Satu bulan telah berlalu. Selama itu pula, cukup banyak perubahan yang terjadi di Losapins. Trauma tentu masih melekat, tapi orang-orang berusaha bangkit dan mulai banyak meluangkan waktu untuk bisa berkumpul bersama keluarga, teman-teman, serta orang-orang yang dikasihinya. Mereka tidak terus-terusan mementingkan urusan pribadi mereka, walaupun masih ada beberapa yang seperti itu.
Kekacauan yang menyerang
Losapins sebelumnya, telah membuat banyak kerusakan di setiap tempat. Namun,
penduduk kota Losapins bekerja keras untuk memperbaiki semua kerusakan itu,
setiap hari hanya selama satu bulan itu dan dilanjutkan hari-hari berikutnya
saat hari libur bersama. Perasaan suka cita menyambut kebersamaan mereka ketika
bergotong-royong membangun kembali Losapins, menciptakan kehidupan masyarakat
yang harmonis.
Vurpia telah kembali ke
wujud manusianya. Saat ini, dia sedang ditahan di penjara perbatasan, sembari
menunggu keputusan sidang yang akan dilakukan dua hari ke depan. Raut mukanya
terlihat diam dengan pandangan ke bawah seolah sedang memikirkan sesuatu.
Sembilan hari pasca wabah
monster, Jordan terbangun setelah dinyatakan koma. Earon dan teman-temannya
begitu bahagia melihat Jordan dapat pulih kembali. Namun, mereka harus
dihadapkan pada situasi sulit yang tidak biasa terjadi pada Jordan. Saat
pertama kalinya bercermin setelah kepulihannya, Jordan begitu kaget melihat
matanya yang telah berubah. Mata yang sama saat terakhir dia membidik Vurpia.
Dokter tidak dapat memastikan penyebab dari perubahan matanya tersebut.
Seharian penuh Jordan merasa takut dan gelisah, bahkan sampai merengek agar
matanya dapat dikembalikan ke semula. Earon dan teman-teman Jordan tidak tahu
harus berbuat apa, kecuali berusaha untuk terus menghibur dan menyemangatinya.
Dan akhirnya, Jordan kini sudah keluar dari rumah sakit dengan membawa mata
istimewanya tersebut.
Di halaman belakang rumah
Delarmy.
Suasana di wilayah
perbatasan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Pohon-pohon hijau menari-nari
karena terpaan angin sepoi-sepoi. Cahaya matahari pagi menembus kabut, disambut
oleh kicauan burung, dan suara-suara dari balik bukit di sekitarnya.
Jordan berdiri di atas
bebatuan tepi sungai yang jernih dengan arus yang setengah tenang. Kemudian,
datanglah Earon yang muncul dari balik semak-semak.
“Itu dia,” ucap Delarmy
mengantarkan Earon, yang kemudian langsung pergi meninggalkannya.
Tampaknya, keadaan Delarmy
juga sudah membaik.
Jordan menoleh begitu
mendengar suara kehadirannya.
“Apa yang kau lakukan di
sini sendirian sepagi ini?” tanya Earon sambil melangkahkan kakinya mendekati
Jordan.
“Tidak ada. Aku hanya ingin
di sini.”
Earon melihat raut muka
Jordan yang agak murung.
“Kalau begitu, apa yang
membuatmu ingin ke sini?” tanyanya lagi.
Jordan menatap muka Earon
yang sepertinya mengkhawatirkan keadaan dirinya. Seketika Jordan mengubah
ekspresinya menjadi sedikit lebih ceria.
“Aku terbiasa ke sini. Di
saat aku ingin mendapatkan ketenangan, aku selalu berdiri di tepi sungai. Dan
entah kenapa itu membuat beban pikiranku menjadi ringan. Hanya itu.”
“Itu sebabnya kau sering
berada di sungai Chivori,” gumam Earon.
“Apa pernah terlintas di
pikiranmu untuk melompat ke sungai ketika kau merasa tidak sanggup lagi membawa
beban itu?” lanjut Earon.
Jordan terkejut dengan
pertanyaan tersebut.
“Kenapa aku harus melakukan
itu?”
“Karena kupikir,
kemurunganmu karena masih memikirkan mata istimewamu itu. Aku masih ingat
teriakanmu saat pertama kali kau mengetahui keadaan matamu,” katanya dengan
sedikit candaan.
Jordan tertawa kalem nan
malu mendengarnya.
“Saat itu, aku hanya merasa
takut kalau-kalau aku menjadi monster dan tidak bisa kembali,” sahut Jordan.
Suasana menjadi hening sejenak.
Angin bertiup setengah kencang mengenai tubuh Jordan dan Earon.
“Sebenarnya, aku ingin
mengetahui sesuatu,” ucap Earon mengalihkan topik pembicaraan.
Jordan menoleh ke arah
Earon.
“Saat itu, kau bilang kalau
ayah dan ibu pernah menantangmu. Tantangan macam apa yang mereka berikan
padamu?” tanya Earon.
Jordan terdiam sejenak.
“Tidak mudah menyerah dan
tetap bertahan sesakit apapun kondisinya, sampai Kak Volan benar-benar
bahagia,” jawab Jordan lembut.
“Aku hampir kalah setelah
malam kebakaran itu,” lanjut Jordan, “Aku tidak berdaya. Aku bahkan hampir
tidak sanggup lagi untuk berdiri. Tidak terpikirkan olehku untuk kembali,
apalagi melihatmu lagi. Hanya bayangan ayah dan ibu yang setidaknya
memberikanku kekuatan. Sampai akhirnya, Bibi Delarmy menemukanku…. Di sini, di
tempat kita berdiri. Sejak saat itu, aku merasa kehidupan baru menyambutku.
Keluarga baru. Teman-teman baru. Hingga kehidupan itu bisa membuatku melupakan
kehidupan lamaku.”
Earon yang mendengarnya
begitu terharu. Seolah ingin menangisi kesalahannya, namun dia menahannya.
Jordan tertawa kecil, lalu
berkata, “Tapi, siapa sangka kita dipertemukan lagi. Jadi, aku mempunyai
kesempatan untuk memenangkan tantangan itu.”
“Lalu, apa yang kau dapatkan
dari tantangan itu?” tanya Earon lirih.
“Jika Kak Volan bahagia,
maka aku akan merasa lebih bahagia.”
Spontan, Earon langsung
memeluk Jordan dengan sangat erat.
“Aku bahagia, Jordan. Tapi,
aku akan lebih bahagia jika kau pun bahagia,” katanya.
Jordan tersenyum haru
mendengarnya.
“Earon!” seru seseorang memanggil,
yang sekaligus memecahkan suasana.
Earon dan Jordan saling
melepaskan pelukannya dan melihat kehadiran Lytro, Wergon, Filhener, dan Migo.
“Bagaimana kabarmu, Jordan?”
tanya Lytro dalam langkahnya.
“Baik,” jawab Jordan.
“Aku tidak tahu kalau ternyata
ada sungai seindah ini di belakang rumah Bibi Delarmy,” lanjut Lytro.
“Arus sungai ini juga
mengarah ke sungai Chivori,” jelas Wergon.
“Indah sekali,” kata Migo
kagum.
“Hei, Jordan. Bagaimana
keadaan matamu?” gurau Lytro tiba-tiba.
Semua tertawa.
“Kenapa masih membahas itu
lagi?” jawab Jordan malu.
“Karena itu pertama kalinya
aku melihatmu seperti anak kecil, hahahaha.”
Tawa mereka semakin menjadi,
membuat Jordan semakin malu.
“Volan bilang kalau kau bisa
membuat anak panahmu sendiri tanpa anak panah sungguhan? Bukankah itu luar
biasa,” ujar Filhener.
“Ya, bahkan dia belum
mengatakan rahasianya padaku,” sahut Earon, “Apa kau sebegitu pelitnya hingga
tidak mau membongkar resepnya padaku?”
“Mungkin untuk berjaga-jaga
kalau kau akan menyerangnya lagi,” sindir Lytro dengan penuh canda, “Jika
sampai itu terjadi, maka bangunkan saja nagamu itu, Jordan!”
“Maaf, aku lupa akan
mengatakannya saat itu,” kata Jordan, “Sebenarnya, busur kita bisa menggunakan
anak panah dalam bentuk apapun. Aku pernah menggunakan penggaris dan itu
berhasil.”
“Tapi, aku tidak melihatmu
menggunakan sesuatu sebagai anak panahnya.”
“Aku menggunakan udara.”
Seketika, semua diam
tercengang mendengarnya.
“Whoa, itu keren, Sobat,”
ucap Migo kagum.
“Apa kita bisa mencobanya
lagi? Itu akan menghemat senjataku saat mengejar para penjahat,” sahut Earon.
“Sayangnya, tidak. Busur
kita tidak mempunyai kemampuan itu lagi. Si sisik bulan telah mengambil kembali
berliannya. Jadi, busurmu hanya menjadi sebuah busur emas biasa, begitu juga
dengan busur perakku.”
“Bagaimana dengan matamu?”
sahut Wergon, “Kau masih memiliki bagian dari si penjaga berlian itu, ‘kan?
Apakah matamu itu juga hanya menjadi mata biasa?”
Jordan tertawa kecil
mendengarnya.
“Aku tidak tahu itu. Aku
tidak bisa mengendalikan sesuatu yang lain yang ada dalam diriku. Tapi,
sudahlah. Aku senang semua sudah selesai. Kita akhirnya bisa bersama lagi. Itu
yang terpenting.”
“Ya, dan terima kasih,
Jordan. Kau menyelamatkan kami semua,” ucap Lytro.
Mendengar perkataan itu,
kemudian satu per satu secara berturut-turut, Earon, Filhener, Wergon, dan Migo
mengatakan terima kasihnya juga kepada Jordan.
Jordan membalasnya dengan
senyum manis.
Dua hari kemudian, hakim
telah memutuskan hukuman bagi Vurpia, yaitu dipenjara selama dua puluh tahun.
Setelah persidangannya selesai dan melangkah keluar dari ruang sidang, Vurpia
begitu terkejut melihat Earon dan Jordan telah menantinya di halaman depan
gedung pengadilan.
Vurpia menghentikan
langkahnya setelah sampai di hadapan Earon. Mereka berdua justru terlihat canggung
dan tidak mau saling bertatap mata.
“Katakanlah sesuatu!” gumam
Jordan mencoba menetralkan suasana.
Earon menatap Vurpia. Dia
mengembuskan napas melalui mulutnya sebelum dia memulai pembicaraan.
“Aku…, aku…,” ucapnya gugup.
“Maafkan aku, Earon,” sela
Vurpia segera, “Kupikir, kau tidak akan mau melihatku lagi. Aku tidak bisa
berhenti memikirkanmu hanya untuk mengucapkan permintaan maaf ini. Aku senang,
ternyata kesempatan itu masih ada untukku.”
Earon memalingkan wajahnya
dari Vurpia dan tidak berkata apapun. Hal itu membuat Vurpia merasa kalau dia
masih sangat marah padanya. Diapun tidak mau terlalu lama berdiri di depan
Earon. Itu hanya akan membuatnya jenuh dan bertambah kesal, pikirnya.
Tidak kuasa menahan pikiran
itu, Vurpia meneteskan air mata, lalu berkata, “Semoga kau selalu bahagia,
Earon.”
Dalam tangisannya, terselip
tawa kecil.
“Eheh, tentu kau tidak akan
pernah sedih, karena adikmu yang akan selalu membuatmu bahagia. Kalau begitu,
aku tidak perlu memikirkannya lagi,” katanya seraya menatap Jordan yang
membalasnya dengan senyuman tipis.
Lalu, Vurpia memandang lagi
wajah Earon yang masih bisu.
“Selamat tinggal, Earon.”
Perlahan, Vurpia kembali
melangkah. Wajahnya hanya tertutup oleh kesedihan karena perasaannya yang
sungguh berat untuk meninggalkan Earon. Dalam kebisuannya, dia berjalan sambil
terus meneteskan air mata.
Jordan yang melihat
kebungkaman Earon, merasa bingung dan tidak mengerti dengan maksud sikap
kakaknya tersebut.
“Kenapa dia harus meminta
maaf?” ucap Jordan.
Earon langsung memalingkan
mukanya pada Jordan.
“Dia bisa saja membunuh kita
saat terjatuh di ruang bawah tanah, bukan? Tapi, dia masih membiarkan kita
hidup. Jika saja dia mau, mungkin sekarang dia tidak perlu meminta maaf dan
kemenangan menjadi miliknya. Dia mungkin jahat dan yang paling kejam, itu
sebabnya tongkat Pridiatick memilihnya. Tidakkah kau tahu kalau dari sekian
lama generasi pembawa tongkat, dialah generasi yang paling lemah di antara yang
lain? Bukan lemah pada kekuatannya, tapi hatinya. Dia menjadi lemah karena
telah mencintai seseorang. Dan tidak pernah disangka kalau dia akhirnya
mencintai seorang pemegang busur. Tidaklah mudah baginya untuk memutuskan semua
itu. Bahkan, seolah beban yang ditanggungnya menjadi berlipat ganda. Dia masih
mencintaimu, Kak Volan. Bahkan sampai saat ini.”
Earon masih terdiam,
memikirkan sesuatu. Sementara Jordan, dia terus menatap muka Earon dan berharap
akan ada sebuah kata terakhir yang akan keluar dari mulutnya untuk Vurpia.
Vurpia mengangkat salah satu
kakinya untuk masuk ke dalam mobil.
“Aku akan menunggumu,
Vurpia.”
Suara itu, sentak membuat
Vurpia terdiam dengan air mata yang berhenti bercucuran dan napasnya yang
tertahan sejenak.
Pelan-pelan, dia menurunkan
kembali kakinya yang hendak menyentuh dasar mobil, lalu menoleh ke belakang, ke
arah Earon. Vurpia menatap mata Earon, begitu juga dengan Earon yang menatap
mata Vurpia yang masih berlinang-linang. Angin bertiup mengenai tubuh mereka.
Vurpia menunggu ucapan itu terdengar lagi.
“Kalau kau mengizinkan, aku
akan sering menjengukmu. Pandanganku tidak akan terlepas darimu. Aku pasti
menunggumu. Untuk itulah, kau jangan terlalu lama di penjara! Lakukanlah
sesuatu yang baik di sana! Buatlah semua orang tertarik padamu, maka hukumanmu
akan diringankan! Tapi jika itu masih tidak berhasil padamu, maka aku yang akan
langsung mendatangimu.”
Jordan begitu takjub
mendengar ungkapan hati Earon. Begitu juga dengan Vurpia, dia merasa sangat
tersentuh sampai-sampai meneteskan air matanya kembali. Namun, bukan air mata
kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Dia menganggukan kepalanya sambil
tersenyum lebar pada Earon. Earonpun membalasnya dengan senyuman lebar dan mata
yang berkaca-kaca. Vurpia kini dapat pergi dengan tenang dan senang.
Jordan masih belum mampu
memahami semua itu, terlebih pada Earon yang dikiranya juga masih memendam
kemarahannya. Sejenak, pandangan Jordan teralih pada sesuatu di tangan kanannya
yang diangkat setinggi perutnya. Butiran cahaya biru beterbangan di sekitar
tangan Jordan. Diapun hanya tersenyum tipis dan tampak dari raut mukanya yang
meyakini sesuatu yang telah diketahuinya dari butiran cahaya itu. Lalu, tangan
kanannya mengepal menutupi cahaya biru itu, agar tidak ada orang lain yang
melihatnya.
Hari berikutnya, saat
matahari berada pada ketinggian sekitar 60º dari Timur, Jordan mendatangi rumah
Earon. Dia bersama dua sahabat satu atap, yang diiringi oleh tuan rumah, sampai
di depan pintu. Terlihat dua koper besar juga ikut menemani kebersamaan mereka.
Tiga kali ketukan pintu dilakukan oleh Earon, sambil berseru, “Paman Trigar!
Lihatlah siapa yang datang!”
Tanpa menunggu lama,
Trigarpun segera membukakan pintunya. Raut wajahnya terperanjat senang, begitu
melihat Jordan di depan matanya. Dia langsung memeluk erat Jordan sambil
menahan tangisnya.
“Aku tahu kalau kau adalah
Jordanku. Putraku. Kau telah kembali,” kata Trigar.
Semua tersentuh melihatnya.
Kemudian, Trigar melepaskan
pelukannya. Lalu dengan senyum ceria, dia menarik tangan Jordan untuk masuk ke
dalam. Namun sebelum Jordan memasuki rumah itu, sejenak pandangannya beralih
pada Earon. Dari sorotan matanya, dia memberikan isyarat pada Earon, meminta
izin untuk memasuki rumahnya. Earon yang memahami maksud tatapan mata Jordan,
menganggukan kepalanya samar-samar sambil memejamkan kedua mata, sebagai ucapan
selamat datang kembali di istananya.
“Tunggu, Paman!” ujar Jordan
menahan tarikan Trigar, “Aku membawa teman-temanku. Mereka akan tinggal di sini
bersamaku. Itu jika Paman tidak keberatan.”
Trigar tertawa mendengarnya.
“Bicaramu seperti aku orang
asing bagimu. Kenapa kau harus meminta izin dariku? Kau dan Volan adalah
pemilik rumah ini. Kau bagian dari keluarga ini, begitu juga kedua temanmu. Aku
sangat berterima kasih pada mereka yang telah menjagamu selama ini.”
“Yang benar, Jordanlah yang
menjaga kami,” gumam Filhener.
Semua tertawa kecil
mendengarnya.
Kemudian, mereka
bersama-sama melewati garis pintu rumah tersebut.
“Bagaimana dengan bibimu?”
tanya Trigar melangkah masuk, “Kenapa kau tidak mengajaknya untuk sekalian
tinggal di sini?”
“Bibi Delarmy lebih suka
tinggal di rumahnya. Lagi pula, ada pekerjaan yang harus beliau selesaikan di
sana.”
Setelah mengatakan itu,
Jordan menutup pintunya dan tidak terdengar lagi percakapan mereka, walaupun
masih ada deretan pertanyaan dan jawaban yang mereka bicarakan di dalam.
Sore hari sekitar jam
setengah lima, Jordan berjalan sendirian di sepanjang trotoar, melihat-lihat
situasi kota yang sudah normal dengan kegiatan kesehariannya. Sampai di depan
pohon perintis, dia menghentikan langkahnya. Dia mendongak dan mengamati pohon
besar tersebut. Pelan-pelan, telapak tangannya yang terbuka mencoba meraih
batang pohon itu. Ketika telapak tangannya bersentuhan, tiba-tiba pupilnya
memipih dan kilas balik saat wajahnya dahulu pernah menabrak pohon itu,
diperlihatkan lagi padanya. Dia melihat sesuatu yang tersalurkan dengan sangat
cepat dari bawah akar, kemudian mengalir ke batang pohon hingga masuk ke tubuh
Jordan melewati dahinya yang terbentur. Pupil Jordanpun kembali cembung. Dia
mengumpat tawa setelah diperlihatkan kembali kejadian itu. Tapi, dia pun
mengetahui sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat berharga dan bermanfaat bagi
dirinya, penduduk Losapins, bahkan mungkin juga untuk masyarakat dunia. Namun,
wajahnya tetap tenang mengetahui hal itu. Dia kembali melangkah, seolah-olah
tidak terjadi apapun. Biarkan waktu yang menunjukkan semua itu, pikirnya.
Sesuatu yang diketahui
Jordan tersebut adalah bahwa fosil naga penjaga tiga berlian berada pada
kedalaman puluhan meter di bawah tanah Losapins. Kepala naga itu menengadah tepat
di bawah pohon perintis, sementara tubuh besar dan panjangnya berkelok-kelok
hampir menutupi seluruh tanah kota Losapins. Kerangkanya masih utuh, begitu
juga dengan sisik berliannya yang masih membungkus kerangka tersebut.
Jordan menghentikan
langkahnya kembali ketika sampai di suatu tempat yang tidak asing. Dia
tersenyum sambil berdiri mengamati sekitarnya. Cahaya matahari sore di langit bening,
memperjelas pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Taman hijau di tepi
sungai Chivori, kini telah banyak dikunjungi oleh orang-orang. Anak-anak dan
orang tua bermain dan tertawa bersama di tempat itu. Hiasan pantulan cahaya
matahari dari air sungai Chivori yang kembali jernih, membuat hati semakin
tenang dan damai.
Jordan melihat ke bawah, di
jembatan kayu yang sering menjadi tempat mencari ketenangannya. Dia melihat
kakaknya, Wergon, Filhener, dan Lytro telah menunggunya di jembatan itu. Mereka
berempat menatap muka Jordan dari kejauhan, lalu Wergon melambaikan salah satu
tangannya sebagai tanda bahwa mereka tidak mau terlalu lama menunggu Jordan
yang terus-terusan berdiri di tempatnya. Jordan menarik napas dalam-dalam, lalu
mengembuskannya dengan senyuman lebar dan wajah ceria untuk menyambut
orang-orang yang disayanginya tersebut.
Langit berubah menjadi gelap.
Namun, raut yang sama masih terukir di wajah Jordan dengan penampilannya yang
berbeda. Dia bersama Wergon dan Filhener memakai kostum yang sering mereka
gunakan saat melakukan aksi malamnya. Tetapi, aksi yang mereka lakukan kali ini
dengan teknik yang sedikit berbeda.
Walaupun keadaan kota
Losapins menjadi lebih baik, bukan berarti tindak kejahatannya telah berhenti.
Dan mereka bertigalah yang ikut menanganinya. Bukan hanya sebagai mata-mata
saja, mereka bertiga juga turut terjun langsung untuk menangkap para penjahat
itu, terlebih di waktu malam hari. Mereka sepenuhnya sudah mendapatkan jaminan
dari lembaga keamanan tertinggi Losapins dan menjadi bagian dari satu-satunya
tim khusus baru AKLA yang diberi nama Bayangan Bulan.
Tengah malam itu, tim Bayangan
Bulan sedang mengejar dua orang penjahat yang telah mencuri emas dari toko
perhiasan. Dibantu oleh Earon, Lytro, dan anggota polisi lainnya, aksi
kejar-kejaranpun terjadi. Mereka semua antusias mengejar para penjahat itu yang
berusaha lari dari pandangan mereka. Dan akhirnya, kedua penjahat itu terhadang
oleh mereka dari sisi yang berlawanan. Tim Bayangan Bulan di sisi kanan,
sementara tim AKLA di sisi lainnya. Sambil terus berlari mendekati kedua
penjahat yang sedang kebingungan mencari jalan itu, mereka mempersiapkan
senjata masing-masing. Lytro dan Filhener mengeluarkan senjata berpelurunya,
Wergon mempersiapkan tongkatnya, Earon mempersiapkan busur emas dan anak
panahnya, sementara Jordan menarik anak panah bermata cangkir isapnya dengan
tali busur peraknya. Lepasan anak panah dari kedua sisi yang mengarah pada
kedua penjahat itupun mengakhiri aksi mereka malam itu.
No comments:
Post a Comment