CHAPTER 10: MASA LALU “IKATAN YANG MEMUDAR”

 Malam harinya, keluarga Phosar berkumpul bersama di ruang keluarga. Trigar juga ikut dalam rapat keluarga tersebut. Tak segan-segan Phosar langsung mengawali pembicaraan. Dia meminta Trigar untuk menemani Volan dan Jordan ke taman bermain di pusat kota besok malam.

“Apa Ayah yakin mengizinkan kami keluar pada malam hari?” kata Volan.

“Tentu saja, Nak. Sudah lama kalian tidak keluar malam, maka aku dan ibu kalian sepakat untuk mengizinkan kalian melihat suasana kota di malam hari, terlebih besok adalah malam hari libur. Pasti akan sangat menyenangkan. Tapi, kami tidak bisa menemani kalian karena ada sesuatu yang harus kami lakukan besok.”

Mendengar ucapan dari ayahnya, Volan dan Jordan merasa sangat senang bisa pergi melihat suasana di tengah kota. Tetapi di sisi lain, mereka pun sedih karena tidak ditemani oleh ayah dan ibunya.

Setelah rapat selesai, mereka langsung kembali ke kamar mereka masing-masing. Jordan terkejut ketika ibunya tiba-tiba memanggilnya dari belakang saat ia sedang duduk, mengotak-atik sesuatu di atas meja belajarnya. Reina penasaran terhadap yang dilakukan putranya tersebut, maka ia pun mendekatinya, melihat benda yang masih dipegang di tangan kiri Jordan.

“Jadi, apa yang akan kau berikan?”

“Ah, bukan apa-apa, Bu. Hanya sebuah gantungan kunci,” ucap Jordan seraya memperlihatkan gantungan kunci terbuat dari kuningan yang berbentuk naga api.

“Ini sangat bagus, Aamadav. Dia pasti akan suka,” kata Reina sambil tersenyum dan mengusap rambut Jordan.

Saat itu pula, Reina merogoh saku kiri baju tidurnya. Dia memperlihatkan sebuah mainan lonceng kecil yang diikat dengan pita berwarna biru kepada Jordan.

“Mainan semasa kecilku?” kata Jordan keheranan.

“Lebih tepatnya mainan yang selalu kau pegang selama tiga setengah tahun berturut-turut dan ini hadiah untuk ulang tahunmu.”

“Tidakkah Ibu memberikannya nanti saat ulang tahunku tiba? Dan kenapa Ibu memberiku benda kecil ini?”

“Karena jika aku memberikannya nanti, aku takut akan melontarkan pertanyaan yang sama sepertimu, sehingga mengubah pikiranku untuk tidak memberikannya padamu,” jawab Reina, “Aamadav, ada kenangan yang tak bisa kulupakan saat kau memainkannya, terlebih saat kau pernah hampir menelannya. Aku ingin dengan melihat benda kecil ini, kau akan melihat kenangan masa kecilmu dulu. Dengan begitu, kau akan menyadari siapa dirimu sebenarnya dan bagaimana dirimu seharusnya.”

“Aku tidak mengerti apa yang Ibu katakan,” ucap Jordan dengan menunjukkan wajah lugunya.

Reina tersenyum kecil.

“Tak apa. Mungkin suatu saat nanti kau akan mengerti, Aamadav. Jadi, maukah kau menerima hadiahku ini?”

Dengan senang hati Jordan menerima pemberian dari ibunya tersebut. Dia melihatnya sejenak, lalu membunyikan lonceng itu di dekat telinganya. Suara gerincingnya membuat Jordan tertawa kecil seakan mengingat masa lalunya tersebut.

Sementara Volan yang baru saja berbaring di ranjang, merasa kehausan, maka ia pun bangun, menuruni tangga menuju dapur. Setelah meneguk dua gelas penuh air putih dari sebuah botol di lemari es, dia melihat busur Jordan yang masih tertinggal di atas meja ruang keluarga. Dia mengambil busur tersebut untuk dikembalikan kepada Jordan. Saat tiba di depan pintu kamar Jordan yang terbuka lebar, dia melihat ibunya mengatakan sesuatu kepada Jordan. Volan pun iseng bersembunyi di balik dinding untuk mendengar semua yang mereka katakan.

“Rencanamu berhasil, Aamadav. Kau membuat Volan melakukan hal baik terhadapmu,” kata Reina yang sedang duduk di samping Jordan di atas ranjang.

“Itu tidak akan terjadi tanpa bantuan dari Ibu dan ayah.”

“Jadi, apa permintaanmu selanjutnya yang harus aku lakukan terhadap Volan?”

“Tunggu perintah selanjutnya, Bu!” jawab Jordan sambil tertawa bersama ibunya.

Volan benar-benar sakit hati setelah mendengar pembicaraan tersebut. Jadi selama ini, semua yang ibunya lakukan terhadapnya hanyalah palsu, permintaan dari Jordan saja, pikirnya. Hatinya kini bercampur aduk antara kesedihan dan kebencian. Dia menjatuhkan busur Jordan di tempat ia berdiri saat itu. Belum sempat mendengar semua pembicaraan mereka, Volan langsung berjalan terburu-buru menuju kamar sambil mengusap air matanya, lalu menutup pintu kamarnya dengan cukup keras. Dia berbaring di atas ranjang dengan wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, karena seakan beban kesedihannya tersebut tak mampu ia munculkan di raut wajahnya. Namun, sesekali air mata mengalir jatuh membasahi bantalnya. Dalam hatinya tak lagi ada kasih sayang dan kepercayaan untuk adiknya yang telah mengkhianatinya. Dia mengepalkan kedua tangannya seakan dia ingin membalas rasa sakitnya kelak kepada Jordan.

Sementara di kamar Jordan.

“Terimakasih, Aamadav. Kau telah menyadarkanku. Seandainya aku tahu inilah yang diinginkan Volan, akan kulakukan sejak dulu,” kata Reina yang masih duduk bersama dengan Jordan.

“Apa yang Ibu katakan? Ibu sudah melakukan yang terbaik untuknya sejak dulu. Untuk kami. Terimakasih juga atas segala yang telah Ibu berikan kepada kami.”

Reina tersenyum lebar.

“Kau memang anak yang baik, Jordan. Volan pasti bangga memiliki seorang adik yang selalu menyayanginya,” kata Reina sambil menyentuh dagu dilanjutkan dengan usapan di bahu Jordan.

Perbincangan mereka malam itu diakhiri dengan pelukan satu sama lain. Dan tak lupa, Reina mencium dahi Jordan serta mengucapkan selamat malam. Setelah ibunya keluar dari kamarnya, Jordan mengambil gantungan kunci yang telah ia bungkus kado bersama ibunya. Dia melihat-lihat kado tersebut dengan senyuman kecilnya dan meletakkan kembali di atas dua tumpukan buku di mejanya. Beberapa saat kemudian, dalam pikirannya teringat akan busurnya. Dia mencarinya di setiap tempat dalam kamarnya tersebut. Di bawah meja, ranjang, bantal, di dalam kotak mainannya, tetapi tidak dapat ia temukan. Dia pun segera turun menuju ruang keluarga, namun tidak juga ia temukan. Dia mulai resah kehilangan busur kesayangannya tersebut. Saat berjalan kembali ke kamarnya, Jordan merasa senang ketika ia melihat busurnya tergeletak di depan sisi kanan pintu kamarnya. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung mengambil busurnya. Namun, ketika jari-jarinya mulai menyentuhnya, suara itu terdengar lagi di telinga Jordan. Suara yang sudah cukup lama tidak mengikutinya tersebut, kini mulai membayanginya lagi. Dia mulai merasa ketakutan dan segera tidur. Sesaat setelah itu, dia pun baru memikirkan kenapa busurnya bisa sampai di depan kamarnya. Mungkinkah ada orang yang sengaja meletakkannya di sana ataukah memang dia yang telah menjatuhkannya atau hantu yang mengatakan bersabarlah yang melakukannya. Sedikit rasa merinding saat pikiran terakhir Jordan tersebut muncul. Tapi, tak begitu ia hiraukan semua pikiran tersebut. Dia pun kembali memejamkan matanya.

Malam hari libur pun tiba. Volan dan Jordan berkeliling ke taman bermain dengan membawa tas yang berisi benda-benda kesayangan mereka bersama Trigar. Jordan terlihat begitu senang dan ingin mencoba setiap permainan yang ada di sana. Dia menarik tangan Trigar ketika ia benar-benar ingin memainkannya. Tapi, Trigar justru selalu menahan tarikannya dan mengatakan nanti dulu. Sedangkan, Volan terus terdiam dengan pandangan kosong yang mengarah ke bawah. Trigar yang mengamatinya sejak berangkat dari rumah merasa khawatir dengan keadaan Volan tersebut.

“Apa kau baik-baik saja, Volan?” tanya Trigar dengan memegang erat tangan kiri Volan.

Volan hanya terdiam tidak menanggapi pertanyaan Trigar.

“Volan, apa kau kelelahan?” tanya Trigar lagi.

Volan tetap terdiam dengan pandangan kosong yang terus mengarah ke bawah.

Jordan pun merasa khawatir dengan yang dilakukan oleh kakaknya tersebut. Maka, dia mencoba untuk mengajak Volan ke permainan memanah. Mungkin itu ide yang bagus, pikir Trigar. Jordan dan Trigar berusaha memberikan dorongan agar Volan mau memainkannya dan berhenti menampilkan raut muka tak enaknya. Tapi, dia tetap saja diam. Mereka berdua tak tahu apa yang terjadi pada Volan. Mereka berdua tak tahu apa yang harus mereka lakukan padanya.

“Volan, kau punya ide apa yang harus kita lakukan? Ayo, kita bersenang-senang bersama malam ini!” kata Trigar berusaha menghibur Volan.

Volan masih saja diam, tetapi dia memperlihatkan tatapan tajam mata birunya kepada Jordan. Jordan pun merasa takut karena selama hidupnya, semarah apapun Volan kepadanya, tak pernah menunjukkan tatapan mata semengerikan itu.

“Aku ingin pulang!” ajak Volan.

“Tapi Volan, kita belum…,”

“Sekarang!!!” bentak Volan sebelum Trigar melanjutkan perkataannya.

Trigar pun terpaksa menerima ajakan Volan tersebut.

Pada saat masuk ke mobil, Trigar merasa bingung karena jam tangannya menunjukkan pukul 10.33. Itu masih terlalu lama untuk meperlihatkan kejutannya nanti. Dia yang pada saat itu menyopir mobil, tentu mendapat ide untuk memperlambat laju kendaraannya dan berputar mengelilingi kota, menghabiskan banyak waktu agar sampai di rumah tepat waktu. Sementara Volan dan Jordan yang duduk di jok belakang, hanya bisa saling menutup mulut. Walaupun biasanya Jordan yang selalu memulai pembicaraan, tetapi untuk kali ini rasanya bukan saat yang tepat baginya. Jordan menatap wajah Volan. Dia selalu tahu arti dari setiap ekspresi yang muncul di wajah kakaknya. Kali ini, dia melihat ada sesuatu yang membuat hati kakaknya hancur.

Di dalam suasana mobil yang terasa sungguh tak nyaman, Jordan mengambil handphone yang ada di dalam tasnya. Volan melirikkan matanya dan melihat Jordan memencet tombol kombinasi. Jordan mendekatkan handphone-nya ke telinganya dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya seakan dia merahasiakan pembicaraannya terhadap Volan. Beberapa menit kemudian, Jordan kembali memasukkan handphone-nya ke dalam tas. Sudah sekitar satu jam lebih empat puluh lima menit mengelilingi kota, terdengar sirene mobil pemadam kebakaran. Semua kendaraan menepi, begitu juga dengan mobil yang Trigar kemudi. Tiga mobil pemadam kebakaran beserta sebuah mobil polisi dan ambulan melaju begitu kencang. Saat suara sirene paling keras terdengar oleh Jordan, saat itu pula mengubahnya menjadi bisikan kata bersabarlah di telinganya. Namun sesaat setelah itu, ada bisikan lain yang berseling dengan suara sirene yang semakin memudar. Bisikan tersebut seakan merupakan ancaman bagi dirinya. Hatinya menjadi sangat rusuh ketika dia mendengar ikatanmu akan lenyap sebentar lagi.

“Paman Trigar, apakah kau yang mengatakan itu?” tanya Jordan sedikit ketakutan.

“Mengatakan apa? Aku terus menutup mulutku selama perjalanan yang tidak mengenakkan ini.”

Dari kaca spion tengah, Trigar melihat Volan melirikinya. Dia pun segera kembali mengarahkan pandangannya ke depan.

Tetapi, bisikan itu terdengar lagi di telinga Jordan.

Kau akan kehilangan segalanya.”

“Hehe. Kau boleh bercanda, Paman. Tapi, aku serius menanyakannya!” ucap Jordan yang semakin ketakutan.

“Aku pun serius, Jordan. Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Jordan menatap Volan, tak mungkin dia yang mengatakan itu. Jordan mencoba menenangkan dirinya dengan menutup matanya sejenak. Suara sirene sudah tak terdengar lagi, tetapi bisikan itu semakin kuat.

 

Aku bisa merasakanmu, Sang pemegang busur.

Ikatanmu akan lenyap sebentar lagi.

 

Jordan mencoba membuka matanya, namun seakan ada sesuatu yang memaksa dia untuk terus memejamkan matanya.

 

Kau akan kehilangan segalanya.

Tidak akan ada kebahagian bagimu.

 

Dia mulai merasa sangat ketakutan dan jantungnya berdebar kencang. Dia terus berusaha untuk membuka matanya, bahkan mulutnya pun seakan terkunci.

 

Yang akan kau lihat hanyalah pertumpahan darah

di antara kau dan saudaramu.

Dan kalian akan mati.

 

Sekejap Jordan langsung berteriak, “Tidaaaaak!!!!”, dengan kerasnya sambil membuka lebar-lebar kedua matanya.

Trigar begitu kaget mendengar teriakan tersebut hingga membuatnya mengerem mendadak. Beruntung kendaraan yang berada tepat di belakangnya dapat menghindarinya, sehingga tidak terjadi tubrukan.

Trigar langsung memalingkan muka ke belakang dan bertanya, “Jordan, apa yang terjadi?!”.

“Mungkin pikiran anehnya mulai kumat!” sahut Volan.

“Cukup, Volan! Jordan, ada apa?”

“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Jordan dengan napas yang masih terengah-engah dan pandangan gelisah yang mengarah ke bawah.

“Bagaimana aku bisa percaya, sementara wajahmu saja sepucat itu. Kau hampir membuat jantungku terlempar.”

Jordan menarik napas dalam-dalam.

“Maaf, Paman.”

Jordan mencoba menenangkan dirinya, namun wajahnya masih tampak begitu resah.

Tiba-tiba saja handphone Trigar berdering. Dia segera mengambil handphone dari saku kiri jaketnya dan mengangkatnya. Beberapa detik setelah menjawab halo, dia sangat terkejut mendengar yang dibicarakan oleh orang dibalik telepon tersebut. Dia segera menutup teleponnya dan menarik persneling mobil, melaju dengan kecepatan tinggi. Volan dan Jordan hanya bisa duduk terdiam atas apa yang dilakukan oleh Trigar tersebut.

Mereka hampir sampai di depan gerbang rumah. Tetapi, ada yang terlihat aneh bagi mereka. Banyak orang berkerumun di sepanjang jalan menuju rumah mereka. Langit tampak kemerahan di tempat yang tak jauh dari rumahnya, tak bisa diperkirakan oleh Jordan dan Volan apa itu sebenarnya.

“Apa yang sedang terjadi?” tanya Volan penasaran.

Trigar tak tahu apa yang harus dia katakan pada dua anak itu. Dia hanya bisa membiarkan mereka melihat situasi yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, tanpa bicara sepatah katapun. Sesampainya di depan gerbang, mereka bertiga benar-benar terkejut ketika melihat rumahnya telah ditelan api. Volan dan Jordan langsung membuka pintu mobil, namun Trigar menguncinya. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka di saat situasi tegang seperti itu. Dengan membawa remote kontrol mobilnya, dia segera turun dari mobil untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

Volan dan Jordan terus meneriaki ayah dan ibunya dari dalam mobil. Mereka berdua hanya bisa melihat situasi layaknya menonton televisi. Terlihat seorang pelayan wanita menghampiri Trigar yang sedang berbicara pada dua orang polisi. Dia menangis sambil mengatakan sesuatu padanya. Trigar berusaha membuatnya tenang. Bersama dengan wanita itu, dia pun melihat keadaan orang-orang yang masih selamat. Volan dan Jordan terus melihat keadaan di sekeliling mereka. Tiga mobil kebakaran yang melewatinya telah diparkir di depan rumahnya. Para pemadam kebakaran sibuk mencari cara agar apinya yang melahap rumahnya cepat dipadamkan. Beberapa orang di sekitarnya ada yang berlari kebingungan, ada yang tampak resah, sedih, marah, kesal, dan yang jelas, tak sedikit pun muncul senyuman di wajah mereka.

Sudah cukup lama Trigar meninggalkan Jordan dan Volan, akhirnya dia pun masuk kembali ke dalam mobil tanpa berkata apapun. Yang dia inginkan hanyalah segera membawa mereka berdua pergi dari tempat itu.

“Paman, apa yang terjadi? Di mana ayah dan ibu?” tanya Volan gelisah.

Trigar terdiam.

“Paman Trigar?!”

“Semuanya akan baik-baik saja.”

“Di mana ibu dan ayah?!” tegas Volan.

“Aku bilang semua akan baik-baik saja, Volan!”

“Jawabanmu tak ada hubungannya dengan pertanyaanku!”

Trigar tak menyahutnya lagi, sehingga membuat Volan begitu kesal padanya. Sementara itu, Jordan hanya bisa menatap wajah mereka berdua yang membuatnya semakin cemas.

Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah tanpa penerangan apapun. Rumah yang terletak di tepi jalan menuju desa Wesnoreast, dengan jarak terdekat dengan rumah lainnya sekitar dua ratus meter. Jordan turun dari mobil, diikuti Volan dan Trigar. Karena begitu gelapnya, membuat Volan tersandung saat berjalan menuju depan pintu rumah.

“Hati-hati, Volan!” kata Trigar dengan memegang tangan Volan.

“Di mana kita sekarang?” tanya Jordan.

“Di rumahku.”

Trigar mulai membuka kunci pintu rumahnya. Dengan senternya, dia menyoroti setiap penjuru ruangan yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba, mengubrak-abrik tempat-tempat yang memungkinkan dia menemukan alat penerangan lainnya. Beruntung, terdapat tiga buah lilin serta sebungkus korek api yang berada di dalam laci meja di perpustakaan kecilnya. Lilin itu ia nyalakan dan diletakkan di atas meja ruang tamunya. Trigar duduk di atas sofa tuanya dan menarik napas dalam-dalam, sementara Volan dan Jordan duduk di kedua sisinya. Trigar memegang erat tangan kedua anak itu. Wajahnya berubah menjadi sedih dan tampak air mata mengalir di wajahnya. Dia tak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana.

“Paman, katakanlah sesuatu,” ucap Jordan yang semakin cemas melihatnya.

Trigar terus mencucurkan air mata menatap wajah keluguan mereka berdua. Sejenak dia menutup mata sambil mengembuskan napas, lalu berkata, “Kalian istirahatlah terlebih dahulu, karena besok kalian harus….”

“Harus apa?”

Suasana sejenak terasa hening.

“Besok kalian harus mendatangi pemakaman orang tua kalian.”

Volan dan Jordan sangat terkejut mendengar perkataan Trigar tersebut. Keduanya tidak percaya dengan yang dikatakannya.

“Hehe. Leluconmu bagus juga, Paman,” kata Volan sambil menahan tangis.

Trigar hanya terdiam menatap Volan dengan wajah dukanya.

“Katakan kalau kau sedang bercanda, Paman! Katakanlah!” sahut Jordan yang mulai mencucurkan air mata.

“Kau benar, Jordan. Aku memang sedang bercanda,” ucap Trigar dengan tangis yang menjadi-jadi.

Jordan dan Volan pun menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat tubuh Trigar. Malam itu sungguh terasa menjadi malam yang sangat panjang. Tak bisa tidur, itulah yang mereka alami.

Keesokan harinya, Jordan dan Volan bersama para pelayan rumah yang masih selamat hadir di pemakaman tiga korban tragedi kebakaran malam terakhir. Mereka dimakamkan sesuai dengan tradisi masyarakat Losapins, sederhana, tanpa tabur bunga, dan kuburan mereka hanya ditandai dengan sebuah batu setinggi satu jengkal. Tak peduli apakah mereka dari golongan atas, menengah, maupun bawah, mereka dimakamkan dengan cara yang sama.

Di depan kuburan orang tuanya, Jordan dan Volan tak henti-hentinya menangisinya. Beberapa pelayan mencoba membuat mereka tenang, begitu pula dengan Trigar yang tak kuasa melihat kesedihan dua bersaudara itu. Dia terus berada di dekat mereka dengan menggandeng erat tangannya.

Setelah pemakaman selesai, mereka bertiga pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Mereka juga diberitahu kronologi kebakaran tersebut oleh salah seorang polisi yang menyelidikinya. Dari saksi mata yang telah ia wawancarai, sumber api berasal dari lantai dua, tepatnya dari kamar Volan. Mereka mengatakan bahwa majikannya telah menyuruh empat orang pelayan untuk menyalakan banyak lilin di kamar Volan sebagai kejutan ulang tahunnya. Karena saat itu situasi pintu jendela kamarnya masih terbuka lebar, menyebabkan api menjadi semakin besar dan cepat menjalar di seluruh ruangan tersebut. Saat itu semua pelayan berada di dalam kamar, yang terbagi oleh kamar kelompok pria dan wanita, yang letaknya berada di lantai pertama, untuk bersiap-siap menunjukkan kejutannya. Mereka baru mengetahui api sudah menjalar pada sebagian kecil lantai atas ketika salah seorang pelayan wanita keluar untuk pergi ke kamar mandi, berteriak minta tolong, sehingga menggemparkan seisi rumah. Mereka terbirit-birit keluar dari rumah. Namun ketika semuanya berkumpul di halaman, menjauh dari kobaran api, mereka baru menyadari bahwa majikannya masih terjebak di dalam jilatan api tersebut. Lalu, seorang pria yang menjabat sebagai tukang kebun kembali masuk untuk menyelamatkan mereka. Hingga mobil kebakaran datang pun belum ada tanda-tanda keberadaannya. Mereka mengetahui bahwa ketiganya telah meninggal ketika petugas pemadam kebakaran berhasil menemukannya. Diperkirakan dua majikannya terkunci di dalam kamar dan tak bisa keluar karena kepanikan mereka. Sedangkan si tukang kebun berusaha mendobrak pintunya, namun kayu atap yang telah digerogoti api, jatuh tepat mengenai tubuhnya.

Ketika hari mulai gelap, Volan, Jordan, dan Trigar sudah kembali ke rumah. Mereka pulang dengan suasana yang masih duka, kemudian duduk istirahat di ruang tamu. Trigar melihat Volan dan Jordan yang terus-terusan berwajah murung, maka dia berusaha membangkitkan mereka.

“Mmmm, siapa di antara kalian yang mau es krim?” hibur Trigar sambil tersenyum lebar.

Volan dan Jordan hanya menanggapinya dengan pandangan kosong. Senyuman Trigar sedikit menghilang.

“Jordan, apa kau mau es krim?”

Jordan menatap wajah Trigar, namun air matanya kembali mengalir di pipinya.

“Tentu, Paman Trigar. Bawakan kami beberapa es krim, karena kami sangat kepanasan,” jawab Jordan dengan isakan kecil.

“Baiklah, kalau begitu kalian tunggu di sini. Aku akan kembali secepat mungkin.”

Trigar meninggalkan mereka berdua sendiri di ruangan tersebut. Dia juga berniat untuk membeli lampu untuk menerangi rumahnya yang gelap.

Sudah sekitar satu jam, Trigar belum juga kembali. Rumah tampak menyeramkan, terlebih semua pintu rumah tertutup dan lilin sebentar lagi habis. Volan dan Jordan terus duduk tanpa bicara, menunggu Trigar pulang.

“Kenapa ini terjadi padaku?” tanya Volan tiba-tiba dengan pandangan kosong mengarah ke depan.

Jordan tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Yang jelas, dalam hatinya ada perasaan bersalah yang amat mendalam. Dia mulai menggeledah sesuatu di dalam tasnya. Sebuah kotak yang dibungkus cantik, langsung ia perlihatkan kepada Volan. Volan hanya terdiam melihat hadiah tersebut.

“Selamat ulang tahun, Kak. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu.”

Volan mengambil hadiah itu dari tangan Jordan dan segera membukanya. Dia tersenyum kecil melihat gantungan kunci yang diberikan dari Jordan tersebut. Namun, hatinya justru semakin sedih, mengingat ayah dan ibunya berniat memberikan kejutan di ulang tahunnya. Dia pun kembali meneteskan air mata di hadapan Jordan.

“Seandainya ini tak terjadi, mungkin aku akan merasa sangat bahagia melihat kejutan ayah dan ibu.”

Jordan pun mulai menangis.

“Ini salahku. Jika saja aku tidak membuat rencana semacam itu, pasti ini tidak akan menimpa ayah dan ibu.”

Volan terkejut mendengar perkataan Jordan. Dia menatap wajah bersalah adiknya.

“Apa maksudmu?”

“Aku yang meminta ibu untuk menyalakan lilin-lilin yang telah kusiapkan di kamarmu. Maafkan aku, Kak! Aku hanya mencoba membuatmu terkesan. Maafkan aku!”

Tak tampak lagi kesedihan di wajah Volan. Dia justru tertawa kecil.

“Jordan, bukankah hari ini juga hari ulang tahunmu? Aku juga punya sesuatu untukmu,” kata Volan tenang.

“Kakak memaafkanku?”

“Kau akan tahu jawabannya setelah kuberikan hadiahnya padamu. Sekarang, tutuplah matamu.”

Jordan menutup mata sesuai permintaan kakaknya. Volan mulai mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia memegang pergelangan tangan kanan Jordan yang menengadah dan didekatkannya di atas meja.

“Tetaplah menutup matamu, Jordan. Hadiah ini khusus kuberi untukmu agar kau selalu mengingat betapa sayangnya aku padamu.”

Jordan tak sabar untuk membuka mata dan melihat hadiah yang diberikan dari Volan. Dia terus menutup mata, menunggu hingga hadiahnya tersentuh oleh tangannya. Tapi, tiba-tiba dia menjerit kesakitan dan langsung membuka matanya. Suara jeritannya terdengar keras hingga membuat burung hantu yang bertengger di pohon halaman rumah, terperanjat. Jordan terkejut ketika anak panah sudah menembus telapak tangan kanannya hingga menancap di meja. Dia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Volan, tapi Volan justru semakin memegangnya erat dan menusukkannya lebih dalam. Jordan pun hanya bisa menangis kesakitan dan terus memohon pada Volan untuk menghentikan perbuatannya.

“Bagaimana, Jordan?! Inilah yang kurasakan selama aku hidup bersamamu! Dan mulai sekarang, kau akan mengganti semua rasa sakit yang pernah kuterima!”

Tangan kiri Jordan meraba-raba mencari sesuatu yang dapat ia manfaatkan dalam situasi tersebut. Tangannya meraih tas yang terletak di samping kirinya dan segera memukulkannya ke wajah Volan dengan keras. Kejadian tersebut membuat meja tersentak sehingga lilin yang hanya tinggal tiga sentimeter tersebut padam. Jordan pun segera mencabut anak panah yang menembus tangannya dan menancap kuat di meja. Anak panah sudah terlepas dari meja, tapi rasa sakitnya yang luar biasa membuat Jordan tak sanggup melepaskannya dari tangannya sendiri. Dia hanya bisa mencoba menjauh dari Volan yang hampir meraihnya kembali. Situasi sangat gelap, penerangan hanya bersumber dari cahaya bulan yang melewati jendela kaca di ruangan tersebut. Volan melihat bayangan menuju pintu dapur. Pasti itu Jordan, pikirnya. Dia berjalan menggerayang menuju dapur dengan membawa busur serta anak panahnya. Dia berdiri di dekat pintu dapur. Matanya begitu awas mengamati situasi di dalam dapur dan berharap ada sesuatu yang menjadi tanda-tanda keberadaan Jordan.

“Lari dan sembunyilah, Jordan! Karena aku akan terus mencarimu dan luka di tanganmu itulah yang akan memberikanku petunjuk akan keberadaanmu! Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku!”

Jordan merintih kesakitan di bawah meja dapur tempat ia bersembunyi. Ingin sekali ia berteriak menangis, tapi yang bisa ia lakukan hanyalah meneteskan air mata menahan rasa sakitnya. Lalu tiba-tiba saja, Volan muncul di hadapannya dengan memegang kedua kakinya. Jordan menjerit dan berusaha keluar dari sisi meja lainnya. Namun, Volan terus menarik kakinya agar tubuhnya bisa keluar ke arahnya. Jordan mencoba meraih salah satu kaki meja, lalu berpegangan erat padanya.

“Kemarilah, Adik kecilku!”

Jordan tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Tak ada sesuatu yang dapat ia gunakan untuk menahan Volan. Kemudian, Jordan melepaskan pegangannya dan langsung mencabut anak panah yang masih menembus telapak tangannya. Dengan segera, ia menggoreskan mata anak panah tersebut kepada Volan sehingga mengenai lengan kanannya. Saat itu juga pegangan di tangan kanan Volan terlepas. Jordan langsung menendang Volan hingga membuat tubuhnya roboh ke belakang. Jordan segera bangkit, namun Volan segera mengambil anak panah yang Jordan jatuhkan didekatnya. Dia mencoba meraih Jordan kembali dengan mengarahkannya anak panah yang berada di genggaman tangan kanannya. Anak panah itu menancap lengan kiri Jordan. Karena saat itu yang ada di pikiran Jordan hanyalah ingin segera lari keluar dari dapur, sementara Volan ingin mendapatkannya, terjadi tarikan di antara keduanya yang menyebabkan sobekan memanjang di lengan Jordan. Begitu sakit Jordan rasakan, tapi dia terus berlari menghindari Volan yang menggila. Volan berusaha mengejarnya. Dari depan pintu dapur, ia melihat Jordan berlari menuju pintu depan rumah dengan membawa tasnya. Kemudian Volan mengambil busur dan sebuah anak panah yang ia sandang, lalu membidikkannya. Anak panah itu mulai dilepaskan mengarah pada Jordan. Tapi beruntung, Volan salah memprediksi sehingga Jordan mampu menghindarinya. Anak panahnya menancap pada dinding dekat dengan gawang pintu. Volan berlari mengejarnya dan hampir jatuh karena tersandung sesuatu. Sesampainya di depan pintu, Volan tidak melihat keberadaan Jordan lagi. Jordan berhasil melarikan diri yang membuatnya begitu jengkel.

“Jordan!!!!!” teriak Volan begitu keras.

Beberapa saat kemudian, Trigar pulang dengan membawa sekantong plastik berisi belanjaannya. Dia terkejut melihat Volan duduk sendiri sambil merintih kesakitan. Dinyalakan senternya, ia pun segera mendekatinya dan meletakkan barangnya di atas meja.

“Volan, apa yang terjadi? Ada apa dengan lenganmu?!” kata Trigar cemas seraya memegang lengan kanan Volan, lalu duduk dekat di sampingnya.

“Jordan yang melakukannya.”

“Apa?! Bagaimana bisa? Di mana dia sekarang?”

“Dia hampir membunuhku, lalu melarikan diri!”

Hati Trigar seketika terguncang ketika mendengarnya.

“Tidak mungkin,” sahut Trigar sambil bangkit berdiri di hadapan Volan.

“Kau tidak percaya padaku?!” ucap Volan dengan tatapan tajamnya.

Dia melihat begitu besar kebencian di mata Volan, begitu mengerikan, begitu marah. Lalu, senternya tersorot pada meja dan melihat begitu banyak darah di atasnya.

“Ini darah apa?”

Volan tak menjawabnya, hanya terus memegang tangannya yang sakit. Itu membuat Trigar mencurigainya. Dia melihat luka yang ada pada lengan Volan. Tak mungkin luka goresannya bisa mengeluarkan darah sebanyak itu, pikirnya.

“Volan, apa yang telah kau lakukan pada Jordan?!”

“Aku tidak melakukan apapun!”

“Lalu, ini darah siapa?!” kata Trigar mulai cemas.

Volan masih tak menjawabnya.

“Volan?!” bentak Trigar keras-keras.

“Itu darah Jordan. Puas! Aku melakukannya untuk menghentikan kegilaannya. Dia terus mencoba menikamku!”

“Bagaimana bisa dia melakukan itu?! Jordan tak mungkin melakukannya, terlebih padamu!”

“Dengan anak panahnya! Dia pun yang telah membunuh ayah dan ibu. Merencanakan kejahatannya seakan-akan terlihat baik bagi orang lain. Paman pun tahu bahwa kejutan itu adalah idenya, ‘kan? Lalu, apa yang membuat Paman ragu kalau Jordan tak mungkin melakukan ini terhadapku?! Dia memang sengaja melakukan semua ini agar bisa memperoleh kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Dia memanfaatkan semua orang, bahkan ayah dan ibu.”

“Bisa-bisanya kau menuduh adikmu begitu! Dia tak pernah sedikit pun berniat untuk menyakiti orang lain! Bagaimana juga anak panahnya bisa melukaimu?! Kau bohong, Volan!”

“Erghhh, kenapa orang-orang selalu membelanya?! Tidakkah Paman menyadari betapa liciknya dia?! Paman tertipu oleh wajah lugunya saja!”

“Jadi benar, ini bukan karena Jordan! Di mana letak tanggung jawabmu untuk selalu melindungi adiknya?!”

“Dia bukan adikku! Dan tak kan pernah menjadi adikku lagi. Selamanya!”

Trigar pun mulai merasa sangat marah pada Volan, seakan tangannya ingin meremas kekeraskepalaan Volan tersebut.

“Katakan di mana Jordan sekarang?!”

“Sudah kukatakan kalau dia pergi entah ke mana.”

“Kenapa kau tidak mencarinya?!”

“Kalau begitu Paman cari si parasit itu dan bawa dia kemari, sehingga aku bisa membuat hidupnya menderita!”

“Siapa yang kau sebut parasit?!”

“Jordan!”

Trigar langsung menampar wajah Volan dengan cukup keras. Suasana terasa hening sejenak.

“Aku harap kau menyadari semua yang baru saja kau katakan, Volan,” kata Trigar dengan napas tenang.

Volan langsung terdiam, tak berkata apapun sambil memegang pipi bekas tamparannya. Sementara itu, Trigar berjalan cepat keluar pintu untuk mengejar Jordan. Berjam-jam sudah Trigar mencarinya, tapi tak ia temukan jejaknya. Trigar sangat khawatir dengan keadaan Jordan, terlebih langit malam mulai tampak suram. Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali ke rumah dan melanjutkan pencarian keesokan harinya. Volan melihat Trigar muncul di depan pintu dengan wajah yang begitu gelisah. Tapi sesaat kemudian, dia memalingkan pandangannya dari Trigar, tak peduli akan keadaannya saat itu.

Keesokan harinya, Trigar mulai melanjutkan lagi pencariannya. Sambil mengemudikan mobilnya secara perlahan, menelusuri setiap jalan di wilayah kota Losapins, tetapi tetap saja dia tidak dapat menemukannya. Trigar tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, maka dia pun melaporkan kasus kehilangan anak tersebut kepada polisi. Berminggu-minggu sudah tidak ada kabar mengenai Jordan dari kepolisian, dia pun mulai menerima atas hilangnya Jordan. Tetapi, dia akan terus berharap bisa melihat wajah polosnya lagi.

Sementara itu, Volan justru tidak menerima jika Jordan tidak ditemukan. Dialah yang akan terus mencarinya sampai kapan pun dan berharap suatu saat nanti, dia dapat membalas penderitaan yang pernah Jordan lakukan padanya.

 


No comments:

Post a Comment