EPILOGUE: JORDAN DAN EARON

 

Suatu hari, Earon dan Jordan duduk berdampingan di sofa ruang tamu, sambil mengusap-usap masing-masing busurnya dengan kain yang sudah tidak terpakai. Kala itu, Jordan memakai baju berlengan pendek dan tidak lagi memakai sarung tangannya dalam suasana santainya tersebut.

“Kak Volan,” ujar Jordan ketika usapannya menyentuh pita berlonceng di busurnya, yang sekaligus menghentikan usapannya.

“Hmm?”

“Kenapa ibu memanggilku Aamadav? Apa artinya nama itu?”

Earon menghentikan kegiatannya dan memalingkan pandangannya pada Jordan. Dia menurunkan busurnya ke pangkuannya, kemudian membalas pertanyaan Jordan tersebut.

“Kau sering dipanggil ibu seperti itu, tapi tidak pernah menanyakannya?”

Jordan menggelengkan kepala dengan samar.

“Aamadav, sebuah kata yang berasal dari bahasa asli penduduk desa Wesnoreast. Artinya sejuk atau indah dipandang mata. Sebenarnya, sudah lama bahasa itu hampir punah. Mereka tidak pernah menggunakan bahasa seperti itu lagi dalam kesehariannya dan lebih sering menggunakan bahasa perkotaan,” jelas Earon.

“Pantas saja sulit kutemukan kata itu. Lalu, apa hubungannya nama itu denganku?”

“Seingatku, ibu melahirkanmu di luar kota Losapins. Mungkin itu sebabnya kau dipanggil dengan sebutan itu.”

“Jadi maksudnya, aku lahir di wilayah perbatasan atau di desa Wesnoreast?”

“Hampir tepat. Tapi, kau benar-benar lahir di luar.”

Jordan bingung dengan maksud perkataan Earon tersebut.”

“Di luar, wilayah perbatasan atau di desa Wesnoreast?” tanyanya lagi.

“Tidak. Kau lahir tidak di rumah sakit, tidak juga di tempat yang beratap, tapi di tengah perumputan daerah dataran Wesnoreast.”

Jordan malah tertawa mendengarnya, menganggap ucapan Earon tersebut adalah sebuah gurauan.

“Kenapa ibu melahirkan aku di sana?” ucapnya yang terseling dalam tawanya, “Apakah karena dokter merasa lebih nyaman memeriksa ibu di tempat seperti itu?”

Earon justru merasa kesal karena Jordan tidak menganggap serius ucapannya tersebut.

“Tidak ada dokter. Tidak juga bersama ayah waktu itu. Ibu sendirian di sana, melahirkanmu di tengah padang rumput yang sepi. Hanya bentang alam yang menyaksikan kelahiranmu.”

Jordan justru tertawa semakin menjadi mendengarnya, membuat Earon juga semakin kesal.

“Aku bersungguh-sungguh, Jordan. Ibu yang menceritakannya padaku,” jelas Earon meyakinkan Jordan.

Jordan meredakan tawanya.

“Sejak kapan kau pernah menganggap ucapan dari ibu hanya untuk menghiburmu semata, Kak Volan? Pernahkah kau menanyakan kesungguhan cerita itu pada ibu?” ucapnya.

“Sudah. Aku terlambat untuk menjenguk bibi,” lanjut Jordan yang beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Earon yang masih duduk dilanda kejengkelan.

“Hei, Jordan! Kau tidak percaya pada ceritaku?!”

Jordan pergi ke kamarnya, tidak mendengar ucapan Earon tersebut.

“Heehhh, bagaimana dia bisa percaya? Sementara, diriku juga tidak percaya dengan yang kukatakan,” gerutu Earon.

Tanpa menjadikannya masalah, Earon kembali membersihkan busurnya.

 

No comments:

Post a Comment