CHAPTER 13: YANG DIADILI DALAM PERSIDANGAN

 

Sebuah bus kota berwarna kuning berbelang jingga, dengan nomor jalur 3A yang terpampang di ujung atas tengah kaca depan dan tertulis “TRASAPINS” berwarna biru tua di bagian badan bus, berbelok ke kiri melewati sebuah bangunan di kanan jalan, yang berdiri di perempatan Chansury. Gedung tak berpagar, dengan jendela-jendela berbentuk setengah elips, begitu juga dengan pintu besar yang menjadi pintu masuk utamanya, cat dinding yang diberi warna coklat keputihan dan atap dengan warna hijau lumut, serta menara setinggi kira-kira satu lantai yang berbentuk kubah, menjulang dari atap gedung pintu utama. Terdapat juga beberapa mobil polisi yang diparkir di halamannya.

“Jadi, kalian mengira bahwa Tuan Volan Kayshn adalah tersangka atas percobaan pembunuhan Nyonya Delarmy Miguveer?” kata seorang polisi yang duduk di bagian pelayanan seraya menghadap sebuah komputer.

“Itu bukan perkiraan, tapi memang dia tersangkanya!” sahut Filhener kesal yang berdiri di antara Jordan dan Wergon, di depan sebuah meja setengah heksagonal yang menjadi batas ruang pelayanan tersebut, di aula yang terlihat sepi saat itu.

“Maaf. Tapi, kuberitahu kalian satu hal bahwa sering ada laporan tentang kasus ini itu. Namun ternyata, semua itu hanyalah kebohongan. Boleh dikatakan hanya iseng mereka untuk menjurumuskan seseorang yang sebenarnya tidak bersalah. Jujur saja, laporan kalian ini terdengar sangat menarik. Kami cukup mengenal Tuan Volan, tapi kami tidak cukup mengenal kalian yang hanya sebagai mata-mata AKLA sementara.”

“Maksudnya, Anda tidak memercayai kami?” ujar Wergon.

“Pantas saja sepi,” gerutu Filhener.

“Bukan begitu, hanya saja....”

“Kami mohon, selidikilah terlebih dahulu. Nyawa seorang wanita tua sedang dalam bahaya. Siapa pun tersangkanya, tetap saja ini adalah kasus kejahatan,” sahut Jordan.

Polisi itu berpikir sejenak.

“Baiklah, tunggu sebentar,” katanya.

Dia kemudian menghubungi seseorang dengan telepon yang telah disediakan di atas meja, dekat dengan monitor komputernya. Sementara Filhener dan yang lain tetap berdiri di tempat, menunggunya hingga polisi itu selesai dengan urusannya. Setelah polisi tersebut menutup teleponnya,

“Kalian bisa ke pengadilan besok jam tujuh pagi.”

Ketiganya terheran-heran mendengarnya.

“Untuk apa?” tanya Wergon bingung.

“Sepertinya posisiku serba salah. Tadi kalian kecewa karena aku meragukan kalian, sekarang justru kalianlah yang meragukan diri kalian sendiri.”

Wergon dan Filhener masih terdiam, tidak mengerti dengan situasi tersebut, seraya menatap muka polisi itu. Namun dengan segera, Jordan memecah keadaan yang mulai hening tersebut.

“Baik. Kami akan datang besok di pengadilan,” ujarnya.

“Bagus. Semoga kalian beruntung.”

Setelah mereka bertiga keluar dan menuruni tangga beranak lima dari pintu utama, curahan hatipun terungkapkan satu sama lain.

“Orang tadi agak aneh. Dan menyebalkan,” ujar Wergon yang melangkah pelan bersama Filhener dan Jordan, “Aku tidak menyangka secepat itu kasus ini akan dibawa ke pengadilan.”

“Akhirnya, kita mendapat kesempatan untuk menunjukkan kalau monster itu bersalah. Secara tidak langsung, hukuman yang akan dia dapatkan juga untuk kesalahan yang pernah dia lakukan dulu,” sahut Filhener.

“Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak biasa,” ucap Jordan seraya menghentikan langkahnya di tengah jalan setapak di halaman gedung kepolisian, yang menghubungkannya dengan tangga pintu utama.

Wergon dan Filhener juga ikut berhenti.

“Sesuatu yang sepertinya sudah mereka rencanakan,” lanjut Jordan.

“Rencana baik atau rencana buruk?” tanya Filhener.

“Entahlah. Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?”

“Kau yang biasanya tahu segala hal.”

“Teman-teman, kurasa kalian harus melihat…, orang-orang ini,” sela Wergon.

Jordan dan Filhener langsung melihat tatapan mata Wergon yang mengarah pada para polisi yang berlalu-lalang di sekeliling mereka. Mereka memperhatikan kehadiran ketiganya dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapan yang berisi keterkejutan, kebimbangan, dan kecurigaan. Tiga serangkai kembali terdiam bingung dengan sikap orang-orang di wilayah gedung kepolisian.

“Kenapa mereka melihat kita seperti itu?” tanya Filhener menggeram.

“Mungkin kita cukup terkenal di sini, Fil,” jawab Wergon.

Jordan terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Kurasa, kita harus mempersiapkan sesuatu untuk besok,” katanya.

Wergon dan Filhener hanya bisa diam dengan saling bertatapan wajah, tidak mengerti lagi apa yang sedang dipikirkan oleh Jordan kali ini.

“Sebenarnya, kita berdua yang terlalu bodoh atau memang orang-orang yang sedang melantur?” kata Wergon.

“Jangan bawa-bawa aku dalam anggota yang kau sebut bodoh itu,” sahut Filhener.

“Hei, Jordan. Kapan busurmu berubah kelamin?” lanjut Filhener mengalihkan pembicaraan.

Wergon dan Jordan langsung melihat wajah Filhener, dengan tatapan terheran-heran.

“Apa maksudmu?” tanya Jordan.

“Uh, tidak. Maksudku, kupikir kau melepaskan pitanya.”

Jordan langsung mengambil busur yang disandangnya. Lalu, mengamati balutan pita biru yang ada di busurnya, telah menghilang. Dia mengusap bekas bagian lilitan itu, walau sebenarnya tidak ada perbedaan dengan bagian yang lain. Namun, dia pun segera melupakan masalah kecil itu dengan melangkah pergi dari tempat tersebut, diikuti oleh Wergon dan Filhener, untuk menghindari situasi yang penuh dengan ketidaknyamanan.

Pagi hari, pertemuan di ruang sidang.

Sesuai dengan tahapan dan tata cara persidangan yang telah diterapkan, peristiwa yang akan menjadi sejarah baru penegakkan keadilan di Losapins pun dimulai. Proses persidangan berjalan biasa, seperti halnya pada perkara pidana yang sebelumnya pernah diadili. Hingga akhirnya sidang pertama selesai, tahap selanjutnya adalah proses pembuktian dengan menghadirkan Wergon, Jordan, dan Filhener. Mereka bertiga sekaligus dipanggil sebagai saksi atas tuduhan kejahatan yang dilakukan oleh Earon. Dengan dikawan oleh dua petugas untuk masing-masing saksi, mereka diberhentikan menghadap hakim, berdiri di lantai bundar pemeriksaan. Penataan ruang pengadilan yang melingkar dan bertingkat-tingkat, membuat seluruh peserta yang hadir di sana, dapat melihat dengan jelas setiap wajah atau sikap orang yang berdiri di lantai panas tersebut.

Wergon dan Filhener tampak tegang saat diperhatikan oleh semua peserta yang kebanyakan dihadiri oleh agen-agen AKLA yang sedikit dikenalnya dan hanya beberapa dari wajah mereka yang masih tersimpan dalam ingatan yang samar-samar. Sebaliknya, Jordan seperti biasa terlihat lebih tenang dan fokus. Dia melihat ke arah Earon yang sedang duduk di kursi terdakwa bersama Lytro yang duduk di samping kirinya. Pada wajah Lytro terbayang kebimbangan yang tersembunyi dalam batinnya. Tapi tidak pada wajah kegusaran Earon, yang tersamar oleh keseriusannya. Begitulah penjabaran yang ada dalam benak Jordan.

Pintu ruang sidang telah ditutup rapat, yang seketika mengubah suasana menjadi hening. Bahkan dalam keheningannya itu, dapat terdengar suara pintu ruang sidang yang dikunci dari luar, yang artinya tidak akan ada seorang pun yang dapat keluar dari ruangan selama pintu tersebut belum dibuka. Hal itu pula yang membuat suasana semakin tegang.

“Sebeginikah sidang yang harus dilakukan atas masalah kita? Aku rasa, ini berlebihan,” bisik Wergon yang berada di sebelah kiri Filhener.

“Tenangkan dirimu, Wergon! Mereka bisa melihatmu,” jawab Filhener dengan lirih pula.

Proses sidangpun kembali dilanjutkan. Tanpa basa basi, hakim langsung memberikan pertanyaan kepada ketiganya.

“Jadi, apa benar Nyonya Delarmy telah diserang oleh seseorang?” tanya hakim.

Tiga serangkai serentak langsung mengangkat mukanya ke arah hakim. Pandangan keheranan mereka terlihat jelas atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan tersebut. Namun, sepertinya hakim pun tidak mau tahu terhadap reaksi mereka itu.

“Iya,” jawab Jordan seketika.

Mendengar jawaban tersebut, pandangan Wergon dan Filhener langsung beralih pada Jordan yang berdiri di sisi kanan Wergon.

“Apakah Saudara Saksi melihat ciri-ciri orang yang telah menyerang Nyonya Delarmy?”

“Tidak sama sekali.”

Filhener dan Wergon masih mengarahkan muka mereka pada Jordan yang sendirian menjawab pertanyaan dari hakim.

“Apa Saudara saat itu bersamanya saat penyerangan itu?”

“Tidak.”

Pada tahap inilah, Wergon dan Filhener menurunkan pandangannya. Sepertinya mereka berdua mulai mengerti, bagaimana seharusnya menyikapi keadaan yang sedang mereka hadapi.

“Lalu, bagaimana bisa menuduh seseorang yang bahkan Saudara sendiri tidak tahu kejadian itu?”

“Kami mendengar itu langsung dari Bibi Delarmy. Dia mengucapkan nama Earon dan sesuatu yang mempunyai niat jahat,” sahut Filhener.

“Bisa Saudara persingkat maksud dari sesuatu yang mempunyai niat jahat?”

“Di, di, dia….”

“Kenapa Saudara gugup mengatakannya?”

“Mata merah!” seru Wergon sekejap.

“Apa?”

“M, mata merah. Earon. Mata merah. Begitu yang diucapkan Bibi Delarmy.”

“Mata merah? Hehehe…,” kata hakim dengan nada menyindir, diikuti tawa ejekan seluruh peserta yang hadir di persidangan.

Wergon, Filhener, dan Jordan terdiam dengan perasaan sedikit malu terhadap sikap mereka yang seolah merendahkan kesaksiannya.

“Apanya yang lucu? Itu benar,” sahut Wergon kesal.

“Tentu itu benar. Dalam khayalan kalian. Apa menurutmu ada manusia yang dilahirkan dengan bola mata berwarna merah? Mungkin juga saat itu, bibi kalian usai menonton film kesukaannya, hingga akhirnya terbawa dalam igauannya dengan si mata merah. Dan Earon, bisa saja bibi kalian ingin dipertemukan dengan Tuan Volan. Itu lebih bisa dilogika, bukan?”

“Kenapa Anda berbicara seperti itu pada kami?” sahut Filhener yang juga ikut terbawa emosi, “Setelah kami melaporkan kejadian itu, tak satu pun dari polisi yang membantu kami menyelidikinya. Kami langsung diminta untuk datang kemari dan kesaksian kami di sini, dihina seperti ini. Jika saja Bibi Delarmy bisa hadir di sini, maka tawa kalian itu akan berubah menjadi tawa ketakutan.”

Sekalipun Filhener berbicara seperti itu, tidak ada satu pun yang memedulikannya. Tawa mereka justru semakin menjadi-jadi.

“Pertanyaan yang sebenarnya adalah, ke mana saja kalian saat bibi kalian berjuang sendirian melawan pelaku itu?” tanya Earon yang masih duduk di kursinya, seraya membaringkan tangannya dengan saling merangkulkan jari-jarinya di atas meja.

“Tentu saja kami masih di rumah kontrakan,” jawab Wergon.

“Lalu, siapa yang melihat Bibi Delarmy tergeletak tak berdaya?”

“Aku dan Filhener. Saat menjenguk bibi.”

“Ke mana Jordan? Bukankah aneh jika putra kesayangan beliau tidak ikut menjenguknya?”

“Dia ke rumah Vurpia karena ada urusan penting,” jawab Filhener.

“Urusan apa yang lebih penting dari keluarganya sendiri?”

“Tunggu dulu. Kenapa kau yang mengajukan pertanyaan seperti itu pada kami? Kaulah terdakwanya! Kau ingin menjerat kami, sehingga tuduhan itu berbalik pada kami?!” sambung Wergon.

“Jawab saja pertanyaanku!” gertak Earon yang langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya.

“Yang Mulia, kami keberatan atas pertanyaan yang diajukan oleh terdakwa. Dan tidak seharusnya, terdakwa bersikap seperti itu pada kami,” kata Filhener.

“Keberatan ditolak,” ujar hakim.

Wergon, Filhener, dan Jordan sangat terkejut mendengarnya.

“Pengadilan macam apa ini?! Ini bukanlah pengadilan. Ini Pemihakan. Kau tidak pantas menjadi hakim di sini!”

“Jaga bicaramu, Saudara Filhener! Jika kau berani bicara seperti itu lagi, maka hukumanmu akan semakin berat,” gertak hakim.

Tiga serangkai terperanjat mendengarnya.

“Hukuman?” lanjut Filhener seraya mengerutkan keningnya, “Kejahatan apa yang telah kulakukan?”

“Kejahatanmu adalah kau selalu ada di pihak seorang penjahat,” sahut Earon yang kemudian berjalan menuju lantai panas, menghadap tiga serangkai.

“Apa maksudmu?” tanya Wergon.

“Kenyataannya adalah kalianlah pejahatnya dan aku di sini sebagai saksi.”

Raut wajah Wergon dan Filhener terlihat bingung atas ucapan Earon tersebut. Sementara Jordan, raut mukanya diam memperhatikan adu mulut yang sedang terjadi, seolah-olah dia menunggu sesuatu yang akan menjadi kunci pemecahan masalah itu.

“Hentikan basa-basi ini! Apa niatmu sebenarnya? Mencoba memutarbalikkan tuduhan pada kami karena kau telah mengetahui kebenarannya tentang adikmu Jordan?!” kata Filhener.

Mendengar itu, Earon langsung mengarahkan mukanya kepada Lytro yang berdiri di dekat kursinya. Lytro pun segera memalingkan pandangannya ke arah lain, berpura-pura bahwa apa yang diucapkan Filhener bukanlah bersumber dari informasi yang diberikan darinya.

“Maka, biar kuperjelas bagaimana si parasit itu melakukan triknya,” lanjut Earon geram seraya menatap lurus ke arah Jordan yang juga membalas tatapannya, “Saat Lytro mengajak Jordan untuk bertemu di rumah Vurpia, otak liciknya itu segera berjalan. Dia merencanakan pembunuhan pada bibinya sendiri, dengan mempengaruhi kedua sahabatnya untuk diajak bekerja sama. Dia pergi, jauh lebih awal, sebelum temannya berangkat ke rumah Bibi Delarmy. Hal itu bertujuan agar Jordan lebih punya banyak waktu untuk bisa membunuh bibinya tanpa ada kecurigaan dari siapa pun, hingga sampai di rumah Vurpia bisa tepat waktu. Sementara Wergon dan Filhener, mereka berdua berpura-pura menengok Bibi Delarmy agar seolah-olah mereka yang menemukannya. Dan untuk menghilangkan kecurigaan itu pula, mereka langsung membawanya ke rumah sakit dengan menampilkan wajah lagak kecemasan dan ketakutannya. Lalu, mengarang cerita kalau akulah pelakunya.

Tidak hanya sampai di situ saja. Jordan tidak cukup hanya ingin memfitnahku, tapi juga ingin membuatku menangis. Kejadian berlanjut setelah berpamitan pulang dari rumah Vurpia, dia menolak untuk diajak pulang bersama Lytro dengan mobilnya. Lalu di tengah jalan, dia baru bilang kalau busurnya masih tertinggal di tempat Vurpia. Yang sebenarnya, dia memang sengaja melakukan semua itu. Dia menolak ajakan Lytro agar dia bisa kembali kapan pun ke tempat Vurpia seorang diri. Dan kesempatan itu, dia lakukan saat berada tepat di jalan di mana Lytro akan kesulitan untuk mengambil arah memutar. Karena saat itu pula, Lytro pastinya akan keberatan untuk menemani Jordan kembali ke rumah Vurpia. Sempurna. Dan kesempatan itu sangat berpeluang besar baginya untuk membunuh Vurpia.”

 “Apa maksudmu bahwa Jordan berencana ingin membunuh Vurpia? Semua yang kau ucapkan itu jelas fitnah!” kata Filhener.

“Jika saja Vurpia masih hidup, maka yang kau sebut fitnah itu akan berubah menjadi kebenaran!”

Jordan, Wergon, dan Filhener begitu terkejut mendengar penjelasan Earon tersebut.

“Itu tidak mungkin. Vurpia telah meninggal?” ujar Wergon dalam dukanya, “Tapi, dia wanita yang kuat. Lagi pula, ada banyak tetangga yang berada dekat dengan rumahnya. Jika terjadi demikian, pasti, pasti ada yang tahu, lalu mencegahnya, dan menangkap pelakunya. Tapi, bukan Jordan pelakunya.”

“Siapa yang akan menyibukkan dirinya di luar saat hujan deras? Semua pasti ada di dalam rumah. Dan karena hujan pula, mungkin teriakan minta tolong Vurpia tidak ada yang mendengar,” jelas Earon dengan wajah sedihnya.

Lalu tiba-tiba, kedua tangan Earon mengepal kencang dengan raut muka yang penuh kemurkaan seraya berkata, “Aku bersumpah akan menyeret orang yang telah memperlakukan Vurpia sekeji itu ke dalam hukumannya. Dan dia sudah jelas akan diberikan hukuman mati. Tapi sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memaafkannya! Agar dia juga mendapatkan hukuman yang lebih berat di lain dunia.”

“Kau tidak bisa menuduh Jordan sebagai pembunuhnya! Lagi pula, kau yang sebenarnya telah menyakiti Bibi Delarmy! Jangan-jangan kau sendiri yang memang sengaja merencanakan semua itu. Kau mengorbankan Vurpia agar kau bisa mewujudkan ambisimu untuk menyiksa Jordan, dengan melemparkan tuduhan itu padanya!” balas Filhener.

“Kalian memang sangat kompak, jika harus membela Jordan. Kenyataannya adalah Jordanlah yang melemparkan kesalahannya padaku! Untuk apa aku harus melukai Bibi Delarmy?”

“Untuk membuat hidup Jordan semakin menderita, tentunya.”

Suasana terasa hening sejenak. Tampak dari napas peserta adu mulut yang terengah-engah. Mereka menghentikan perdebatan itu sejenak untuk memulihkan kembali tenaga yang telah lenyap karena pekikan-pekikan itu. Sementara peserta lain yang hadir, hanya bisa diam menikmatinya dengan penuh ketegangan.

“Jangan khawatir, aku punya bukti yang lebih kuat dibanding kalian yang hanya membawa bukti imajinasi,” ujar Earon dengan napas yang mulai stabil.

Earon mengulurkan salah satu tangannya ke arah Lytro. Kemudian, Lytro langsung menghampirinya dengan membawa sesuatu yang dibungkus kain hitam. Begitu bungkusan itu berada di tangan Earon, dia langsung merogohnya.

“Apa kau kehilangan sesuatu yang berharga, Jordan?” tanya Earon seraya mengeluarkan mainan pita biru berlonceng milik Jordan, yang dibungkus plastik bening.

 “Vurpia yang langsung merampas benda kecil ini dari pelakunya. Tertulis jelas di sini pemiliknya, Aamadav. Begitulah nama panggilan dari Ibu untukmu,” lanjutnya sambil melihat muka Jordan.

Tidak ada kesan yang timbul dalam tatapan Jordan saat melihat pita miliknya itu. Bisa jadi pita itu terlepas dari busurnya, lalu terjatuh, hingga Vurpia yang menemukannya, pikirnya.

Earon kembali memasukkan pita itu ke dalam bungkusan hitam, lalu merogohnya lagi untuk mengambil sesuatu yang lain.

“Bagaimana dengan benda ini?” ujar Earon sambil menunjukkan sebuah pisau yang juga dibungkus plastik bening.

Begitu Jordan mengamati pisau itu, matanya langsung terperanjat. Jordan benar-benar tidak menyangka bahwa pisau sama yang dia gunakan untuk mengupas buah jamuan saat terakhir kali bertamu di rumah Vurpia, bisa menjadi salah satu barang bukti pembunuhan itu.

“Kedua benda ini menyimpan sidik jarimu, Jordan,” lanjut Earon sambil memasukkan kembali pisau itu ke dalam bungkusan hitam.

Wergon yang melihat barang bukti tersebut, tidak mampu berkata apapun lagi. Terlebih Filhener, terlihat sekali kebimbangan dan ketakutan dalam raut mukanya.

“Jordan, apa semua itu benar?” tanya Filhener.

Seketika Wergon langsung menyahutnya untuk menghilangkan keraguan Filhener tersebut dengan berkata, “Filhener! Apa yang kau katakan? Sadarkan dirimu! Tentu saja itu tidak benar.”

Begitu mendengar gertakan Wergon, Filhenerpun menghela napas kesadarannya. Sementara Earon yang terus melihat kebisuan Jordan, merangkaikan sebuah pertanyaan baginya.

“Kenapa kau hanya diam, Jordan? Apa kau takut kalau salah bicara?”

Jordan memperlihatkan tatapannya pada Earon sejenak, menanggapinya dengan senyuman sinis, lalu mengalihkan pandangannya pada hakim.

“Yang Mulia! Anda bukanlah seorang hakim dan tidak pantas pula untuk menjadi hakim! Sebenarnya, tidak ada satu pun dari yang hadir di sini, yang bukan anggota AKLA.”

Semua begitu tercengang mendengar ucapan Jordan tersebut, termasuk Wergon dan Filhener.

“Memang benar. Tapi, kau dan dua temanmu bukan lagi bagian dari AKLA. Untuk itulah, apapun gugatanmu di sini, tidak akan ada yang menerimanya. Karena tujuan kami hanya untuk menangkapmu,” sahut Earon.

“Jika tujuanmu hanya untuk menangkapku, lalu kenapa kau harus mengungkapkan dugaan kronologi itu di sini? Kenapa kau memperlihatkan bukti-bukti itu di sini? Kenapa kau tidak langsung menangkapku tanpa harus bersandiwara seperti ini? Apa yang ingin kau tunjukkan pada teman-temanmu? Membuktikan bahwa kau adalah seorang kakak yang baik, sementara aku adik yang penuh hina? Dengan begitu, kau akan leluasa menuduh apapun tentang diriku.”

“Tapi karena sandiwara inilah, aku sangat berterimakasih padamu. Dari semua bukti yang kau ungkapkan, akhirnya aku tahu bahwa kaulah yang telah menyakiti Bibi Delarmy dan membunuh Vurpia,” lanjut Jordan seraya menunjuk ke arah Earon, “Aku yakin kau juga penyebab dari semua masalah besar yang pernah terjadi, termasuk meninggalnya ayah dan ibu.”

Earon merasakan getaran yang tidak biasa dengan tudingan jari telunjuk Jordan tersebut. Getaran yang seolah-olah menjadikannya rasa takut dalam hatinya. Hingga menimbulkan keraguan dalam dirinya sendiri. Namun, dia segera menghilangkan perasaan itu sebelum timbul pikiran-pikiran yang akan melemahkan dirinya.

“Cepat, tangkap tiga buronan ini!” seru Earon yang sekaligus membuat semua anggota AKLA langsung bangkit berdiri seraya menodongkan senjata. Sementara beberapa, berlari memasuki lantai panas, mengitari tiga serangkai.

Jordan, Wergon, dan Filhener mencoba untuk tetap tenang dan konsentrasi, walaupun awalnya mereka sempat panik karena sambutan mengejutkan itu.

“Jadi kau menginginkan perang saudara?” sahut Jordan seraya menatap tajam Earon, “Kau tidak tahu siapa yang kau tantang.”

Earon tersenyum sinis mendengarnya.

“Rupanya kau sudah berani denganku. Aku tidak peduli dengan seorang penjahat. Oh, aku baru ingat kalau kalian dilarang membawa senjata apapun ke ruangan ini. Apa yang bisa kau lakukan tanpa senjata? Semua sudah selesai, Jordan,” ujar Earon.

“Tunggu!” sela Lytro sekejap, “Jordan, serahkan dirimu! Itu akan meringankan hukumanmu.”

“Tidak,” jawab Jordan dengan tegas, “Aku tidak akan menyerahkan diriku sampai aku membongkar semua kejahatan yang telah dia lakukan. Dan aku pun akan mengambil kembali milikku.”

Saat mengucapkan kalimat terakhir itu, bidikan mata Jordan memandang lurus ke arah bungkusan hitam yang masih dipegang Earon. Mengetahui itu, Earon pun semakin mempererat genggamannya itu.

“Kau ingin mengambil barang bukti ini? Kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya kembali.”

Tiba-tiba, Jordan menunjukkan senyuman manis tipis pada Earon, seraya menggelengkan kepalanya dengan samar-samar. Earon tidak mengerti, perubahan kejiwaan apa yang sedang terjadi pada Jordan. Namun, dia benar-benar tidak lagi peduli apapun sikap Jordan terhadapnya. Bisa jadi, itu adalah salah satu dari tipuannya, pikirnya.

Beberapa detik kemudian, seekor burung merpati jantan berwarna hitam pekat, mendarat di antara Earon, tiga serangkai, dan juga Lytro. Burung itu hanya berputar-putar dengan mengeluarkan suara khasnya, seperti halnya saat menggoda seekor betina, sehingga membuat semua penonton langsung mengarahkan perhatiannya pada tingkah si unggas setia itu. Melihat hal itu, Earon segera tersadar kalau itu pasti siasat dari Jordan.

“Jangan alihkan perhatian kalian! Cepat borgol tangan tiga orang ini dan seret mereka ke penjara!” seru Earon yang sekaligus membuat semua pemegang senjata tersentak, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada tiga serangkai.

Namun, belum sempat seorang melangkahkan kakinya untuk membelenggu tangan tiga serangkai, sekejap langsung berdatangan merpati-merpati yang masuk melalui ventilasi ruang sidang. Begitu banyak merpati hingga membuat semua anggota tim AKLA lepas perhatian, terlebih merpati-merpati itu melakukan pemberontakan dengan mencakar wajah dan tangan pasukan AKLA hingga membuat beberapa dari mereka terjatuh pingsan. Suasana menjadi porak-poranda, tak terkendali. Tapi, Earon yang sepertinya telah mengetahui kalau itu merupakan bagian dari rencana Jordan, tidak tinggal diam. Setiap burung yang mendekatinya langsung ia tebas dengan tangannya yang gagah, menghampiri dua temannya yang telah tertidur berjejeran, untuk mengambil sesuatu yang menggantung pada sabuk mereka.

Setelah beberapa saat dirasa cakaran maut merpati-merpati itu tidak lagi mempan melumpuhkan pasukan AKLA, tiga serangkai langsung menunjukkan aksinya. Wergon dan Filhener memutar lingkaran jam tangannya, lalu mengarahkannya pada setiap orang yang masih mampu berdiri. Sebuah jarum kecilpun keluar dari jam tangan tersebut, saat mereka menekan tonjolan pengatur jarumnya. Cara kerja jarum itu sama dengan obat bius yang ada pada anak panah Jordan, langsung menidurkan setiap orang yang dikenainya dalam hitungan singkat. Saat sedang asyiknya memainkan salah satu penemuan baru Wergon tersebut, tiba-tiba dari arah belakang, Earon langsung meraih tangan Wergon dan Filhener dengan cepat, lalu membelenggu kedua tangan mereka dengan borgol yang dia ambil sebelumnya dari rekannya yang terkapar. Namun, Jordan yang telah menangkap antaran pedang dari empat merpati yang telah membawakannya dengan cara mencengkeram tali-tali yang mengikat pedang itu, langsung melepaskan sabuk pedangnya, menebas rantai borgolnya, lalu mengayunkannya ke arah Earon. Beruntung Earon mampu menghindarinya. Dengan gerakan Jordan yang setangkas itu, terlebih dengan pedang di tangannya, pasti akan sangat sulit dikalahkan. Tapi seperti biasa, pikiran Earon yang selalu ingin menjadi pemenang dalam perang kecil itu, tentu tidak membuat hatinya ragu dan gentar. Dia mengeluarkan sebuah pistol dari balik baju rompinya dan langsung mengarahkannya pada Jordan yang seketika terdiam. Sementara Wergon dan Filhener, terus melanjutkan misinya untuk melumpuhkan semua bawahan Earon di ruangan tersebut.

“Tidak akan kubiarkan kau lari lagi, Jordan. Tidak kali ini,” ucap Earon seraya menodongkan senjatanya yang siap dilepaskan pelurunya, jika sewaktu-waktu melihat gerakan mengejutkan dari Jordan.

Dengan wajah yang diam tenang, Jordan meninggikan genggaman pedangnya di depan dada, dengan ujung pisau yang mengarah ke serong bawah. Seluruh tubuh dan tatapan matanya dalam keadaan siaga, kalau-kalau Earon memberikan serangan tiba-tiba padanya. Melihat sikap Jordan yang demikian, tentu menimbulkan anggapan dalam benak Earon bahwa mantan adiknya itu telah menantangnya untuk melanjutkan pertarungannya.

“Kau sama sekali tidak memberiku pilihan lain, Jordan.”

Suara letupan dari pistol Earon terdengar, melepaskan sebuah peluru yang mengarah pada kepalan tangan Jordan yang memegang pedang. Earon sangat yakin, Jordan tidak memiliki kemampuan untuk menghindari tembakan yang dadakan dan cepat itu. Dan dugaannya memang benar. Jordan tidak berhasil menghindarinya, tapi otaknya berhasil mengendalikan tangannya hingga peluru itupun terhalang oleh ketangguhan pisau pedangnya.

Earon terkagum-kagum melihatnya, yang juga membuatnya semakin meluapkan energi kemarahannya. Melihat Jordan melangkah cepat ke arahnya, tanpa pikir panjang, Earon pun menyerangnya dengan tembakan jarak dekat. Namun, lagi-lagi Jordan mampu menahannya dengan pedangnya yang kemudian langsung dikebaskan ke arahnya. Earon dapat melihat dengan jelas ketajaman pedang Jordan yang semakin mendekatinya dari arah atas, yang membuat jantungnya berdetak kencang dan napasnya berhenti sesaat. Tetapi, Earon tentu bukan seorang agen yang mudah menyerah. Dengan cepat, diapun mengelak arah pedang itu dan segera mencengkeram tangan Jordan yang memegang pedang. Dia berusaha melepaskan pedang itu dari tangan Jordan, supaya dapat mengurangi gerakan mematikannya. Namun, tujuan itu terlalu mudah dimengerti oleh Jordan yang kemudian langsung mencegahnya dengan mengambil alih pedang ke tangan yang satunya.

Perkelahian sengitpun dimulai. Mereka berdua saling menghantam, menendang, menahan, mencengkeram, menarik, menyikut, maupun menjegal dalam pertarungan jarak dekat itu. Sesekali mereka juga terpental karena tidak mampu menahan serangan lawan. Tetapi, tidak satu pun dari mereka yang menginginkan gelar pecundang, hingga seluruh tubuh terasa sakit pun mereka masih bisa bangkit untuk saling melawan, dengan senjata masing-masing yang masih bertahan di genggaman tangan mereka.

Sementara para pemegang busur sibuk dengan kepentingannya, Filhener dan Wergon tinggal menargetkan tiga agen lagi. Wergon mendekati salah satunya untuk dilumpuhkan. Namun, keberuntungan saat itu sepertinya kurang menyertainya. Dengan posisi yang sudah sangat dekat di hadapan agen incarannya yang telah menodong pistol ke arahnya, Wergon tampak kebingungan sambil terus memencet-mencet tonjolan pengatur jamnya yang tidak lekas keluar jarum biusnya. Jari telunjuk agen tersebut sudah bergerak separuh jalan, menekan pelatuk pistolnya, yang membuat jantung Wergon semakin berdetak kencang. Namun, sebagian hatinya pun telah pasrah jika peluru itu memang akan menembus tubuhnya. Dan jelas, itu tidak mungkin bisa terhindarkan lagi, pikirnya.

Kemudian, terlihat kilatan kecil yang bergerak cepat dan lenyap saat mengenai bagian leher agen itu yang langsung menjatuhkannya. Wergon hanya bisa diam terheran-heran melihat kejadian itu yang menurutnya adalah suatu mukjizat.

“Apa yang kau lakukan?!” seru Filhener.

Wergon menoleh ke arahnya dan melihat dua agen telah terkapar di dekat Filhener berdiri. Seketika itu pula, dia beranggapan bahwa mukjizat itu pasti datang karena Filhener.

“Terimakasih, Fil. Aku berhutang nyawa padamu.”

“Nyawamu saja cuman satu, bagaimana kau bisa melunasinya?” sahut Filhener, “Ayo, kita cepat bantu Jordan!”

“Bagaimana bisa? Jarum biusku habis! Aku saja hampir mati karena satu orang ini, apalagi melawan monster.”

Mendengar keluhan Wergon tersebut, membuat Filhener merasa jengkel.

“Bisakah kau mencobanya sebelum mengeluh, Anak cengeng?! Sudah menjadi kebiasaan, kau membuang-buang pelurumu!”

“Aku tidak membuangnya! Tembakanku meleset!” ujar Wergon, lalu tiba-tiba dia berteriak, “Filhener, awas di belakangmu!”

Sekejap Filhener langsung menoleh ke tempat yang ditunjuk Wergon. Namun, belum sempat dia membalikkan mukanya, sesuatu meninju bahu kanannya dari belakang dengan sangat keras, hingga dia pun langsung menjauh, mendekati Wergon, seraya memegang tangannya yang terasa sakit. Filhener begitu terkejut ketika mengetahui bahwa masih ada seorang anggota AKLA yang belum dituntaskan.

“Lytro,” kata Filhener, “Aw! Tanganku mati rasa.”

“Apa maksudmu? Cepat tembakkan biusnya!” ujar Wergon.

“Aku tidak bisa menggerakkan tanganku! Rasanya seperti lumpuh.”

Tanpa basa-basi, Lytro langsung melangkah cepat, mendekati mereka berdua yang seketika langsung menghindarinya dengan mengambil arah terpisah. Namun, Lytro sepertinya lebih mengincar Filhener yang telah terkena jurusnya. Filhener terus mencoba menahan atau pun menghindari pukulan-pukulan mematikan Lytro tersebut. Sementara Wergon hanya bisa bingung melihatnya, tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk membantu teman-temannya, tanpa tongkat kesayangannya.

“Kenapa tongkatku tidak diantarkan sekalian?!” gerutunya dalam hati.

Jordan masih bertarung dengan Earon untuk merampas kantong hitam yang disembunyikan di balik baju rompi Earon. Namun, keinginan tersebut tampaknya sangat sulit diwujudkan, karena Earon terus menghalanginya. Sampai pada babak terakhir pertarungan sengit itu, akhirnya Earon berhasil memuntir tangan Jordan yang memegang pedang ke belakang, lalu menjatuhkan pedang itu, seraya menempelkan ujung pistolnya di punggung Jordan yang mengarah ke jantung.

“Cukup, Jordan! Aku bisa saja membawamu ke penjara, bahkan tanpa nyawamu!” kata Earon sambil memperkuat cengkeramannya.

Tampak dari napas keduanya yang masih mengembus keras-keras. Sepertinya, mereka cukup kelelahan dengan pergulatan itu. Dan entah memang tidak mendengarkan ucapan Earon atau untuk memulihkan tenaganya, Jordan terlihat diam tenang dengan pandangannya yang mengarah ke bawah. Bahkan, tidak muncul perlawanan sedikit pun darinya.

Lalu tiba-tiba, jantung Earon berdebar keras yang seketika membuat matanya terbelalak, merasakan napasnya yang begitu sesak. Dia melihat goresan merah tipis yang terlukis pada lengannya yang membawa pistol. Belum sempat Earon berpikir lebih jauh tentang goresan itu, dia sudah tak lagi mampu menopang tubuhnya, lalu tergeletak tak berdaya di belakang Jordan. Jordan membalikkan pandangannya pada Earon. Dia kemudian menunjukkan lapisan kuku yang dipasang pada jari tengah tangan kirinya. Tampak sekali dari ujung kuku jari tengahnya yang lebih panjang dari kuku jari lainnya.

Akhirnya pertarungan dimenangkan oleh Jordan yang berhasil merebut kantong hitam itu. Namun, dia hanya mengambil pita biru berlonceng miliknya dan menggeletakkan kantong hitam beserta isi lain di dalamnya di dekat Earon.

Sementara pertarungan antara Filhener, Lytro, dan Wergon.

Lytro berhasil melumpuhkan salah satu kaki Filhener dengan jurus patukannya. Terlintas dalam benak Filhener yang tidak mungkin sanggup lagi melawan Lytro, dengan mengandalkan satu tangan dan satu kaki. Dia hanya bisa berlutut di depan Lytro, dengan saling bertatapan muka.

“Aku tidak percaya kau mengkhianati kami,” ucap Filhener dalam napasnya yang masih terengah-engah.

“Aku hanya akan berkhianat jika tujuanku untuk kebaikan.”

“Tapi kami tidak melakukan apapun.”

“Kalau begitu, kalian tidak perlu takut untuk menghadap keadilan, ‘kan? Cukup menyerahkan diri dan biarkan keadilan yang memutuskan.”

Tiba-tiba, Lytro merasakan sesuatu yang tidak biasa. Pandangannya kabur dan terasa lemas di sekujur tubuhnya. Perasaan serupa, seperti yang dialami rekan-rekan lainnya yang telah terhantar di setiap sudut ruangan sidang. Dia mengedip-kedipkan matanya, barangkali dapat memulihkan penglihatannya yang terasa berat. Seraya terjatuhnya Lytro yang telah memejamkan kedua mata, Wergon terlihat telah berdiri di belakangnya.

“Rasakan itu! Tampaknya kau sudah lupa kalau jagoan utamanya masih berdiri di sini!”

Filhener terkejut melihatnya, tapi juga merasa tenang.

“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Filhener penasaran.

“Sudah kubilang, jarum biusku banyak yang meleset.”

“Terbuang,” ketus Filhener.

“Jadi, kuambil lagi dan kuberi dia tiga jarum.”

“Mengesankan. Bisakah kau membantuku?”

Belum sempat Wergon menyentuh tubuh Filhener untuk membantunya, datanglah Jordan yang menghampiri keduanya.

“Kita harus cepat! Atau yang lain keburu datang,” ujar Jordan.

Lalu, pandangan Jordan teralih pada kondisi Filhener.

“Ada apa denganmu?” tanya Jordan pada Filhener.

“Satu tangan dan kakiku tidak bisa kugerakkan. Aku tidak tahu kalau Lytro bisa mengeluarkan jurus stroke.”

Jordan berpikir sejenak.

“Wergon, bawa Filhener! Kau ikut aku di belakang. Biar aku yang mengatasi mereka.”

Rencana itupun disetujui ketiganya. Wergon segera menggendong Filhener, sementara Jordan telah berdiri di dekat pintu. Setelah semuanya siap, Jordan langsung menancapkan pedangnya dengan sangat keras ke sela-sela pintu yang merupakan garis terbukanya dua daun pintu tersebut. Dia merasakan pedangnya yang menembus pintu itu, lalu menariknya kuat-kuat ke bawah layaknya merobek kertas dengan jarum. Tangannya terangsang getaran pedangnya yang telah menebas gembok, kemudian langsung menendang pintu itu hingga terbuka lebar-lebar. Empat penjaga yang berdiri di depan pintu kewalahan menghadapi situasi yang sangat cepat itu. Bahkan belum sempat pistol mereka diarahkan, Jordan telah menembakkan jarum bius dari jam tangannya, yang seketika membuat keempatnya roboh. Jordan terus berada di garis depan, menghadapi sisa-sisa sekutu AKLA, dan untuk melindungi Wergon serta Filhener.

Sesampainya di luar gedung pengadilan, sebuah mobil yang melaju cepat, berhenti mendadak di depan gerbang. Avasone telah menjemput mereka, yang sepertinya memang telah dipesan oleh tuannya, sebelumnya. Ketiganya bergegas masuk ke mobil yang dikemudikan Jordan dan langsung menancap gas.

“Bagaimana denganku? Siapa yang akan menyembuhkan penyakit stroke-ku?” ucap Filhener panik, yang duduk di jok belakang bersama Wergon.

“Jangan khawatir. Kau akan kembali beberapa jam lagi,” jawab Jordan dengan pandangan ke depan, yang memperhatikan jalan.

“Lalu setelah ini, kita akan ke mana?” tanya Wergon cemas.

“Kita harus menjemput Bibi Delarmy segera!” sahut Filhener, “Mereka bisa menyakitinya kapan saja.”

Jordan sebenarnya juga merasa takut dan bingung dengan situasi yang sedang dialaminya. Namun, dia berusaha menutupi itu dari kedua temannya yang melebihi kegelisahannya.

Dia menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang, “Kita tidak akan menemui bibi.”

Wergon dan Filhener terkejut mendengarnya.

“Apa maksudmu?” tanya Wergon.

“Bibi akan baik-baik saja di sana, selama kita tidak menemuinya. Kita akan ke kampus untuk mengambil tongkat dan bonekamu. Juga perlengkapan kita yang lain. Setelah itu….”

Filhener dan Wergon penasaran dengan kalimat Jordan yang terhenti itu.

“Setelah itu, apa kita akan meninggalkan Losapins?” tanya Filhener.

“Kita akan membuat kerusakan di Losapins. Dan, membunuh Volan,” jawab Jordan menggeram.

Wergon dan Filhener langsung membelalakkan matanya dengan mulut menganga. Pandangan gelisahnya menunjukkan bahwa mereka sangat sulit menerima pemikiran Jordan kali ini. Filhener segera angkat bicara akan rencana mengerikan itu. Namun, Wergon lekas memegang pundak Filhener yang belum sempat terdengar suaranya. Filhener menatap muka Wergon yang menunjukkan keyakinannya pada Jordan, walaupun masih terlihat raut keraguannya. Mereka berduapun membisu, tidak berkomentar apapun tentang rencana Jordan tersebut. Jordan melihat reaksi kedua temannya dari kaca spion tengah. Namun, dia tidak menanggapi keadaan itu, sekalipun dia tahu bahwa timbul keraguan besar dalam benak kedua temannya.

Sejak saat itu, suasana terasa berubah. Detik demi detik di hari yang mendung, mereka lewati dengan penuh kerisauan. Ketentraman hati pun sepertinya sangat sulit untuk mereka dapatkan. Dalam perjalanan itu pula, kegelisahan mereka semakin menjadi, ketika melewati Jalan Chivori. Mereka melihat air sungai Chivori yang mengalir bersama cairan berlemak abu-abu pekat. Sepanjang mereka melewati sungai itu, tidak sedikit pun ada celah air yang masih jernih. Rerumputan sekitar sungai, yang tersentuh oleh cairan tersebut juga telah berubah menjadi suram.

“Apa yang terjadi dengan sungainya?” tanya Filhener.

Wergon dan Jordan hanya terdiam. Namun, tampak dari wajah Jordan yang menunjukkan keberangannya, seraya mempererat cengkeraman kedua tangan yang memegang kemudi, yang kemudian langsung memfokuskan kembali pandangannya ke jalan, dengan memperkencang laju mobilnya.

No comments:

Post a Comment