CHAPTER 8: MASA LALU “HADIAH ISTIMEWA”

 

Pohon-pohon menari-nari mengikuti arah embusan angin sepoi-sepoi, daun-daun beterbangan menelusuri rerumputan hijau, suara gemercik air yang mengalir menganak sungai, burung-burung yang terus berpaduan suara, daerah pertanian yang masih terbentang luas, begitulah gambaran sosok tempat yang mampu menenteramkan hati setiap insan, pedesaan.

Di sebuah tempat bernama Wesnoreast merupakan satu-satunya desa yang masih ada di wilayah Losapins. Disanalah hidup seorang pemuda sederhana yang bernama Phosar Kayshn. Dia anak tunggal dari pasangan Panca dan Sarah Kayshn. Walaupun ibunya sudah tiada, dia dapat melakukan pekerjaan rumah secara mandiri. Dia pun tak lupa selalu membantu ayahnya bekerja di ladang, terlebih saat musim panen tiba.

Hari itu ketika sedang mengolah tanah di ladang, ia merasakan sesuatu yang mengenai pisau cangkulnya. Begitu keras hingga akhirnya dia harus mengambilnya dengan tangan kosong. Dia berpikir bahwa itu hanyalah batu biasa, tapi saat ia merasakan sesuatu seperti ranting pohon, ia mulai menggalinya lebih lebar. Tak sabar ingin mengetahui benda apa itu sebenarnya, maka ia pun mencabutnya secara paksa. Dengan sekuat tenaga, akhirnya dia mampu mengeluarkan benda itu. Dia terkejut ketika melihat sebuah busur berada di genggaman tangan kanannya. Tatapannya hanya tertuju pada busur tersebut dan sejenak ia merasakan kesunyian di sekitar tempat dia berdiri diiringi oleh embusan angin yang mengenai tubuhnya. Terdengar suara lirih di telinganya yang terus memanggil namanya dengan tempo lambat.

“Phosar, Phosar, Phosar, aku butuh bantuanmu.”

Dia terperanjat ketika sesuatu menepuk pundak kirinya dan langsung membalikkan pandangannya ke belakang.

“Phosar, apa yang sedang kau lakukan? Aku butuh bantuanmu untuk mengambil ember di gudang.”

Phosar menarik napas dan mengembuskannya melalui mulut.

“Tuan Panca Kayshn, kau mengagetkanku!” kata Phosar agak kesal.

“Benarkah? Untungnya aku tidak membuat jantungmu pingsan, hehehe.... Sekarang, ambilkan embernya!”

“Baik, Ayah.”

Dia pun membawa busur yang ia temukan ke rumahnya, meletakkannya di atas meja kamarnya dekat dengan jendela kayu yang setengah terbuka. Selama dia berjalan kembali ke ladang dengan membawa embernya, dia berpikir tentang tanah bekas ia menemukan busurnya. Mungkin ada harta karun yang terpendam di sana atau benda berharga lainnya, pasti busur itu bukanlah busur biasa, memiliki harga jual yang tinggi. Atas rasa penasarannya, maka setelah memberikan ember itu kepada ayahnya, ia melanjutkan penggaliannya dan ternyata apa yang dia pikirkan tidak salah. Dia menemukan sebuah busur yang lain. Namun, ketika dia mencoba menggalinya lebih dalam lagi, hanya menemukan batu-batu kecil biasa. Setidaknya dalam hati, ia merasa bahagia karena menemukan dua benda peninggalan yang bernilai tinggi.

Malam hari pun tiba, Phosar dan ayahnya harus beristirahat untuk melanjutkan pekerjaannya besok. Di atas ranjang dengan pintu jendela yang masih terbuka lebar dan sinar bulan yang begitu terang, Phosar membersihkan kedua busur yang ia temukan sore tadi dengan kain bekas baju lamanya. Dia terus mengamati, bahkan menggaruk-garuk permukaan salah satu busur dengan kuku jempolnya. Ketika busur itu sedikit diangkat hingga genggaman tangannya sejajar dengan matanya, sesaat dia melihat sesuatu, seperti kilauan garis yang berada di permukaannya. Dia pun mencoba memutar-mutar busur itu, membolak-balik ke atas, bawah, depan, belakang, dan berharap dia dapat menemukan kilauan garis itu kembali. Tapi sayang, dia tetap saja tidak bisa melihatnya lagi.

“Ah! Mungkin itu karena pantulan sinar bulan saja,” pikirnya.

Setelah cukup lama mengamati kedua busur itu, dia mulai mengantuk hingga akhirnya dia pun harus tidur dan meletakkan kedua busur itu di atas mejanya. Sejenak dia teringat untuk menutup pintu jendela kamarnya, maka dia bangun dan kembali melompat ke atas ranjangnya.

Beberapa bulan kemudian terdengar kabar yang menyedihkan di desa tersebut, ayah dari Phosar telah meninggal akibat demam tinggi yang tak kunjung sembuh. Betapa sedihnya Phosar saat itu. Kini dia harus melakukan semua pekerjaannya sendirian. Tetangganya tak sanggup membantunya, tentu karena mereka punya urusan sendiri terhadap keluarga mereka masing-masing. Phosar merasa berat untuk tinggal sendiri di desa, terlebih dia tak mampu mengurusi ladang ayahnya. Sejak itu, dia berencana untuk menjual rumah, ladang, dan busur miliknya yang dianggap berharga kepada tetangga atau orang kenalan dari tetangga yang mau membelinya sebagai tabungan untuk berkelana ke kota Losapins. Beruntung hasil yang ia peroleh cukup banyak sehingga dia langsung pindah kehidupan di kota.

Sebuah taksi berhenti di depan kantor yang pintu kaca jendelanya bertulis “Dibutuhkan Segera Seorang Pengaman”, kemudian seseorang turun dari taksi tersebut, mengambil beberapa tas yang terlihat cukup berat baginya dari bagasi. Phosar kini telah sampai di kota. Dia tersenyum ketika melihat suasana di tengah kota yang ramai, melihat gedung-gedung pencakar langit yang masih tampak dari tempat ia berdiri. Tak segan-segan ia langsung menghampiri sebuah tempat tepat di sebelah kantor tersebut, yang bertulis “Butuh Kost Pria? Silakan Masuk dan Konfirmasi dengan Tuan Rumah.” yang ditempel di pagar temboknya. Namun, baru berjalan tiga langkah, tiba-tiba sopir taksi memanggilnya.

“Tuan, saya rasa ini milik Anda!” kata sopir taksi seraya memperlihatkan dua busur milik Phosar.

“Oh, ya terimakasih,” balas Phosar sambil meringis.

Phosar memang sengaja meninggalkan kedua busurnya di dalam bagasi, berharap kedua busur itu dipegang oleh orang lain. Tetapi, rencananya selalu saja gagal. Dia tak tega membuangnya, juga tak tega membakarnya.

Setelah mendapat izin dari tuan rumah untuk menyewa sebuah kamar di lantai tiga, dia mulai beristirahat, membawa barang-barang ke dalam kamar dan meletakkannya di samping ranjangnya. Phosar kemudian membuka gorden jendela kamarnya, menghirup napas dalam-dalam, memandang seluruh area yang dapat ia lihat dari jendela. Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Dia terkejut saat membuka pintu, ternyata tuan rumah sudah berdiri di depannya dengan pandangan yang agak mengerikan baginya.

“Ada apa, Pak? Apakah uang sewanya kurang?” tanya Phosar agak terbata-bata.

Maklum dia kurang mengenal orang-orang kota sehingga komunikasinya pun kurang lancar.

“Jangan pernah tinggalkan barang-barangmu di rumahku, mengerti?” ucap si tuan rumah dengan nada tenang seraya memberikan kedua busur itu ke tangan Phosar secara paksa.

Phosar hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya.

Akhirnya tuan rumah berwajah sangar itu pun meninggalkan Phosar dan dia kembali menutup pintu kamarnya, lalu duduk di atas ranjang sambil menatapi kedua busur itu.

“Kenapa kalian sulit sekali disingkarkan? Kupikir kalian benda-benda peninggalan masa kuno, maka kucoba jual kalian. Tapi ternyata, yang kuno hanya penampilannya. Siapa yang mau membeli. Bahkan, tak seorang pun mau menerima saat kuberikan pada mereka. Aku merasa kalian akan menjadi ancaman besar dalam hidupku!” kata Phosar yang langsung memalingkan pandangannya seraya meletakkan busur-busurnya di atas ranjang.

Bertahun-tahun hidup di kota, akhirnya dia memperoleh apa yang dia inginkan, seorang istri. Dia menikahi seorang janda muda yang telah memiliki satu putra. Nama wanita itu adalah Reina Earon dan putranya Volan Earon yang masih berumur dua setengah tahun. Betapa beruntungnya hidup Phosar, karena wanita yang ia nikahi begitu cantik, kaya, dermawan, dan baik hati. Kini Phosar tinggal bersama istri dan anak tirinya di sebuah rumah besar berlantai dua yang di dalamnya terdapat banyak kamar dan ruangan yang megah, memiliki taman yang luas dengan hiasan tanaman bunga di setiap jalan halaman rumah mereka.

Setelah satu setengah tahun menikah, ikatan cinta Phosar dan Reina semakin kuat sejak mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bermata coklat tua khas penduduk desa Wesnoreast, yang diberi nama Jordan Kayshn. Akan tetapi, sejak kelahiran Jordan, Volan justru merasa sudah tak lagi mendapat perhatian yang lebih dari orang tuanya. Dia selalu beranggapan bahwa orang tuanya lebih menyayangi Jordan dari pada dirinya. Sehingga semasa kanak-kanaknya, dia menjadi anak yang sangat manja. Dia lebih memaksakan sesuatu yang dia inginkan agar segera dipenuhi oleh orang tuanya dan setiap kali ibunya lebih memperhatikan Jordan, rasa benci terhadap adiknya tumbuh. Bahkan terkadang dia pun menyalahkan Jordan sebagai penyebab dari masalah yang ia alami.

Kini Jordan telah berumur 9 tahun. Dia bersama kakaknya belajar di sebuah sekolah dalam satu pagar yang sama. Setiap hari mereka berdua diantar dengan menggunakan mobil mewah. Namun saat pulang, mereka lebih suka jalan kaki bersama. Saat jam kelas Volan sudah selesai, dia selalu tahu ke mana dia harus pergi pertama kali, menemui Jordan yang sedang menunggunya di depan kelas 4 SD, duduk di atas kursi panjang sambil membaca buku komik kesukaannya. Mereka selalu membeli es krim yang dijual di depan pintu pagar sekolah sebelum sampai ke rumah. Itu pun menggunakan uang saku Jordan. Jika uang sakunya habis, tentu saja Volan akan meninggalkannya untuk pulang sendirian.

Hari pembagian rapot telah tiba. Malam hari ketika Phosar baru saja duduk di sofa ruang keluarga sehabis bekerja, kedua anaknya langsung berlari menghampirinya. Mereka berlomba memperlihatkan nilai hasil belajar mereka yang sangat memuaskan.

“Ayah, lihat! Aku mendapat nilai A untuk matematika!” kata Jordan kegirangan.

“Ah, itu tidak seberapa Ayah! Lihatlah nilaiku! Aku mendapat A untuk semua nilai mata pelajaran!,” sahut Volan sambil menyodorkan lembar nilai di depan ayahnya.

“Aku juga semua mata pelajaran, Ayah!” balas Jordan.

“Mata pelajaranmu hanya sedikit, sambil tidur pun kau bisa memperoleh nilai bagus. Aku butuh perjuangan keras untuk belajar sebanyak ini. Bukan begitu, Ayah?”

Belum sempat melihat lembaran nilai mereka, Phosar tersenyum lebar kepada kedua putranya. Dia memegang tangan kiri Volan dan tangan kanan Jordan, lalu meminta mereka untuk duduk di samping kanan kirinya.

“Aku sangat bangga pada kalian berdua. Putra yang sangat aku sayangi. Betapa beruntungnya aku memiliki ibu kalian. Memilikimu, Volan. Dan memilikimu, Jordan. Sebagai hadiah atas kerja keras kalian, maka aku akan memberikan sesuatu yang sangat istimewa. Kalian tunggu di sini!” kata Phosar yang bangkit berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju kamar tidurnya.

Volan dan Jordan penasaran dengan hadiah yang akan diberikan dari ayahnya.

“Biar kutebak! Pasti ayah akan memberiku sertifikat motor balap,” kata Volan sambil menatap langit-langit, tersenyum merenungkan perkiraan jenis motor balapnya.

“Itu bagus, mungkin ayah akan memberiku…., bersabarlah.”

Sekilas Jordan mendengar sesuatu sebelum dia melanjutkan tebakannya.

“Apa? Bersabar?” tanya Jordan kepada Volan.

Volan mengakhiri renungannya dan langsung menatap Jordan.

“Bersabar? Kau mau ayah memberimu kesabaran? Tak apa, lagi pula itu memang pantas buatmu.”

“Bukan, Kak. Kau dengar itu?”

“Dengar apa?”

“Suara yang mengatakan bersabarlah?” kata Jordan yang mulai agak ketakutan.

“He, mungkin karena kau terlalu banyak makan es krim tadi siang. Dasar aneh!”

Tiba-tiba Phosar datang dan kembali duduk di antara kedua putranya sambil memperlihatkan kedua busur yang dulu pernah ia temukan. Jordan dan Volan saling bertatapan dan merasa bingung dengan hadiah yang dibawa oleh ayahnya tersebut.

“Untuk apa Ayah membawa busur tua ini?” tanya Volan.

“Ini hadiah untuk kalian,” jawab Phosar.

“Kenapa Ayah memberi kami busur ini?” tanya Jordan.

“Ya, Ayah. Tidakkah Ayah membelikanku motor balap sebagai hadiahnya?” lanjut Volan.

“Kedua busur ini satu-satunya harta yang kumiliki sebelum aku menikahi ibu kalian. Sesungguhnya aku tidak memiliki apapun kecuali ibu kalianlah yang memiliki harta kekayaan sebanyak ini. Jadi, ambil dan simpanlah busur ini sebagai warisan berharga dariku,” jelas Phosar seraya memberikan busur-busur itu kepada Volan dan Jordan.

Sejenak kedua putranya mengamati, mengusap, dan membolak-balik masing-masing busurnya. Saat itu pula, Phosar menoleh ke belakang, tersenyum pada Reina yang sedang berdiri di dekat pintu dapur yang terbuka. Reina pun membalas senyuman Phosar sambil menyandarkan tubuh sisi kirinya ke gawang pintu. Dia terlihat senang ketika suami dan anak-anaknya bisa berkumpul bersama.

“Apa Ayah pernah menjualnya?” tanya Volan tiba-tiba.

Senyuman Phosar langsung menghilang, tak terlihat ekspresi sedikit pun di wajahnya.

“Tentu. Tapi, jangan pernah kau lakukan itu karena aku jamin tak sepersen pun akan kau dapatkan.”

Jordan tersenyum kecil mendengar pengakuan ayahnya tersebut.

Hari mulai larut malam, waktunya bagi Jordan dan Volan kembali ke kamar tidur mereka masing-masing. Jordan sudah terbaring di atas ranjangnya dalam situasi lampu meja yang menyala redup dan jendela kaca yang gordennya masih terbuka lebar. Namun, matanya masih terbuka, menatap langit-langit seakan-akan ada sesuatu yang harus dia pikirkan. Sesaat setelah itu, terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Belum sempat kedua kaki Jordan menyentuh lantai, kakaknya langsung menerobos masuk. Volan menghampiri Jordan yang posisinya masih duduk di atas ranjang. Dia mengambil busur Jordan yang diletakkan di samping bantalnya. Sesaat dia membandingkan busur miliknya dengan milik Jordan, lalu memberikan busur itu kembali.

“Ini bukan busurku, tapi yang itu!” ucap Jordan seraya menunjuk busur miliknya yang berada pada genggaman tangan kanan Volan.

“Busur ini lebih bagus dari busur yang diberikan ayah kepadaku. Ambillah! Kau tidak pantas mendapatkan sesuatu yang lebih bagus dariku!”

“Tapi, aku tidak melihat perbedaan di antara keduanya.”

“Kalau begitu kau tak perlu banyak bicara untuk menerima busur ini!”

Jordan pun menerima busur pemberiannya. Lalu, Volan keluar dan menutup pintu kamar Jordan. Sementara Jordan, dia langsung tidur tanpa memikirkan apa yang telah Volan lakukan padanya. Saat itu hujan turun dengan deras, tentu membuat tidur Jordan semakin pulas. Dia tidak terganggu dengan suara petir yang menyambar begitu keras. Suara-suara petir itu justru seakan menjadi dongeng baginya. Seandainya busur yang ia letakkan di samping kanan bantalnya memiliki mulut, dia ingin tersenyum pada Jordan ketika itu. Kalaupun tidak juga tak masalah baginya, karena suara petir tersebut telah memberikan Jordan isyaratnya.

 

No comments:

Post a Comment