CHAPTER 3: BURONAN KELAS ATAS


Sore hari sehabis pulang kerja, Jordan bersama dua temannya menghampiri rumah seorang wanita tua yang letaknya berada di daerah perbatasan desa Wesnoreast, namun jaraknya lebih dekat ke kotanya. Jordan mengetuk pintu rumah wanita tua itu. Hingga ketukan keduanya, terdengar teriakan wanita tua itu dari dalam berkata, “Masuklah! Pintunya tidak dikunci!”

Tanpa basa-basi, Jordan memutar gagang pintunya, dan membukanya secara perlahan. Lemparan sebuah guci pun langsung mengarah pada Filhener yang berdiri di sisi kanan Jordan. Beruntung, dia mampu menghindarinya. Seluruh pandangan ketiganya menuju pada guci yang jatuh di dekat pot bunga halaman depan.

“Kenapa tak kunjung datang kemari?! Tidakkah kalian tahu, aku sendiri di sini menunggu kalian?!” bentak wanita tua itu.

Mereka bertiga hanya terdiam di depan pintu melihat kemarahan wanita itu. Namun sesaat kemudian, amarahnya mereda ketika melihat seikat mawar putih berada pada genggaman tangan Jordan yang diangkat setinggi perutnya. Lalu, dia mendekati Jordan dengan senyuman.

“Oh, Jordan, Anakku!” ucapnya sambil memeluk Jordan erat-erat, “Aku senang kau datang kemari, Nak. Aku sangat merindukanmu.”

“Sudah menjadi kewajibanku untuk terus menjenguk Bibi, bukan?”

Wanita tua yang dikenal sebagai Delarmy Miguveer itu melepaskan pelukannya.

“Apa bunga ini untukku?” tanyanya.

“Pura-pura tak tahu,” gumam Wergon.

“Kalau bukan untuk Bibi, lalu untuk siapa lagi,” jawab Jordan lembut.

Delarmy menerima bunga tersebut seraya tersenyum.

Namun, sedikit demi sedikit wajahnya mulai tampak gelisah saat menatap wajah Jordan. Tangannya yang kasar dan keriput, mengusap wajah sisi kirinya.

“Kau sudah besar dan…, semakin tampan,” katanya menatap Jordan sambil tersenyum gelisah.

Jordan terdiam cemas, namun tetap mencoba untuk menampilkan ekspresi ketenangan pada raut wajahnya.

Kemudian usapannya merambat ke bahu dan lengan kirinya yang tertutup oleh sarung tangannya yang selalu Jordan pakai. Hingga akhirnya, tangan wanita itu membalikkan telapak tangan kiri Jordan. Dia melihat telapaknya dan semakin bersedih seakan ingin meneteskan air mata.

“Apa Bibi baik-baik saja?” tanya Jordan khawatir.

Delarmy hanya diam menunduk, mengangkat salah satu tangannya untuk mengusap air mata yang hampir menetes.

Suasana terasa hening sejenak. Namun, Filhener tampaknya mulai merasa bosan karena situasi tersebut. Sepertinya, dia pun ingin mengatakan sesuatu.

“Maaf, Bibi Delarmy. Tak bisakah kita lanjutkan perbincangan ini di dalam sambil duduk dan minum teh?” ucap Filhener memecah suasana.

“Bagus sekali, Fil. Sebenarnya, itulah yang ingin kukatakan sejak tadi,” sahut Wergon riang.

Delarmy kembali mengangkat kepalanya dan tertawa kecil.

“Kau benar. Seharusnya aku tidak membiarkan kalian berdiri di sini,” katanya.

“Yah, dan tak seharusnya pula Bibi melemparkan guci ke arah wajahku.”

Mereka bertiga mulai berjalan masuk ke dalam rumah.

“Siapa yang melempar guci ke wajahmu?” sahut Delarmy seraya menutup pintu rumahnya.

Di malam yang terasa cukup dingin tersebut, kesunyian di sekitar rumah Delarmy membuat gurauan mereka terdengar dari luar.

“Alasan apa lagi yang akan Bibi katakan kali ini?”

“Aku memang tidak melakukannya, Filhener. Aku hanya melempar guci ke arah pintu dan aku pun tak tahu ke mana guci itu akan melandas. Sekalipun guci itu melandas ke wajahmu, jangan salahkan aku, karena itu sudah menjadi nasibmu.”

“Nasib? Apakah nasibku selalu dihadapkan pada benda-benda yang mengarah kepadaku?” gerutu Filhener.

“Sudahlah, Filhener. Kita nikmati saja kebersamaan hidup kita ini,” ujar Jordan.

“Aku beruntung memilikimu, Jordan.”

Pukul 20.04 waktu setempat, Earon masih disibukkan dengan beberapa lembaran yang dibundel menjadi satu stopmap, duduk di kursi, membolak-balik setiap halaman lembaran tersebut di atas meja kerjanya. Saat itu pula, Lytro mendatanginya, masuk ke ruangannya, dan melihat ketekunan yang dilakukan oleh Earon tersebut.

“Kau baru saja kembali. Alangkah baiknya jika kau istirahat terlebih dahulu,” ujar Lytro.

“Aku tidak akan pernah tenang sebelum aku mengetahui pesta apa yang telah kalian lakukan tanpa diriku,” kata Earon sambil melihat halaman yang ia buka.

“Kau tidak perlu khawatirkan itu. Kujamin, setelah kau melihat arsip-arsip itu, maka kau akan terkesan.”

Earon berhenti melihat arsip itu sejenak, lalu mengarahkan pandangannya ke Lytro.

“Bagaimana kalian bisa melakukan semua ini? Hampir semua buronan kelas atas dalam waktu dua bulan ini tertangkap.”

“Aku punya resep rahasianya,” gurau Lytro.

Earon tersenyum hingga tampak gigi-giginya.

“Bagaimana kalau aku minta tolong padamu untuk mencari seseorang?”

“Siapa?” tanya Lytro penasaran.

“Kau tahu siapa dia. Seseorang yang pernah menghancurkan hidupku.”

“Owh, dia. Tak kusangka kau masih menyimpan dendam padanya.”

Lytro melihat Earon terdiam dengan pandangan kosong ke halaman yang dia buka, seakan ingin meluapkan amarahnya setiap mengingat orang tersebut.

“Tapi, baiklah. Aku pun ingin tahu seperti apa wajah orang incaranmu itu,” katanya dengan lagaknya untuk sedikit menenangkan hati sahabatnya.

Earon menatap kembali wajah Lytro.

“Cari dia!”

Di meja kerjanya, di hadapan komputer kesayangannya, Lytro mencoba menemukan nama yang Earon berikan. Namun, terakhir nama tersebut dimiliki oleh seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun, sekitar dua belas setengah tahun yang lalu. Dia mencoba cara lain untuk menemukannya. Akhirnya, dia berhasil menemukan orang tersebut. Dalam raut wajah Lytro, dia tampaknya begitu terkejut dengan sosok yang ia lihat pada layar komputernya. Sekaligus matanya terbelalak dan berkata, “Tidak mungkin dia orangnya!”

Di halaman depan rumah Delarmy, Jordan dan bibinya berdiri di dekat pagar kayu yang tingginya satu meter, terdiam menikmati keindahan langit yang bertabur bintang dengan secangkir teh hangat yang masing-masing dipegang di tangan mereka.

“Jordan, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu,” kata Delarmy memecah suasana.

Pandangan Jordan berpaling pada Delarmy.

Delarmy mulai mengeluarkan sesuatu dari saku baju kanannya.

“Ini untukmu. Dan milikmu,” ucapnya seraya menunjukkan mainan lonceng kecil yang diikat dengan pita berwarna biru kepada Jordan.

Jordan tampaknya sangat terkejut melihat benda itu berada pada genggaman tangan bibinya.

“Kukira Bibi sudah membuangnya.”

“Bagaimana mungkin aku membuang benda pertama yang pernah kutemukan bersama dirimu?”

Jordan menatap Delarmy dengan pandangan gelisah.

“Aku tidak tahu apa aku sudah cukup kuat untuk memilikinya,” ucapnya.

“Itulah sebabnya aku memberikannya padamu. Karena aku tahu ada kekuatan yang lebih dari dalam hatimu,” jelas Delarmy, “Sini, berikan busurmu!”

Jordan pun memberikan busur yang ia sandang, bersama anak panahnya. Apa yang akan Bibi Delarmy lakukan terhadap busurnya, pikirnya penasaran. Lalu, Delarmy mengikatkan lonceng tersebut di ujung busurnya. Jordan pun tertawa melihat itu.

“Apa yang Bibi lakukan? Sungguh itu terlihat seperti mainan anak perempuan, Bibi. Aku tak mau busurku dianggap betina.”

Setelah Delarmy selesai mengikatkannya, dia mengembalikan busur itu kepada Jordan.

“Ini!” ucapnya seraya menyerahkan busur itu.

“Tapi, ini….”

“Jangan kau lepaskan!”

“Tidak mungkin aku membawanya….”

“Tak perlu bicara lagi!”

Jordan pun tak mampu mengelak permintaan bibinya tersebut. Dia mengambil kembali busur yang berada pada genggaman tangan Delarmy. Dia memutar busur tersebut ke kanan dan ke kiri. Dan wajahnya tampak cemberut saat dia mendengar suara gerincingnya setiap ada gerakan pada busurnya. Namun, Delarmy justru tertawa melihat ekspresi muka Jordan yang jarang sekali ia lihat tersebut. Lalu, tawanya sedikit demi sedikit memudar saat dia mengingat sesuatu, ketika melihat tatapan mata Jordan.

“Jordan, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku sendirian,” ucapnya mulai gelisah lagi.

Jordan langsung terdiam menatap wajah bibinya.

“Entah kenapa pertemuan denganmu kali ini membuatku sangat takut. Aku sangat takut kehilanganmu, Jordan. Aku sangat takut jika sesuatu terjadi padamu. Aku sangat takut jika masa lalumu akan kembali merenggutmu dari kehidupanku,” lanjut Delarmy.

Jordan tak tahu harus mengatakan apa. Dia mengusap-usap salah satu bahu Delarmy dan berkata, “Bibi tak perlu khawatirkan itu. Lagi pula, apa yang bisa terjadi padaku? Aku punya sahabat yang akan selalu melindungiku.”

Delarmy mengembuskan napas.

“Ya, kau memang beruntung memiliki mereka,” ucapnya agak tenang.

Jordan melepaskan pegangan bahu Delarmy dan tersenyum lebar padanya.

Kemudian, datanglah Filhener dan Wergon.

“Kita harus pergi sekarang!” kata Filhener mendekati Jordan.

“Baiklah. Aku harus pergi sekarang, Bibi,” ujar Jordan.

“Kenapa kalian begitu tergesa-gesa? Kalian sudah lama tidak berkunjung di sini. Aku masih ingin bersama dengan kalian.”

“Satu minggu, Bibi. Tidakkah Bibi bosan melihat wajah kami terus setiap minggunya?” sahut Wergon.

Delarmy tersenyum.

“Siapa yang akan bosan jika selalu dijenguk oleh orang-orang kesayangannya?”

“Maaf, Bibi. Tapi, kami harus benar-benar pergi sekarang,” lanjut Jordan.

Delarmy menghela napas.

“Baiklah, baiklah,” tuturnya seraya mengambil cangkir yang berada pada genggaman tangan Jordan.

“Kami menyayangimu, Bi,” ucap Jordan seraya memegang kedua bahu Delarmy, lalu mencium dahinya.

Jordan, Filhener, dan Wergon pun pergi meninggalkan Delarmy. Saat mereka bertiga menutup pintu pagarnya, Delarmy berseru, “Sering-seringlah datang kemari, Anak-anak!”

Jordan tersenyum lebar sambil melambaikan tangan sebagai tanda selamat tinggal dan jawaban atas seruannya.

“Aku baru tahu kalau busurmu betina, Jordan,” ejek Filhener.

“Diamlah!” sahut Jordan agak kesal.

Delarmy tersenyum mendengar gurauan mereka yang masih terdengar dari kejauhan. Namun, dia masih tampak resah akan perasaan yang ia rasakan terhadap Jordan.

Malam itu pula, Lytro berjalan tergesa-gesa menuju ruang kerja Earon. Dia segera memperlihatkan wajah orang yang Earon cari.

“Earon! Kujamin kau tak akan percaya akan hal ini,” ucapnya seraya menyodorkan foto orang tersebut di atas lembar kerja Earon.

Earon mengerutkan keningnya saat dia melihat foto tersebut.

“Apa kau yakin dia orangnya, Lytro?” tanya Earon masih ragu.

“Tentu saja. Aku mencarinya dari nama bayi sampai orang yang sudah meninggal. Beruntung, nama itu hanya ada satu di Losapins. Nama yang terakhir dipakai sejak dua belas setengah tahun yang lalu. Lalu aku menelusurinya lebih dalam, hingga kutemukan orang ini. Dan nama sekarang yang ia pakai adalah Fordien Charevins. Dia pernah menduduki peringkat pertama dalam daftar penjahat buronan kita. Dia sangat berbahaya, Earon. Kabarnya kini dia membuat racun yang sangat mematikan. Sedikit saja kau kena racunnya, hidupmu bagai telur di ujung tanduk.”

“Aku tahu dan aku tidak terkejut akan hal itu. Memang seperti itulah dia, sangat licik. Beruntung aku dulu tahu siapa dia sebenarnya sebelum aku masuk ke dalam perangkapnya. Terimakasih telah menemukannya, Lytro.”

“Kuanjurkan kau untuk tidak menangkap dia sendirian. Ajaklah aku atau siapa pun yang kau percayai.”

Earon tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Kembali Earon membuka lembaran kerjanya dan menyingkirkan foto Fordien ke sisi stopmap-nya.

“Ngomong-ngomong, siapa mereka bertiga?” tanya Earon sambil menunjukkan rekap daftar buronan terbarunya, “Di sini dijelaskan bahwa ada tiga orang yang tiba-tiba masuk dalam daftar penjahat buronan kelas atas dan mereka telah menduduki peringkat pertama setelah mencuri barang-barang berharga selama dua bulan ini, di mana tempat penyimpanan barang-barang berharga tersebut sangatlah sedikit yang mengetahuinya. Yang mengagumkan lagi adalah tak seorang pun yang mengetahui bagaimana rupa mereka.”

Tanpa pikir panjang, Lytro mengambil lembaran itu dari hadapan Earon.

“Mereka bertiga adalah urusanku,” ucap Lytro.

Earon langsung bangkit dari kursinya. Dia berdiri dihadapan Lytro yang berada di depan mejanya.

“Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui sedikit pun tentang mereka?!”

“Yang jelas mereka bersenjata pistol, tongkat, dan yang satunya berbusur. Dan mereka baru saja mencuri tulang lebah madu di perpustakaan yang memiliki pengamanan ketat dengan jebakan yang super mematikan. Tapi, mungkin tidak bagi mereka.”

 “Kau pikir aku percaya hanya dengan itu mereka bisa membuat rencana yang sempurna?”

“Aku barulah membahas tentang sengatan utama mereka. Mungkin juga mereka membawa perlengkapan yang lain. Aku tidak tahu.”

“Aku ingin dalam waktu satu bulan ini, kau harus tahu siapa mereka.”

“Apa?! Sudah kubilang mereka urusanku. Jadi kau yang mentang-mentang menjabat sebagai pemimpin AKLA, tak berhak menuntutku untuk melakukan itu!”

“Whoa, whoa, kau ingin menghancurkan kepercayaan AKLA di depan publik!”

“Yah, biarkan AKLA hancur! Yang penting Losapins bisa damai.”

Mereka terdiam sejenak, saling memandang dengan tatapan tajam. Lalu, sedikit demi sedikit senyuman mereka saling tampak dan akhirnya tertawa bersama. Beberapa saat kemudian, setelah mungkin merasa kelelahan dengan tawanya, mereka melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berbeda.

“Tadi siang, dari mana saja dirimu? Kau pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas,” kata Lytro kesal.

“Aku baru saja membelikan sesuatu pada Vurpia.”

“Apa dia menyukainya?”

“Sangat suka.”

“Apa yang kau berikan padanya?”

“Bunga aones. Temanku, Jordan yang memilihkannya.”

Lytro mengerutkan keningnya.

“Jordan?” ucapnya.

“Maksudku, Jordan Miguveer.”

Lytro menatap wajah Earon yang tampak begitu bahagia saat menyebut namanya.

“Owh, jadi selama ini kau punya teman simpanan, ya?”

“Sebenarnya, aku pun belum begitu lama mengenalnya. Aku ingat hari itu. Sekitar tiga minggu sebelum kepergianku. Dia menolongku melumpuhkan kawanan penjahat yang mencoba mengambil koperku yang berisi dokumen rahasia kita. Jika suatu saat nanti kita bertemu dengannya, kuyakin kau tak kan pernah menyesal mengenal dirinya.”

Lytro terdiam.

“Sudah dulu, aku harus istirahat sekarang. Aku sangat lelah. Tolong juga rapikan mejaku,” ucap Earon seraya menepuk pundak Lytro dua kali, berjalan menjauh darinya menuju keluar pintu.

Lytro tetap terdiam. Namun, kecemasannya terlihat dari gerakan matanya, walaupun tak tampak sedikit pun kerutan pada dahinya.

Malam semakin terasa dingin. Di sepanjang jalan kota Losapins sudah tampak sepi. Kesunyian malam itu menyempatkan Jordan dan kedua temannya untuk mengadakan negosiasi dengan salah satu penjahat Losapins.

Di sebuah tempat, seperti gudang bekas yang besar, banyak pipa-pipa besi bekas tergeletak begitu saja dengan lampu-lampu gantungnya yang menyala redup. Jordan, Filhener, dan Wergon memasuki tempat tersebut dengan kostum malamnya. Mereka melihat beberapa orang sudah menyambutnya, mengelilingi mereka dengan kesiagaan senjata berpeluru yang mengarah pada mereka.

“Selamat datang, Para domba dalam serigala pun jadi,” kata salah seorang bersama dua orang pengikutnya yang berada di belakangnya, berdiri tepat di bawah sebuah lampu.

Jordan dan kedua temannya berjalan santai mendekati orang tersebut, namun mereka tetap waspada akan situasi di sekitar mereka.

“Apa kau membawa barang yang kupesan?” tanya orang itu.

Filhener melepaskan tas ransel yang ia gendong, lalu menyerahkannya pada Jordan.

“Pesananmu ada di dalam tas ini,” jawab Jordan tenang.

“Perlihatkan padaku!”

Jordanpun membuka tasnya dan memperlihatkannya dalam posisi tulang lebah madu berada di dalam tas tersebut. Setelah itu, dia menutup kancingnya kembali.

“Berikan padaku sekarang!”

“Di mana bayaran kami?”

“Kau serahkan benda itu, baru kuberikan uang yang kau minta.”

“Jika kau tidak mau benda ini, aku bisa membawanya. Lagi pula, bayaran yang kau berikan pada kami hanya sebagian kecil dari apa yang akan diperoleh dari benda ini jika ditukar dengan uang. Apa yang membuatmu sungkan untuk menyerahkan uangnya terlebih dahulu pada kami, Charevins?”

Fordien tertawa terbahak-bahak bersama dengan semua pengikutnya setelah mendengar ucapan Jordan tersebut.

“Dari sekian banyak penjahat yang pernah kutemui, kaulah yang berani berbicara seperti itu padaku.”

Kemudian, datanglah salah seorang pengikutnya membawa sebuah tas besar, berjalan mendekati Jordan, berhenti di depannya seraya memperlihatkan isi tas tersebut yang berupa uang jutaan losa (mata uang yang digunakan di Losapins, 1 losa = Rp 8.450,00). Lalu, dia meletakkan tas tersebut di depan Jordan dan kedua temannya, dalam kondisi yang masih terbuka.

“Sekarang, berikan tulang lebah madunya!” pinta Fordien lagi.

Jordan mengeluarkan tulang lebah madu dari dalam tasnya dan melemparnya kepada pengikut Fordien yang masih menunggunya di dekat tas berisi uang tersebut. Entah karena kurang terampil atau tidak konsentrasi, pengikutnya tersebut hampir saja meleset menangkap lemparan tulang lebah madu yang dilempar Jordan secara tiba-tiba.

“Hati-hati, Bung! Benda itu lebih berharga dari nyawamu!” ucap Fordien marah kepada pengikutnya tersebut.

Dengan perasaan takut, pengikut Fordien tersebut berjalan mendekati tuannya. Tangannya begitu gemetar saat dia menyerahkan tulang lebah madu padanya.

“Kali ini, kau beruntung masih kuberi kesempatan!” ujar Fordien seraya mengambil tulang lebah madu dari tangan pengikutnya tersebut.

Dia melihat-lihat tulang lebah madunya. Dia bolak-balik ke kanan, kiri, atas, maupun bawah.

“Aku sangat kagum dengan hasil kerja kalian. Kupikir, kalian tidak akan mendapatkan yang asli. Bagaimana kalian melakukannya?” tanya Fordien penasaran.

“Cukup nikmati saja hasilnya!” ketus Filhener yang sudah menjinjing tas yang berisi uangnya, “Ayo, kita pergi!”

“Tunggu!” ujar Fordien sesaat Filhener dan Wergon hampir memutar tubuhnya, “Tak semudah itu kalian pergi. Kalian harus pamit denganku terlebih dahulu.”

“Itu mudah. Kami pergi dulu, Bung!” ucap Wergon sambil melambaikan salah satu tangannya.

Lalu, dia membalikkan tubuhnya. Namun, ia terdiam sejenak sebelum melangkahkan kakinya, menoleh ke samping, dan tak seorang pun dari kedua temannya yang mengikuti gerakannya. Dia benar-benar tampak seperti orang bodoh, lalu memutar kembali pandangannya, berdiri tegap layaknya seorang jagoan.

Tatapan mata tajam Jordan lurus menuju Fordien.

“Jujur saja, aku ragu jika hanya kalian yang melakukan ini sendirian. Kalian harus tahu satu hal dari diriku. Jika sedikit saja aku meragukan seseorang, tak pernah kulepaskan dia sebelum aku mengetahui kebenarannya.”

“Apa yang kau inginkan?” tanya Jordan tenang.

“Salah satu dari kalian harus bertarung denganku.”

Suasana terasa hening sejenak. Wergon dan Filhener saling bertatapan muka sambil berpikir, siapa di antara mereka bertiga yang berani melawan orang beracun itu.

“Aku yang akan melawanmu,” jawab Jordan dengan lantang.

“Berhati-hatilah, Jordan! Kau tahu siapa dia. Dia seperti ular yang sangat berbisa,” bisik Filhener.

Saat pandangan Jordan sedang memperhatikan Filhener yang membisikkannya. Tiba-tiba sebuah anak panah meluncur mengarah padanya.

“Bersiaplah!” ujar Fordien sesaat setelah melepaskan tembakan busurnya.

Jordan pun begitu kaget, seketika dia menarik pedangnya, dan berhasil menjatuhkan anak panah itu. Sementara Wergon dan Filhener yang melihat serangan tersebut, hanya bisa terdiam gemetar.

“Jordan, ini bukan permainan lagi. Aku yakin setiap goresan darinya pasti mematikan,” tegas Wergon.

“Kini aku sedikit mulai percaya akan kemampuanmu,” kata Fordien.

Jordan meletakkan kembali pedangnya.

“Sekarang, bagaimana kalau kita main busur dengan busur?” lanjut Fordien.

Jordan mengambil busur dan sebuah anak panah. Matanya awas mengamati Fordien jika terjadi serangan dadakan. Filhener dan Wergon masih berdiri di kedua sisi Jordan.

“Kalian, tetaplah siaga! Aku tak percaya dia hanya ingin mengujiku,” bisik Jordan.

Tiga anak panah langsung meluncur mengarah pada mereka. Jordan melepaskan sebuah anak panahnya dan tepat mengenai salah satu mata panah Fordien. Dengan sangat cepat dia melepaskan lagi dua anak panahnya dan mengenai dua mata panah yang lain. Secepat itu pula, Fordien berlari mendekati Jordan. Kepalan tangannya melambung ke arah Jordan. Jordan pun menghindari serangan tersebut ke sisi yang lain.

Perkelahian dimulai. Mereka saling melepaskan anak panah mereka, menghindar, meninju, menendang, dan memanfaatkan kecepatan gerakan mereka masing-masing. Tak ada dari mereka yang terkena serangan tembakannya, namun tiga atau emapat kali mereka mendapatkan tendangan maupun pukulan satu sama lain.

Mereka berdua mulai kelelahan dibuatnya. Napas berembus keras-keras dari mereka yang menghentikan perkelahiannya sejenak. Fordien menatap mata Jordan yang juga menatap dirinya. Dalam kondisi yang demikian, Fordien memanfaatkan situasi tersebut. Dia segera mengambil tiga anak panah dan Jordan langsung bersiap pula. Namun, anak panah yang dilepaskan Fordien tertuju pada Filhener dan Wergon yang berdiri tak jauh di sisi kirinya. Jordanpun terperanjat, tak menduga bahwa Fordien mengarahkannya pada dua orang sahabatnya. Apa yang harus dilakukan, sementara tiga anak panah sudah meluncur cepat menuju mereka, pikirnya. Dengan cepat, kekhawatiran melanda hati Jordan.

Sementara Filhener dan Wergon masih berdiri gemetar di tempat itu. Mereka sadar penuh anak panah beracun semakin mendekati mereka. Namun, mereka berdua mencoba bersikap tenang. Ini seperti permainan yang biasa mereka lakukan, pikirnya. Sedikit lagi anak panah itu mengenai mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Wergon segera memainkan tongkatnya. Dia melumpuhkan anak panah tersebut dan berhasil melindungi Filhener.

Fordien begitu terkejut melihat ketangkasan mereka. Tak pernah ia perkirakan ada sekelompok orang yang memiliki gerakan demikian. Sesaat setelah Wergon menjatuhkan anak panah itu, Jordan dengan segera mengarahkan anak panahnya kepada Fordien yang sedang lepas konsentrasi. Fordien tak mampu bergerak lagi, melihat mata panah Jordan hanya tinggal ia lepaskan dan bisa langsung mengenainya. Kemudian, semua pengikutnya yang ada di sana pun mengarahkan ujung-ujung senjatanya, hanya tertuju pada Jordan.

Fordien tersenyum licik.

“Baiklah, kalian menang,” katanya.

Jordan menurunkan busur dan anak panahnya, diikuti oleh semua pengikut Fordien.

“Aku benar-benar tak percaya akan hal ini. Kalian punya bakat yang jarang kutemui.”

“Apa itu artinya kami boleh pergi sekarang?” ujar Wergon spontan.

“Tentu saja. Apapun yang kalian inginkan sekarang, kupersilakan dengan senang hati.”

“Aku ingin bertanya sesuatu,” ucap Jordan, “Kau menyebut kami dengan domba yang di dalam serigala pun jadi. Apa yang telah kau ketahui tentang kami?”

Fordien tertawa licik.

“Jordan Miguveer, itulah namamu. Atau kau mau kupanggil Jordan Kayshn. Itu nama bayimu.”

Jordan mengerutkan keningnya setelah Fordien menyebutkan nama aslinya.

“Dan kedua temanmu adalah Filhener Riphoman dan Wergon Rahafat. Kalian bertiga adalah anak-anak yatim piatu. Dan tak seharusnya pula kalian menutup wajah kalian, karena aku sudah tahu bagaimana rupa kalian.”

“Apa lagi yang kau ketahui tentang kami?” tanya Jordan penasaran.

“Aku lebih tahu semua tentang dirimu. Aku tahu latar belakangmu yang sebenarnya, sungguh menyedihkan,” jawab Fordien, “Jordan, kau punya semangat dalam dirimu, yang tak pernah kujumpai oleh orang-orang yang pernah kutemui sebelumnya. Kau seperti diriku. Masih muda dan sangat berbakat. Bergabunglah denganku, maka hidupmu akan bahagia.”

Jordan terdiam sejenak.

“Kau terdengar seperti mengancamku.”

“Memang benar. Aku sudah tahu kedok kalian. Tinggal kuberitahu pada media, lalu hidup kalian tak pernah lagi bisa berbaur dengan masyarakat.”

Jordan, Filhener, dan Wergon terdiam menatap Fordien. Tapi, Fordien malah tertawa kekeh melihat keresahan yang tampak dari tatapan mata mereka.

“Tenanglah, Tikus-tikus kesayanganku. Aku tidak akan melakukannya. Tapi, itu pun selama kalian masih berhubungan baik denganku.”

Fordien mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, lalu dia melemparkannya pada Jordan.

“Apa ini?” tanya Jordan penasaran terhadap sebungkus plastik yang berisi serbuk hitam, yang berada pada genggaman tangan kanannya.

“Itu adalah racun yang kubuat sendiri dan tak ada obatnya. Dan angka yang ada di labelnya adalah nomor rahasiaku.”

“Kenapa kau memberikannya padaku?”

“Entahlah. Mungkin karena kau tikus yang sangat istimewa. Atau mungkin kau ingin bereksperimen untuk menjadi yang paling jahat di Losapins. Aku bisa membantumu. Tapi, terserah mau kau apakan semua itu.”

Setelah menerima pemberian dari Fordien, Jordan dan kedua temannya keluar dengan perasaan yang bercampur antara lega dan keresahan.

“Beruntung kita tidak dibunuh olehnya,” ujar Wergon seraya berjalan bersama Jordan dan Filhener, mendekati mobil Avasone.

“Tapi, bagaimana kalau dia membongkar kedok kita?” sahut Filhener.

“Jangan khawatir, Teman-teman. Kita sudah mendapatkannya. Hanya tinggal sedikit lagi,” ucap Jordan dengan senyum muslihatnya.

Faisr terlihat terbang di atas mereka.

“Aku yakin Faisr sudah merekam semuanya,” lanjut Jordan.

Mereka bertiga tampaknya sudah cukup tenang atas keberhasilan negosiasi yang mereka lakukan malam itu. Mereka masuk ke dalam mobil, menempati kursi masing-masing yang biasa mereka tempati, dan mencoba melupakan ketegangan mereka sejenak.

No comments:

Post a Comment