Malam harinya, keluarga Phosar berkumpul bersama di ruang keluarga. Trigar juga ikut dalam rapat keluarga tersebut. Tak segan-segan Phosar langsung mengawali pembicaraan. Dia meminta Trigar untuk menemani Volan dan Jordan ke taman bermain di pusat kota besok malam.
“Apa Ayah yakin mengizinkan
kami keluar pada malam hari?” kata Volan.
“Tentu saja, Nak. Sudah lama kalian tidak keluar malam, maka aku dan ibu kalian sepakat untuk mengizinkan kalian melihat suasana kota di malam hari, terlebih besok adalah malam hari libur. Pasti akan sangat menyenangkan. Tapi, kami tidak bisa menemani kalian karena ada sesuatu yang harus kami lakukan besok.”
Mendengar ucapan dari
ayahnya, Volan dan Jordan merasa sangat senang bisa pergi melihat suasana di
tengah kota. Tetapi di sisi lain, mereka pun sedih karena tidak ditemani oleh
ayah dan ibunya.
Setelah rapat selesai,
mereka langsung kembali ke kamar mereka masing-masing. Jordan terkejut ketika
ibunya tiba-tiba memanggilnya dari belakang saat ia sedang duduk, mengotak-atik
sesuatu di atas meja belajarnya. Reina penasaran terhadap yang dilakukan
putranya tersebut, maka ia pun mendekatinya, melihat benda yang masih dipegang
di tangan kiri Jordan.
“Jadi, apa yang akan kau
berikan?”
“Ah, bukan apa-apa, Bu.
Hanya sebuah gantungan kunci,” ucap Jordan seraya memperlihatkan gantungan
kunci terbuat dari kuningan yang berbentuk naga api.
“Ini sangat bagus, Aamadav.
Dia pasti akan suka,” kata Reina sambil tersenyum dan mengusap rambut Jordan.
Saat itu pula, Reina merogoh
saku kiri baju tidurnya. Dia memperlihatkan sebuah mainan lonceng kecil yang
diikat dengan pita berwarna biru kepada Jordan.
“Mainan semasa kecilku?”
kata Jordan keheranan.
“Lebih tepatnya mainan yang
selalu kau pegang selama tiga setengah tahun berturut-turut dan ini hadiah untuk
ulang tahunmu.”
“Tidakkah Ibu memberikannya
nanti saat ulang tahunku tiba? Dan kenapa Ibu memberiku benda kecil ini?”
“Karena jika aku
memberikannya nanti, aku takut akan melontarkan pertanyaan yang sama sepertimu,
sehingga mengubah pikiranku untuk tidak memberikannya padamu,” jawab Reina,
“Aamadav, ada kenangan yang tak bisa kulupakan saat kau memainkannya, terlebih
saat kau pernah hampir menelannya. Aku ingin dengan melihat benda kecil ini,
kau akan melihat kenangan masa kecilmu dulu. Dengan begitu, kau akan menyadari
siapa dirimu sebenarnya dan bagaimana dirimu seharusnya.”
“Aku tidak mengerti apa yang
Ibu katakan,” ucap Jordan dengan menunjukkan wajah lugunya.
Reina tersenyum kecil.
“Tak apa. Mungkin suatu saat
nanti kau akan mengerti, Aamadav. Jadi, maukah kau menerima hadiahku ini?”
Dengan senang hati Jordan
menerima pemberian dari ibunya tersebut. Dia melihatnya sejenak, lalu
membunyikan lonceng itu di dekat telinganya. Suara gerincingnya membuat Jordan
tertawa kecil seakan mengingat masa lalunya tersebut.
Sementara Volan yang baru
saja berbaring di ranjang, merasa kehausan, maka ia pun bangun, menuruni tangga
menuju dapur. Setelah meneguk dua gelas penuh air putih dari sebuah botol di
lemari es, dia melihat busur Jordan yang masih tertinggal di atas meja ruang
keluarga. Dia mengambil busur tersebut untuk dikembalikan kepada Jordan. Saat
tiba di depan pintu kamar Jordan yang terbuka lebar, dia melihat ibunya
mengatakan sesuatu kepada Jordan. Volan pun iseng bersembunyi di balik dinding
untuk mendengar semua yang mereka katakan.
“Rencanamu berhasil,
Aamadav. Kau membuat Volan melakukan hal baik terhadapmu,” kata Reina yang
sedang duduk di samping Jordan di atas ranjang.
“Itu tidak akan terjadi
tanpa bantuan dari Ibu dan ayah.”
“Jadi, apa permintaanmu
selanjutnya yang harus aku lakukan terhadap Volan?”
“Tunggu perintah
selanjutnya, Bu!” jawab Jordan sambil tertawa bersama ibunya.
Volan benar-benar sakit hati
setelah mendengar pembicaraan tersebut. Jadi selama ini, semua yang ibunya
lakukan terhadapnya hanyalah palsu, permintaan dari Jordan saja, pikirnya.
Hatinya kini bercampur aduk antara kesedihan dan kebencian. Dia menjatuhkan
busur Jordan di tempat ia berdiri saat itu. Belum sempat mendengar semua
pembicaraan mereka, Volan langsung berjalan terburu-buru menuju kamar sambil
mengusap air matanya, lalu menutup pintu kamarnya dengan cukup keras. Dia
berbaring di atas ranjang dengan wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun,
karena seakan beban kesedihannya tersebut tak mampu ia munculkan di raut wajahnya.
Namun, sesekali air mata mengalir jatuh membasahi bantalnya. Dalam hatinya tak
lagi ada kasih sayang dan kepercayaan untuk adiknya yang telah mengkhianatinya.
Dia mengepalkan kedua tangannya seakan dia ingin membalas rasa sakitnya kelak
kepada Jordan.
Sementara di kamar Jordan.
“Terimakasih, Aamadav. Kau
telah menyadarkanku. Seandainya aku tahu inilah yang diinginkan Volan, akan
kulakukan sejak dulu,” kata Reina yang masih duduk bersama dengan Jordan.
“Apa yang Ibu katakan? Ibu
sudah melakukan yang terbaik untuknya sejak dulu. Untuk kami. Terimakasih juga
atas segala yang telah Ibu berikan kepada kami.”
Reina tersenyum lebar.
“Kau memang anak yang baik,
Jordan. Volan pasti bangga memiliki seorang adik yang selalu menyayanginya,”
kata Reina sambil menyentuh dagu dilanjutkan dengan usapan di bahu Jordan.
Perbincangan mereka malam
itu diakhiri dengan pelukan satu sama lain. Dan tak lupa, Reina mencium dahi
Jordan serta mengucapkan selamat malam. Setelah ibunya keluar dari kamarnya,
Jordan mengambil gantungan kunci yang telah ia bungkus kado bersama ibunya. Dia
melihat-lihat kado tersebut dengan senyuman kecilnya dan meletakkan kembali di
atas dua tumpukan buku di mejanya. Beberapa saat kemudian, dalam pikirannya
teringat akan busurnya. Dia mencarinya di setiap tempat dalam kamarnya
tersebut. Di bawah meja, ranjang, bantal, di dalam kotak mainannya, tetapi
tidak dapat ia temukan. Dia pun segera turun menuju ruang keluarga, namun tidak
juga ia temukan. Dia mulai resah kehilangan busur kesayangannya tersebut. Saat
berjalan kembali ke kamarnya, Jordan merasa senang ketika ia melihat busurnya
tergeletak di depan sisi kanan pintu kamarnya. Tanpa pikir panjang, dia pun
langsung mengambil busurnya. Namun, ketika jari-jarinya mulai menyentuhnya,
suara itu terdengar lagi di telinga Jordan. Suara yang sudah cukup lama tidak
mengikutinya tersebut, kini mulai membayanginya lagi. Dia mulai merasa
ketakutan dan segera tidur. Sesaat setelah itu, dia pun baru memikirkan kenapa
busurnya bisa sampai di depan kamarnya. Mungkinkah ada orang yang sengaja
meletakkannya di sana ataukah memang dia yang telah menjatuhkannya atau hantu
yang mengatakan bersabarlah yang
melakukannya. Sedikit rasa merinding saat pikiran terakhir Jordan tersebut
muncul. Tapi, tak begitu ia hiraukan semua pikiran tersebut. Dia pun kembali
memejamkan matanya.
Malam hari libur pun tiba.
Volan dan Jordan berkeliling ke taman bermain dengan membawa tas yang berisi
benda-benda kesayangan mereka bersama Trigar. Jordan terlihat begitu senang dan
ingin mencoba setiap permainan yang ada di sana. Dia menarik tangan Trigar
ketika ia benar-benar ingin memainkannya. Tapi, Trigar justru selalu menahan
tarikannya dan mengatakan nanti dulu.
Sedangkan, Volan terus terdiam dengan pandangan kosong yang mengarah ke bawah.
Trigar yang mengamatinya sejak berangkat dari rumah merasa khawatir dengan
keadaan Volan tersebut.
“Apa kau baik-baik saja,
Volan?” tanya Trigar dengan memegang erat tangan kiri Volan.
Volan hanya terdiam tidak
menanggapi pertanyaan Trigar.
“Volan, apa kau kelelahan?”
tanya Trigar lagi.
Volan tetap terdiam dengan
pandangan kosong yang terus mengarah ke bawah.
Jordan pun merasa khawatir
dengan yang dilakukan oleh kakaknya tersebut. Maka, dia mencoba untuk mengajak
Volan ke permainan memanah. Mungkin itu ide yang bagus, pikir Trigar. Jordan
dan Trigar berusaha memberikan dorongan agar Volan mau memainkannya dan
berhenti menampilkan raut muka tak enaknya. Tapi, dia tetap saja diam. Mereka
berdua tak tahu apa yang terjadi pada Volan. Mereka berdua tak tahu apa yang harus
mereka lakukan padanya.
“Volan, kau punya ide apa
yang harus kita lakukan? Ayo, kita bersenang-senang bersama malam ini!” kata
Trigar berusaha menghibur Volan.
Volan masih saja diam,
tetapi dia memperlihatkan tatapan tajam mata birunya kepada Jordan. Jordan pun
merasa takut karena selama hidupnya, semarah apapun Volan kepadanya, tak pernah
menunjukkan tatapan mata semengerikan itu.
“Aku ingin pulang!” ajak
Volan.
“Tapi Volan, kita belum…,”
“Sekarang!!!” bentak Volan
sebelum Trigar melanjutkan perkataannya.
Trigar pun terpaksa menerima
ajakan Volan tersebut.
Pada saat masuk ke mobil,
Trigar merasa bingung karena jam tangannya menunjukkan pukul 10.33. Itu masih
terlalu lama untuk meperlihatkan kejutannya nanti. Dia yang pada saat itu
menyopir mobil, tentu mendapat ide untuk memperlambat laju kendaraannya dan
berputar mengelilingi kota, menghabiskan banyak waktu agar sampai di rumah
tepat waktu. Sementara Volan dan Jordan yang duduk di jok belakang, hanya bisa
saling menutup mulut. Walaupun biasanya Jordan yang selalu memulai pembicaraan,
tetapi untuk kali ini rasanya bukan saat yang tepat baginya. Jordan menatap
wajah Volan. Dia selalu tahu arti dari setiap ekspresi yang muncul di wajah
kakaknya. Kali ini, dia melihat ada sesuatu yang membuat hati kakaknya hancur.
Di dalam suasana mobil yang
terasa sungguh tak nyaman, Jordan mengambil handphone
yang ada di dalam tasnya. Volan melirikkan matanya dan melihat Jordan memencet
tombol kombinasi. Jordan mendekatkan handphone-nya
ke telinganya dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya seakan dia
merahasiakan pembicaraannya terhadap Volan. Beberapa menit kemudian, Jordan
kembali memasukkan handphone-nya ke
dalam tas. Sudah sekitar satu jam lebih empat puluh lima menit mengelilingi
kota, terdengar sirene mobil pemadam kebakaran. Semua kendaraan menepi, begitu
juga dengan mobil yang Trigar kemudi. Tiga mobil pemadam kebakaran beserta
sebuah mobil polisi dan ambulan melaju begitu kencang. Saat suara sirene paling
keras terdengar oleh Jordan, saat itu pula mengubahnya menjadi bisikan kata bersabarlah di telinganya. Namun sesaat
setelah itu, ada bisikan lain yang berseling dengan suara sirene yang semakin
memudar. Bisikan tersebut seakan merupakan ancaman bagi dirinya. Hatinya
menjadi sangat rusuh ketika dia mendengar ikatanmu
akan lenyap sebentar lagi.
“Paman Trigar, apakah kau
yang mengatakan itu?” tanya Jordan sedikit ketakutan.
“Mengatakan apa? Aku terus
menutup mulutku selama perjalanan yang tidak mengenakkan ini.”
Dari kaca spion tengah,
Trigar melihat Volan melirikinya. Dia pun segera kembali mengarahkan
pandangannya ke depan.
Tetapi, bisikan itu
terdengar lagi di telinga Jordan.
“Kau akan kehilangan segalanya.”
“Hehe. Kau boleh bercanda,
Paman. Tapi, aku serius menanyakannya!” ucap Jordan yang semakin ketakutan.
“Aku pun serius, Jordan. Aku
bahkan tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”
Jordan menatap Volan, tak
mungkin dia yang mengatakan itu. Jordan mencoba menenangkan dirinya dengan
menutup matanya sejenak. Suara sirene sudah tak terdengar lagi, tetapi bisikan
itu semakin kuat.
Aku
bisa merasakanmu, Sang pemegang busur.
Ikatanmu
akan lenyap sebentar lagi.
Jordan mencoba membuka
matanya, namun seakan ada sesuatu yang memaksa dia untuk terus memejamkan
matanya.
Kau
akan kehilangan segalanya.
Tidak
akan ada kebahagian bagimu.
Dia mulai merasa sangat
ketakutan dan jantungnya berdebar kencang. Dia terus berusaha untuk membuka
matanya, bahkan mulutnya pun seakan terkunci.
Yang
akan kau lihat hanyalah pertumpahan darah
di
antara kau dan saudaramu.
Dan
kalian akan mati.
Sekejap Jordan langsung
berteriak, “Tidaaaaak!!!!”, dengan kerasnya sambil membuka lebar-lebar kedua
matanya.
Trigar begitu kaget
mendengar teriakan tersebut hingga membuatnya mengerem mendadak. Beruntung
kendaraan yang berada tepat di belakangnya dapat menghindarinya, sehingga tidak
terjadi tubrukan.
Trigar langsung memalingkan
muka ke belakang dan bertanya, “Jordan, apa yang terjadi?!”.
“Mungkin pikiran anehnya
mulai kumat!” sahut Volan.
“Cukup, Volan! Jordan, ada
apa?”
“Tidak, tidak ada apa-apa,”
jawab Jordan dengan napas yang masih terengah-engah dan pandangan gelisah yang
mengarah ke bawah.
“Bagaimana aku bisa percaya,
sementara wajahmu saja sepucat itu. Kau hampir membuat jantungku terlempar.”
Jordan menarik napas
dalam-dalam.
“Maaf, Paman.”
Jordan mencoba menenangkan
dirinya, namun wajahnya masih tampak begitu resah.
Tiba-tiba saja handphone Trigar berdering. Dia segera
mengambil handphone dari saku kiri
jaketnya dan mengangkatnya. Beberapa detik setelah menjawab halo, dia sangat
terkejut mendengar yang dibicarakan oleh orang dibalik telepon tersebut. Dia
segera menutup teleponnya dan menarik persneling mobil, melaju dengan kecepatan
tinggi. Volan dan Jordan hanya bisa duduk terdiam atas apa yang dilakukan oleh
Trigar tersebut.
Mereka hampir sampai di
depan gerbang rumah. Tetapi, ada yang terlihat aneh bagi mereka. Banyak orang
berkerumun di sepanjang jalan menuju rumah mereka. Langit tampak kemerahan di
tempat yang tak jauh dari rumahnya, tak bisa diperkirakan oleh Jordan dan Volan
apa itu sebenarnya.
“Apa yang sedang terjadi?”
tanya Volan penasaran.
Trigar tak tahu apa yang
harus dia katakan pada dua anak itu. Dia hanya bisa membiarkan mereka melihat
situasi yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, tanpa bicara sepatah katapun.
Sesampainya di depan gerbang, mereka bertiga benar-benar terkejut ketika
melihat rumahnya telah ditelan api. Volan dan Jordan langsung membuka pintu
mobil, namun Trigar menguncinya. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka di
saat situasi tegang seperti itu. Dengan membawa remote kontrol mobilnya, dia
segera turun dari mobil untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
Volan dan Jordan terus
meneriaki ayah dan ibunya dari dalam mobil. Mereka berdua hanya bisa melihat
situasi layaknya menonton televisi. Terlihat seorang pelayan wanita menghampiri
Trigar yang sedang berbicara pada dua orang polisi. Dia menangis sambil
mengatakan sesuatu padanya. Trigar berusaha membuatnya tenang. Bersama dengan
wanita itu, dia pun melihat keadaan orang-orang yang masih selamat. Volan dan
Jordan terus melihat keadaan di sekeliling mereka. Tiga mobil kebakaran yang
melewatinya telah diparkir di depan rumahnya. Para pemadam kebakaran sibuk
mencari cara agar apinya yang melahap rumahnya cepat dipadamkan. Beberapa orang
di sekitarnya ada yang berlari kebingungan, ada yang tampak resah, sedih,
marah, kesal, dan yang jelas, tak sedikit pun muncul senyuman di wajah mereka.
Sudah cukup lama Trigar
meninggalkan Jordan dan Volan, akhirnya dia pun masuk kembali ke dalam mobil
tanpa berkata apapun. Yang dia inginkan hanyalah segera membawa mereka berdua
pergi dari tempat itu.
“Paman, apa yang terjadi? Di
mana ayah dan ibu?” tanya Volan gelisah.
Trigar terdiam.
“Paman Trigar?!”
“Semuanya akan baik-baik
saja.”
“Di mana ibu dan ayah?!”
tegas Volan.
“Aku bilang semua akan
baik-baik saja, Volan!”
“Jawabanmu tak ada
hubungannya dengan pertanyaanku!”
Trigar tak menyahutnya lagi,
sehingga membuat Volan begitu kesal padanya. Sementara itu, Jordan hanya bisa
menatap wajah mereka berdua yang membuatnya semakin cemas.
Tak lama kemudian, mobil
mereka berhenti di depan sebuah rumah tanpa penerangan apapun. Rumah yang
terletak di tepi jalan menuju desa Wesnoreast, dengan jarak terdekat dengan
rumah lainnya sekitar dua ratus meter. Jordan turun dari mobil, diikuti Volan
dan Trigar. Karena begitu gelapnya, membuat Volan tersandung saat berjalan
menuju depan pintu rumah.
“Hati-hati, Volan!” kata
Trigar dengan memegang tangan Volan.
“Di mana kita sekarang?”
tanya Jordan.
“Di rumahku.”
Trigar mulai membuka kunci
pintu rumahnya. Dengan senternya, dia menyoroti setiap penjuru ruangan yang
penuh dengan debu dan sarang laba-laba, mengubrak-abrik tempat-tempat yang
memungkinkan dia menemukan alat penerangan lainnya. Beruntung, terdapat tiga
buah lilin serta sebungkus korek api yang berada di dalam laci meja di
perpustakaan kecilnya. Lilin itu ia nyalakan dan diletakkan di atas meja ruang
tamunya. Trigar duduk di atas sofa tuanya dan menarik napas dalam-dalam,
sementara Volan dan Jordan duduk di kedua sisinya. Trigar memegang erat tangan
kedua anak itu. Wajahnya berubah menjadi sedih dan tampak air mata mengalir di
wajahnya. Dia tak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana.
“Paman, katakanlah sesuatu,”
ucap Jordan yang semakin cemas melihatnya.
Trigar terus mencucurkan air
mata menatap wajah keluguan mereka berdua. Sejenak dia menutup mata sambil
mengembuskan napas, lalu berkata, “Kalian istirahatlah terlebih dahulu, karena
besok kalian harus….”
“Harus apa?”
Suasana sejenak terasa
hening.
“Besok kalian harus
mendatangi pemakaman orang tua kalian.”
Volan dan Jordan sangat
terkejut mendengar perkataan Trigar tersebut. Keduanya tidak percaya dengan
yang dikatakannya.
“Hehe. Leluconmu bagus juga,
Paman,” kata Volan sambil menahan tangis.
Trigar hanya terdiam menatap
Volan dengan wajah dukanya.
“Katakan kalau kau sedang
bercanda, Paman! Katakanlah!” sahut Jordan yang mulai mencucurkan air mata.
“Kau benar, Jordan. Aku
memang sedang bercanda,” ucap Trigar dengan tangis yang menjadi-jadi.
Jordan dan Volan pun
menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat tubuh Trigar. Malam itu sungguh
terasa menjadi malam yang sangat panjang. Tak bisa tidur, itulah yang mereka
alami.
Keesokan harinya, Jordan dan
Volan bersama para pelayan rumah yang masih selamat hadir di pemakaman tiga
korban tragedi kebakaran malam terakhir. Mereka dimakamkan sesuai dengan
tradisi masyarakat Losapins, sederhana, tanpa tabur bunga, dan kuburan mereka
hanya ditandai dengan sebuah batu setinggi satu jengkal. Tak peduli apakah
mereka dari golongan atas, menengah, maupun bawah, mereka dimakamkan dengan
cara yang sama.
Di depan kuburan orang
tuanya, Jordan dan Volan tak henti-hentinya menangisinya. Beberapa pelayan
mencoba membuat mereka tenang, begitu pula dengan Trigar yang tak kuasa melihat
kesedihan dua bersaudara itu. Dia terus berada di dekat mereka dengan
menggandeng erat tangannya.
Setelah pemakaman selesai,
mereka bertiga pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Mereka juga
diberitahu kronologi kebakaran tersebut oleh salah seorang polisi yang
menyelidikinya. Dari saksi mata yang telah ia wawancarai, sumber api berasal
dari lantai dua, tepatnya dari kamar Volan. Mereka mengatakan bahwa majikannya
telah menyuruh empat orang pelayan untuk menyalakan banyak lilin di kamar Volan
sebagai kejutan ulang tahunnya. Karena saat itu situasi pintu jendela kamarnya
masih terbuka lebar, menyebabkan api menjadi semakin besar dan cepat menjalar
di seluruh ruangan tersebut. Saat itu semua pelayan berada di dalam kamar, yang
terbagi oleh kamar kelompok pria dan wanita, yang letaknya berada di lantai
pertama, untuk bersiap-siap menunjukkan kejutannya. Mereka baru mengetahui api
sudah menjalar pada sebagian kecil lantai atas ketika salah seorang pelayan
wanita keluar untuk pergi ke kamar mandi, berteriak minta tolong, sehingga menggemparkan
seisi rumah. Mereka terbirit-birit keluar dari rumah. Namun ketika semuanya
berkumpul di halaman, menjauh dari kobaran api, mereka baru menyadari bahwa
majikannya masih terjebak di dalam jilatan api tersebut. Lalu, seorang pria
yang menjabat sebagai tukang kebun kembali masuk untuk menyelamatkan mereka.
Hingga mobil kebakaran datang pun belum ada tanda-tanda keberadaannya. Mereka
mengetahui bahwa ketiganya telah meninggal ketika petugas pemadam kebakaran
berhasil menemukannya. Diperkirakan dua majikannya terkunci di dalam kamar dan
tak bisa keluar karena kepanikan mereka. Sedangkan si tukang kebun berusaha
mendobrak pintunya, namun kayu atap yang telah digerogoti api, jatuh tepat
mengenai tubuhnya.
Ketika hari mulai gelap,
Volan, Jordan, dan Trigar sudah kembali ke rumah. Mereka pulang dengan suasana
yang masih duka, kemudian duduk istirahat di ruang tamu. Trigar melihat Volan
dan Jordan yang terus-terusan berwajah murung, maka dia berusaha membangkitkan
mereka.
“Mmmm, siapa di antara
kalian yang mau es krim?” hibur Trigar sambil tersenyum lebar.
Volan dan Jordan hanya
menanggapinya dengan pandangan kosong. Senyuman Trigar sedikit menghilang.
“Jordan, apa kau mau es
krim?”
Jordan menatap wajah Trigar,
namun air matanya kembali mengalir di pipinya.
“Tentu, Paman Trigar.
Bawakan kami beberapa es krim, karena kami sangat kepanasan,” jawab Jordan
dengan isakan kecil.
“Baiklah, kalau begitu
kalian tunggu di sini. Aku akan kembali secepat mungkin.”
Trigar meninggalkan mereka
berdua sendiri di ruangan tersebut. Dia juga berniat untuk membeli lampu untuk
menerangi rumahnya yang gelap.
Sudah sekitar satu jam,
Trigar belum juga kembali. Rumah tampak menyeramkan, terlebih semua pintu rumah
tertutup dan lilin sebentar lagi habis. Volan dan Jordan terus duduk tanpa bicara,
menunggu Trigar pulang.
“Kenapa ini terjadi padaku?”
tanya Volan tiba-tiba dengan pandangan kosong mengarah ke depan.
Jordan tidak tahu harus
menjawabnya bagaimana. Yang jelas, dalam hatinya ada perasaan bersalah yang
amat mendalam. Dia mulai menggeledah sesuatu di dalam tasnya. Sebuah kotak yang
dibungkus cantik, langsung ia perlihatkan kepada Volan. Volan hanya terdiam
melihat hadiah tersebut.
“Selamat ulang tahun, Kak.
Hanya ini yang bisa kuberikan padamu.”
Volan mengambil hadiah itu
dari tangan Jordan dan segera membukanya. Dia tersenyum kecil melihat gantungan
kunci yang diberikan dari Jordan tersebut. Namun, hatinya justru semakin sedih,
mengingat ayah dan ibunya berniat memberikan kejutan di ulang tahunnya. Dia pun
kembali meneteskan air mata di hadapan Jordan.
“Seandainya ini tak terjadi,
mungkin aku akan merasa sangat bahagia melihat kejutan ayah dan ibu.”
Jordan pun mulai menangis.
“Ini salahku. Jika saja aku
tidak membuat rencana semacam itu, pasti ini tidak akan menimpa ayah dan ibu.”
Volan terkejut mendengar
perkataan Jordan. Dia menatap wajah bersalah adiknya.
“Apa maksudmu?”
“Aku yang meminta ibu untuk
menyalakan lilin-lilin yang telah kusiapkan di kamarmu. Maafkan aku, Kak! Aku
hanya mencoba membuatmu terkesan. Maafkan aku!”
Tak tampak lagi kesedihan di
wajah Volan. Dia justru tertawa kecil.
“Jordan, bukankah hari ini
juga hari ulang tahunmu? Aku juga punya sesuatu untukmu,” kata Volan tenang.
“Kakak memaafkanku?”
“Kau akan tahu jawabannya
setelah kuberikan hadiahnya padamu. Sekarang, tutuplah matamu.”
Jordan menutup mata sesuai
permintaan kakaknya. Volan mulai mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia
memegang pergelangan tangan kanan Jordan yang menengadah dan didekatkannya di
atas meja.
“Tetaplah menutup matamu,
Jordan. Hadiah ini khusus kuberi untukmu agar kau selalu mengingat betapa
sayangnya aku padamu.”
Jordan tak sabar untuk
membuka mata dan melihat hadiah yang diberikan dari Volan. Dia terus menutup
mata, menunggu hingga hadiahnya tersentuh oleh tangannya. Tapi, tiba-tiba dia
menjerit kesakitan dan langsung membuka matanya. Suara jeritannya terdengar
keras hingga membuat burung hantu yang bertengger di pohon halaman rumah,
terperanjat. Jordan terkejut ketika anak panah sudah menembus telapak tangan
kanannya hingga menancap di meja. Dia berusaha melepaskan cengkeraman tangan
Volan, tapi Volan justru semakin memegangnya erat dan menusukkannya lebih
dalam. Jordan pun hanya bisa menangis kesakitan dan terus memohon pada Volan
untuk menghentikan perbuatannya.
“Bagaimana, Jordan?! Inilah
yang kurasakan selama aku hidup bersamamu! Dan mulai sekarang, kau akan
mengganti semua rasa sakit yang pernah kuterima!”
Tangan kiri Jordan
meraba-raba mencari sesuatu yang dapat ia manfaatkan dalam situasi tersebut.
Tangannya meraih tas yang terletak di samping kirinya dan segera memukulkannya
ke wajah Volan dengan keras. Kejadian tersebut membuat meja tersentak sehingga
lilin yang hanya tinggal tiga sentimeter tersebut padam. Jordan pun segera
mencabut anak panah yang menembus tangannya dan menancap kuat di meja. Anak
panah sudah terlepas dari meja, tapi rasa sakitnya yang luar biasa membuat
Jordan tak sanggup melepaskannya dari tangannya sendiri. Dia hanya bisa mencoba
menjauh dari Volan yang hampir meraihnya kembali. Situasi sangat gelap,
penerangan hanya bersumber dari cahaya bulan yang melewati jendela kaca di
ruangan tersebut. Volan melihat bayangan menuju pintu dapur. Pasti itu Jordan,
pikirnya. Dia berjalan menggerayang menuju dapur dengan membawa busur serta
anak panahnya. Dia berdiri di dekat pintu dapur. Matanya begitu awas mengamati
situasi di dalam dapur dan berharap ada sesuatu yang menjadi tanda-tanda
keberadaan Jordan.
“Lari dan sembunyilah,
Jordan! Karena aku akan terus mencarimu dan luka di tanganmu itulah yang akan
memberikanku petunjuk akan keberadaanmu! Kau tidak akan pernah bisa lepas
dariku!”
Jordan merintih kesakitan di
bawah meja dapur tempat ia bersembunyi. Ingin sekali ia berteriak menangis,
tapi yang bisa ia lakukan hanyalah meneteskan air mata menahan rasa sakitnya.
Lalu tiba-tiba saja, Volan muncul di hadapannya dengan memegang kedua kakinya.
Jordan menjerit dan berusaha keluar dari sisi meja lainnya. Namun, Volan terus
menarik kakinya agar tubuhnya bisa keluar ke arahnya. Jordan mencoba meraih
salah satu kaki meja, lalu berpegangan erat padanya.
“Kemarilah, Adik kecilku!”
Jordan tak tahu lagi apa
yang harus dia lakukan. Tak ada sesuatu yang dapat ia gunakan untuk menahan
Volan. Kemudian, Jordan melepaskan pegangannya dan langsung mencabut anak panah
yang masih menembus telapak tangannya. Dengan segera, ia menggoreskan mata anak
panah tersebut kepada Volan sehingga mengenai lengan kanannya. Saat itu juga
pegangan di tangan kanan Volan terlepas. Jordan langsung menendang Volan hingga
membuat tubuhnya roboh ke belakang. Jordan segera bangkit, namun Volan segera
mengambil anak panah yang Jordan jatuhkan didekatnya. Dia mencoba meraih Jordan
kembali dengan mengarahkannya anak panah yang berada di genggaman tangan
kanannya. Anak panah itu menancap lengan kiri Jordan. Karena saat itu yang ada
di pikiran Jordan hanyalah ingin segera lari keluar dari dapur, sementara Volan
ingin mendapatkannya, terjadi tarikan di antara keduanya yang menyebabkan
sobekan memanjang di lengan Jordan. Begitu sakit Jordan rasakan, tapi dia terus
berlari menghindari Volan yang menggila. Volan berusaha mengejarnya. Dari depan
pintu dapur, ia melihat Jordan berlari menuju pintu depan rumah dengan membawa
tasnya. Kemudian Volan mengambil busur dan sebuah anak panah yang ia sandang,
lalu membidikkannya. Anak panah itu mulai dilepaskan mengarah pada Jordan. Tapi
beruntung, Volan salah memprediksi sehingga Jordan mampu menghindarinya. Anak
panahnya menancap pada dinding dekat dengan gawang pintu. Volan berlari
mengejarnya dan hampir jatuh karena tersandung sesuatu. Sesampainya di depan
pintu, Volan tidak melihat keberadaan Jordan lagi. Jordan berhasil melarikan
diri yang membuatnya begitu jengkel.
“Jordan!!!!!” teriak Volan
begitu keras.
Beberapa saat kemudian,
Trigar pulang dengan membawa sekantong plastik berisi belanjaannya. Dia
terkejut melihat Volan duduk sendiri sambil merintih kesakitan. Dinyalakan
senternya, ia pun segera mendekatinya dan meletakkan barangnya di atas meja.
“Volan, apa yang terjadi?
Ada apa dengan lenganmu?!” kata Trigar cemas seraya memegang lengan kanan
Volan, lalu duduk dekat di sampingnya.
“Jordan yang melakukannya.”
“Apa?! Bagaimana bisa? Di
mana dia sekarang?”
“Dia hampir membunuhku, lalu
melarikan diri!”
Hati Trigar seketika
terguncang ketika mendengarnya.
“Tidak mungkin,” sahut
Trigar sambil bangkit berdiri di hadapan Volan.
“Kau tidak percaya padaku?!”
ucap Volan dengan tatapan tajamnya.
Dia melihat begitu besar
kebencian di mata Volan, begitu mengerikan, begitu marah. Lalu, senternya
tersorot pada meja dan melihat begitu banyak darah di atasnya.
“Ini darah apa?”
Volan tak menjawabnya, hanya
terus memegang tangannya yang sakit. Itu membuat Trigar mencurigainya. Dia
melihat luka yang ada pada lengan Volan. Tak mungkin luka goresannya bisa
mengeluarkan darah sebanyak itu, pikirnya.
“Volan, apa yang telah kau
lakukan pada Jordan?!”
“Aku tidak melakukan
apapun!”
“Lalu, ini darah siapa?!”
kata Trigar mulai cemas.
Volan masih tak menjawabnya.
“Volan?!” bentak Trigar
keras-keras.
“Itu darah Jordan. Puas! Aku
melakukannya untuk menghentikan kegilaannya. Dia terus mencoba menikamku!”
“Bagaimana bisa dia
melakukan itu?! Jordan tak mungkin melakukannya, terlebih padamu!”
“Dengan anak panahnya! Dia
pun yang telah membunuh ayah dan ibu. Merencanakan kejahatannya seakan-akan
terlihat baik bagi orang lain. Paman pun tahu bahwa kejutan itu adalah idenya,
‘kan? Lalu, apa yang membuat Paman ragu kalau Jordan tak mungkin melakukan ini
terhadapku?! Dia memang sengaja melakukan semua ini agar bisa memperoleh
kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Dia memanfaatkan semua orang, bahkan ayah
dan ibu.”
“Bisa-bisanya kau menuduh
adikmu begitu! Dia tak pernah sedikit pun berniat untuk menyakiti orang lain!
Bagaimana juga anak panahnya bisa melukaimu?! Kau bohong, Volan!”
“Erghhh, kenapa orang-orang
selalu membelanya?! Tidakkah Paman menyadari betapa liciknya dia?! Paman
tertipu oleh wajah lugunya saja!”
“Jadi benar, ini bukan
karena Jordan! Di mana letak tanggung jawabmu untuk selalu melindungi
adiknya?!”
“Dia bukan adikku! Dan tak
kan pernah menjadi adikku lagi. Selamanya!”
Trigar pun mulai merasa
sangat marah pada Volan, seakan tangannya ingin meremas kekeraskepalaan Volan
tersebut.
“Katakan di mana Jordan
sekarang?!”
“Sudah kukatakan kalau dia
pergi entah ke mana.”
“Kenapa kau tidak
mencarinya?!”
“Kalau begitu Paman cari si
parasit itu dan bawa dia kemari, sehingga aku bisa membuat hidupnya menderita!”
“Siapa yang kau sebut
parasit?!”
“Jordan!”
Trigar langsung menampar
wajah Volan dengan cukup keras. Suasana terasa hening sejenak.
“Aku harap kau menyadari
semua yang baru saja kau katakan, Volan,” kata Trigar dengan napas tenang.
Volan langsung terdiam, tak
berkata apapun sambil memegang pipi bekas tamparannya. Sementara itu, Trigar
berjalan cepat keluar pintu untuk mengejar Jordan. Berjam-jam sudah Trigar
mencarinya, tapi tak ia temukan jejaknya. Trigar sangat khawatir dengan keadaan
Jordan, terlebih langit malam mulai tampak suram. Akhirnya, dia memutuskan
untuk kembali ke rumah dan melanjutkan pencarian keesokan harinya. Volan
melihat Trigar muncul di depan pintu dengan wajah yang begitu gelisah. Tapi
sesaat kemudian, dia memalingkan pandangannya dari Trigar, tak peduli akan
keadaannya saat itu.
Keesokan harinya, Trigar
mulai melanjutkan lagi pencariannya. Sambil mengemudikan mobilnya secara
perlahan, menelusuri setiap jalan di wilayah kota Losapins, tetapi tetap saja
dia tidak dapat menemukannya. Trigar tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan,
maka dia pun melaporkan kasus kehilangan anak tersebut kepada polisi.
Berminggu-minggu sudah tidak ada kabar mengenai Jordan dari kepolisian, dia pun
mulai menerima atas hilangnya Jordan. Tetapi, dia akan terus berharap bisa
melihat wajah polosnya lagi.
Sementara itu, Volan justru
tidak menerima jika Jordan tidak ditemukan. Dialah yang akan terus mencarinya
sampai kapan pun dan berharap suatu saat nanti, dia dapat membalas penderitaan
yang pernah Jordan lakukan padanya.
No comments:
Post a Comment