rekan-rekan yang lain,
tapi tak satu pun yang mengetahuinya. Entah kenapa Vurpia sangat ingin
menemuinya tanpa sebab yang jelas. Raut wajahnya mulai gelisah. Dia tampak
bimbang, berdiri di ruang kerja Earon sambil menatap busurnya di atas meja.
Namun tiba-tiba, dia dikejutkan oleh seseorang yang memanggil namanya.
“Mmmm, Vurpia.”
Vurpiapun menoleh ke
belakang. Dia begitu lega melihat Earon berada di depan matanya.
“Earon! Dari mana saja kau?
Aku dari tadi menca….”
“Ini untukmu,” sela Earon
sambil menyerahkan bunga yang menyerupai tulip, bermahkota warna emas
transparan sehingga tampak benang sarinya, “Jika kau tidak menyukainya, aku
bisa belikan yang lain.”
Vurpia tampak terkejut
melihat pemberian Earon.
“Aones. Bunga terindah yang
memiliki ketahanan kuncup selama enam bulan. Tapi sangat mematikan saat dia
benar-benar mekar. Kau tak berencana untuk membunuhku kan, Earon?”
“Apa?! Tentu saja tidak.
Aku, aku, aku hanya….”
Lalu, Vurpia menampakkan
senyumannya pada Earon yang perasaannya masih gelisah apakah bunga itu akan
diterima atau ditolak olehnya.
“Bagaimana kau tahu aku
sangat menyukai aones?” tanyanya seraya menerima bunga aones tersebut.
“Benarkah?” sahut Earon
kegirangan, “Uh, maksudku tebakan. Itu hanyalah tebakanku. Dan tebakanku selalu
benar.”
“Tebakan? Bagaimana kau bisa
menebaknya dengan bunga aones?”
“Itu karena kau adalah wanita
yang berbeda dari yang lainnya. Jadi, kupikir kau pun suka bunga yang berbeda,
yang tidak sering digunakan oleh orang-orang sini, hihi,” rayu Earon.
“Jadi maksudnya, kau
mengambil gambaran bunga aones karena pikiranmu yang seakan mengenal bunga
aones sebelumnya atau memang benar-benar sekedar tebakan?”
“Aku sudah mengenal bunga
aones sejak dulu.”
“Tidak, tidak. Maksudku,
pikiranmu yang ingin menuju ke bunga aones atau memang tebakan biasa?”
“Hah?”
Earon merasa bingung dengan
pertanyaan tersebut. Namun, Vurpia tampaknya benar-benar ingin mengetahui
jawaban atas pertanyaannya.
“Uh, begini saja. Jika kau
memang menyukai bunga ini, cukup kau terima saja tanpa harus kujawab
pertanyaanmu. Bagaimana?”
“Kenapa begitu?”
“Karena, aku tidak mengerti
apa yang kau bicarakan?!”
Vurpia langsung terdiam
menatap raut wajah Earon yang sepertinya benar-benar tidak mengerti yang dia
tanyakan. Sejenak suasana terasa sunyi.
“Jadi, benar-benar tebakan
biasa, ya?” tanyanya lagi dengan wajah keingintahuannya.
Earon mengembuskan napas.
“Iyyyyyyaaaaa, terserah kau
saja mau jawaban seperti apa, yang penting kau menyukainya,” jawabnya sambil
tersenyum.
“Bagus. Terimakasih. Earon,”
ucap Vurpia yang langsung pergi dari hadapan Earon, meninggalkan ruang
kerjanya.
Earon begitu merasa senang,
akhirnya dia dapat memberikan sesuatu yang disukai oleh Vurpia. Dia pun
memikirkan akan memberikan sesuatu yang lain lagi padanya, tentu dengan bantuan
Jordan, orang yang membuat rencana pertamanya berhasil.
No comments:
Post a Comment