CHAPTER 18: KE ARAH ESOK

 

Satu bulan telah berlalu. Selama itu pula, cukup banyak perubahan yang terjadi di Losapins. Trauma tentu masih melekat, tapi orang-orang berusaha bangkit dan mulai banyak meluangkan waktu untuk bisa berkumpul bersama keluarga, teman-teman, serta orang-orang yang dikasihinya. Mereka tidak terus-terusan mementingkan urusan pribadi mereka, walaupun masih ada beberapa yang seperti itu.

Kekacauan yang menyerang Losapins sebelumnya, telah membuat banyak kerusakan di setiap tempat. Namun, penduduk kota Losapins bekerja keras untuk memperbaiki semua kerusakan itu, setiap hari hanya selama satu bulan itu dan dilanjutkan hari-hari berikutnya saat hari libur bersama. Perasaan suka cita menyambut kebersamaan mereka ketika bergotong-royong membangun kembali Losapins, menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Vurpia telah kembali ke wujud manusianya. Saat ini, dia sedang ditahan di penjara perbatasan, sembari menunggu keputusan sidang yang akan dilakukan dua hari ke depan. Raut mukanya terlihat diam dengan pandangan ke bawah seolah sedang memikirkan sesuatu.

Sembilan hari pasca wabah monster, Jordan terbangun setelah dinyatakan koma. Earon dan teman-temannya begitu bahagia melihat Jordan dapat pulih kembali. Namun, mereka harus dihadapkan pada situasi sulit yang tidak biasa terjadi pada Jordan. Saat pertama kalinya bercermin setelah kepulihannya, Jordan begitu kaget melihat matanya yang telah berubah. Mata yang sama saat terakhir dia membidik Vurpia. Dokter tidak dapat memastikan penyebab dari perubahan matanya tersebut. Seharian penuh Jordan merasa takut dan gelisah, bahkan sampai merengek agar matanya dapat dikembalikan ke semula. Earon dan teman-teman Jordan tidak tahu harus berbuat apa, kecuali berusaha untuk terus menghibur dan menyemangatinya. Dan akhirnya, Jordan kini sudah keluar dari rumah sakit dengan membawa mata istimewanya tersebut.

Di halaman belakang rumah Delarmy.

Suasana di wilayah perbatasan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Pohon-pohon hijau menari-nari karena terpaan angin sepoi-sepoi. Cahaya matahari pagi menembus kabut, disambut oleh kicauan burung, dan suara-suara dari balik bukit di sekitarnya.

Jordan berdiri di atas bebatuan tepi sungai yang jernih dengan arus yang setengah tenang. Kemudian, datanglah Earon yang muncul dari balik semak-semak.

“Itu dia,” ucap Delarmy mengantarkan Earon, yang kemudian langsung pergi meninggalkannya.

Tampaknya, keadaan Delarmy juga sudah membaik.

Jordan menoleh begitu mendengar suara kehadirannya.

“Apa yang kau lakukan di sini sendirian sepagi ini?” tanya Earon sambil melangkahkan kakinya mendekati Jordan.

“Tidak ada. Aku hanya ingin di sini.”

Earon melihat raut muka Jordan yang agak murung.

“Kalau begitu, apa yang membuatmu ingin ke sini?” tanyanya lagi.

Jordan menatap muka Earon yang sepertinya mengkhawatirkan keadaan dirinya. Seketika Jordan mengubah ekspresinya menjadi sedikit lebih ceria.

“Aku terbiasa ke sini. Di saat aku ingin mendapatkan ketenangan, aku selalu berdiri di tepi sungai. Dan entah kenapa itu membuat beban pikiranku menjadi ringan. Hanya itu.”

“Itu sebabnya kau sering berada di sungai Chivori,” gumam Earon.

“Apa pernah terlintas di pikiranmu untuk melompat ke sungai ketika kau merasa tidak sanggup lagi membawa beban itu?” lanjut Earon.

Jordan terkejut dengan pertanyaan tersebut.

“Kenapa aku harus melakukan itu?”

“Karena kupikir, kemurunganmu karena masih memikirkan mata istimewamu itu. Aku masih ingat teriakanmu saat pertama kali kau mengetahui keadaan matamu,” katanya dengan sedikit candaan.

Jordan tertawa kalem nan malu mendengarnya.

“Saat itu, aku hanya merasa takut kalau-kalau aku menjadi monster dan tidak bisa kembali,” sahut Jordan.

Suasana menjadi hening sejenak. Angin bertiup setengah kencang mengenai tubuh Jordan dan Earon.

“Sebenarnya, aku ingin mengetahui sesuatu,” ucap Earon mengalihkan topik pembicaraan.

Jordan menoleh ke arah Earon.

“Saat itu, kau bilang kalau ayah dan ibu pernah menantangmu. Tantangan macam apa yang mereka berikan padamu?” tanya Earon.

Jordan terdiam sejenak.

“Tidak mudah menyerah dan tetap bertahan sesakit apapun kondisinya, sampai Kak Volan benar-benar bahagia,” jawab Jordan lembut.

“Aku hampir kalah setelah malam kebakaran itu,” lanjut Jordan, “Aku tidak berdaya. Aku bahkan hampir tidak sanggup lagi untuk berdiri. Tidak terpikirkan olehku untuk kembali, apalagi melihatmu lagi. Hanya bayangan ayah dan ibu yang setidaknya memberikanku kekuatan. Sampai akhirnya, Bibi Delarmy menemukanku…. Di sini, di tempat kita berdiri. Sejak saat itu, aku merasa kehidupan baru menyambutku. Keluarga baru. Teman-teman baru. Hingga kehidupan itu bisa membuatku melupakan kehidupan lamaku.”

Earon yang mendengarnya begitu terharu. Seolah ingin menangisi kesalahannya, namun dia menahannya.

Jordan tertawa kecil, lalu berkata, “Tapi, siapa sangka kita dipertemukan lagi. Jadi, aku mempunyai kesempatan untuk memenangkan tantangan itu.”

“Lalu, apa yang kau dapatkan dari tantangan itu?” tanya Earon lirih.

“Jika Kak Volan bahagia, maka aku akan merasa lebih bahagia.”

Spontan, Earon langsung memeluk Jordan dengan sangat erat.

“Aku bahagia, Jordan. Tapi, aku akan lebih bahagia jika kau pun bahagia,” katanya.

Jordan tersenyum haru mendengarnya.

“Earon!” seru seseorang memanggil, yang sekaligus memecahkan suasana.

Earon dan Jordan saling melepaskan pelukannya dan melihat kehadiran Lytro, Wergon, Filhener, dan Migo.

“Bagaimana kabarmu, Jordan?” tanya Lytro dalam langkahnya.

“Baik,” jawab Jordan.

“Aku tidak tahu kalau ternyata ada sungai seindah ini di belakang rumah Bibi Delarmy,” lanjut Lytro.

“Arus sungai ini juga mengarah ke sungai Chivori,” jelas Wergon.

“Indah sekali,” kata Migo kagum.

“Hei, Jordan. Bagaimana keadaan matamu?” gurau Lytro tiba-tiba.

Semua tertawa.

“Kenapa masih membahas itu lagi?” jawab Jordan malu.

“Karena itu pertama kalinya aku melihatmu seperti anak kecil, hahahaha.”

Tawa mereka semakin menjadi, membuat Jordan semakin malu.

“Volan bilang kalau kau bisa membuat anak panahmu sendiri tanpa anak panah sungguhan? Bukankah itu luar biasa,” ujar Filhener.

“Ya, bahkan dia belum mengatakan rahasianya padaku,” sahut Earon, “Apa kau sebegitu pelitnya hingga tidak mau membongkar resepnya padaku?”

“Mungkin untuk berjaga-jaga kalau kau akan menyerangnya lagi,” sindir Lytro dengan penuh canda, “Jika sampai itu terjadi, maka bangunkan saja nagamu itu, Jordan!”

“Maaf, aku lupa akan mengatakannya saat itu,” kata Jordan, “Sebenarnya, busur kita bisa menggunakan anak panah dalam bentuk apapun. Aku pernah menggunakan penggaris dan itu berhasil.”

“Tapi, aku tidak melihatmu menggunakan sesuatu sebagai anak panahnya.”

“Aku menggunakan udara.”

Seketika, semua diam tercengang mendengarnya.

“Whoa, itu keren, Sobat,” ucap Migo kagum.

“Apa kita bisa mencobanya lagi? Itu akan menghemat senjataku saat mengejar para penjahat,” sahut Earon.

“Sayangnya, tidak. Busur kita tidak mempunyai kemampuan itu lagi. Si sisik bulan telah mengambil kembali berliannya. Jadi, busurmu hanya menjadi sebuah busur emas biasa, begitu juga dengan busur perakku.”

“Bagaimana dengan matamu?” sahut Wergon, “Kau masih memiliki bagian dari si penjaga berlian itu, ‘kan? Apakah matamu itu juga hanya menjadi mata biasa?”

Jordan tertawa kecil mendengarnya.

“Aku tidak tahu itu. Aku tidak bisa mengendalikan sesuatu yang lain yang ada dalam diriku. Tapi, sudahlah. Aku senang semua sudah selesai. Kita akhirnya bisa bersama lagi. Itu yang terpenting.”

“Ya, dan terima kasih, Jordan. Kau menyelamatkan kami semua,” ucap Lytro.

Mendengar perkataan itu, kemudian satu per satu secara berturut-turut, Earon, Filhener, Wergon, dan Migo mengatakan terima kasihnya juga kepada Jordan.

Jordan membalasnya dengan senyum manis.

Dua hari kemudian, hakim telah memutuskan hukuman bagi Vurpia, yaitu dipenjara selama dua puluh tahun. Setelah persidangannya selesai dan melangkah keluar dari ruang sidang, Vurpia begitu terkejut melihat Earon dan Jordan telah menantinya di halaman depan gedung pengadilan.

Vurpia menghentikan langkahnya setelah sampai di hadapan Earon. Mereka berdua justru terlihat canggung dan tidak mau saling bertatap mata.

“Katakanlah sesuatu!” gumam Jordan mencoba menetralkan suasana.

Earon menatap Vurpia. Dia mengembuskan napas melalui mulutnya sebelum dia memulai pembicaraan.

“Aku…, aku…,” ucapnya gugup.

“Maafkan aku, Earon,” sela Vurpia segera, “Kupikir, kau tidak akan mau melihatku lagi. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu hanya untuk mengucapkan permintaan maaf ini. Aku senang, ternyata kesempatan itu masih ada untukku.”

Earon memalingkan wajahnya dari Vurpia dan tidak berkata apapun. Hal itu membuat Vurpia merasa kalau dia masih sangat marah padanya. Diapun tidak mau terlalu lama berdiri di depan Earon. Itu hanya akan membuatnya jenuh dan bertambah kesal, pikirnya.

Tidak kuasa menahan pikiran itu, Vurpia meneteskan air mata, lalu berkata, “Semoga kau selalu bahagia, Earon.”

Dalam tangisannya, terselip tawa kecil.

“Eheh, tentu kau tidak akan pernah sedih, karena adikmu yang akan selalu membuatmu bahagia. Kalau begitu, aku tidak perlu memikirkannya lagi,” katanya seraya menatap Jordan yang membalasnya dengan senyuman tipis.

Lalu, Vurpia memandang lagi wajah Earon yang masih bisu.

“Selamat tinggal, Earon.”

Perlahan, Vurpia kembali melangkah. Wajahnya hanya tertutup oleh kesedihan karena perasaannya yang sungguh berat untuk meninggalkan Earon. Dalam kebisuannya, dia berjalan sambil terus meneteskan air mata.

Jordan yang melihat kebungkaman Earon, merasa bingung dan tidak mengerti dengan maksud sikap kakaknya tersebut.

“Kenapa dia harus meminta maaf?” ucap Jordan.

Earon langsung memalingkan mukanya pada Jordan.

“Dia bisa saja membunuh kita saat terjatuh di ruang bawah tanah, bukan? Tapi, dia masih membiarkan kita hidup. Jika saja dia mau, mungkin sekarang dia tidak perlu meminta maaf dan kemenangan menjadi miliknya. Dia mungkin jahat dan yang paling kejam, itu sebabnya tongkat Pridiatick memilihnya. Tidakkah kau tahu kalau dari sekian lama generasi pembawa tongkat, dialah generasi yang paling lemah di antara yang lain? Bukan lemah pada kekuatannya, tapi hatinya. Dia menjadi lemah karena telah mencintai seseorang. Dan tidak pernah disangka kalau dia akhirnya mencintai seorang pemegang busur. Tidaklah mudah baginya untuk memutuskan semua itu. Bahkan, seolah beban yang ditanggungnya menjadi berlipat ganda. Dia masih mencintaimu, Kak Volan. Bahkan sampai saat ini.”

Earon masih terdiam, memikirkan sesuatu. Sementara Jordan, dia terus menatap muka Earon dan berharap akan ada sebuah kata terakhir yang akan keluar dari mulutnya untuk Vurpia.

Vurpia mengangkat salah satu kakinya untuk masuk ke dalam mobil.

“Aku akan menunggumu, Vurpia.”

Suara itu, sentak membuat Vurpia terdiam dengan air mata yang berhenti bercucuran dan napasnya yang tertahan sejenak.

Pelan-pelan, dia menurunkan kembali kakinya yang hendak menyentuh dasar mobil, lalu menoleh ke belakang, ke arah Earon. Vurpia menatap mata Earon, begitu juga dengan Earon yang menatap mata Vurpia yang masih berlinang-linang. Angin bertiup mengenai tubuh mereka. Vurpia menunggu ucapan itu terdengar lagi.

“Kalau kau mengizinkan, aku akan sering menjengukmu. Pandanganku tidak akan terlepas darimu. Aku pasti menunggumu. Untuk itulah, kau jangan terlalu lama di penjara! Lakukanlah sesuatu yang baik di sana! Buatlah semua orang tertarik padamu, maka hukumanmu akan diringankan! Tapi jika itu masih tidak berhasil padamu, maka aku yang akan langsung mendatangimu.”

Jordan begitu takjub mendengar ungkapan hati Earon. Begitu juga dengan Vurpia, dia merasa sangat tersentuh sampai-sampai meneteskan air matanya kembali. Namun, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar pada Earon. Earonpun membalasnya dengan senyuman lebar dan mata yang berkaca-kaca. Vurpia kini dapat pergi dengan tenang dan senang.

Jordan masih belum mampu memahami semua itu, terlebih pada Earon yang dikiranya juga masih memendam kemarahannya. Sejenak, pandangan Jordan teralih pada sesuatu di tangan kanannya yang diangkat setinggi perutnya. Butiran cahaya biru beterbangan di sekitar tangan Jordan. Diapun hanya tersenyum tipis dan tampak dari raut mukanya yang meyakini sesuatu yang telah diketahuinya dari butiran cahaya itu. Lalu, tangan kanannya mengepal menutupi cahaya biru itu, agar tidak ada orang lain yang melihatnya.

Hari berikutnya, saat matahari berada pada ketinggian sekitar 60º dari Timur, Jordan mendatangi rumah Earon. Dia bersama dua sahabat satu atap, yang diiringi oleh tuan rumah, sampai di depan pintu. Terlihat dua koper besar juga ikut menemani kebersamaan mereka. Tiga kali ketukan pintu dilakukan oleh Earon, sambil berseru, “Paman Trigar! Lihatlah siapa yang datang!”

Tanpa menunggu lama, Trigarpun segera membukakan pintunya. Raut wajahnya terperanjat senang, begitu melihat Jordan di depan matanya. Dia langsung memeluk erat Jordan sambil menahan tangisnya.

“Aku tahu kalau kau adalah Jordanku. Putraku. Kau telah kembali,” kata Trigar.

Semua tersentuh melihatnya.

Kemudian, Trigar melepaskan pelukannya. Lalu dengan senyum ceria, dia menarik tangan Jordan untuk masuk ke dalam. Namun sebelum Jordan memasuki rumah itu, sejenak pandangannya beralih pada Earon. Dari sorotan matanya, dia memberikan isyarat pada Earon, meminta izin untuk memasuki rumahnya. Earon yang memahami maksud tatapan mata Jordan, menganggukan kepalanya samar-samar sambil memejamkan kedua mata, sebagai ucapan selamat datang kembali di istananya.

“Tunggu, Paman!” ujar Jordan menahan tarikan Trigar, “Aku membawa teman-temanku. Mereka akan tinggal di sini bersamaku. Itu jika Paman tidak keberatan.”

Trigar tertawa mendengarnya.

“Bicaramu seperti aku orang asing bagimu. Kenapa kau harus meminta izin dariku? Kau dan Volan adalah pemilik rumah ini. Kau bagian dari keluarga ini, begitu juga kedua temanmu. Aku sangat berterima kasih pada mereka yang telah menjagamu selama ini.”

“Yang benar, Jordanlah yang menjaga kami,” gumam Filhener.

Semua tertawa kecil mendengarnya.

Kemudian, mereka bersama-sama melewati garis pintu rumah tersebut.

“Bagaimana dengan bibimu?” tanya Trigar melangkah masuk, “Kenapa kau tidak mengajaknya untuk sekalian tinggal di sini?”

“Bibi Delarmy lebih suka tinggal di rumahnya. Lagi pula, ada pekerjaan yang harus beliau selesaikan di sana.”

Setelah mengatakan itu, Jordan menutup pintunya dan tidak terdengar lagi percakapan mereka, walaupun masih ada deretan pertanyaan dan jawaban yang mereka bicarakan di dalam.

Sore hari sekitar jam setengah lima, Jordan berjalan sendirian di sepanjang trotoar, melihat-lihat situasi kota yang sudah normal dengan kegiatan kesehariannya. Sampai di depan pohon perintis, dia menghentikan langkahnya. Dia mendongak dan mengamati pohon besar tersebut. Pelan-pelan, telapak tangannya yang terbuka mencoba meraih batang pohon itu. Ketika telapak tangannya bersentuhan, tiba-tiba pupilnya memipih dan kilas balik saat wajahnya dahulu pernah menabrak pohon itu, diperlihatkan lagi padanya. Dia melihat sesuatu yang tersalurkan dengan sangat cepat dari bawah akar, kemudian mengalir ke batang pohon hingga masuk ke tubuh Jordan melewati dahinya yang terbentur. Pupil Jordanpun kembali cembung. Dia mengumpat tawa setelah diperlihatkan kembali kejadian itu. Tapi, dia pun mengetahui sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat berharga dan bermanfaat bagi dirinya, penduduk Losapins, bahkan mungkin juga untuk masyarakat dunia. Namun, wajahnya tetap tenang mengetahui hal itu. Dia kembali melangkah, seolah-olah tidak terjadi apapun. Biarkan waktu yang menunjukkan semua itu, pikirnya.

Sesuatu yang diketahui Jordan tersebut adalah bahwa fosil naga penjaga tiga berlian berada pada kedalaman puluhan meter di bawah tanah Losapins. Kepala naga itu menengadah tepat di bawah pohon perintis, sementara tubuh besar dan panjangnya berkelok-kelok hampir menutupi seluruh tanah kota Losapins. Kerangkanya masih utuh, begitu juga dengan sisik berliannya yang masih membungkus kerangka tersebut.

Jordan menghentikan langkahnya kembali ketika sampai di suatu tempat yang tidak asing. Dia tersenyum sambil berdiri mengamati sekitarnya. Cahaya matahari sore di langit bening, memperjelas pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Taman hijau di tepi sungai Chivori, kini telah banyak dikunjungi oleh orang-orang. Anak-anak dan orang tua bermain dan tertawa bersama di tempat itu. Hiasan pantulan cahaya matahari dari air sungai Chivori yang kembali jernih, membuat hati semakin tenang dan damai.

Jordan melihat ke bawah, di jembatan kayu yang sering menjadi tempat mencari ketenangannya. Dia melihat kakaknya, Wergon, Filhener, dan Lytro telah menunggunya di jembatan itu. Mereka berempat menatap muka Jordan dari kejauhan, lalu Wergon melambaikan salah satu tangannya sebagai tanda bahwa mereka tidak mau terlalu lama menunggu Jordan yang terus-terusan berdiri di tempatnya. Jordan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan senyuman lebar dan wajah ceria untuk menyambut orang-orang yang disayanginya tersebut.

Langit berubah menjadi gelap. Namun, raut yang sama masih terukir di wajah Jordan dengan penampilannya yang berbeda. Dia bersama Wergon dan Filhener memakai kostum yang sering mereka gunakan saat melakukan aksi malamnya. Tetapi, aksi yang mereka lakukan kali ini dengan teknik yang sedikit berbeda.

Walaupun keadaan kota Losapins menjadi lebih baik, bukan berarti tindak kejahatannya telah berhenti. Dan mereka bertigalah yang ikut menanganinya. Bukan hanya sebagai mata-mata saja, mereka bertiga juga turut terjun langsung untuk menangkap para penjahat itu, terlebih di waktu malam hari. Mereka sepenuhnya sudah mendapatkan jaminan dari lembaga keamanan tertinggi Losapins dan menjadi bagian dari satu-satunya tim khusus baru AKLA yang diberi nama Bayangan Bulan.

Tengah malam itu, tim Bayangan Bulan sedang mengejar dua orang penjahat yang telah mencuri emas dari toko perhiasan. Dibantu oleh Earon, Lytro, dan anggota polisi lainnya, aksi kejar-kejaranpun terjadi. Mereka semua antusias mengejar para penjahat itu yang berusaha lari dari pandangan mereka. Dan akhirnya, kedua penjahat itu terhadang oleh mereka dari sisi yang berlawanan. Tim Bayangan Bulan di sisi kanan, sementara tim AKLA di sisi lainnya. Sambil terus berlari mendekati kedua penjahat yang sedang kebingungan mencari jalan itu, mereka mempersiapkan senjata masing-masing. Lytro dan Filhener mengeluarkan senjata berpelurunya, Wergon mempersiapkan tongkatnya, Earon mempersiapkan busur emas dan anak panahnya, sementara Jordan menarik anak panah bermata cangkir isapnya dengan tali busur peraknya. Lepasan anak panah dari kedua sisi yang mengarah pada kedua penjahat itupun mengakhiri aksi mereka malam itu.

 

No comments:

Post a Comment