CHAPTER 12: KEMATIAN VURPIA RATRHIAS

 

Dari pagi hari yang berselimut kabut tebal dan udara dingin, merambat ke siang hari yang penuh dengan kehangatan cahaya surya. Kesempatan yang luar biasa itu, menyemangati masyarakat kota Losapins untuk giat menyelesaikan tugas tutup bulanannya.

Di sebuah rumah kecil berlantai dua, dengan halaman yang dibatasi pagar batu kurang lebih setinggi setengah meter, dihiasi rerumputan hijau muda, satu pohon berdaun merah di salah satu sudut halaman depan dekat pagar, dan beberapa tanaman hijau tak berbunga di sudut halaman lainnya serta jalan kecil lurus bersemen yang menghubungkan trotoar dengan tangga lantai teras muka rumah. Dua sisi ruang jendela untuk lantai dua yang menonjol sehingga tampak timbul di bagian atap rumah, dengan satu cerobong asap perapian di dekat salah satu sisi jendela tersebut. Faisr sibuk menggoda para merpati jantan mengumpulkan beberapa patukan makanan untuknya di atap rumah penduduk kota Losapins tersebut. Sementara para betina lainnya sepertinya kurang senang dengan kehadiran anggota baru tersebut yang telah membuat mereka tersingkir dari kekasih-kekasihnya dalam hitungan detik. Mungkin Faisr memang satu-satunya burung yang bisa berpikir layaknya manusia. Dia membusungkan dada tinggi-tinggi saat para pejantan menundukkan kepala mereka sambil meletakkan hasil patukan masing-masing di dekat kaki mungilnya. Para betina yang melihat sikap Faisr tersebut, hanya bisa diam terheran-heran dan mungkin jika mereka mampu merangkai kata-kata dalam benaknya, kalimat itu akan menjadi Faisr adalah bangsa burung paling tak waras sedunia. Di tengah kenikmatan menyombongkan keahliannya itu, Faisr diganggu oleh seruan namanya.

“Faisr! Apa yang kau lakukan di sana?!”

Faisr mencari-cari sumber panggilan tersebut dan ternyata suara itu berasal dari seruan tuannya yang masih berdiri di jalan bersemen halaman depan rumah kontrakannya, menggendong sebuah ransel hitam, sambil mendongak memerhatikan tingkah kawanannya. Tampaknya dia pun baru saja kembali dari kampus.

“Kau bisa menyumbat saluran airnya lagi!” ujar Jordan.

Mendengar peringatan tuannya tersebut, Faisr menyudahi kepamerannya. Kemudian, dia sedikit membuka kedua sayapnya, menekuk kedua kakinya, lalu menundukkan kepalanya di depan para pejantan. Setelah itu, dia juga melakukan hal demikian di hadapan para betina. Mereka sangat tidak mengerti dengan sikap si anggota baru tersebut, bahkan salah satu merpati jantan sempat melangkahkan kakinya untuk mendudukinya sebelum akhirnya Faisr kembali menegakkan kembali tubuhnya. Tapi dari sikap itu pula, mereka merasa bahwa Faisr pantas menjadi anggota kelompoknya. Setelah Faisr terbang meninggalkan mereka untuk menghampiri Jordan, para merpati itu kemudian langsung berebut makanan yang telah menggunung di hadapannya.

“Kau selalu melakukan itu setiap kali kau mengundang tamu baru di atapku. Lain kali kau beritahu aku, jadi bisa kutempatkan mereka di halaman belakang,” pinta Jordan setelah Faisr bertengger di jari-jari tangan kanannya.

Wergon seketika muncul dari belakang Jordan, lalu berkata, “Kenapa tidak langsung ditempatkan di kandang saja biar bisa dijadikan lauk?”

“Ide bagus saat tanggal tua, Wergon,” sahut Jordan seraya memindahkan Faisr ke dalam kandangnya di pekarangan depan teras.

Faisr tidak terlalu menghiraukan rencana manusia itu. Dia langsung menikmati biji-biji jagung yang telah tersaji di wadah makanannya. Sementara Jordan dan Wergon berjalan masuk ke rumah, bergegas mengganti baju, lalu pergi ke suatu tempat.

Di perjalanan yang padat dengan kesibukan orang yang berlalu-lalang, Wergon dan Jordan menghadapi hal yang cukup mengejutkan.

“Jadi, apa kau masih sering sakit kepala melihat hal mengerikan itu lagi?” tanya Wergon dalam langkahnya.

“Kenapa kau peduli dengan itu?”

“Setelah mengetahui kalau Earon adalah pembawa pasangan hidup dari busurmu,” jawab Wergon agak cemas.

Jordan langsung menghentikan langkahnya sambil menahan tawa mendengar ucapan Wergon tersebut, membuat Wergon juga ikut menghentikan langkahnya.

“Ada banyak pemegang busur tua seperti milikku, begitulah yang pernah kau katakan. Jadi, lupakan semua itu! Lupakan kejadian aneh yang pernah kita alami! Mungkin itu juga karena pengaruh pikiran kita yang terlalu resah terhadap masalah yang saat itu sedang kita hadapi. Tapi jika kau masih saja ingin tahu jawaban atas pertanyaanmu, aku merasa lebih baik semenjak semua terasa lebih baik.”

“Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya, sementara khayalan itu hampir mendekati kenyataannya?”

Wergon mengembuskan napas disertai suara embusannya, lalu berlanjut, “Terkadang aku juga bingung, bagaimana seharusnya aku menyikapi itu. Hal yang tidak masuk akal, sementara itu tampak jelas dihadapanku. Kau pernah bilang kalau kau merasakan sesuatu yang ganjil di sekitarmu. Baru-baru ini, aku juga mulai bisa merasakannya.”

Jordan diam sejenak.

“Seperti apa?” tanyanya.

Seketika itu pula, ada seorang gadis yang berusaha mengejar seorang pria. Dia tampak begitu sedih dan marah kepada pria itu. Saat keduanya berpapasan dengan Jordan dan Wergon yang berdiri memerhatikannya, si gadis itu pun berhasil meraih pundak pria itu, lalu menariknya. Si pria yang tampaknya juga kesal dan gerah, akhirnya memalingkan pandangan pada gadis itu.

“Beraninya kau meninggalkanku hanya demi perempuan tak jelas itu?!” pekik gadis itu dalam tangisannya.

Pria itu menjawabnya dengan lantang, “Iya! Lalu, kenapa kalau aku seperti itu?!”

“Aku mencintaimu. Aku selalu berkorban untukmu. Tapi, kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kesalahan apa yang telah kulakukan hingga membuatmu begini?”

Gadis itu menangis semakin menjadi-jadi hingga menutup mukanya dengan kedua tangannya. Namun, si pria justru sama sekali tidak tersentuh hatinya melihat kesedihan yang dialami gadis tersebut.

“Kau membosankan. Aku sudah jemu melihatmu. Itulah kesalahan terbesarmu!”

Wergon dengan mulut menganga, bersama dengan Jordan yang melihat kejadian itu sekitar tiga kaki darinya, hanya bisa diam menikmatinya.

Setelah mendengar ucapan pria tersebut, gadis itu menurunkan kedua tangan dan mengangkat mukanya.

“Alasan itukah yang membuatmu tega melakukan ini padaku?”

“Ya, sungguh besar kesalahanmu kan, karena tak punya daya tarik terhadapku lagi?”

Wanita itu diam menghentikan tangisannya sambil berpikir sejenak.

“Heheh, kau tahu betapa tenangnya hatiku mengetahuinya,” katanya.

Pria itu mengerutkan keningnya.

Sambil menunjuk ke arah muka si pria, gadis itu melanjutkan ucapannya, “Dengar, Buaya darat! Sedikit pun aku tidak menyesal dengan keputusan ini! Pergilah! Semakin banyak perempuan yang kau khianati, semakin kau merasa kesepian! Akan ada banyak dari mereka yang akan membalas kepedihannya padamu, termasuk aku! Tunggu pembalasanku!”

Setelah memberikan tatapan yang penuh dengan dendam dan kemarahan, gadis itu membalikkan muka, lalu melangkah pergi meninggalkannya. Sementara si pria merasa begitu malu dan terhina disebut-sebut demikian di depan umum. Maka untuk menutupi kesalahannya, dia berbalik mengoloknya, sekalipun tidak dipedulikan.

“Aku tidak takut! Justru aku senang akhirnya bisa keluar dari permainan cinta palsumu itu! Aku bisa mencari gadis lain yang lebih baik darimu!”

Banyak orang yang menghentikan langkahnya mengamati kelakukan dua orang itu, namun tidak sedikit pula yang memerhatikannya saat melewatinya saja, bahkan ada yang tidak menghiraukannya sama sekali. Dan dari sekian banyak orang tersebut, Wergon dan Jordanlah yang paling menikmati pertunjukannya.

“Apa yang kalian lihat?!” pekik pria itu kesal pada Wergon dan Jordan yang menatapnya sedemikian rupa.

Wergon langsung melepaskan perhatiannya sejenak seraya mengedipkan mata.

“Uh…hahahah, tidak ada. Hanya menumpang pandang saja,” sahut Wergon agak gugup.

Karena tidak mau mencari masalah lain, pria itupun pergi mengambil arah yang berlawanan dari jalan yang diambil gadis itu sebelumnya.

Jordan dan Wergon masih memerhatikan setiap langkah yang dilakukan pria itu. Berjalan dengan sikap tubuh yang tegang dengan kedua tangan yang mengepal kencang. Sekali dia juga mengayunkan salah satu kepalan tangannya di depan dada ke udara, sebagai wujud kedongkolannya pada keadaan yang baru saja terjadi.

“Mungkin itu tadi salah satunya,” kata Wergon tiba-tiba, “Tidak, tidak. Maksudnya, itu memang sudah hal yang biasa, tapi di balik itu yang tidak terlihat. Sulit sekali mengungkapkannya. Itu terlalu rumit.”

Sambil menepuk salah satu bahu Wergon, Jordan berkata, “Jangan khawatir. Semua sudah ada dalam rencana.”

Wergon memalingkan pandangannya pada Jordan. Dia menatapnya seolah-olah Jordan begitu yakin dengan ucapannya itu.

“Biar kutebak, kau tak ingin aku mengetahui rencanamu itu. Kan?”

Jordan memberikan senyuman lebar padanya.

“Aku perlu itu untuk melakukannya. Tapi kau akan selalu ada dalam rencana itu,” sahutnya.

“Begitulah dirimu. Semisterius dengan jalan pikirannya. Tanpa orang tahu kapan pula kau membuatnya.”

“Ayo! Vuklir pasti sudah lama menunggu kita.”

Mereka berdua kembali melangkahkan kakinya dan sejenak melupakan masalah yang baru saja dibicarakan itu.

Di Lithings Shop.

Sambil berdiri bertopang dagu di atas meja kasir dan menonton siaran televisi yang disangga oleh besi yang dipasang pada dinding setinggi kurang lebih setara dengan batas ketinggian pintu, Vuklir sepertinya menantikan sesuatu yang membuatnya merasa bosan. Terdengar suara pintu tokonya yang terbuka, mungkin kedatangan pelanggannya lagi, pikirnya. Namun, dia pun segera melepas kebosanannya setelah melihat kehadiran Jordan dan Wergon yang dikira pelanggannya itu.

“Akhirnya,” ucapnya dengan napas lega seraya melepaskan topangan dagunya, “Apa terjadi kemacetan di trotoar?”

Jordan hanya tersenyum menerima gurauan atau mungkin justru sindiran dari Vuklir tersebut.

“Tidak juga. Kami hanya terlalu menikmatinya,” ujar Wergon.

Dengan pandangan yang disibukkan oleh kedua tangan yang mengemas sesuatu ke dalam tas coklat gelapnya, Vuklir dengan geram menyahut, “Terlalu menikmatinya hingga lupa kalau aku sudah menunggu kalian selama setengah jam lebih? Beruntung Horcu masih meninggalkanku di sini. Jika aku seperti dia, siapa yang akan bertanggung jawab jika tokonya hanya tinggal nama?”

Jordan dan Wergon langsung mengumpat tawa mendengar gerutu Vuklir tersebut.

“Baiklah, kami minta maaf,” kata Jordan seraya bertukar tempat dengan Vuklir.

Setelah memakai jaket dan mencangklong tasnya, Vuklir bergegas untuk pulang. Namun, sebelum dia berpamitan pada Wergon dan Jordan, tiba-tiba siaran berita di televisi mengalihkan perhatian ketiganya.

…. Awalnya pot yang digantung di teras tidak sengaja jatuh dan menewaskan seekor kucing. Pemilik rumahpun meminta maaf kepada pemilik kucing dan menyatakan bahwa itu hanya kecelakaan. Namun, justru mendapat respon yang tidak baik dari si pemilik kucing hingga akhirnya si pemilik kucing itupun membalasnya dengan menangkap beberapa ayamnya lalu menenggelamkannya dalam ember. Aksi balas dendam dan tuduh menuduh tersebut, membuat mereka saling melaporkannya kepada pihak berwajib. Namun, karena kasus mereka yang dianggap terlalu sepele, polisi justru membawa kedua tetangga dekat itu ke rumah sakit untuk diperiksa terlebih dahulu kejiwaannya. Hal serupa juga dialami….”

“Sangat menggelikan,” ucap Wergon memecah suasana, diikuti oleh pandangan Jordan dan Vuklir yang langsung berpaling padanya, “Sepertinya orang-orang sudah mulai tidak tercukupi kebutuhan jiwanya.”

“Ya, kurasa itu hal yang wajar. Selama mereka punya alasan untuk melakukan dendamnya, aku mendukungnya,” sahut Vuklir dengan nada guraunya.

“Tidak ada yang membenarkan untuk melakukan pembalasan dendam dalam alasan apapun. Itu melanggar hukum,” kata Jordan.

“Terkadang hukum tidak tahu apapun tentang kebenaran. Selama alasan itu masih bisa dilogika, maka benar pula bentuk dendam itu.”

Jordan melihat ekspresi wajah Vuklir yang tampak serius memperdebatkan pendapatnya.

“Dendam hanya akan membawa kehancuran bagi diri orang yang melakukannya.”

“Lalu, bagaimana jika menghadapi orang yang bersikeras ingin menyerang kita, sementara hukum tidak memihak kita? Satu-satunya jalan untuk menghentikan orang itu, tentu dengan memberinya sedikit pelajaran, setidaknya agar dia sadar seberapa besar kesalahannya dibanding kesalahan yang pernah kita lakukan padanya. Bukankah itu akan menjadi adil, Jordan?”

Jordan mulai merasa kesal dengan nada bicara Vuklir, tapi dia tetap menahan rasa kekesalannya dengan menampilkan wajah tenang dibalik keseriusannya.

“Aku tidak mengerti maksudmu,” sahutnya.

“Kalau begitu kau bisa mengambil alasan untuk pertahanan diri. Itu akan cukup adil bagimu dan baginya. Hukum pun akan memberikan keringanan atau bisa jadi pengampunan pada dirimu. Terlebih kau merasa tak pernah melakukan kesalahan apapun padanya. Jadi, itu akan sangat adil dan tidak akan pernah ada seorang pun yang menyalahkanmu.”

Suasana terasa hening sejenak. Jordan dan Vuklir saling bertatapan mata, sementara Wergon diam memerhatikan perdebatan itu.

“Kenapa kau tidak pulang saja? Bukankah kau tadi kesal karena kami telah mengambil jam santaimu? Jangan membuatku meminta maaf untuk yang kedua kalinya,” pinta Jordan.

“Haaahhh, kau benar,” ucap Vuklir seraya melepas pandangannya dari Jordan, “Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi.”

“Berhati-hatilah,” kata Wergon.

Setelah Vuklir keluar dari pintu dan tidak membekas keberadaannya, Jordan masih saja diam memikirkan sesuatu.

“Jujur saja, sejak awal aku tidak suka dengan orang itu,” ucap Wergon yang memecah pikiran Jordan.

“Kau baru mulai bekerja hari ini, Wergon. Kau juga baru pertama bertemu dengannya.”

“Aku tahu itu. Dia bahkan tidak menanyakan namaku, seolah dia sudah tahu tentang diriku atau mungkin tidak mau tahu tentang diriku. Seakan yang terpenting dalam pembicaraannya adalah dirimu,” gerutu Wergon, “Ngomong-ngomong, apa kau telah memberitahu masalahmu padanya?”

“Tidak. Tidak sama sekali.”

Wergon hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ringan seraya sedikit mengerutkan dagunya.

Saat itu juga, terdengar suara pintu toko yang terbuka. Terlihat seorang pelanggan wanita tua tersenyum ramah pada Jordan dan Wergon, membuat keduanya teralih perhatiannya untuk melupakan pembicaraan yang tidak terlalu penting tersebut.

Suatu ketika dalam cuaca sore yang mendukung, Delarmy sibuk di dapur, membuat adonan kue dalam jumlah sedikit, yang sepertinya memang sengaja untuk dinikmatinya sendiri. Setelah adonan itu dicetak dalam bentuk cetakan kecil-kecil di atas loyang, kemudian dia memasukkannya ke dalam oven, menunggu hingga adonan itu masak. Dalam penantiannya itu, Delarmy duduk di sofa sambil membaca majalah, dengan setelan acara televisi yang tidak tertonton. Saat itu pula, terdengar ketukan pintu rumahnya. Diapun bangkit dari duduknya untuk segera menghampirinya.

Perlahan dia memutar gagang pintu tersebut, lalu membukanya. Dia terkejut ketika melihat seseorang yang pernah bertemu sekali itu, terpampang lagi di hadapannya, terlebih dia berdiri seorang diri.

“Earon!” sambutnya bahagia.

Earon tersenyum membalasnya, seraya memberikan seikat bunga mawar putih padanya. Dengan senang hati, Delarmy menerima bunga itu. Namun, ada yang membuat Earon terheran-heran ketika melihat kedua tangan Delarmy, hingga rasa penasaran itupun mewujudkan sebuah pertanyaan.

“Bibi. Apakah Bibi sudah kehabisan guci?” guraunya.

“Kau pikir aku akan melemparkan guci padamu? Itu sebabnya kau membawakan bunga ini untukku?”

Earon diam tersenyum, sementara Delarmy justru menertawakannya.

“Hahaha…, aku hanya melakukannya untuk mengembalikan kenangan pada tiga putra kesayanganku dan hanya kulakukan saat kedatangan mereka saja.”

Dalam tawanya yang perlahan melebur menjadi senyuman, Delarmy melihat-lihat sekelilingnya, barangkali ada teman yang bersamanya yang masih tertinggal di belakang.

“Kau tidak bersama Jordan?” tanyanya.

“Tidak, Bibi. Aku datang sendirian.”

“Kalau begitu, masuklah. Masuklah, Nak!” ajak Delarmy.

Tidak lama setelah Delarmy mempersilakan Earon duduk di ruang tamu dan meletakkan bunganya di atas sofa ruang keluarga, kue yang dimasaknya telah matang. Hal yang sangat tepat baginya untuk memberikan sedikit kehangatan suasana sambil dinikmatinya dengan seduhan teh manis hangat. Setelah kue dan dua gelas teh tersaji di atas meja, Earon segera menjelaskan maksud kedatangannya.

“Uh, Bibi,” ucapnya ragu, “Jadi, kedatanganku kemari adalah….”

“Minumlah dulu tehnya! Itu akan membuatmu sedikit nyaman,” kata Delarmy tersenyum, yang duduk berhadapan dengan Earon.

Earon menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan.

“Bibi, bagaimana Jordan bisa tinggal bersama dengan Bibi?”

“Bukankah aku pernah menceritakannya padamu?”

“Maaf, Bibi. Bukan maksudku lancang, tapi aku benar-benar ingin tahu, bagaimana Bibi menemukan Jordan?”

Sekejap senyuman Delarmy langsung melebur.

“Apa yang telah kau ketahui tentang dirinya? Siapa kau sebenarnya?” tanya Delarmy ketakutan.

Melihat kegelisahan Delarmy, Earon menunjukkan sikap sukanya.

“Bibi tak perlu khawatir. Aku hanyalah sahabat Jordan yang terlalu ingin tahu tentang dirinya. Aku pernah mendengar itu dari salah seorang buronan yang telah dieksekusi.”

“Buronan?!” kata Delarmy terkejut, “Jadi, kakaknya adalah seorang penjahat?”

Earon mengerutkan keningnya.

“Maksud Bibi, kakak Jordan? Siapa dia?” lagaknya tak tahu.

“Volan. Dia yang telah menyakiti Jordan. Dia yang membuat Jordan menderita.”

Delarmy menarik napas untuk memulai kisahnya kembali.

“Fajar itu, aku masih ingat betul saat pertama kali mendengar suara tangisan Jordan. Dia sendirian, menahan rasa sakitnya di tepi sungai tak jauh dari kebun belakang. Dia terus mencelupkan luka di tangannya ke dalam air, tapi darah tak henti-hentinya mengalir. Lalu, kubawa dia ke rumah untuk kuobati. Dia anak terkuat dan paling keras kepala yang pernah kutemui. Dalam keadaan luka seperti itu, dia masih saja bisa menegakkan badannya. Berdiri dan berjalan. Bahkan, dia tidak mau kugendong. Dia masih terlihat sangat takut jika menemui seseorang. Tapi, kucoba meyakinkannya kalau aku bukanlah nenek sihir. Aku juga sempat mendengar kalau keluarganya mencarinya. Melihat kondisi Jordan seperti itu, kuputuskan untuk menyembunyikannya terlebih dahulu, dari siapa pun. Dan keputusan itu memang yang diinginkan oleh Jordan. Untuk itulah, dia menutup bekas luka di lengan dan telapak tangannya, untuk menjauh dari kakaknya. Walaupun begitu, Jordan tak pernah menyalahkannya. Dia sangat menyayangi kakaknya, sekalipun kakaknya tidak pernah menyayanginya.”

Earon terharu mendengar setiap kisah yang diceritakan oleh Delarmy.

“Jika dia sangat menyayangi kakaknya, lalu kenapa dia harus menghindarinya?” tanyanya.

“Karena itulah satu-satunya wujud rasa sayang yang bisa dipahami oleh Volan. Tidak ada hal lain yang diinginkan Volan dari apapun di dunia ini, selain membuang Jordan jauh-jauh dari hadapannya. Tapi, dia tidak pernah tahu perjuangan Jordan untuk tetap mempertahankan tali persaudaraannya. Justru semua itu dianggap kebohongan olehnya. Dan jika Volan menjadi buronanmu, itu sudah sepantasnya. Dia pantas menjadi penjahat, karena memang dia adalah seorang penjahat!”

Earon mengangkat mukanya, saat kalimat terakhir itu menyambar dirinya.

Dengan penuh kesal, Delarmy melanjutkan kata-katanya.

“Dia patut dihukum atas kesalahannya karena telah menelantarkan adiknya selama lebih dari sepuluh tahun! Hukuman mati pun tidak cukup baginya. Seharusnya biarkan dia menderita! Biarkan hatinya bersalah dan berharap untuk bertemu adiknya serta mendapatkan pengampunannya! Dan saat itu, aku tidak akan pernah membiarkan Jordan untuk menemuinya hingga ajal menjemputnya dalam deritanya itu!”

Earon begitu ngeri mendengar ucapan Delarmy yang secara tidak langsung ditujukan untuk dirinya. Diapun hanya bisa diam dengan ekspresi wajah yang gelisah, namun juga tampak dari beberapa kedipan kedua matanya yang mencoba menutupi linangan air matanya.

“Tapi, Volan saat itu hanyalah anak-anak. Kondisinya masih labil. Apakah penderitaan itu semata-mata hukuman dari kesalahan yang pernah dia lakukan semasa kecilnya? Apa itu adil, Bibi?”

Delarmy menarik napas kuat-kuat, berusaha untuk memadamkan api dalam hatinya.

“Tidak, Nak. Itu bukanlah hukuman, tapi pembalasan dendam. Dan pembalasan dendam itu tidak pernah adil. Kurasa, seperti itulah pembelaan untuk Volan jika aku mengatakan kata-kata buruk tadi dihadapan Jordan.”

Earon tersenyum hampa.

“Aku tahu Bibi sangat marah. Itu sudah semestinya. Aku pasti juga akan melakukan demikian, bahkan lebih buruk.”

“Jangan, Earon. Jangan pernah membiarkan rasa dendam menggerogoti hatimu hingga kau melakukan segala cara untuk melampiaskan dendam itu. Jangan sampai kau menyesal saat semua sudah terlanjur dan tak bisa kembali.”

Earon menarik napas kuat-kuat.

“Bibi benar. Akhirnya aku tahu apa yang sepantasnya kulakukan. Terimakasih, Bibi,” ucapnya dengan tegas dengan ekspresi wajah yang lega.

Delarmy membalasnya dengan senyuman.

“Dan Bibi. Sebenarnya, buronan yang kuceritakan bukanlah Volan. Dia Fordien, penjahat paling mematikan di Losapins.”

Delarmy langsung terkejut mendengarnya, memunculkan kembali kerisauannya.

“Lalu bagaimana dia bisa tahu tentang Jordan? Apa dia juga ingin menyakiti Jordan?” tanyanya.

“Ma, maksud Bibi, Bibi tidak tahu kalau Jordan punya misi yang sama denganku?”

Delarmy mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan pertanyaan Earon tersebut.

“Misi apa? Jordan hanya anak biasa. Dia bahkan membutuhkan perlindungan dari orang-orang sepertimu. Atau jangan-jangan, Fordien adalah teman Jordan yang kemudian dia ingin balas dendam atas pengkhianatan yang Jordan lakukan padanya?”

Melihat keseriusan wajah kekhawatiran Delarmy, Earon seketika langsung mengerti bahwa Jordan ternyata menyembunyikan hal itu dari Delarmy. Mungkin Jordan tidak mau kalau bibinya terus merasa cemas akan bahaya yang menyertainya sebagai penyusup di tengah penjahat-penjahat kelas atas, pikirnya.

“Tidak, Bibi. Maksudku, misi dalam…, uji senjata. Eksperimen baru kami dan kuminta Jordan untuk membantu dalam hal perhitungan yang menyangkut eksperimen itu. Masalah Fordien, Bibi tidak perlu cemas. Lupakan tentang dia. Semua baik-baik saja. Lagi pula, Bibi lebih mengenal Jordan, bukan?”

Delarmy mengembuskan napas lega dari mulutnya seraya mengeluarkan suara embusannya.

“Kau benar. Jordan tidak mungkin tertipu oleh pertemanan yang buruk. Dia sangat cerdik. Aku juga yakin, dia bahkan lebih cerdik dari Fordien yang mematikan itu.”

“Seandainya saja, dia yang justru melindungiku dari orang-orang seperti Fordien, apakah Bibi juga percaya itu?”

“Tentu saja. Banyak kejutan yang tidak terduga yang hanya bisa kau temukan dalam diri Jordan. Sekalipun kau sulit menerima kejutan itu, tapi memang begitulah kenyataannya.”

Earon tersenyum simpul mendengarnya.

“Cobalah kuenya!” pinta Delarmy, yang sekaligus mengalihkan situasi pembicaraan.

Akhirnya, Earon telah memecahkan dilemanya dan mengambil sebuah keputusan yang tampaknya akan diterima pula oleh orang-orang yang sebelumnya pernah menentang prasangkanya. Diapun menikmati setiap jamuan yang disajikan oleh Delarmy, sebelum akhirnya dia berpamitan untuk kembali ke kota.

Keesokan harinya, dengan langit yang berselimut awan hitam yang tidak merata, namun matahari masih memberikan cahaya harapannya bagi orang-orang yang mau memanfaatkan situasi tersebut. Jordan dan kedua sahabat karibnya berjalan menuju gerbang Universitas Losapins, sambil membawa beberapa berkas tugas akhir semesternya. Banyak mahasiswa lainnya yang berlalu-lalang di gerbang tersebut, melakukan hal yang demikian, namun dengan kadar ketebalan berkas yang berbeda-beda.

“Ow-huhuh, kenapa tugasku paling banyak di antara kalian?” keluh Wergon sambil berjalan agak sempoyongan.

Filhener dan Jordan tertawa mendengarnya.

“Kasihan. Salahmu sendiri terlambat mengumpulkannya.”

“Terlambat dari kalian berdua. Di antara teman-teman yang lain, aku masih berada dalam peringkat lima besar pengumpulan tercepat.”

“Selamat,” ketus Filhener yang membuat Wergon semakin kesal hingga memberikannya kekuatan untuk sedikit meninggikan angkatan bawaannya.

Saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara handphone, yang seketika membuat mereka berhenti melangkah di dekat batu besar bertulis “LOSAPINS UNIVERSITY”, setelah beberapa langkah melewati gerbang masuk.

Jordan langsung meraih tas yang digendongnya. Karena berkas yang dibawanya sedikit, dia pun cukup mudah untuk mengambil handphone-nya dari dalam saku tasnya tersebut. Tercantum nama Mr. C di layar handphone-nya, maka dia segera mengangkatnya, lalu mendekatkannya di telinga kirinya.

“Halo. Ada apa, Lytro?”

Jordan, serbuk hitam dari Fordien, yang pernah kau berikan padaku, hasilnya sudah kudapatkan.

“Lalu?”

Cukup menarik. Tapi, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Temui aku nanti malam di rumah Vurpia.

“Di rumah Vurpia? Bagaimana jika Kak Volan mencurigainya? Maksudku, dia sudah tahu kebenaranku, bukan?”

Tidak ada Earon. Tidak ada kebenaranmu yang terbongkar.

“Kurasa, kau sudah mulai membuat kesalahan lagi.”

Hemmm…, baiklah. Dia sudah mengetahuinya. Tapi, kukatakan padanya kalau aku tidak akan memberitahumu apa yang telah dia ketahui tentang dirimu.

“Singkatnya, kau berbohong lagi padanya.”

Kita akan bicarakan itu lagi nanti malam. Aku ada di kantor. Aku takut kalau dia mendengar pembicaraan ini. Ngomong-ngomong, kau masih menyimpan sebagian dari serbuk itu, ‘kan?

“Tentu, kenapa?”

Karena aku tak perlu mengembalikan sebagian yang kau berikan. Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam.

“Baiklah.”

Begitu Lytro mematikan sambungannya, Jordan memasukkan handphone-nya kembali ke dalam saku tasnya.

“Ada masalah apa?” tanya Filhener.

“Tidak ada,” jawab Jordan, “Oya, nanti malam aku tidak bisa pergi bersama kalian. Kalian berdua jenguklah bibi. Aku akan menyusul di lain waktu.”

“Bisakah kita jalan sekarang? Tanganku sudah gemetaran,” gerutu Wergon.

“Bukan hanya tanganmu, tubuhmu saja sudah gemetaran,” sahut Filhener.

Melihat kondisi Wergon yang mulai tak berdaya, Jordan menawarkan bantuan padanya. Dia memberikan uluran kedua tangannya pada Wergon.

“Eitzz, tidak!” seru Filhener seraya menghalangi uluran tangan Jordan, “Kau tidak perlu melakukan itu.”

“Apa masalahmu?!” tanya Wergon kesal, “Kau sendiri tak mau membantu, lalu kenapa kau malah menghalangi Jordan untuk membantuku?!”

“Aku hanya menjalankan tugas. Jangan salahkan aku atas perjanjian yang kau buat sendiri. Jadi, Anak cengeng, kau lebih…. ”

Tiba-tiba, comelan kedua temannya terdengar memudar saat Jordan merasakan getaran kuat dalam hatinya, hingga membuat situasi pun terasa hening baginya. Dia langsung mencari-cari sesuatu di sekelilingnya, menoleh ke arah samping kanan, kiri, depan, dan belakangnya. Sepertinya dia paham maksud dari getaran kuat itu. Walaupun demikian, tidak ada satu hal pun yang menimbulkan kesan dalam tatapannya tersebut.

“Jordan, ada apa?” tanya Filhener penasaran dengan sikap Jordan, yang seketika membangunkan angan-angannya.

Jordan langsung mengalihkan pandangan pada kedua temannya, diikuti oleh lenyapnya keheningan yang dia rasakan.

“Tidak ada. Ayo!”

Merasa semua memang tampak baik-baik saja, mereka bertiga kemudian melangkahkan kakinya kembali, menuju tempat pengumpulan berkas tugas mereka.

Sesaat setelah mereka tak terlihat dari area depan gerbang masuk kampus, mobil mini warna jingga dengan pintu samping untuk depan dan belakang, yang disetir Earon, muncul perlahan, berjalan di tepian, dan berhenti di depan gerbang tersebut. Tanpa mematikan mesin dan tanpa turun dari mobilnya, Earon melihat-lihat sekelilingnya, mencari seseorang dengan pandangan gelisah seraya mengetuk-ketuk ujung-ujung jarinya ke kemudinya secara bergantian. Namun beberapa saat kemudian, dia pergi dari tempat tersebut setelah dirasa keberadaan seseorang yang sedang ia cari tidak akan terlihat di kawasan tersebut.

Tengah hari itu pun tiba. Awan hitam tipis-tipis kini telah merata di langit Losapins. Namun, cahaya matahari masih bisa terpantul dari balik awan walaupun hanya tampak samar-samar. Mungkin kondisi yang demikian pula yang membuat hawa wilayah kota Losapins terasa lembap dan panas. Earon bersama Vurpia berjalan kaki di sepanjang trotoar yang bersebelahan dengan taman yang membatasi ketinggian sungai Chivori. Sepertinya, Vurpia sengaja menemani Earon untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat. Sambil melangkah ringan, mereka berdua mengamati jembatan kayu di seberang sungai, setelah tampak oleh pandangannya. Dari atas, mereka tidak melihat ada siapa pun yang bermain-main di kawasan jembatan kayu itu. Earon mengembuskan napas keputusasaan, membuat Vurpia juga ikut merasakan derita batinnya.

“Bagaimana kalau aku yang menghubungi Jordan? Jadi, kau bisa dengan mudah menemuinya,” hibur Vurpia.

Earon mengangkat mukanya pada Vurpia.

“Jangan. Aku tidak mau itu.”

Vurpia memikirkan sesuatu untuk menghilangkan kegelisahan calon suaminya itu. Lalu sekilas, pandangannya tertuju pada toko emas di seberang jalan.

“Earon, kita belum membeli cincin pernikahan kita, ‘kan?”

Begitu Earon mengingat itu, dia langsung menepuk dahinya dengan salah satu tangannya.

“Oh iya!” serunya, lalu menurunkan kembali tangannya, “Maafkan aku, Vurpia. Aku benar-benar lupa. Bukan maksudku melupakan itu, hanya saja aku banyak pikiran akhir-akhir ini. Terimakasih telah mengingatkanku.”

Vurpia begitu senang melihat kegelisahan Earon yang memudar.

“Oh, lihat! Ada toko emas di sana! Kita akan membelinya sekalian, ‘kan?” ucap Vurpia kegirangan.

“Tentu saja.”

Mereka berdua kemudian menyeberangi jalan menuju toko emas yang ditunjuk Vurpia. Saat itu pula, Jordan, Filhener, dan Faisr yang bertengger di pundak Jordan, muncul, menuruni tangga menuju jembatan kayu. Jordan merasakan getaran kuat itu lagi saat mendapat setengah tangga. Dia menghentikan langkahnya sejenak. Getaran itu seketika dirasakan juga oleh Earon yang sedang melangkah menuju pintu toko dengan papan yang bertulis “GOLDEN LOSAPINS”, dipajang di dinding luar, atas jendela kacanya. Kemudian, dia menghentikan langkahnya sebelum mendorong pintu toko tersebut. Jordan dan Earon hanya diam berdiri di tempat, merasakan getaran kuat itu. Tatapan kosongnya memikirkan getaran hati itu yang tak kunjung berhenti, namun justru semakin kuat mereka rasakan.

Getaran itu seolah-olah membuat napas Jordan sedikit sesak, hingga dia menarik napas dalam-dalam sekaligus melepaskan pikiran-pikiran yang timbul karena perasaan itu, lalu melanjutkan langkah kakinya, menyusul Filhener yang tak menyadari sikapnya tersebut. Begitu pun dengan Earon yang segera melupakan getaran perasaannya dan melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam toko, setelah Vurpia memanggil namanya. Dua bersaudara itu terlihat begitu menikmati kegiatannya masing-masing. Jordan dengan kehangatan menemani penghuni sungai Chivori, sementara Earon dengan kebingungan memilih cincin pernikahannya. Namun di balik kesibukan yang mereka lakukan itu, tidak luput dari getaran hati yang tak kunjung berhenti dirasakan.

Setelah merasa cukup, Jordan bersama Filhener melangkahkan kakinya untuk kembali pulang. Tidak tampak Faisr di antara mereka, mungkin dia sudah lepas ke udara sebelum tuannya selesai dengan urusannya di jembatan kayu. Begitu juga dengan Earon, keluar dari pintu toko dengan ekspresi wajah yang begitu bahagia bersama Vurpia. Posisi Jordan dan Earon saat itu tepat berada di atas ketinggian sungai. Jordan di trotoar tepi ketinggian sungai, sementara Earon di trotoar deretan toko-toko seberang sungai dan jalan utama. Mereka berdua bisa saja saling bertatap muka karena arah jalan mereka saling berpapasan walaupun dengan jarak seberang yang cukup jauh. Namun karena sepertinya mereka telah memutuskan untuk tidak memedulikan perasaan itu lagi, maka yang terjadi pun tidaklah demikian. Earon yang ingin sekali melihat Jordan, justru kesempatan saat itu seolah terlewatkan begitu saja olehnya. Sementara Jordan, setelah beberapa langkah melewati garis papasan dengan Earon, tiba-tiba langkahnya terhenti sambil memikirkan sesuatu, seakan kepedulian atas perasaannya itu kembali muncul. Dia memalingkan tatapannya ke seberang sungai. Pandangannya terperangah ketika melihat kakaknya berjalan menjauh ke arah barat, bersama calon istrinya.

Filhener yang melihat tatapan Jordan yang tak kunjung berpaling itu, membuatnya penasaran hingga diapun melacak bidikan dari tatapan Jordan tersebut.

“Volan?!” kata Filhener terkejut melihat keberadaan Earon yang masih tampak oleh penglihatannya.

“Ya,” sahut Jordan seraya memalingkan pandangannya dan kembali melangkahkan kakinya, yang kemudian disusul oleh Filhener.

“Kukira, kau akan berteriak menyapanya,” ujar Filhener sesaat setelah berhasil meraih kesejajaran posisi jalan dengan Jordan.

Jordan hanya menjawabnya dengan senyuman lebar yang justru membuat Filhener ikut tersenyum tenang dan terkagum-kagum.

“Mantra apa yang kau pakai di balik senyumanmu itu, Jordan?”

Siang hari itu telah merambat menjadi petang dengan nuansa udara mendung.

Jordan bersiap-siap menemui Lytro untuk melanjutkan perbincangannya yang belum selesai. Tak lupa, dia membawa busur kesayangannya yang kemudian dimasukkannya ke dalam tas yang biasa dipakai saat kuliah. Setelah berpamitan dengan dua teman serumahnya, dia lalu mengendarai sepeda motornya menuju rumah Vurpia.

Di sebuah rumah yang tampak berdiri menyendiri di tepi jalan menuju desa Wesnoreast. Ketika Delarmy sedang menikmati acara televisi sambil duduk di atas sofa ruang keluarga, terdengar suara ketukan pintu. Dengan rasa berat membangkitkan tubuhnya, Delarmy tetap melangkahkan kakinya untuk melihat tamunya kali ini. Saat pintu merambat terbuka, tatapan mata Delarmy terperanjat senang.

“Earon! Kau datang lagi?”

Namun sesaat setelah itu, tatapan mata Delarmy berubah menjadi tatapan ketakutan.

“Earon, apa yang kau lakukan?! Jangan lakukan ini!”

Teriakan kesakitan Delarmy langsung terdengar keras di tengah wilayah perbatasan yang sepi.

Di rumah Vurpia, dengan desain interior ruang tamu yang sederhana, namun masih tampak rapi dalam penataan ruangannya. Cat warna merah yang menyelimuti dinding ruangan tersebut dengan pajangan jam bundar yang menunjukkan pukul 19.43 waktu Losapins. Sebuah kertas berisi tulisan tangan komputer tersodor di atas meja tepat di hadapan Jordan.

“Ini rincian kandungannya,” kata Lytro.

Jordan sedikit menarik kertas tersebut ke dekatnya, untuk memperjelas bacaan tulisan tersebut.

“Kau ingin memberiku resep ini? Aku bahkan sama sekali tidak mengenal nama-nama ini.”

Bersabarlah.

Jordan mendengar bisikan itu lagi. Namun, raut wajahnya tetap tenang dan biasa, walaupun sekejap dia sempat diam memikirkannya.

“Bukankah perjanjian seperti itu yang pernah kita sepakati dulu? Lagi pula, kau akan tertarik setelah mendengar ini. Serbuk itu dapat membunuh seseorang dalam hitungan detik. Sedikit saja kulitmu tergores bersama racun ini, maka tubuhmu tidak akan memiliki nyawa selama setengah jam.”

Jordan mengerutkan keningnya.

“Maksudmu, racun ini hanya bisa mematikan orang sesaat saja?”

Lytro mengangkat salah satu jari telunjuknya setinggi dadanya dan berkata, “Tepat.” Kemudian, menurunkan kembali tangannya dan berlanjut, “Tapi, ada takarannya untuk mengambil berapa lama kematian yang diinginkan dan aku baru mendapat informasi kalau waktu tercepat adalah setengah jam dan terlama belum diketahui. Mereka baru mengujinya hingga satu setengah hari kematian. Tapi maaf, aku belum bisa memberimu daftar takaran yang belum pasti itu. Mereka kehabisan stok dan harus membuat ramuannya lagi.”

“Kami menduga pembunuhan yang dilakukan Fordien merupakan percobaan dari hasil karyanya yang gagal. Kami telah mengidentifikasi perbedaan kandungan zat racun dalam darah setiap korbannya,” jelas Vurpia yang duduk di samping Jordan dengan jarak yang agak berjauhan.

“Jadi, dia membuat racun ini untuk mengantisipasi kejadian seperti penangkapannya. Tapi, kenapa kemarin dia tidak menggunakannya?”

“Sebenarnya, dia telah mengantongi beberapa gram di saku celananya. Kurasa dia memilih untuk tidak menggunakan itu, setelah sadar kalau kau yang telah memberitahukan keberadaannya pada kami. Kesempatan langsung melarikan diri lebih bagus dari pada mengecoh polisi yang sudah mengetahui trik kematiannya,” sahut Lytro.

Mendengar penjelasan Lytro, ekspresi wajah Jordan menjadi diam seolah memikirkan sesuatu.

“Ada apa?” ujar Lytro melihat reaksi Jordan, “Menurutmu, ada alasan lain kenapa dia melakukannya?”

“Aku hanya merasa kasihan padanya. Dia begitu genius, sayang dia tersesat. Seandainya aku tahu apa yang membuatnya demikian, maka akan kucoba mengubahnya dan kegeniusannya pasti memberi manfaat yang besar bagi kita semua.”

Lytro mendengkus.

“Orang seperti dia tidak pantas dikasihani. Hukuman yang dia terima sudah sesuai dengan perbuatan yang selama ini dia lakukan.”

Jordan berpikir lagi.

“Jika benar yang terjadi seperti itu, lalu kenapa dia tidak mengolesinya di setiap mata anak panahnya? Membuat mangsanya tak berdaya, mempermudah pelariannya. Lagi pula, dia pemanah yang hebat. Goresan bisa saja pasti terjadi,” pikir Jordan.

“Seperti yang kukatakan, semua di luar rencananya. Dia memang sengaja untuk tidak menggunakan serbuk itu pada siapa pun, agar tidak ada yang tahu trik kematian yang akan dia gunakan. Beruntung dia tidak berpikir kalau kami baru bisa memecahkan ramuannya dua hari setelah penangkapannya. Tapi jika saja dia menggunakannya pada anak panahnya, kuyakin Earon sudah dikubur hidup-hidup.”

Keseriusan Jordan langsung berubah menjadi kemurungan setelah mendengar kalimat terakhir Lytro.

“Earon. Bagaimana dengannya?”

“Dia baik-baik saja,” sahut Lytro spontan.

Suasana terasa hening sejenak. Lytro melihat tatapan Jordan yang serius menanyakannya.

“Oh, ehm, itu,” ujarnya agak bingung.

“Dia sudah tidak punya masalah denganmu. Kau tahu, aku telah membentaknya hingga dia tidak bergerak sama sekali, hahaha…,” lanjutnya dengan tawa senangnya.

Lalu tawanya memudar, melihat tidak ada yang menanggapinya.

“Aku serius. Dia sudah kusadarkan.”

Beberapa saat setelah tidak tersisa kerutan senyum di raut muka Lytro, Jordan dan Vurpia malah berbalik tersenyum lebar melihat sikapnya.

“Lytro benar. Bahkan seharian ini, aku melihat dia bersikeras mencarimu. Dia tidak mau aku atau siapapun menghubungimu hanya untuk mempertemukan kalian berdua. Wajahnya begitu sedih setiap dia gagal menemukanmu. Persahabatan yang pernah kalian jalin yang telah membuat hatinya luluh.”

Jordan terlihat begitu lega mendengar informasi Vurpia.

“Oh iya. Ayo, Teman-teman. Cobalah buahnya!” ajak Vurpia seraya menganjurkan tangannya ke arah mangkok besar berisi aneka macam buah, “Biar aku kupaskan.”

“Tidak perlu, terimakasih,” kata Jordan yang seketika menghalangi tangan Vurpia yang hampir menyentuh pisau di dekat mangkok tersebut, “Nanti kami bisa ambil sendiri.”

Vurpia menurunkan tangannya dengan ekspresi wajah kesal-kesal manja.

“Nanti kapan? Ujung-ujungnya kau tidak akan memakannya, ‘kan? Aku sengaja mempersiapkan ini untuk kalian.”

“Baiklah-baiklah,” kata Jordan seraya mengambil pisaunya dan satu buah apel merah besar, “Kau mau juga, Lytro?”

“Ya, sekalian juga.”

Beberapa waktu kemudian, setelah mereka bertiga selesai dengan urusannya, Lytro dan Jordan berpamitan pulang pada Vurpia. Saat itu, hujan juga turun dengan cukup lebat. Sempat Lytro menawarkan Jordan untuk ikut bersamanya dengan mobilnya dan menitipkan motornya di tempat Vurpia. Namun, Jordan menolak dengan alasan telah membawa mantel. Jordan baru teringat kalau busurnya masih tertinggal di rumah Vurpia, selepas dia mengucapkan salam untuk berpisah jalan pada Lytro. Lytro yang juga mengetahui hal itu, hanya bisa meminta maaf untuk mendahuluinya dan tidak bisa menemaninya. Jordan dengan senang hati tidak memberatkan kehendak Lytro tersebut. Diapun kembali ke rumah Vurpia seorang diri.

Sesampainya di sana, Jordan berlari menuju teras depan pintu. Baru saja dia mengayunkan salah satu kepalan tangannya sebelum menyentuh dinding pintu, terdengar suara kunci pintu yang terbuka dari dalam. Vurpia langsung muncul di hadapannya.

“Bagaimana kau tahu aku datang?” tanya Jordan terheran-heran dengan kepalan tangannya yang masih diam terangkat.

“Aku mendengar suara motormu, jadi aku tahu itu kau. Kau kembali untuk busurmu, ‘kan?”

Jordan mengangguk-angguk sambil menurunkan tangannya.

“Ini!” kata Vurpia seraya menganjurkan busur Jordan dengan kedua tangannya.

Tanpa berpikir panjang, Jordan langsung mengambil, lalu menyandangkannya.

“Terimakasih. Kalau begitu, aku pulang dulu.”

Vurpia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar, lalu berkata, “Ya, berhati-hatilah.”

Jordan berlari menuju motor yang diparkirnya, di depan pagar halaman rumah Vurpia. Beberapa saat setelah dia menaiki dan memutar kuncinya, serta sebelum menghidupkan motornya, tiba-tiba terdengar suara panggilan handphone-nya. Dia agak berpikir-pikir untuk mengambilnya karena hujan terus mengguyur tubuhnya. Sejenak dia melihat ke arah pintu rumah, Vurpia sudah tak berdiri di sana. Karena bunyi handphone-nya yang seolah memaksanya untuk diangkat, diapun merogohnya dari balik mantel, di saku kiri jaketnya, dan langsung mendekatkannya ke telinga tanpa melihat nama pemanggilnya. Tapi, dia baru sadar kalau helmnya masih terpasang di kepalanya, hingga dia kemudian melepaskan helmnya, baru mendekatkan handphone­-nya itu lagi yang sudah kebasahan.

“Halo.”

Jordan diam mendengarkan suara orang dibalik teleponnya. Dengan masih diam menempelkan handphone di telinganya, tiba-tiba matanya terbuka lebar-lebar dengan pandangan bingung dan ketakutan.

“Aku segera ke sana.”

Jordan langsung memasukkan handphone itu ke saku mantelnya, memakai helmnya, lalu menancap gas. Tampak dari setiap gerakannya yang gemetar, khawatir dengan kenyataan yang akan dihadapinya.

Suasana tersorot kembali di rumah Vurpia.

Tak lama setelah rumahnya kembali sepi dari kehadiran temannya, Vurpia mendengar suara ketukan pintu. Itu pasti Jordan lagi, pikirnya. Dia kembali membukakan pintu untuknya. Saat pintu setengah terbuka, Vurpia berkata, “Jordan, aku tahu kau pasti mencari….”

Ucapannya sekejap langsung berhenti ketika pandangannya melihat dengan jelas wajah seseorang yang berdiri di hadapannya. Terlihat dari raut muka Vurpia yang penuh dengan kesal dan kecurigaan pada orang tersebut. Dan selang beberapa saat, suara jeritan ketakutan dan kesakitannya dari luar, tersamar oleh suara derasnya hujan.

Jordan berlari di lorong-lorong rumah sakit, mencari sebuah kamar yang menjadi incarannya. Setiap langkahnya menetaskan air yang membasahi lantai, mengalir dari bajunya yang basah kuyup. Wajahnya begitu gelisah, memikirkan ketakutan bayang-bayangnya. Begitu sampai di tikungan terakhir, dia melihat Wergon dan Filhener telah berdiri di depan sebuah ruangan. Dia berlari mendekatinya.

“Di mana, Bibi?” tanyanya yang hampir menyerobot masuk ke dalam ruang gawat darurat, sebelum Filhener menghalangi tubuhnya.

“Tenanglah, Jordan. Dokter sudah menanganinya. Kita berdoa semoga semua baik-baik saja.”

Mendengar ucapan sahabatnya, dan dalam napasnya yang masih terengah-engah, Jordan mencoba menenangkan dirinya dengan mengambil beberapa napas.

Kecemasan tak bisa lenyap dari hati ketiganya yang ingin segera mengetahui laporan dari dokter tentang kondisi Delarmy. Dalam penantiannya itu, terkadang mereka duduk beberapa saat, lalu bangkit berdiri lagi, adakalanya juga jongkok, sambil menopang dahi, menggigit jari, atau merapatkan kedua telapak tangan yang ditempel ke bibir. Akhirnya, penantian itu telah usai. Mereka diijinkan masuk untuk menemani Delarmy yang masih terbaring tak berdaya, memakai selang napas di hidungnya, dan sebuah patient monitor yang menunjukkan bahwa kondisi Delarmy masih lemah. Jordan duduk di samping bibinya dengan terus memegang tangannya, berharap bibinya dapat merasakan keinginan putranya, agar dia bisa tersadar dan tersenyum kembali untuknya. Sementara Wergon dan Filhener menemaninya dengan duduk di sisi kursi yang lain.

Pagi-pagi buta, ketika Earon sedang meneguk segelas air putih di dapur, dengan wadah air minum yang masih diletakkan di atas meja di dekatnya, mungkin memang sengaja kalau-kalau belum memuaskan dahaganya, tiba-tiba terdengar deringan telepon rumahnya. Dia yang tak lama baru bangun tidur itu, berjalan menghampiri sumber suara di ruangan setelah dapur. Semua tampak seperti biasa baginya. Tidak ada gerutu dalam benaknya, siapa yang pagi-pagi sudah menelepon.

Setelah dia mengangkat gagang telepon berkabel itu, masih dengan menggenggam gelas di salah satu tangannya,

“Halo,” sahutnya, berdiri seraya menyeruput minumannya.

“Hmmm, ada apa, Lytro?”

Tiba-tiba, wajahnya mengerut mendengar suara Lytro dari balik telepon dan tak lama setelah itu, matanya terbuka lebar-lebar dengan mulut yang menganga kaget. Sekujur tubuhnya serasa lemas hingga gelas yang dipegangnya terpeleset dari genggamannya. Dia terlihat seperti mengumpat kebingungan, ketakutan, dan kesedihannya, mencoba untuk tidak terlalu cepat percaya akan informasi yang didengarnya.

“Di mana sekarang?”

Begitu mendengar jawaban atas pertanyaannya, dia langsung menutup teleponnya dan bergegas pergi.

Mentari telah merambat naik dengan langit biru sempurna. Namun, sinar surya hari itu hanya terasa menjadi sinar kesuraman hati bagi para pemegang busur. Earon beserta rekan-rekan AKLA, menyampaikan pesan batin terakhir untuk Vurpia yang telah terbaring tenang bersama para penghuni tanah. Sebuah batu setinggi satu jengkal telah terpajang di atas kuburannya. Banyak dari kerabat dan sahabatnya yang menangis terisak-isak, tidak percaya dengan kepergian wanita yang dikenal periang itu, yang begitu mendadak. Terlebih Earon, kesedihannya yang sangat mendalam hanya bisa dilampiaskan oleh tetesan air matanya yang membisu. Beberapa saat setelah hanya tersisa rekan satu timnya Earon dan Lytro, yang berdiri di sekeliling pemakamannya, datanglah seorang polisi yang mendatangi mereka.

Polisi tersebut memegang salah satu bahu Earon, sebagai ungkapan rasa turut berdukanya. Dari sikap itulah, tampaknya dia juga sudah sangat akrab dengan pemimpin AKLA itu.

“Tetaplah kuat, Volan,” katanya menyemangati Earon, lalu menurunkan tangannya, “Kami sudah menyelidiki dugaan pelaku pembunuhan Vurpia. Dilihat dari sidik jari yang sama, ditemukan di pisau yang menjadi alat pembunuhan dan sebuah pita biru berlonceng yang ditemukan di genggaman tangan Vurpia, jelas sekali adalah milik Jordan Miguveer dari keluarga Delarmy Miguveer.”

Earon dan Lytro seketika langsung merengutkan keningnya.

“Apa maksudmu?” sahut Lytro mencoba mengelaknya.

“Itu benar. Kurasa, Vurpia sengaja merebut mainan lonceng itu dari pelaku untuk memperkuat buktinya.”

Lytro sangat tidak percaya dengan pernyataan itu. Sedangkan Earon, ekspresi wajahnya menjadi sangat murka. Mulutnya meremas-remas seolah Jordan yang akan menjadi sasaran gilingannya. Kedua tangannya mengepal kencang yang juga siap digunakan untuk melumpuhkannya. Kemudian, polisi itu pun meninggalkan keduanya yang sedang dilanda perasaan tak terkira. Lytro yang melihat kobaran api dalam diri Earon, meyakinkannya untuk tidak cepat menerima dugaan itu.

“Earon, itu bukan Jordan. Pasti ada orang lain di balik semua ini. Dia pasti menaruh dendam pada Jordan hingga dia melakukan tipuannya dengan cara seperti ini.”

“Apa kau yakin dengan itu?”

Lytro menjawabnya dengan penuh kebimbangan dan keragu-raguan.

“I, i, iya. Aku tahu, memang tadi malam kami di rumah Vurpia.”

“Apa?!” kata Earon terkejut seraya mengerutkan keningnya.

“Tapi, aku sangat yakin kalau bukan Jordan pelakunya. Sekalipun, dia memang kembali untuk mengambil busurnya yang tertinggal di rumah Vurpia.”

“Katakan padaku. Apakah dia mengambil busur itu sendirian?”

“I, iya.”

“Sudah sangat jelas kalau memang dia pelakunya,” kata Earon geram.

“Tidak. Pasti orang lain telah membawa busurnya sebelum Jordan mendapatkannya.”

Earon langsung menunjukkan tatapan mengerikannya pada Lytro yang sekaligus membuatnya tertunduk.

“Aku telah memercayaimu dan terlalu memercayaimu. Seharusnya, aku tidak perlu mendengar ocehan dari orang-orang sepertimu. Dan kesempatan yang kuberikan pada Jordan, inikah yang kudapatkan?! Jika saja, sejak saat itu kau tidak menghalangiku untuk menangkapnya, maka tidak ada lagi korban seperti ini! Karenamu, semua ini terjadi! Apa yang bisa kau bela dari Jordan saat ini? Punyakah kau bukti atas pembelaanmu itu?! Sementara aku punya banyak bukti. Akulah salah satu korban Jordan! Aku adalah bukti terkuat atas kejahatannya! Kau bukan siapa-siapa, kecuali orang yang telah terpengaruh oleh pemikiran Jordan!”

Lytro tak bisa berkata apapun, hanya diam, mendengar cipratan emosi Earon.

“Saat ini juga, dia dan kedua temannya telah dicabut sebagai mata-mata dan dicap sebagai buronan kelas atas. Kupastikan akan segera menangkapnya. Dan jika sekali lagi, kau membantu pelariannya, sekalipun setelah ini, kau akan meneleponnya agar segera menjauh dari kota ini, maka tidak segan-segan aku akan menyeretmu juga ke dalam penjara. Jangan lihat ini sebagai pembalasan dendamku, tapi tugasku untuk mengamankan Losapins. Dan sudah menjadi tugasmu pula untuk lebih melindungi masyarakat dari pada melindungi seorang penjahat.”

Earon langsung pergi meninggalkan Lytro yang berdiri tak berdaya di dekat makam Vurpia. Dengan tatapan cemas, Lytro melihat batu penanda makam itu, lalu bergumam sendiri, “Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Dua hari selama penantian kesadaran Delarmy, Jordan akhirnya bisa merasakan gerakan kecil dari tangan bibinya, walaupun belum sampai membuka mata. Dia begitu senang melihatnya, demikian juga dengan Wergon dan Filhener yang langsung mendekati ranjangnya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, melihat apakah benar yang dilihat oleh Jordan tersebut. Kemudian dari balik tidur lemasnya itu, terdengar suara desisan yang keluar dari mulut Delarmy.

“Earon. Earon. Mata merah. Earon. Mata merah,” igau Delarmy lemah.

Jordan, Filhener, dan Wergon menegakkan kembali tubuhnya, lalu saling bertatap muka. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya, apakah maksud ucapan Delarmy itu bahwa Earon adalah si mata merah yang selalu terbayang pada setiap peristiwa aneh yang mereka alami.

 

No comments:

Post a Comment