Malam hari pun tiba.
Di sebuah tempat yang begitu gelap dan sunyi, sepertinya sangat sedikit pula orang yang lewat setiap harinya, berdiri sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah lama tak disentuh. Bangunan bertingkat dua dengan lantai atas yang luasnya sekitar dua per lima dari lantai bawah dan didesain menyerupai gedung museum. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh rumput-rumput liar dan beberapa pohon yang tak tertata, ditambah hiasan pagar besi bengkok dan berkarat yang mengelilinginya. Walaupun demikian, sebenarnya tempat itu tidaklah jauh dari kota Losapins, justru berada di tengah kota tersebut, dan masyarakat dulu sering menyebutnya sebagai gedung laboratorium.
Gedung bekas laboratorium
itulah yang menjadi incaran penyergapan kali ini. Tampak beberapa anggota
polisi khusus yang berompi dan berperalatan khusus lainnya dengan membawa
senjata api berlaras panjang, telah menyebar di posisi masing-masing sesuai
tugas dan rencana yang telah dibuat. Terlihat juga anggota polisi Losapins
lainnya yang ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut. Mereka bersiaga di balik
pagar, rerumputan, maupun pepohonan, berdampingan dengan anggota polisi khusus.
Earon yang merupakan pemimpin penyergapan, didampingi oleh rekan kerjanya
Lytro, bersiap untuk masuk ke sarang ular.
Dua polisi khusus
melangkahkan kakinya secara perlahan memasuki pintu masuk laboratorium. Dari
gerakan sorotan senter senjatanya, mereka berdua begitu fokus mengamati keadaan
di sekelilingnya. Setelah dirasa aman, kemudian secara berurutan, masuk pula
anggota polisi khusus yang lain. Mereka dengan cepat, cermat dan hati-hati
menyebar ke seluruh penjuru ruang laboratorium bersama pasangan yang sudah
ditentukan. Sesekali terdengar juga beberapa letupan senjata api, bentakan,
teriakan rasa sakit, langkah kaki, bantingan benda, yang mewarnai gelapnya di
setiap sudut ruangan yang begitu kotor tersebut.
Tiba di depan sebuah ruangan
berpintu besi yang setengah terbuka.
Cahaya malam yang memantul
dari ventilasi di ruang tersebut, memberikan sedikit penglihatan pada Earon,
Lytro, dan beberapa polisi khusus yang sedang melihat empat pembawa senjata
berpeluru dari sebelas penjahat di dalamnya, berusaha kabur melalui terowongan.
Terowongan dengan diameter kira-kira satu meter tersebut sepertinya memang
sengaja telah mereka buat untuk mengantisipasi hal yang demikian. Di balik
penyangga bangunan, Earon dan yang lainnya membuat sebuah rencana dengan isyarat
tangan, untuk memergoki para penjahat itu.
“Cepat! Kita tak punya
banyak waktu!” seru salah seorang penjahat yang membawa
senjata, dengan nada pelan.
Dua orang telah berhasil
meluncur ke dalam terowongan. Tapi, saat seorang yang lain baru melangkahkan
kakinya hingga menyentuh dinding terowongan, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan
kehadiran seseorang.
“Alangkah bagusnya jika
terowongan itu langsung menuju ke jeruji besi.”
Seketika semua penjahat yang
tersisa di ruang tersebut mengalihkan pandangannya dan keempat orang pemegang
senjata pun langsung menyoroti wajah orang tersebut. Tak disangka, ternyata
seorang agen AKLA telah berdiri di dekat pintu sambil memegang busur yang siap
melesatkan anak panahnya. Sebelum para penjahat menarik pelatuk senjatanya,
Earon dengan sangat cepat melepaskan dua-dua anak panah, tepat mengenai
senjata-senjata yang mereka bawa dan menghilang di balik kegelapan. Kemudian,
satu anak panah dilepaskan lagi menuju lubang terowongan saat seorang penjahat
yang berada paling dekat dengan terowongan tersebut tak menggubris
peringatannya. Mungkin yang ada dalam pikirannya hanyalah mencari kesempatan
yang begitu kecil untuk bisa melarikan diri. Saat itu juga, beberapa polisi
masuk beriringan sambil mengarahkan senjata mereka pada para penjahat itu.
Akhirnya, mereka pun menyerah dan berhenti bergerak seraya mengangkat
tinggi-tinggi kedua tangannya. Rasa takut, gelisah, dan bingung menyelimuti
hati mereka. Ingin sekali untuk bisa lolos dari tangkapan polisi, namun
senjata-senjata sudah ditodongkan tepat mengarah ke tubuh mereka. Sedikit
bergerak saja, bisa jadi hanya nyawa mereka yang melarikan diri.
Earon segera memeriksa
terowongan tersebut. Dengan senternya, dia menyoroti panjang dan arah
terowongan. Sepertinya sulit memperkirakan arah terowongan tersebut, kecuali
memasukinya secara langsung.
“Earon, sudah kudapatkan mereka di ujung terowongan. Tapi, aku tidak
bisa menemukan Fordien. Kurasa, dia sudah terlalu jauh dari kita. Dia tahu
dengan kedatangan kita. Pasti semua ini sudah menjadi rencananya,” kata
Lytro dari balik mikropon yang dipasang di telinga Earon.
Tidak. Itu tak boleh
terjadi. Fordien harus mendapat keadilan. Semua ini harus selesai malam ini
juga, pikir Earon gundah.
“Earon, apa rencana kita selanjutnya?”
Earon hanya terdiam dengan
hati yang bercampur marah dan bimbang atas keadaan tersebut. Dia tak mau
kesempatan untuk menangkap orang yang selama hidup menjadi incarannya tersebut,
sia-sia begitu saja. Dengan segera, Earon menarik salah seorang anak buah
Fordien yang kedua tangannya sudah diborgol, berdiri tak jauh darinya, lalu
mencengkeram erat kerah bajunya.
“Di mana dia?!” gertaknya.
“Aku tidak tahu,” jawab
penjahat itu gemetar, melihat tatapan murka Earon.
“Cepat, katakan! Di mana dia
sekarang?!” gertak Earon lebih keras.
“Sungguh, aku tidak tahu.
Kami hanyalah para budak lemahnya. Kami tidak diberitahu tentang keberadaannya.
Kumohon, jangan penjarakan aku!”
Mendengar itu pun, Earon
segera melepaskan cengkeramannya. Dia begitu kecewa dengan hasil penyergapan
kali ini. Tak mendapatkan Fordien sama saja tak mendapatkan apapun.
“Bawa mereka!” ucap Earon
pelan yang berusaha untuk tetap tenang.
Para polisi langsung
menjalankan perintah Earon.
“Tidak, kumohon! Aku tidak
bersalah! Lepaskan aku!” keluh penjahat tadi.
Mobil-mobil polisi mulai
dipindahkan dan diparkir di depan gerbang laboratorium. Sorotan lampu-lampunya
menerangi seluruh area tempat penyergapan. Para polisi telah membawa para
penjahat keluar dari tempat persembunyian. Mereka dipegang erat-erat dan
dipaksa melangkahkan kakinya menuju mobil hitam yang telah dipersiapkan untuk
mereka. Begitulah yang dilihat oleh Filhener yang sedang mengamatinya dengan
teropongnya, berdiri sambil menaruh salah satu kakinya di atas tembok pembatas
atap apartemen, didampingi oleh Jordan yang berdiri di sebelah kirinya sambil
menggenggam busurnya, dan Wergon yang berada di sisi lainnya menduduki tembok
pembatas dengan salah satu kaki terjulur dan kaki lainnya ditekuk vertikal
dengan menggenggam tongkat panjangnya. Tak lupa pula, anggota terkecil mereka,
Faisr bertengger di pundak Jordan. Mereka mengenakan kostum malamnya, tapi
tanpa masker.
“Mereka berhasil
menangkapnya,” ujar Filhener yang masih melihat situasinya dari teropong.
Jarak apartemen yang tidak
jauh dari tempat penyergapan, membuat Jordan masih bisa mengamati situasi
tersebut dengan mata telanjang. Dalam pengamatannya tersebut, dia merasa adanya
kejanggalan.
“Dia tidak menemukannya,”
ujarnya.
“Tidak. Sepertinya mereka
mendapatkannya. Sudah banyak pengikutnya yang dimasukkan ke mobil. Tapi sejauh
ini, aku memang belum melihat Earon,” lanjut Filhener.
“Mungkin dia agak kesulitan
menangani Fordien di dalam,” sahut Wergon.
Suasana terasa sunyi
sejenak. Filhener terus mengamatinya dari balik teropong.
“Tunggu. Aku melihatnya.
Earon sudah keluar. Tapi….”
Filhener menurunkan
teropongnya, lalu berkata dengan pelan, “Kau benar, Jordan. Dia tidak
bersamanya.”
Suasana kembali sunyi. Udara
malam terasa begitu hampa, membawa tujuan yang telah menghilang. Namun, bukan
demikian yang dirasakan Jordan. Dia mengelus Faisr, lalu terbang ke udara,
layaknya telah diberikan perintah dari usapan lembut tangannya.
“Kalau begini kejadiannya,
apa itu artinya kita sudah selesai?” tanya Wergon yang bangkit dari duduknya.
Tiba-tiba, Jordan merasakan
getaran handphone di saku celana
kanannya. Terlihat kombinasi nomor tanpa nama, meneleponnya. Walaupun demikian,
Jordan tetap mengangkatnya.
“Halo.”
“Jordan, kutawarkan pekerjaan bagus padamu. Bayarannya lebih besar dari
uang yang pernah kuberikan padamu terakhir kali.”
Mendengar suaranya, Jordan
langsung mengetahui orang dari balik telepon tersebut.
“Katakan saja inti
pembicaraanmu!”
“Kujadikan kau sebagai kaki tanganku. Orang yang bisa kuandalkan untuk
melindungiku kemanapun aku pergi. Jika kau mau, detik ini juga, aku bisa mulai
menghitung bayaranmu. Kau juga bisa mengajak dua temanmu itu untuk ikut
bersamamu.”
“Kenapa kau pikir aku mau
menerimanya?”
“Karena aku tahu dirimu. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, Jordan.
Apa jawabanmu?”
Jordan terdiam sejenak.
“Di mana kau sekarang?”
“Bagus. Temui aku di perairan dengan bangunan merah bercerobong satu.”
Jordan hanya diam, lalu
segera menurunkan teleponnya, dan bergegas pergi ke tempat tersebut.
“Ayo!” ajaknya seraya
melangkahkan kakinya dengan cepat.
Wergon dan Filhener pun
mengikutinya, namun mereka tidak mengerti tujuan Jordan.
“Kita akan ke mana?” tanya
Wergon bingung.
“Pelabuhan.”
Malam semakin gelap.
Kesunyian kian menyelimuti setiap sudut tempat kota Losapins. Bahkan,
suara-suara kecil pun bisa terdengar hingga di pelabuhan yang tidak jauh dari
jantung kota tersebut. Di pelabuhan yang tampak tidak terlalu bagus itu,
Fordien dan pengikutnya yang tersisa sedang merencanakan sesuatu. Mereka berada
di dalam sebuah ruangan, seperti kabin kapal dengan dinding yang terbuat dari
kayu bercat coklat, dan pipa-pipa yang terpasang di sudut langit-langit ruangan
tersebut.
Datanglah seorang pria
berbadan kekar mendekati Fordien yang sedang berdiri menatapi busur dan sebuah
anak panahnya.
“Tuan, serbuk itu sudah saya
tempatkan sesuai dengan perintah Anda,” kata orang itu yang menghentikan
langkahnya, berdiri dibelakang Fordien.
Fordien tak menoleh. Dia
hanya melirikinya.
“Bagus. Pastikan tak seorang
pun menemukannya. Bahkan, polisi pun tak boleh mendapatkannya. Ciptaanku, hanya
boleh kuberikan pada orang yang pantas saja,” ujarnya, “Sekarang, pergilah!”
Orang itu pun pergi dan
berpapasan dengan seorang nakhoda yang bergantian untuk berbicara pada Fordien.
“Uh, Tuan. Tak bisakah kita
berangkat sekarang? Saya khawatir ada orang yang mengetahui keberadaan kita,”
katanya cemas.
Fordien membalikkan
pandangan padanya.
“Tidakkah kau tadi
mendengarkanku? Kapal ini hanya akan berangkat, jika kuberi aba-aba,” ucap
Fordien sambil berjalan perlahan mendekati nakhoda itu, “Kalau sampai aku pergi
tanpa didampingi olehnya, kupastikan kau tak akan pernah bisa berdampingan
denganku lagi selamanya!”
Nakhoda itu begitu gemetar
melihat tatapan Fordien yang terpampang jelas di depan wajahnya.
“I, i, iy, iyyyaa. Hanya
saja, kita sudah terlalu lama menunggu teman Anda. Apakah Anda yakin teman Anda
Jordan akan datang kemari?”
Tatapan Fordien semakin
menakutkan, membuat nakhoda itu tak berani berbicara lagi.
“Ba, ba, baik. Tentu saja,”
lanjutnya seraya pergi menjauh dari Fordien.
Sudah cukup lama Fordien menunggu,
namun Jordan belum juga terlihat. Dia mulai resah, mungkin ada benarnya dengan
yang dikatakan nakhoda itu. Sejenak ia menatapi handphone yang ia genggam. Terlihat dari raut wajahnya, dia merasa
bingung dan gelisah.
“Jordan, di mana kau?!”
ucapnya geram sambil mengepalkan tangan erat-erat bersama dengan handphone-nya.
Kegelisahannya serasa ingin
sekali dilampiaskan dengan membanting handphone
tersebut. Tapi saat dia berbalik ke arah pintu untuk melakukannya, tiba-tiba
Earon telah berdiri dihadapannya dengan pintu yang sudah dikunci. Fordien
begitu terkejut melihatnya yang mendadak muncul seperti hantu.
“Ba, bagaimana kau bisa
kemari?” tanya Fordien.
“Akhirnya. Setelah sekian
lama aku mencarimu, kau kutemukan juga. Bagaimana rasanya bertemu lagi dengan masa
lalumu?” balas Earon seraya mengambil sebuah anak panah, lalu ditempelkannya
pada busurnya.
Fordien tersenyum sinis.
“Heh! Aku tidak tahu maksud
pertanyaanmu. Tapi, jika kau ingin jawabannya, tentu rasanya sangat
menyenangkan. Aku sedikit terkesan, ada tikus kecil yang berani masuk ke lubang
ular, hanya seorang diri. Bukankah itu namanya bunuh diri? Tapi, aku tak yakin
kau melakukannya. Jadi, berapa banyak tikus-tikus di luar sana yang kau suruh
untuk menjagamu?” ketus Fordien yang juga menarik perlahan sebuah anak panah
pada tali busurnya.
Tatapan mata tajam Earon
lurus menuju Fordien.
“Jangan khawatir, mereka
akan menjagamu setelah kau tergeletak tak berdaya,” lanjut Fordien.
Kesabaran Earon sudah
memuncak. Dia tak lagi bisa menahan amarahnya.
“Kau memang iblis!” seru
Earon yang seketika melesatkan anak panahnya ke arah Fordien.
Fordien dengan cepat
menghindar dan melesatkan pula anak panah beracunnya, tapi sayang Earon pun
mampu menghindarinya. Perkelahian sengit di antaranya terjadi dalam satu ruangan
tersebut. Sesekali mereka saling menembakkan anak panahnya, juga memanfaatkan
busur atau apapun yang dapat digunakan untuk bisa membalas serangan. Beberapa
adu pukulan pun sering terjadi, menyebabkan rasa sakit yang bahkan membuatnya
terbanting maupun terjatuh. Namun di balik serangan-serangan itu, Fordien
berusaha untuk bisa meraih pintunya, membuka kuncinya, dan melarikan diri.
Sementara itu, Earon terus menggagalkan niat Fordien tersebut dan menginginkan
gelar pemenang dalam pertandingannya.
Beberapa saat kemudian,
Fordien berhasil menjatuhkan Earon yang tak kunjung bangun karena saking
lelahnya. Kesempatan itu dengan cepat diambil Fordien untuk segera menjauh
darinya. Fordien terus berlari melewati koridor sambil memegang perutnya yang
terasa sakit, mungkin karena terkena serangan dari Earon. Sesampainya di pintu
menuju geladak depan, dua pengawal yang menjaga di sana begitu terkejut melihat
tuannya keluar dalam kondisi yang kacau. Mereka pun segera mendekat dan
berusaha untuk membantunya dengan memegang satu-satu tangan Fordien. Namun,
Fordien menolaknya. Dia justru sangat marah.
“Lepaskan aku! Kalian, jaga
saja tak becus!” bentaknya.
Kedua pengawalnya hanya
saling memandang kebingungan.
Fordien melihat
sekelilingnya. Begitu sepi, tak terlihat pengawalnya yang lain.
“Mana yang lain?!”
Kedua pengawal itu lagi-lagi
kebingungan, melihat sekitarnya yang memang tak ada yang lain, kecuali mereka.
Kemudian, datanglah Earon
yang perlahan-lahan muncul dari dalam, memegang busur dengan sebuah anak
panahnya, dan tatapan matanya yang begitu mengerikan seperti singa yang siap
menerkam mangsanya. Fordien dan kedua pengawalnya berjalan mundur perlahan
seiring dengan kehadiran Earon yang mulai mendekat, mengarahkan mata anak
panahnya pada Fordien yang mengarahkan mata anak panahnya pula pada Earon.
Sementara dua pengawal Fordien mengangkat pistolnya dan siap menekan
pelatuknya. Earon yang melihat situasi tersebut tentu merasa bahwa apapun yang
terjadi, pasti dirinya juga akan ikut menjadi korbannya. Namun, kemauan keras untuk
mendapatkan Fordien membuatnya tak peduli akan keselamatannya. Kalau pun dia
mati, Fordien pun harus mati di tangannya.
Earon begitu fokus pada
keadaan tersebut. Dia tak ingin tembakannya meleset. Begitu juga Fordien, dia
sangat konsentrasi bila Earon melesatkan anak panahnya secara tiba-tiba. Tapi
saat Earon akan melepaskan anak panahnya, terdengar suara gerincing seiring
dengan kemunculan sebuah anak panah bermata cangkir isap yang melesat cepat di
depannya, lalu melekat pada pagar pembatas. Earon begitu terkejut melihat
penampakan anak panah yang tak biasa itu, tapi keduanya juga tak asing dengan
suara gerincing tersebut. Lalu, Earon menoleh ke samping belakang, sumber
datangnya anak panah itu.
Tak disangka, ternyata anak
panah itu berasal dari busur Jordan. Dia berdiri tegak sambil memegang busur
dan anak panah yang siap dilepaskan lagi. Melihat kedatangan Jordan, Fordien
begitu lega. Kekhawatirannya terhadap situasi yang sedang dia alami, lenyap
seketika.
“Jordan,” kata Fordien lirih
bahagia.
Melihat Fordien lepas
konsentrasi, Earon segera menarik tali busurnya kembali dan melepaskan anak
panahnya. Namun, anak panah Earon langsung dihentikan oleh Jordan. Earon
semakin terkejut dan bingung dengan tindakan Jordan tersebut. Terlebih sesaat
setelah itu, dia mengarahkan anak panahnya pada Earon.
Fordien tersenyum licik
terhadap Earon.
“Menyerahlah, Earon! Kau
sama sekali tak punya peluang untuk bisa menang,” ujar Fordien.
Earon mengarahkan kembali
anak panahnya pada Fordien. Tapi, sejenak dia juga melirikkan matanya pada
Jordan. Kenapa Jordan melakukan itu, apakah dia tak ingin Earon melukai
Fordien, atau karena sesuatu yang lain. Begitulah yang dipikirkan Earon, yang
justru membuatnya gemetar di sekujur genggaman tangannya. Lalu, dia memejamkan
kedua mata, mencoba untuk mendapatkan ketenangan kembali dan tetap fokus agar
bisa mewujudkan sesuatu yang selama ini dia impikan, yaitu menghabisi Fordien.
Kedua matanya langsung
terbuka lebar setelah mendengar suara lesitan anak panah. Tak disangka, dua
pengawal yang berdiri di samping Fordien sudah jatuh tak berdaya. Kekhawatiran
Fordien kini semakin memuncak, melihat Jordan yang tiba-tiba berpihak pada
Earon. Dengan cepat, Jordan langsung melepaskan anak panahnya pada Fordien.
Beruntung, kekhawatirannya tidak membuat Fordien mudah lepas konsentrasi,
sehingga dia mampu menghindar.
“Itu dia di sana!” seru
beberapa pengawal Fordien yang baru tampak, menggerombol di geladak atasnya,
menunjuk ke arah Jordan.
Sesaat setelah itu,
tiba-tiba datanglah Wergon dan dalam waktu yang begitu singkat dia melumpuhkan
segerombolan pengawal yang sebagian besar berbadan kekar tersebut. Fordien yang
melihat itu hanya bisa mengambil napas dan berkeluh pelan, “Bisa-bisanya aku
memilih mereka.”
Kemudian, disusul dengan
suara letupan senjata di geladak bawah yang membuat Fordien semakin gentar.
Earon semakin merasa yakin dengan keberhasilannya, sementara Fordien masih
berpikir mencari cara agar bisa melarikan diri. Tanpa pikir panjang, Fordien
langsung menyerang keduanya dengan sembarang cara, baik melesatkan anak
panahnya, memukulkan busurnya, menendang, maupun menghajar dengan kepalan
tangannya. Dia tak peduli lagi dengan yang dilakukannya itu akan membuatnya
berhasil lolos ataukah tidak, yang terpenting saat itu adalah dia harus
berjuang melawan dua orang yang sudah sangat membuatnya kesal. Perlawanan yang
dilakukan Fordien terhadap Earon dan Jordan ternyata membuahkan hasil. Untuk
sementara, dia berhasil melumpuhkan keduanya.
Namun, Earon dan Jordan
segera bangkit dan kembali mengejar Fordien yang memasuki koridor. Jordan yang
berlari membuntuti Earon berpikir kenapa Fordien justru lari memasuki koridor,
sementara tangga keluar kapal berpeluang lebih besar baginya untuk bisa
melarikan diri, apa yang sedang direncanakan orang itu. Ternyata koridor dalam
kapal memiliki arah yang cukup membingungkan. Nyala lampu yang remang-remang
membuat penglihatan Earon tak mampu melacak keberadaan Fordien dengan jelas.
Tapi mereka terus berlari mencarinya.
“Waspadalah, Earon! Dia
pasti telah merencanakan sesuatu,” ujar Jordan.
“Satu-satunya rencana yang
dia miliki hanyalah bersembunyi. Kupastikan menemukannya, sekalipun dia
bersembunyi di lubang anak cacing.”
Tak lama setelah itu,
sesuatu langsung menghatam wajah Earon yang seketika membuatnya terjatuh. Fordien
tiba-tiba muncul dari kabin yang gelap dan tak berpintu, lalu segera mengambil
sebuah anak panah Earon yang berserakan dan mengarahkan ujung anak panah yang
sangat tajam tersebut kepada Earon. Namun sebelum anak panah itu melukainya,
Jordan yang berada sekitar sepuluh meter di belakangnya, segera melesatkan anak
panah ke arah Fordien. Tapi dia berhasil lagi menghindari anak panah bermata
cangkir isap tersebut, lari ke sisi koridor yang lain saat melihat Jordan
melangkah cepat mendekatinya, melepaskan kesempatan untuk membunuh Earon. Saat
Jordan berusaha mengejarnya, dia sudah tak terlihat lagi. Jordan segera
menolong Earon yang belum bangkit dengan kedua tangan yang memegang wajahnya
yang sakit.
“Kau tak apa?” tanya Jordan
seraya memeganginya.
Baru beberapa detik memegang
bahu Earon, sesuatu langsung mencekam leher Jordan dengan sebuah busur dan
menariknya ke belakang. Teriakan amarahnya terdengar jelas, pasti dialah
Fordien, pikirnya saat itu. Namun, tarikannya yang begitu cepat dan erat
membuatnya kesulitan untuk berbalik menyerangnya, terlebih busurnya terlepas
dan tergeletak di dekat Earon yang masih mencoba untuk bangkit. Diapun segera
menarik pedangnya dan langsung mengebaskannya ke arah Fordien. Lagi-lagi,
Fordien yang licik mampu mengamati setiap gerakan yang akan dilakukan Jordan,
diapun segera melepaskan cekamannya dan menghindari serangan itu. Jordan yang
tak mau kalah, tidak memberikan sedetik pun kesempatan bagi Fordien untuk bisa
mengamati setiap gerakannya. Dia terus melawan Fordien dengan pedangnya, hingga
tidak menyadari kalau sabuk wadah anak panahnya terputus karena perkelahiannya
itu. Saat pedang Jordan mengibas di atas dada Fordien, Fordien menahan serangan
tersebut dengan busurnya. Namun yang terjadi, busur tersebut terbelah begitu mudah
karena ketajaman pedang Jordan. Melihat situasi yang mulai tak terkendali,
Fordien mencoba kabur ke arah Earon yang sedang bersiap mengadangnya, berdiri
dengan hidung yang berlumuran darah. Dia hanya memiliki satu buah anak panah
yang ia ambil saat menjatuhkan Earon dan hanya memiliki kesempatan dengan anak
panah itu untuk bisa menjatuhkannya lagi.
Tatapan mata tajam Earon
lurus menuju Fordien yang berlari mendekatinya. Dia mulai menarik satu anak
panahnya perlahan dan terus fokus. Sekitar beberapa inci darinya, anak panah
melesat dari tangan Earon, namun Fordien berhasil menghindar dan berbalik
melontarkan anak panah yang ia genggam hingga menggores bahu Earon. Sementara
anak panah yang melewati Fordien, kini menuju ke arah Jordan dan seketika mampu
ia lumpuhkan dengan pedangnya. Earon yang kehilangan konsentrasi karena hampir
seluruh tubuhnya terasa sakit, membuat Fordien bergegas untuk menyerangnya.
Namun, Earon tidak terlalu menghiraukan rasa sakit itu. Dia terus melawan untuk
bisa menghentikan Fordien. Akhirnya, dia pun berhasil membanting tubuh Fordien
ke dinding dengan dua tangan yang dipuntir ke belakang.
Earon melihat begitu dekat
peluang untuk membalaskan dendamnya. Jantungnya berdebar kencang dengan sorotan
mata yang mengerikan dan cengkeraman tangannya semakin erat. Saat itu, keadilan
bagi Fordien seakan telah lenyap dalam benak Earon. Dia segera mengambil sebuah
anak panah yang tersisa di wadahnya dan mengarahkannya ke urat nadi leher
Fordien. Melihat kemarahan Earon yang tak terkendali tersebut, tanpa berpikir
panjang Jordan langsung melontarkan pedangnya hingga tertancap ke dinding kayu,
menebas anak panah yang hampir membunuh Fordien. Earon yang melihat itu
langsung memalingkan pandangannya ke arah Jordan. Dari tatapan matanya, Earon
tahu kalau Jordan tak ingin hal mengerikan itu dilakukan olehnya. Earon mulai
mengatur emosinya. Cengkeramannya mulai meringan, bahkan mungkin saking terlalu
tenangnya membuat Fordien berhasil meloloskan diri setelah terlepas dari
cengkeraman Earon, menyikut wajahnya yang berdarah, membanting kepalanya ke
dinding, lalu merampas busur yang ada pada genggamannya.
Jordan segera berlari
mendekati mereka. Dia melihat Fordien yang bergerak semakin menjauh, sementara
Earon masih belum berdaya karena merasakan pukulan Fordien yang sangat keras.
Dia tak ingin kesulitan lagi mencari keberadaan Fordien yang sudah dibuatnya
bingung di tempat itu, bahkan tak merelakan Fordien untuk bisa lolos darinya.
Menurutnya, hari itu dan waktu itu adalah kesempatan terakhir untuk mendapatkan
Fordien. Namun di sisi lain, Jordan tak mungkin meninggalkan Earon begitu saja.
Bisa jadi Fordien justru akan kembali ke tempat itu untuk membunuh Earon saat
dia dibuat bingung mencarinya. Begitu banyak pikiran yang serba salah dalam
benak Jordan. Dia pun memutuskan untuk menarik kembali pedangnya, meninggalkan
Earon, dan mengejar Fordien yang masih kelihatan buntutnya. Melihat Fordien
menaiki tangga menuju geladak atas, dia pun semakin cepat mengikutinya. Lalu
sesaat setelah sampai di geladak paling atas, tak tampak Fordien di sekitar
sana. Dia memutar pandangannya, tapi tak juga kelihatan. Kemudian dia berjalan
menuju pagar pembatas, melihat-lihat geladak bawah barangkali dia muncul di
sana, namun tak juga terlihat. Kemudian, terdengar suara bantingan pintu besi
yang tertutup. Jordan segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut
dan ternyata Fordien telah berdiri sambil menginjak pintu besi bundar yang
telah terkunci, dengan salah satu kakinya. Tatapan mata kemarahannya tampak
sangat jelas dengan wajah yang memerah. Napasnya yang mengembus keras-keras
menandakan amarahnya yang ingin sekali dilepaskan dan kepalan tangan yang
menggenggam busur, terlihat begitu mematikan. Begitulah kemurkaan Fordien yang
Jordan amati. Namun, ekspresi wajah Jordan tetap tenang dengan pedang yang siap
ia gunakan sewaktu-waktu.
“Kau. Dasar tikus rendahan!
Pembohong! Pengkhianat! Inikah tujuanmu sebenarnya?!” ucapnya marah.
“Kau yang salah menilai
situasi. Aku tidak pernah mengatakan iya dalam setiap usulan yang kau ajukan
padaku.”
Mendengar ucapan Jordan
tersebut, Fordien justru tertawa kekeh. Lalu, tawanya terhenti seraya berkata,
“Heh! Tololnya diriku! Ternyata ada yang lebih licik dari seekor ular yang
berbisa. Bisa-bisanya aku terjebak dalam permainannya!”
“Kurasa ada baiknya kalau
kau menyerah dan berhenti merendahkan orang lain. Lihatlah! Yang lebih licik
dari seekor ular yang berbisa tidak lain hanyalah orang yang kau anggap sebagai
tikus rendahan. Tidak ada permainan yang bisa dibuat oleh seekor tikus. Di sini,
si tikus hanya mencoba mengikuti permainan yang dibuat oleh si ular. Kau telah
terjebak dalam permainanmu sendiri, Charevins. Menyerahlah!”
“Kau pikir, semudah itukah
aku menyerah?! Tidak! Sampai akhir zaman pun, tikus hanya akan menjadi mangsa
ular! Kaulah mangsa utamaku, Jordan!”
Fordien langsung menyerang
Jordan dengan brutal. Dia menggunakan busurnya untuk menghajar dan menghalangi
setiap gerakan pedang Jordan. Jordan pun kewalahan atas serangan Fordien
tersebut. Terlebih busur yang Fordien gunakan tak mampu ia tebas dengan
pedangnya, layaknya besi, namun suara yang keluar saat bergesekan dengan
pedangnya, seperti suara gesekan kayu biasa. Akhirnya, pertarungan telah sampai
dengan terpojoknya Jordan di salah satu sisi pagar pembatas seraya memegang erat
di kedua ujung busurnya, menahan serangan pedang yang beralih di tangan Fordien
yang berada tepat di depan wajahnya. Jordan menahan pedang tersebut dengan
posisi tubuh yang lebih rendah dari Fordien. Kekuatan Fordien yang terus
mencoba mendekatkan pedang itu ke arah Jordan, begitu kuat. Bahkan timbul
keraguan dalam hati Jordan, apakah busurnya bisa menahan kemarahan Fordien
ataukah tidak. Tapi sepertinya bukan busur yang tak mampu menahannya, melainkan
kedua tangan Jordan yang mulai gemetar dibuatnya.
“Sudah kubilang, tikus hanya
akan menjadi mangsa ular!” ucap Fordien geram seraya menekan pedangnya lebih
kuat.
Jordan seakan tak mampu lagi
menahannya. Kaki, tubuh, dan tangannya yang menjadi tumpuan terasa gemetar dan
tak mungkin ia gerakkan untuk melemahkan Fordien. Saat pedang sudah sedekat
antara jari telunjuk dan jari tengah, tiba-tiba terdengar suara gerincing dari
arah belakang Fordien. Fordien berbalik melihat ke sumber suara tersebut dan
anak panah bermata cangkir isap telap menempel di punggungnya. Terlihat Earon
berdiri dengan busur yang masih terangkat, membuat Jordan begitu tenang karena
Earon masih baik-baik saja. Fordien mulai merasakan lemas di beberapa titik
dalam tubuhnya. Tangannya yang menggenggam pedang sudah tak sekuat mulanya, dan
akhirnya diapun menjatuhkan pedang itu. Pandangannya buyar, serasa ingin segera
terpejam. Tapi karena dendamnya terhadap Jordan yang begitu besar, membuatnya
tak rela jika harus kalah dengan cara seperti itu. Dengan teriakannya yang
keras, dia pun langsung mendorong tubuh Jordan bersamanya hingga mematahkan
pagar pembatas dan terjatuh di atas tumpukan kotak kayu.
Earon segera berlari melihat
kondisi Jordan dari atas. Beruntung, tidak terjadi apa-apa padanya, hanya
terdengar rintihan rasa sakit karena telah menghancurkan beberapa kotak kayu di
sekilingnya. Sementara itu, Fordien telah tertidur lelap. Beberapa saat
kemudian, datanglah Wergon dan Filhener yang menyusul Earon, berdiri di
sampingnya dengan napas yang terengah-engah, dan melihat yang dilakukan Jordan
dan Fordien di bawah.
“Kau tak apa, Jordan?!” serunya.
Sejenak Jordan menoleh ke
atas, lalu pandangannya kembali disibukkan dengan menyingkirkan puing-puing
serangan Fordien.
“Kenapa bantuan selalu
datang terlambat?” keluh Wergon dengan napas yang masih mengembus keras-keras
seraya membungkukkan badannya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya
yang sedikit ditekuk.
“Apa yang baru saja kau
katakan?” tanya Filhener.
Wergon kembali berdiri
tegak.
“Bantuan selalu datang
terlambat. Kita berdua.”
Mendengar hal itu, Filhener
hanya mengeluarkan napas melalui mulutnya. Mungkin ada benarnya yang dikatakan
Wergon, pikirnya. Lalu, tak sengaja pandangannya menuju ke arah wajah Earon
yang berlumuran darah.
“Apa hidungmu baik-baik
saja?” tanya Filhener penasaran dengan yang telah terjadi pada Earon.
“Ya,” jawab Earon singkat,
namun tatapannya lurus mengamati Fordien yang terbaring tak berdaya.
Langit merah mulai tampak
dari timur. Sebagian awan kelabu menghalangi cahaya surya yang merambat naik
dengan udara segar yang mengiringi ketenangan hati orang-orang yang telah lepas
dari kejahatan Fordien, mengakhiri aksi penyergapan yang panjang. Beberapa
mobil polisi, pemadam kebakaran, ambulans, dan dua helikopter terparkir tak
beraturan di sepanjang pelabuhan, membawa para tersangka dan mengobati beberapa
agen yang terluka. Terlihat wajah Earon masih diurus oleh dua dokter di dalam
ambulans yang salah satu sisi pintunya terbuka. Sementara Jordan hanya
mendapatkan perban di tangan kanannya. Bahkan, dia sudah sanggup berdiri bersama
Wergon dan Filhener, melihat situasi sekitar.
Kemudian, Lytro datang
menghampirinya.
“Bagaimana kondisimu?”
tanyanya.
“Terasa luar biasa,” jawab
Jordan sambil tersenyum dengan menahan sakit yang masih ia rasakan di sekujur
tubuhnya.
Lytro hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya sebagai tanda bahwa dia merasa tenang dengan jawaban tersebut.
“Aku punya kabar baik. Mulai
saat ini, aku tak akan memberikan beban apapun pada kalian. Kalian sudah resmi
lepas dari semua ini.”
Jordan tersenyum singkat
mendengarnya.
“Beban? Sejak kapan kau
memberi beban pada kami? Kupikir selama ini, kau hanya memberikan tantangan,”
sahutnya.
Lytro tersenyum sampai
terlihat gigi-giginya.
“Santai saja, Bung!” sahut
Wergon seraya menepuk pundak Lytro.
Beberapa saat setelah itu,
datanglah Earon dengan hidung dan beberapa bagian tubuhnya yang sudah diperban.
“Sepertinya, dokter itu
sangat telaten mengoperasi plastik hidungmu,” sindir Lytro tertawa melihat
kemalangan yang terjadi pada Earon, diikuti oleh Jordan, Wergon, dan Filhener
yang hanya bisa mengumpat tawanya mendengar perkataan Lytro tersebut.
“Ini bukti kesuksesanku kali
ini,” gerutu Earon.
“Untungnya Vurpia tidak di
sini melihat tragedi yang baru saja kau alami. Siapa sangka kalau Fordien
sangat menyukai hidungmu.”
“Ya, kurasa Charevins tidak
rela kalau Earon yang memiliki hidung itu. Itu sebabnya dia terus memukuli
wajahnya,” lanjut Jordan.
Semuanya tertawa dengan
gurauan tersebut, kecuali Earon yang menjadi korban ejekannya.
“Oh ya, Jordan. Ini
milikmu,” ujar Earon mengalihkan pembicaraan seraya menunjukkan busur milik
Jordan.
Jordan pun baru teringat
kalau busur yang dibawanya adalah milik Earon dan segera mengambil busur yang
ia sandang. Namun sebelum menyodorkannya pada Earon, dia merasakan sesuatu di
daerah genggaman busur, lalu membuka jari-jari yang menutupi daerah
genggamannya tersebut dan yang dilihat adalah ukiran indah yang membentuk
sebuah lambang, sementara ukiran yang mengelilinginya seperti ukiran yang ada
pada busur miliknya. Dia begitu heran dan terus mengamati lambang ukiran yang
tak pernah dilihat sebelumnya itu.
“Apa yang kau lihat?” tanya
Earon tiba-tiba.
Pandangannya langsung
beralih pada Earon.
“Tidak, tidak ada,” katanya
seraya memberikan busur itu pada Earon, lalu menerima busur miliknya.
“Aku sungguh tidak percaya
dengan ini, tapi kalian sungguh hebat,” kagum Earon kepada tiga serangkai,
“Bagaimana kalian melakukan itu? Maksudku, kalian benar-benar seperti sudah
terlatih. Kupikir, kalian hanyalah….”
“Tukang kebun ingusan yang
manja dengan kegiatan rutin yang tak menantang?” sela Filhener, “Kami memang
begitu.”
Semua tertawa mendengarnya.
“Tidak. Bukan itu. Bibi
Delarmy bilang kalau kalian pernah menjadi pemain akrobat. Kupikir, pemain
akrobat tidak akan memiliki kemampuan bela diri sehebat itu,” lanjut Earon,
“Dan, bagaimana kalian tahu kalau ada penggerebekan?”
Dengan spontan, Wergon dan
Filhener terdiam bingung.
“Eeehhhh, kebetulan itu…,”
ucap Wergon agak gugup.
Belum sempat Wergon
melanjutkannya, Jordan menepuk ringan pundaknya sambil tersenyum kecil.
“Lytro yang meminta kami
untuk datang,” katanya.
Lytro sangat terkejut
mendengar itu, lalu mengangkat wajahnya, menatap Jordan seakan mencoba memberi
isyarat padanya untuk menutupi sesuatu.
“Dia tahu kalau kau
membutuhkan itu untuk menangkap Fordien. Walaupun dia tidak tahu bagaimana kami
akan melakukannya, tapi dia yakin kami sebagai sahabatnya tidak akan membiarkan
sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dia tahu kalau kau juga sangat memercayai
kami,” ujar Jordan.
Keempatnya langsung diam
termenung, memerhatikan Jordan berbicara.
“Tapi, aku juga tahu kalau
niat dia sebenarnya hanya untuk menjadikan kami umpan. Siapa yang tidak akan
teralih perhatiannya melihat tiga anak ingusan berada di kandang singa?” lanjut
Jordan memecah suasana.
Mereka pun kembali tersenyum
setelah mendengarnya.
Di tengah canda gurau,
Fordien yang telah diborgol kedua tangannya di belakang dengan dikawal oleh dua
anggota polisi khusus berompi, berjalan melewati mereka berlima. Dari caranya
berjalan yang belum stabil, sepertinya dia masih terpengaruh oleh obat bius
anak panah yang dilepaskan Earon.
“Aku tidak tahu kalau obat
biusnya sebegitu berpengaruhnya pada Charevins,” kata Jordan yang sedikit
kasihan melihat kemalangan Fordien.
“Biarkan saja! Dia pantas
mendapatkan yang lebih buruk dari itu!” sahut Earon.
Mendengar suara Jordan,
Fordien pun langsung mengangkat kepala dan mencari sumber suara tersebut. Hanya
dengan sekilas pandang, dia menemukannya dan menatap Jordan dengan mata yang
mengerikan, layaknya orang yang sedang kesurupan.
“Hei, Jordan kawanku!
Dengarkan aku baik-baik!” seru Fordien layaknya orang mabuk seraya menghentikan
langkahnya, “Dan untuk semuanya, tolong dengarkan aku sebentar saja!”
Jordan diam tersenyum
membalas seruannya, diikuti oleh semua yang mendengar seruan tersebut, langsung
memerhatikan Fordien.
“Kalian telah salah
menangkap orang! Seharusnya, dia yang kalian tangkap!” katanya sambil
mengangkat dagunya menunjuk ke arah Jordan yang masih bisa tersenyum dengan
tuduhannya itu.
“Biar kuluruskan semuanya
dari awal. Ayahnya adalah seorang petani miskin yang menikahi janda kaya. Coba
pikirkan! Bagaimana mungkin ibunya, seorang janda kaya mau menikah dengan
petani miskin? Jelas, dia telah melakukan tipu muslihatnya pada janda kaya itu.
Heheh! Atau jangan-jangan janda kaya itu memang merencanakan sesuatu untuk
mendapatkan simpati dari orang sekitarnya dengan menikahi seorang petani
miskin. Apapun akal mereka, begitulah kelicikan Jordan yang diturunkan dari
orang tuanya!”
Seketika senyuman Jordan
memudar mendengar penghinaan yang dilontarkan pada orang tuanya. Dia hanya
diam, mencoba untuk tetap tenang dengan terus memerhatikan setiap kata yang
akan keluar dari mulut beracun Fordien. Namun di sisi lain, dia sejenak melihat
tanggapan jiwa Earon yang berdiri di sampingnya, sedikit lebih ke depan.
“Dasar orang tak tahu
diuntung!” gumam Earon lirih seraya meremas-remas kepalan tangannya.
“Bicaramu sama sekali tak
bisa dilogika, Fordien! Lebih baik kau renungkan itu lagi di dalam sel
penjaramu!” sahut Lytro yang juga ikut marah.
“Tidak bisa dilogika?
Heheheheheh…. Seorang anak yang tepat menginjak umur sepuluh tahun, kemudian
dia membakar rumahnya sendiri hingga kedua orang tuanya hangus terbakar,
sementara dia saat itu bisa bersenang-senang di taman bermain, selicik apakah
menurutmu anak itu?! Jelas, rencana itu dibuat begitu rapi olehnya. Bahkan
setelah itu, saudaranya hampir dibunuh olehnya sebelum akhirnya saudaranya
sendirilah yang telah mengetahui kelicikannya. Dia berusaha mendapatkan semua
harta warisan orang tuanya. Tapi, semua rencananya gagal karena saudaranya
telah mengetahui kalau dialah yang telah merencanakan pembunuhan kedua orang
tuanya. Dia pun lari dan memasang kepolosannya untuk mendapatkan tempat tinggal
baru. Dan sekali lagi karena kelicikannya, dia berhasil menipu seorang wanita
tua. Bahkan hingga saat ini, wanita itu tidak menyadari kalau selama ini dia
telah ditipu olehnya! Anak itu, tidak lain adalah Jordan!”
Lytro dan Earon begitu marah
dengan ucapan Fordien tersebut. Mereka mengepalkan tangan mereka kuat-kuat,
serasa ingin menghajar Fordien hingga tak bisa berbicara lagi. Sementara Wergon
dan Filhener hanya bisa diam kebingungan memikirkan bagaimana Fordien bisa
berbicara seperti itu terhadap Jordan.
“Aku yakin dia pun sedang
merencanakan akal bulusnya dengan membantu kalian melancarkan penangkapanku.
Kini semua kejahatannya telah kuungkapkan. Lalu, kenapa kalian masih belum
menangkap orang buruk itu?!”
“Tutup mulutmu! Jika masih
berani bicara lagi, tak segan-segan kupotong lidahmu itu!” bentak Earon seraya
mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya kuat-kuat pada Fordien.
Melihat tak satu orang pun
yang berpihak pada Fordien, dia pun semakin kesal dan tak menggubris hardikan
Earon.
“Kau pikir kau menang, Jordan? Tidak! Aku
memang tidak cukup waktu untuk membalasmu. Tapi, orang lain yang menjadi korban
kelicikanmulah yang akan membalasnya. Bahkan, orang terdekatmulah yang akan
membalaskan dendamku ini! Hidupmu tidak akan pernah tenang, Jordan! Kau tidak
akan pernah merasakan kebahagiaan hidup di dunia sebelum kau merasakan kalau
hidupmu hanya tinggal di ujung jarum! Kematianmu yang hanya tinggal
sejengkallah yang akan menentukan nasib kebahagiaanmu!” lanjutnya sambil
tertawa gila.
Setelah mendengar perkataan
mengerikan itu, tatapan semua yang menjadi saksi langsung tertuju ke arah
Jordan yang masih berdiri diam. Sementara Earon seakan sudah tak bisa lagi
menahan amarahnya. Namun mengingat yang dilakukan Jordan saat di koridor,
diapun tak bisa berbuat apa-apa terhadap Fordien.
“Cepat bawa dia ke mobil tahanan dan sumbat
mulutnya! Jika masih tak mau diam, bius saja dia!”
Dengan segera, dua kawanan polisi khusus
membawa Fordien menuju mobil tahanan dan suasana kembali normal setelah dia
menjauh dari tempat itu. Earon melihat wajah Jordan yang mencoba untuk tetap
tenang, tapi dia tahu bahwa hatinya begitu gelisah dengan perkataan terakhir
Fordien.
“Lupakan semua yang
dikatakan Fordien, Jordan! Setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya omong
kosong. Sebenarnya, semua yang dia tuduhkan padamu adalah tuduhan untuk dirinya
sendiri,” hibur Earon.
Jordan langsung mengangkat
pandangannya ke arah Earon, setelah mendengar kalimat terakhirnya.
“Aku sangat kenal seperti
apa dia,” lanjut Earon seraya tersenyum dan menepuk bahunya.
“Ngomong-ngomong, Lytro. Aku
tahu ini hari yang bahagia, tapi aku tak mau kau lupa dengan tugasmu. Kau harus
secepatnya menangkap tiga bayangan bulan. Tapi, berhati-hatilah. Jika
penangkapan Fordien sesulit ini, bagaimana dengan tiga bayangan bulan? Mereka
pasti lebih cerdik dan berbahaya,” lanjut Earon mengalihkan pembicaraan.
Lytro tersenyum sinis.
“Percayalah, mereka lebih
mudah untuk diajak berunding,” katanya.
“Jangan remehkan mereka!”
ujar Earon, “Aku serius.”
Earonpun meninggalkan
mereka, seakan ada urusan lain yang lebih penting untuk dia lakukan.
Tidak lama setelah itu,
Jordan mendengar suara yang begitu lembut, yang membuatnya terperanjat ingin
segera pergi dari tempat itu.
“… bertemu dengan Volan
Kayshn?”
“Tentu, dia di sini….”
Dia begitu gugup dengan
jantung yang bergetar kuat. Tapi kegugupan itu sirna setelah melihat wajah
teman-temannya, memandangnya dengan penuh kegelisahan. Mereka pasti tidak
mendengar suara lembut yang ia dengar, kalaupun mereka mendengarnya pasti
Wergon sudah merengek untuk segera pergi, pikirnya. Diapun hanya mengambil beberapa
napas dalam, menenangkan pikirannya agar tidak tampak ketakutan di raut
mukanya, sehingga tidak membuat keempat sahabatnya semakin cemas.
“Entah kenapa aku ingin
kabur dari kota ini,” kata Wergon memecah suasana.
“Aku benar-benar tidak
mengerti dengan situasi ini,” lanjut Filhener agak kesal.
Lytro melihat tatapan ringan
Jordan ke arahnya. Dia merasa kalau Jordan telah mengetahui sesuatu. Namun,
Lytro segera memalingkan pandangannya ke arah lain, seakan semua memang tampak
dan akan baik-baik saja.
No comments:
Post a Comment