Sebuah bus kota berwarna kuning berbelang jingga, dengan nomor jalur 3A yang terpampang di ujung atas tengah kaca depan dan tertulis “TRASAPINS” berwarna biru tua di bagian badan bus, berbelok ke kiri melewati sebuah bangunan di kanan jalan, yang berdiri di perempatan Chansury. Gedung tak berpagar, dengan jendela-jendela berbentuk setengah elips, begitu juga dengan pintu besar yang menjadi pintu masuk utamanya, cat dinding yang diberi warna coklat keputihan dan atap dengan warna hijau lumut, serta menara setinggi kira-kira satu lantai yang berbentuk kubah, menjulang dari atap gedung pintu utama. Terdapat juga beberapa mobil polisi yang diparkir di halamannya.
“Jadi, kalian mengira bahwa
Tuan Volan Kayshn adalah tersangka atas percobaan pembunuhan Nyonya Delarmy
Miguveer?” kata seorang polisi yang duduk di bagian pelayanan seraya menghadap
sebuah komputer.
“Itu bukan perkiraan, tapi
memang dia tersangkanya!” sahut Filhener kesal yang berdiri di antara Jordan
dan Wergon, di depan sebuah meja setengah heksagonal yang menjadi batas ruang
pelayanan tersebut, di aula yang terlihat sepi saat itu.
“Maaf. Tapi, kuberitahu
kalian satu hal bahwa sering ada laporan tentang kasus ini itu. Namun ternyata,
semua itu hanyalah kebohongan. Boleh dikatakan hanya iseng mereka untuk
menjurumuskan seseorang yang sebenarnya tidak bersalah. Jujur saja, laporan
kalian ini terdengar sangat menarik. Kami cukup mengenal Tuan Volan, tapi kami
tidak cukup mengenal kalian yang hanya sebagai mata-mata AKLA sementara.”
“Maksudnya, Anda tidak memercayai
kami?” ujar Wergon.
“Pantas saja sepi,” gerutu
Filhener.
“Bukan begitu, hanya
saja....”
“Kami mohon, selidikilah
terlebih dahulu. Nyawa seorang wanita tua sedang dalam bahaya. Siapa pun
tersangkanya, tetap saja ini adalah kasus kejahatan,” sahut Jordan.
Polisi itu berpikir sejenak.
“Baiklah, tunggu sebentar,”
katanya.
Dia kemudian menghubungi
seseorang dengan telepon yang telah disediakan di atas meja, dekat dengan
monitor komputernya. Sementara Filhener dan yang lain tetap berdiri di tempat,
menunggunya hingga polisi itu selesai dengan urusannya. Setelah polisi tersebut
menutup teleponnya,
“Kalian bisa ke pengadilan
besok jam tujuh pagi.”
Ketiganya terheran-heran
mendengarnya.
“Untuk apa?” tanya Wergon
bingung.
“Sepertinya posisiku serba
salah. Tadi kalian kecewa karena aku meragukan kalian, sekarang justru
kalianlah yang meragukan diri kalian sendiri.”
Wergon dan Filhener masih
terdiam, tidak mengerti dengan situasi tersebut, seraya menatap muka polisi
itu. Namun dengan segera, Jordan memecah keadaan yang mulai hening tersebut.
“Baik. Kami akan datang
besok di pengadilan,” ujarnya.
“Bagus. Semoga kalian
beruntung.”
Setelah mereka bertiga
keluar dan menuruni tangga beranak lima dari pintu utama, curahan hatipun
terungkapkan satu sama lain.
“Orang tadi agak aneh. Dan
menyebalkan,” ujar Wergon yang melangkah pelan bersama Filhener dan Jordan,
“Aku tidak menyangka secepat itu kasus ini akan dibawa ke pengadilan.”
“Akhirnya, kita mendapat
kesempatan untuk menunjukkan kalau monster itu bersalah. Secara tidak langsung,
hukuman yang akan dia dapatkan juga untuk kesalahan yang pernah dia lakukan
dulu,” sahut Filhener.
“Sepertinya memang ada
sesuatu yang tidak biasa,” ucap Jordan seraya menghentikan langkahnya di tengah
jalan setapak di halaman gedung kepolisian, yang menghubungkannya dengan tangga
pintu utama.
Wergon dan Filhener juga
ikut berhenti.
“Sesuatu yang sepertinya
sudah mereka rencanakan,” lanjut Jordan.
“Rencana baik atau rencana
buruk?” tanya Filhener.
“Entahlah. Kenapa kau bertanya
seperti itu padaku?”
“Kau yang biasanya tahu
segala hal.”
“Teman-teman, kurasa kalian
harus melihat…, orang-orang ini,” sela Wergon.
Jordan dan Filhener langsung
melihat tatapan mata Wergon yang mengarah pada para polisi yang berlalu-lalang
di sekeliling mereka. Mereka memperhatikan kehadiran ketiganya dengan tatapan
yang tidak biasa. Tatapan yang berisi keterkejutan, kebimbangan, dan
kecurigaan. Tiga serangkai kembali terdiam bingung dengan sikap orang-orang di
wilayah gedung kepolisian.
“Kenapa mereka melihat kita
seperti itu?” tanya Filhener menggeram.
“Mungkin kita cukup terkenal
di sini, Fil,” jawab Wergon.
Jordan terlihat sedang
memikirkan sesuatu.
“Kurasa, kita harus
mempersiapkan sesuatu untuk besok,” katanya.
Wergon dan Filhener hanya
bisa diam dengan saling bertatapan wajah, tidak mengerti lagi apa yang sedang
dipikirkan oleh Jordan kali ini.
“Sebenarnya, kita berdua
yang terlalu bodoh atau memang orang-orang yang sedang melantur?” kata Wergon.
“Jangan bawa-bawa aku dalam
anggota yang kau sebut bodoh itu,” sahut Filhener.
“Hei, Jordan. Kapan busurmu
berubah kelamin?” lanjut Filhener mengalihkan pembicaraan.
Wergon dan Jordan langsung
melihat wajah Filhener, dengan tatapan terheran-heran.
“Apa maksudmu?” tanya
Jordan.
“Uh, tidak. Maksudku, kupikir
kau melepaskan pitanya.”
Jordan langsung mengambil
busur yang disandangnya. Lalu, mengamati balutan pita biru yang ada di
busurnya, telah menghilang. Dia mengusap bekas bagian lilitan itu, walau
sebenarnya tidak ada perbedaan dengan bagian yang lain. Namun, dia pun segera
melupakan masalah kecil itu dengan melangkah pergi dari tempat tersebut,
diikuti oleh Wergon dan Filhener, untuk menghindari situasi yang penuh dengan
ketidaknyamanan.
Pagi hari, pertemuan di
ruang sidang.
Sesuai dengan tahapan dan tata
cara persidangan yang telah diterapkan, peristiwa yang akan menjadi sejarah
baru penegakkan keadilan di Losapins pun dimulai. Proses persidangan berjalan
biasa, seperti halnya pada perkara pidana yang sebelumnya pernah diadili.
Hingga akhirnya sidang pertama selesai, tahap selanjutnya adalah proses
pembuktian dengan menghadirkan Wergon, Jordan, dan Filhener. Mereka bertiga
sekaligus dipanggil sebagai saksi atas tuduhan kejahatan yang dilakukan oleh
Earon. Dengan dikawan oleh dua petugas untuk masing-masing saksi, mereka
diberhentikan menghadap hakim, berdiri di lantai bundar pemeriksaan. Penataan
ruang pengadilan yang melingkar dan bertingkat-tingkat, membuat seluruh peserta
yang hadir di sana, dapat melihat dengan jelas setiap wajah atau sikap orang yang
berdiri di lantai panas tersebut.
Wergon dan Filhener tampak
tegang saat diperhatikan oleh semua peserta yang kebanyakan dihadiri oleh
agen-agen AKLA yang sedikit dikenalnya dan hanya beberapa dari wajah mereka
yang masih tersimpan dalam ingatan yang samar-samar. Sebaliknya, Jordan seperti
biasa terlihat lebih tenang dan fokus. Dia melihat ke arah Earon yang sedang
duduk di kursi terdakwa bersama Lytro yang duduk di samping kirinya. Pada wajah
Lytro terbayang kebimbangan yang tersembunyi dalam batinnya. Tapi tidak pada
wajah kegusaran Earon, yang tersamar oleh keseriusannya. Begitulah penjabaran
yang ada dalam benak Jordan.
Pintu ruang sidang telah
ditutup rapat, yang seketika mengubah suasana menjadi hening. Bahkan dalam
keheningannya itu, dapat terdengar suara pintu ruang sidang yang dikunci dari
luar, yang artinya tidak akan ada seorang pun yang dapat keluar dari ruangan
selama pintu tersebut belum dibuka. Hal itu pula yang membuat suasana semakin
tegang.
“Sebeginikah sidang yang
harus dilakukan atas masalah kita? Aku rasa, ini berlebihan,” bisik Wergon yang
berada di sebelah kiri Filhener.
“Tenangkan dirimu, Wergon!
Mereka bisa melihatmu,” jawab Filhener dengan lirih pula.
Proses sidangpun kembali
dilanjutkan. Tanpa basa basi, hakim langsung memberikan pertanyaan kepada
ketiganya.
“Jadi, apa benar Nyonya
Delarmy telah diserang oleh seseorang?” tanya hakim.
Tiga serangkai serentak
langsung mengangkat mukanya ke arah hakim. Pandangan keheranan mereka terlihat
jelas atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan tersebut. Namun, sepertinya
hakim pun tidak mau tahu terhadap reaksi mereka itu.
“Iya,” jawab Jordan
seketika.
Mendengar jawaban tersebut,
pandangan Wergon dan Filhener langsung beralih pada Jordan yang berdiri di sisi
kanan Wergon.
“Apakah Saudara Saksi
melihat ciri-ciri orang yang telah menyerang Nyonya Delarmy?”
“Tidak sama sekali.”
Filhener dan Wergon masih
mengarahkan muka mereka pada Jordan yang sendirian menjawab pertanyaan dari
hakim.
“Apa Saudara saat itu
bersamanya saat penyerangan itu?”
“Tidak.”
Pada tahap inilah, Wergon
dan Filhener menurunkan pandangannya. Sepertinya mereka berdua mulai mengerti,
bagaimana seharusnya menyikapi keadaan yang sedang mereka hadapi.
“Lalu, bagaimana bisa
menuduh seseorang yang bahkan Saudara sendiri tidak tahu kejadian itu?”
“Kami mendengar itu langsung
dari Bibi Delarmy. Dia mengucapkan nama Earon dan sesuatu yang mempunyai niat
jahat,” sahut Filhener.
“Bisa Saudara persingkat
maksud dari sesuatu yang mempunyai niat jahat?”
“Di, di, dia….”
“Kenapa Saudara gugup mengatakannya?”
“Mata merah!” seru Wergon
sekejap.
“Apa?”
“M, mata merah. Earon. Mata
merah. Begitu yang diucapkan Bibi Delarmy.”
“Mata merah? Hehehe…,” kata
hakim dengan nada menyindir, diikuti tawa ejekan seluruh peserta yang hadir di
persidangan.
Wergon, Filhener, dan Jordan
terdiam dengan perasaan sedikit malu terhadap sikap mereka yang seolah
merendahkan kesaksiannya.
“Apanya yang lucu? Itu
benar,” sahut Wergon kesal.
“Tentu itu benar. Dalam
khayalan kalian. Apa menurutmu ada manusia yang dilahirkan dengan bola mata
berwarna merah? Mungkin juga saat itu, bibi kalian usai menonton film
kesukaannya, hingga akhirnya terbawa dalam igauannya dengan si mata merah. Dan
Earon, bisa saja bibi kalian ingin dipertemukan dengan Tuan Volan. Itu lebih
bisa dilogika, bukan?”
“Kenapa Anda berbicara
seperti itu pada kami?” sahut Filhener yang juga ikut terbawa emosi, “Setelah
kami melaporkan kejadian itu, tak satu pun dari polisi yang membantu kami
menyelidikinya. Kami langsung diminta untuk datang kemari dan kesaksian kami di
sini, dihina seperti ini. Jika saja Bibi Delarmy bisa hadir di sini, maka tawa
kalian itu akan berubah menjadi tawa ketakutan.”
Sekalipun Filhener berbicara
seperti itu, tidak ada satu pun yang memedulikannya. Tawa mereka justru semakin
menjadi-jadi.
“Pertanyaan yang sebenarnya
adalah, ke mana saja kalian saat bibi kalian berjuang sendirian melawan pelaku
itu?” tanya Earon yang masih duduk di kursinya, seraya membaringkan tangannya
dengan saling merangkulkan jari-jarinya di atas meja.
“Tentu saja kami masih di
rumah kontrakan,” jawab Wergon.
“Lalu, siapa yang melihat Bibi
Delarmy tergeletak tak berdaya?”
“Aku dan Filhener. Saat
menjenguk bibi.”
“Ke mana Jordan? Bukankah
aneh jika putra kesayangan beliau tidak ikut menjenguknya?”
“Dia ke rumah Vurpia karena
ada urusan penting,” jawab Filhener.
“Urusan apa yang lebih
penting dari keluarganya sendiri?”
“Tunggu dulu. Kenapa kau
yang mengajukan pertanyaan seperti itu pada kami? Kaulah terdakwanya! Kau ingin
menjerat kami, sehingga tuduhan itu berbalik pada kami?!” sambung Wergon.
“Jawab saja pertanyaanku!”
gertak Earon yang langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya.
“Yang Mulia, kami keberatan
atas pertanyaan yang diajukan oleh terdakwa. Dan tidak seharusnya, terdakwa
bersikap seperti itu pada kami,” kata Filhener.
“Keberatan ditolak,” ujar
hakim.
Wergon, Filhener, dan Jordan
sangat terkejut mendengarnya.
“Pengadilan macam apa ini?!
Ini bukanlah pengadilan. Ini Pemihakan. Kau tidak pantas menjadi hakim di
sini!”
“Jaga bicaramu, Saudara
Filhener! Jika kau berani bicara seperti itu lagi, maka hukumanmu akan semakin
berat,” gertak hakim.
Tiga serangkai terperanjat
mendengarnya.
“Hukuman?” lanjut Filhener
seraya mengerutkan keningnya, “Kejahatan apa yang telah kulakukan?”
“Kejahatanmu adalah kau
selalu ada di pihak seorang penjahat,” sahut Earon yang kemudian berjalan
menuju lantai panas, menghadap tiga serangkai.
“Apa maksudmu?” tanya
Wergon.
“Kenyataannya adalah
kalianlah pejahatnya dan aku di sini sebagai saksi.”
Raut wajah Wergon dan
Filhener terlihat bingung atas ucapan Earon tersebut. Sementara Jordan, raut
mukanya diam memperhatikan adu mulut yang sedang terjadi, seolah-olah dia
menunggu sesuatu yang akan menjadi kunci pemecahan masalah itu.
“Hentikan basa-basi ini! Apa
niatmu sebenarnya? Mencoba memutarbalikkan tuduhan pada kami karena kau telah
mengetahui kebenarannya tentang adikmu Jordan?!” kata Filhener.
Mendengar itu, Earon
langsung mengarahkan mukanya kepada Lytro yang berdiri di dekat kursinya. Lytro
pun segera memalingkan pandangannya ke arah lain, berpura-pura bahwa apa yang
diucapkan Filhener bukanlah bersumber dari informasi yang diberikan darinya.
“Maka, biar kuperjelas
bagaimana si parasit itu melakukan triknya,” lanjut Earon geram seraya menatap
lurus ke arah Jordan yang juga membalas tatapannya, “Saat Lytro mengajak Jordan
untuk bertemu di rumah Vurpia, otak liciknya itu segera berjalan. Dia
merencanakan pembunuhan pada bibinya sendiri, dengan mempengaruhi kedua
sahabatnya untuk diajak bekerja sama. Dia pergi, jauh lebih awal, sebelum
temannya berangkat ke rumah Bibi Delarmy. Hal itu bertujuan agar Jordan lebih
punya banyak waktu untuk bisa membunuh bibinya tanpa ada kecurigaan dari siapa
pun, hingga sampai di rumah Vurpia bisa tepat waktu. Sementara Wergon dan
Filhener, mereka berdua berpura-pura menengok Bibi Delarmy agar seolah-olah
mereka yang menemukannya. Dan untuk menghilangkan kecurigaan itu pula, mereka
langsung membawanya ke rumah sakit dengan menampilkan wajah lagak kecemasan dan
ketakutannya. Lalu, mengarang cerita kalau akulah pelakunya.
Tidak hanya sampai di situ
saja. Jordan tidak cukup hanya ingin memfitnahku, tapi juga ingin membuatku
menangis. Kejadian berlanjut setelah berpamitan pulang dari rumah Vurpia, dia
menolak untuk diajak pulang bersama Lytro dengan mobilnya. Lalu di tengah
jalan, dia baru bilang kalau busurnya masih tertinggal di tempat Vurpia. Yang
sebenarnya, dia memang sengaja melakukan semua itu. Dia menolak ajakan Lytro
agar dia bisa kembali kapan pun ke tempat Vurpia seorang diri. Dan kesempatan
itu, dia lakukan saat berada tepat di jalan di mana Lytro akan kesulitan untuk
mengambil arah memutar. Karena saat itu pula, Lytro pastinya akan keberatan
untuk menemani Jordan kembali ke rumah Vurpia. Sempurna. Dan kesempatan itu
sangat berpeluang besar baginya untuk membunuh Vurpia.”
“Apa maksudmu bahwa Jordan berencana ingin
membunuh Vurpia? Semua yang kau ucapkan itu jelas fitnah!” kata Filhener.
“Jika saja Vurpia masih
hidup, maka yang kau sebut fitnah itu akan berubah menjadi kebenaran!”
Jordan, Wergon, dan Filhener
begitu terkejut mendengar penjelasan Earon tersebut.
“Itu tidak mungkin. Vurpia
telah meninggal?” ujar Wergon dalam dukanya, “Tapi, dia wanita yang kuat. Lagi
pula, ada banyak tetangga yang berada dekat dengan rumahnya. Jika terjadi
demikian, pasti, pasti ada yang tahu, lalu mencegahnya, dan menangkap
pelakunya. Tapi, bukan Jordan pelakunya.”
“Siapa yang akan menyibukkan dirinya di luar saat hujan
deras? Semua pasti ada di dalam rumah. Dan karena hujan pula, mungkin teriakan
minta tolong Vurpia tidak ada yang mendengar,” jelas Earon dengan wajah
sedihnya.
Lalu tiba-tiba, kedua tangan
Earon mengepal kencang dengan raut muka yang penuh kemurkaan seraya berkata,
“Aku bersumpah akan menyeret orang yang telah memperlakukan Vurpia sekeji itu
ke dalam hukumannya. Dan dia sudah jelas akan diberikan hukuman mati. Tapi
sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memaafkannya! Agar dia juga mendapatkan
hukuman yang lebih berat di lain dunia.”
“Kau tidak bisa menuduh
Jordan sebagai pembunuhnya! Lagi pula, kau yang sebenarnya telah menyakiti Bibi
Delarmy! Jangan-jangan kau sendiri yang memang sengaja merencanakan semua itu.
Kau mengorbankan Vurpia agar kau bisa mewujudkan ambisimu untuk menyiksa
Jordan, dengan melemparkan tuduhan itu padanya!” balas Filhener.
“Kalian memang sangat
kompak, jika harus membela Jordan. Kenyataannya adalah Jordanlah yang
melemparkan kesalahannya padaku! Untuk apa aku harus melukai Bibi Delarmy?”
“Untuk membuat hidup Jordan
semakin menderita, tentunya.”
Suasana terasa hening
sejenak. Tampak dari napas peserta adu mulut yang terengah-engah. Mereka
menghentikan perdebatan itu sejenak untuk memulihkan kembali tenaga yang telah
lenyap karena pekikan-pekikan itu. Sementara peserta lain yang hadir, hanya
bisa diam menikmatinya dengan penuh ketegangan.
“Jangan khawatir, aku punya
bukti yang lebih kuat dibanding kalian yang hanya membawa bukti imajinasi,”
ujar Earon dengan napas yang mulai stabil.
Earon mengulurkan salah satu
tangannya ke arah Lytro. Kemudian, Lytro langsung menghampirinya dengan membawa
sesuatu yang dibungkus kain hitam. Begitu bungkusan itu berada di tangan Earon,
dia langsung merogohnya.
“Apa kau kehilangan sesuatu
yang berharga, Jordan?” tanya Earon seraya mengeluarkan mainan pita biru
berlonceng milik Jordan, yang dibungkus plastik bening.
“Vurpia yang langsung merampas benda kecil ini
dari pelakunya. Tertulis jelas di sini pemiliknya, Aamadav. Begitulah nama
panggilan dari Ibu untukmu,” lanjutnya sambil melihat muka Jordan.
Tidak ada kesan yang timbul
dalam tatapan Jordan saat melihat pita miliknya itu. Bisa jadi pita itu
terlepas dari busurnya, lalu terjatuh, hingga Vurpia yang menemukannya,
pikirnya.
Earon kembali memasukkan
pita itu ke dalam bungkusan hitam, lalu merogohnya lagi untuk mengambil sesuatu
yang lain.
“Bagaimana dengan benda
ini?” ujar Earon sambil menunjukkan sebuah pisau yang juga dibungkus plastik
bening.
Begitu Jordan mengamati
pisau itu, matanya langsung terperanjat. Jordan benar-benar tidak menyangka
bahwa pisau sama yang dia gunakan untuk mengupas buah jamuan saat terakhir kali
bertamu di rumah Vurpia, bisa menjadi salah satu barang bukti pembunuhan itu.
“Kedua benda ini menyimpan
sidik jarimu, Jordan,” lanjut Earon sambil memasukkan kembali pisau itu ke
dalam bungkusan hitam.
Wergon yang melihat barang
bukti tersebut, tidak mampu berkata apapun lagi. Terlebih Filhener, terlihat
sekali kebimbangan dan ketakutan dalam raut mukanya.
“Jordan, apa semua itu
benar?” tanya Filhener.
Seketika Wergon langsung
menyahutnya untuk menghilangkan keraguan Filhener tersebut dengan berkata,
“Filhener! Apa yang kau katakan? Sadarkan dirimu! Tentu saja itu tidak benar.”
Begitu mendengar gertakan
Wergon, Filhenerpun menghela napas kesadarannya. Sementara Earon yang terus
melihat kebisuan Jordan, merangkaikan sebuah pertanyaan baginya.
“Kenapa kau hanya diam,
Jordan? Apa kau takut kalau salah bicara?”
Jordan memperlihatkan
tatapannya pada Earon sejenak, menanggapinya dengan senyuman sinis, lalu
mengalihkan pandangannya pada hakim.
“Yang Mulia! Anda bukanlah
seorang hakim dan tidak pantas pula untuk menjadi hakim! Sebenarnya, tidak ada
satu pun dari yang hadir di sini, yang bukan anggota AKLA.”
Semua begitu tercengang
mendengar ucapan Jordan tersebut, termasuk Wergon dan Filhener.
“Memang benar. Tapi, kau dan
dua temanmu bukan lagi bagian dari AKLA. Untuk itulah, apapun gugatanmu di
sini, tidak akan ada yang menerimanya. Karena tujuan kami hanya untuk
menangkapmu,” sahut Earon.
“Jika tujuanmu hanya untuk
menangkapku, lalu kenapa kau harus mengungkapkan dugaan kronologi itu di sini?
Kenapa kau memperlihatkan bukti-bukti itu di sini? Kenapa kau tidak langsung
menangkapku tanpa harus bersandiwara seperti ini? Apa yang ingin kau tunjukkan
pada teman-temanmu? Membuktikan bahwa kau adalah seorang kakak yang baik,
sementara aku adik yang penuh hina? Dengan begitu, kau akan leluasa menuduh
apapun tentang diriku.”
“Tapi karena sandiwara
inilah, aku sangat berterimakasih padamu. Dari semua bukti yang kau ungkapkan,
akhirnya aku tahu bahwa kaulah yang telah menyakiti Bibi Delarmy dan membunuh
Vurpia,” lanjut Jordan seraya menunjuk ke arah Earon, “Aku yakin kau juga
penyebab dari semua masalah besar yang pernah terjadi, termasuk meninggalnya
ayah dan ibu.”
Earon merasakan getaran yang
tidak biasa dengan tudingan jari telunjuk Jordan tersebut. Getaran yang seolah-olah
menjadikannya rasa takut dalam hatinya. Hingga menimbulkan keraguan dalam
dirinya sendiri. Namun, dia segera menghilangkan perasaan itu sebelum timbul
pikiran-pikiran yang akan melemahkan dirinya.
“Cepat, tangkap tiga buronan
ini!” seru Earon yang sekaligus membuat semua anggota AKLA langsung bangkit
berdiri seraya menodongkan senjata. Sementara beberapa, berlari memasuki lantai
panas, mengitari tiga serangkai.
Jordan, Wergon, dan Filhener
mencoba untuk tetap tenang dan konsentrasi, walaupun awalnya mereka sempat
panik karena sambutan mengejutkan itu.
“Jadi kau menginginkan
perang saudara?” sahut Jordan seraya menatap tajam Earon, “Kau tidak tahu siapa
yang kau tantang.”
Earon tersenyum sinis
mendengarnya.
“Rupanya kau sudah berani
denganku. Aku tidak peduli dengan seorang penjahat. Oh, aku baru ingat kalau
kalian dilarang membawa senjata apapun ke ruangan ini. Apa yang bisa kau
lakukan tanpa senjata? Semua sudah selesai, Jordan,” ujar Earon.
“Tunggu!” sela Lytro
sekejap, “Jordan, serahkan dirimu! Itu akan meringankan hukumanmu.”
“Tidak,” jawab Jordan dengan
tegas, “Aku tidak akan menyerahkan diriku sampai aku membongkar semua kejahatan
yang telah dia lakukan. Dan aku pun akan mengambil kembali milikku.”
Saat mengucapkan kalimat
terakhir itu, bidikan mata Jordan memandang lurus ke arah bungkusan hitam yang
masih dipegang Earon. Mengetahui itu, Earon pun semakin mempererat genggamannya
itu.
“Kau ingin mengambil barang
bukti ini? Kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya kembali.”
Tiba-tiba, Jordan menunjukkan
senyuman manis tipis pada Earon, seraya menggelengkan kepalanya dengan
samar-samar. Earon tidak mengerti, perubahan kejiwaan apa yang sedang terjadi
pada Jordan. Namun, dia benar-benar tidak lagi peduli apapun sikap Jordan
terhadapnya. Bisa jadi, itu adalah salah satu dari tipuannya, pikirnya.
Beberapa detik kemudian,
seekor burung merpati jantan berwarna hitam pekat, mendarat di antara Earon,
tiga serangkai, dan juga Lytro. Burung itu hanya berputar-putar dengan
mengeluarkan suara khasnya, seperti halnya saat menggoda seekor betina,
sehingga membuat semua penonton langsung mengarahkan perhatiannya pada tingkah
si unggas setia itu. Melihat hal itu, Earon segera tersadar kalau itu pasti
siasat dari Jordan.
“Jangan alihkan perhatian
kalian! Cepat borgol tangan tiga orang ini dan seret mereka ke penjara!” seru
Earon yang sekaligus membuat semua pemegang senjata tersentak, lalu mengarahkan
pandangannya kembali pada tiga serangkai.
Namun, belum sempat seorang
melangkahkan kakinya untuk membelenggu tangan tiga serangkai, sekejap langsung
berdatangan merpati-merpati yang masuk melalui ventilasi ruang sidang. Begitu
banyak merpati hingga membuat semua anggota tim AKLA lepas perhatian, terlebih
merpati-merpati itu melakukan pemberontakan dengan mencakar wajah dan tangan
pasukan AKLA hingga membuat beberapa dari mereka terjatuh pingsan. Suasana
menjadi porak-poranda, tak terkendali. Tapi, Earon yang sepertinya telah
mengetahui kalau itu merupakan bagian dari rencana Jordan, tidak tinggal diam.
Setiap burung yang mendekatinya langsung ia tebas dengan tangannya yang gagah,
menghampiri dua temannya yang telah tertidur berjejeran, untuk mengambil
sesuatu yang menggantung pada sabuk mereka.
Setelah beberapa saat dirasa
cakaran maut merpati-merpati itu tidak lagi mempan melumpuhkan pasukan AKLA,
tiga serangkai langsung menunjukkan aksinya. Wergon dan Filhener memutar
lingkaran jam tangannya, lalu mengarahkannya pada setiap orang yang masih mampu
berdiri. Sebuah jarum kecilpun keluar dari jam tangan tersebut, saat mereka menekan
tonjolan pengatur jarumnya. Cara kerja jarum itu sama dengan obat bius yang ada
pada anak panah Jordan, langsung menidurkan setiap orang yang dikenainya dalam
hitungan singkat. Saat sedang asyiknya memainkan salah satu penemuan baru
Wergon tersebut, tiba-tiba dari arah belakang, Earon langsung meraih tangan
Wergon dan Filhener dengan cepat, lalu membelenggu kedua tangan mereka dengan
borgol yang dia ambil sebelumnya dari rekannya yang terkapar. Namun, Jordan
yang telah menangkap antaran pedang dari empat merpati yang telah membawakannya
dengan cara mencengkeram tali-tali yang mengikat pedang itu, langsung
melepaskan sabuk pedangnya, menebas rantai borgolnya, lalu mengayunkannya ke
arah Earon. Beruntung Earon mampu menghindarinya. Dengan gerakan Jordan yang
setangkas itu, terlebih dengan pedang di tangannya, pasti akan sangat sulit
dikalahkan. Tapi seperti biasa, pikiran Earon yang selalu ingin menjadi
pemenang dalam perang kecil itu, tentu tidak membuat hatinya ragu dan gentar.
Dia mengeluarkan sebuah pistol dari balik baju rompinya dan langsung
mengarahkannya pada Jordan yang seketika terdiam. Sementara Wergon dan
Filhener, terus melanjutkan misinya untuk melumpuhkan semua bawahan Earon di
ruangan tersebut.
“Tidak akan kubiarkan kau
lari lagi, Jordan. Tidak kali ini,” ucap Earon seraya menodongkan senjatanya
yang siap dilepaskan pelurunya, jika sewaktu-waktu melihat gerakan mengejutkan
dari Jordan.
Dengan wajah yang diam
tenang, Jordan meninggikan genggaman pedangnya di depan dada, dengan ujung
pisau yang mengarah ke serong bawah. Seluruh tubuh dan tatapan matanya dalam
keadaan siaga, kalau-kalau Earon memberikan serangan tiba-tiba padanya. Melihat
sikap Jordan yang demikian, tentu menimbulkan anggapan dalam benak Earon bahwa
mantan adiknya itu telah menantangnya untuk melanjutkan pertarungannya.
“Kau sama sekali tidak
memberiku pilihan lain, Jordan.”
Suara letupan dari pistol
Earon terdengar, melepaskan sebuah peluru yang mengarah pada kepalan tangan
Jordan yang memegang pedang. Earon sangat yakin, Jordan tidak memiliki
kemampuan untuk menghindari tembakan yang dadakan dan cepat itu. Dan dugaannya
memang benar. Jordan tidak berhasil menghindarinya, tapi otaknya berhasil
mengendalikan tangannya hingga peluru itupun terhalang oleh ketangguhan pisau
pedangnya.
Earon terkagum-kagum
melihatnya, yang juga membuatnya semakin meluapkan energi kemarahannya. Melihat
Jordan melangkah cepat ke arahnya, tanpa pikir panjang, Earon pun menyerangnya
dengan tembakan jarak dekat. Namun, lagi-lagi Jordan mampu menahannya dengan
pedangnya yang kemudian langsung dikebaskan ke arahnya. Earon dapat melihat
dengan jelas ketajaman pedang Jordan yang semakin mendekatinya dari arah atas,
yang membuat jantungnya berdetak kencang dan napasnya berhenti sesaat. Tetapi,
Earon tentu bukan seorang agen yang mudah menyerah. Dengan cepat, diapun
mengelak arah pedang itu dan segera mencengkeram tangan Jordan yang memegang
pedang. Dia berusaha melepaskan pedang itu dari tangan Jordan, supaya dapat
mengurangi gerakan mematikannya. Namun, tujuan itu terlalu mudah dimengerti
oleh Jordan yang kemudian langsung mencegahnya dengan mengambil alih pedang ke
tangan yang satunya.
Perkelahian sengitpun
dimulai. Mereka berdua saling menghantam, menendang, menahan, mencengkeram,
menarik, menyikut, maupun menjegal dalam pertarungan jarak dekat itu. Sesekali
mereka juga terpental karena tidak mampu menahan serangan lawan. Tetapi, tidak
satu pun dari mereka yang menginginkan gelar pecundang, hingga seluruh tubuh
terasa sakit pun mereka masih bisa bangkit untuk saling melawan, dengan senjata
masing-masing yang masih bertahan di genggaman tangan mereka.
Sementara para pemegang
busur sibuk dengan kepentingannya, Filhener dan Wergon tinggal menargetkan tiga
agen lagi. Wergon mendekati salah satunya untuk dilumpuhkan. Namun,
keberuntungan saat itu sepertinya kurang menyertainya. Dengan posisi yang sudah
sangat dekat di hadapan agen incarannya yang telah menodong pistol ke arahnya,
Wergon tampak kebingungan sambil terus memencet-mencet tonjolan pengatur jamnya
yang tidak lekas keluar jarum biusnya. Jari telunjuk agen tersebut sudah
bergerak separuh jalan, menekan pelatuk pistolnya, yang membuat jantung Wergon
semakin berdetak kencang. Namun, sebagian hatinya pun telah pasrah jika peluru
itu memang akan menembus tubuhnya. Dan jelas, itu tidak mungkin bisa
terhindarkan lagi, pikirnya.
Kemudian, terlihat kilatan
kecil yang bergerak cepat dan lenyap saat mengenai bagian leher agen itu yang
langsung menjatuhkannya. Wergon hanya bisa diam terheran-heran melihat kejadian
itu yang menurutnya adalah suatu mukjizat.
“Apa yang kau lakukan?!”
seru Filhener.
Wergon menoleh ke arahnya
dan melihat dua agen telah terkapar di dekat Filhener berdiri. Seketika itu
pula, dia beranggapan bahwa mukjizat itu pasti datang karena Filhener.
“Terimakasih, Fil. Aku
berhutang nyawa padamu.”
“Nyawamu saja cuman satu,
bagaimana kau bisa melunasinya?” sahut Filhener, “Ayo, kita cepat bantu
Jordan!”
“Bagaimana bisa? Jarum
biusku habis! Aku saja hampir mati karena satu orang ini, apalagi melawan
monster.”
Mendengar keluhan Wergon
tersebut, membuat Filhener merasa jengkel.
“Bisakah kau mencobanya
sebelum mengeluh, Anak cengeng?! Sudah menjadi kebiasaan, kau membuang-buang
pelurumu!”
“Aku tidak membuangnya!
Tembakanku meleset!” ujar Wergon, lalu tiba-tiba dia berteriak, “Filhener, awas
di belakangmu!”
Sekejap Filhener langsung
menoleh ke tempat yang ditunjuk Wergon. Namun, belum sempat dia membalikkan
mukanya, sesuatu meninju bahu kanannya dari belakang dengan sangat keras,
hingga dia pun langsung menjauh, mendekati Wergon, seraya memegang tangannya
yang terasa sakit. Filhener begitu terkejut ketika mengetahui bahwa masih ada
seorang anggota AKLA yang belum dituntaskan.
“Lytro,” kata Filhener, “Aw!
Tanganku mati rasa.”
“Apa maksudmu? Cepat
tembakkan biusnya!” ujar Wergon.
“Aku tidak bisa menggerakkan
tanganku! Rasanya seperti lumpuh.”
Tanpa basa-basi, Lytro
langsung melangkah cepat, mendekati mereka berdua yang seketika langsung
menghindarinya dengan mengambil arah terpisah. Namun, Lytro sepertinya lebih
mengincar Filhener yang telah terkena jurusnya. Filhener terus mencoba menahan
atau pun menghindari pukulan-pukulan mematikan Lytro tersebut. Sementara Wergon
hanya bisa bingung melihatnya, tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk
membantu teman-temannya, tanpa tongkat kesayangannya.
“Kenapa tongkatku tidak
diantarkan sekalian?!” gerutunya dalam hati.
Jordan masih bertarung
dengan Earon untuk merampas kantong hitam yang disembunyikan di balik baju
rompi Earon. Namun, keinginan tersebut tampaknya sangat sulit diwujudkan,
karena Earon terus menghalanginya. Sampai pada babak terakhir pertarungan
sengit itu, akhirnya Earon berhasil memuntir tangan Jordan yang memegang pedang
ke belakang, lalu menjatuhkan pedang itu, seraya menempelkan ujung pistolnya di
punggung Jordan yang mengarah ke jantung.
“Cukup, Jordan! Aku bisa
saja membawamu ke penjara, bahkan tanpa nyawamu!” kata Earon sambil memperkuat
cengkeramannya.
Tampak dari napas keduanya
yang masih mengembus keras-keras. Sepertinya, mereka cukup kelelahan dengan
pergulatan itu. Dan entah memang tidak mendengarkan ucapan Earon atau untuk
memulihkan tenaganya, Jordan terlihat diam tenang dengan pandangannya yang
mengarah ke bawah. Bahkan, tidak muncul perlawanan sedikit pun darinya.
Lalu tiba-tiba, jantung
Earon berdebar keras yang seketika membuat matanya terbelalak, merasakan
napasnya yang begitu sesak. Dia melihat goresan merah tipis yang terlukis pada
lengannya yang membawa pistol. Belum sempat Earon berpikir lebih jauh tentang
goresan itu, dia sudah tak lagi mampu menopang tubuhnya, lalu tergeletak tak
berdaya di belakang Jordan. Jordan membalikkan pandangannya pada Earon. Dia
kemudian menunjukkan lapisan kuku yang dipasang pada jari tengah tangan
kirinya. Tampak sekali dari ujung kuku jari tengahnya yang lebih panjang dari
kuku jari lainnya.
Akhirnya pertarungan
dimenangkan oleh Jordan yang berhasil merebut kantong hitam itu. Namun, dia
hanya mengambil pita biru berlonceng miliknya dan menggeletakkan kantong hitam
beserta isi lain di dalamnya di dekat Earon.
Sementara pertarungan antara
Filhener, Lytro, dan Wergon.
Lytro berhasil melumpuhkan
salah satu kaki Filhener dengan jurus patukannya. Terlintas dalam benak
Filhener yang tidak mungkin sanggup lagi melawan Lytro, dengan mengandalkan
satu tangan dan satu kaki. Dia hanya bisa berlutut di depan Lytro, dengan
saling bertatapan muka.
“Aku tidak percaya kau
mengkhianati kami,” ucap Filhener dalam napasnya yang masih terengah-engah.
“Aku hanya akan berkhianat
jika tujuanku untuk kebaikan.”
“Tapi kami tidak melakukan
apapun.”
“Kalau begitu, kalian tidak
perlu takut untuk menghadap keadilan, ‘kan? Cukup menyerahkan diri dan biarkan
keadilan yang memutuskan.”
Tiba-tiba, Lytro merasakan
sesuatu yang tidak biasa. Pandangannya kabur dan terasa lemas di sekujur
tubuhnya. Perasaan serupa, seperti yang dialami rekan-rekan lainnya yang telah
terhantar di setiap sudut ruangan sidang. Dia mengedip-kedipkan matanya,
barangkali dapat memulihkan penglihatannya yang terasa berat. Seraya
terjatuhnya Lytro yang telah memejamkan kedua mata, Wergon terlihat telah
berdiri di belakangnya.
“Rasakan itu! Tampaknya kau
sudah lupa kalau jagoan utamanya masih berdiri di sini!”
Filhener terkejut
melihatnya, tapi juga merasa tenang.
“Bagaimana kau
melakukannya?” tanya Filhener penasaran.
“Sudah kubilang, jarum
biusku banyak yang meleset.”
“Terbuang,” ketus Filhener.
“Jadi, kuambil lagi dan
kuberi dia tiga jarum.”
“Mengesankan. Bisakah kau
membantuku?”
Belum sempat Wergon
menyentuh tubuh Filhener untuk membantunya, datanglah Jordan yang menghampiri
keduanya.
“Kita harus cepat! Atau yang
lain keburu datang,” ujar Jordan.
Lalu, pandangan Jordan
teralih pada kondisi Filhener.
“Ada apa denganmu?” tanya
Jordan pada Filhener.
“Satu tangan dan kakiku
tidak bisa kugerakkan. Aku tidak tahu kalau Lytro bisa mengeluarkan jurus
stroke.”
Jordan berpikir sejenak.
“Wergon, bawa Filhener! Kau
ikut aku di belakang. Biar aku yang mengatasi mereka.”
Rencana itupun disetujui
ketiganya. Wergon segera menggendong Filhener, sementara Jordan telah berdiri
di dekat pintu. Setelah semuanya siap, Jordan langsung menancapkan pedangnya
dengan sangat keras ke sela-sela pintu yang merupakan garis terbukanya dua daun
pintu tersebut. Dia merasakan pedangnya yang menembus pintu itu, lalu
menariknya kuat-kuat ke bawah layaknya merobek kertas dengan jarum. Tangannya
terangsang getaran pedangnya yang telah menebas gembok, kemudian langsung
menendang pintu itu hingga terbuka lebar-lebar. Empat penjaga yang berdiri di
depan pintu kewalahan menghadapi situasi yang sangat cepat itu. Bahkan belum sempat
pistol mereka diarahkan, Jordan telah menembakkan jarum bius dari jam
tangannya, yang seketika membuat keempatnya roboh. Jordan terus berada di garis
depan, menghadapi sisa-sisa sekutu AKLA, dan untuk melindungi Wergon serta
Filhener.
Sesampainya di luar gedung
pengadilan, sebuah mobil yang melaju cepat, berhenti mendadak di depan gerbang.
Avasone telah menjemput mereka, yang sepertinya memang telah dipesan oleh
tuannya, sebelumnya. Ketiganya bergegas masuk ke mobil yang dikemudikan Jordan
dan langsung menancap gas.
“Bagaimana denganku? Siapa
yang akan menyembuhkan penyakit stroke-ku?” ucap Filhener panik, yang duduk di
jok belakang bersama Wergon.
“Jangan khawatir. Kau akan
kembali beberapa jam lagi,” jawab Jordan dengan pandangan ke depan, yang memperhatikan
jalan.
“Lalu setelah ini, kita akan
ke mana?” tanya Wergon cemas.
“Kita harus menjemput Bibi
Delarmy segera!” sahut Filhener, “Mereka bisa menyakitinya kapan saja.”
Jordan sebenarnya juga
merasa takut dan bingung dengan situasi yang sedang dialaminya. Namun, dia
berusaha menutupi itu dari kedua temannya yang melebihi kegelisahannya.
Dia menghela napas, lalu
berkata dengan nada tenang, “Kita tidak akan menemui bibi.”
Wergon dan Filhener terkejut
mendengarnya.
“Apa maksudmu?” tanya
Wergon.
“Bibi akan baik-baik saja di
sana, selama kita tidak menemuinya. Kita akan ke kampus untuk mengambil tongkat
dan bonekamu. Juga perlengkapan kita yang lain. Setelah itu….”
Filhener dan Wergon
penasaran dengan kalimat Jordan yang terhenti itu.
“Setelah itu, apa kita akan
meninggalkan Losapins?” tanya Filhener.
“Kita akan membuat kerusakan
di Losapins. Dan, membunuh Volan,” jawab Jordan menggeram.
Wergon dan Filhener langsung
membelalakkan matanya dengan mulut menganga. Pandangan gelisahnya menunjukkan
bahwa mereka sangat sulit menerima pemikiran Jordan kali ini. Filhener segera
angkat bicara akan rencana mengerikan itu. Namun, Wergon lekas memegang pundak
Filhener yang belum sempat terdengar suaranya. Filhener menatap muka Wergon
yang menunjukkan keyakinannya pada Jordan, walaupun masih terlihat raut
keraguannya. Mereka berduapun membisu, tidak berkomentar apapun tentang rencana
Jordan tersebut. Jordan melihat reaksi kedua temannya dari kaca spion tengah.
Namun, dia tidak menanggapi keadaan itu, sekalipun dia tahu bahwa timbul
keraguan besar dalam benak kedua temannya.
Sejak saat itu, suasana
terasa berubah. Detik demi detik di hari yang mendung, mereka lewati dengan
penuh kerisauan. Ketentraman hati pun sepertinya sangat sulit untuk mereka
dapatkan. Dalam perjalanan itu pula, kegelisahan mereka semakin menjadi, ketika
melewati Jalan Chivori. Mereka melihat air sungai Chivori yang mengalir bersama
cairan berlemak abu-abu pekat. Sepanjang mereka melewati sungai itu, tidak
sedikit pun ada celah air yang masih jernih. Rerumputan sekitar sungai, yang
tersentuh oleh cairan tersebut juga telah berubah menjadi suram.
“Apa yang terjadi dengan
sungainya?” tanya Filhener.
Wergon dan Jordan hanya
terdiam. Namun, tampak dari wajah Jordan yang menunjukkan keberangannya, seraya
mempererat cengkeraman kedua tangan yang memegang kemudi, yang kemudian
langsung memfokuskan kembali pandangannya ke jalan, dengan memperkencang laju
mobilnya.
No comments:
Post a Comment