KISAH PENULIS DENGAN KARYANYA


Sebuah karya pasti memiliki proses perjuangan dalam penciptaannya. Begitu pula yang dialami oleh penulis ini. Waktu, tenaga, dan pikiran telah banyak ia luangkan untuk bergelut dengan keyboard laptopnya selama bertahun-tahun. Sebelumnya, penulis pernah membuat sebuah novel bergenre romansa saat masih duduk di bangku kelas X. Novel pertama yang ditulis waktu itu menggunakan percakapan antartokoh dengan dua bahasa, Indonesia dan Inggris, terlihat keren bukan. Penguasaan teknik penulisan kala itu yang masih dalam tahap belajar, membuahkan hasil yang cukup memuaskan bagi penulis, karyanya selalu ditolak setiap diajukan ke penerbit. Namun, dia masih tetap merasa bangga karena mampu mencurahkan imajinasinya dalam bentuk tulisan yang bisa dibilang lumayan panjang. Walaupun setelahnya, dia off menulis untuk fokus pada Ujian Nasional.
Tahun 2013 atau mungkin lebih tepatnya saat libur akhir semester ganjil perkuliahan, penulis tergugah kembali untuk menulis sebuah novel. Kali ini, dia bertekad untuk menulis serapi dan seapik mungkin. Kisah yang diangkat dalam novel ini terinspirasi dari cerita Naruto. Ya, karena pada tahun itu juga, dia baru menyukai film anime tersebut setelah bertahun-tahun lamanya film itu ditayangkan. Pada film Naruto, penulis tertarik pada konflik persahabatan antara Naruto dan Sasuke, persaudaraan Sasuke dengan Itachi, dan percintaan Sakura dengan Sasuke (kok jadi Sasuke titik fokusnya ya…). Kombinasi ketiga konflik itulah yang dibangun dalam novel ini untuk para karakter utamanya. Namun penulis yang menyukai unsur kebebasan, lebih memilih latar yang bebas sesuai imajinasi penulis. Menurutnya, kebebasan yang dia pilih tidak membuatnya terikat pada apapun. Bebas mengkombinasikan segala latar dari segala penjuru yang ada di dunia ini. Mengkombinasikan antara hal tradisional dan modern pun akan menjadi suatu pencitraan yang unik. Dan yang terakhir, kisah ini pun dibubuhi dengan hal berbau fantasi, seperti yang diangkat dalam film The Lord of the Rings. Kemudian, terjemahan dari novel The Lord of the Rings dijadikan acuan penulis sebagai teknik membahasakan dan menjabarkan situasi yang ada dalam lingkup setiap tokohnya. Tidak heran, jika bahasa yang dipakai dalam novel ini seperti bahasa novel-novel terjemahan, namun tetap dimengerti alurnya.
Ide sudah muncul, mulailah jari-jarinya memegang keyboard-nya kembali untuk merangkai kata demi kata. Selama proses penulisan, dia tidak bisa setiap saat meluangkan waktunya. Terlebih jika jadwal perkuliahan sudah aktif kembali. Tentu, penulis harus bisa membagi waktunya untuk mengerjakan tugas dan menulis novel. Ketika satu bab sudah selesai, penulis kembali membacanya ulang untuk meralat, barangkali ada kata yang sumbang. Dan tidak dipungkiri pasti ada. Untuk itulah dalam setiap bab, penulis harus membaca ulang minimal dua kali, sebelum akhirnya dilanjut ke bab berikutnya. Terdengar lama dan membuang waktu memang, tapi begitulah cara penulis memantapkan hasil karyanya. Karena sejak awal, dia sudah bertekad untuk membuat sebuah karya yang serapi dan seapik mungkin menurutnya, entah menurut orang lain bisa diterima atau tidak, yang jelas penulis harus merasa sangat puas dengan karyanya itu kelak. Benar, terkadang dia juga merasa jenuh dan lelah, bahkan hampir putus asa dengan caranya itu. Harus memiliki kesabaran yang ekstra ketika dirinya ingin segera menyelesaikannya dengan cara meloncati penjelasan dari gambaran situasi tertentu. Namun ketika hal itu terjadi, hatinya selalu mengatakan aku tidak bisa membayangkan perasaan itu. Itulah yang membuat penulis merangkai kata-katanya kembali dengan teliti. Jika dalam dirinya saja tidak mampu membayangkan tulisannya, apalagi pembacanya. Penelitian juga dilakukan oleh penulis. Walaupun dia sepenuhnya mengambil unsur yang bebas dalam tulisannya, tetap harus diteliti terlebih dahulu agar bisa melakukan kombinasi yang serasi.
Selain menghadapi tantangan di atas, penulis juga sempat terhenti karena selama hampir dua semester harus fokus pada skripsinya. Namun, dia tidak menyerah dan melanjutkan tulisannya, hingga akhirnya resmi selesai pada tanggal 25 desember 2016. Selesai, ya, tinggal kirim ke penerbit yang sesuai dengan kriteria tulisannya, terlebih dengan ketebalan halaman yang bisa dibilang lumayan. Dengan percaya diri, diapun mengirimkannya ke sebuah penerbit, lalu ditolak. Kirim lagi ke penerbit lain, ditolak lagi. Kirim lagi ke lomba novel tahun 2017, tidak masuk kriteria jumlah halaman, ditolak. Penolakan itu terasa sakit memang. Namun, saat itu pula dia mulai mengingat kembali sebuah ungkapan yang pernah dikatakan oleh guru SD-nya. Guru itu mengatakan bahwa ketika masa kecil, penulis mempunyai potensi untuk membuat sebuah karangan, untuk menjadi seorang penulis. Kalimat itulah yang menggugahnya untuk semangat lagi. Hingga akhirnya, dia menemukan sebuah penerbit yang membuka penerbitan gratis bagi karya yang masuk dengan batas minimal jumlah halaman sekian, namun tidak tertera batas maksimal halamannya. Dan itulah yang dijadikan kesempatan besar bagi penulis. Tanpa berlama-lama, dia langsung memasukkan karyanya dan diterima. Setelah karyanya tersebut sudah siap terbit, dia menulis seri selanjutnya dari novelnya tersebut.
Nama Pridiatick diambil dari kata Primary (utama/dasar), Diamond (berlian), dan Sticks (tongkat). Terkesan bebas dalam pengambilan katanya memang, tapi itulah yang penulis sukai. Dan penulis ucapkan terimakasih kepada semua para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk mengetahui sedikit atau lebih dalam tentang novel ini (^_^)

No comments:

Post a Comment