Pohon-pohon menari-nari
mengikuti arah embusan angin sepoi-sepoi, daun-daun beterbangan menelusuri
rerumputan hijau, suara gemercik air yang mengalir menganak sungai,
burung-burung yang terus berpaduan suara, daerah pertanian yang masih
terbentang luas, begitulah gambaran sosok tempat yang mampu menenteramkan hati
setiap insan, pedesaan.
Di sebuah tempat bernama Wesnoreast merupakan satu-satunya desa yang masih ada di wilayah Losapins. Disanalah hidup seorang pemuda sederhana yang bernama Phosar Kayshn. Dia anak tunggal dari pasangan Panca dan Sarah Kayshn. Walaupun ibunya sudah tiada, dia dapat melakukan pekerjaan rumah secara mandiri. Dia pun tak lupa selalu membantu ayahnya bekerja di ladang, terlebih saat musim panen tiba.
Hari itu ketika sedang
mengolah tanah di ladang, ia merasakan sesuatu yang mengenai pisau cangkulnya.
Begitu keras hingga akhirnya dia harus mengambilnya dengan tangan kosong. Dia
berpikir bahwa itu hanyalah batu biasa, tapi saat ia merasakan sesuatu seperti
ranting pohon, ia mulai menggalinya lebih lebar. Tak sabar ingin mengetahui
benda apa itu sebenarnya, maka ia pun mencabutnya secara paksa. Dengan sekuat
tenaga, akhirnya dia mampu mengeluarkan benda itu. Dia terkejut ketika melihat
sebuah busur berada di genggaman tangan kanannya. Tatapannya hanya tertuju pada
busur tersebut dan sejenak ia merasakan kesunyian di sekitar tempat dia berdiri
diiringi oleh embusan angin yang mengenai tubuhnya. Terdengar suara lirih di
telinganya yang terus memanggil namanya dengan tempo lambat.
“Phosar, Phosar, Phosar, aku
butuh bantuanmu.”
Dia terperanjat ketika
sesuatu menepuk pundak kirinya dan langsung membalikkan pandangannya ke
belakang.
“Phosar, apa yang sedang kau
lakukan? Aku butuh bantuanmu untuk mengambil ember di gudang.”
Phosar menarik napas dan
mengembuskannya melalui mulut.
“Tuan Panca Kayshn, kau
mengagetkanku!” kata Phosar agak kesal.
“Benarkah? Untungnya aku
tidak membuat jantungmu pingsan, hehehe.... Sekarang, ambilkan embernya!”
“Baik, Ayah.”
Dia pun membawa busur yang
ia temukan ke rumahnya, meletakkannya di atas meja kamarnya dekat dengan
jendela kayu yang setengah terbuka. Selama dia berjalan kembali ke ladang
dengan membawa embernya, dia berpikir tentang tanah bekas ia menemukan
busurnya. Mungkin ada harta karun yang terpendam di sana atau benda berharga
lainnya, pasti busur itu bukanlah busur biasa, memiliki harga jual yang tinggi.
Atas rasa penasarannya, maka setelah memberikan ember itu kepada ayahnya, ia
melanjutkan penggaliannya dan ternyata apa yang dia pikirkan tidak salah. Dia
menemukan sebuah busur yang lain. Namun, ketika dia mencoba menggalinya lebih
dalam lagi, hanya menemukan batu-batu kecil biasa. Setidaknya dalam hati, ia
merasa bahagia karena menemukan dua benda peninggalan yang bernilai tinggi.
Malam hari pun tiba, Phosar
dan ayahnya harus beristirahat untuk melanjutkan pekerjaannya besok. Di atas
ranjang dengan pintu jendela yang masih terbuka lebar dan sinar bulan yang
begitu terang, Phosar membersihkan kedua busur yang ia temukan sore tadi dengan
kain bekas baju lamanya. Dia terus mengamati, bahkan menggaruk-garuk permukaan
salah satu busur dengan kuku jempolnya. Ketika busur itu sedikit diangkat
hingga genggaman tangannya sejajar dengan matanya, sesaat dia melihat sesuatu,
seperti kilauan garis yang berada di permukaannya. Dia pun mencoba
memutar-mutar busur itu, membolak-balik ke atas, bawah, depan, belakang, dan
berharap dia dapat menemukan kilauan garis itu kembali. Tapi sayang, dia tetap
saja tidak bisa melihatnya lagi.
“Ah! Mungkin itu karena
pantulan sinar bulan saja,” pikirnya.
Setelah cukup lama mengamati
kedua busur itu, dia mulai mengantuk hingga akhirnya dia pun harus tidur dan
meletakkan kedua busur itu di atas mejanya. Sejenak dia teringat untuk menutup
pintu jendela kamarnya, maka dia bangun dan kembali melompat ke atas
ranjangnya.
Beberapa bulan kemudian
terdengar kabar yang menyedihkan di desa tersebut, ayah dari Phosar telah
meninggal akibat demam tinggi yang tak kunjung sembuh. Betapa sedihnya Phosar
saat itu. Kini dia harus melakukan semua pekerjaannya sendirian. Tetangganya
tak sanggup membantunya, tentu karena mereka punya urusan sendiri terhadap
keluarga mereka masing-masing. Phosar merasa berat untuk tinggal sendiri di
desa, terlebih dia tak mampu mengurusi ladang ayahnya. Sejak itu, dia berencana
untuk menjual rumah, ladang, dan busur miliknya yang dianggap berharga kepada
tetangga atau orang kenalan dari tetangga yang mau membelinya sebagai tabungan
untuk berkelana ke kota Losapins. Beruntung hasil yang ia peroleh cukup banyak
sehingga dia langsung pindah kehidupan di kota.
Sebuah taksi berhenti di
depan kantor yang pintu kaca jendelanya bertulis “Dibutuhkan Segera Seorang
Pengaman”, kemudian seseorang turun dari taksi tersebut, mengambil beberapa tas
yang terlihat cukup berat baginya dari bagasi. Phosar kini telah sampai di
kota. Dia tersenyum ketika melihat suasana di tengah kota yang ramai, melihat
gedung-gedung pencakar langit yang masih tampak dari tempat ia berdiri. Tak
segan-segan ia langsung menghampiri sebuah tempat tepat di sebelah kantor
tersebut, yang bertulis “Butuh Kost Pria? Silakan Masuk dan Konfirmasi dengan
Tuan Rumah.” yang ditempel di pagar temboknya. Namun, baru berjalan tiga
langkah, tiba-tiba sopir taksi memanggilnya.
“Tuan, saya rasa ini milik
Anda!” kata sopir taksi seraya memperlihatkan dua busur milik Phosar.
“Oh, ya terimakasih,” balas
Phosar sambil meringis.
Phosar memang sengaja meninggalkan
kedua busurnya di dalam bagasi, berharap kedua busur itu dipegang oleh orang
lain. Tetapi, rencananya selalu saja gagal. Dia tak tega membuangnya, juga tak
tega membakarnya.
Setelah mendapat izin dari
tuan rumah untuk menyewa sebuah kamar di lantai tiga, dia mulai beristirahat,
membawa barang-barang ke dalam kamar dan meletakkannya di samping ranjangnya.
Phosar kemudian membuka gorden jendela kamarnya, menghirup napas dalam-dalam,
memandang seluruh area yang dapat ia lihat dari jendela. Beberapa menit
kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Dia terkejut saat membuka pintu,
ternyata tuan rumah sudah berdiri di depannya dengan pandangan yang agak
mengerikan baginya.
“Ada apa, Pak? Apakah uang
sewanya kurang?” tanya Phosar agak terbata-bata.
Maklum dia kurang mengenal
orang-orang kota sehingga komunikasinya pun kurang lancar.
“Jangan pernah tinggalkan
barang-barangmu di rumahku, mengerti?” ucap si tuan rumah dengan nada tenang
seraya memberikan kedua busur itu ke tangan Phosar secara paksa.
Phosar hanya bisa terdiam
dan menganggukkan kepalanya.
Akhirnya tuan rumah berwajah
sangar itu pun meninggalkan Phosar dan dia kembali menutup pintu kamarnya, lalu
duduk di atas ranjang sambil menatapi kedua busur itu.
“Kenapa kalian sulit sekali
disingkarkan? Kupikir kalian benda-benda peninggalan masa kuno, maka kucoba
jual kalian. Tapi ternyata, yang kuno hanya penampilannya. Siapa yang mau
membeli. Bahkan, tak seorang pun mau menerima saat kuberikan pada mereka. Aku
merasa kalian akan menjadi ancaman besar dalam hidupku!” kata Phosar yang
langsung memalingkan pandangannya seraya meletakkan busur-busurnya di atas
ranjang.
Bertahun-tahun hidup di
kota, akhirnya dia memperoleh apa yang dia inginkan, seorang istri. Dia
menikahi seorang janda muda yang telah memiliki satu putra. Nama wanita itu
adalah Reina Earon dan putranya Volan Earon yang masih berumur dua setengah
tahun. Betapa beruntungnya hidup Phosar, karena wanita yang ia nikahi begitu
cantik, kaya, dermawan, dan baik hati. Kini Phosar tinggal bersama istri dan
anak tirinya di sebuah rumah besar berlantai dua yang di dalamnya terdapat
banyak kamar dan ruangan yang megah, memiliki taman yang luas dengan hiasan
tanaman bunga di setiap jalan halaman rumah mereka.
Setelah satu setengah tahun
menikah, ikatan cinta Phosar dan Reina semakin kuat sejak mereka dikaruniai
seorang anak laki-laki bermata coklat tua khas penduduk desa Wesnoreast, yang
diberi nama Jordan Kayshn. Akan tetapi, sejak kelahiran Jordan, Volan justru
merasa sudah tak lagi mendapat perhatian yang lebih dari orang tuanya. Dia
selalu beranggapan bahwa orang tuanya lebih menyayangi Jordan dari pada
dirinya. Sehingga semasa kanak-kanaknya, dia menjadi anak yang sangat manja.
Dia lebih memaksakan sesuatu yang dia inginkan agar segera dipenuhi oleh orang
tuanya dan setiap kali ibunya lebih memperhatikan Jordan, rasa benci terhadap
adiknya tumbuh. Bahkan terkadang dia pun menyalahkan Jordan sebagai penyebab
dari masalah yang ia alami.
Kini Jordan telah berumur 9
tahun. Dia bersama kakaknya belajar di sebuah sekolah dalam satu pagar yang
sama. Setiap hari mereka berdua diantar dengan menggunakan mobil mewah. Namun
saat pulang, mereka lebih suka jalan kaki bersama. Saat jam kelas Volan sudah
selesai, dia selalu tahu ke mana dia harus pergi pertama kali, menemui Jordan
yang sedang menunggunya di depan kelas 4 SD, duduk di atas kursi panjang sambil
membaca buku komik kesukaannya. Mereka selalu membeli es krim yang dijual di
depan pintu pagar sekolah sebelum sampai ke rumah. Itu pun menggunakan uang
saku Jordan. Jika uang sakunya habis, tentu saja Volan akan meninggalkannya
untuk pulang sendirian.
Hari pembagian rapot telah
tiba. Malam hari ketika Phosar baru saja duduk di sofa ruang keluarga sehabis
bekerja, kedua anaknya langsung berlari menghampirinya. Mereka berlomba
memperlihatkan nilai hasil belajar mereka yang sangat memuaskan.
“Ayah, lihat! Aku mendapat
nilai A untuk matematika!” kata Jordan kegirangan.
“Ah, itu tidak seberapa
Ayah! Lihatlah nilaiku! Aku mendapat A untuk semua nilai mata pelajaran!,”
sahut Volan sambil menyodorkan lembar nilai di depan ayahnya.
“Aku juga semua mata
pelajaran, Ayah!” balas Jordan.
“Mata pelajaranmu hanya
sedikit, sambil tidur pun kau bisa memperoleh nilai bagus. Aku butuh perjuangan
keras untuk belajar sebanyak ini. Bukan begitu, Ayah?”
Belum sempat melihat
lembaran nilai mereka, Phosar tersenyum lebar kepada kedua putranya. Dia
memegang tangan kiri Volan dan tangan kanan Jordan, lalu meminta mereka untuk
duduk di samping kanan kirinya.
“Aku sangat bangga pada
kalian berdua. Putra yang sangat aku sayangi. Betapa beruntungnya aku memiliki
ibu kalian. Memilikimu, Volan. Dan memilikimu, Jordan. Sebagai hadiah atas
kerja keras kalian, maka aku akan memberikan sesuatu yang sangat istimewa.
Kalian tunggu di sini!” kata Phosar yang bangkit berdiri dari tempat duduknya,
lalu berjalan menuju kamar tidurnya.
Volan dan Jordan penasaran
dengan hadiah yang akan diberikan dari ayahnya.
“Biar kutebak! Pasti ayah
akan memberiku sertifikat motor balap,” kata Volan sambil menatap
langit-langit, tersenyum merenungkan perkiraan jenis motor balapnya.
“Itu bagus, mungkin ayah
akan memberiku…., bersabarlah.”
Sekilas Jordan mendengar
sesuatu sebelum dia melanjutkan tebakannya.
“Apa? Bersabar?” tanya
Jordan kepada Volan.
Volan mengakhiri renungannya
dan langsung menatap Jordan.
“Bersabar? Kau mau ayah
memberimu kesabaran? Tak apa, lagi pula itu memang pantas buatmu.”
“Bukan, Kak. Kau dengar
itu?”
“Dengar apa?”
“Suara yang mengatakan bersabarlah?” kata Jordan yang mulai
agak ketakutan.
“He, mungkin karena kau
terlalu banyak makan es krim tadi siang. Dasar aneh!”
Tiba-tiba Phosar datang dan
kembali duduk di antara kedua putranya sambil memperlihatkan kedua busur yang
dulu pernah ia temukan. Jordan dan Volan saling bertatapan dan merasa bingung
dengan hadiah yang dibawa oleh ayahnya tersebut.
“Untuk apa Ayah membawa
busur tua ini?” tanya Volan.
“Ini hadiah untuk kalian,”
jawab Phosar.
“Kenapa Ayah memberi kami
busur ini?” tanya Jordan.
“Ya, Ayah. Tidakkah Ayah
membelikanku motor balap sebagai hadiahnya?” lanjut Volan.
“Kedua busur ini
satu-satunya harta yang kumiliki sebelum aku menikahi ibu kalian. Sesungguhnya
aku tidak memiliki apapun kecuali ibu kalianlah yang memiliki harta kekayaan
sebanyak ini. Jadi, ambil dan simpanlah busur ini sebagai warisan berharga
dariku,” jelas Phosar seraya memberikan busur-busur itu kepada Volan dan
Jordan.
Sejenak kedua putranya
mengamati, mengusap, dan membolak-balik masing-masing busurnya. Saat itu pula,
Phosar menoleh ke belakang, tersenyum pada Reina yang sedang berdiri di dekat
pintu dapur yang terbuka. Reina pun membalas senyuman Phosar sambil
menyandarkan tubuh sisi kirinya ke gawang pintu. Dia terlihat senang ketika
suami dan anak-anaknya bisa berkumpul bersama.
“Apa Ayah pernah
menjualnya?” tanya Volan tiba-tiba.
Senyuman Phosar langsung
menghilang, tak terlihat ekspresi sedikit pun di wajahnya.
“Tentu. Tapi, jangan pernah
kau lakukan itu karena aku jamin tak sepersen pun akan kau dapatkan.”
Jordan tersenyum kecil
mendengar pengakuan ayahnya tersebut.
Hari mulai larut malam,
waktunya bagi Jordan dan Volan kembali ke kamar tidur mereka masing-masing.
Jordan sudah terbaring di atas ranjangnya dalam situasi lampu meja yang menyala
redup dan jendela kaca yang gordennya masih terbuka lebar. Namun, matanya masih
terbuka, menatap langit-langit seakan-akan ada sesuatu yang harus dia pikirkan.
Sesaat setelah itu, terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Belum sempat kedua
kaki Jordan menyentuh lantai, kakaknya langsung menerobos masuk. Volan
menghampiri Jordan yang posisinya masih duduk di atas ranjang. Dia mengambil
busur Jordan yang diletakkan di samping bantalnya. Sesaat dia membandingkan
busur miliknya dengan milik Jordan, lalu memberikan busur itu kembali.
“Ini bukan busurku, tapi
yang itu!” ucap Jordan seraya menunjuk busur miliknya yang berada pada
genggaman tangan kanan Volan.
“Busur ini lebih bagus dari
busur yang diberikan ayah kepadaku. Ambillah! Kau tidak pantas mendapatkan
sesuatu yang lebih bagus dariku!”
“Tapi, aku tidak melihat
perbedaan di antara keduanya.”
“Kalau begitu kau tak perlu
banyak bicara untuk menerima busur ini!”
Jordan pun menerima busur
pemberiannya. Lalu, Volan keluar dan menutup pintu kamar Jordan. Sementara
Jordan, dia langsung tidur tanpa memikirkan apa yang telah Volan lakukan
padanya. Saat itu hujan turun dengan deras, tentu membuat tidur Jordan semakin
pulas. Dia tidak terganggu dengan suara petir yang menyambar begitu keras.
Suara-suara petir itu justru seakan menjadi dongeng baginya. Seandainya busur
yang ia letakkan di samping kanan bantalnya memiliki mulut, dia ingin tersenyum
pada Jordan ketika itu. Kalaupun tidak juga tak masalah baginya, karena suara
petir tersebut telah memberikan Jordan isyaratnya.
No comments:
Post a Comment