Dari pagi hari yang berselimut kabut tebal dan udara dingin, merambat ke siang hari yang penuh dengan kehangatan cahaya surya. Kesempatan yang luar biasa itu, menyemangati masyarakat kota Losapins untuk giat menyelesaikan tugas tutup bulanannya.
Di sebuah rumah kecil
berlantai dua, dengan halaman yang dibatasi pagar batu kurang lebih setinggi
setengah meter, dihiasi rerumputan hijau muda, satu pohon berdaun merah di
salah satu sudut halaman depan dekat pagar, dan beberapa tanaman hijau tak
berbunga di sudut halaman lainnya serta jalan kecil lurus bersemen yang
menghubungkan trotoar dengan tangga lantai teras muka rumah. Dua sisi ruang
jendela untuk lantai dua yang menonjol sehingga tampak timbul di bagian atap
rumah, dengan satu cerobong asap perapian di dekat salah satu sisi jendela
tersebut. Faisr sibuk menggoda para merpati jantan mengumpulkan beberapa
patukan makanan untuknya di atap rumah penduduk kota Losapins tersebut.
Sementara para betina lainnya sepertinya kurang senang dengan kehadiran anggota
baru tersebut yang telah membuat mereka tersingkir dari kekasih-kekasihnya
dalam hitungan detik. Mungkin Faisr memang satu-satunya burung yang bisa
berpikir layaknya manusia. Dia membusungkan dada tinggi-tinggi saat para
pejantan menundukkan kepala mereka sambil meletakkan hasil patukan
masing-masing di dekat kaki mungilnya. Para betina yang melihat sikap Faisr
tersebut, hanya bisa diam terheran-heran dan mungkin jika mereka mampu
merangkai kata-kata dalam benaknya, kalimat itu akan menjadi Faisr adalah
bangsa burung paling tak waras sedunia. Di tengah kenikmatan menyombongkan
keahliannya itu, Faisr diganggu oleh seruan namanya.
“Faisr! Apa yang kau lakukan
di sana?!”
Faisr mencari-cari sumber
panggilan tersebut dan ternyata suara itu berasal dari seruan tuannya yang
masih berdiri di jalan bersemen halaman depan rumah kontrakannya, menggendong
sebuah ransel hitam, sambil mendongak memerhatikan tingkah kawanannya.
Tampaknya dia pun baru saja kembali dari kampus.
“Kau bisa menyumbat saluran
airnya lagi!” ujar Jordan.
Mendengar peringatan tuannya
tersebut, Faisr menyudahi kepamerannya. Kemudian, dia sedikit membuka kedua
sayapnya, menekuk kedua kakinya, lalu menundukkan kepalanya di depan para
pejantan. Setelah itu, dia juga melakukan hal demikian di hadapan para betina.
Mereka sangat tidak mengerti dengan sikap si anggota baru tersebut, bahkan
salah satu merpati jantan sempat melangkahkan kakinya untuk mendudukinya
sebelum akhirnya Faisr kembali menegakkan kembali tubuhnya. Tapi dari sikap itu
pula, mereka merasa bahwa Faisr pantas menjadi anggota kelompoknya. Setelah
Faisr terbang meninggalkan mereka untuk menghampiri Jordan, para merpati itu
kemudian langsung berebut makanan yang telah menggunung di hadapannya.
“Kau selalu melakukan itu
setiap kali kau mengundang tamu baru di atapku. Lain kali kau beritahu aku,
jadi bisa kutempatkan mereka di halaman belakang,” pinta Jordan setelah Faisr
bertengger di jari-jari tangan kanannya.
Wergon seketika muncul dari
belakang Jordan, lalu berkata, “Kenapa tidak langsung ditempatkan di kandang
saja biar bisa dijadikan lauk?”
“Ide bagus saat tanggal tua,
Wergon,” sahut Jordan seraya memindahkan Faisr ke dalam kandangnya di
pekarangan depan teras.
Faisr tidak terlalu
menghiraukan rencana manusia itu. Dia langsung menikmati biji-biji jagung yang
telah tersaji di wadah makanannya. Sementara Jordan dan Wergon berjalan masuk
ke rumah, bergegas mengganti baju, lalu pergi ke suatu tempat.
Di perjalanan yang padat
dengan kesibukan orang yang berlalu-lalang, Wergon dan Jordan menghadapi hal
yang cukup mengejutkan.
“Jadi, apa kau masih sering
sakit kepala melihat hal mengerikan itu lagi?” tanya Wergon dalam langkahnya.
“Kenapa kau peduli dengan
itu?”
“Setelah mengetahui kalau
Earon adalah pembawa pasangan hidup dari busurmu,” jawab Wergon agak cemas.
Jordan langsung menghentikan
langkahnya sambil menahan tawa mendengar ucapan Wergon tersebut, membuat Wergon
juga ikut menghentikan langkahnya.
“Ada banyak pemegang busur
tua seperti milikku, begitulah yang pernah kau katakan. Jadi, lupakan semua
itu! Lupakan kejadian aneh yang pernah kita alami! Mungkin itu juga karena
pengaruh pikiran kita yang terlalu resah terhadap masalah yang saat itu sedang
kita hadapi. Tapi jika kau masih saja ingin tahu jawaban atas pertanyaanmu, aku
merasa lebih baik semenjak semua terasa lebih baik.”
“Bagaimana mungkin aku bisa
melupakannya, sementara khayalan itu hampir mendekati kenyataannya?”
Wergon mengembuskan napas
disertai suara embusannya, lalu berlanjut, “Terkadang aku juga bingung,
bagaimana seharusnya aku menyikapi itu. Hal yang tidak masuk akal, sementara
itu tampak jelas dihadapanku. Kau pernah bilang kalau kau merasakan sesuatu
yang ganjil di sekitarmu. Baru-baru ini, aku juga mulai bisa merasakannya.”
Jordan diam sejenak.
“Seperti apa?” tanyanya.
Seketika itu pula, ada
seorang gadis yang berusaha mengejar seorang pria. Dia tampak begitu sedih dan
marah kepada pria itu. Saat keduanya berpapasan dengan Jordan dan Wergon yang
berdiri memerhatikannya, si gadis itu pun berhasil meraih pundak pria itu, lalu
menariknya. Si pria yang tampaknya juga kesal dan gerah, akhirnya memalingkan
pandangan pada gadis itu.
“Beraninya kau
meninggalkanku hanya demi perempuan tak jelas itu?!” pekik gadis itu dalam
tangisannya.
Pria itu menjawabnya dengan
lantang, “Iya! Lalu, kenapa kalau aku seperti itu?!”
“Aku mencintaimu. Aku selalu
berkorban untukmu. Tapi, kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kesalahan apa
yang telah kulakukan hingga membuatmu begini?”
Gadis itu menangis semakin
menjadi-jadi hingga menutup mukanya dengan kedua tangannya. Namun, si pria
justru sama sekali tidak tersentuh hatinya melihat kesedihan yang dialami gadis
tersebut.
“Kau membosankan. Aku sudah
jemu melihatmu. Itulah kesalahan terbesarmu!”
Wergon dengan mulut
menganga, bersama dengan Jordan yang melihat kejadian itu sekitar tiga kaki
darinya, hanya bisa diam menikmatinya.
Setelah mendengar ucapan
pria tersebut, gadis itu menurunkan kedua tangan dan mengangkat mukanya.
“Alasan itukah yang
membuatmu tega melakukan ini padaku?”
“Ya, sungguh besar
kesalahanmu kan, karena tak punya daya tarik terhadapku lagi?”
Wanita itu diam menghentikan
tangisannya sambil berpikir sejenak.
“Heheh, kau tahu betapa
tenangnya hatiku mengetahuinya,” katanya.
Pria itu mengerutkan
keningnya.
Sambil menunjuk ke arah muka
si pria, gadis itu melanjutkan ucapannya, “Dengar, Buaya darat! Sedikit pun aku
tidak menyesal dengan keputusan ini! Pergilah! Semakin banyak perempuan yang
kau khianati, semakin kau merasa kesepian! Akan ada banyak dari mereka yang
akan membalas kepedihannya padamu, termasuk aku! Tunggu pembalasanku!”
Setelah memberikan tatapan
yang penuh dengan dendam dan kemarahan, gadis itu membalikkan muka, lalu
melangkah pergi meninggalkannya. Sementara si pria merasa begitu malu dan
terhina disebut-sebut demikian di depan umum. Maka untuk menutupi kesalahannya,
dia berbalik mengoloknya, sekalipun tidak dipedulikan.
“Aku tidak takut! Justru aku
senang akhirnya bisa keluar dari permainan cinta palsumu itu! Aku bisa mencari
gadis lain yang lebih baik darimu!”
Banyak orang yang
menghentikan langkahnya mengamati kelakukan dua orang itu, namun tidak sedikit
pula yang memerhatikannya saat melewatinya saja, bahkan ada yang tidak
menghiraukannya sama sekali. Dan dari sekian banyak orang tersebut, Wergon dan
Jordanlah yang paling menikmati pertunjukannya.
“Apa yang kalian lihat?!”
pekik pria itu kesal pada Wergon dan Jordan yang menatapnya sedemikian rupa.
Wergon langsung melepaskan
perhatiannya sejenak seraya mengedipkan mata.
“Uh…hahahah, tidak ada.
Hanya menumpang pandang saja,” sahut Wergon agak gugup.
Karena tidak mau mencari masalah lain, pria itupun pergi
mengambil arah yang berlawanan dari jalan yang diambil gadis itu sebelumnya.
Jordan dan Wergon masih
memerhatikan setiap langkah yang dilakukan pria itu. Berjalan dengan sikap
tubuh yang tegang dengan kedua tangan yang mengepal kencang. Sekali dia juga
mengayunkan salah satu kepalan tangannya di depan dada ke udara, sebagai wujud
kedongkolannya pada keadaan yang baru saja terjadi.
“Mungkin itu tadi salah
satunya,” kata Wergon tiba-tiba, “Tidak, tidak. Maksudnya, itu memang sudah hal
yang biasa, tapi di balik itu yang tidak terlihat. Sulit sekali
mengungkapkannya. Itu terlalu rumit.”
Sambil menepuk salah satu
bahu Wergon, Jordan berkata, “Jangan khawatir. Semua sudah ada dalam rencana.”
Wergon memalingkan
pandangannya pada Jordan. Dia menatapnya seolah-olah Jordan begitu yakin dengan
ucapannya itu.
“Biar kutebak, kau tak ingin
aku mengetahui rencanamu itu. Kan?”
Jordan memberikan senyuman
lebar padanya.
“Aku perlu itu untuk
melakukannya. Tapi kau akan selalu ada dalam rencana itu,” sahutnya.
“Begitulah dirimu.
Semisterius dengan jalan pikirannya. Tanpa orang tahu kapan pula kau
membuatnya.”
“Ayo! Vuklir pasti sudah
lama menunggu kita.”
Mereka berdua kembali
melangkahkan kakinya dan sejenak melupakan masalah yang baru saja dibicarakan
itu.
Di Lithings Shop.
Sambil berdiri bertopang
dagu di atas meja kasir dan menonton siaran televisi yang disangga oleh besi
yang dipasang pada dinding setinggi kurang lebih setara dengan batas ketinggian
pintu, Vuklir sepertinya menantikan sesuatu yang membuatnya merasa bosan.
Terdengar suara pintu tokonya yang terbuka, mungkin kedatangan pelanggannya
lagi, pikirnya. Namun, dia pun segera melepas kebosanannya setelah melihat
kehadiran Jordan dan Wergon yang dikira pelanggannya itu.
“Akhirnya,” ucapnya dengan
napas lega seraya melepaskan topangan dagunya, “Apa terjadi kemacetan di
trotoar?”
Jordan hanya tersenyum
menerima gurauan atau mungkin justru sindiran dari Vuklir tersebut.
“Tidak juga. Kami hanya
terlalu menikmatinya,” ujar Wergon.
Dengan pandangan yang
disibukkan oleh kedua tangan yang mengemas sesuatu ke dalam tas coklat
gelapnya, Vuklir dengan geram menyahut, “Terlalu menikmatinya hingga lupa kalau
aku sudah menunggu kalian selama setengah jam lebih? Beruntung Horcu masih
meninggalkanku di sini. Jika aku seperti dia, siapa yang akan bertanggung jawab
jika tokonya hanya tinggal nama?”
Jordan dan Wergon langsung
mengumpat tawa mendengar gerutu Vuklir tersebut.
“Baiklah, kami minta maaf,”
kata Jordan seraya bertukar tempat dengan Vuklir.
Setelah memakai jaket dan
mencangklong tasnya, Vuklir bergegas untuk pulang. Namun, sebelum dia
berpamitan pada Wergon dan Jordan, tiba-tiba siaran berita di televisi
mengalihkan perhatian ketiganya.
“…. Awalnya pot yang
digantung di teras tidak sengaja jatuh dan menewaskan seekor kucing. Pemilik
rumahpun meminta maaf kepada pemilik kucing dan menyatakan bahwa itu hanya
kecelakaan. Namun, justru mendapat respon yang tidak baik dari si pemilik
kucing hingga akhirnya si pemilik kucing itupun membalasnya dengan menangkap
beberapa ayamnya lalu menenggelamkannya dalam ember. Aksi balas dendam dan
tuduh menuduh tersebut, membuat mereka saling melaporkannya kepada pihak
berwajib. Namun, karena kasus mereka yang dianggap terlalu sepele, polisi
justru membawa kedua tetangga dekat itu ke rumah sakit untuk diperiksa terlebih
dahulu kejiwaannya. Hal serupa juga dialami….”
“Sangat menggelikan,” ucap
Wergon memecah suasana, diikuti oleh pandangan Jordan dan Vuklir yang langsung
berpaling padanya, “Sepertinya orang-orang sudah mulai tidak tercukupi
kebutuhan jiwanya.”
“Ya, kurasa itu hal yang
wajar. Selama mereka punya alasan untuk melakukan dendamnya, aku mendukungnya,”
sahut Vuklir dengan nada guraunya.
“Tidak ada yang membenarkan
untuk melakukan pembalasan dendam dalam alasan apapun. Itu melanggar hukum,”
kata Jordan.
“Terkadang hukum tidak tahu
apapun tentang kebenaran. Selama alasan itu masih bisa dilogika, maka benar
pula bentuk dendam itu.”
Jordan melihat ekspresi wajah
Vuklir yang tampak serius memperdebatkan pendapatnya.
“Dendam hanya akan membawa
kehancuran bagi diri orang yang melakukannya.”
“Lalu, bagaimana jika
menghadapi orang yang bersikeras ingin menyerang kita, sementara hukum tidak
memihak kita? Satu-satunya jalan untuk menghentikan orang itu, tentu dengan
memberinya sedikit pelajaran, setidaknya agar dia sadar seberapa besar
kesalahannya dibanding kesalahan yang pernah kita lakukan padanya. Bukankah itu
akan menjadi adil, Jordan?”
Jordan mulai merasa kesal
dengan nada bicara Vuklir, tapi dia tetap menahan rasa kekesalannya dengan
menampilkan wajah tenang dibalik keseriusannya.
“Aku tidak mengerti
maksudmu,” sahutnya.
“Kalau begitu kau bisa
mengambil alasan untuk pertahanan diri. Itu akan cukup adil bagimu dan baginya.
Hukum pun akan memberikan keringanan atau bisa jadi pengampunan pada dirimu.
Terlebih kau merasa tak pernah melakukan kesalahan apapun padanya. Jadi, itu
akan sangat adil dan tidak akan pernah ada seorang pun yang menyalahkanmu.”
Suasana terasa hening
sejenak. Jordan dan Vuklir saling bertatapan mata, sementara Wergon diam
memerhatikan perdebatan itu.
“Kenapa kau tidak pulang
saja? Bukankah kau tadi kesal karena kami telah mengambil jam santaimu? Jangan
membuatku meminta maaf untuk yang kedua kalinya,” pinta Jordan.
“Haaahhh, kau benar,” ucap
Vuklir seraya melepas pandangannya dari Jordan, “Kalau begitu, aku pulang dulu.
Sampai bertemu lagi.”
“Berhati-hatilah,” kata
Wergon.
Setelah Vuklir keluar dari
pintu dan tidak membekas keberadaannya, Jordan masih saja diam memikirkan
sesuatu.
“Jujur saja, sejak awal aku
tidak suka dengan orang itu,” ucap Wergon yang memecah pikiran Jordan.
“Kau baru mulai bekerja hari
ini, Wergon. Kau juga baru pertama bertemu dengannya.”
“Aku tahu itu. Dia bahkan
tidak menanyakan namaku, seolah dia sudah tahu tentang diriku atau mungkin
tidak mau tahu tentang diriku. Seakan yang terpenting dalam pembicaraannya
adalah dirimu,” gerutu Wergon, “Ngomong-ngomong, apa kau telah memberitahu
masalahmu padanya?”
“Tidak. Tidak sama sekali.”
Wergon hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ringan seraya sedikit mengerutkan
dagunya.
Saat itu juga, terdengar
suara pintu toko yang terbuka. Terlihat seorang pelanggan wanita tua tersenyum
ramah pada Jordan dan Wergon, membuat keduanya teralih perhatiannya untuk
melupakan pembicaraan yang tidak terlalu penting tersebut.
Suatu ketika dalam cuaca
sore yang mendukung, Delarmy sibuk di dapur, membuat adonan kue dalam jumlah
sedikit, yang sepertinya memang sengaja untuk dinikmatinya sendiri. Setelah
adonan itu dicetak dalam bentuk cetakan kecil-kecil di atas loyang, kemudian
dia memasukkannya ke dalam oven, menunggu hingga adonan itu masak. Dalam
penantiannya itu, Delarmy duduk di sofa sambil membaca majalah, dengan setelan
acara televisi yang tidak tertonton. Saat itu pula, terdengar ketukan pintu
rumahnya. Diapun bangkit dari duduknya untuk segera menghampirinya.
Perlahan dia memutar gagang
pintu tersebut, lalu membukanya. Dia terkejut ketika melihat seseorang yang
pernah bertemu sekali itu, terpampang lagi di hadapannya, terlebih dia berdiri
seorang diri.
“Earon!” sambutnya bahagia.
Earon tersenyum membalasnya,
seraya memberikan seikat bunga mawar putih padanya. Dengan senang hati, Delarmy
menerima bunga itu. Namun, ada yang membuat Earon terheran-heran ketika melihat
kedua tangan Delarmy, hingga rasa penasaran itupun mewujudkan sebuah
pertanyaan.
“Bibi. Apakah Bibi sudah
kehabisan guci?” guraunya.
“Kau pikir aku akan
melemparkan guci padamu? Itu sebabnya kau membawakan bunga ini untukku?”
Earon diam tersenyum,
sementara Delarmy justru menertawakannya.
“Hahaha…, aku hanya
melakukannya untuk mengembalikan kenangan pada tiga putra kesayanganku dan
hanya kulakukan saat kedatangan mereka saja.”
Dalam tawanya yang perlahan
melebur menjadi senyuman, Delarmy melihat-lihat sekelilingnya, barangkali ada
teman yang bersamanya yang masih tertinggal di belakang.
“Kau tidak bersama Jordan?”
tanyanya.
“Tidak, Bibi. Aku datang
sendirian.”
“Kalau begitu, masuklah.
Masuklah, Nak!” ajak Delarmy.
Tidak lama setelah Delarmy
mempersilakan Earon duduk di ruang tamu dan meletakkan bunganya di atas sofa
ruang keluarga, kue yang dimasaknya telah matang. Hal yang sangat tepat baginya
untuk memberikan sedikit kehangatan suasana sambil dinikmatinya dengan seduhan
teh manis hangat. Setelah kue dan dua gelas teh tersaji di atas meja, Earon
segera menjelaskan maksud kedatangannya.
“Uh, Bibi,” ucapnya ragu,
“Jadi, kedatanganku kemari adalah….”
“Minumlah dulu tehnya! Itu
akan membuatmu sedikit nyaman,” kata Delarmy tersenyum, yang duduk berhadapan
dengan Earon.
Earon menarik napas dan
mengembuskannya secara perlahan.
“Bibi, bagaimana Jordan bisa
tinggal bersama dengan Bibi?”
“Bukankah aku pernah
menceritakannya padamu?”
“Maaf, Bibi. Bukan maksudku
lancang, tapi aku benar-benar ingin tahu, bagaimana Bibi menemukan Jordan?”
Sekejap senyuman Delarmy
langsung melebur.
“Apa yang telah kau ketahui
tentang dirinya? Siapa kau sebenarnya?” tanya Delarmy ketakutan.
Melihat kegelisahan Delarmy,
Earon menunjukkan sikap sukanya.
“Bibi tak perlu khawatir.
Aku hanyalah sahabat Jordan yang terlalu ingin tahu tentang dirinya. Aku pernah
mendengar itu dari salah seorang buronan yang telah dieksekusi.”
“Buronan?!” kata Delarmy
terkejut, “Jadi, kakaknya adalah seorang penjahat?”
Earon mengerutkan keningnya.
“Maksud Bibi, kakak Jordan?
Siapa dia?” lagaknya tak tahu.
“Volan. Dia yang telah
menyakiti Jordan. Dia yang membuat Jordan menderita.”
Delarmy menarik napas untuk
memulai kisahnya kembali.
“Fajar itu, aku masih ingat
betul saat pertama kali mendengar suara tangisan Jordan. Dia sendirian, menahan
rasa sakitnya di tepi sungai tak jauh dari kebun belakang. Dia terus
mencelupkan luka di tangannya ke dalam air, tapi darah tak henti-hentinya
mengalir. Lalu, kubawa dia ke rumah untuk kuobati. Dia anak terkuat dan paling
keras kepala yang pernah kutemui. Dalam keadaan luka seperti itu, dia masih
saja bisa menegakkan badannya. Berdiri dan berjalan. Bahkan, dia tidak mau
kugendong. Dia masih terlihat sangat takut jika menemui seseorang. Tapi, kucoba
meyakinkannya kalau aku bukanlah nenek sihir. Aku juga sempat mendengar kalau
keluarganya mencarinya. Melihat kondisi Jordan seperti itu, kuputuskan untuk
menyembunyikannya terlebih dahulu, dari siapa pun. Dan keputusan itu memang
yang diinginkan oleh Jordan. Untuk itulah, dia menutup bekas luka di lengan dan
telapak tangannya, untuk menjauh dari kakaknya. Walaupun begitu, Jordan tak
pernah menyalahkannya. Dia sangat menyayangi kakaknya, sekalipun kakaknya tidak
pernah menyayanginya.”
Earon terharu mendengar
setiap kisah yang diceritakan oleh Delarmy.
“Jika dia sangat menyayangi
kakaknya, lalu kenapa dia harus menghindarinya?” tanyanya.
“Karena itulah satu-satunya
wujud rasa sayang yang bisa dipahami oleh Volan. Tidak ada hal lain yang
diinginkan Volan dari apapun di dunia ini, selain membuang Jordan jauh-jauh
dari hadapannya. Tapi, dia tidak pernah tahu perjuangan Jordan untuk tetap
mempertahankan tali persaudaraannya. Justru semua itu dianggap kebohongan
olehnya. Dan jika Volan menjadi buronanmu, itu sudah sepantasnya. Dia pantas
menjadi penjahat, karena memang dia adalah seorang penjahat!”
Earon mengangkat mukanya,
saat kalimat terakhir itu menyambar dirinya.
Dengan penuh kesal, Delarmy
melanjutkan kata-katanya.
“Dia patut dihukum atas
kesalahannya karena telah menelantarkan adiknya selama lebih dari sepuluh
tahun! Hukuman mati pun tidak cukup baginya. Seharusnya biarkan dia menderita!
Biarkan hatinya bersalah dan berharap untuk bertemu adiknya serta mendapatkan
pengampunannya! Dan saat itu, aku tidak akan pernah membiarkan Jordan untuk
menemuinya hingga ajal menjemputnya dalam deritanya itu!”
Earon begitu ngeri mendengar
ucapan Delarmy yang secara tidak langsung ditujukan untuk dirinya. Diapun hanya
bisa diam dengan ekspresi wajah yang gelisah, namun juga tampak dari beberapa
kedipan kedua matanya yang mencoba menutupi linangan air matanya.
“Tapi, Volan saat itu
hanyalah anak-anak. Kondisinya masih labil. Apakah penderitaan itu semata-mata
hukuman dari kesalahan yang pernah dia lakukan semasa kecilnya? Apa itu adil,
Bibi?”
Delarmy menarik napas
kuat-kuat, berusaha untuk memadamkan api dalam hatinya.
“Tidak, Nak. Itu bukanlah
hukuman, tapi pembalasan dendam. Dan pembalasan dendam itu tidak pernah adil.
Kurasa, seperti itulah pembelaan untuk Volan jika aku mengatakan kata-kata
buruk tadi dihadapan Jordan.”
Earon tersenyum hampa.
“Aku tahu Bibi sangat marah.
Itu sudah semestinya. Aku pasti juga akan melakukan demikian, bahkan lebih
buruk.”
“Jangan, Earon. Jangan
pernah membiarkan rasa dendam menggerogoti hatimu hingga kau melakukan segala
cara untuk melampiaskan dendam itu. Jangan sampai kau menyesal saat semua sudah
terlanjur dan tak bisa kembali.”
Earon menarik napas
kuat-kuat.
“Bibi benar. Akhirnya aku
tahu apa yang sepantasnya kulakukan. Terimakasih, Bibi,” ucapnya dengan tegas
dengan ekspresi wajah yang lega.
Delarmy membalasnya dengan
senyuman.
“Dan Bibi. Sebenarnya,
buronan yang kuceritakan bukanlah Volan. Dia Fordien, penjahat paling mematikan
di Losapins.”
Delarmy langsung terkejut mendengarnya, memunculkan kembali
kerisauannya.
“Lalu bagaimana dia bisa
tahu tentang Jordan? Apa dia juga ingin menyakiti Jordan?” tanyanya.
“Ma, maksud Bibi, Bibi tidak
tahu kalau Jordan punya misi yang sama denganku?”
Delarmy mengerutkan
keningnya, tidak mengerti dengan pertanyaan Earon tersebut.
“Misi apa? Jordan hanya anak
biasa. Dia bahkan membutuhkan perlindungan dari orang-orang sepertimu. Atau
jangan-jangan, Fordien adalah teman Jordan yang kemudian dia ingin balas dendam
atas pengkhianatan yang Jordan lakukan padanya?”
Melihat keseriusan wajah
kekhawatiran Delarmy, Earon seketika langsung mengerti bahwa Jordan ternyata
menyembunyikan hal itu dari Delarmy. Mungkin Jordan tidak mau kalau bibinya
terus merasa cemas akan bahaya yang menyertainya sebagai penyusup di tengah
penjahat-penjahat kelas atas, pikirnya.
“Tidak, Bibi. Maksudku, misi
dalam…, uji senjata. Eksperimen baru kami dan kuminta Jordan untuk membantu
dalam hal perhitungan yang menyangkut eksperimen itu. Masalah Fordien, Bibi
tidak perlu cemas. Lupakan tentang dia. Semua baik-baik saja. Lagi pula, Bibi
lebih mengenal Jordan, bukan?”
Delarmy mengembuskan napas
lega dari mulutnya seraya mengeluarkan suara embusannya.
“Kau benar. Jordan tidak
mungkin tertipu oleh pertemanan yang buruk. Dia sangat cerdik. Aku juga yakin,
dia bahkan lebih cerdik dari Fordien yang mematikan itu.”
“Seandainya saja, dia yang
justru melindungiku dari orang-orang seperti Fordien, apakah Bibi juga percaya
itu?”
“Tentu saja. Banyak kejutan
yang tidak terduga yang hanya bisa kau temukan dalam diri Jordan. Sekalipun kau
sulit menerima kejutan itu, tapi memang begitulah kenyataannya.”
Earon tersenyum simpul
mendengarnya.
“Cobalah kuenya!” pinta
Delarmy, yang sekaligus mengalihkan situasi pembicaraan.
Akhirnya, Earon telah
memecahkan dilemanya dan mengambil sebuah keputusan yang tampaknya akan
diterima pula oleh orang-orang yang sebelumnya pernah menentang prasangkanya.
Diapun menikmati setiap jamuan yang disajikan oleh Delarmy, sebelum akhirnya
dia berpamitan untuk kembali ke kota.
Keesokan harinya, dengan
langit yang berselimut awan hitam yang tidak merata, namun matahari masih
memberikan cahaya harapannya bagi orang-orang yang mau memanfaatkan situasi
tersebut. Jordan dan kedua sahabat karibnya berjalan menuju gerbang Universitas
Losapins, sambil membawa beberapa berkas tugas akhir semesternya. Banyak
mahasiswa lainnya yang berlalu-lalang di gerbang tersebut, melakukan hal yang
demikian, namun dengan kadar ketebalan berkas yang berbeda-beda.
“Ow-huhuh, kenapa tugasku
paling banyak di antara kalian?” keluh Wergon sambil berjalan agak sempoyongan.
Filhener dan Jordan tertawa
mendengarnya.
“Kasihan. Salahmu sendiri
terlambat mengumpulkannya.”
“Terlambat dari kalian
berdua. Di antara teman-teman yang lain, aku masih berada dalam peringkat lima
besar pengumpulan tercepat.”
“Selamat,” ketus Filhener
yang membuat Wergon semakin kesal hingga memberikannya kekuatan untuk sedikit
meninggikan angkatan bawaannya.
Saat itu juga, tiba-tiba
terdengar suara handphone, yang seketika membuat mereka berhenti
melangkah di dekat batu besar bertulis “LOSAPINS UNIVERSITY”, setelah beberapa
langkah melewati gerbang masuk.
Jordan langsung meraih tas
yang digendongnya. Karena berkas yang dibawanya sedikit, dia pun cukup mudah
untuk mengambil handphone-nya dari dalam saku tasnya tersebut. Tercantum
nama Mr. C di layar handphone-nya, maka dia segera mengangkatnya, lalu
mendekatkannya di telinga kirinya.
“Halo. Ada apa, Lytro?”
“Jordan, serbuk hitam
dari Fordien, yang pernah kau berikan padaku, hasilnya sudah kudapatkan.”
“Lalu?”
“Cukup menarik. Tapi, aku
tidak bisa menjelaskannya sekarang. Temui aku nanti malam di rumah Vurpia.”
“Di rumah Vurpia? Bagaimana
jika Kak Volan mencurigainya? Maksudku, dia sudah tahu kebenaranku, bukan?”
“Tidak ada Earon. Tidak
ada kebenaranmu yang terbongkar.”
“Kurasa, kau sudah mulai
membuat kesalahan lagi.”
“Hemmm…, baiklah. Dia
sudah mengetahuinya. Tapi, kukatakan padanya kalau aku tidak akan memberitahumu
apa yang telah dia ketahui tentang dirimu.”
“Singkatnya, kau berbohong
lagi padanya.”
“Kita akan bicarakan itu
lagi nanti malam. Aku ada di kantor. Aku takut kalau dia mendengar pembicaraan
ini. Ngomong-ngomong, kau masih menyimpan sebagian dari serbuk itu, ‘kan?”
“Tentu, kenapa?”
“Karena aku tak perlu
mengembalikan sebagian yang kau berikan. Kalau begitu, sampai jumpa nanti
malam.”
“Baiklah.”
Begitu Lytro mematikan
sambungannya, Jordan memasukkan handphone-nya kembali ke dalam saku
tasnya.
“Ada masalah apa?” tanya
Filhener.
“Tidak ada,” jawab Jordan,
“Oya, nanti malam aku tidak bisa pergi bersama kalian. Kalian berdua jenguklah
bibi. Aku akan menyusul di lain waktu.”
“Bisakah kita jalan
sekarang? Tanganku sudah gemetaran,” gerutu Wergon.
“Bukan hanya tanganmu,
tubuhmu saja sudah gemetaran,” sahut Filhener.
Melihat kondisi Wergon yang
mulai tak berdaya, Jordan menawarkan bantuan padanya. Dia memberikan uluran
kedua tangannya pada Wergon.
“Eitzz, tidak!” seru
Filhener seraya menghalangi uluran tangan Jordan, “Kau tidak perlu melakukan
itu.”
“Apa masalahmu?!” tanya
Wergon kesal, “Kau sendiri tak mau membantu, lalu kenapa kau malah menghalangi
Jordan untuk membantuku?!”
“Aku hanya menjalankan
tugas. Jangan salahkan aku atas perjanjian yang kau buat sendiri. Jadi, Anak
cengeng, kau lebih…. ”
Tiba-tiba, comelan kedua
temannya terdengar memudar saat Jordan merasakan getaran kuat dalam hatinya,
hingga membuat situasi pun terasa hening baginya. Dia langsung mencari-cari
sesuatu di sekelilingnya, menoleh ke arah samping kanan, kiri, depan, dan
belakangnya. Sepertinya dia paham maksud dari getaran kuat itu. Walaupun
demikian, tidak ada satu hal pun yang menimbulkan kesan dalam tatapannya
tersebut.
“Jordan, ada apa?” tanya
Filhener penasaran dengan sikap Jordan, yang seketika membangunkan
angan-angannya.
Jordan langsung mengalihkan
pandangan pada kedua temannya, diikuti oleh lenyapnya keheningan yang dia
rasakan.
“Tidak ada. Ayo!”
Merasa semua memang tampak
baik-baik saja, mereka bertiga kemudian melangkahkan kakinya kembali, menuju
tempat pengumpulan berkas tugas mereka.
Sesaat setelah mereka tak
terlihat dari area depan gerbang masuk kampus, mobil mini warna jingga dengan
pintu samping untuk depan dan belakang, yang disetir Earon, muncul perlahan,
berjalan di tepian, dan berhenti di depan gerbang tersebut. Tanpa mematikan
mesin dan tanpa turun dari mobilnya, Earon melihat-lihat sekelilingnya, mencari
seseorang dengan pandangan gelisah seraya mengetuk-ketuk ujung-ujung jarinya ke
kemudinya secara bergantian. Namun beberapa saat kemudian, dia pergi dari
tempat tersebut setelah dirasa keberadaan seseorang yang sedang ia cari tidak akan
terlihat di kawasan tersebut.
Tengah hari itu pun tiba.
Awan hitam tipis-tipis kini telah merata di langit Losapins. Namun, cahaya
matahari masih bisa terpantul dari balik awan walaupun hanya tampak
samar-samar. Mungkin kondisi yang demikian pula yang membuat hawa wilayah kota
Losapins terasa lembap dan panas. Earon bersama Vurpia berjalan kaki di
sepanjang trotoar yang bersebelahan dengan taman yang membatasi ketinggian
sungai Chivori. Sepertinya, Vurpia sengaja menemani Earon untuk bertemu dengan
seseorang di suatu tempat. Sambil melangkah ringan, mereka berdua mengamati
jembatan kayu di seberang sungai, setelah tampak oleh pandangannya. Dari atas,
mereka tidak melihat ada siapa pun yang bermain-main di kawasan jembatan kayu
itu. Earon mengembuskan napas keputusasaan, membuat Vurpia juga ikut merasakan
derita batinnya.
“Bagaimana kalau aku yang
menghubungi Jordan? Jadi, kau bisa dengan mudah menemuinya,” hibur Vurpia.
Earon mengangkat mukanya
pada Vurpia.
“Jangan. Aku tidak mau itu.”
Vurpia memikirkan sesuatu
untuk menghilangkan kegelisahan calon suaminya itu. Lalu sekilas, pandangannya
tertuju pada toko emas di seberang jalan.
“Earon, kita belum membeli
cincin pernikahan kita, ‘kan?”
Begitu Earon mengingat itu,
dia langsung menepuk dahinya dengan salah satu tangannya.
“Oh iya!” serunya, lalu
menurunkan kembali tangannya, “Maafkan aku, Vurpia. Aku benar-benar lupa. Bukan
maksudku melupakan itu, hanya saja aku banyak pikiran akhir-akhir ini.
Terimakasih telah mengingatkanku.”
Vurpia begitu senang melihat
kegelisahan Earon yang memudar.
“Oh, lihat! Ada toko emas di
sana! Kita akan membelinya sekalian, ‘kan?” ucap Vurpia kegirangan.
“Tentu saja.”
Mereka berdua kemudian
menyeberangi jalan menuju toko emas yang ditunjuk Vurpia. Saat itu pula,
Jordan, Filhener, dan Faisr yang bertengger di pundak Jordan, muncul, menuruni
tangga menuju jembatan kayu. Jordan merasakan getaran kuat itu lagi saat
mendapat setengah tangga. Dia menghentikan langkahnya sejenak. Getaran itu
seketika dirasakan juga oleh Earon yang sedang melangkah menuju pintu toko
dengan papan yang bertulis “GOLDEN LOSAPINS”, dipajang di dinding luar, atas
jendela kacanya. Kemudian, dia menghentikan langkahnya sebelum mendorong pintu
toko tersebut. Jordan dan Earon hanya diam berdiri di tempat, merasakan getaran
kuat itu. Tatapan kosongnya memikirkan getaran hati itu yang tak kunjung
berhenti, namun justru semakin kuat mereka rasakan.
Getaran itu seolah-olah
membuat napas Jordan sedikit sesak, hingga dia menarik napas dalam-dalam
sekaligus melepaskan pikiran-pikiran yang timbul karena perasaan itu, lalu
melanjutkan langkah kakinya, menyusul Filhener yang tak menyadari sikapnya
tersebut. Begitu pun dengan Earon yang segera melupakan getaran perasaannya dan
melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam toko, setelah Vurpia memanggil
namanya. Dua bersaudara itu terlihat begitu menikmati kegiatannya
masing-masing. Jordan dengan kehangatan menemani penghuni sungai Chivori,
sementara Earon dengan kebingungan memilih cincin pernikahannya. Namun di balik
kesibukan yang mereka lakukan itu, tidak luput dari getaran hati yang tak
kunjung berhenti dirasakan.
Setelah merasa cukup, Jordan
bersama Filhener melangkahkan kakinya untuk kembali pulang. Tidak tampak Faisr
di antara mereka, mungkin dia sudah lepas ke udara sebelum tuannya selesai
dengan urusannya di jembatan kayu. Begitu juga dengan Earon, keluar dari pintu
toko dengan ekspresi wajah yang begitu bahagia bersama Vurpia. Posisi Jordan
dan Earon saat itu tepat berada di atas ketinggian sungai. Jordan di trotoar
tepi ketinggian sungai, sementara Earon di trotoar deretan toko-toko seberang
sungai dan jalan utama. Mereka berdua bisa saja saling bertatap muka karena
arah jalan mereka saling berpapasan walaupun dengan jarak seberang yang cukup
jauh. Namun karena sepertinya mereka telah memutuskan untuk tidak memedulikan
perasaan itu lagi, maka yang terjadi pun tidaklah demikian. Earon yang ingin
sekali melihat Jordan, justru kesempatan saat itu seolah terlewatkan begitu
saja olehnya. Sementara Jordan, setelah beberapa langkah melewati garis papasan
dengan Earon, tiba-tiba langkahnya terhenti sambil memikirkan sesuatu, seakan
kepedulian atas perasaannya itu kembali muncul. Dia memalingkan tatapannya ke
seberang sungai. Pandangannya terperangah ketika melihat kakaknya berjalan menjauh
ke arah barat, bersama calon istrinya.
Filhener yang melihat
tatapan Jordan yang tak kunjung berpaling itu, membuatnya penasaran hingga
diapun melacak bidikan dari tatapan Jordan tersebut.
“Volan?!” kata Filhener
terkejut melihat keberadaan Earon yang masih tampak oleh penglihatannya.
“Ya,” sahut Jordan seraya
memalingkan pandangannya dan kembali melangkahkan kakinya, yang kemudian
disusul oleh Filhener.
“Kukira, kau akan berteriak
menyapanya,” ujar Filhener sesaat setelah berhasil meraih kesejajaran posisi
jalan dengan Jordan.
Jordan hanya menjawabnya
dengan senyuman lebar yang justru membuat Filhener ikut tersenyum tenang dan
terkagum-kagum.
“Mantra apa yang kau pakai
di balik senyumanmu itu, Jordan?”
Siang hari itu telah
merambat menjadi petang dengan nuansa udara mendung.
Jordan bersiap-siap menemui
Lytro untuk melanjutkan perbincangannya yang belum selesai. Tak lupa, dia
membawa busur kesayangannya yang kemudian dimasukkannya ke dalam tas yang biasa
dipakai saat kuliah. Setelah berpamitan dengan dua teman serumahnya, dia lalu
mengendarai sepeda motornya menuju rumah Vurpia.
Di sebuah rumah yang tampak
berdiri menyendiri di tepi jalan menuju desa Wesnoreast. Ketika Delarmy sedang
menikmati acara televisi sambil duduk di atas sofa ruang keluarga, terdengar
suara ketukan pintu. Dengan rasa berat membangkitkan tubuhnya, Delarmy tetap
melangkahkan kakinya untuk melihat tamunya kali ini. Saat pintu merambat
terbuka, tatapan mata Delarmy terperanjat senang.
“Earon! Kau datang lagi?”
Namun sesaat setelah itu,
tatapan mata Delarmy berubah menjadi tatapan ketakutan.
“Earon, apa yang kau
lakukan?! Jangan lakukan ini!”
Teriakan kesakitan Delarmy
langsung terdengar keras di tengah wilayah perbatasan yang sepi.
Di rumah Vurpia, dengan
desain interior ruang tamu yang sederhana, namun masih tampak rapi dalam
penataan ruangannya. Cat warna merah yang menyelimuti dinding ruangan tersebut
dengan pajangan jam bundar yang menunjukkan pukul 19.43 waktu Losapins. Sebuah
kertas berisi tulisan tangan komputer tersodor di atas meja tepat di hadapan
Jordan.
“Ini rincian kandungannya,”
kata Lytro.
Jordan sedikit menarik
kertas tersebut ke dekatnya, untuk memperjelas bacaan tulisan tersebut.
“Kau ingin memberiku resep
ini? Aku bahkan sama sekali tidak mengenal nama-nama ini.”
“Bersabarlah.”
Jordan mendengar bisikan itu
lagi. Namun, raut wajahnya tetap tenang dan biasa, walaupun sekejap dia sempat
diam memikirkannya.
“Bukankah perjanjian seperti
itu yang pernah kita sepakati dulu? Lagi pula, kau akan tertarik setelah
mendengar ini. Serbuk itu dapat membunuh seseorang dalam hitungan detik.
Sedikit saja kulitmu tergores bersama racun ini, maka tubuhmu tidak akan
memiliki nyawa selama setengah jam.”
Jordan mengerutkan
keningnya.
“Maksudmu, racun ini hanya
bisa mematikan orang sesaat saja?”
Lytro mengangkat salah satu
jari telunjuknya setinggi dadanya dan berkata, “Tepat.” Kemudian, menurunkan
kembali tangannya dan berlanjut, “Tapi, ada takarannya untuk mengambil berapa
lama kematian yang diinginkan dan aku baru mendapat informasi kalau waktu
tercepat adalah setengah jam dan terlama belum diketahui. Mereka baru
mengujinya hingga satu setengah hari kematian. Tapi maaf, aku belum bisa
memberimu daftar takaran yang belum pasti itu. Mereka kehabisan stok dan harus
membuat ramuannya lagi.”
“Kami menduga pembunuhan
yang dilakukan Fordien merupakan percobaan dari hasil karyanya yang gagal. Kami
telah mengidentifikasi perbedaan kandungan zat racun dalam darah setiap
korbannya,” jelas Vurpia yang duduk di samping Jordan dengan jarak yang agak
berjauhan.
“Jadi, dia membuat racun ini
untuk mengantisipasi kejadian seperti penangkapannya. Tapi, kenapa kemarin dia
tidak menggunakannya?”
“Sebenarnya, dia telah
mengantongi beberapa gram di saku celananya. Kurasa dia memilih untuk tidak
menggunakan itu, setelah sadar kalau kau yang telah memberitahukan
keberadaannya pada kami. Kesempatan langsung melarikan diri lebih bagus dari
pada mengecoh polisi yang sudah mengetahui trik kematiannya,” sahut Lytro.
Mendengar penjelasan Lytro,
ekspresi wajah Jordan menjadi diam seolah memikirkan sesuatu.
“Ada apa?” ujar Lytro
melihat reaksi Jordan, “Menurutmu, ada alasan lain kenapa dia melakukannya?”
“Aku hanya merasa kasihan
padanya. Dia begitu genius, sayang dia tersesat. Seandainya aku tahu apa yang
membuatnya demikian, maka akan kucoba mengubahnya dan kegeniusannya pasti
memberi manfaat yang besar bagi kita semua.”
Lytro mendengkus.
“Orang seperti dia tidak
pantas dikasihani. Hukuman yang dia terima sudah sesuai dengan perbuatan yang
selama ini dia lakukan.”
Jordan berpikir lagi.
“Jika benar yang terjadi
seperti itu, lalu kenapa dia tidak mengolesinya di setiap mata anak panahnya?
Membuat mangsanya tak berdaya, mempermudah pelariannya. Lagi pula, dia pemanah
yang hebat. Goresan bisa saja pasti terjadi,” pikir Jordan.
“Seperti yang kukatakan, semua di luar rencananya. Dia memang
sengaja untuk tidak menggunakan serbuk itu pada siapa pun, agar tidak ada yang
tahu trik kematian yang akan dia gunakan. Beruntung dia tidak berpikir kalau
kami baru bisa memecahkan ramuannya dua hari setelah penangkapannya. Tapi jika
saja dia menggunakannya pada anak panahnya, kuyakin Earon sudah dikubur
hidup-hidup.”
Keseriusan Jordan langsung
berubah menjadi kemurungan setelah mendengar kalimat terakhir Lytro.
“Earon. Bagaimana
dengannya?”
“Dia baik-baik saja,” sahut
Lytro spontan.
Suasana terasa hening
sejenak. Lytro melihat tatapan Jordan yang serius menanyakannya.
“Oh, ehm, itu,” ujarnya agak
bingung.
“Dia sudah tidak punya
masalah denganmu. Kau tahu, aku telah membentaknya hingga dia tidak bergerak
sama sekali, hahaha…,” lanjutnya dengan tawa senangnya.
Lalu tawanya memudar,
melihat tidak ada yang menanggapinya.
“Aku serius. Dia sudah
kusadarkan.”
Beberapa saat setelah tidak
tersisa kerutan senyum di raut muka Lytro, Jordan dan Vurpia malah berbalik
tersenyum lebar melihat sikapnya.
“Lytro benar. Bahkan
seharian ini, aku melihat dia bersikeras mencarimu. Dia tidak mau aku atau
siapapun menghubungimu hanya untuk mempertemukan kalian berdua. Wajahnya begitu
sedih setiap dia gagal menemukanmu. Persahabatan yang pernah kalian jalin yang
telah membuat hatinya luluh.”
Jordan terlihat begitu lega
mendengar informasi Vurpia.
“Oh iya. Ayo, Teman-teman.
Cobalah buahnya!” ajak Vurpia seraya menganjurkan tangannya ke arah mangkok
besar berisi aneka macam buah, “Biar aku kupaskan.”
“Tidak perlu, terimakasih,”
kata Jordan yang seketika menghalangi tangan Vurpia yang hampir menyentuh pisau
di dekat mangkok tersebut, “Nanti kami bisa ambil sendiri.”
Vurpia menurunkan tangannya
dengan ekspresi wajah kesal-kesal manja.
“Nanti kapan? Ujung-ujungnya
kau tidak akan memakannya, ‘kan? Aku sengaja mempersiapkan ini untuk kalian.”
“Baiklah-baiklah,” kata
Jordan seraya mengambil pisaunya dan satu buah apel merah besar, “Kau mau juga,
Lytro?”
“Ya, sekalian juga.”
Beberapa waktu kemudian,
setelah mereka bertiga selesai dengan urusannya, Lytro dan Jordan berpamitan
pulang pada Vurpia. Saat itu, hujan juga turun dengan cukup lebat. Sempat Lytro
menawarkan Jordan untuk ikut bersamanya dengan mobilnya dan menitipkan motornya
di tempat Vurpia. Namun, Jordan menolak dengan alasan telah membawa mantel.
Jordan baru teringat kalau busurnya masih tertinggal di rumah Vurpia, selepas
dia mengucapkan salam untuk berpisah jalan pada Lytro. Lytro yang juga
mengetahui hal itu, hanya bisa meminta maaf untuk mendahuluinya dan tidak bisa
menemaninya. Jordan dengan senang hati tidak memberatkan kehendak Lytro
tersebut. Diapun kembali ke rumah Vurpia seorang diri.
Sesampainya di sana, Jordan
berlari menuju teras depan pintu. Baru saja dia mengayunkan salah satu kepalan
tangannya sebelum menyentuh dinding pintu, terdengar suara kunci pintu yang
terbuka dari dalam. Vurpia langsung muncul di hadapannya.
“Bagaimana kau tahu aku
datang?” tanya Jordan terheran-heran dengan kepalan tangannya yang masih diam
terangkat.
“Aku mendengar suara
motormu, jadi aku tahu itu kau. Kau kembali untuk busurmu, ‘kan?”
Jordan mengangguk-angguk
sambil menurunkan tangannya.
“Ini!” kata Vurpia seraya
menganjurkan busur Jordan dengan kedua tangannya.
Tanpa berpikir panjang, Jordan
langsung mengambil, lalu menyandangkannya.
“Terimakasih. Kalau begitu,
aku pulang dulu.”
Vurpia menganggukkan
kepalanya seraya tersenyum lebar, lalu berkata, “Ya, berhati-hatilah.”
Jordan berlari menuju motor
yang diparkirnya, di depan pagar halaman rumah Vurpia. Beberapa saat setelah
dia menaiki dan memutar kuncinya, serta sebelum menghidupkan motornya,
tiba-tiba terdengar suara panggilan handphone-nya. Dia agak
berpikir-pikir untuk mengambilnya karena hujan terus mengguyur tubuhnya.
Sejenak dia melihat ke arah pintu rumah, Vurpia sudah tak berdiri di sana.
Karena bunyi handphone-nya yang seolah memaksanya untuk diangkat, diapun
merogohnya dari balik mantel, di saku kiri jaketnya, dan langsung
mendekatkannya ke telinga tanpa melihat nama pemanggilnya. Tapi, dia baru sadar
kalau helmnya masih terpasang di kepalanya, hingga dia kemudian melepaskan
helmnya, baru mendekatkan handphone-nya itu lagi yang sudah kebasahan.
“Halo.”
Jordan diam mendengarkan
suara orang dibalik teleponnya. Dengan masih diam menempelkan handphone
di telinganya, tiba-tiba matanya terbuka lebar-lebar dengan pandangan bingung
dan ketakutan.
“Aku segera ke sana.”
Jordan langsung memasukkan handphone
itu ke saku mantelnya, memakai helmnya, lalu menancap gas. Tampak dari
setiap gerakannya yang gemetar, khawatir dengan kenyataan yang akan
dihadapinya.
Suasana tersorot kembali di
rumah Vurpia.
Tak lama setelah rumahnya
kembali sepi dari kehadiran temannya, Vurpia mendengar suara ketukan pintu. Itu
pasti Jordan lagi, pikirnya. Dia kembali membukakan pintu untuknya. Saat pintu
setengah terbuka, Vurpia berkata, “Jordan, aku tahu kau pasti mencari….”
Ucapannya sekejap langsung
berhenti ketika pandangannya melihat dengan jelas wajah seseorang yang berdiri
di hadapannya. Terlihat dari raut muka Vurpia yang penuh dengan kesal dan
kecurigaan pada orang tersebut. Dan selang beberapa saat, suara jeritan
ketakutan dan kesakitannya dari luar, tersamar oleh suara derasnya hujan.
Jordan berlari di
lorong-lorong rumah sakit, mencari sebuah kamar yang menjadi incarannya. Setiap
langkahnya menetaskan air yang membasahi lantai, mengalir dari bajunya yang
basah kuyup. Wajahnya begitu gelisah, memikirkan ketakutan bayang-bayangnya.
Begitu sampai di tikungan terakhir, dia melihat Wergon dan Filhener telah berdiri
di depan sebuah ruangan. Dia berlari mendekatinya.
“Di mana, Bibi?” tanyanya
yang hampir menyerobot masuk ke dalam ruang gawat darurat, sebelum Filhener
menghalangi tubuhnya.
“Tenanglah, Jordan. Dokter
sudah menanganinya. Kita berdoa semoga semua baik-baik saja.”
Mendengar ucapan sahabatnya,
dan dalam napasnya yang masih terengah-engah, Jordan mencoba menenangkan
dirinya dengan mengambil beberapa napas.
Kecemasan tak bisa lenyap
dari hati ketiganya yang ingin segera mengetahui laporan dari dokter tentang
kondisi Delarmy. Dalam penantiannya itu, terkadang mereka duduk beberapa saat,
lalu bangkit berdiri lagi, adakalanya juga jongkok, sambil menopang dahi,
menggigit jari, atau merapatkan kedua telapak tangan yang ditempel ke bibir.
Akhirnya, penantian itu telah usai. Mereka diijinkan masuk untuk menemani
Delarmy yang masih terbaring tak berdaya, memakai selang napas di hidungnya,
dan sebuah patient monitor yang menunjukkan bahwa kondisi Delarmy masih
lemah. Jordan duduk di samping bibinya dengan terus memegang tangannya,
berharap bibinya dapat merasakan keinginan putranya, agar dia bisa tersadar dan
tersenyum kembali untuknya. Sementara Wergon dan Filhener menemaninya dengan
duduk di sisi kursi yang lain.
Pagi-pagi buta, ketika Earon
sedang meneguk segelas air putih di dapur, dengan wadah air minum yang masih
diletakkan di atas meja di dekatnya, mungkin memang sengaja kalau-kalau belum
memuaskan dahaganya, tiba-tiba terdengar deringan telepon rumahnya. Dia yang
tak lama baru bangun tidur itu, berjalan menghampiri sumber suara di ruangan
setelah dapur. Semua tampak seperti biasa baginya. Tidak ada gerutu dalam
benaknya, siapa yang pagi-pagi sudah menelepon.
Setelah dia mengangkat
gagang telepon berkabel itu, masih dengan menggenggam gelas di salah satu
tangannya,
“Halo,” sahutnya, berdiri
seraya menyeruput minumannya.
“Hmmm, ada apa, Lytro?”
Tiba-tiba, wajahnya mengerut
mendengar suara Lytro dari balik telepon dan tak lama setelah itu, matanya
terbuka lebar-lebar dengan mulut yang menganga kaget. Sekujur tubuhnya serasa
lemas hingga gelas yang dipegangnya terpeleset dari genggamannya. Dia terlihat
seperti mengumpat kebingungan, ketakutan, dan kesedihannya, mencoba untuk tidak
terlalu cepat percaya akan informasi yang didengarnya.
“Di mana sekarang?”
Begitu mendengar jawaban
atas pertanyaannya, dia langsung menutup teleponnya dan bergegas pergi.
Mentari telah merambat naik
dengan langit biru sempurna. Namun, sinar surya hari itu hanya terasa menjadi
sinar kesuraman hati bagi para pemegang busur. Earon beserta rekan-rekan AKLA,
menyampaikan pesan batin terakhir untuk Vurpia yang telah terbaring tenang
bersama para penghuni tanah. Sebuah batu setinggi satu jengkal telah terpajang
di atas kuburannya. Banyak dari kerabat dan sahabatnya yang menangis
terisak-isak, tidak percaya dengan kepergian wanita yang dikenal periang itu,
yang begitu mendadak. Terlebih Earon, kesedihannya yang sangat mendalam hanya
bisa dilampiaskan oleh tetesan air matanya yang membisu. Beberapa saat setelah
hanya tersisa rekan satu timnya Earon dan Lytro, yang berdiri di sekeliling
pemakamannya, datanglah seorang polisi yang mendatangi mereka.
Polisi tersebut memegang
salah satu bahu Earon, sebagai ungkapan rasa turut berdukanya. Dari sikap
itulah, tampaknya dia juga sudah sangat akrab dengan pemimpin AKLA itu.
“Tetaplah kuat, Volan,”
katanya menyemangati Earon, lalu menurunkan tangannya, “Kami sudah menyelidiki
dugaan pelaku pembunuhan Vurpia. Dilihat dari sidik jari yang sama, ditemukan
di pisau yang menjadi alat pembunuhan dan sebuah pita biru berlonceng yang
ditemukan di genggaman tangan Vurpia, jelas sekali adalah milik Jordan Miguveer
dari keluarga Delarmy Miguveer.”
Earon dan Lytro seketika
langsung merengutkan keningnya.
“Apa maksudmu?” sahut Lytro
mencoba mengelaknya.
“Itu benar. Kurasa, Vurpia
sengaja merebut mainan lonceng itu dari pelaku untuk memperkuat buktinya.”
Lytro sangat tidak percaya
dengan pernyataan itu. Sedangkan Earon, ekspresi wajahnya menjadi sangat murka.
Mulutnya meremas-remas seolah Jordan yang akan menjadi sasaran gilingannya.
Kedua tangannya mengepal kencang yang juga siap digunakan untuk melumpuhkannya.
Kemudian, polisi itu pun meninggalkan keduanya yang sedang dilanda perasaan tak
terkira. Lytro yang melihat kobaran api dalam diri Earon, meyakinkannya untuk
tidak cepat menerima dugaan itu.
“Earon, itu bukan Jordan.
Pasti ada orang lain di balik semua ini. Dia pasti menaruh dendam pada Jordan
hingga dia melakukan tipuannya dengan cara seperti ini.”
“Apa kau yakin dengan itu?”
Lytro menjawabnya dengan
penuh kebimbangan dan keragu-raguan.
“I, i, iya. Aku tahu, memang
tadi malam kami di rumah Vurpia.”
“Apa?!” kata Earon terkejut
seraya mengerutkan keningnya.
“Tapi, aku sangat yakin
kalau bukan Jordan pelakunya. Sekalipun, dia memang kembali untuk mengambil
busurnya yang tertinggal di rumah Vurpia.”
“Katakan padaku. Apakah dia
mengambil busur itu sendirian?”
“I, iya.”
“Sudah sangat jelas kalau
memang dia pelakunya,” kata Earon geram.
“Tidak. Pasti orang lain
telah membawa busurnya sebelum Jordan mendapatkannya.”
Earon langsung menunjukkan
tatapan mengerikannya pada Lytro yang sekaligus membuatnya tertunduk.
“Aku telah memercayaimu dan
terlalu memercayaimu. Seharusnya, aku tidak perlu mendengar ocehan dari
orang-orang sepertimu. Dan kesempatan yang kuberikan pada Jordan, inikah yang
kudapatkan?! Jika saja, sejak saat itu kau tidak menghalangiku untuk
menangkapnya, maka tidak ada lagi korban seperti ini! Karenamu, semua ini
terjadi! Apa yang bisa kau bela dari Jordan saat ini? Punyakah kau bukti atas
pembelaanmu itu?! Sementara aku punya banyak bukti. Akulah salah satu korban
Jordan! Aku adalah bukti terkuat atas kejahatannya! Kau bukan siapa-siapa,
kecuali orang yang telah terpengaruh oleh pemikiran Jordan!”
Lytro tak bisa berkata
apapun, hanya diam, mendengar cipratan emosi Earon.
“Saat ini juga, dia dan
kedua temannya telah dicabut sebagai mata-mata dan dicap sebagai buronan kelas
atas. Kupastikan akan segera menangkapnya. Dan jika sekali lagi, kau membantu
pelariannya, sekalipun setelah ini, kau akan meneleponnya agar segera menjauh
dari kota ini, maka tidak segan-segan aku akan menyeretmu juga ke dalam
penjara. Jangan lihat ini sebagai pembalasan dendamku, tapi tugasku untuk
mengamankan Losapins. Dan sudah menjadi tugasmu pula untuk lebih melindungi
masyarakat dari pada melindungi seorang penjahat.”
Earon langsung pergi
meninggalkan Lytro yang berdiri tak berdaya di dekat makam Vurpia. Dengan
tatapan cemas, Lytro melihat batu penanda makam itu, lalu bergumam sendiri,
“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”
Dua hari selama penantian kesadaran
Delarmy, Jordan akhirnya bisa merasakan gerakan kecil dari tangan bibinya,
walaupun belum sampai membuka mata. Dia begitu senang melihatnya, demikian juga
dengan Wergon dan Filhener yang langsung mendekati ranjangnya sambil sedikit
membungkukkan tubuhnya, melihat apakah benar yang dilihat oleh Jordan tersebut.
Kemudian dari balik tidur lemasnya itu, terdengar suara desisan yang keluar
dari mulut Delarmy.
“Earon. Earon. Mata merah.
Earon. Mata merah,” igau Delarmy lemah.
Jordan, Filhener, dan Wergon
menegakkan kembali tubuhnya, lalu saling bertatap muka. Mungkin dalam hati
mereka bertanya-tanya, apakah maksud ucapan Delarmy itu bahwa Earon adalah si
mata merah yang selalu terbayang pada setiap peristiwa aneh yang mereka alami.
No comments:
Post a Comment