CHAPTER 6: AKSI PENANGKAPAN FORDIEN CHAREVINS

 Malam hari pun tiba.

Di sebuah tempat yang begitu gelap dan sunyi, sepertinya sangat sedikit pula orang yang lewat setiap harinya, berdiri sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah lama tak disentuh. Bangunan bertingkat dua dengan lantai atas yang luasnya sekitar dua per lima dari lantai bawah dan didesain menyerupai gedung museum. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh rumput-rumput liar dan beberapa pohon yang tak tertata, ditambah hiasan pagar besi bengkok dan berkarat yang mengelilinginya. Walaupun demikian, sebenarnya tempat itu tidaklah jauh dari kota Losapins, justru berada di tengah kota tersebut, dan masyarakat dulu sering menyebutnya sebagai gedung laboratorium.

Gedung bekas laboratorium itulah yang menjadi incaran penyergapan kali ini. Tampak beberapa anggota polisi khusus yang berompi dan berperalatan khusus lainnya dengan membawa senjata api berlaras panjang, telah menyebar di posisi masing-masing sesuai tugas dan rencana yang telah dibuat. Terlihat juga anggota polisi Losapins lainnya yang ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut. Mereka bersiaga di balik pagar, rerumputan, maupun pepohonan, berdampingan dengan anggota polisi khusus. Earon yang merupakan pemimpin penyergapan, didampingi oleh rekan kerjanya Lytro, bersiap untuk masuk ke sarang ular.

Dua polisi khusus melangkahkan kakinya secara perlahan memasuki pintu masuk laboratorium. Dari gerakan sorotan senter senjatanya, mereka berdua begitu fokus mengamati keadaan di sekelilingnya. Setelah dirasa aman, kemudian secara berurutan, masuk pula anggota polisi khusus yang lain. Mereka dengan cepat, cermat dan hati-hati menyebar ke seluruh penjuru ruang laboratorium bersama pasangan yang sudah ditentukan. Sesekali terdengar juga beberapa letupan senjata api, bentakan, teriakan rasa sakit, langkah kaki, bantingan benda, yang mewarnai gelapnya di setiap sudut ruangan yang begitu kotor tersebut.

Tiba di depan sebuah ruangan berpintu besi yang setengah terbuka.

Cahaya malam yang memantul dari ventilasi di ruang tersebut, memberikan sedikit penglihatan pada Earon, Lytro, dan beberapa polisi khusus yang sedang melihat empat pembawa senjata berpeluru dari sebelas penjahat di dalamnya, berusaha kabur melalui terowongan. Terowongan dengan diameter kira-kira satu meter tersebut sepertinya memang sengaja telah mereka buat untuk mengantisipasi hal yang demikian. Di balik penyangga bangunan, Earon dan yang lainnya membuat sebuah rencana dengan isyarat tangan, untuk memergoki para penjahat itu.

“Cepat! Kita tak punya banyak waktu!” seru salah seorang penjahat yang membawa senjata, dengan nada pelan.

Dua orang telah berhasil meluncur ke dalam terowongan. Tapi, saat seorang yang lain baru melangkahkan kakinya hingga menyentuh dinding terowongan, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kehadiran seseorang.

“Alangkah bagusnya jika terowongan itu langsung menuju ke jeruji besi.”

Seketika semua penjahat yang tersisa di ruang tersebut mengalihkan pandangannya dan keempat orang pemegang senjata pun langsung menyoroti wajah orang tersebut. Tak disangka, ternyata seorang agen AKLA telah berdiri di dekat pintu sambil memegang busur yang siap melesatkan anak panahnya. Sebelum para penjahat menarik pelatuk senjatanya, Earon dengan sangat cepat melepaskan dua-dua anak panah, tepat mengenai senjata-senjata yang mereka bawa dan menghilang di balik kegelapan. Kemudian, satu anak panah dilepaskan lagi menuju lubang terowongan saat seorang penjahat yang berada paling dekat dengan terowongan tersebut tak menggubris peringatannya. Mungkin yang ada dalam pikirannya hanyalah mencari kesempatan yang begitu kecil untuk bisa melarikan diri. Saat itu juga, beberapa polisi masuk beriringan sambil mengarahkan senjata mereka pada para penjahat itu. Akhirnya, mereka pun menyerah dan berhenti bergerak seraya mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya. Rasa takut, gelisah, dan bingung menyelimuti hati mereka. Ingin sekali untuk bisa lolos dari tangkapan polisi, namun senjata-senjata sudah ditodongkan tepat mengarah ke tubuh mereka. Sedikit bergerak saja, bisa jadi hanya nyawa mereka yang melarikan diri.

Earon segera memeriksa terowongan tersebut. Dengan senternya, dia menyoroti panjang dan arah terowongan. Sepertinya sulit memperkirakan arah terowongan tersebut, kecuali memasukinya secara langsung.

Earon, sudah kudapatkan mereka di ujung terowongan. Tapi, aku tidak bisa menemukan Fordien. Kurasa, dia sudah terlalu jauh dari kita. Dia tahu dengan kedatangan kita. Pasti semua ini sudah menjadi rencananya,” kata Lytro dari balik mikropon yang dipasang di telinga Earon.

Tidak. Itu tak boleh terjadi. Fordien harus mendapat keadilan. Semua ini harus selesai malam ini juga, pikir Earon gundah.

Earon, apa rencana kita selanjutnya?

Earon hanya terdiam dengan hati yang bercampur marah dan bimbang atas keadaan tersebut. Dia tak mau kesempatan untuk menangkap orang yang selama hidup menjadi incarannya tersebut, sia-sia begitu saja. Dengan segera, Earon menarik salah seorang anak buah Fordien yang kedua tangannya sudah diborgol, berdiri tak jauh darinya, lalu mencengkeram erat kerah bajunya.

“Di mana dia?!” gertaknya.

“Aku tidak tahu,” jawab penjahat itu gemetar, melihat tatapan murka Earon.

“Cepat, katakan! Di mana dia sekarang?!” gertak Earon lebih keras.

“Sungguh, aku tidak tahu. Kami hanyalah para budak lemahnya. Kami tidak diberitahu tentang keberadaannya. Kumohon, jangan penjarakan aku!” 

Mendengar itu pun, Earon segera melepaskan cengkeramannya. Dia begitu kecewa dengan hasil penyergapan kali ini. Tak mendapatkan Fordien sama saja tak mendapatkan apapun.

“Bawa mereka!” ucap Earon pelan yang berusaha untuk tetap tenang.

Para polisi langsung menjalankan perintah Earon.

“Tidak, kumohon! Aku tidak bersalah! Lepaskan aku!” keluh penjahat tadi.

Mobil-mobil polisi mulai dipindahkan dan diparkir di depan gerbang laboratorium. Sorotan lampu-lampunya menerangi seluruh area tempat penyergapan. Para polisi telah membawa para penjahat keluar dari tempat persembunyian. Mereka dipegang erat-erat dan dipaksa melangkahkan kakinya menuju mobil hitam yang telah dipersiapkan untuk mereka. Begitulah yang dilihat oleh Filhener yang sedang mengamatinya dengan teropongnya, berdiri sambil menaruh salah satu kakinya di atas tembok pembatas atap apartemen, didampingi oleh Jordan yang berdiri di sebelah kirinya sambil menggenggam busurnya, dan Wergon yang berada di sisi lainnya menduduki tembok pembatas dengan salah satu kaki terjulur dan kaki lainnya ditekuk vertikal dengan menggenggam tongkat panjangnya. Tak lupa pula, anggota terkecil mereka, Faisr bertengger di pundak Jordan. Mereka mengenakan kostum malamnya, tapi tanpa masker.

“Mereka berhasil menangkapnya,” ujar Filhener yang masih melihat situasinya dari teropong.

Jarak apartemen yang tidak jauh dari tempat penyergapan, membuat Jordan masih bisa mengamati situasi tersebut dengan mata telanjang. Dalam pengamatannya tersebut, dia merasa adanya kejanggalan.

“Dia tidak menemukannya,” ujarnya.

“Tidak. Sepertinya mereka mendapatkannya. Sudah banyak pengikutnya yang dimasukkan ke mobil. Tapi sejauh ini, aku memang belum melihat Earon,” lanjut Filhener.

“Mungkin dia agak kesulitan menangani Fordien di dalam,” sahut Wergon.

Suasana terasa sunyi sejenak. Filhener terus mengamatinya dari balik teropong.

“Tunggu. Aku melihatnya. Earon sudah keluar. Tapi….”

Filhener menurunkan teropongnya, lalu berkata dengan pelan, “Kau benar, Jordan. Dia tidak bersamanya.”

Suasana kembali sunyi. Udara malam terasa begitu hampa, membawa tujuan yang telah menghilang. Namun, bukan demikian yang dirasakan Jordan. Dia mengelus Faisr, lalu terbang ke udara, layaknya telah diberikan perintah dari usapan lembut tangannya.

“Kalau begini kejadiannya, apa itu artinya kita sudah selesai?” tanya Wergon yang bangkit dari duduknya.

Tiba-tiba, Jordan merasakan getaran handphone di saku celana kanannya. Terlihat kombinasi nomor tanpa nama, meneleponnya. Walaupun demikian, Jordan tetap mengangkatnya.

“Halo.”

Jordan, kutawarkan pekerjaan bagus padamu. Bayarannya lebih besar dari uang yang pernah kuberikan padamu terakhir kali.

Mendengar suaranya, Jordan langsung mengetahui orang dari balik telepon tersebut.

“Katakan saja inti pembicaraanmu!”

Kujadikan kau sebagai kaki tanganku. Orang yang bisa kuandalkan untuk melindungiku kemanapun aku pergi. Jika kau mau, detik ini juga, aku bisa mulai menghitung bayaranmu. Kau juga bisa mengajak dua temanmu itu untuk ikut bersamamu.

“Kenapa kau pikir aku mau menerimanya?”

Karena aku tahu dirimu. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, Jordan. Apa jawabanmu?

Jordan terdiam sejenak.

“Di mana kau sekarang?”

Bagus. Temui aku di perairan dengan bangunan merah bercerobong satu.

Jordan hanya diam, lalu segera menurunkan teleponnya, dan bergegas pergi ke tempat tersebut.

“Ayo!” ajaknya seraya melangkahkan kakinya dengan cepat.

Wergon dan Filhener pun mengikutinya, namun mereka tidak mengerti tujuan Jordan.

“Kita akan ke mana?” tanya Wergon bingung.

“Pelabuhan.”

Malam semakin gelap. Kesunyian kian menyelimuti setiap sudut tempat kota Losapins. Bahkan, suara-suara kecil pun bisa terdengar hingga di pelabuhan yang tidak jauh dari jantung kota tersebut. Di pelabuhan yang tampak tidak terlalu bagus itu, Fordien dan pengikutnya yang tersisa sedang merencanakan sesuatu. Mereka berada di dalam sebuah ruangan, seperti kabin kapal dengan dinding yang terbuat dari kayu bercat coklat, dan pipa-pipa yang terpasang di sudut langit-langit ruangan tersebut.

Datanglah seorang pria berbadan kekar mendekati Fordien yang sedang berdiri menatapi busur dan sebuah anak panahnya.

“Tuan, serbuk itu sudah saya tempatkan sesuai dengan perintah Anda,” kata orang itu yang menghentikan langkahnya, berdiri dibelakang Fordien.

Fordien tak menoleh. Dia hanya melirikinya.

“Bagus. Pastikan tak seorang pun menemukannya. Bahkan, polisi pun tak boleh mendapatkannya. Ciptaanku, hanya boleh kuberikan pada orang yang pantas saja,” ujarnya, “Sekarang, pergilah!”

Orang itu pun pergi dan berpapasan dengan seorang nakhoda yang bergantian untuk berbicara pada Fordien.

“Uh, Tuan. Tak bisakah kita berangkat sekarang? Saya khawatir ada orang yang mengetahui keberadaan kita,” katanya cemas.

Fordien membalikkan pandangan padanya.

“Tidakkah kau tadi mendengarkanku? Kapal ini hanya akan berangkat, jika kuberi aba-aba,” ucap Fordien sambil berjalan perlahan mendekati nakhoda itu, “Kalau sampai aku pergi tanpa didampingi olehnya, kupastikan kau tak akan pernah bisa berdampingan denganku lagi selamanya!”

Nakhoda itu begitu gemetar melihat tatapan Fordien yang terpampang jelas di depan wajahnya.

“I, i, iy, iyyyaa. Hanya saja, kita sudah terlalu lama menunggu teman Anda. Apakah Anda yakin teman Anda Jordan akan datang kemari?”

Tatapan Fordien semakin menakutkan, membuat nakhoda itu tak berani berbicara lagi.

“Ba, ba, baik. Tentu saja,” lanjutnya seraya pergi menjauh dari Fordien.

Sudah cukup lama Fordien menunggu, namun Jordan belum juga terlihat. Dia mulai resah, mungkin ada benarnya dengan yang dikatakan nakhoda itu. Sejenak ia menatapi handphone yang ia genggam. Terlihat dari raut wajahnya, dia merasa bingung dan gelisah.

“Jordan, di mana kau?!” ucapnya geram sambil mengepalkan tangan erat-erat bersama dengan handphone-nya.

Kegelisahannya serasa ingin sekali dilampiaskan dengan membanting handphone tersebut. Tapi saat dia berbalik ke arah pintu untuk melakukannya, tiba-tiba Earon telah berdiri dihadapannya dengan pintu yang sudah dikunci. Fordien begitu terkejut melihatnya yang mendadak muncul seperti hantu.

“Ba, bagaimana kau bisa kemari?” tanya Fordien.

“Akhirnya. Setelah sekian lama aku mencarimu, kau kutemukan juga. Bagaimana rasanya bertemu lagi dengan masa lalumu?” balas Earon seraya mengambil sebuah anak panah, lalu ditempelkannya pada busurnya.

Fordien tersenyum sinis.

“Heh! Aku tidak tahu maksud pertanyaanmu. Tapi, jika kau ingin jawabannya, tentu rasanya sangat menyenangkan. Aku sedikit terkesan, ada tikus kecil yang berani masuk ke lubang ular, hanya seorang diri. Bukankah itu namanya bunuh diri? Tapi, aku tak yakin kau melakukannya. Jadi, berapa banyak tikus-tikus di luar sana yang kau suruh untuk menjagamu?” ketus Fordien yang juga menarik perlahan sebuah anak panah pada tali busurnya.

Tatapan mata tajam Earon lurus menuju Fordien.

“Jangan khawatir, mereka akan menjagamu setelah kau tergeletak tak berdaya,” lanjut Fordien.

Kesabaran Earon sudah memuncak. Dia tak lagi bisa menahan amarahnya.

“Kau memang iblis!” seru Earon yang seketika melesatkan anak panahnya ke arah Fordien.

Fordien dengan cepat menghindar dan melesatkan pula anak panah beracunnya, tapi sayang Earon pun mampu menghindarinya. Perkelahian sengit di antaranya terjadi dalam satu ruangan tersebut. Sesekali mereka saling menembakkan anak panahnya, juga memanfaatkan busur atau apapun yang dapat digunakan untuk bisa membalas serangan. Beberapa adu pukulan pun sering terjadi, menyebabkan rasa sakit yang bahkan membuatnya terbanting maupun terjatuh. Namun di balik serangan-serangan itu, Fordien berusaha untuk bisa meraih pintunya, membuka kuncinya, dan melarikan diri. Sementara itu, Earon terus menggagalkan niat Fordien tersebut dan menginginkan gelar pemenang dalam pertandingannya.

Beberapa saat kemudian, Fordien berhasil menjatuhkan Earon yang tak kunjung bangun karena saking lelahnya. Kesempatan itu dengan cepat diambil Fordien untuk segera menjauh darinya. Fordien terus berlari melewati koridor sambil memegang perutnya yang terasa sakit, mungkin karena terkena serangan dari Earon. Sesampainya di pintu menuju geladak depan, dua pengawal yang menjaga di sana begitu terkejut melihat tuannya keluar dalam kondisi yang kacau. Mereka pun segera mendekat dan berusaha untuk membantunya dengan memegang satu-satu tangan Fordien. Namun, Fordien menolaknya. Dia justru sangat marah.

“Lepaskan aku! Kalian, jaga saja tak becus!” bentaknya.

Kedua pengawalnya hanya saling memandang kebingungan.

Fordien melihat sekelilingnya. Begitu sepi, tak terlihat pengawalnya yang lain.

“Mana yang lain?!”

Kedua pengawal itu lagi-lagi kebingungan, melihat sekitarnya yang memang tak ada yang lain, kecuali mereka.

Kemudian, datanglah Earon yang perlahan-lahan muncul dari dalam, memegang busur dengan sebuah anak panahnya, dan tatapan matanya yang begitu mengerikan seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Fordien dan kedua pengawalnya berjalan mundur perlahan seiring dengan kehadiran Earon yang mulai mendekat, mengarahkan mata anak panahnya pada Fordien yang mengarahkan mata anak panahnya pula pada Earon. Sementara dua pengawal Fordien mengangkat pistolnya dan siap menekan pelatuknya. Earon yang melihat situasi tersebut tentu merasa bahwa apapun yang terjadi, pasti dirinya juga akan ikut menjadi korbannya. Namun, kemauan keras untuk mendapatkan Fordien membuatnya tak peduli akan keselamatannya. Kalau pun dia mati, Fordien pun harus mati di tangannya.

Earon begitu fokus pada keadaan tersebut. Dia tak ingin tembakannya meleset. Begitu juga Fordien, dia sangat konsentrasi bila Earon melesatkan anak panahnya secara tiba-tiba. Tapi saat Earon akan melepaskan anak panahnya, terdengar suara gerincing seiring dengan kemunculan sebuah anak panah bermata cangkir isap yang melesat cepat di depannya, lalu melekat pada pagar pembatas. Earon begitu terkejut melihat penampakan anak panah yang tak biasa itu, tapi keduanya juga tak asing dengan suara gerincing tersebut. Lalu, Earon menoleh ke samping belakang, sumber datangnya anak panah itu.

Tak disangka, ternyata anak panah itu berasal dari busur Jordan. Dia berdiri tegak sambil memegang busur dan anak panah yang siap dilepaskan lagi. Melihat kedatangan Jordan, Fordien begitu lega. Kekhawatirannya terhadap situasi yang sedang dia alami, lenyap seketika.

“Jordan,” kata Fordien lirih bahagia.

Melihat Fordien lepas konsentrasi, Earon segera menarik tali busurnya kembali dan melepaskan anak panahnya. Namun, anak panah Earon langsung dihentikan oleh Jordan. Earon semakin terkejut dan bingung dengan tindakan Jordan tersebut. Terlebih sesaat setelah itu, dia mengarahkan anak panahnya pada Earon.

Fordien tersenyum licik terhadap Earon.

“Menyerahlah, Earon! Kau sama sekali tak punya peluang untuk bisa menang,” ujar Fordien.

Earon mengarahkan kembali anak panahnya pada Fordien. Tapi, sejenak dia juga melirikkan matanya pada Jordan. Kenapa Jordan melakukan itu, apakah dia tak ingin Earon melukai Fordien, atau karena sesuatu yang lain. Begitulah yang dipikirkan Earon, yang justru membuatnya gemetar di sekujur genggaman tangannya. Lalu, dia memejamkan kedua mata, mencoba untuk mendapatkan ketenangan kembali dan tetap fokus agar bisa mewujudkan sesuatu yang selama ini dia impikan, yaitu menghabisi Fordien.

Kedua matanya langsung terbuka lebar setelah mendengar suara lesitan anak panah. Tak disangka, dua pengawal yang berdiri di samping Fordien sudah jatuh tak berdaya. Kekhawatiran Fordien kini semakin memuncak, melihat Jordan yang tiba-tiba berpihak pada Earon. Dengan cepat, Jordan langsung melepaskan anak panahnya pada Fordien. Beruntung, kekhawatirannya tidak membuat Fordien mudah lepas konsentrasi, sehingga dia mampu menghindar.

“Itu dia di sana!” seru beberapa pengawal Fordien yang baru tampak, menggerombol di geladak atasnya, menunjuk ke arah Jordan.

Sesaat setelah itu, tiba-tiba datanglah Wergon dan dalam waktu yang begitu singkat dia melumpuhkan segerombolan pengawal yang sebagian besar berbadan kekar tersebut. Fordien yang melihat itu hanya bisa mengambil napas dan berkeluh pelan, “Bisa-bisanya aku memilih mereka.”

Kemudian, disusul dengan suara letupan senjata di geladak bawah yang membuat Fordien semakin gentar. Earon semakin merasa yakin dengan keberhasilannya, sementara Fordien masih berpikir mencari cara agar bisa melarikan diri. Tanpa pikir panjang, Fordien langsung menyerang keduanya dengan sembarang cara, baik melesatkan anak panahnya, memukulkan busurnya, menendang, maupun menghajar dengan kepalan tangannya. Dia tak peduli lagi dengan yang dilakukannya itu akan membuatnya berhasil lolos ataukah tidak, yang terpenting saat itu adalah dia harus berjuang melawan dua orang yang sudah sangat membuatnya kesal. Perlawanan yang dilakukan Fordien terhadap Earon dan Jordan ternyata membuahkan hasil. Untuk sementara, dia berhasil melumpuhkan keduanya.

Namun, Earon dan Jordan segera bangkit dan kembali mengejar Fordien yang memasuki koridor. Jordan yang berlari membuntuti Earon berpikir kenapa Fordien justru lari memasuki koridor, sementara tangga keluar kapal berpeluang lebih besar baginya untuk bisa melarikan diri, apa yang sedang direncanakan orang itu. Ternyata koridor dalam kapal memiliki arah yang cukup membingungkan. Nyala lampu yang remang-remang membuat penglihatan Earon tak mampu melacak keberadaan Fordien dengan jelas. Tapi mereka terus berlari mencarinya.

“Waspadalah, Earon! Dia pasti telah merencanakan sesuatu,” ujar Jordan.

“Satu-satunya rencana yang dia miliki hanyalah bersembunyi. Kupastikan menemukannya, sekalipun dia bersembunyi di lubang anak cacing.”

Tak lama setelah itu, sesuatu langsung menghatam wajah Earon yang seketika membuatnya terjatuh. Fordien tiba-tiba muncul dari kabin yang gelap dan tak berpintu, lalu segera mengambil sebuah anak panah Earon yang berserakan dan mengarahkan ujung anak panah yang sangat tajam tersebut kepada Earon. Namun sebelum anak panah itu melukainya, Jordan yang berada sekitar sepuluh meter di belakangnya, segera melesatkan anak panah ke arah Fordien. Tapi dia berhasil lagi menghindari anak panah bermata cangkir isap tersebut, lari ke sisi koridor yang lain saat melihat Jordan melangkah cepat mendekatinya, melepaskan kesempatan untuk membunuh Earon. Saat Jordan berusaha mengejarnya, dia sudah tak terlihat lagi. Jordan segera menolong Earon yang belum bangkit dengan kedua tangan yang memegang wajahnya yang sakit.

“Kau tak apa?” tanya Jordan seraya memeganginya.

Baru beberapa detik memegang bahu Earon, sesuatu langsung mencekam leher Jordan dengan sebuah busur dan menariknya ke belakang. Teriakan amarahnya terdengar jelas, pasti dialah Fordien, pikirnya saat itu. Namun, tarikannya yang begitu cepat dan erat membuatnya kesulitan untuk berbalik menyerangnya, terlebih busurnya terlepas dan tergeletak di dekat Earon yang masih mencoba untuk bangkit. Diapun segera menarik pedangnya dan langsung mengebaskannya ke arah Fordien. Lagi-lagi, Fordien yang licik mampu mengamati setiap gerakan yang akan dilakukan Jordan, diapun segera melepaskan cekamannya dan menghindari serangan itu. Jordan yang tak mau kalah, tidak memberikan sedetik pun kesempatan bagi Fordien untuk bisa mengamati setiap gerakannya. Dia terus melawan Fordien dengan pedangnya, hingga tidak menyadari kalau sabuk wadah anak panahnya terputus karena perkelahiannya itu. Saat pedang Jordan mengibas di atas dada Fordien, Fordien menahan serangan tersebut dengan busurnya. Namun yang terjadi, busur tersebut terbelah begitu mudah karena ketajaman pedang Jordan. Melihat situasi yang mulai tak terkendali, Fordien mencoba kabur ke arah Earon yang sedang bersiap mengadangnya, berdiri dengan hidung yang berlumuran darah. Dia hanya memiliki satu buah anak panah yang ia ambil saat menjatuhkan Earon dan hanya memiliki kesempatan dengan anak panah itu untuk bisa menjatuhkannya lagi.

Tatapan mata tajam Earon lurus menuju Fordien yang berlari mendekatinya. Dia mulai menarik satu anak panahnya perlahan dan terus fokus. Sekitar beberapa inci darinya, anak panah melesat dari tangan Earon, namun Fordien berhasil menghindar dan berbalik melontarkan anak panah yang ia genggam hingga menggores bahu Earon. Sementara anak panah yang melewati Fordien, kini menuju ke arah Jordan dan seketika mampu ia lumpuhkan dengan pedangnya. Earon yang kehilangan konsentrasi karena hampir seluruh tubuhnya terasa sakit, membuat Fordien bergegas untuk menyerangnya. Namun, Earon tidak terlalu menghiraukan rasa sakit itu. Dia terus melawan untuk bisa menghentikan Fordien. Akhirnya, dia pun berhasil membanting tubuh Fordien ke dinding dengan dua tangan yang dipuntir ke belakang.

Earon melihat begitu dekat peluang untuk membalaskan dendamnya. Jantungnya berdebar kencang dengan sorotan mata yang mengerikan dan cengkeraman tangannya semakin erat. Saat itu, keadilan bagi Fordien seakan telah lenyap dalam benak Earon. Dia segera mengambil sebuah anak panah yang tersisa di wadahnya dan mengarahkannya ke urat nadi leher Fordien. Melihat kemarahan Earon yang tak terkendali tersebut, tanpa berpikir panjang Jordan langsung melontarkan pedangnya hingga tertancap ke dinding kayu, menebas anak panah yang hampir membunuh Fordien. Earon yang melihat itu langsung memalingkan pandangannya ke arah Jordan. Dari tatapan matanya, Earon tahu kalau Jordan tak ingin hal mengerikan itu dilakukan olehnya. Earon mulai mengatur emosinya. Cengkeramannya mulai meringan, bahkan mungkin saking terlalu tenangnya membuat Fordien berhasil meloloskan diri setelah terlepas dari cengkeraman Earon, menyikut wajahnya yang berdarah, membanting kepalanya ke dinding, lalu merampas busur yang ada pada genggamannya.

Jordan segera berlari mendekati mereka. Dia melihat Fordien yang bergerak semakin menjauh, sementara Earon masih belum berdaya karena merasakan pukulan Fordien yang sangat keras. Dia tak ingin kesulitan lagi mencari keberadaan Fordien yang sudah dibuatnya bingung di tempat itu, bahkan tak merelakan Fordien untuk bisa lolos darinya. Menurutnya, hari itu dan waktu itu adalah kesempatan terakhir untuk mendapatkan Fordien. Namun di sisi lain, Jordan tak mungkin meninggalkan Earon begitu saja. Bisa jadi Fordien justru akan kembali ke tempat itu untuk membunuh Earon saat dia dibuat bingung mencarinya. Begitu banyak pikiran yang serba salah dalam benak Jordan. Dia pun memutuskan untuk menarik kembali pedangnya, meninggalkan Earon, dan mengejar Fordien yang masih kelihatan buntutnya. Melihat Fordien menaiki tangga menuju geladak atas, dia pun semakin cepat mengikutinya. Lalu sesaat setelah sampai di geladak paling atas, tak tampak Fordien di sekitar sana. Dia memutar pandangannya, tapi tak juga kelihatan. Kemudian dia berjalan menuju pagar pembatas, melihat-lihat geladak bawah barangkali dia muncul di sana, namun tak juga terlihat. Kemudian, terdengar suara bantingan pintu besi yang tertutup. Jordan segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut dan ternyata Fordien telah berdiri sambil menginjak pintu besi bundar yang telah terkunci, dengan salah satu kakinya. Tatapan mata kemarahannya tampak sangat jelas dengan wajah yang memerah. Napasnya yang mengembus keras-keras menandakan amarahnya yang ingin sekali dilepaskan dan kepalan tangan yang menggenggam busur, terlihat begitu mematikan. Begitulah kemurkaan Fordien yang Jordan amati. Namun, ekspresi wajah Jordan tetap tenang dengan pedang yang siap ia gunakan sewaktu-waktu.

“Kau. Dasar tikus rendahan! Pembohong! Pengkhianat! Inikah tujuanmu sebenarnya?!” ucapnya marah.

“Kau yang salah menilai situasi. Aku tidak pernah mengatakan iya dalam setiap usulan yang kau ajukan padaku.”

Mendengar ucapan Jordan tersebut, Fordien justru tertawa kekeh. Lalu, tawanya terhenti seraya berkata, “Heh! Tololnya diriku! Ternyata ada yang lebih licik dari seekor ular yang berbisa. Bisa-bisanya aku terjebak dalam permainannya!”

“Kurasa ada baiknya kalau kau menyerah dan berhenti merendahkan orang lain. Lihatlah! Yang lebih licik dari seekor ular yang berbisa tidak lain hanyalah orang yang kau anggap sebagai tikus rendahan. Tidak ada permainan yang bisa dibuat oleh seekor tikus. Di sini, si tikus hanya mencoba mengikuti permainan yang dibuat oleh si ular. Kau telah terjebak dalam permainanmu sendiri, Charevins. Menyerahlah!”

“Kau pikir, semudah itukah aku menyerah?! Tidak! Sampai akhir zaman pun, tikus hanya akan menjadi mangsa ular! Kaulah mangsa utamaku, Jordan!”

Fordien langsung menyerang Jordan dengan brutal. Dia menggunakan busurnya untuk menghajar dan menghalangi setiap gerakan pedang Jordan. Jordan pun kewalahan atas serangan Fordien tersebut. Terlebih busur yang Fordien gunakan tak mampu ia tebas dengan pedangnya, layaknya besi, namun suara yang keluar saat bergesekan dengan pedangnya, seperti suara gesekan kayu biasa. Akhirnya, pertarungan telah sampai dengan terpojoknya Jordan di salah satu sisi pagar pembatas seraya memegang erat di kedua ujung busurnya, menahan serangan pedang yang beralih di tangan Fordien yang berada tepat di depan wajahnya. Jordan menahan pedang tersebut dengan posisi tubuh yang lebih rendah dari Fordien. Kekuatan Fordien yang terus mencoba mendekatkan pedang itu ke arah Jordan, begitu kuat. Bahkan timbul keraguan dalam hati Jordan, apakah busurnya bisa menahan kemarahan Fordien ataukah tidak. Tapi sepertinya bukan busur yang tak mampu menahannya, melainkan kedua tangan Jordan yang mulai gemetar dibuatnya.

“Sudah kubilang, tikus hanya akan menjadi mangsa ular!” ucap Fordien geram seraya menekan pedangnya lebih kuat.

Jordan seakan tak mampu lagi menahannya. Kaki, tubuh, dan tangannya yang menjadi tumpuan terasa gemetar dan tak mungkin ia gerakkan untuk melemahkan Fordien. Saat pedang sudah sedekat antara jari telunjuk dan jari tengah, tiba-tiba terdengar suara gerincing dari arah belakang Fordien. Fordien berbalik melihat ke sumber suara tersebut dan anak panah bermata cangkir isap telap menempel di punggungnya. Terlihat Earon berdiri dengan busur yang masih terangkat, membuat Jordan begitu tenang karena Earon masih baik-baik saja. Fordien mulai merasakan lemas di beberapa titik dalam tubuhnya. Tangannya yang menggenggam pedang sudah tak sekuat mulanya, dan akhirnya diapun menjatuhkan pedang itu. Pandangannya buyar, serasa ingin segera terpejam. Tapi karena dendamnya terhadap Jordan yang begitu besar, membuatnya tak rela jika harus kalah dengan cara seperti itu. Dengan teriakannya yang keras, dia pun langsung mendorong tubuh Jordan bersamanya hingga mematahkan pagar pembatas dan terjatuh di atas tumpukan kotak kayu.

Earon segera berlari melihat kondisi Jordan dari atas. Beruntung, tidak terjadi apa-apa padanya, hanya terdengar rintihan rasa sakit karena telah menghancurkan beberapa kotak kayu di sekilingnya. Sementara itu, Fordien telah tertidur lelap. Beberapa saat kemudian, datanglah Wergon dan Filhener yang menyusul Earon, berdiri di sampingnya dengan napas yang terengah-engah, dan melihat yang dilakukan Jordan dan Fordien di bawah.

 “Kau tak apa, Jordan?!” serunya.

Sejenak Jordan menoleh ke atas, lalu pandangannya kembali disibukkan dengan menyingkirkan puing-puing serangan Fordien.

“Kenapa bantuan selalu datang terlambat?” keluh Wergon dengan napas yang masih mengembus keras-keras seraya membungkukkan badannya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya yang sedikit ditekuk.

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Filhener.

Wergon kembali berdiri tegak.

“Bantuan selalu datang terlambat. Kita berdua.”

Mendengar hal itu, Filhener hanya mengeluarkan napas melalui mulutnya. Mungkin ada benarnya yang dikatakan Wergon, pikirnya. Lalu, tak sengaja pandangannya menuju ke arah wajah Earon yang berlumuran darah.

“Apa hidungmu baik-baik saja?” tanya Filhener penasaran dengan yang telah terjadi pada Earon.

“Ya,” jawab Earon singkat, namun tatapannya lurus mengamati Fordien yang terbaring tak berdaya.

Langit merah mulai tampak dari timur. Sebagian awan kelabu menghalangi cahaya surya yang merambat naik dengan udara segar yang mengiringi ketenangan hati orang-orang yang telah lepas dari kejahatan Fordien, mengakhiri aksi penyergapan yang panjang. Beberapa mobil polisi, pemadam kebakaran, ambulans, dan dua helikopter terparkir tak beraturan di sepanjang pelabuhan, membawa para tersangka dan mengobati beberapa agen yang terluka. Terlihat wajah Earon masih diurus oleh dua dokter di dalam ambulans yang salah satu sisi pintunya terbuka. Sementara Jordan hanya mendapatkan perban di tangan kanannya. Bahkan, dia sudah sanggup berdiri bersama Wergon dan Filhener, melihat situasi sekitar.

Kemudian, Lytro datang menghampirinya.

“Bagaimana kondisimu?” tanyanya.

“Terasa luar biasa,” jawab Jordan sambil tersenyum dengan menahan sakit yang masih ia rasakan di sekujur tubuhnya.

Lytro hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia merasa tenang dengan jawaban tersebut.

“Aku punya kabar baik. Mulai saat ini, aku tak akan memberikan beban apapun pada kalian. Kalian sudah resmi lepas dari semua ini.”

Jordan tersenyum singkat mendengarnya.

“Beban? Sejak kapan kau memberi beban pada kami? Kupikir selama ini, kau hanya memberikan tantangan,” sahutnya.

Lytro tersenyum sampai terlihat gigi-giginya.

“Santai saja, Bung!” sahut Wergon seraya menepuk pundak Lytro.

Beberapa saat setelah itu, datanglah Earon dengan hidung dan beberapa bagian tubuhnya yang sudah diperban.

“Sepertinya, dokter itu sangat telaten mengoperasi plastik hidungmu,” sindir Lytro tertawa melihat kemalangan yang terjadi pada Earon, diikuti oleh Jordan, Wergon, dan Filhener yang hanya bisa mengumpat tawanya mendengar perkataan Lytro tersebut.

“Ini bukti kesuksesanku kali ini,” gerutu Earon.

“Untungnya Vurpia tidak di sini melihat tragedi yang baru saja kau alami. Siapa sangka kalau Fordien sangat menyukai hidungmu.”

“Ya, kurasa Charevins tidak rela kalau Earon yang memiliki hidung itu. Itu sebabnya dia terus memukuli wajahnya,” lanjut Jordan.

Semuanya tertawa dengan gurauan tersebut, kecuali Earon yang menjadi korban ejekannya.

“Oh ya, Jordan. Ini milikmu,” ujar Earon mengalihkan pembicaraan seraya menunjukkan busur milik Jordan.

Jordan pun baru teringat kalau busur yang dibawanya adalah milik Earon dan segera mengambil busur yang ia sandang. Namun sebelum menyodorkannya pada Earon, dia merasakan sesuatu di daerah genggaman busur, lalu membuka jari-jari yang menutupi daerah genggamannya tersebut dan yang dilihat adalah ukiran indah yang membentuk sebuah lambang, sementara ukiran yang mengelilinginya seperti ukiran yang ada pada busur miliknya. Dia begitu heran dan terus mengamati lambang ukiran yang tak pernah dilihat sebelumnya itu.

“Apa yang kau lihat?” tanya Earon tiba-tiba.

Pandangannya langsung beralih pada Earon.

“Tidak, tidak ada,” katanya seraya memberikan busur itu pada Earon, lalu menerima busur miliknya.

“Aku sungguh tidak percaya dengan ini, tapi kalian sungguh hebat,” kagum Earon kepada tiga serangkai, “Bagaimana kalian melakukan itu? Maksudku, kalian benar-benar seperti sudah terlatih. Kupikir, kalian hanyalah….”

“Tukang kebun ingusan yang manja dengan kegiatan rutin yang tak menantang?” sela Filhener, “Kami memang begitu.”

Semua tertawa mendengarnya.

“Tidak. Bukan itu. Bibi Delarmy bilang kalau kalian pernah menjadi pemain akrobat. Kupikir, pemain akrobat tidak akan memiliki kemampuan bela diri sehebat itu,” lanjut Earon, “Dan, bagaimana kalian tahu kalau ada penggerebekan?”

Dengan spontan, Wergon dan Filhener terdiam bingung.

“Eeehhhh, kebetulan itu…,” ucap Wergon agak gugup.

Belum sempat Wergon melanjutkannya, Jordan menepuk ringan pundaknya sambil tersenyum kecil.

“Lytro yang meminta kami untuk datang,” katanya.

Lytro sangat terkejut mendengar itu, lalu mengangkat wajahnya, menatap Jordan seakan mencoba memberi isyarat padanya untuk menutupi sesuatu.

“Dia tahu kalau kau membutuhkan itu untuk menangkap Fordien. Walaupun dia tidak tahu bagaimana kami akan melakukannya, tapi dia yakin kami sebagai sahabatnya tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dia tahu kalau kau juga sangat memercayai kami,” ujar Jordan.

Keempatnya langsung diam termenung, memerhatikan Jordan berbicara.

“Tapi, aku juga tahu kalau niat dia sebenarnya hanya untuk menjadikan kami umpan. Siapa yang tidak akan teralih perhatiannya melihat tiga anak ingusan berada di kandang singa?” lanjut Jordan memecah suasana.

Mereka pun kembali tersenyum setelah mendengarnya.

Di tengah canda gurau, Fordien yang telah diborgol kedua tangannya di belakang dengan dikawal oleh dua anggota polisi khusus berompi, berjalan melewati mereka berlima. Dari caranya berjalan yang belum stabil, sepertinya dia masih terpengaruh oleh obat bius anak panah yang dilepaskan Earon.

“Aku tidak tahu kalau obat biusnya sebegitu berpengaruhnya pada Charevins,” kata Jordan yang sedikit kasihan melihat kemalangan Fordien.

“Biarkan saja! Dia pantas mendapatkan yang lebih buruk dari itu!” sahut Earon.

Mendengar suara Jordan, Fordien pun langsung mengangkat kepala dan mencari sumber suara tersebut. Hanya dengan sekilas pandang, dia menemukannya dan menatap Jordan dengan mata yang mengerikan, layaknya orang yang sedang kesurupan.

“Hei, Jordan kawanku! Dengarkan aku baik-baik!” seru Fordien layaknya orang mabuk seraya menghentikan langkahnya, “Dan untuk semuanya, tolong dengarkan aku sebentar saja!”

Jordan diam tersenyum membalas seruannya, diikuti oleh semua yang mendengar seruan tersebut, langsung memerhatikan Fordien.

“Kalian telah salah menangkap orang! Seharusnya, dia yang kalian tangkap!” katanya sambil mengangkat dagunya menunjuk ke arah Jordan yang masih bisa tersenyum dengan tuduhannya itu.

“Biar kuluruskan semuanya dari awal. Ayahnya adalah seorang petani miskin yang menikahi janda kaya. Coba pikirkan! Bagaimana mungkin ibunya, seorang janda kaya mau menikah dengan petani miskin? Jelas, dia telah melakukan tipu muslihatnya pada janda kaya itu. Heheh! Atau jangan-jangan janda kaya itu memang merencanakan sesuatu untuk mendapatkan simpati dari orang sekitarnya dengan menikahi seorang petani miskin. Apapun akal mereka, begitulah kelicikan Jordan yang diturunkan dari orang tuanya!”

Seketika senyuman Jordan memudar mendengar penghinaan yang dilontarkan pada orang tuanya. Dia hanya diam, mencoba untuk tetap tenang dengan terus memerhatikan setiap kata yang akan keluar dari mulut beracun Fordien. Namun di sisi lain, dia sejenak melihat tanggapan jiwa Earon yang berdiri di sampingnya, sedikit lebih ke depan.

“Dasar orang tak tahu diuntung!” gumam Earon lirih seraya meremas-remas kepalan tangannya.

“Bicaramu sama sekali tak bisa dilogika, Fordien! Lebih baik kau renungkan itu lagi di dalam sel penjaramu!” sahut Lytro yang juga ikut marah.

“Tidak bisa dilogika? Heheheheheh…. Seorang anak yang tepat menginjak umur sepuluh tahun, kemudian dia membakar rumahnya sendiri hingga kedua orang tuanya hangus terbakar, sementara dia saat itu bisa bersenang-senang di taman bermain, selicik apakah menurutmu anak itu?! Jelas, rencana itu dibuat begitu rapi olehnya. Bahkan setelah itu, saudaranya hampir dibunuh olehnya sebelum akhirnya saudaranya sendirilah yang telah mengetahui kelicikannya. Dia berusaha mendapatkan semua harta warisan orang tuanya. Tapi, semua rencananya gagal karena saudaranya telah mengetahui kalau dialah yang telah merencanakan pembunuhan kedua orang tuanya. Dia pun lari dan memasang kepolosannya untuk mendapatkan tempat tinggal baru. Dan sekali lagi karena kelicikannya, dia berhasil menipu seorang wanita tua. Bahkan hingga saat ini, wanita itu tidak menyadari kalau selama ini dia telah ditipu olehnya! Anak itu, tidak lain adalah Jordan!”

Lytro dan Earon begitu marah dengan ucapan Fordien tersebut. Mereka mengepalkan tangan mereka kuat-kuat, serasa ingin menghajar Fordien hingga tak bisa berbicara lagi. Sementara Wergon dan Filhener hanya bisa diam kebingungan memikirkan bagaimana Fordien bisa berbicara seperti itu terhadap Jordan.

“Aku yakin dia pun sedang merencanakan akal bulusnya dengan membantu kalian melancarkan penangkapanku. Kini semua kejahatannya telah kuungkapkan. Lalu, kenapa kalian masih belum menangkap orang buruk itu?!”

“Tutup mulutmu! Jika masih berani bicara lagi, tak segan-segan kupotong lidahmu itu!” bentak Earon seraya mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya kuat-kuat pada Fordien.

Melihat tak satu orang pun yang berpihak pada Fordien, dia pun semakin kesal dan tak menggubris hardikan Earon.

 “Kau pikir kau menang, Jordan? Tidak! Aku memang tidak cukup waktu untuk membalasmu. Tapi, orang lain yang menjadi korban kelicikanmulah yang akan membalasnya. Bahkan, orang terdekatmulah yang akan membalaskan dendamku ini! Hidupmu tidak akan pernah tenang, Jordan! Kau tidak akan pernah merasakan kebahagiaan hidup di dunia sebelum kau merasakan kalau hidupmu hanya tinggal di ujung jarum! Kematianmu yang hanya tinggal sejengkallah yang akan menentukan nasib kebahagiaanmu!” lanjutnya sambil tertawa gila.

Setelah mendengar perkataan mengerikan itu, tatapan semua yang menjadi saksi langsung tertuju ke arah Jordan yang masih berdiri diam. Sementara Earon seakan sudah tak bisa lagi menahan amarahnya. Namun mengingat yang dilakukan Jordan saat di koridor, diapun tak bisa berbuat apa-apa terhadap Fordien.

 “Cepat bawa dia ke mobil tahanan dan sumbat mulutnya! Jika masih tak mau diam, bius saja dia!”

 Dengan segera, dua kawanan polisi khusus membawa Fordien menuju mobil tahanan dan suasana kembali normal setelah dia menjauh dari tempat itu. Earon melihat wajah Jordan yang mencoba untuk tetap tenang, tapi dia tahu bahwa hatinya begitu gelisah dengan perkataan terakhir Fordien.

“Lupakan semua yang dikatakan Fordien, Jordan! Setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya omong kosong. Sebenarnya, semua yang dia tuduhkan padamu adalah tuduhan untuk dirinya sendiri,” hibur Earon.

Jordan langsung mengangkat pandangannya ke arah Earon, setelah mendengar kalimat terakhirnya.

“Aku sangat kenal seperti apa dia,” lanjut Earon seraya tersenyum dan menepuk bahunya.

“Ngomong-ngomong, Lytro. Aku tahu ini hari yang bahagia, tapi aku tak mau kau lupa dengan tugasmu. Kau harus secepatnya menangkap tiga bayangan bulan. Tapi, berhati-hatilah. Jika penangkapan Fordien sesulit ini, bagaimana dengan tiga bayangan bulan? Mereka pasti lebih cerdik dan berbahaya,” lanjut Earon mengalihkan pembicaraan.

Lytro tersenyum sinis.

“Percayalah, mereka lebih mudah untuk diajak berunding,” katanya.

“Jangan remehkan mereka!” ujar Earon, “Aku serius.”

Earonpun meninggalkan mereka, seakan ada urusan lain yang lebih penting untuk dia lakukan.

Tidak lama setelah itu, Jordan mendengar suara yang begitu lembut, yang membuatnya terperanjat ingin segera pergi dari tempat itu.

… bertemu dengan Volan Kayshn?”

“Tentu, dia di sini….”

Dia begitu gugup dengan jantung yang bergetar kuat. Tapi kegugupan itu sirna setelah melihat wajah teman-temannya, memandangnya dengan penuh kegelisahan. Mereka pasti tidak mendengar suara lembut yang ia dengar, kalaupun mereka mendengarnya pasti Wergon sudah merengek untuk segera pergi, pikirnya. Diapun hanya mengambil beberapa napas dalam, menenangkan pikirannya agar tidak tampak ketakutan di raut mukanya, sehingga tidak membuat keempat sahabatnya semakin cemas.

“Entah kenapa aku ingin kabur dari kota ini,” kata Wergon memecah suasana.

“Aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi ini,” lanjut Filhener agak kesal.

Lytro melihat tatapan ringan Jordan ke arahnya. Dia merasa kalau Jordan telah mengetahui sesuatu. Namun, Lytro segera memalingkan pandangannya ke arah lain, seakan semua memang tampak dan akan baik-baik saja.


No comments:

Post a Comment